Episode 24 - Tabib Dari Tionggoan (3)


Juragan Karta pun mempersilahkan kedua tamunya masuk kedalam rumahnya dan segera menjamunya, “Euis sediakan makanan, kita akan menjamu kedua tamu istimewa yang sudah mengusir gerombolang pengemis dari Bukit Tunggul itu, Eneng ini Kungkung Holiang datang!” Jaya dan Holiang pun dijamu bak tamu kehormatan dari istana, segala makanan yang berlebih terhidang diatas meja, Jaya yang di kedai tadi gagal untuk mengisi perutnya pun menerima suguhan makanan itu dengan sungkan.

“Sudah lama sekali kau tidak kemari Holiang, oya aku belum kau kenalkan dengan kawan seperjalananmu ini, aku baru tahu namanya saja sobat, Jaya Laksana, betul?” Tanya Karta setelah selesai makan.

“Benal, ia yang membantuku membekuk si Empat Setan Hitam dari Muala Angke di Desa Cibodas, dia juga yang mengusil gelombolan pengemis tidak tahu budi itu! Ilmu Silatnya hebat sekali!” jawab Holiang.

“Ah Ncek terlalu melebih-lebihkan saya Juragan…” sela Jaya yang merasa tidak enak terlalu dipuji oleh Holiang.

“Hahaha… Tuan Pendekar tidak usah terlalu merendah, baik Empat Setan Hitam dari Muara Angke serta gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul sama-sama memiliki ilmu silat yang tak bisa dipandang remeh, terutama pemimpin gerombolan pengemis itu si Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul, ilmunya sangat tinggi! Para jawara saya tidak ada yang sanggup menandinginya” ucap Juragan Karta.

“Jadi julagan tahu kalau dia itu pelempuan?” Tanya Holiang.

“Iya aku tahu meskipun ia menyamarkan suaranya dengan tenaga dalamnya tapi aku dapat mengetahui kalau dia itu seorang perempuan, selain itu menurut kawan lamaku, dulu sempat tersiar kabar santer bahwa si Dewa Pengemis dari Bukit Tunggul telah menerima seorang murid perempuan, mungkin si Dewi inilah yang sekarang menjadi pemimpin para gerombolan pengemis itu.” jawab Karta.

“Juragan, kalau saya boleh tahu, sebenarnya apakah yang terjadi antara Juragan dengan Empat Setan Hitam Dari Muara Angke lalu antara Juragan dengan Gerombolan Pengemis dari Bukit Tunggul itu?” Tanya Jaya.

Juragan Karta menghela nafasnya, “Ah iya, mungkin memang sudah saatnya aku menceritakan masa laluku serta asal muasal semua hartaku ini…”, Jaya dan Holiang sama-sama terdiam menunggu cerita Sang Juragan. “Kudapawana, Gandil, Opang, dan Oding… Mereka akhirnya datang juga…”

Mata Juragan Karta menerawang peristiwa sepuluh tahun yang lalu. “Sepuluh tahun yang lalu, saat aku masih bernama Gundala, aku bersama mereka berempat adalah kawanan Rampok yang malang melintang di Pelabuh Sunda Kelapa, kami berlima adalah perampok yang handal dengan julukan Lima Setan Hitam Dari Muara Angke… 

Suatu ketika Gusti Allah memberikan aku suatu pelajaran yang sangat berharga, ketika nasib naas akhirnya menghampiri kami ketika kami merampok upeti bulu bekti dari para Mantri Pamajegan Padjadjaran yang sedang mengambil pajak dari para pedagang di Sunda Kelapa, kami tidak sanggup menandingi kesaktian para Mantri Pamajegan tersebut, kami kalah kemudian terus melarikan diri ke arah selatan ke arah Negeri Mega Mendung yang saat itu sedang berseteru hebat dengan Padjadjaran, tapi apesnya keempat kawanku tertangkap di perbatasan oleh prajurit Padjadjaran, hanya aku sendiri yang berhasil lolos sepeti harta yang berisi intan permata.

