Episode 228 - Persaingan



“Diriku telah kembali,” ujar seorang lelaki dewasa bertubuh tambun dan berkepala gundul sambil melangkah masuk. Ada yang sedikit berbeda. Tampaknya, berat badannya sedikit menyusut. Kelelahan sekali sepertinya. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang lalu menarik kursi, dan duduk di hadapan meja Datu Besar Kadatuan Kedua. 

Kedua lelaki dewasa, yang diketahui sebagai sesama anggota Kekuatan Ketiga, saling pandang. Sepertinya masing-masing menghadapi permasalahan yang cukup berat. Untuk memabahas keadaan saja, mereka terlihat seolah harus mengumpulkan tenaga dalam terlebih dahulu. 

“Bagaimanakah penelusuranmu...?”

“Balaputera Ragrawira...?” keluh Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Tokoh tersebut seolah ada, namun tiada...”

Datu Besar Kadatuan Kedua tiada heran. Menelusuri jejak Balaputera Ragrawira memang ibarat menegakkan benang basah. Apakah yang ia lakukan di luar sana? Bahkan sebagai seorang Datu Besar yang telah lama menyelidiki, sungguh dirinya tiada dapat mereka-reka. 

“Waktu yang kita nanti sudah dekat...” Sang Datu Besar mengalihkan pembicaraan. 

“Kebangkitan Raja Angkara di depan mata!” Sorot mata Saudagar Senjata Malin Kumbang berapi-api.

“Dan kita memperoleh dukungan tambahan...” lanjut Sang Datu Besar. 

“Dukungan tambahan...?”

“Muridku telah kembali.” 

Di saat yang sama, seorang lelaki dewasa muda melangkah masuk ke dalam ruangan. Sungguh ia menyibak aura nan terpelajar. Siapa pun yang menyaksikan kehadiran sosok ini, maka mereka akan bertanya-tanya... siapakah dia yang demikian cemerlang pembawaannya...?

Saudagar Senjata Malin Kumbang menoleh ringan ke arah belakang...

“Brak!” Sontak ia bangkit dari kursinya. Bahkan, kursi itu terdorong sampai menghantam meja! Kedua matanya melotot, mulut menganga. 

“LINTANG TENGGARA! BANGSAT! BANGSAT! BANGSAAAAAATTT!” 

Saudagar Senjata Malin Kumbang berteriak nyaring layaknya orang kesurupan. Otaknya seolah membeku. Tak ada kata-kata lain yang dapat mengungkapkan betapa terkejut dan berangnya ia menyaksikan tokoh yang pernah menghajar, menculik, kemudian menyekap dirinya di dalam ruang gelap. Andai saja ia tak dibebaskan oleh Raja Angkara Durjana, maka tak terbayangkan penelitian seperti apa yang dilakukan terhadap tubuhnya. Lintang Tenggara terkenal sebagai ahli yang suka melakukan uji coba terhadap sesama ahli! Mengerikan! 

“BANGSAT! LINTANG TENGGARA! BANGSAT!” Saudagar Senjata Malin Kumbang kini melompat ke sebelah Datu Besar Kadatuan Kedua.

“Saudaraku, bertenanglah. Ini adalah Balaputera Lintara, anak didikku...”

“Balaputera Lintara... Lintang Tenggara... Sama saja!” 

Tak pernah terbayangkan dalam mimpi buruknya sekalipun akan bersua lagi dengan Lintang Tenggara. Saudagar Senjata Malin Kumbang sesungguhnya dapat saja mengupah ahli Kasta Emas untuk mencelakai lelaki dewasa muda itu. Akan tetapi, terpaksa ia menahan diri karena diperingatkan langsung oleh Raja Angkara Durjana agar tak menyentuh Lintang Tenggara. Demi sebuah tujuan besar Kekuatan Ketiga, terpaksa ia menahan diri. Akan tetapi, kini sosok tersebut hadir kembali di hadapannya!

“Diriku menyadari bahwa sebuah kesalahpahaman pernah terjadi di antara kalian...” Datu Besar Kadatuan Kedua berupaya menenangkan sang Saudagar Senjata. 

“Kesalahpahaman, katamu! Apakah kau tahu apa yang ia lakukan terhadap diriku!? Hah!”

“Tuan Saudagar Senjata Malin Kumbang...,” Lintang Tenggara menegur pelan, lalu menyibak senyum ramah. “Atas kesalahpahaman yang sempat terjadi di antara kita, sungguh diriku memohon maaf nan sebesar-besarnya...”

“Cih!”

“Saudaraku, bawa bertenang. Tiada akan ia mencelakai dikau.” Lagi-lagi Datu Besar Kadatuan Kedua berupaya menenangkan sang Saudagar Senjata. “Ingat tujuan kita...”

