Episode 227 - Nenek Sukma



Seorang lelaki dewasa muda melangkah santai. Pakaian yang ia kenakan menunjukkan cita rasa nan tinggi. Selain bersih dan tertata rapi, modelnya pun menunjukkan keseriusan dalam memilih. Pada atasan merupakan kemeja lengan panjang, yang menjuntai mirip jubah sampai ke batas betis, lalu diikuti celana panjang tidak ketat, tidak pula longgar. Sungguh serasi dengan warna biru semuda langit angkasa raya. 

Lagaknya ibarat seorang pangeran tampan yang melangkah di antara kalangan rakyat jelata. Sekali menjentikkan jari, maka segala keinginannya akan segera terpenuhi tanpa sedikit pun ada yang berani menyanggah, apalagi menolak. Pada kenyataannya, memanglah benar bahwa dirinya datang dari kalangan bangsawan, yaitu Wangsa Syailendra. 

Gaya berpakaian dan lagaknya itu, kemudian dilengkapi dengan aksesoris yang tiada sembarang. Gelang manik-manik hitam di pergelangan lengan kiri, dan pada tangan kanan seutas tali kekang. Tali kekang ini menghubungkan kepada seekor binatang siluman Kerbau Tanduk Perak yang tentunya berada pada Kasta Perak pula. 

Suasana hati lelaki dewasa muda ini secerah cuaca di pagi itu. 

Di hadapan, sembilan candi besar menjulang dan membentang. Setiap satu candi terpisah jarak sekira satu kilometer. Suasana di wilayah Rimba Candi hari itu pun terlihat sibuk seperti biasa. Antrian nan panjang, bahkan terlihat sampai mengular, dimana ratusan jumlah ahli yang berdiri sabar menanti giliran masuk. Sebagian besar pastilah utusan dagang dan para saudagar, yang membawa peti-peti kemas berbagai ukuran. Sebagian lagi berasal dari semerata kalangan, mulai dari pelajar, pendekar, sampai bangsawan, tua dan muda usia. 

“Nona Ahli, dikau memerlukan Sijil Syailendra untuk masuk ke dalam wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” Tetiba terdengar seorang prajurit berujar santun. 

“Apakah gerangan itu…?” Si gadis belia terlihat bingung.  

“Sijil Syailendra merupakan surat izin yang hanya diterbitkan oleh keluarga-keluarga bangsawan yang dikenal sebagai Wangsa Syailendra. Ia merupakan syarat utama untuk memasuki Ibukota Minangga Tamwan. Di kesembilan candi ini, terdapat seorang Juru Kunci yang dapat memberikan sijil tersebut.” 

Prajurit tersebut terlihat teramat sabar menjabarkan. Kemungkinan besar karena ia telah jera berkata-kata tak sopan. Beberapa waktu lalu, ia hampir saja dibuat lumpuh karena tempurung lututnya retak akibat dipaksa berlutut. Kala itu, ia menyinggung perasaan seorang perempuan dewasa yang tak dikenal. Tambahan lagi, gadis belia ini berwajah demikian ayu. Dari jubah ungu yang ia kenakan, dapat diperkirakan bahwa ia memiliki sepasang bawaan yang tiada bisa diremehkan. Ingin rasanya menggeledah isi jubah. 

“Panggil Juru Kunci dan berikan padaku Sijil Syailendra...,” pinta gadis ayu berjubah ungu dengan nada datar. 

“Ehm… tak semudah itu…” Sang prajurit kehabisan kata-kata. Dalam hati ia berpikir, tidakkah gadis belia ini pernah mendengar tentang Kemaharajaan Cahaya Gemilang…? 

“Hei… gadis kabut…” 

Embun Kahyangan menoleh pelan. Ia mendapati kehadiran seorang lelaki dewasa muda yang berdiri mengulum senyum, sambil membawa seekor kerbau. Sungguh mengingatkan pada kisah-kisah dongeng, dimana seorang bijak yang membawa sapi kemana-mana, dan menyajikan mukjizat kepada sesiapa saja yang membutuhkan. 

“Lintang Tenggara…,” gumam Embun Kahyangan tiada terlalu peduli. 

“Apakah yang dikau lakukan di tempat ini? Apakah dikau hendak mengunjungi Kemaharajaan Cahaya Gemilang?” 

“Menjalankan tugas. Iya.” 

