Episode 12 - Dua Belas


Darra berpegangan erat-erat pada jaket Dika sementara cowok itu mengendarai motornya dengan sedikit lebih kencang. Ia harus segera mengantar Darra sampai ke rumah karena jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Mereka terlambat karena menunggu mamanya Dika yang sedang dalam perjalanan pulang. Namun karena beliau terjebak macet, Darra terpaksa pulang tanpa menunggunya agar tidak kemalaman.

Akhirnya motor berbelok menuju taman di dekat rumah. Dika berhenti dan mematikan mesin motornya. Kemudian Darra turun lalu membuka helm dan memberikannya pada Dika.

“Makasih,” gumam Darra tanpa memandang ke arah cowok itu. Ia buru-buru berbalik untuk pergi, namun Dika meraih lengannya.

“An,” panggil Dika. Darra berhenti, namun tetap tidak menoleh ke arahnya. “Yang tadi beneran?”

“Yang mana?” gumam Darra.

“Yang kamu bilang di rumahku tadi,” kata Dika sambil berusaha melihat wajah Darra. “Kamu suka sama aku?”

Darra semakin menunduk. Ia mengangguk sebagai jawaban.

“Sejak kapan?”

Darra melirik Dika, sedikit jengkel. Cowok itu tidak berkata apa-apa saat di rumahnya tadi. Kenapa sekarang baru tanya-tanya?

“Kalau ditanya kapannya, ya nggak tahu,” gumam Darra.

“Lihat ke aku, dong. Aku nggak bisa dengar suara kamu.”

Darra mengangkat kepalanya sedikit. Dika sedang memandang penasaran ke arahnya.

“Terus kamu mau aku jadi pacar kamu?” tanya Dika tiba-tiba.

Darra langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Bukankah mestinya dia yang bertanya seperti itu? Kalau begini, Darra harus menjawab apa?

“Nggak juga sih,” gumam Darra. “Aku cuma mau ngasih tahu aja, kok.”

“Oh gitu,” kata Dika sambil tersenyum. “Ya udah, kamu pulang sana. Udah hampir malam. Nanti dicariin.”

Darra mendongak dan melihat Dika yang menyalakan mesin motornya kembali. Cowok itu melambaikan tangannya sebelum melajukan motornya pergi. Darra berbalik sambil mengerenyitkan dahi. Sepanjang jalan menuju rumah ia bertanya-tanya dalam hati.

Kenapa Dika langsung pergi begitu saja? Bukankah tadi dia menanyakan mau jadi pacarnya atau tidak? Kenapa Dika tidak memberi kejelasan? Apa Darra salah menjawab tadi?

Pikiran itu terus menghantui Darra sampai ke rumah. Bahkan saat Aline memarahinya karena pulang malam. Ia tidak peduli Darra terlambat karena mengerjakan tugas. Sebagai hukuman, Darra disuruh membersihkan seluruh rumah dan tidak boleh makan malam. Ia juga tidak boleh tidur sampai Aline pulang.

Setelah membukakan gerbang untuk Aline, Darra kembali ke dapur untuk mengambil peralatan bersih-bersihnya. Ia mendengar kakaknya menuruni tangga sambil berdecak.

“Ngapain pergi jauh-jauh. Kan bisa pakai laptopku. Cari masalah terus setiap hari.”

Darra mendelik ke arah kakaknya yang berlalu sambil menenteng helm di tangannya. Dia bilang begitu untuk menyindir atau apa? Bukankah dia yang kemarin mengadu pada Aline kalau Darra ingin meminjam laptopnya? Darra mengerenyitkan dahi. Kalau diingat-ingat, kakaknya itu baru pulang jam empat pagi, sementara Aline membangunkannya sekitar tengah malam. Mungkinkah sebenarnya kakaknya belum melihat pesannya?

Setelah selesai membersihkan rumah, Darra pergi ke ruangannya. Ia baru saja mengeluarkan bukunya untuk belajar ketika ponselnya bergetar. Darra memandangi nomor tidak dikenal yang muncul di layarnya. Siapa yang telepon malam-malam begini?

“Halo?”

“Andarra?”

Darra mengerenyitkan dahi mendengar suara pria dari seberang. “Siapa ya?”

“Kamu nggak nyimpan nomor Papa?”

Hati Darra mencelos. Ada perasaan lega, cemas, dan sedih mendengar suara itu. Baru kali ini Darra menantikan telepon dari papanya. Rasanya ia ingin menceritakan semua hal yang terjadi padanya selama tiga bulan ini.

