Episode 225 - Tunas


“Kau… putra pertama Mayang Tenggara… Apa yang kau lakukan di tempat ini…!?” 

Seorang lelaki dewasa menyergah dari posisinya yang terbang tinggi di angkasa. Udara pegunungan nan sejuk mengibaskan pakaian yang ia kenakan. Bentuk tubuhnya sedang, tidaklah besar dan tinggi, serta kulit tubuhnya terlihat demikian mulus. Wajahnya sangat tampan, namun walau mengesankan sifat yang ramah lagi sabar, ia sedang terlihat dongkol. 

“Oh…? Paman Cecep…” 

Lelaki dewasa itu mengangkat sebelah alis, lalu perlahan melayang turun. 

“Hm… maksudku… salam hormat wahai Yang Mulia Raja Bangkong IV, sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu.” 

“Kau belum menjawab pertanyaanku…” Raja Bangkong IV telah tiba di hadapan lelaki dewasa muda itu.

“Lintang Tenggara memohon izin untuk berburu seekor Kerbau Tanduk Perak di wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu.”

“Tidak diperkenankan! Segera engkau angkat kaki dari wilayah Gunung Perahu!”

“Wahai Yang Mulia… mohon maaf. Akan tetapi, mengapakah Yang Mulia Raja Bangkong IV kurang bersahabat seperti ini…?” Lintang Tenggara terlihat sendu. 

“Kau tahu alasannya!” 

“Sungguh diriku tak habis pikir…” 

“Cih! Kau adalah anggota Partai Iblis!” 

“Akan tetapi, kedatangan diriku demi keperluan pribadi semata.”

“Jangan berpura-pura bodoh! Keberadaan dirimu di wilayah Gunung Perahu, cepat atau lambat, akan mengundang kedatangan ibundamu, Mayang Tenggara.” Raja Bangkong IV menggerutu. “Kepalaku pening setiap kali ibundamu datang bertandang!” 

“Yang Mulia Raja Bangkong IV…” 

“Jangan memaksaku berlaku kasar. Kemampuanmu jauh dari pantas untuk mengimbangi diriku!” 


“Paman Cecep…” Lintang Tenggara menyadari betul bahwa tokoh di hadapannya adalah ahli digdaya yang berada pada Kasta Bumi. Walau dirinya mampu mengimbangi, bahkan membungkam ahli Kasta Emas, tiada mungkin ia dapat menggerakkan barang sejari pun bilamana berhadapan dengan ahli sekelas Raja Bangkong IV. 

“Sudahlah! Segera turun dari gunung ini! Prajuritku nanti akan mengantarkan seekor Kerbau Tanduk Perak sesuai kebutuhanmu.”

Walhasil, singkat kata dan singkat ceritera, Lintang Tenggara menuruni lereng Gunung Perahu. Tak lama menanti, segera ia mendapati kedatangan seorang remaja bertubuh besar yang menggiring seekor binatang siluman kerbau. 

“Namaku Asep. Atas perintah Yang Mulia Raja Bangkong IV, diriku datang membawakan seekor Kerbau Tanduk Perak teruntuk Tuan Lintang Tenggara.” 

“Terima kasih, Asep. Sampaikan pula sebesar-besarnya ungkapan terima kasihku kepada Yang Mulia Raja Bangkong IV.” 

Lintang Tenggara tersenyum ramah. Ia menerima tali kekang binatang bertubuh besar itu. Sungguh ia bersyukur, karena menangkap Kerbau Tanduk Perak liar tidaklah mudah dan tentu akan membutuhkan waktu. Bila pun dapat ditangkap hidup-hidup sesuai kebutuhannya, maka kondisi tubuh binatang siluman liar itu kemungkinan akan babak belur. Di lain sisi, binatang siluman yang ia peroleh ini sudah cukup jinak, kemungkinan memang diternak oleh Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Kondisinya tubuhnya pun sangat baik, hampir sempurna.

“Tuan Lintang Tenggara...,” Asep terlihat ragu. “Apakah Tuan memiliki kabar berita perihal Bintang Tenggara? Di manakah ia berada saat ini? Apakah ia baik-baik saja?”

Lintang Tenggara yang baru hendak beranjak pergi, tetiba menghentikan langkah. Ia mengamati lawan bicanya itu dengan seksama. “Oh, Bintang Tenggara…?”

“Benar. Ia adalah sahabatku…” Asep terlihat demikian polos. 