“Oh…? Tugas…? Seperti saat itu di Pulau Dewa…?” Lintang Tenggara mengingat betapa Embun Kahyangan pernah menggagalkan rencana dan upayanya menculik Bintang Tenggara. 

“Demikianlah.” 

“Suasana hatiku hari ini sedang cerah. Maka, walau dikau pernah berbuat buruk terhadap diriku, aku akan membantu.” 

“Membantu…?” 

“Wahai, prajurit,” ujar Lintang Tenggara. “Sampaikan kepada Juru Kunci Kadatuan Kedua agar mengizinkan gadis ini masuk.” Di saat yang sama, lelaki dewasa muda itu mengeluarkan sebentuk lencana keemasan dengan ukiran berkas cahaya.

“Baik, Yang Mulia!” Sigap, prajurit itu segera menyadari bahwa lelaki dewasa muda bergaya dan membawa kerbau itu adalah salah seorang bangsawan Wangsa Syailendra. 

“Terima kasih,” ucap Embun Kahyangan cepat. 

Lintang Tenggara mengibaskan telapak tangan, mencerminkan bahwa apa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang terlalu besar. Biasa-biasa saja. “Lain waktu, bilamana kita berpapasan jalan, bersikaplah sedikit lebih ra…” 

Lidah Lintang Tenggara tercekat. Kelu rasanya. Betapa cepatnya Embun Kahyangan pergi menghilang dari hadapannya. “…mah.” 

 “Apakah Yang Mulia berniat pulang menuju Kemaharajaan…?” Prajurit lain yang berada di dekat Lintang Tenggara hendak memastikan, agar segera dapat mereka membuka jalan.

“Benar. Akan tetapi, tidak dari candi ini.” Lelaki dewasa muda bersama dengan kerbaunya pun meneruskan langkah.  

Tiada perbedaan pada candi kesembilan. Tiada seorang pun yang mengantri di depannya. Dengan kata lain, walaupun keadaan di Kadatuan Kesembilan sudah membaik, sang Juru Kunci di candi tersebut tak memberikan Sijil Syailendra kepada sesiapa pun. Sungguh pelik. 

Lintang Tenggara melangkah masuk. Di dalam, seorang lelaki tua sudah membungkukkan tubuh sebagai tindakan menyambut salah seorang bangsawan Wangsa Syailendra dari Kadatuan Kesembilan. Berbeda dengan kala kedatangan Bintang Tenggara dimana ia menangis tersedu, kali ini wajahnya terlihat demikian bahagia. Lagi-lagi, aura yang menyibak dari Juru Kunci Kadatuan Kesembilan itu demikian berbeda. 

Lintang Tenggara membungkukkan tubuh sebagai upaya membalas penghormatan yang diberikan kepadanya. “Wahai Kakek Juru Kunci, sudah sekian lama waktu tiada kita bersua.” 

Si kakek tua hanya membalas dengan senyuman. Diketahui, bahwa ia merupakan tuna wicara. 

Lintang Tenggara lalu mengeluarkan dua kendi arak Lapen Tujuh Malam, sebuah gentong yang berisi binatang siluman Banaspati. Terakhir, ia menyodorkan binatang siluman Kerbau Tanduk Perak yang masih hidup. 

“Arak ini dikenal sebagai Lapen Tujuh Malam. Kebanyakan manusia akan menemui ajal bilamana meminumnya.” 

Si kakek tua menerima kedua kendi arak. 

“Akan tetapi, bila hanya sekedar arak, maka tiada akan mencukupi,” lanjut Lintang Tenggara. “Arak akan semakin terasa lebih nikmat bila ditemani dengan daging Kerbau Tanduk Perak segar yang dipanggang di atas api yang berasal dari tubuh Banaspati.”


“Hm… Ibukota Minangga Tamwan. Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” 

Lintang Tenggara telah tiba di Kedukan Bukit. Ia tiada menemani sang Juru Kunci menenggak arak dan menikmati daging panggang. Bahkan bagi dirinya, arak Lapen Tujuh Malam adalah sangat berat dan daging Kerbau Tanduk Perak demikian alot.