Aku terus berlari hingga akhirnya sampai ke Mega Mendung, namun rupanya Gusti Allah mempunyai satu rencana untukku di negeri ini, Gusti Allah membuka mata hatiku, aku mendapatkan hidayah di negeri asing ini! Tadinya aku hendak menggunakan harta hasil jarahanku itu untuk berfoya-foya dan plesiran seumur hidupku, tapi ketika melihat penderitaan rakyat Mega Mendung akibat pemerintahan Prabu Kertapati yang bertangan besi, yang mencekik rakyatnya dengan pajak yang terlampau tinggi, aku berubah pikiran… 

Aku pun membuka lembar hidup baru dengan mengganti namaku menjadi Karta, Aku memutuskan untuk menggunakan harta hasil jarahanku sebagai modal membuka usaha, Akupun sangat bersyukur ketika Allah mempertemukanku dengan Euis, seorang gadis yatim piatu yang orang tuanya dibunuh oleh prajurit Mega Mendung akibat tidak mampu membayar pajak, ia mengajarkanku arti cinta yang sejati hingga akhirnya aku jatuh hati dan menikahinya, dengan setia ia mendampingiku memulai usaha dari nol hingga akhirnya aku sukses dan dikaruniai seorang putri. Alhamdulillah, usahaku semakin maju, dan aku bisa membantu meringankan beban rakyat walaupun sedikit, setidaknya aku dapat membantu rakyat di desa Cibodas dan sekitarnya agar mereka tidak kelaparan dan belakangan aku dapat membantu memastikan kesehatan mereka berkat Ncek Holiang…”.

“Ah Julagan telalu melewih-lewihkan, Owe tidak wisa apa-apa tanpa Thian” sahut Holiang.

“Lalu bagaimana dengan gerombolan pengemis Dari Bukit Tunggul itu Juragan? Bukankah mereka juga korban dari pemerintahan Prabu Kertapati yang kejam itu?” Tanya Jaya lagi.

“Ya anda betul tuan pendekar, mereka memang korban dari pemerintahan yang lalim, tapi cara mereka meminta sedeqah sungguh tidak masuk akal! Pada awalnya aku bersedia untuk memberikan mereka sedeqah, tapi mereka malah menuntut seluruh hartaku untuk diberikan kepada mereka!” jelas Juragan Karta.

Juragan Karta lalu menghela nafas berat. “Sebenarnya aku bersedia dan sangat ikhlas untuk memberikan semua hartaku pada mereka, hitung-hitung untuk mencuci dosaku karena hidupku yang kelam di masa lalu sebagai perampok dan harta yang aku gunakan sebagai modal awal usahaku adalah harta haram… 

Tapi kemudian aku berpikir keras, sungguh tidak bermanfaat dan berfaedah kalau aku memberikan seluruh hartaku pada mereka, kemungkinan besar mereka hanya akan menggunakan hartaku hanya untuk kepentingan mereka saja, sedangkan kalau aku tetap menjadi seorang pengusaha seperti ini, aku bisa membantu warga-warga desa yang membutuhkan, maka kuputuskan untuk menolaknya! Tapi mereka tidak mau mengerti dan malah mengganggu usahaku dan keluagaku hampir setiap hari! Menurut pengakuan mereka, mereka hendak menggunakan hartaku sebagai modal untuk melakukan pemberontakan terhadap Prabu Kertapati, tentu saja aku menolaknya mentah-mentah!”

Holiang manggut-manggut setuju, “Hmm… Lagi-lagi manusia yang dibutakan oleh dendam semata!” gumamnya.

Jaya hanya terdiam, dia teringat pada Kakak Seperguruannya Dharmadipa yang mata hatinya seolah selalu dibutakan oleh dendam kesumat yang amat sulit dipadamkan, sebab telah mengakar jauh kedasar lubuk hatinya yang terdalam, sehingga Dharmadipa sering melakukan perbuaan-perbuatan yang tidak baik dan mempunyai sifat yang angin-anginan, selalu dilanda keraguan disepanjang jalan hidupnya hingga mudah terpengaruh oleh emosi sesaat.

Keadaan menjadi hening sesaat sampai Euis, istri Sang Juragan menyuguhkan tiga gelas bajigur untuk mereka, mereka pun lalu meminum bajigur untuk menghangatkan mereka dari dinginnya udara malam di desa Cibodas ini. “Oya kalau boleh saya tahu, darimanakah asal Tuan Pendekar? apakah yang membawa Tuan Pendekar menjejakan kaki di Desa Cibodas ini?” Tanya Juragan Karta.

Karena Juragan Karta sudah jujur menceritakan semua masa lalu dan masalahnya maka Jaya pun tak sungkan menjawab sejujurnya “Saya dari Gunung Tangkuban Perahu, kebetulan lewat Desa ini saat hendak ke Rajamandala Kutaraja Mega Mendung.”

