Episode 224 - Para Unggulan



Tiada terasa, satu purnama berlalu cepat. Bintang Tenggara sempat menjalankan beberapa penugasan lain bersama regu yang masih kurang akur. Walau, tak bisa dipungkiri, bahwasanya dengan menjalankan penugasan bersama-sama mereka menjadi saling mengenal lebih jauh.  

Satu purnama berlalu, berarti tinggal satu purnama lagi menuju Hajatan Akbar Pewaris Tahta Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Meski tiada terlalu kentara, suasana terasa memanas. Para bangsawan muda yang berhak ikut serta di dalam Hajatan Akbar terlihat tegang. Bagaimana tidak, dua purnama yang lalu mereka sudah mempersiapkan diri dan memantapkan hati, namun karena sesuatu yang tiada terduga, gelaran tersebut ditunda sepihak oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa!

Tiada siapa yang berani mempertanyakan alasan penundaan yang berlangsung sampai tiga purnama lamanya. Akan tetapi, tak sulit untuk menebak mengapa sang penguasa memutuskan untuk menunda. Sebagian besar bangsawan, ahli, sampai rakyat jelata di Kemaharajaan Cahaya Gemilang yakin dan percara bahwa kemunculan cucu dari pahlawan negeri, putra dari si jenius yang menghilang, adalah penyebab titah tersebut. Kiranya Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa hendak memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh calon pewaris tahta. 

Pagi ini cuaca mendung dengan gumpalan awan-awan gelap menggantung tinggi. Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara baru saja kembali dari lapisan langit dengan bongkahan tanah dan puing nan berserakan. Bilamana mereka berada di Ibukota Minangga Tamwan, maka Ayahanda Sulung Rudra tak akan pernah lalai membawa kedua kemenakannya berteleportasi jarak jauh ke angkasa tinggi di atas gumpalan awan. 

Setiap pasang mata yang berpapasan dengan kedua bangsawan muda, menunjukkan ketertarikan pada tingkat yang membuat Bintang Tenggara merasa risih. Ia tiada biasa mendapat perhatian yang sedemikian besar. Hal ini tak dapat dicegah, karena dirinya merupakan calon pewaris tahta yang sah. Terlebih lagi, berbekal nama besar sang kakek dan ayah, serta khabar kepiawaian menaklukkan Tugu Ampera Barat dan keberhasilan menjalan penugasan perguruan, maka keikutsertaan anak remaja tersebut menjadi sangat diperhitungkan. 

Meski hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, nama Balaputera Gara telah melesat naik ke bursa calon pewaris tahta. Bersama nama-nama besar seperti Balaputera Vikrama dari Kadatuan Kesatu, Balaputera Dirgaha dari Kadatuan Kedua, Balaputera Shinta dari Kadatuan Keenam, serta Balaputera Naga dari Kadatuan Kedelapan… Balaputera Gara dari Kadatuan Kesembilan berada pada posisi lima besar calon pewaris tahta!

Dampak dari perkiraan dan desas-desus ini adalah kesibukan luar biasa bagi Kadatuan Kesembilan secara umum. Kadatuan yang tadinya dikenal lemah, kini menjadi pusat perhatian banyak ahli, baik itu dari dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang maupun dari Negeri Dua Samudera secara umum. Banyak pihak-pihak yang mendatangi untuk bekerja sama, berdagang, bahkan sekedar memperkenalkan diri. Sebagian dari mereka bahkan membawakan upeti atau hadiah-hadiah beraneka rupa. 

Tak ayal, Ayahanda Sulung Rudra dan Ibunda Tengah Samara menjadi sibuk. Jumlah pelayan dan prajurit pun bertambah pesat seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi di Kadatuan Kesembilan. Bagaimana tidak, di musim kemarau ini, setiap tumbuhan siluman Pakis Kadal Hijau yang dibabat, akan menebar spora dan semakin banyak berkembang biak. Selain itu, bilamana memiliki kesempatan, maka Bintang Tenggara memanfaatkan waktu untuk meramu Pil Cakar Bima dengan tingkat kemanjuran sampai 99%. Tentu jumlah yang dihasilkan sangat terbatas karena anak remaja ini sibuk dengan penugasan dari perguruan. Bagi ahli Kasta Perunggu, ramuan ini adalah komoditas langka!

