Episode 58 - Against the Dark with Darkness


Libur 3 hari setelah turnamen telah selesai, kini kegiatan belajar berlangsung kembali. Pagi ini, para pelajar tingkat 1 diminta berkumpul di Student Hall sekali lagi, seperti saat ketika baru pertama kali belajar disini.

"Perkenalkan... aku Alexia Flamel. Wakil Kepala Sekolah, sekaligus wakil gubernur kota Vheins."

"Haa? Jadi dia wakil kepsek?"

"Loh!? Dia kan tante-tante yang menyambut kita dengan kembang api waktu pertama itu?" bisik para pelajar.

"Dia wakil kepala sekolah ternyata?!" bisik yang lainnya.

"Karena Pak Kepala Sekolah berhalangan hadir dikarenakan harus pergi ke Valencia Kingdom untuk urusan tertentu. Maka biar aku yang menggantikan Dan sekarang... dengarkan aku anak-anak!" sahut Alexia di balik podium. "Sesuai sistem, kami tidak meminta kalian mengusai semua elemen, karena jika kalian belajar semuanya tanpa ada yang difokuskan, di luar sana nanti. Kalian cuma jadi penyihir biasa-biasa saja."

Sambungnya. "Mulai sekarang. Kalian bebas memilih elemen yang kalian ingin pelajari. Kalian boleh bebas bergonta-ganti kelas untuk belajar elemen tertentu. Dan bagi kalian yang di anugrahi lebih dari satu elemen. Kalian boleh belajar secara praktek di kelas yang kalian inginkan. Namun bagi kalian yang tidak? Semata untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing elemen-pun, bukanlah hal yang buruk. Atau kalian mau fokus ke satu elemen saja? Boleh juga. Belajarlah hal yang paling kalian minati. Inilah cara kami membentuk penyihir-penyihir hebat di masa depan."

"Seperti janji pak Lasius dulu ya?" Alzen bergumam sambil menyandarkan kepalanya di tangan kanannya.

"Ini saatnya!" kata Chandra dengan menggebu-gebu. "Aku harus paham sihir penyembuhan sekarang juga!"

Sambung Alexia. "Vheins telah berdiri 101 tahun lamanya! Namun, Vheins yang dulu adalah sebuah universitas terbesar dan tertua dengan pemikiran yang benar-benar kuno. Vheins yang dulu belajar untuk hafal. Tapi kini kalian belajar untuk bisa! Untuk mengerti!" katanya dengan semangat. "Agar bisa tercapai tujuan itu... kalian harus belajar dengan rasa penasaran yang sejati. Rasa ingin tahu yang sesungguhnya! Karena-nya, kita tidak akan menekan kalian bagus dalam semua elemen. Tetapi, kuasailah hal-hal yang kalian ingin bisa! Dan pastikan... kalian benar-benar mengusainya!"

"SETUJU !!" balas para pelajar dengan berteriak keras dan serentak.

***

Di Letshera, Obsidus Mansion. Nicholas sedang berdiri menatap jendela panjang, melihat halaman belakang rumahnya. Mengingat kembali kejadian kemarin. Meski sudah harus kembali sekolah Nicholas memutuskan di rumah sedikit lebih lama lagi.

"Kau belum kembali ke Vheins?" tanya Nero.

"Sehari ini saja," balas Nicholas dengan nada jengkel tanpa menoleh. "Aku mungkin tak akan pulang lagi sebelum lulus. Jadi biarkan aku disini sebentar lagi."

Nero duduk di samping Nicholas dan mulai bertanya kembali. "Kau senang belajar disana?"

"Ini bukan soal senang atau tidak senang kan, ayah?" katanya yang masih tetap tidak menoleh. 

"Hmmph..." Nero tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Benar sekali nak." katanya sambil mengusap-usap rambut Nicholas. "Ini bukan soal senang atau tidak senang, tapi... "

Potong Nicholas. "Ini adalah tentang, jadi apa kau setelah kamu lulus sekolah nanti kan?" balas Nicholas yang masih tetap berdiri menatap ke balik jendela. "Kita sudah mengulangi pembicaraan ini sejak aku kecil."

Nero tersenyum lagi, dan diam sejenak. Lalu...

"Nicholas..." kata Nero.

"..." Nicholas tak menjawab, wajahnya terlingkat kesal... selalu kesal sejak kembali ke rumah ini.

"Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?"

"Ya ada... sikap kak Nathan kemarin, aku melihatnya. Dan aku yakin kalian berdua-pun tahu, aku mengintip kalian kemarin."