Juragan Karta mengelus-elus kumisnya “Gunung Tangkuban Perahu? Hmm… Menurut sohibul hikayat di puncak gunung itu hidup seorang pertapa tua aneh yang sangat sakti bernama Kyai Supit Pramana, dan di lereng gunungnya ada sumber air panas yang indah yang merupakan asal-muasal legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi… Tetapi tidak ada yang berani lewat ke lembah Gunung itu, menurut cerita 20 tahun yang lalu terjadi perang besar di lembah gunung itu antara Prajurit Mega Mendung melawan prajurit Padjadjaran, konon semua prajurit dari kedua belah pihak mati semua kecuali Prabu Kertapati yang memimpin langsung prajurit Mega Mendung, sampai saat ini lembah tersebut sangat angker hingga tidak ada orang yang berani lewat kesana, orang-orang disekitar Gunung Tangkuban Perahu menyebut lembah itu dengan sebutan Lembah Akhirat saking angkernya tempat itu!” ujar Juragan Karta.

Saat itu Holiang melihat Eneng si gadis cilik putri Juragan Karta mengintip mereka dari celah-celah pintu, Juragan Karta pun menyadari kehadiran anaknya ini hingga ia membuka suara, “Eneng, jangan suka mengintip dan menguping pembicaraan orang tua!”

Si Eneng pun masuk ke ruangan itu dan menghampiri ayahnya. “Maaf Bah, Eneng hanya mau memanggil abah untuk tidur, soalnya ENeng sudah ngantuk.” 

Mendengar itu Holiang mengeluarkan sebuah boneka rajut dari dalam buntelannya “Hahaha Eneng maafkan Kungkung yang mengajak Abahmu mengoblol sampai lalut malam begini, ini sebagai gantinya Kungkung kasih hadiah buat Eneng.”

Eneng pun menerima boneka rajut itu sambil tersenyum senang, “Terimakasih Kungkung, mainan yang dulu Kungkung berikan pun masih Eneng simpan”

Holiang tertawa sambil menepuk-nepuk pundak si Eneng “Hahaha Kamu sudah makin besal dan cantik, lain kali Kungkung bawakan alat tulis dan buku dali Tiongkok supaya Eneng tambah pintal!”

Juragan Karta pun tersenyum melihatnya “Eneng duluan saja ya, Abah sebentar lagi menyusul” Eneng pun mengangguk dan keluar dari ruangan itu, tapi beberapa saat kemudian terdengarlah jeritan Eneng, mereka bertiga pun kaget dan langsung berlari ke kamar Juragan Karta.

Ternyata didalam kamar tersebut telah ada empat orang berpakaian serba hitam, berambut gondrong dengan brewok acak-acakan dan seorang pria paruh baya yang berpenampilan seperti Holiang. “Gundala kami sahabat lamamu datang menjenguk! Kemarilah Gundala, anak dan istrimu menunggumu bersama kami didalam hahaha!” tantang Kudapawana. 

Holiang yang melihat orang yang sedang bersama si empat brewok itu terkejut bukan main “Tenglan? Jadi kaupun kemali?” tanyanya yang tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.

“Hahaha… Apa kabar Holiang, owe datang kemari untuk mengambil kitab 1001 pengobatan dari Wudang yang kau curi itu!” sahut Tenglan yang mengutarakan maksudnya.

Juragan Karta yang melihat anak serta istrinya ditodong oleh golok pun melangkah maju masuk kedalam kamarnya dengan tenang namun waspada, “Selamat datang kawan-kawan lamaku, mari kita bicarakan semuanya secara baik-baik, tolong lepaskan anak istriku!”

Kudapawana menyeringai buruk mendapati sapaan dari Juragan Karta tersebut, “Tentu saja sobat! Kau tentu sudah tahu maksud kedatangan kami kemari, kami hanya mau mengambil jatah kami, setelah itu kami akan pergi!”

Juragan Karta mendesah nafas berat “Baiklah, silakan ambil apa saja yang kalian mau sebanyak yang kalian mau, setelah itu tolong tinggalkan kami dengan damai!”

Keempat orang itu tertawa terbahak-bahak, “Tentu saja kami akan mengambil semua yang kami suka Gundala, tapi setelah kami mengambil nyawa penghianat busukmu terlebih dahulu!” tandas Kudapawana.

Ucapan itu ditutup oleh Kudapawana dengan melemparkan tiga batang paku hitam berbisanya, untunglah Gundala atau Juragan Karta sudah siaga, ia segera mencabut keris pusakanya yang terselip di bokongnya, Trang! Tiga paku hitam itu jatuh ke bumi setelah ditahan oleh keris Sang Juragan.

