Episode 59 - New Class, New Friend, New Instructor


Kembali pada saat siang hari, di Vheins Student Hall.

"Aku rasa cukup sampai disini," kata Alexia, wakil kepala sekolah Vheins. "Aku paham betul... kalau aku bicara terlalu lama. Kalian juga pasti bosan kan? Jadi, terakhir... dengan sistem belajar yang jauh lebih fleksibel. Tidak berarti kelas yang kalian pilih sebelumnya tak punya arti lagi bagi kalian yang sudah memilih dan bersahabat selama tiga bulan terakhir. Meskipun kalian bebas belajar di kelas manapun, namun masing-masing dari kalian tetap akan membawa nama baik, kelas kalian masing-masing. Ingat itu baik-baik."

Chandra merenung sebentar, ia tak benar-benar fokus mendengarkan. "Aku rasa memang inilah saatnya." Chandra mengepal tangannya kuat-kuat. "Tekadku sudah bulat, aku memutuskan akan belajar sihir penyembuhan di kelas Liquidum seusai ini." katanya. "Uhm... kau ikut denganku Alzen?"

"Entahlah, aku masih belum tahu. Meski sudah harus memutuskan, aku juga masih bingung." kata Alzen menghela nafas. "Aku bisa sihir air, tapi aku tak bisa sama sekali sihir penyembuhan. Dan juga aku sangat senang di Ignis, tapi aku juga penasaran dengan elemen yang lain. Jadi aku rasa... aku masih belum bisa memutuskan." Alzen menunduk.

"Begitu ya. Tapi... kalau bisa..." kata Chandra ragu-ragu.

"Kalau bisa apa?" tanya Alzen.

"Sebaiknya kita tidak usah satu kelas dulu." kata Chandra dengan nada yang berat.

"Hee!?" Alzen terkejut. "Kenapa!? Kau tidak suka satu kelas denganku?" Alzen berasumsi.

"Tidak-tidak." Chandra berusaha meluruskan. "Jangan salah paham dulu." kata Chandra mengkoreksi sambil membantah dengan mengayun-ayunkan tangannya. "Bu-bukan begitu maksudnya. Kau tahu kan masalahku yang kemarin. Aku harus memastikan bisa belajar sihir penyembuhan sebaik yang kubisa, selama ada waktu untuk belajar disini. Tapi... Kalau bersama kamu, aku takut... aku takut kalau..."

"Aku mengerti. Kau mau fokus belajar dan kalau ada aku... Kau tidak bisa lakukan itu."

"Sayangnya..." bicara Chandra tertahan sebentar. "Iya, itu benar..." katanya dengan berat hati. 

Alzen mengangguk. "Aku mengerti."

"Tapi bukan artinya kau mengganggu atau aku tidak senang denganmu. Aku hanya mau fokus... itu saja. Fokus. Karena hal ini penting bagiku, bagi keluargaku dan negaraku. Aku tak mau menyesal karena aku masih lemah dan tak bisa melakukan apa-apa setelah..."

"Oke!" Alzen memotong. "Tak perlu merasa bersalah," Alzen menepuk pundak Chandra. "Justru aku yang akan merasa bersalah kalau sampai misimu disini nantinya tidak tercapai."

"Chandra." Alzen menyemangati. "Berjuanglah!"

"Te-terima kasih Alzen..."

"Kalau begitu, satu-satunya pilihan, aku akan ke..."

"Hei Alzen," tepuk Gunin dari belakang. "Kau sudah memutuskan akan ke kelas mana? Liquidum saja ya? Biar aku ajari kamu semua teknik yang aku bisa?"

"A....ahh... soal itu..." Alzen canggung menjawabnya.

Lalu tanpa bicara sepatah katapun, Chandra beranjak keluar bersamaan dengan segerombolan pelajar Vheins yang lain.

"Huh? Kenapa? Mau ya... Liquidum saja ya." pinta Gunin.

"I-iya..." Alzen kesulitan menolaknya. "Ta-tapi... tidak sekarang ya. Jika sudah saatnya, aku pasti..."

"Kenapa?" potong Gunin. "Sekarang saja... aku pastikan kau akan lebih..."

"A-aku punya alasannya," potong Alzen. "Sungguh aku punya alasannya, Tapi... tidak bisa... sudah ya..." Alzen berdiri "Kapan-kapan saja aku jelaskan. Dadah!" dan beranjak pergi dengan terburu-buru.

"Loh? Aneh, kok dia begitu?" Gunin heran.