Lelaki dewasa muda itu menghirup napas panjang. Kepalanya mendongak ke atas melintasi cakrawala. Kenangan ratusan tahun lalu berputar-putar di dalam benak. Ketika diburu sebagai Petaka Perguruan, ia melarikan diri ke Partai Iblis. Merasa bosan, ia kemudian menyelidiki tentang jati diri sang ayahanda. Penelusurannya mengarah kepada Wangsa Syailendra dari trah Balaputera. 

Yang tak banyak diketahui, bahwa pada rentang waktu di antara peristiwa Petaka Perguruan dan kunjungan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, Lintang Tenggara sempat bertemu muka dengan sang ayahanda. Bencana Segel Mustika pun terjadi, dimana mustika tenaga dalamnya disegel dengan semena-mena sehingga tiada dapat beranjak tingkat. Beratus-ratus tahun lamanya waktu hanya terpaut pada Kasta Perak Tingkat 1, dan kini pun memiliki waktu sekira duapuluh tahun untuk bertahan hidup. 

Kala itu, kejadian penyegelan mustika tenaga dalam menjadi alasan utama bagi Lintang Tenggara mendatangi Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Ia hendak mempelajari cara melepaskan segel tersebut. Kendatipun, sampai saat ini usaha tersebut belum kunjung membuahkan hasil. 

Lintang Tenggara melintas di hadapan Kadatuan Kesembilan. Ia hanya berdiri mengamati. Keadaan di Kadatuan itu sudah berbeda dari ingatannya. Mengapa kini lebih bersih tertata? Mengapa terdapat demikian banyak prajurit berjaga? Mengapa terlihat banyak pelayan dan saudagar hilir dan mudik? Apakah yang terjadi pada Kadatuan nan miskin dan lemah itu?

Lintang Tenggara meneruskan langkah. Tak lama, ia tiba di depan gerbang sebuah perguruan. Bertolak belakang dengan Kadatuan Kesembilan yang ramai, mengapakah Perguruan Svarnadwipa terlihat seolah sunyi dan sepi tiada berpenghuni?

Langkah kaki membawa Lintang Tenggara memasuki wilayah perguruan. Ia berhenti di depan sebuah tugu yang memampangkan moto Perguruan Svarnadwipa. ‘Ilmu Alat Pengabdian’.

“Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman atas segala sesuatu yang berlangsung di alam ini,” gumam Lintang Tenggara. “Aku kurang setuju bilamana ilmu hanya dibatasi sebagai alat pengabdian. Ilmu memiliki tujuan yang jauh lebih besar.” Ia pun melengos pergi. 

“Eh!” Tetiba Lintang Tenggara menghentikan langkah. Ia mengamati urutan nama-nama pada sebuah tugu yang lain lagi. Pada urutan pertama, terukir nama ‘Balaputera Gara’, lalu nama ‘Balaputera Lintara’ pada urutan kedua. 

“Apa ini!?” 

Lintang Tenggara segera merapal formasi segel untuk membuka dimensi ruang berlatih pada Tugu Ampera Barat. Ia pun melompat masuk. Selang beberapa waktu, tak terlalu lama, urutan nama di permukaan tugu berubah lagi. Balaputera Lintara naik ke urutan pertama, dan Balaputera Gara di urutan kedua. 

“Nah… demikian adalah sepantasnya.” Lelaki dewasa muda itu terlihat puas menempatkan dirinya kembali di urutan teratas dan Bintang Tenggara persis di bawahnya. “Pandai-pandai saja tugu ini berkelakar dengan memindahkan namaku.”

Keadaan nan sepi di Perguruan Svarnadwipa membuat Lintang Tenggara bebas bergerak. Akan tetapi, tetiba ia menghentikan langkah. Di hadapan, sejumlah ahli setingkat Maha Guru bersiaga di sebuah halaman. Beberapa dari mereka sedang memperbaiki jalinan rantai putus yang menjangkar sebongkah batu nan melayang.  

“Cih!” Lintang Tenggara mendecakkan lidah. Tatap matanya tajam menatap sumur nan tersegel. Hatinya yang sepanjang hari ini dipenuhi dengan suka cita, kini berubah penuh amarah. Ia pun memutar langkah. 


===


“Kamadhatu… Rupadhatu… Arupadhatu….” gumam Bintang Tenggara pelan. 