“Kamu lagi ngapain?” tanya Papa.

“Baru mau belajar,” jawab Darra.

“Tadi sore Papa telepon ke Mama, katanya kamu belum pulang sekolah. Ke mana dulu?”

“Mama?” ulang Darra bingung. Kemudian dia menyadari, pasti yang dimaksud adalah Aline. “Oh, tadi pulang sekolah aku ke rumah teman. Ada tugas yang harus dikerjain pakai komputer.”

“Bukannya kakakmu punya laptop?”

“Umm…” Darra berpikir keras mencari jawaban . “Laptopnya dipakai, soalnya Mas juga banyak tugas.”

“Ya udah, nanti Papa beliin laptop buat kamu, ya.”

“Nggak usah, Pa,” kata Darra buru-buru. Ia tidak ingin bermasalah dengan Aline lagi. “Besok-besok kalau ada tugas lagi, aku gantian aja sama Mas.”

“Ya udah kalau maunya begitu.”

Darra terdiam. Bermacam-macam pertanyaan memenuhi kepalanya. Kenapa baru sekarang Papa menelepon? Ke mana saja Papa selama ini? Kenapa Papa nggak pernah pulang? Kenapa Papa meninggalkan aku begitu saja di rumah ini?

“Ya udah, Papa masih banyak kerjaan. Kamu lanjutin aja belajarnya, ya. Tapi jangan tidur malam-malam.”

Darra tercengang melihat telepon yang terputus begitu saja. Ia bahkan belum sempat mengatakan apa-apa. Lalu bagaimana dengan uang sekolahnya?

Darra menyimpan ponselnya kembali lalu mulai tenggelam dalam buku pelajarannya. Pukul setengah satu malam ia mulai menguap. Perutnya juga keroncongan karena lapar. Kemudian didengarnya suara motor dari kejauhan. Darra bergegas keluar menuju teras balkon di lantai dua. Dilihatnya sebuah motor memasuki halaman rumah. Rupanya benar kakaknya, jadi Darra masuk kembali ke ruangannya.

Darra kembali menguap. Ia merapikan buku-bukunya dan memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar.

Tok, tok, tok.

Darra tertegun. Kenapa kakaknya mengetuk pintunya malam-malam begini? Ia mendengarkan kalau-kalau pintunya kembali diketuk. Tapi sepi, dan Darra bisa mendengar suara pintu ditutup dari luar. Ia buru-buru membuka pintu ruangannya lalu melongok keluar.

Tidak ada siapa-siapa. Pintu kamar kakaknya juga tertutup. Jadi kenapa dia mengetuk pintu ruangan Darra tadi? Darra baru saja hendak menutup pintunya kembali ketika ia menyadari sebuah kantong kresek digantung di pegangan pintunya. Ia mengambil kantong itu lalu melihat isinya.

Darra tercengang. Ia bergegas membawa bungkusan itu ke kamar kakaknya lalu mengetuk pintunya dengan hati-hati. “Mas.”

“Hm.” Terdengar sahutan dari dalam kamar kakaknya.

“Nasi goreng ini buat aku?” tanya Darra.

“Hm.”

Darra menganggap itu sebagai jawaban ya. “Makasih, Mas.” Ia kembali ke ruangannya dengan perasaan senang.

~***~

“Laporan kamu udah selesai?” tanya Agung.

Darra mengangguk.

“Kenapa pergi jauh-jauh ke rumah Dika? Kamu kan bisa pinjam laptop aku.”

Darra langsung terbelalak ke arah Agung. Dari mana cowok itu tahu dia ke rumah Dika?

“Kemarin sore aku telepon Dika tapi nggak diangkat-angkat. Terus dia bilang dia habis antar kamu pulang,” kata Agung melihat ekspresi Darra. “Kamu nggak usah kaget. Aku sama Dika berteman dari kelas X. Dia selalu cerita apa aja ke aku.”

Darra terus melangkah tanpa menyahut.

“Kamu sama Dika jadi akrab, ya?” lanjut Agung. “Kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku?”

“Kan katamu dia selalu cerita apa aja ke kamu,” gerutu Darra.

Agung nyengir mendengarnya. Ia paling senang menggoda Darra, apalagi sampai membuat gadis itu mengomelinya.

Ketika akhirnya mereka tiba, Darra melirik ke arah gerbang sekolah. Seperti biasa, dilihatnya Dika sedang duduk di sana dengan teman-temannya. Darra mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba ia merasa gugup.

