Episode 60 - Familiar Name


Di kelas Fragor, Alzen duduk di bangku ketujuh dari sepuluh baris. Konsep kelasnya kurang lebih mirip dengan kelas Liquidum. Tapi jauh berbeda dengan kelas Ignis yang bermula dari ruangan kosong dan tiba-tiba muncul meja dan kursi bila diperlukan. 

Disana, Ia nyaris tak kenal siapa-siapa, selain yang dilihatnya di turnamen. Suasana kelasnya juga berbeda dengan Ignis mulai simbol kelasnya yang berbentuk sambaran petir zig-zag berwarna ungu tua. Juga dari tata ruangnya dan teman-teman sekelasnya.

"Huh..." Alzen menghembuskan nafas dan tertunduk minder. "Aku merasa asing disini."

"Wahhh... kau Alzen ya?" kata pelajar di depannya.

"Hah!?" Alzen tak siap.

"Iya! Kau Alzen kan?" kata pelajar di belakangnya yang segera mencoleknya.

"Hah?!" Alzen merasa tak nyaman.

"Iya benar! Kau Alzen, si runner-up itu?"

"I-Iya..." Alzen canggung. Dan mulai kewalahan melihat seisi kelas Fragor kini berbalik memelototinya. Untuk sekadar menyapa, memperkenalkan diri, menyampaikan rasa kagum atau hanya sekedar mencoleknya.

"Kau akan belajar disini?" kata salah seorang anak Fragor. "Beneran!?"

"Wah senangnya kamu ada disini. Ayo duduk di sini, masih kosong kok."

"Hush!" kata pelajar di belakangnya. "Itu kan sudah ada nempatin. Orangnya saja belom dateng."

"Biarin, orangnya juga bilang mau pindah kelas kok." balasnya.

"Meskipun juara 2, kau hebat loh! Boleh salaman?"

"Aku lihat sendiri, kamu bisa tiga elemen kan? Hebat!"

"Hei Alzen! Lihat sini dong!"

Alzen menoleh ke arahnya.

"Hi..." sapanya dengan lambaian tangan dan wajah senyum yang seram.

"Aaa..." Alzen kewalahan, semua orang bertanya padanya di waktu bersamaan. Ia hanya bisa melindungi dirinya. Tanpa ada kesempatan menjawab mereka. "Duh... aku benar-benar tak siap dengan hal ini." begitu pikirnya.

"Nananana... Woh! Woh! Woh! Nananana..." Fhonia sibuk mendengarkan musik, lewat headphone yang terbuat dari batu kristal. Cara kerjanya mirip dengan Crystal Communicator. Hanya saja setiap pasang batu, hanya bisa merekam satu jenis music saja dan tidak bisa dihapus. Sekali merekam, semua suara yang masuk akan terekam secara otomatis dan tidak bisa dihapus begitu sudah merekam sekali saja.

"Hei Fhonia!" senggol teman di sampingnya. "Malah sibuk sendiri saja."

"Hee!? Ada apa?" Fhonia melepaskan jarinya dari batu di telinganya itu dan suplai auranya terhenti kemudian suara dari batu itu juga berhenti.

"Lihat tuh, ada Alzen, dia belajar disini sekarang." kata wanita berambut hitam dengan googles yang ia kenakan di atas dahinya

"Hee...? Superstar nomor dua akan belajar disini?" kata Fhonia dengan terkejut, ia yang duduk di bangku baris kedua, langsung menoleh ke belakang. Fhonia tak habis pikir, ia melihat ke belakang mendapati Alzen dikerumuni orang-orang. "YEAYYY !!" Ia melompat kegirangan di atas kursinya, tapi tidak akan ada kerusakan yang berarti, mengingat tubuh Fhonia yang kecil dan langsing. "Aku mau lihat! Aku mau lihat!"