Jaya langsung memungut paku-paku hitam itu dan dengan gerakan yang sangat cepat, pemuda ini melemparkan paku iitu pada Oding yang menodongkan goloknya pada Euis dan Opang yang menodongkan goloknya pada Eneng, maka mau tak mau kedua brewok itu melepaskan todongannya dan mengayunkan goloknya untuk menahan paku-paku yang mengarah ke bola mata mereka!

Pertarungan sengit pun terjadi di gedung kediaman Juragan Karta tersebut, Jaya menghadapi Opang dan Oding, Juragan Karta berhadapan dengan Kudapawana dan Gandil, sementara Holiang menghadapi Tenglan saudara seperguruannya dari perguruan Wudang di daratan Tiongkok. 

“Holiang mengapa kau mencuri kitab 1001 pengobatan itu dari Owe? Bukankah guru mewariskannya pada owe?!” bentak Tenglan sambil bertarung.

“Sebab obat apapun juga bisa menjadi lacun! Olang yang selakah akan halta sepelti kau tidak akan bisa mengamalkan kitab ini sebegaimana mestinya! Makanya owe bawa kitab ini sampai ke Pasundan ini!” jawab Holiang sambil meladeni Tenglan.

“Sampai mengamalkannya pada orang-orang Pasundan yang bukan golongan kita?! Dasar penghianat kau Holiang!” maki Tenglan.

“Owe tidak pandang bulu, siapa saja yang membutuhkan akan owe obati! Itulah cala telbaik untuk mengamalkan Kitab ini dan ajalan gulu kita, tidak peduli dali golongan manapun!” sergah Holiang.

Rumah Juragan Karta yang biasanya sepi dan damai tersebut kini berubah menjadi riuh oleh teriakan-teriakan dan suara mereka yang beradu jotos. Tak perlu waktu lama bagi Jaya Laksana untuk menyelesaikan pertarungannya dengan Opang dan Oding, ia yang sudah merasa muak dengan dua begundal ini mengeluarkan ajian Pukulan Saktinya yakni “Pukulan Badai Mendorong Bukit” yang ia dapatkan dari Kyai Supit Pramana, dari kedua tangannya menggebulah dua topan prahara dahsyat yang menggetarkan seluruh gedung kediaman Juragan Karta menerjang Opang dan Oding, tubuh kedua penjahat itu menclat terbang keatas berputar-putar seperti diputar oleh angin topan, lalu jatuh ambruk ke bumi tanpa berkutik lagi dengan tulang dada hancur!

Baru saja Jaya menyelesaikan pertarungannya dengan Opang dan Oding, empat buah pisau berkarat melesat ke arahnya, untunglah telinga Jaya sangat tajam hingga ia dapat mendengar suara berdesingnya empat buah pisau tersebut, ia pun melompat berkelit dari ancaman maut pembokongnya itu, ternyata yang membokongnya adalah dua orang pengemis dan si perempuan bercadar pemimpin gerombolan pengemis dari Bukit Tunggul!

Si perempuan bercadar itu tertawa terbahak ,“Hahaha… Jaya Laksana, kita jumpa lagi! Aku ingin melunasi hutangku tadi sore!” ucapnya yang kini tidak menyamarkan suaranya lagi.

“Ah nona, tiada hutang piutang di antara kita, apa yang harus kau lunasi?” Tanya Jaya dengan nada bicara yang santai.

“Jangan banyak omong! Kini aku si Dewi Pengemis dari Bukit Tunggul dan Dua Pengemis Pisau Kematian akan mencabut nyawamu!” 

Ucapan si Dewi Pengemis ditutup dengan berdesingnya pisau-pisau dari kedua pengemis bejuluk Dua Pengemis Pisau Kematian yang melesat bagaikan curah hujan mengancam beberapa bagian tubuh Jaka, sementara si Dewi Pengemis yang badannya bau asam dan apek itu menyerang Jaya dengan gencar dari jarak dekat!