“Aku duluan,” gumam Darra kepada Agung. Ia berjalan memasuki sekolah dengan cepat tanpa menoleh. Ia bahkan mengabaikan Ivan dan Emil yang menyapanya.

Begitu tiba di kelas, Darra langsung menghempaskan diri ke kursinya. Tiba-tiba ia merasa lelah sekali. Sebenarnya ia tidak ingin menghindari Dika, tapi Darra tidak tahu harus berbuat apa. Ia malu sekali jika mengingat kemarin. Darra baru menyadari, hal itu bisa membuat hubungannya dengan Dika canggung. Bagaimana kalau Dika tidak menyukai cewek yang menyatakan perasaan duluan? Pasti sekarang cowok itu berubah pikiran mengenai image Darra.

Darra melengos. Ia jadi tidak berani menemui Dika untuk meminjam buku. Selama seharian ia tidak keluar dari kelasnya. Bahkan begitu menyadari laporan yang kemarin dibuatnya tidak ada di tas, Darra tidak pergi mengambilnya. Kemarin Dika menawarkan untuk menjilid laporannya, dan Darra sama sekali lupa dengan hal itu. Alhasil Darra berjanji akan mengumpulkannya besok pagi, walaupun harus kena marah dulu.

“Ra, kamu pulang sama Rin, kan?” tanya Agung yang menghampiri meja Darra setelah bel pulang berbunyi.

“Iya,” jawab Darra. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Soalnya aku mau pergi sama Ivan. Kalau kamu mau pulang sama aku, ya aku bisa bilang ke Ivan.”

“Pergi aja. Aku pulang sama Rin, kok.”

“Ya udah. Kalau gitu, aku duluan ya. Hati-hati pulangnya!” Agung melambaikan tangan lalu berlari keluar dari kelas.

Darra menunggu selama setengah jam sebelum akhirnya keluar dari kelasnya. Ia juga melongok ke gerbang sekolah untuk memastikan Agung dan teman-temannya sudah tidak ada di sana. Darra merasa tidak enak karena berbohong pada Agung. Sebenarnya ia tidak pulang bersama Rin karena Rin sudah janjian akan pulang dengan Emil. Tapi Darra tidak bisa memberitahu Agung karena ia tidak ingin membuat cowok itu membatalkan janjinya dengan Ivan.

Gang yang biasa dilalui Darra sepi. Kebanyakan murid-murid sudah pulang sejak tadi. Darra berjalan dengan sedikit gelisah. Seharian ini pikirannya dipenuhi oleh pengakuannya kepada Dika. Bahkan Rahmi menegurnya karena Darra tidak konsentrasi di kelas. Darra menendang sebuah kerikil. Seperti inikah perasaan Rin saat menunggu jawaban dari Emil? Tapi setidaknya status mereka lebih jelas. Emil meminta waktu untuk berpikir-pikir lebih dulu sebelum akhirnya menerima Rin. Sementara Dika? Boro-boro meminta waktu, cowok itu bahkan tidak memberikan respons.

Tiba-tiba sebuah motor melintas dan berhenti di depan Darra. Darra tercengang melihat pengendara motor itu.

“Kok baru pulang?” tanya Dika sambil mematikan mesin motornya.

“Kenapa belum pulang?” Darra balik tanya.

“Aku di warung depan situ sambil nunggu kamu lewat,” jawab Dika, membuat Darra menunduk karena wajahnya memerah. “Ayo naik. Aku antar.”

“Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri. Makasih,” tolak Darra sambil meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Dika langsung meraih lengannya.

“Jangan, dong. Aku kan udah bawa helm satu lagi.”

Darra melirik ke arah helm yang disodorkan oleh Dika. Akhirnya Darra menurut dan duduk di boncengan Dika. Sepanjang jalan Darra sengaja mengalihkan perhatiannya ke sekelilingnya. Ia tidak ingin Dika menyadari dadanya yang berdegup dengan kencang.

Setengah jam kemudian mereka tiba di taman dekat rumah Darra. Namun kali ini Dika menghentikan motornya di depan sebuah shelter dan mengajak Darra duduk di sana. Ia membuka tasnya lalu menyodorkan laporan milik Darra.

“Katanya hari ini laporannya dikumpulin. Tapi seharian ini kamu nggak ke kelas aku sama sekali,” kata Dika.

“Nggak apa-apa. Aku lupa,” gumam Darra.

