Episode 28 - Rito vs Sony


Di tanah, Sony yang telah menerima serangan telak pada wajahnya merasa sangat pusing, akan tetapi, setelah beberapa saat dia kembali bangkit, dan mata tajamnya kini sedang memandang tiga orang di depannya.

“Aku masih belum kalah!” gumam Sony.

Sampai sekarang Sony masih tidak percaya, bagaimana mungkin dia bisa dikalahkan dengan mudah oleh Danny. Meskipun saat ini dia sudah jarang berlatih bela diri yang diajarkan oleh kakeknya lagi, akan tetapi dia percaya, bahwa dia mampu mengalahkan Danny. Namun, hasil berkata lain.

Danny, Raku, dan Rito menoleh dan melihat Sony yang perlahan mulai bangkit. Danny dan Rito kembali waspada, sedangkan Raku berlari ke belakang mereka berdua untuk bersembunyi.

“Semua yang kau lakukan sangat sia-sia, balas dendam ini tidak akan menyelesaikan apapun. Temanmu yang telah masuk penjara tidak akan keluar, dan apapun hasil dari pertarungan ini, tidak akan menguntungkan kita semua!” Ucap Danny mencoba untuk menyelesaikan masalah ini.

“Diam!” Sony berteriak sambil meremas tangannya.

Sony tahu bahwa dia mungkin tidak bisa mengalahkan mereka, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak mau mengakui hal tersebut.

“Tenangkan pikiranmu dan pikirkan baik-baik, apakah temanmu itu memang menginginkan hal ini terjadi.” Ucap Danny lagi.

“Berisik!” Sony kembali berteriak.

Sony juga tahu, Dani tidak pernah menginginkan balas dendam ini terjadi, dan jika Dani tahu bahwa mereka terluka karena mencoba membalaskan dendam ini, Dani pasti merasa bersalah pada dirinya sendiri.

“Lihatlah kondisimu, dengan tubuh yang babak belur seperti itu, apa yang bisa kau lakukan? Dan lihat juga teman-temanmu, bukankah ada hal lain yang lebih penting yang harus kau lakukan?” Ucap Danny.

“...” Sony tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Danny. Kepalanya masih pusing akibat serangan dari Danny, dan teman-temannya kini masih terbaring di tanah sambil mengerang kesakitan. 

“Hentikan Dan, dia tidak akan mendengarkanmu.” Ucap Rito sambil menoleh pada Danny.

“Tapi...” Ucap Danny. Dia masih ingin menyelesaikan masalah ini dengan damai.

 “Menyerahlah, kau sudah kalah, dan kau tidak mungkin bisa mengalahkan kami!” Rito berteriak sembari menatap Sony.

 “Persetan! Dasar bocah tengik, aku masih belum kalah!” Sony meraung marah, kemudian segera berlari menuju mereka bertiga.

“Biar aku saja.” Ucap Rito sambil melangkah ke depan.

Setelah mereka berdua berada dalam jarak dekat, Sony segera melemparkan tinju pada wajah Rito. Namun, dengan sikap tenang yang mutlak, Rito melangkah ke samping untuk menghindar lalu melemparkan tendangan menuju pinggang Sony.

Sony terlempar dan jatuh ke tanah karena tendangan dari Rito, akan tetapi dengan cepat dia bangkit kembali. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mulai menenangkan pikirannya. Tadi dia terlalu emosi dan tidak dapat berpikir dengan jernih, akan tetapi kali ini beda, serangan barusan membuat dia sadar.

Sony mempersiapkan kuda-kudanya, tahun-tahun latihan bela diri dengan kakeknya teringat kembali dalam pikirannya. Dia mengangkat tinjunya dan perlahan mendekati Rito. Rito menjadi sangat waspada, karena dia sadar, Sony yang saat ini berbeda dari Sony beberapa saat yang lalu.

Rito menunggu, dia menatap Sony yang mendekatinya dengan ketenangannya yang luar biasa. Dia tiba-tiba menjadi sangat waspada.

Adalah hal bodoh untuk menganggap diri sendiri lebih hebat hanya karena berhasil menyerang beberapa kali.