Ibunda Tengah Samara bertanggung jawab atas urusan rumah tangga Kadatuan Kesembilan. Ia menjaga alur keluar masuk keping-keping emas, memastikan bahwa hasil penjualan diterima dan upah bagi para pelayan dan prajurit dibayarkan tepat waktu dan dalam jumlah yang pantas. Dari waktu ke waktu, ia juga memastikan bahwa kebutuhan sandang, pangan dan papan terpenuhi. 

Ayahanda Sulung Rudra lain lagi tugasnya. Ia menerima tamu, melakukan negosiasi harga, serta menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak. 

“Salam kenal, wahai Datu Besar Kadatuan Kesembilan,” ujar seorang saudagar tua yang datang bertandang. 

“Terima kasih atas kunjungan Tuan yang terhormat di Kadatuan Kesembilan. Keperluan apakah gerangan yang membawa Tuan berkunjung ke Kadatuan kami yang terbilang kecil ini.”

“Oh… Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kesembilan terlalu merendah. Kami tiada pernah menganggap bahwa Kadatuan Kesembilan adalah kecil adanya. Kehadiran kami hari ini tiada lain untuk menjaga hubungan baik. Sudi kiranya menerima sedikit buah tangan dari kami. Kiranya jumlah yang tak seberapa ini dapat bermanfaat bagi remaja yang sedang membangun keahlian.”

Ayahanda Sulung Rudra melirik ke arah tumpukan kotak yang telihat mengkilap mewah. Ia tentu dapat menangkap maksud dan tujuan dari saudagar tua ini. Kedatangan dengan ‘buah tangan’ bertujuan untuk menanamkan semacam ikatan agar bilamana suatu hari nanti keturunan Kadatuan Kesembilan yang menjadi penguasa kemaharajaan, maka segala urusan mereka dapat dipermudah, atau setidaknya tiada dipersulit. Dengan embel-embel ‘bagi remaja yang sedang membangun keahlian’, semakin jelas niat yang tersirat. 

“Wahai saudagar yang murah hati…” Ayahanda Sulung Rudra terlihat sedikit kebingungan. “Sungguh sulit bagi kami menerima pemberian yang demikian berharga....” 

“Sudi kiranya Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kesembilan menerima buah tangan yang memang tiada seberapa ini….” Ia mulai terlihat resah. 

“Hm…” Ayahanda Sulung Rudra telihat berpikir keras. Sepertinya, sungguh berat baginya menerima sesuatu dari tokoh yang baru saja dikenal. 

“Mohon kiranya Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kesembilan tiada berburuk sangka. Pemberian ini murni sebagai ungkapan terima kasih dari kami yang telah disambut dengan baik di dalam Balai Utama Kadatuan Kesembilan.”

“Baiklah, bilamana Tuan sungguh bermurah hati, maka kami tiada hendak menolak niat baik ini.”

Sang saudagar tua tersenyum lega. Kedatangannya bukanlah tanpa alasan. Telah tersebar luas bahwa Kadatuan Kesembilan tiada pernah menolak pemberian dari siapa pun yang datang bertandang. Jikalau pemberian dari dirinya ditolak, bukankah berarti dirinya di kemudian hari akan mendapat kesusahan…?

Ayahanda Sulung Rudra mengulum senyum. Adalah benar bahwasanya setiap pemberian, apakah itu hadiah atau bahkan sogokan, akan ia terima dengan tangan terbuka. Pada prinsipnya, ia tiada pernah menuntut akan upeti dari siapa pun. Mereka datang berduyun dengan suka rela. Urusan di kemudian hari adalah perkara lain karena ia tiada akan merasa berutang, apalagi berkewajiban membantu mereka yang datang ini. Yang utama baginya saat ini adalah kenyataan bahwa Kadatuan Kesembilan membutuhkan sumber daya sebanyak mungkin untuk kembali bangkit berjaya! 

Sungguh, kedatangan seorang anak remaja dapat berdampak demikian besar bagi Kadatuan Kesembilan yang sebelumnya hanya dipandang sebelah mata. 


===


“Vikatama, ceriterakan kepadaku tentang Balaputera Gara…,” ujar seorang remaja berwajah tampan. Pakaian yang ia kenakan tertata rapi dan mewah. Di tangan kiri, sebilah pedang ditenteng. Pembawaannya demikian tenang dan aura yang tepancar dari dirinya demikian perkasa.