“Hmmphhh…” Lintang Tenggara menghela napas panjang. Wajahnya berubah sendu. Perlahan, ia meletakkan tangan kanan di pundak remaja itu. “Sebaiknya dikau jangan lagi berurusan dengan Bintang Tenggara. Sebagai kakak kandungnya, sungguh pilu hati ini…” 

“Apakah gerangan yang terjadi!?” Asep terlihat kaget. 

“Bintang Tenggara saat ini, bukanlah anak remaja yang sama seperti yang kita kenal dahulu. Ia telah berubah…” Lintang Tenggara kembali menghela napas panjang. Roman wajahnya memperlihatkan seberkas kekecewaan, sekaligus kesedihan yang tiada terperi. 

“Berubah…?”

“Benar. Bintang Tenggara kini menjadi buronan di seantero Negeri Dua Samudera. Ia melakukan pelanggaran besar dengan melakukan tindakan uji coba nan keji terhadap sesama ahli…”

“Hah!” 

“Semua ini mungkin adalah kesalahan diriku… sebagai seorang kakak yang tiada dapat mengayomi sang adik….” Lintang Tenggara mengeleng-gelengkan kepala. Sepertinya ia sangat menyesal, serta kesal terhadap diri sendiri. 

Bibir Asep bergetar. Ia hendak berkata-kata, namun tiada suara yang keluar dari mulutnya. 

“Dan… ia telah mengambil langkah keliru… dengan bergabung ke dalam Partai Iblis!” 


===


Bintang Tenggara terjaga! Sekujur tubuhnya lemah. Tenaga dalam di mustika hanya tersisa sekira sepuluh persen. Pemeriksaan tubuh secara singkat mengungkapkan bahwa dirinya tiada menderita luka luar. Ia melontar pandang ke arah sekeliling. Di manakah ini…?

Entah mengapa tetiba benaknya terpikirkan akan sosok Asep di Kerajaan Siluman Gunung Perahu…? Mungkin karena untuk menyelamatkan Wara, dirinya terpaksa merapal teleportasi jarak dekat dari jurus Silek Lintang Halimun selama tiga kali berturut-turut. Jurus ini berbeda dengan jurus Kinja Sirna milik Asep. Jurus Kinja Sirna merupakan satu jurus yang memiliki tiga rangkai teleportasi jarak dekat, sehingga pemanfaatannya tak seboros Bentuk Ketiga dari jurus Silek Lintang Halimun yang dirapal sebanyak tiga kali. Setiap satu teleportasi jarak dekat Silek Linsang Halimun memakan sekira tigapuluh persen tenaga dalam!

Bintang Tenggara kembali mengamati sekeliling. Ingatan terakhirnya adalah terseret dan ditarik masuk ke dalam liang sumur. Akan tetapi, tempat dimana ia berada kini jauh berbeda dari suasana kelam. Anak remaja itu bangkit berdiri. Ia menyadari bahwa kini berada di wilayah perbukitan. Pohon-pohon rindang di semerata tempat, semak belukar terpisah jarak. Tak terlalu jauh, terdengar suara gemericik aliran air. Sungguh suasana yang ideal untuk membangun tempat tinggal. 

Menyadari tak ada ancaman dari wilayah sekitar, Bintang Tenggara duduk bersila di atas sebongkah batu berukuran sedang. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjelajah tempat yang baru ini. Sebelum bergerak terlalu jauh, dirinya memutuskan untuk mengisi mustika tenaga dalam terlebih dahulu. Sedia payung sebelum hujan. 

“Delapan Penjuru Mata Angin… Hampa…”

Aliran tenaga alam melimpah mengisi mustika tenaga dalam. 20%, 30%, 40%... Berkat Super Guru Komodo Nagaradja yang sempat mengendorkan segel terhadap pernyerapan jurus tersebut, maka kini Bintang Tenggara dapat lebih cepat mengisi mustika di ulu hati. 

“Duar!” 

Tetiba Akar Bahar Laksamana menghentakkan tenaga dalam! Bintang Tenggara dibuat terkejut, namun berupaya mengendalikan diri dan gejolak tenaga dalam di ulu hatinya. Tumbuhan siluman tersebut lalu dengan rakusnya melahap tenaga dalam yang tersaji di dalam mustika retak. Tenaga dalam yang baru saja terkumpul hampir mencapai setengah kapasitas mustika di ulu hati, kini menyusut cepat! 