***

Alzen berlari keluar dengan tergesa-gesa, "Huwaaa!! Maaf Gunin, aku tidak bisa ke Liquidum karena Chandra. Tapi cepat atau lambat aku juga akan belajar disana. Aku janji. Maafkan aku" kata Alzen dalam hati tentang yang tak bisa ia ungkapkan ke Gunin.

BRUGGHHH !!

"Adududuh..." Alzen tersungkur jatuh setelah menabrak seseorang.

"Lohh!? Alzen, ngapain sih buru-buru banget?" kata Lio.

"L-Lio?"

"Sini biar aku bantu." Fia mengulurkan tangan.

Alzen menggenggam tangan Fia dan beranjak naik. "Te-terima kasih."

"Biar aku tebak. Kau pasti tidak akan belajar di Ignis lagi ya?" tanya Lio.

"Iya..." sambung Fia sambil mengingat-ingat. "Alzen kan bisa tiga elemen."

"Aku akan ke Fragor." jawab Alzen langsung.

"Loh? Gak Liquidum saja? Bareng di kelasku." Fia menawarkan.

"Ti-tidak... chandra sudah disana." kata Alzen. "katanya, dia mau belajar sihir penyembuhan di Liquidum."

"Chandra? Belajar sihir penyembuhan? Pfft... huahahahaa!!" Lio menertawainya. 

"Huh?" Alzen heran

"Huh?" Begitu juga dengan Fia.

"Kok gak pantes gitu sih? Hahahaha!"

"Hush! Lio!" tegur Fia dengan menyikutnya sedikit. "Terserah Chandra dong."

"Memangnya kenapa?" tanya Alzen.

"Hahaha... bukan-bukan, hanya saja, tampangnya gak pas huahahaha! Dia cocok di Ignis padahal." kata Lio sambil memegang perutnya, mencoba untuk berhenti tertawa tapi tak kunjung berhenti juga. "Hahaha! Tapi sedih juga sih... Kalau Chandra ke Liquidum dan kamu ke Fragor. Aku..."

"Masih ada Ranni kan?" potong Alzen.

"Ranni ya... hmm..." pikir Lio sejenak. "Barusan dia bilang mau ke kelas Ventus."

"Haa?" Alzen ternganga. "Dia bisa sihir angin?"

"Enggaklah... paling-paling dia mau dekat-dekat sama si pria cantik yang ada di Ventus itu." sindir Lio.

"Lio..." tegur Fia. "Gak baik asal berasumsi begitu."

"Hmm? Yang mana ya?" Alzen tidak ingat.

"Ituloh yang waktu di turnamen kemarin, sewaktu mereka berdua duel terjadi tornado api yang sangat besar."

"Ohh aku ingat, Sever ya?!" kata Alzen menebak. "Yang kelepasan waktu itu?"

"Ya memang dia," kata Lio. "Saking cantiknya, aku saja bisa jatuh cinta padanya. Hahaha..."

"Lio..." tegur Fia sekali lagi yang terlihat malu dengan sindiran-sindiran Lio.

"Be-bercanda doang kok." kata Lio sambil mengayun-ayunkan tangannya.

"Berarti... kita semua pisah dong?" kata Alzen dengan nada miris.

"Begitulah..." balas Lio santai. "Tapi tak masalah buatku lah. Kita kesini mahal-mahal kan buat belajar. Iya kan Fia?"

"Iya." angguk Fia setuju.

Alzen menepuk pundak Lio dan Fia. "Kalau begitu, sampai jumpa ya..." katanya dengan tersenyum.

Setelah itu, Alzen berpamitan dan segera pergi. Namun ia berbalik sejenak dan berkata. "Setelah pulang sekolah, kita bisa kumpul terus kan?" sahutnya sambil berjalan mundur dengan tergesa-gesa.

"Boleh..." Lio menyahut balik. "Nanti kamu bayarin makan ya? Kamu lagi banyak duit kan?"

Alzen tersenyum dengan tawa kecil. "Oke!" katanya sebelum berlari menjauh. "Sampai ketemu lagi! Bye!"

***

Sementara itu, di kelas Stellar, kegiatan belajar belum dimulai, tapi bagi mereka yang murni belajar di kelas ini, sudah duduk duluan. Melamun, berkumpul atau menyibukkan diri di kelas selagi menunggu anak-anak baru datang ke kelas, dan menunggu guru mereka datang setelah para murid memutuskan akan belajar di kelas mana. Jadi, tak heran akan ada banyak wajah-wajah yang tak asing, tapi baru hari ini memasuki kelas mereka.

"Hahh..." Leena menghela nafas, menunggu dan bosan. "Enak ya kalau bisa tiga elemen kayak si Alzen. Dia sudah pasti gak bakal di Ignis lagi."