“Ia meraih urutan pertama di Tugu Ampera Barat… dan bersama regunya menuntaskan berbagai misi.” 

“Vikatama… kau tahu bahwa bukan itu yang menjadi inti pertanyaan…” Seorang remaja lelaki lain yang tak kalah tampan, bertubuh besar, berujar santun. 

Ketiga remaja lelaki ini sedang berkumpul di sebuah halaman terbuka nan indah. Bebunga menari berwarna-warni, burung-burung bernyanyi merdu. Tak jauh, aliran air dari sebuah sungai kecil menyejukkan hati sanubari. 

“Vikrama, Indravarma… apa yang kuketahui tiada lebih banyak dari yang telah kalian ketahui. Maha Guru Ketiga Citradama menempatkan diriku ke dalam regu yang berbeda, sehingga tiada dapat menyaksikan langsung sepak terjang Balaputera Gara.”

“Hm… Sepertinya pesaing tangguh bertambah seorang,” Balaputera Indravarma tersenyum ringan. 

“Apalah artinya sebuah perlombaan, bilamana tiada diikuti lawan-lawan nan tangguh?” Balaputera Vikrama, yang diketahui sebagai salah satu unggulan dalam Hajatan Akbar Pewaris Tahta, menikmati pemandangan taman yang demikian indah. Tak sedikit pun tebersit kekhawatiran dari raut wajahnya.


===


“Hari ini kita akan membahas perihal persiapan Hajatan Akbar Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” ujar seorang lelaki tua dari sisi samping sebuah panggung rendah yang mirip dengan singasana. Di atas panggung tersebut, pada sebentuk bangku nan megah, duduk seorang lelaki dewasa penuh wibawa. 

Di bawah panggung, di sisi kiri dan kanan, terlihat para sesepuh dari keluarga besar duduk berjajar dan berhadap-hadapan. Jumlah mereka tak kurang dari sepuluh ahli. Setiap satunya memasang wajah nan demikian serius, sehingga seisi ruangan menyibak aura yang menekan.

“Sebagaimana yang diketahui, seluruh anggota keluarga kita telah menantikan gelaran ini sejak lama. Persiapan pun telah disusun dengan matang. Akan tetapi, sebelum pembahasan dimulai, Balaputera Ugraha, majulah.”

Di hadapan panggung, enam remaja yang terdiri dari dua perempuan dan empat lelaki, berdiri berbanjar. Urutan mereka berdiri ditentukan oleh tingkat kekuatan tempur. Pada urutan ketiga dari kiri, Balaputera Ugraha mengambil selangkah maju. Raut wajahnya tenang, bahkan kelewat santai. Sepertinya tiada beban yang dipanggul di pundak. Pembawaannya ini bertolak belakang dengan lima remaja lain yang juga mengemban tugas menjadi calon pewaris tahta Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Mereka terlihat tegang.

“Balaputera Ugraha…” Lelaki dewasa yang duduk di atas panggung berujar pelan. Meskipun demikian, suaranya bergema di dalam Balai Utama. “Aku belum memutuskan untuk menjatuhkan hukuman apa atas kelancanganmu. Meski para tetua keluarga mendesak, aku menahan diri. Penjabaranmu tentang Balaputera Gara hari ini akan menentukan ganjaran hukuman apa yang akan engkau terima.” 

Balaputera Ugraha mengambil selangkah ke depan. Ia tersenyum. “Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedua, serta para tetua sekalian… Balaputera Gara sangatlah cerdas dan berbakat. Menurut hematku, ia menguasai jurus persilatan… bukan… kemungkinan ‘maha jurus’ persilatan sehingga dapat bercokol di puncak Tugu Ampera Barat.”

Sejumlah tetua beringsut tak nyaman. Sorot mata mereka seperti sedang mengingat sesuatu di masa lalu. Beberapa dari mereka mulai terlihat gelisah. 

“Balaputera Gara memiliki unsur kesaktian petir. Kecepatan adalah kelebihan utama yang ia andalkan dalam pertarungan.” 

Jurus persilatan tingkat tinggi sekaligus unsur kesaktian petir… Bagi para tetua yang berumur ratusan tahun, tentu banyak sudah mengenyam asam dan garam dunia keahlian. Mereka mengetahui bahwa kombinasi kedua hal tersebut dapat menghasilkan ahli dengan kemampuan tempur yang cukup tinggi. 