Di lain pihak, pertarungan antara Juragan Karta melawan Kudapawana dan Gandil pun berlangsung amat seru! Ternyata kemampuan Juragan Karta atau si Gundala ini sudah meningkat pesat sejak meninggalkan kelompok Lima Setan Hitam Dari Muara Angke, Kudapawana dan Gandil pun terkejut melihat kemampuan Gundala yang sudah meningkat pesat itu hingga mereka berdua kewalahan, meskipun mereka berdua berkali-kali melemparkan paku-paku hitamnya, Gundala dapat menghindari atau menangkisnya, malah keris pusaka ditangannya membuat mereka berdua terdesak hebat! Pada satu kesempatan, Gundala berhasil menusukan keris pusakanya di leher Kudapawana! Seketika itu juga, tewaslah Kudapawana pemimpin kelompok Setan Hitam dari Muara Angke tersebut!

Betapa geramnya hati Gandil melihat pemimpinnya tewas, maka dengan liciknya ia membokong Gundala dengan lemaparan paku-paku hitamnya, Holiang yang kebetulan menyaksikan kelicikan Gandil tersebut langsung melompat meninggalkan Tenglan untuk menolong Juragan Karta! “Julagan awas!” serunya sambil melepaskan pukulan jarak jauhnya, paku-paku itu rontok oleh pukulan jarak jauh Holiang, namun itu membuat Holiang lengah, Tenglan yang telah memiliki beberapa paku hitam melemparkan semua pakunya pada Holiang dan… Sreebbb!!! Kesepuluh paku hitam beracun itu menancap tepat di punggung Holiang dengan sangat dalam, Holiang pun langsung jatuh lemas!

Juragan Karta atau Gundala dengan marah langsung menerjang Gandil, Gandil pun langsung roboh dengan kepala nyaris terbelah dua oleh keris Juragan Karta, setelah itu Juraga Karta langsung menerjang Tenglan yang hendak mengambil kitab 1001 Pengobatan dari balik pakaian Holiang! 

Sementara Jaya yang melihat Holiang dicurangi demikian rupa tak bisa berbuat banyak sebab ia didesak hebat oleh ketiga pengemis sakti itu, maka mengamuklah ia bagaikan harimau yang terluka, ia mengeluarkan Ajian Andalannya yang ia dapat dari Kyai Pamenang yakni “Ajian Liman Sewu”! Dengan sekali gepruk saja kepala kedua pengemis Pisau Kematian itu pecah kena tampar tangan Jaya!

Bukan main kalapnya Dewi Pengemis mendapati kematian dua saudaranya itu, maka mengamuklah ia dengan segala kesaktian yang dimilikinya! Jaya yang sudah tak mau berlarut-larut lagi meladeni Dewi Pengemis sebab ia harus segera menolong Holiang mendapatkan ide untuk menghentikan amukan lawannya, dengan tangkas ia merobek cadar biru yang dipakai oleh si Dewi Pengemis! 

Si Dewi pengemis terkejut bukan main ketika cadarnya dirobek Jaya, dengan cekatan ia segera menutupi wajahnya dengan kibasan rambutnya yang panjang, ia pun melompat mundur dan lalu tiba-tiba… Pssstttt!!!! Seluruh ruangan itu menjadi bau belerang yang sangat menyengat diikuti oleh asap putih yang menyakitkan mata! Si Dewi Pengemis pun menghilang melarikan diri! “Ajian Hitut Semar!” umpat Jaya yang mengenali ajian tersebut. Sebenarnya asap dan gas belerang itu beracun, tapi bagi Jaya yang sudah terbiasa menghirup udara kawah di Tangkuban Perahu ilmu si Dewi Pengemis untuk melarikan diri tidak ada artinya bagi dirinya!

Jaya tidak mempedulikan si Dewi Pengemis, ia langsung berlari menghampiri Holiang, namun dilihatnya Juragan Karta telah terdesak oleh Tenglan yang menggunakan jurus Taichinya yang sama dengan milik Holiang maka, ia pun melompat menerjang Tenglan, “Juragan biar saya yang menghadapinya!” 

Juragan Karta pun munndur, Jaya yang tak berlama-lama menghadapi Tenglan langsung mengeluarkan jurus andalannya yang ia dapat dari Kyai Supit Pramana yatu “Jurus Naga Menguras Samudera”!

Angin deras yang tajam menyakitkan kulit berseoran dari setiap gerakan yang Jaya buat, Tenglan pun merasa jantungnya berdebar serta tubuhnya sangat berat bagaikan ditindih oleh batu besar setiap kali Jaya menyerangnya, ia langsung merasa jerih! Maka pada suatu kesempatan ia pun melompat mundur hendak melarikan diri lewat jendela kamar! Ia berhasil menerobos jendela kamar dan melompat keluar, tapi Jaya sudah sangat murka akan perbuatan liciknya, maka tidak ada ampun lagi bagi Tenglan! 