Bintang Tenggara terus menyerap tenaga alam guna mengimbangi kerakusan Akar Bahar Laksamana. Tumbuhan silumat itu melilit erat pada permukaan mustika dan mengencang karena bertambah gemuk. Beruntung bahwa wilayah perbukitan ini memiliki jumlah tenaga alam yang memadai. 

Tempat apakah ini…? Sebuah pertanyaan yang saat ini kurang begitu penting. Ancaman yang datang bukan dari luar, karena justru muncul dari dalam dirinya sendiri.

“Super Guru…” Bintang Tenggara mulai khawatir akan konsumsi tenaga dalam Akar Bahar Laksamana. 

“Kakek Gin…” Anak remaja itu berharap akan setitik petunjuk. 

Tiada jawaban. Bintang Tenggara menebar mata hati ke dalam mustika retak Komodo Nagaradja dan mustika binatang siluman Kasta Emas dimana Ginseng Perkasa bernaung. Jiwa dan kesadaran mereka tiada dapat dirasa. Mungkinkah kondisi yang mirip dengan Alas Roban dimana jiwadan kesadaran tanpa tubuh biasa tersegel dengan sendirinya…?

Lagi-lagi Bintang Tenggara tiada dapat berkutat seputar pertanyaan yang bermunculan, karena kini tenaga dalamnya hanya tinggal duapuluh lima persen. Tumbuhan Siluman Akar Bahar Laksamana tiada peduli waktu. Di kala ia hendak menyantap tenaga dalam, maka tiada siapa yang dapat mencegah apalagi melakukan tawar-menawar. 

Bintang Tenggara terus membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Ia berupaya mengimbangi berkurangnya tenaga dalam di ulu hati. Meski terus tertinggal, dan tenaga dalam di mustika terus berkurang, setidaknya kini kecepatan berkurangnya jumlah tenaga dalam tersebut dapat diulur-ulur. 

Setengah hari berlalu. Bintang Tenggara berupaya segenap hati untuk terus mengisi tenaga alam ke dalam mustika. Proses yang berlangsung ini mirip dengan mengisi tempayan dengan satu ciduk air, namun tempayan itu memiliki lubang kecil-kecil yang mengalirkan lebih banyak dari satu ciduk air. Sungguh kegiatan yang hampir sia-sia belaka. 

Akan tetapi, anak remaja tersebut menyadari bahwa ia tiada boleh berputus asa, karena nyawa kini menjadi taruhannya. Bilamana Akar Bahar Laksamana melahap tenaga dalam di mustika sampai kosong, maka setelah itu ia akan menyerap tenaga fisik dari tubuh. Dampak yang ditimbulkan adalah kematian layaknya mayat nan kurang gizi. Di saat yang sama, Bintang Tenggara juga menyadari bahwa Akar Bahar Laksamana melahap tenaga dalam bukan tanpa batas. Tumbuhan siluman itu akan berhenti bilamana sudah merasa kenyang. Pertanyaannya, bilakah ia kenyang…?

Setengah hari kembali berlalu. Bintang Tenggara diguyur keringat. Tenaga dalam hanya bersisa 5%. Jurus Delapan Penjuru Mata Angin bekerja maksimal, namun tentu tiada dapat mengimbangi. 

4%... 

3%... 

2%... 

“Plop” 

Di saat-saat kritis, tetiba mata hati Bintang Tenggara mendapati sesuatu mencuat dari permukaan Akar Bahar Laksamana. Sesuatu tersebut terlihat lembut, cendereng rentan. Ianya berwarna hijau muda. Dicermati lebih seksama lag, maka sesuatu itu mirip sekali dengan… 

Tunas! Pada permukaan Akar Bahar Laksamana mencuat sebentuk tunas daun berwarna hijau muda! Di kala itu terjadi, tumbuhan siluman tersebut pun menghentikan kegiatan menyedot tenaga dalam. 

Bintang Tenggara ambruk ke tanah. Tenaga dalam hampir terkuras habis. Di saat yang sama, karena terus-menerus membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin, maka mata hatinya menderita kelelahan yang teramat berat. 


Bintang Tenggara alias Balaputera Gara, terjaga… lagi. Di bandingkan sebelumnya, tubuh terasa jauh lebih lelah dan kepala pening bukan kepalang. Tubuhnya tergeletak tiada berdaya, dan kini perutnya kosong-melompong. Hal terakhir inilah yang kiranya menjadi penyebab kelelahan dan pening. 