“Dalam hal menyusun formasi segel,” lanjut Balaputera Ugraha, “ia tertinggal jauh. Akan tetapi, sebagaimana layaknya keturunan Wangsa Syailendra dari trah Balaputera, kemampuannya mempelajari formasi segel sangatlah baik. Bahkan, di atas rata-rata.” 

Datu Besar Kadatuan Kedua mencondongkan tubuh ke depan. Ia mencermati setiap gerak-gerik Balaputera Ugraha. “Menurut pandanganmu... bagaimana kemampuannya di dalam pertarungan satu lawan satu?” 

“Di antara kami para perwakilan dari Kadatuan Kedua, hanya Dirgaha dan Kataha yang dapat mengimbanginya…” Balaputera Ugraha mengacu kepada seorang remaja lelaki dan seorang remaja perempuan yang berdiri di sisi kiri. “Diriku tiada dapat berbuat banyak.” 

“Hmph…,” dengus Datu Besar Kadatuan Kedua. “Semua yang engkau sampaikan adalah benar adanya, terkecuali…” 

Beberapa tetua memicingkan mata. Apakah Balaputera Ugraha berdusta…? Bagian mana? Lancang sekali bila ia berbohong di hadapan sang Datu Besar bersama segenap tetua Kadatuan Kedua. 

“Hamba tiada berani berdusta…” Balaputera Ugraha masih terlihat tenang.

“Terkecuali pada penilaian bahwa engkau tiada dapat mengimbangi Balaputera Gara. Kesulitan mungkin saja, tapi engkau pastinya cukup handal untuk mengimbangi dalam pertarungan,” ungkap Datu Besar Kadatuan Kedua. Ia sudah dapat mengambil kesimpulan. 

Sejumlah tetua menghembuskan napas lega. Sebagian langsung dapat menangkap bahwa Balaputera Ugraha bukan tiada dapat mengimbangi Balaputera Gara. Secara tersirat, Balaputera Ugraha menyampaikan bahwa ia enggan bertarung menghadapi Balaputera Gara. Alasannya, kemungkinan besar hubungan pertemanan yang terbangun di antara kedua remaja berlangsung baik. 

“Ganjaran atas kelancanganmu tempo hari adalah membersihkan Balai Utama ini selama sepekan,” ujar sang Datu Besar menjatuhkan hukuman kepada Balaputera Ugraha. 

Sontak, sejumlah tetua terperangah. Sekadar kerja bakti bukanlah hukuman yang biasa diterapkan di Kadatuan Kedua, apalagi atas perbuatan lancang kepada sang Datu Besar. Setidaknya, ganjaran yang pantas adalah hukuman kurungan selama sepekan. 

“Keenam perwakilan dari Kadatuan Kedua, kalian akan mengambil cuti selama satu purnama dari Perguruan Svarnadwipa. Untuk selanjutnya, seorang tetua keluarga akan membimbing kalian dalam persiapan menjelang Hajatan Akbar Pewaris Tahta,” tutup sang Datu Besar.


===


“Sevita mengungkapkan bahwa Balaputera Gara memiliki potensi yang luar biasa besarnya. Kemanpuannya tiada dapat dipandang sebelah mata.” Seorang lelaki tua berujar datar. 

“Sudah sepantasnya!” 

“Satu lagi pesaing berat bagi Shinta…”

“Persaingan akan memicu pertumbuhan!” seru seorang lelaki dewasa penuh semangat. 

“Ah… sudahlah…” si lelaki tua menghela napas panjang. “Bukanlah itu alasan diriku mendatangimu….”

“Apakah gerangan yang hendak Yang Terhormat Datu Tua bahas?”

“Sebagai Datu Besar dari Kadatuan Keenam, dikau sudah terlalu lama menduda. Dan belakangan, aku menangkap akan kemungkinan cinta lama nan bersemi kembali...” 

“Ayahanda…” 

“Aku mengetahui bahwa dikau masih menyimpan hati kepada Balaputera Samara yang menjanda. Aku pun mengetahui, dan membiarkan, engkau mengupah seorang tabib guna menangani penyakit yang selama ini ia derita.” 

“Ayahanda… kami adalah sahabat lama…”

“Sudahlah… jangan berbelit-belit. Semua anggota keluarga telah menyadari gelagatmu yang dimabuk asmara… dimabuk Samara, lebih tepanya!” 