Dada Saudagar Senjata Malin Kumbang naik turun-dengan deras. Napas menderu, ia berupaya berpikir jernih. Pada akhirnya, ia duduk menenangkan diri di sebelah Datu Besar Kadatuan Kedua.

Lintang Tenggara alias Balaputera Lintara menarik kursi yang tadinya ditempati oleh Saudagar Senjata Malin Kumbang. Ia pun duduk di hadapan guru beserta tamunya, terpisahkan oleh sebuah meja persegi. 

“Diriku akan menjabarkan rencana kita.” Datu Besar Kadatuan Kedua membuka pertemuan. “Berbeda dengan rencana awal, dimana diriku akan menyelinap pergi saat Hajatan Akbar Pewaris Tahta berlangsung, nantinya diriku akan tinggal demi mengikuti susunan kegiatan sampai akhir.” 

Lintang Tenggara dan Saudagar Senjata Malin Kumbang mendengarkan dengan seksama. 

“Oleh karena itu, Saudaraku Malin Kumbang, dikau akan ‘masuk’ bersama dengan Lintara.” 

“Tidak!” sergah Saudagar Senjata Malin Kumbang tanpa pikir panjang. Kembali ia dirasuk amarah. 

“Kesampingkan permusuhan. Ingat tujuan kita...” 

“Tapi... tapi...”

“Lintara sangatlah piawai dalam merapal formasi segel. Dan lagi keberadaan kalian berdua tiada akan mengundang kecurigaan...”

Saudagar Senjata Malin Kumbang menghela napas panjang. Ia menatap dalam ke arah Lintang Tenggara. Sorot matanya masih mencerminkan kebencian, kengerian bahkan. Walau tiada mengucapkan kata iya, lelaki gundul tambun itu tiada pula berkata tidak. Petanda bahwa ia mulai melunak, dan sampai batasan tertentu... setuju. 

“Selanjutnya, diriku akan melumpuhkan penjagaan.” Saudagar Senjata Malin Kumbang mengambil alih jalannya pertemuan. 

“Adalah lebih baik bilamana Tuan Malin Kumbang yang memutus jangkar. Para penjaga adalah ahli setingkat Maha Guru,” sela Lintang Tenggara. 

“Kau meragukan kemampuanku...?” cibir sang Saudagar Senjata.

“Bukan... bukanlah demikian...” Lintang Tenggara mencoba menenangkan. 

“Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk mengurai formasi segel itu?” Saudagar Senjata Malin Kumbang mengabaikan saran Lintang Tenggara.

“Sekira lima menit...”

“Terlalu lama... lakukan dalam tiga menit!” 

Lintang Tenggara tercekat. 

“Setibanya di dalam nanti, aku akan melangkah di depan. Kau berjaga di belakangku!” 

Lintang Tenggara menghela napas. 

“Bilamana bertemu dengan Raja Angkara, kau jangan berujar barang sepatah kata pun. Biarkan aku sendiri yang membujuknya!” 

Lintang Tenggara hendak menanggapi. “Akan tetapi...” 

“Tak ada tapi tapi! Kau lakukan semua perintahku!” Saudagar Senjata Malin Kumbang berada di atas angin. 

Lintang Tenggara membungkukkan tubuh perlahan ke arah samping, seolah sedang mengambil sesuatu dari bawah meja. Tangan kanannya lalu mengangkat perlahan. Kemudian, dengan santai ia letakkan sebongkah batu setengah transparan nan berkilau di atas meja. Mineral langka yang berukuran sekira dua kepal genggaman tangan orang dewasa ini, ia dapatkan dari Bintang Tenggara melalui tindakan pemerasan beberapa waktu lalu. Seberkas senyuman kemudian menghias di wajah. 

“Gubrak!” 

Saudagar Senjata Malin Kumbang jatuh terjengkang dari kursinya. Betapa ia mengetahui betul bahwa Intan Abadi dapat dijadikan sebagai borgol terhadap ahli dengan unsur kesaktian usia. Bahkan, adalah Intan Abadi yang pernah Lintang Tenggara gunakan dalam membelenggu dirinya! 

“Lintara!” sergah Datu Besar Kadatuan Kedua memarahi anak didiknya itu.


===


“Segel Syailendra: Tombak Svarnadwipa!” 

Seorang lelaki dewasa merapal formasi segel. Sebuah tombak raksasa mengemuka. Panjang dan besarnya berkali-kali tubuh orang dewasa. 

“Sepertinya tiada akan mudah bagi diriku mencabut nyawa Balaputera Gara...” Datu Tua Kadatuan Kesatu mengangkat tombak raksasa nan perkasa.