Setelah cukup dekat dengan Rito, Sony segera mencambukan kakinya menuju pinggang Rito. Namun, Rito dengan sigap mampu menghalau serangan itu dengan tangannya, dan kemudian dia segera maju selangkah dan melemparkan tinju dari tangan yang lain.

Sony yang saat ini berbeda dari Sony beberapa saat yang lalu, yang dengan sombong mengira dia mampu mengalahkan Danny dengan mudah, yang dengan gila menyerang Rito tanpa berpikir. 

Melihat tinju yang mengarah menuju wajahnya, Sony memalingkan wajahnya untuk menghindar. Lalu dengan cepat dia menyerang balik dengan tinju beruntun pada Rito. Meskipun sebagian besar tinjunya mampu Rito tanngkis dengan cermat, akan tetapi ada beberapa tinju yang tidak berhasil dia hindari.

Rito berjalan mundur beberapa langkah, memegangi dadanya yang terkena beberapa pukulan dari Sony. Di sisi lain, Sony terengah-engah karena baru saja meluncurkan serangan beruntun pada Rito.

“Kau tidak apa-apa?” Danny bertanya.

“Tenang saja, aku tidak apa-apa.” Ucap Rito dengan tenang. Pada wajahnya terlukis senyum kecil dan tatapannya yang tenang kini terlihat sangat bersemangat.

Satu hal yang ada dalam pikiran Rito saat ini.

Ini sangat menyenangkan.

Pada wajah itu, senyum kecil yang terlihat cerah, tatapan mata yang bersemangat, membuat Sony merasakan sensai yang pernah dia rasakan dulu. Dia merasa kembali mengingat masa lalunya, pada saat dia sangat suka bertarung dengan anak dari tempat bela diri yang lain. Namun, saat ini dia sudah sangat jarang mempraktikan kemampuan bela dirinya, dan menyebabkan dia menjadi sangat tumpul.

Tiba-tiba, terdengar suara mobil mendekat, Danny dan yang lainnya menoleh dan menemukan ternyata mobil itu berhenti di tepi jalan. Kemudian datang lagi mobil lainnya, hingga akhirnya ada lima mobil terparkir di tepi jalan.

Dari masing-masing mobil keluar empat orang memakai jas berwarna hitam dan dasi berwarna putih menggantung di kerah bajunya. Lalu dari balik pohon yang tidak jauh dari sana, seorang pria yang menggunakan pakaian sama seperti mereka berlari menuju orang-orang itu, dia adalah Roy.

“Bos!” ucap Roy dengan hormat.

“Hmm....” Nino maju selangkah dan memperhatikan Danny dan yang lainnya, “Sepertinya ada banyak tamu di sini.”

“Apa yang harus kami lakukan pada mereka Bos?” tanya Roy.

“Hiraukan saja, target kita hanya bocah itu.” Nino berkata sambil memandang Raku. Meskipun dia belum pernah melihatnya secara langsung, akan tetapi dia sudah melihatnya dari foto. Dan, Nino merasa bahwa Raku terlihat lebih tampan daripada di dalam foto.

“Sial!” untuk beberapa alasan, Nino merasa kesal dengan wajah tampan Raku.

“Siapa mereka?” tanya Raku pada Danny.

“Entalah, aku juga belum pernah melihatnya, tapi sepertinya mereka melihat ke arahmu.” balas Danny.

“Eh? Kenapa?” tanya Raku dengan terkejut.

“Entahlah.” Jawab Danny sambil menaikan bahunya.

Di sisi lain, Sony merasa sangat terkejut dengan kedatangan orang-orang itu, meskipun belum pernah melihatnya sebelumnya, tapi dia pernah mendengar tentang geng serigala hitam, dan orang-orang itu memakai pakaian persis seperti dalam rumor.

“Ka-kalian geng se-serigala hitam?” tanya Sony dengan gemetar.

“Geng serigala hitam?” gumam Rito dengan penuh tanda tanya.

Nino menyipitkan matanya pada Sony,”Heh ... sepertinya kau tahu tentang kami, ya?”

‘Ternyata benar,’ pikir Sony dalam hati. Detak jantungnya menjadi lebih cepat, dia menelan ludah dan ingin kabur, tapi dia tidak mau meninggalkan teman-temannya yang masih terjatuh di tanah.