“Ayahanda…” Sang Datu Besar dari Kadatuan Keenam menatap dalam ke arah orang tua itu. Ia kehabisan kata-kata. 

“Segera setelah Hajatan Akbar rampung… diriku akan datang meminang Balaputera Samara di Kadatuan Kesembilan.”

“Ayahanda… jangan…”


===


“Argghhh…. Terlambat lagi!” Seorang remaja lelaki terlihat kesal sekesal-kesalnya. 

“Pagi ini kau terlambat bangun lagi…?” aju seorang remaja perempuan bertubuh bongsor. 

Sungguh unik kedua remaja tersebut. Remaja yang perempuan hanya mengenakan pakaian dalam, namun demikian formasi segel berwujud baju zirah setengah transparan terus-menerus membungkus tubuhnya. Sementara itu, si remaja lelaki yang sedang kesal, pun mengenakan hanya sempak nan kecil. Formasi segel berwujud ular besar nan berwajah garang melayang melingkar mengelilingi tubuhnya. Perlu diketahui, bahkan bagi keturunan Wangsa Syailendra dari trah Balaputera kebanyakan, tindakan merapal segel tanpa henti seperti ini membebani mata hati sekaligus menguras tenaga dalam! 

“Tidak! Hari ini aku telah bangun sedari subuh,” seru Balaputera Naga. “Akan tetapi, saban hari Datu Besar Kadatuan Kesembilan bersama kedua kemenakannya itu selalu muncul di wilayah yang berbeda-beda.” 

Balaputera Saratungga memantau sekeliling. Hanya bongkahan tanah dan puing-puing sejauh mata memandang. Mereka memanglah berada di lapisan khusus di atas Ibukota Minangga Tamwan. “Ya, kau terlambat lagi….”

“Cih!” 

“Sepertinya tiada mudah bagimu menantang Balaputera Gara.” 


===


Malam semakin larut. Gumpalan awan masih mengawang, kini menutupi sinar rembulan berbentuk sabit. Bintang Tenggara baru saja usai berpetualang di dalam Pustaka Utama Perguruan. Ia terbuai dalam bacaan, sehingga lupa waktu. Kini, ia hendak kembali ke Kadatuan Kesembilan.

Saat melewati sisi luar halaman dengan lapisan formasi segel, Bintang Tenggara mendapati sesosok tubuh menuju ke arah sumur nan mengerikan. Langkah kakinya sempoyongan seolah tak memiliki arah tujuan. Apakah seorang Maha Guru yang bertugas memeriksa formasi segel? pikir anak remaja itu tanpa curiga. 

Sinar dari keempat candi yang menjadi penopang formasi segel di atas sumur perlahan menyinari sosok yang melangkah. Kini, Bintang Tenggara dapat lebih mencermati sosok tersebut. Bukankah itu… 

“Wara! Hei Wara!” pekik Bintang Tenggara. “Apa yang dikau lakukan di sana!?”

“DUAR!” 

Tetiba terdengar suara membahana dari dalam sumur. Bongkahan batu bergetar dan rantai yang menjangkarnya mengencang. Sontak keempat Maha Guru yang bersiaga di empat sisi lapangan terjaga. Belakangan ini, apa pun itu yang berada di dalam sumur, semakin sering memberontak!  

“Siapa di sana!?” Salah seorang Maha Guru melompat keluar dari dalam candi tempatnya berjaga. Tindakan ini spontan ia lakukan karena menyaksikan seorang remaja sudah berada di dekat sumur! 

“Prang!” 

Salah satu dari empat rantai yang menjangkar batu di atas sumur terputus! Akibat si Maha Guru tadi melompat keluar dari dalam candi tempat ia berjaga, maka rantai yang satu ini tiada mendapat dukungan kekuatan! Di saat yang sama, sebuah tangan besar memaksa keluar, seperti hendak melibas ke arah…

“Wara! Bahaya!” 

Bintang Tenggara sontak melakukan teleportasi jarak dekat. Di saat genting, ia berhasil mencapai Balaputera Prameswara, dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh sepupunya itu ke samping. Akan tetapi, seketika itu terjadi, tubuhnya sendiri merasakan guncangan teramat keras seolah baru saja dihantam batu karang raksasa! 

Selanjutnya, sisa-sisa kesadaran Bintang Tenggara hanya merasakan bahwa tubuhnya yang tiada berdaya, diseret… ditarik ke dalam liang nan gelap…