Bintang Tenggara masih terkesima. Dirinya baru saja terlepas dari mara bahaya. Ia pun menyadari bahwa telapak tangan raksasa yang melindungi, adalah telapak tangan yang menghantam tubuhnya, lalu menyeret ke dalam sumur. Baru pula ia sadari bahwa sesunggguhnya telapak tangan tersebut terbentuk dari rangkaian ribuan formasi segel berwujud belati berukuran kecil-kecil. Terlebih lagi, mengapakah aura yang dirasa demikian berbeda? Kala itu demikian kelam, akan tetapi saat ini sangatlah hangat dan lembut. 

Terkait formasi segel berwujud senjata, Bintang Tenggara pernah menyaksikan tiga remaja perwakilan dari Kadatuan Kesatu saat memamerkan kebolehan di hadapan Yang Mulia Sri Paduka Dapunta Hyang serta segenap khalayak Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Kala itu mereka merapal formasi segel berwujud pedang, parang dan tombak. Walau, formasi segel yang dirapal oleh Indravarma, Vikrama dan Vikatama tiadalah sebesar tombak yang mengangkasa atau sebanyak belati kecil yang kini melayang mengelilingi tubuhnya. Sungguh ahli-ahli dari Kadatuan Kesatu demikian digdaya! 

Nenek Sukma mendarat tepat di sisi Bintang Tenggara. Ia menatap, namun tiada berkata-kata. Kemudian, sorot matanya terpusat tinggi ke angkasa.

“Sukma, serahkan nyawa anak itu, dan aku akan membiarkan engkau hidup dengan damai di tempat ini...” Datu Besar Kadatuan Kesatu membuka penawaran. 

“Balaputera Tarukma, kakak kandungku... Gelap mata sungguh dikau,” Balaputera Sukma berujar getir. 

“Gelap mata? Kau yang gelap mata!” balas Datu Tua Kadatuan Kesatu.

“Suamiku dikau tikam dari belakang. Diriku kau kurung di dalam dimensi ruang ini. Tidak puas sampai di situ, kini kau hendak membunuh seorang anak tiada berdosa!” 

Di kala berujar, kegetiran nan tiada terperi, terpampang jelas dari wajah perempuan setengah baya itu. Benaknya berkelebat pada ingatan Perang Jagat ratusan tahun silam. Dimulai dari kala Yang Mulia Sri Paduka Dapunta Hyang bertitah kepada para bangsawan dari sembilan Kadatuan untuk memindahkan rakyat ke dalam sebuah dunia paralel. 

Kemudian ingatan berlanjut kepada saat Rimba Candi sebagai gerbang antar dunia baru saja rampung, dimana kaum siluman sudah tiba di hadapan mata. Mereka datang menerjang bak air bah yang melibas deras, padahal baru sebagian kecil rakyat yang berhasil diungsikan. Di kala itulah, Kadatuan terbesar bergerak. Balaputera Dharanindra sebagai Sang Datu Besar, memimpin segenap anggota keluarga Kadatuan Kesembilan dengan gagah berani membentengi Rimba Candi dari gempuran kaum siluman.

Akan tetapi, di balik kejadian tersebut, Balaputera Tarukma yang saat itu menjabat sebagai Datu Besar Kadatuan Kesatu, bersiasat. Diam-diam seorang diri ia keluar dari Ibukota Minangga Tamwan. Dari belakang, ia merapal segel terhadap Balaputera Dharanindra dan Balaputera Sukma yang lengah karena sedang menghadang gelombang kaum siluman. Kehilangan dua pilar tempur, neraca peperangan menjadi berat sebelah. Kadatuan Kesembilan yang awalnya berperan meredam serangan, malah dilibas habis oleh kaum siluman! 

“Dikau adalah kakak kandungku. Kita terlahir dari rahim yang sama. Ia adalah cucuku, dan demikian adalah cucumu jua. Kita semua memiliki hubungan darah...” lanjut Balaputera Sukma

“Simpan kata-kata kosongmu! Hubungan darah antara kau dan aku telah terputus di kala engkau memutuskan untuk bergabung ke dalam Kadatuan Kesembilan!”

“Dan atas alasan itu dikau merasa berhak mengambil nyawanya!? Demi menyembunyikan kejahatan di masa lalu!?” 

“Kejahatan masa lalu!? Sejak awal aku telah menolak pernikahanmu dengan Dharanindra!” 

Bintang Tenggara kini terperangah. Apakah yang kedua tokoh ini bicarakan? Diketahui bahwa Balaputera Dharanindra adalah nama pahlawan besar dan kakek kandungnya. Suami...? Mungkinkah Nenek Sukma ini adalah istri Balaputera Dharanindra? Nenek kandung...?