Tiga pekan sudah waktu berlalu dimana dirinya terkurung di dalam dimensi ruang tersebut. Tiada Komodo Nagaradja, tiada Ginseng Perkasa, tiada Dewi Anjani yang dapat dipanggil menemani. Satu-satunya teman yang ia miliki adalah seorang nenek tua bernama Balaputera Sukma. Tiada juga bisa dianggap sebagai seorang teman, karena jarang sekali nenek tua itu bertutur kata.

Terkait nama, sudah dapat dipastikan bahwa Balaputera Sukma berasal dari Kadatuan Kesatu. Apa yang ia lakukan menyendiri di dalam dimensi ruang ini? Sejak kapan? Atas alasan apa? Tak satu pun pertanyaan yang sempat diajukan Bintang Tenggara digubris oleh sang nenek. 

Kendatipun demikian, Bintang Tenggara merasa bahwa ketiga kata yang diucapkan oleh sang nenek sebelumnya, memiliki keterkaitan dengan gambar pada halaman-halaman kertas lusuh. Sepekan belakangan ini ia mencoba menafsir apa yang dimaksud, walau belum kunjung membuahkan hasil. 

“Kamadhatu merupakan alam bawah dimana dunia hasrat dan hawa nafsu berada.” Anak remaja itu memutar otak mengingat kembali kata-kata si nenek. “Rupadhatu adalah alam antara atau tengah dimana hasrat dan nafsu dilepaskan, dan Arupadhatu adalah alam atas tempat para dewa…”

Bintang Tenggara mulai kehabisan akal. 

“Kamadhatu diwakili oleh 160 bingkai ukiran yang terdapat pada kaki bangunan, dan melukiskan kisah hukum sebab akibat.”

Bintang Tenggara menoleh, dan mendapati bahwa Nenek Sukma menatap dirinya. 

“Rupadhatu terdiri dari empat lorong penghubung antara tingkat satu sampai dengan tingkat empat. 1.212 bingkai ukiran dan 432 patung.” 

Sontak, Bintang Tenggara mencermati halaman-halaman kertas lusuh di hadapannya. Ia mulai menemukan titik terang dari kata-kata sang nenek. 

“Arupadhatu merupakan teras bundar bertingkat tiga. Pada setiap teras terdapat, 32, 24 dan 16 stupa kecil. Sebuah stupa induk bersemayam pada tingkat tertinggi.”

Bintang Tenggara memperoleh petunjuk berharga. Jadi, halaman-halaman ini terbagi dalam tiga bagian, batinnya. Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu sesungguhnya mewakili undakan bertingkat. Anak remaja itu mulai memilah halaman-halam ke dalam tiga bagian. Saking seringnya menatap lembar-lembar nan lusuh, ia sudah hampir hapal setiap gambar yang ada. 

“Sepertinya kita kedatangan tamu…” Si nenek bergumam pelan sambil menatap tinggi ke angkasa.  

Bintang Tenggara mengikuti arah pandangan Nenek Sukma. Di atas langit, tetiba muncul titik hitam kelam yang diselimuti percikan-percikan kilat. Ukurannya kecil, lalu perlahan membesar, dan semakin membesar. Di saat telah membuka maksimal, terlihat sesosok tubuh melangkah keluar. Aura tenaga dalam yang membaur dengan hawa membunuh, menyibak kental. 

Merasakan tekanan yang demikian berat, Bintang Tenggara segera memungut dan menyimpan lembaran-lembaran kertas. Padahal, sedikit saja lagi dapat ia merampungkan teka-teki dari halaman-halaman lusuh itu.

Seorang lelaki setengah baya dengan jubah berwarna abu-abu yang berkibar dimainkan angin, melangkah keluar dari lorong dimensi ruang. Bintang Tenggara cukup mengenali sosok tersebut. Beliau pernah berkunjung ke Kadatuan Kesembilan saat mengundang dirinya dan Wara untuk mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa. Ia adalah sang Datu Tua dari Kadatuan Kesatu, seorang lelaki setengah baya yang merupakan mantan Pimpinan Perguruan Svarnadwipa. Biasanya, ia terlihat ramah dan berwibawa. Akan tetapi, mengapakah kali ini raut wajahnya terlihat demikian… bengis!? 

Menyambut kedatangan tokoh tersebut, Nenek Sukma ringan mengudara. Tatapan matanya menyorot tajam, seolah enggan berkedip. 

Dua ahli kini melayang saling berhadapan, terpisah jarak sekira seratus meter. 