"Ehemm! Cepat kembali ke bangku kalian." kata Kazzel, instruktur mereka yang akan mulai mengajar di kelas. Ia seorang pria berumur 30 tahunan, berambut hitam kriting panjang, yang dikuncir satu kebawah, mengenakan kacamata bulat dan jubah putih seperti dokter dan tatapan matanya tajam alias sipit.

"Tunggu sebentar lagi lah pak." keluh murid-murid.

"Yah! Belum juga salaman."

"Oke, 5 detik kalian tak duduk. Siap-siap kusambar." ucapnya tenang namun isinya mengancam. Tangannya sudah muncul percikan listrik biru.

"Waa!? Oke pak! Oke pak!" para pelajar kembali ke bangkunya dengan tergesa-gesa.

"Aku pernah kena sambar, bisa langsung hangus kita!"

"Pak Kazzel gak seru nih!"

"Tunggu sebentar lagi la..."

BZZZZZTTT !!

Salah seorang anak Fragor disambarnya.

"Puhh..." katanya dengan tubuh hitam gosong. "Baik pak."

***

Di kelas Ignis, tahun ini menjadi kelas yang paling banyak dimasuki setelah perpindahan kelas. Semua karena satu faktor yang sama. Ingin sekelas dengan Alzen.

"Haa!? Banyak sekali yang mau ke Ignis." kata Lio yang terheran-heran dengan banyak-banyak wajah-wajah asing masuk ke kelasnya.

"Alzen!"

"Alzen!"

"Alzen! Alzen di kelas ini kan?" kata anak-anak dari kelas lain yang berpindah ke Ignis.

"Hahaha..." Lasius tertawa. "Gara-gara dia, banyak sekali yang mau masuk ke kelas ini."

"Hei! Kabar buruk saudara-saudara." sahut Lio. "Alzen tidak lagi belajar di kelas ini. Dia pindah kelas lain."

"Hah!? Benarkah? Dia ke kelas apa?" tanya salah seorang dari gerombolan anak baru itu.

"Entahlah, dia bilang masih mencari-cari, coba saja cek ke salah satu elemen yang ia bisa. Yang pasti ia tidak akan pidan ke Terra ataupun Ven-"

"Yasudah-yasudah, ganti kelas lain, tidak jadi deh."

"Haa?" Lio ternganga. "Jadi hanya itu motivasi kalian ke sini!"

Di bangku paling belakang kelas Ignis,

"Krag, kau sudah baikan?" tanya Eris. Dua orang yang kemarin menghadiri pesta perayaan kemenangan untuk Nicholas.

"Eris cukup, aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Tapi Krag, kau..." Eris mencoba mengusap-usap luka di punggung Krag.

"Minggir! Aku bisa urus diriku sendiri!" katanya sambil menyingkirkan Eris dengan kibasan tangannya. "Kau tak perlu mengurusi dan mejagaku setiap saat! Aku bisa jaga diriku sendiri!"

"Tapi Krag." Eris dibuat sedih, teman yang ia sangat pedulikan, ini malah melukai dirinya.

"Hee... ada apa sih ribut-ribut." sahut Lio.

"Maafkan aku," Krag menunduk malu. "Tolong abaikan kami. Maaf."

***

Di kelas Ventus, kelas yang kini dimasuki Ranni. Yang tatanan ruangannya mirip dengan kelas Liquidum.

Saat memasuki kelas bersamaan dengan gerombolan anak dari kelas lain. Ranni berjalan melamun sambil melihat ke bawah dengan pikiran yang bimbang. "Saat Nicholas meng-cast sihirnya padaku waktu itu." pikir Ranni sambil berjalan dengan melamun. "Ingatan itu bangkit kembali, desa terbakar. Dua orang berduel. Masih samar di pikiranku. Hanya saja, ingatan itu kini menjadi semakin jelas."

"Ra-Ranni? K-kau kelas Ventus? Wow!? Sungguh!?" sapa Nirn, salah satu peserta turnamen yang mewakili Ventus, yang dikalahkan oleh Chandra saat pertandingan pertama turnamen.