Sony merasa bahwa ini adalah hari sialnya. Tidak hanya dia dihajar oleh bocah, tapi dia juga bertemu dengan geng serigala hitam, salah satu dari tiga geng terkuat di kota ini. Dia tidak mau berurusan dengan mereka, karena dia pernah mendengar sebuh cerita tentang kejamnya geng serigala hitam, dan jika dia menyinggung perasaan mereka, mungkin besok tidak akan ada orang yang pernah melihatnya lagi.

Melihat tampilan Sony yang gemetar ketakutan membuat sudut mulut Nino naik, “Tenang saja, aku tidak ada urusan dengan sampah sepertimu, aku datang untuk memberi pelajaran pada seseorang.”

Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Nino, dalam hati Danny dan yang lainnya segera bertanya-tanya, ‘Siapa’?

Mereka semua melihat arah tatapan tajam dari Nino dan ternyata tertuju pada Raku.

Raku merasa sangat gelisah setelah mendapat tatapan dari semua orang, dia mundur satu langkah dan menelan ludahnya. Dalam hatinya dia berkata, ‘Tidak mungkin, pasti bukan aku, aku tidak pernah berbuat jahat pada mereka, bahkan aku tidak kenal mereka, apa-apaan itu serigala hitam? Saingan duo serigala? Tapi ... hei, kenapa mereka semua melihat ke arahku? Tolong jangan lihat aku.’

Tiba-tiba Raku ingat bahwa dia memiliki gosip buruk, tapi apa hubungannya dengan geng serigala hitam? Dan dari tatapan mata mereka Raku bisa menyimpulkan, mereka kemari bukan untuk hal baik. Raku tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Setelah pindah ke kota ini, nasibnya benar-benar sial.

“Kau, kemari!” ucap Nino sembari menunjuk pada Raku dengan jari telunjuknya. Matanya tajam dan menatap Raku dengan penuh kebencian. Nino akan memberi pelajaran pada Raku karena telah membuat adiknya menangis, dan juga untuk rasa sakit yang dia derita karena mencoba bersikap keren dengan cara memukul meja kaca.

Raku merasakan rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya, dia terjatuh ke belakang pada pantatnya dan berkata, “Ti-tidak ... tidak mau!”

Melihat penolakan dari Raku membuat emosi di dalam diri Nino menjadi semakin membara. Nino melirik ke arah sampingnya dan melihat dua anak buarhnya. “Kalian berdua, seret anak itu kemari!”

“Siap Bos!” ucap kedua anak buah Nino. 

Mereka berdua mulai berjalan menuju arah Raku. Setiap langkah dari kedua orang itu membuat rasa takut di dalam diri Raku menjadi semakin kuat. Wajahnya yang tampan sekarang tampak suram, dan keringat dingin mulai mengalir dari seluruh tubuhnya. “Tidak, jangan mendekat, menjauh dariku!”

Tiba-tiba dua figur berjalan ke depan dan menghalangi jalan dua anak buah Nino. Mereka adalah Danny dan Rito. Meskipun mereka tidak tahu seberapa kuat geng serigala hitam, tapi mereka tidak akan membiarkan teman mereka dibawa begitu saja oleh orang tidak dikenal.

Melihat Danny dan Rito berdiri di depannya, membuat Raku merasa hangat di hatinya. Meskipun mereka tidak lama saling kenal, tapi tidak bisa dipungkiri, mereka benar-benar layak dianggap teman sejati.

“Minggir!” ucap salah seorang anak buah Nino.

“Tidak akan!” ucap Danny dan Rito bersamaan.

“Ini tidak ada hubungannya dengan kalian berdua, jadi kuperingatkan, lebih baik tidak usah ikut campur, atau kau akan menyesal!” ucap anak buah Nino yang lainnya.

“Tentu saja ada hubungannya, dia adalah temanku!” ucap Danny dengan tegas.

“Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan padanya, dan aku tidak peduli tentang itu, tapi aku tidak suka dengan sikap kalian, jadi aku akan ikut campur.” Ucap Rito dengan percaya diri.

Danny dan Rito tahu bahwa mereka tidak akan mampu melawan puluhan geng serigala hitam, tapi, untuk mengulur waktu lalu melarikan diri, mereka berdua memiliki sedikit rasa percaya diri.