Mengingat kelas Stellar menerima banyak elemen, kelas ini adalah yang paling besar dibanding kelas lainnya. Mencakup tiga bagian kelas yaitu kelas elemen cahaya, elemen kegelapan dan elemen non-mainstream di satu tempat yang sama dengan guru yang berbeda.

"Kenapa? Kau bosan belajar di kelas ini?" sambung Sintra di sampingnya.

"Tidak juga sih... Hanya saja aku ingin suasana baru. Tapi belajar di kelas lain. Tak terlalu banyak manfaatnya buatku." kata Leena sambil terbaring lemas di meja.

"Hmm... tak biasanya kau selemas ini?"

"Bahkan temannya Alzen itu. Bisa dua elemen, dia juga pasti tidak akan di Ignis lagi." gumam Leena cemburu. "Enaknya..."

Saat terbaring lemas di meja, ia melihat Velizar yang duduk di ujung kelas sendirian. Ia berada di paling atas sekaligus paling belakang kursi kelas, sambil bersandar di dinding sambil memeluk pedangnya dengan wajah datar seperti biasa.

Karena kelas Stellar besar, hanya di kelas inilah yang memiliki bangku belajar bertingkat seperti di bioskop maupun perkuliahan. Sedang kelas lainnya masih menggunakan susunan bangku seperti biasa.

"Loh!? Tumben si Velizar duduk sendiri?" Leena terbangun lagi, penasaran dengan hal yang tak lazim terjadi. "Tumben banget, dia gak bareng Sinus. Mereka musuhan?"

"Loh!? Kau belum tahu ya?" balas Sintra.

"Belum tahu apa?" Leena penasaran.

"Sinus dikeluarin dari sekolah."

"Haa!?" Leena terkejut, namun seketika. "Wahh... baguslah." Leena langsung mensyukurinya. "Dia disini juga tidak ada niat jadi penyihir hebat sama sekali. Padahal tidak tahu apa? Sekolah disini mahal banget. Ibuku saja mengeluhkan itu."

"Dia dikeluarin karena akhirnya, ia ketahuan membully Hael dan tanpa basa-basi, Sinus langsung dikeluarin pak Vlau." Sintra menjelaskan. "Harusnya sih aku kasihan, tapi mengingat dia disini juga cuma membully Hael dan mengganggu kelas. Aku rasa dia pantas mendapatkannya."

"Lalu? Hael mana? Dia gak kelihatan lagi sejak turnamen?"

"Itu dia, tidak ada yang tahu dia kemana? Dia menghilang begitu saja di tengah-tengah turnamen berlangsung. Kapan ia pergi? Sayang, tidak ada yang tahu."

***

Chandra berjalan menuju kelas Liquidum dan sebelum masuk, ia berdiri sejenak. Berhenti di depan pintu masuk di saat segerombolan pelajar lain berlarian masuk. Chandra berhenti dan menatap ke atas. Melihat simbol kelas Liquidum yang membentuk gelombang air berwarna biru.

"Sekarang, disinilah semuanya dimulai." kata Chandra dengan tekad. "Disinilah saatnya aku belajar menolong mereka yang menantikanku. Ayah, ibu, adik, kakak dan semuanya yang sedang kesulitan di medan perang. Aku janji, aku akan berhasil disini. Itu harus!"

Setelah bertekad, Chandra melangkah maju dan memasuki kelas. Disana ada Cefhi, cewek introvert yang imut berambut hitam dengan dua kuncir kepang, yang sudah duduk di bangkunya seperti biasa. Ia sedang sibuk-sibuknya membaca buku sihir air yang tebal, tanpa mempedulikan lalu lalang pelajar baru yang masuk.

"Permisi, aku duduk disini." kata Chandra yang dengan sopan memilih tempat duduk disamping Cefhi. Chandra juga tak punya banyak pilihan, karena bangku lain di kelas ini sebagian besar juga sudah di duduki pelajar lain.

"I-iya... silahkan." kata Cefhi dengan ramah, sebelum ia menoleh dan melihat bahwa Chandra yang akan duduk disampingnya. "Wu-wuaahhhh !!?"

"Hee? Kenapa? Kok kaget gitu?" Chandra heran. "Ada yang salah denganku. Apa ada sesuatu di wajahku? Apa... wajahku memang seram?"

"Ti-tidak... tidak-tidak... bu-bukan apa-apa kok." kata Cefhi dengan canggung, wajahnya memerah dan kacamata merahnya sampai turun ia bahkan tak mampu melihat wajah Chandra yang ada di depannya. "Si-silahkan duduk." katanya dengan kepala tertunduk malu.