Nirn memiliki badan gemuk yang membuatnya terlihat bulat, agak kontras dengan elemen angin yang fokus pada kecepatan. Saat ini ia mengenakan pakaian almamater Vheins, jubah penyihir Vheins berwarna biru. Dengan gaya rambut batok berwarna pirang kecoklatan dan tampang yang pas-pasan. Ia terlihat culun dan sering diabaikan di kelas.

"Huh? Kamu siapa?" balas Ranni.

"Aaggh... itu..." Nirn kaget sekali, dadanya serasa seperti tertusuk. "Aku...aku, kau tidak kenal aku?" Nirn menanyakannya seperti seharusnya Ranni kenal dengannya.

Ranni hanya geleng-geleng kepala saja.

"Aku Nirn, Nirn yang ikut turnamen juga." Nirn mencoba membuat Ranni ingat.

"Siapa? Nirn, tidak tahu." lalu Ranni pergi meninggalkannya begitu saja dan berjalan melihat-lihat tempat duduk di kelas. 

"Agghhh!" Nirn mengacak-acak rambut batoknya. "Percuma aku ikut turnamen, sesama pesertanya saja tidak saling kenal." pikir Nirn yang seketika terlihat stress sekali. "Hanya karena kalah pertama, jadi tidak ada yang kenal aku."

"Huh?" selagi mencari tempat duduk yang pas, Ranni mendapati seseorang yang tak asing baginya. "Ada dia. Pria itu, Sever." katanya dengan wajah jijik. 

Sever duduk di ujung kanan kelas pada barisan paling belakang alias paling dekat dengan pintu masuk, sedang dikerumuni tiga gadis cantik yang menggodanya. Atau lebih tepatnya, tergoda oleh penampilan Sever.

"Sever, lihat sini dong,"

"Sever, kapan aku diajak jalan nih."

"Kalian terus, aku kapan Sever."

"Maafkan aku gadis-gadis cantik," katanya dengan nada lembut dan agak sedikit feminim. "Aku baru saja di kontrak guild dari Letshera untuk jadi model mereka, setelah mereka melihat performance-ku di turnamen. Jadi, maaf sayang. Aku belum sempat." 

 "Aish..." Ranni jijik melihat tingkat mereka semua dan langsung membuang muka lalu duduk di bangku paling jauh dari Sever. Jadi Ranni memutuskan duduk di bangku ujung kiri dan paling depan yang otomatis paling jauh dari pintu masuk.

Ranni seusai memilih tempat duduknya langsung menaruh barang-barangnya kemudian lanjut melamun, memikirkan pertimbangan-pertimbangan tentang masa lalu yang menghantuinya.

***

Di kelas Terra, tatanan kelasnya juga serupa dengan kelas Liquidum dan Ventus.

"Joran! Akhirnya kau sudah sadar." kata Bartell khawatir. "Kau pingsan lama sekali, bahkan si rambut biru itu sudah bangkit jauh lebih cepat daripada kamu."

"Apa yang terjadi, kenapa banyak sekali anak-anak dari kelas lain masuk kesini." balas Joran dengan tubuh masih dibalut perban, tentu perbannya adalah kain selebar tirai, mengingat besar tubuh Joran yang diatas rata-rata orang normal. 

Karena kelas Terra atau bahkan selama Vheins berdiri, jarang sekali ada yang tubuhnya sebesar Joran, jadi khusus dia seorang, bangku dan meja di singkirkan dan dia terpaksa harus duduk di lantai yang diberi alas lembut. Dirinya seorang bisa memakan tempat sampai 2 kali 3 orang atau berkisar 6 meja dan kursi. 

"Kau sudah pingsan sejak kamu di sambar petir si rambut biru itu. Begitu kau sudah siuman Joran, Turnamen sudah selesai. Kita sudah memasuk Term sekolah yang berikutnya.

"Hah? Benarkah, aku pingsan selama itu, pantas. Banyak sekali yang aku lewati dan tidak ketahui."