“Bahkan dikau memerlukan waktu selama tiga pekan untuk tiba di tempat ini…” Nenek Sukma mencibir. “Bagaimanakah kabar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?”

“Sukma, kedatanganku bukanlah demi berbasa-basi.”

“Oh…? Setelah ratusan tahun kita tiada bersua, dikau bahkan tiada hendak bertukar kabar…?” Nenek Sukma kini terlihat senang sekali bertukar kata-kata. Walau, dari nada suaranya, terdengar kegetiran nan mendalam.

“Sangat disayangkan bahwa kalian telah bertemu muka. Katakan apa saja yang telah kau sampaikan kepadanya!” 

“Kepada anak remaja nan tersasar itu…? Sungguh pelik. Kau datang hendak menjemput seorang anak biasa… seseorang yang bahkan bukan merupakan keturunan Wangsa Syailendra…?” 

Bintang Tenggara mencoba menyimak pertukaran kata-kata di antara kedua ahli yang melayang tinggi, walau hanya sepatah-sepatah karena terpaut jarak. Dapat sedikit mendengarkan pun merupakan sebuah keberuntungan karena angin bertiup ke arahnya. Kiranya sedang terjadi kesalahpahaman. Saat ditanya oleh Nenek Sukma, dirinya memang mengungkapkan diri sebagai Bintang Tenggara, bukan Balaputera Gara. Nama Balaputera Gara masih terasa asing. 

Oleh karena itu, mungkin Nenek Sukma tiada menyadari bahwa dirinya adalah juga bangsawan dari Wangsa Syailendra.

“Cih! Jangan bersandiwara di hadapanku!” bentak sang Datu Tua dari Kadatuan Kesatu. Raut wajah lelaki setengah baya itu terlihat semakin bengis. Hawa membunuh menekan ke segala penjuru. Bahkan, keadaan ini membuat Bintang Tenggara mulai waspada. 

“Oh…? Sandiwara…? Bukankah dikau yang lebih piawai dalam bersandiwara…?” Nada suara Nenek Sukma semakin mencibir.

“Apa saja yang telah kau ungkapkan kepada Balaputera Gara!?” 

“Balaputra Ga… ra…?” Sontak Nenek Sukma melontar pandang ke arah anak remaja yang terlihat tiada berdosa, sambil mencoba mencuri dengar pembicaraan. Tatapan mata perempuan tua itu menusuk, lalu berubah teduh. 

Di saat itulah, walau hanya sepintas, Bintang Tenggara menyadari seberkas kemiripan antara wajah Nenek Sukma dengan… Ibunda Tengah Samara!

“Putra dari… Rudra…? Samara…? Ataukah Ragrawira…?” Bibir perempuan tua itu bergetar. Sorot matanya menunjukkan ketidakpercayaan, di saat yang sama menyibak kehangatan. 

“Hmph…” dengus Datu Tua dari Kadatuan Kesatu. “Kau memaksa aku mengambil keputusan sulit. Akan tetapi, daripada menanggung risiko, maka aku hanya akan mengambil tubuh tanpa nyawa!” 

Seketika itu juga, Datu Tua Kadatuan Kesatu menghentakkan tenaga dalam ke arah Bintang Tenggara! Terhadap ahli Kasta Perunggu, hentakan tenaga dalam ahli Kasta Emas dapat mengakibatkan kematian. Selama ini, Bintang Tenggara beruntung saja dapat selamat dari hentakan-hentakan tenaga dalam oleh ahli Kasta Emas. Akan tetapi, di hadapan ahli Kasta Bumi, maka ia ibarat nyamuk kecil nan lemah yang menunggu tamparan tangan manusia dewasa! 

“Segel Syailendra: Belati Svarnadwipa!” 

Ratusan, bahkan mungkin ribuan, formasi segel yang berwujud belati-belati kecil beterbangan dan melesat deras ke arah Bintang Tenggara. Kecepatannya sungguh sulit dicerna. Bahkan anak remaja itu, yang terbiasa bertarung memanfaatkan kecepatan gerak, tiada sempat berkutik! 

Belati-belati tersebut kemudian merangkai dan mengambil bentuk mirip dengan… telapak tangan raksasa, yang kemudian membungkus tubuh Bintang Tenggara. Nenek Sukma berupaya melindungi anak remaja tersebut dari hentakan tenaga dalam yang datang dari Datu Tua Kadatuan Kesatu!