"Kami berdua tahu, kau mengintip di balik jendela tempat kau berdiri itu dari awal. Tapi kami biarkan saja."

"Ayah," Nicholas menoleh dan menatap ayahnya secara empat mata. "Apa sikap kak Nathan bisa di benarkan?"

"Semua bisa jadi benar bagi yang terkuat. Tapi yang kemarin itu. Memang, dia terlalu berlebihan."

"Lalu bagaimana dengan tugasnya? Apa aku saja?"

"Tidak, sudah ada yang mengambil tugas itu. Biar Nouva yang menanganinya."

"Lalu, Guild pak tua itu? Apa tidak akan memberontak pada kita? Guildnya tidak akan kemari melawan kita?"

"Tidak akan, tenang saja itu tidak akan terjadi. Keluarga kita dilindungi pemerintah Greenhill. Kalau mereka mencoba melawan. Kita punya hak menghabisi mereka. Kalau pak tua gemuk itu tak punya penerus, yasudah guildnya bubar."

Nicholas tersenyum sinis. "Dilindungi ya..." 

"Namun itu semua tidak cuma-cuma. Sebagai gantinya, kita juga harus melindungi mereka. Kita gunakan kegelapan untuk melawan kegelapan. Jelas kau sudah tahu itu sejak lama bukan?"

***

Di sebuah markas guild dagang di kota Letshera. Sebuah banguanan besar dan lebar berdiri disana. Dan di lantai teratasnya, tempat ketua guild itu berada.

"Dia sudah mati bos, kabarnya dia dibunuh di tempat oleh keluarga Obsidus." kata seorang asisten wanita yang menelpon lewat cincin Crystal Communicator. Cincin yang bersinar itu didekatkan ke bibirnya untuk bicara. Hampir-hampir seperti mencium cincinnya.

"Hyahahahaha! Jadi kabar itu benar!" kata sang Target yang diberikan pak tua itu, dia seorang ketua guild dagang yang adalah saingan berat si pak tua itu. Seorang pria berambut hitam belah tengah berkacamata, mengenakan baju dan celana lengan panjang dengan mantel merah yang menandakan dirinya sebagai ketua guild. "Bagus sekali! Bagus... sekali! Hyahahaha... dia pasti mau meminta keluarga Obsidus untuk membunuhku, tapi malah dia yang terbunuh hyahahahaha! Bagus! Ini berita bagus! Kita harus merayakannya sekarang! Hyahahaha!"

Pria itu membuka pintu kantor dan berteriak. "Hei! Anak-anak kita akan berpes... HGHHHH!!?" Pria itu terbelalak kaget dan langsung jatuh lemas, seluruh anak buahnya yang berada di lantai 1, telah terbaring dengan penuh darah. Terlihat luka sayat yang sangat dalam membekas di tubuh mereka. Semua orang disana, dibunuh oleh satu orang wanita yang berdiri di depannya.

Wanita itu adalah Nouva Obsidus, wanita muda nan cantik berumur 20 tahunan. Berambut hitam panjang yang dikuncir satu, dengan kemampuan Aura tipe Weapon-nya yang berbentuk Cakram berwarna ungu, yang terus berputar di kedua tangannya.

Pria itu langsung terjatuh lemas, seluruh tubuhnya gemetar dan tak bertenaga, "HI.... HIIIIIYYY!!?" saking takutnya ia bahkan tak sempat untuk marah lagi, ia hanya fokus untuk menyelamatkan diri. Otaknya hanya tersisa naluri bertahan hidup saja.

Ia begitu ketakutan dan secara tergesa-gesa mencoba melarikan diri dengan melompat dari balik jendela kantornya. Sebelum sempat, Nouva telah melompat tinggi dan melempar senjatanya hingga berhenti dan menancap di punggungnya.

"HWAAAAGGGGHHHH !!!"

Dan Nouva Obsidus melakukan itu semua dengan tersenyum santai saja. Setelah membunuh ketuanya, ia membaca beberapa lembar kertas di tangan kirinya. Kertas yang berisi daftar nama-nama orang.

Di ruangan luas ini, orang-orang bersenjata semuanya terbaring mati bertumpuk-tumpuk secara acak. Sumber cahaya seperti obor juga dipadamkan dengan sengaja untuk memanfaatkan kegelapan. Di tengah-tengah lingkungan seperti itu, Nouva naik ke lantai berikutnya dan tiba di ruangan ketua guild mereka.