"Tapi tenang, Nicholas Obsidus dari kelas Stellar Umbra sudah membalas dendam kita. Alzen hanya bisa sampai juara dua saja. Nicholaslah pemenangnya!"

"Hei! Hei! Kalian!" kata Eriya dengan alis terangkat satu. "Tolong sesuaikan diri kalian dengan teman-teman baru kita di kelas. Mereka mungkin baru pertama kali satu kelas dengan orang sebesar kamu Joran, jadi buat kalian anak-anak yang baru akan belajar kelas ini. Tolong biasakan sedikit demi sedikit ya. Oke?" kata Eriya, membujuknya seperti hal itu adalah hal yang biasa.

"Ahh kelas lain saja lah."

"Iya-iya, salah ngomong dikit bisa keinjek kita."

"Kalau ketiban, bisa remuk badan kita."

"Sudah-sudah yuk, kelas lain saja."

Mendengar itu justru membuat separuh anak-anak dari kelas lain yang akan belajar di kelas Terra, mengurungkan niatnya.

"Aa... kalian, tunggu." Eriya tak habis pikir mereka langsung berubah pikiran.

***

"Wah seperti biasa, banyak wajah-wajah baru ya?" kata Kazzel dengan gembira. "Tak perlu aku tanya kalian dari kelas mana dan apa motivasi kalian belajar disini. Karena bisa sampai besok kalau kutanya ratusan orang satu persatu."

"Dia terlihat cerdas," komentar Alzen dalam hati. "Akan seperti guru Lasius tidak ya?"

"Namun sebentar, aku ingin perkenalkan satu orang lagi yang akan belajar disini." kata Kazzel sambil berjalan keluar kelas, menggandeng seorang anak kecil ke samping meja guru.

Yang digandengnya adalah seorang anak kecil riang. Berambut pendek berwarna hitam kebiruan. Mengenakan rompi hitam dan kemeja lengan panjang putih dan celana hitam panjang dan sepatu hitam anak kecil. Ia belum mengenakan dan tidak akan mengenakan jubah seragam Universitas Vheins, sebelum waktunya.

"Haa? Anak kecil?" Reaksi kebanyakan anak-anak di kelas.

"Ngapain anak kecil disini pak?"

"Ihh... dia imut banget." komentar Fhonia sambil senyum-senyum senang.

"Meski dia masih kecil, dia akan belajar disini sama kalian." kata Kazzel.

"Hoi yang benar saja!" sahut para pelajar.

"Memangnya kita mau mengasuh dia disini!"

"Sini-sini, duduk sama aku saja." bujuk Fhonia.

"Jangan nilai dari penampilannya dulu. Dia ini terkenal di sekolah sihir untuk anak-anak di kota Vheins. Sihir petirnya berkembang lebih cepat dari anak-anak lain seusianya. Kalau kalian tidak rajin belajar, bisa saja anak ini akan lebih hebat dari kalian."

"Huuu! Bohong!"

"Pak Kazzel terlalu memandang tinggi anak kecil itu."

"Wahhh... dia kuat ya? Tapi aku tidak peduli, karena yang paling penting. Dia imut!" kata Fhonia yang tak henti memandangi anak itu dengan kedua tangan di pipi sambil menggoyang-goyangkan badannya .

"Terserah kalau kalian tak percaya, tapi jangan sekali-sekali meremehkan anak ini. Kakaknya dulu adalah alumni Vheins. Dan dia sudah jadi penyihir yang sangat hebat di luar sana." pesan Kazzel. "Nah, adik kecil, sekarang kenalkan dirimu pada kakak-kakak ini ya."

"Baik! Haiiii kakak-kakak semua!" sapa anak berambut hitam itu. "Salam kenal! Namaku... Zio Mirtel. Umurku 10 tahun..."

"Zio Mirtel!?" Alzen teringat sesuatu. "Mirtel?"

***