Sontak udaa di ruangan tersebut menjadi sangat panas ketika selarik sinar besar berwarna Emas kemerahan memancarkan cahaya redup yang sangat panas, menggubu menerjang Tenglan! Blaarrr! Sinar yang keluar dari tangan kanan Jaya tersebut berhasil mengenai punggung Tenglan yang sedang kabur, tubuhnya langsung hancur terbakar api membara hingga menjadi abu! Itulah kehebatan “Pukulan Gerhana Matahari” yang Jaya dapatkan dari Kyai Supit Pramana!

Setelah itu Jaya langsung menghampiri Holiang yang sedang dikelilingi oleh Juragan Karta, Euis, dan si Eneng. Nafasnya tinggal satu-satu, pandangan matanya sudah memudar. “Kungkung jangan mati! Kungkung…” rengek si Eneng yang menagis mendapati tubuh Holiang yang semakin lemah. 

“Owe lega kalian semua selamat!” ucap Holiang dengan lemas, dia lalu menoleh pada Jaya “Tuan Pendekal, ambilah kitab 1001 pengobatan yang ada dalam buntalan Owe, pelajalilah kitab itu untuk kebaikan sesama... Owe minta tuan pendekal mempelajalinya untuk pengobatan, bukan untuk membuat lacun di dunia ini sepelti Tenglan!” pesannya pada Jaya.

“Baiklah Ncek, tapi saya akan lebih senang kalau Ncek sendiri yang mengajarkannya pada saya!” jawab Jaya dengan sendu.

“Hehehe… Maafkan Owe tuan pendekal, owe halus segela pulang ke Giam Kun!” jawab Holiang, ia lalu menatap semuanya dengan pandangan lemas, “Kata olang tua, kematian akan selalu telsenyum pada dili kita, jadi yang kita wisa lakukan hanyalah walas telsenyum pada kematian… Kini owe bisa tenang belistilahan di lumah Thian… Jaga dili kalian semua baik-baik...” setelah berkata seperti itu Holiang pun menghembuskan nafas terakhirnya. Tangis si Eneng dan Euis pun pecah, Juragan Karta pun tak kuasa menahan air matanya, Jaya pun tak luput dari kesedihan, meskipun baru sesaat saja ia bersama dengan Holiang, tapi ia merasa seperti sudah lama mengenal orang tua berhati mulia itu.

Subuhnya saat matahari baru terbit setelah shalat subuh, jenasah Holiang pun dimakamkan di halaman belakang rumah Juragan Karta alias gundala yang dermawan dan baik hati itu, Jaya pun langsung pamit hendak melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke Rajamandala setelah prosesi pemakaman tabib Holing selesai, Juragan Karta pun melepaskan kepergian pemuda budiman itu dengan berat hati. 

Jaya terus melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Juragan Karta dan wilayah Desa Cibodas, ketika ia memasuki sebuah hutan, diatas sebuah pohon sesosok tubuh berambut panjang tampak menyeringai melihat Jaya yang berjalan di bawahnya, dengan diiringi tenaga dalamnya ia pun berteriak sehingga suaranya menggema disekitar hutan tersebut, “Hai Jaya Laksana, aku tunggu kau di puncak Gunung Bukit Tunggul untuk menyelesaikan urusan kita yang tertunda! Kalau kau tidak datang, aku berjanji akan mencelakai keluarga Juragan Karta dan menjadi bayang-bayangmu seumur hidupmu!”

Jaya celingukan menatap keatas pohon-pohon di hutan itu yang lebat-lebat, ia dapat mencium aroma tubuh si Dewi Pengemis yang khas berbau asam, apek, dan ada bau belerangnya yang sangat menusuk itu. “Hmm... Rupanya si Dewi pengemis masih sangat penasaran padaku, baiklah akan aku ladeni tantangannya agar ia tidak menganggu keluarga Juragan Karta lagi dan akan kububarkan gerombolan pengemis sesat itu!” tekad Jaya dalam hatinya. 

Sesaat ia teringat semalam ketika berhasil merobek cadar si Dewi Pengemis, sekilas ia melihat seorang gadis cantik berkulit hitam manis yang mempunyai tanda hitam atau tahi lalat di bawah mata kanannya yang berkelebat lalu menghilang dari hadapannya.


Catatan: 

Terhitung pekan depan, Wasiat Iblis akan tayang dua kali dalam sepekan, yaitu setiap Selasa dan Sabtu.