"Tolong, tolong ampuni aku... aku hanya bekerja disini, aku punya ibu dan adik-adik yang butuh aku nafkahi. Tolong-tolong ampuni aku."

Mendengar itu, Nouva mengecek listnya lagi. "Pergilah, namamu tidak ada disini."

Lalu dengan merangkak secara tergesa-gesa, wanita itu pergi keluar.

"Obsidus bukanlah keluarga kriminal, kami hanya membunuh orang-orang jahat dengan cara yang sama seperti penjahat." Katanya sambil sekali lagi mengecek daftarnya.

Tubuh ketua guild ini tergetak secara tengkurap di bawah kaki Nouva, ia kemudian menendangnya untuk membalikkan posisi tubuhnya lalu bicara empat mata di depan wajahnya.

"Hei, berhentilah berpura-pura mati. Guildmu tercatat melakukan transaksi gelap dengan Arcales, dan tidak hanya itu, kalian punya rentetan kasus lain dan terbukti kalian berlindung di bawah bendera Guild Kriminal secara diam-diam."

Namun tubuh ketua guild itu tidak menjawab, ia bahkan tidak terlihat bernafas maupun bergerak.

BUGGGHH !!

Nouva meninjunya keras-keras, namun tetap tubuh ketua guild itu tak memberikan respon seperti orang hidup.

"Huh! Pintar juga." Nouva langsung menarik pisau kecil di ikat pinggangnya dan menusukkan pisau itu ke lehernya.

"UAGGHHH !!"

Bruughh!

"Kau belum benar-benar mati kan, bisa repot kalau ada yang selamat dan kembali dengan dendam." Kata Nouva sambil mencabut kembali pisaunya dan menaruhnya di ikat pinggangnya lagi. "Hah... tapi kita tidak boleh bunuh yang bukan penjahat." Katanya sambil melihat jendela dan menatap langit biru. "Apa mereka akan dendam pada kami ya?"

***

Sementara itu, di depan pintu masuk dungeon yang wujudnya seperti goa dari batu-batu putih, tempat target Nathan bersembunyi. Telah ditunggui oleh 500 orang lebih, baik yang berada di atas maupun dibawah, yang merupakan anggota kelompok klan kriminal yang menjadi target Nicholas.

"Hei keluarlah! Kalian sudah kalah!" Nathan mengancam mereka dengan backing 20 orang berjubah hitam di belakangnya, ditambah Nicholas di sisi kanannya.

Dengan saling berhadap-hadapan mereka bernegosiasi. "Apa kalian tidak punya mata? Kami ada ratusan dan kalian hanya segelintir orang saja! Mana mungkin kami menyerah! Karena jelas kamilah yang akan menang. Tidak akan ada yang berubah, sama seperti saat kalian melarikan diri beberapa hari lalu!" tegas ketuanya.

"Kuberi dua pilihan, menyerah secara cuma-cuma atau berperang sampai semuanya mati."

Ketua mereka mengangkat tangan ke atas. "Archer!" sahutnya.

Dan anak buahnya yang menggunakan busur, langsung bersiap menarik tali busurnya, sambil menunggu aba-aba berikutnya. 

Lalu salah satu anak buah Nathan melangkah maju dengan pedang yang siap dicabut dari sarungnya. Lalu seketika menghilang dan dari kanan ke kiri menebas pasukan Archer yang berdiri diatas goa tinggi itu.

Meski tumbang, panahan Archer itu terlepas dan melesat ke bawah, banyak diantaranya tidak terarah, tapi tidak sedikit juga yang meluncur ke arah Nathan.

"Yang begini, biar aku saja." kata Nicholas.

"Black Barrier !!" 

Nicholas meng-cast sihirnya. Dan Barrier hitam akan menghalangi panah-panah itu mengenai mereka.

Lalu salah seorang anak buah Nathan yang lain maju selangkah dan meng-cast sihirnya.

"Black Barrier !!"

Barrier yang empat kali lebih besar di cast untuk melindungi kelompok Nathan. Barrier itupun memiliki rupa yang sedikit berbeda, Barriernya bergelombang bagaikan air, ketimbang Barrier Nicholas yang padat bagaikan kaca.

"Cih!" melihat itu Nicholas kesal, secara tak langsung kontribusinya menjadi tidak berarti lagi.

Panah-panah itu ketika melewati Barrier itupun langsung seketika menjadi abu dan lenyap ditiup angin. Dan panah nyasar yang lain, malah jatuh mengenai anggota mereka sendiri.