"Be-bener nih?" Chandra ragu dan memastikan tidak ada sesuatu di wajahnya yang membuat Cefhi berteriak. Ia melihat cermin dari kaca lemari buku dan memeriksa pantulan dirinya yang samar-samar dengan hati-hati. "Aneh... tidak ada apa-apa padahal. Apa ini karena wajahku seram ya?"

Di samping kanan Chandra, Cefhi hanya merunduk, berpura-pura sibuk membaca buku meski pikirannya tak fokus. Wajahnya memerah dan kepalanya seolah mengeluarkan asap. "Duh... gimana nih? Tiba-tiba banget sih..." katanya dalam hati. 

Chandra mengamat-amati sekitarnya, mencari orang yang wajahnya ia kenal. Chandra duduk di barisan yang cukup depan, ia ada di baris ketiga dari sepuluh baris bangku, dengan meja melengkung yang condong ke tengah, tempat instruktur berdiri. Dengan konsep seperti, otomatis... semakin ke belakang, semakin banyak mejanya. 

Dua baris di depannya dengan kata lain, bangku paling depan, ia melihat pria tinggi berambut putih panjang yang dikuncir ke belakang dengan tombak di sampingnya sudah duduk disitu. "Di-dia kan... yang tadi itu ya?"

***

Di pintu keluar Student Hall, Fia dan Lio masih berdiri disana.

"Semuanya kelihatan sibuk sekali ya." komentar Fia. "Berapa banyak ya, yang mau bergabung ke Liquidum."

"Sudah yuk, tempat ini sudah mulai sepi." kata Lio sambil beranjak pergi. "Lagian, kita juga tak perlu susah-susah memilih kelas. Kita hanya bisa satu elemen dan kita juga akan tetap di satu kelas yang itu-itu saja."

"Iya, aku juga mau kembali ke kelas, aku takut terlambat. Pelajaran dimulai sebentar lagi kan?"

"Tenang saja, masih lima menit lagi kok." balas Lio menggampangkan. "Jalan pelan-pelan saja."

"Lima menit? Mana bisa santai-santai lagi. Aku duluan ya..." kata Fia yang berlari menuju kelasnya.

Selagi Fia berjalan dengan tergesa-gesa,

Lio berteriak. "Hei Fia, kalau kamu di kelas nanti, tolong kasih tahu apa yang dilakukan Chandra ya."

"Baik!" sahut Fia dari jauh.

Lio geleng-geleng. "Hah... si bodoh itu malah ke liquidum. Aku tak yakin, dia bisa berhasil disana."

***

Di kelas Stellar. Velizar masih bersandar lemas di ujung kelas.

"Haahhh..." Velizar menghela nafas sambil menatap keluar lewat jendela. "Hidup sudah membosankan, dengan adanya Sinus. Tapi ternyata lebih membosankan lagi tanpanya." Katanya dengan wajah datar, bersandar pada telapak tangan kanannya. "Nicholas juga tak masuk hari ini. Haahhh... Hidup ini benar-benar membosankan dan semakin membosankan."

"Selamat pagi anak-anak." seorang instruktur pria masuk ke kelas Stellar.

"Huh?" Velizar teralihkan dan memandangi guru baru tersebut, karena suaranya asing baginya. "Ohh... pengganti pak Volric ya? Semoga dia menarik. Tapi pasti tetap membosankan."

"Velizar?" tanya salah seorang anak umbra di depannya.

"Huh?" Velizar menoleh.

"Sendirian aja? Sinus mana?" tanyannya.

"..." Velizar menatapnya datar, lalu mengabaikannya dan kembali melihat ke jendela.

"Mulai hari ini aku yang akan mengajarkan kalian. Wahai, anak-anak elemen kegelapan." kata instruktur baru tersebut. "Karena Instruktur kalian sebelumnya, telah dipecat. Jadi akulah penggantinya."

"Di-dipecat!!?" separuh kelas Stellar terkejut kaget. 

.

.

.

.

.

"HOREEE !!"

"Hahaha! Aku benar-benar tak habis pikir. Instruktur kalian sebelumnya benar-benar buruk ya?" gumam instruktur pria berbadan besar, berambut belah tengah, berwarna ungu tua dan panjangnya sampai sebahu, ia mengenakan jaket kulit hitam yang panjang belakangnya sampai selutut dan lagi, senyumnya terlihat lebar. 

"Yay! Volric sudah pergi!"

"Horeee !!"

"..." Velizar diam saja di tengah sorak-sorai teman sekelasnya.

"Aku janji, aku akan menjadi instruktur yang lebih baik dari yang sebelumnya. Jadi, izinkan aku memperkenalkan diri dulu, namaku..."

***