“Masa kamu bisa lupa? Hari ini kan ada tiga buku pelajaran yang biasanya kamu pinjam dari aku.” Dika memandang Darra sambil mengerenyitkan dahi. “Jangan-jangan selama ini kamu cuma pura-pura nggak punya buku karena suka sama aku, ya?”

Darra mendelik ke arah Dika. Namun ia kembali menunduk begitu mereka bertemu pandang. “Nggak, kok. Kalau kamu nggak mau pinjamin lagi juga nggak apa-apa.”

“Bukan begitu. Habisnya kamu jadi aneh. Kenapa kamu menghindar dari aku?”

Darra tidak menjawab. Dika memandang ke arahnya dengan penasaran.

“Apa gara-gara kemarin? Kamu ngerjain aku, ya?”

Darra melengos. “Lupain aja soal kemarin. Anggap aja aku nggak pernah bilang apa-apa,” gerutunya sambil bangkit. Dika langsung ikut bangkit dan menahannya.

“Lho, kok gitu? Jadi benar, kemarin kamu cuma ngerjain aku?” tanya Dika.

“Kemarin aku serius. Kamunya aja yang nggak jelas,” tukas Darra sambil melotot ke arah Dika. Dika mengangkat alisnya.

“Kan aku nanya ke kamu, kamu mau aku jadi pacar kamu? Tapi kamu bilang, kamu cuma mau ngasih tahu aja.”

“Ya, tapi kamu juga nggak bilang apa-apa lagi. Aku kan nggak enak, takut bikin kamu jadi nggak nyaman.”

“Jadi kamu marah karena aku nggak ngasih kepastian?” tanya Dika. Darra tidak menjawab. Cowok itu malah tersenyum. “Wah, aku nggak tahu kamu bisa marah juga. Selama ini aku sering dengar kamu dipanggil Si Cemberut, tapi kayaknya aku nggak pernah dicemberutin sama kamu.”

Darra merengut. Kenapa cowok ini malah membahas hal lain?

“Jadi, kamu beneran suka sama aku, kan?” ulang Dika. Ia menuntun Darra agar kembali duduk di bangku shelter. “Aku bukannya nggak mau ngasih kepastian, tapi kamu sendiri kemarin belum jelas. Aku pikir… mungkin kamu suka sama aku, tapi cuma perasaan suka. Bukan untuk pacaran sama aku. Agung juga bilang kamu belum pernah punya pacar. Aku takut salah ngomong, makanya aku nggak bisa ngasih jawaban apa-apa.”

Darra mengerenyitkan dahi. Jadi Dika juga cerita ke Agung kalau Darra menyatakan perasaannya?

Dika menggaruk-garuk tengkuknya. “Menurutku, kita jalanin aja dulu. Kamu kan belum begitu mengenal aku, aku juga bisa lebih mengenal kamu. Gimana?”

Darra memandang Dika. Sebenarnya ia tidak mengerti maksud dari jalanin aja. Tapi Darra akhirnya mengangguk. Dika kembali tersenyum.

“Aku juga bawain ini, tapi kamu nggak nongol-nongol. Teman-teman aku sampai rebutan.” Dika mengeluarkan kantong berisi sekotak brownies dan memberikannya pada Darra. “Dari Mama. Kemarin kan kamu nggal bisa ketemu Mama.”

Wajah Darra kembali memerah. “Makasih,” gumamnya sambil menerima bungkusan itu.

“Kamu jangan malu-malu sama aku lagi, dong. Aku kan udah tahu perasaan kamu,” kata Dika, membuat wajah Darra semakin memanas. Dika memakai tasnya lalu bangkit. “Aku pulang, ya. Besok pulang sekolah kamu tunggu di gang aja. Nanti aku antar.”

“Nggak usah. Kamu langsung pulang aja,” kata Darra sambil mengikuti Dika ke motornya.

“Nggak apa-apa. Aku kan udah nyiapin helm untuk kamu,” kata Dika sambil menunjuk helm yang tadi dipakai oleh Darra.

Darra baru menyadari helm itu terlihat masih baru. Mungkinkah Dika memang membelinya untuk dipakai oleh Darra?

Dika memakai helm lalu menyalakan mesin motornya. “Aku pulang dulu. Sampai besok, ya!” Ia melambaikan tangannya lalu melajukan motornya pergi.

Darra menunggu sampai Dika menghilang dari pandangan. Kemudian ia baru menyadari sesuatu. Jaket Dika masih ada padanya.