“Atas alasan yang tak dapat dicerna akal!” sergah Balaputera Sukma. 

“Kala itu Kadatuan Kesembilan terlalu kuat! Keberadaan kalian merusak tatanan dan keseimbangan di antara sembilan Kadatuan di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” 

“Merusak tatanan!? Keseimbangan!? Apakah dikau mabuk bunga kecubung!?” Kini wajah Balaputera Sukma terpana. Tiada dapat ia mencerna jalan pemikiran kakak kandungnya sendiri. 

“Aku mendapat firasat bahwa Dharanindra akan memberontak dan mengambil alih tahta Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Ia tak sabar menanti akan hari dimana Hajatan Akbar Pewaris Tahta digelar!” 

“Omong kosong! Itu adalah tuduhan tak berdasar!” 

“Aku memiliki bukti-bukti... Adalah kewajibanku sebagai Datu Besar Kadatuan kesatu menjaga keseimbangan di dalam Kemaharajaan Chaya Gemilang! Saat kesempatan terbuka, aku bertindak!” 

Meski sepatah-sepatah, Bintang Tenggara mulai dapat mencerna. Kedua tokoh ini sedang membicarakan kejadian di masa lalu. Persisnya, di kala musibah menimpa Kedatuan Kesembilan. 

“Lalu, mengapa dikau membiarkan diriku hidup!? Mengapa hanya mengurung diriku di tempat ini!?” 

“Aku masih berharap agar engkau pulang ke tempatmu. Kembali ke Kadatuan Kesatu...”

“Bintang Tenggara...” Nenek Sukma menegur. “Balaputera Gara...”

“Nenek Sukma...?” Bintang Tenggara sebentar lagi larut dalam emosi. Siapa menyangka ia masih memiliki seorang nenek... 

Perempuan setengah baya itu sepertinya telah mendapatkan kepastian atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantui selama ratusan tahun terakhir. Mengapakah kakak kandungnya sampai berbuat demikian keji? Atas alasan apa ia menjatuhkan Kadatuan Kesembilan? Mengapa hanya dirinya yang diasingkan...? 

“Ia telah kehilangan akal sehat...,” gumam perempuan tua itu. 

Dengan kesimpulan tersebut, walaupun dirinya menjelaskan kepada Balaputera Tarukma bahwa tiada apa pun yang telah disampaikan kepada Balaputera Gara, maka kata-kata tak akan digubris. Lelaki setengah baya itu pastilah tetap akan berupaya membunuh anak remaja tersebut. Sungguh perseteruan di dalam dunia keahlian dapat membuat seorang ahli menjadi gelap mata. Sampai-sampai, hubungan darah pun tiada lagi dipertimbangkan. 

Balaputera Sukma mulai memahami, bahwa sesungguhnya perseteruan antara Balaputera Tarukma dan Balaputera Dharanindra bukanlah perkara politik atau tugas menjaga keseimbangan dalam negeri Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Bukan pula persoalaan pengambialihan tampuk kekuasaan. Hal-hal tersebut hanyalah kedok semata.  

Yang menjadi alasan utama, adalah persaingan tingkat kekuatan antara sesama ahli! Balaputera Tarukma dan Balaputera Dharanindra berada dalam generasi yang sama. Balaputera Tarukma tak rela hidup di bawah bayang-bayang keperkasaan Balaputera Dharanindra!

Memantapkan hati, Balaputera Sukma lalu meletakkan tangan di depan ulu hati. Perlahan, ia pun menarik lepas sebuah formasi segel. Aura tenaga dalam serta-merta menyibak tiada dapat terbendung! 

Bintang Tenggara menyaksikan kemiripan formasi segel serta gerakan, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ayahanda Sulung Rudra saat Hajatan Akbar Pewaris Tahta. Nenek Sukma sedang melepas formasi segel yang tadinya dirapal terhadap diri sendiri! 

“Mustahil!” Datu Tua Kadatuan Kesatu terpana. Tiada pernah ia memperkirakan bahwa Balaputera Sukma, meski terkurung di dalam dimensi ruang ini, terus berlatih dalam meningkatkan keahlian. “Kasta Bumi!” 

“Sebagai seorang ahli yang mendalami persilatan dan kesaktian, apakah keunggulanmu...?” tetiba Nenek Sukma berujar ringan ke arah Bintang Tenggara. 

“Melarikan diri,” tanggap Bintang Tenggara cepat. Tak ada seberkas pun titik keraguan yang terpancar dari sikap dan kata-katanya.