Ia memejamkan mata sejenak, lalu kembali membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Tak lama berselang, ia hanya mampu mengisi setengah tenaga dalam ke mustika di ulu hati. Cukuplah pikirnya, karena kini prioritas utama adalah mencari makanan. Apa gunanya tenaga dalam penuh, namun tubuh tiada bertenaga? Bagi ahli Kasta Perunggu, makanan masihlah sangat penting untuk tubuh. Nanti, bilamana mancapai Kasta Emas, maka tenaga dalam dengan sendirinya dapat membantu metabolisme tubuh sehingga dapat berpuasa sampai berbulan-bulan lamanya tanpa menderita kelelahan. 

“Kasta Perunggu…?” gumam Bintang Tenggara. Ia kembali menebar mata hati ke mustika retak di ulu hati, beserta tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana yang melilitnya. Ia mencermati tunas daun nan kecil lagi rapuh. Ditepis sedikit saja, kemungkinan tunas daun tersebut akan rontok. Akan tetapi, perihal tunas daun mungil itu tiada lagi membuat dirinya terheran-heran. Karena, kini, menyaksikan cairan tenaga dalam di mustika, anak remaja itu yakin dan percaya bahwa dirinya kini berada pada… Kasta Perunggu Tingkat 11!

Apakah ini sebuah terobosan tingkat keahlian ala Akar Bahar Laksamana…? Mungkin saja… Tentu saja!

Bintang Tenggara tak tahu harus bergembira, atau bersedih atas kondisinya saat ini. Sekali lagi ia mencari-cari jiwa Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa. Namun, tiada jelas juntrungannya. Yang jelas, dirinya perlu makan! 

Sekira empat jam waktu berlalu. Bintang Tenggara mengisi perut seadanya dengan buah-buahan yang tersedia. Tak jelas arah dan tujuan, ia hanya bergerak kemana langkah kaki membawa diri. 

Tetiba, Bintang Tenggara merasakan aura keahlian di kejauhan. Ada seseorang yang menempati tempat ini, pikirnya sambil mempercepat langkah kaki. 

Sebuah gubuk sederhana dengan dipan kecil di sisi pintu. Pekarangan yang ditumbuhi beberapa jenis sayur-mayur. Kandang kecil berisi hewan ternak. Tempat tinggal siapakah gerangan. 

Di kala Bintang Tenggara mencermati keadaan sekeliling, seorang perempuan tua melangkah pelan, keluar dari dalam gubuk. Ia mengenakan pakaian sederhana yang kelihatan setua dirinya. Rambut digerai ke belakang, ia hanya menatap ringan ke arah anak remaja yang berdiri di depan kediamannya itu. 

“Mohon maaf, Nenek Ahli,” sapa Bintang Tenggara santun. “Diriku lancang mendatangi gubuk.” 

Perempuan tua itu hanya menatap, namun tiada menanggapi. Ia melangkah pelan ke arah pekarangan yang ditumbuhi sayur-mayur. Memetik beberapa lembar daun sayur, lalu melangkah kembali ke dalam gubuk. 

Bintang Tenggara hanya memperhatikan. Tak berani ia berkata-kata, karena aura yang menyibak dari perempuan itu tiada dapat dicerna. Kemungkinan besar, nenek iti adalah ahli Kasta Emas! 

Tak lama waktu berselang, si nenek tua kembali keluar dari dalam gubuknya. Ia menenteng sebuah mangkok dari tanah liat. Uap panas mengepul dari dalam mangkok yang tak lain berasal dari sayur-mayur yang telah direbus matang. Ia letakkan mangkok ke atas dipan di depan gubuk. Kemudian, ia melangkah kembali ke dalam, dan membawa satu mangkok lagi yang berisi ubi yang juga mengepulkan uap, beserta dua buah sendok kayu. 

Di mata Bintang Tenggara, proses ini berlangsung begitu pelan seperti gerak lambat. Akan tetapi, tiada berani ia berucap. Ubi dan sayur-mayur itu terlihat nikmat!

Si nenek tua duduk di satu sisi dipan. Kemudian, ia menatap anak remaja yang masih sabar menanti. Dengan gerakan tangan lembut serta seberkas senyum, si nenek memberi isyarat agar si anak remaja duduk untuk menikmati santapan seadanya itu bersama-sama.