Lalu setelah barrier itu hilang, anak buah Nathan yang lain maju lagi. 

"Maaf Nathan, aku tak terlalu suka pakai topeng dan jubah ini, gerah rasanya." Orang itu membuka topeng dan melepas hoodie hitamnya. "Lihat baik-baik wajahku ini, karena akulah orang terakhir yang akan kalian lihat!" katanya sambil berancang-ancang untuk meninju.

"Big Bang !!"

SYUUUUSSHH !! DUARR !!

Tinju Aura yang sangat besar di lancarkan ke depan dan langsung menghabisi sayap kiri armada musuh.

Dan anak buah Nathan selanjutnya maju selangkah lagi, mengangkat tangannya ke atas 

"Weapon Call !!"

Dan memunculkan tongkat sihir dari tangannya, 

"Dark Cloud !!"

Kemudian Awan mendung dikumpulkan di atas musuh.

"Thunder Storm !!"

Dan dari awan itu langsung menyambar ke bawah dan menghabisi banyak sekali armada mereka dalam waktu singkat. Hingga hanya tersisa kurang dari seratus orang yang cukup kuat menghadapi serangan-serangan itu.

"Nah sekarang, permainan sesungguhnya baru dimulai!" kata Nathan dengan semangat. 

***

Delapan jam kemudian, tempat itu kini bergelimang mayat-mayat dan senjata-senjata yang bergeletak di tanah tandus seperti habis perang. Perang itu berlangsung lama sekali dan perang baru selesai saat matahari sudah terbenam dan malam telah datang. Dan di lantai satu dungeon itu.

"Ti-tidak mungkin!! Ini tidak mungkin!!? 21 orang, melawan 500 orang lebih. Dan kami semua kalah tanpa ada satupun korban di pihakmu?! Ini tidak mungkin!" teriak target Nathan yang mengeluhkan kekalahannya. Ia adalah seorang ketua guild kriminal di Greenhill yang bernilai 3 juta Rez. Seorang pria berotot berambut putih yang wajah maupun badannya, penuh bekas luka sayat.

"21? Brengsek! Aku tidak dihitung!" kata Nicholas dalam hati.

"Jika reaksimu masih seterkejut itu," kata Nathan. "Berarti kau belum sempat melihat dunia yang jauh lebih luas." Katanya sambil mencengkram pipi ketua guild kriminal itu. "Kamu masih belum bisa menerima kematian dengan tenang. Dengan kata lain, kau masih amatir."

"Apa!? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan!"

Kesal Nathan sambil menarik kerah bajunya dengan kasar, kerah baju targetnya. "Sebelumnya kau telah menghabisi tiga anak buahku yang berharga. Kami datang kembali dengan personel yang paling kuat."

"Aku tak bisa percaya ini! Aku tak bisa percaya ini!! Kami punya perlengkapan dan orang-orang yang kuat! Tapi dihabisi begitu saja oleh kalian!"

"Aku beri kamu dua pilihan, kau mau bergabung menjadi anak buahku dan tetap hidup. Atau menolak dan mati di tempat ini." 

"Cuih!" Ketua guild itu meludah di depan wajah Nathan. "Aku tidak sudi, neraka lebih bagus dibanding menjadi bawahanmu."

"KURANG HAJAR !!"

Nathan langsung mengeluarkan pedang dari auranya,

dan...

CRASSSSHHHTTT !!

"Dasar brengsek!" kata Nathan dengan geram, sesudah memenggal kepalanya dengan pedang hitam. "Kau tidak tahu kalau kau ini telah begitu menyulitkan?! Hah!"

"Hosh... Hosh... Bikin kesal saja." kata Nathan dengan tersengal-sengal. "Misi selesai, kalian boleh kembali."

"Siap tuan!"

"Siap tuan!"

"Siap tuan!"

Kata mereka ber-20, secara bersamaan. Satu persatu dari mereka mengeluarkan kristal kecil berwarna biru dari sakunya dan meremukkan kristal itu dengan jari. Lalu secara instan, mereka melakukan Warp dan hilang dari tempat itu begitu saja.

Nicholas duduk diatas batu. "Dibandingkan dengan mereka, aku masih lemah, aku masih belum apa-apa." pikir Nicholas sambil mengacak-acak rambutnya. "Hwah!" katanya di bawah cahaya bulan.

***



Catatan: 

Mulai 6 Juli 2018, Spirit Weapon - Magic University hanya akan terbit di hari Jumat.