Episode 223 - Keperluan



“Sungguh pagi nan indah…” 

Seorang lelaki dewasa muda menyapa ramah. Pembawaannya tenang, namun siapa pun akan menghentikan kegiatan yang sedang dikerjakan di kala mendapati kehadirannya. Ia mengenakan pakaian berlengan panjang, yang menjuntai mirip jubah sampai ke batas betis, berwarna abu-abu muda. Dari sela jubah, telihat celana panjang yang berwarna senada, tapi sedikit lebih tua. Pakaian yang ia kenakan demikian bersih tertata rapi. Meski sederhana adanya, namun serasi sekali pakaian itu dengan tubuhnya yang terbilang tinggi. 

Rambutnya panjang, hitam mengkilap dan tergerai rapi ke belakang. Hembusan ringan angin memainkan ujung-ujung rambut, namun tak kuasa menggangu kerapihannya. Ia menatap dengan sorot mata yang menusuk, setajam paruh burung elang. 

Dari pembawaannya, tak akan ada yang akan percaya bahwa ia hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Terlebih, aura yang terpancar dari dirinya memberikan kesan terpelajar. Siapa pun akan sungkan bilamana berdiri di hadapannya.  

Delapan ahli Kasta Perak, yang bertugas di depan gerbang besar perguruan, terkesima mendapati kehadiran lelaki dewasa muda tersebut. “Siapakah gerangan, Tuan Ahli?”

Lelaki dewasa muda itu menyibak senyum santun. “Sampaikan kepada Maha Guru Kesatu Sangara Santang, bahwa seorang sahabat datang bertandang.” 

Kedelepan murid, walau di antaranya ada yang berada pada tingkat keahlian yang lebih tinggi, menundukkan kepala petanda hormat. Sungguh sulit bagi mereka untuk memahami apa yang membuat reaksi tubuh sedemikian patuh. Yang jelas, dapat mereka ketahui bahwa tokoh ini bukanlah sembarang ahli. 

“Kakak Lintang!” seorang gadis belia berlari menyambut. Wajahnya demikian anggun. Akan tetapi, terlepas dari raut wajah yang dapat menggoda setiap lelaki yang memandangi, gadis belia itu malah melompat dan bergelayutan manja di pundak lelaki dewasa muda itu. 

“Hush!” seorang lelaki dewasa muda lain menyusul cepat sambil memelototkan mata. “Jangan sebut nama aslinya di dalam Sanggar Sarana Sakti! Apakah dikau hendak mengundang kedatangan ahli-ahli perkasa dari Perguruan Gunung Agung!?” 

Lintang Tenggara tersenyum ramah. Ia membiarkan saja gadis belia yang kini merangkul lengannya girang. 

“Lalu, apakah nama yang sepantasnya digunakan dalam menyapa kakakku ini?” Lampir Marapi terlihat bersungut manja. 

“Dikau, kita, dapat menyapa dirinya sebagai… Balaputera Lintara.” 

“Sangara Santang…,” gerutu Lintang Tenggara. Ia tiada merasa nyaman bahwa jadi diri sebagai seorang bangsawan Wangsa Syailendra diumbar dengan demikian gampang. Walau, di saat yang sama, ia juga menyadari bahwa Sanggar Sarana Sakti di Tanah Pasundan dan Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa sangatlah bersahabat. Oleh karena itu, bilamana petinggi Sanggar Sarana Sakti menyadari kehadiran si Petaka Perguruan, pastilah serta merta mereka akan waspada dan segera memberi warta. Petinggi perguruan selain Maha Guru Kesatu Sangara Santang, tentunya. 

“Apakah cedera di sekujur tubuhmu belum kunjung pulih? Mengapakah dikau masih berbalut perban?” Lintang Tenggara berupaya mengalihkan perhatian sesegera mungkin. 

“Oh... ini…” Sangara Santang segera mengingat akan mimpi buruk dihenyak-henyak oleh seorang ahli nan demikian perkasa. Ahli tersebut juga kemungkinan masih mengincar jiwanya karena tak hendak mengambil risiko atas sebuah reinkarnasi terencana. 

“Iya… itu…”

“Balutan perban ini adalah sebagai pengingat betapa kecilnya diri ini…” Sangara Santang yang dikenal sebagai anak ajaib, yang dikisahkan tiada pernah mengetahui warna darahnya sendiri, malah pernah dibuat bermandikan darah. Sepertinya, kesan yang ditinggalkan oleh ibunda dari tokoh di depannya itu demikian membekas dalam. Traumatis. 

“Perkenalkan, wahai Balaputera Lintara dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang…” tetiba seorang gadis nan juwita datang menyapa. Sekujur tubuhnya berbalut pakaian nan lembut warnanya. 

“Hm…?” Lintang Tenggara tertegun. 

“Ini adalah Mojang Merah Muda dari Sanggar Sarana Sakti, sekaligus Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan…” Lampir Marapi memperkenalkan sahabatnya sambil menyentak lengan Lintang Tenggara. Sepertinya ia kurang senang. 

“Citra Pitaloka.” 

“Salam hormat, wahai Putri Mahkota.” 

“Cukup sapa diriku sebagai Citra Pitaloka. Kita sekarang berada di Sanggar Sarana Sakti dan diriku hanyalah salah seorang murid.” 

“Mari… mari… masuklah ke Balai Utama.” Sangara Santang mempersilakan tamu yang tiada diduga kedatangannya itu. 

“Eh…?” Baru saja Lintang Tenggara memupus keterpanaan atas kehadiran dua gadis nan mempesona, kedua matanya kemudian menangkap seseorang menuruni deretan tangga ubin dari arah Balai Utama. Pakaiannya berwarna ungu, bulu matanya lentik, tatap matanya seolah tiada memiliki hasrat. Yang paling menyita perhatian, adalah setiap satu langkah kakinya di kala menuruni anak tangga, ibarat mampu menggetarkan dunia…

“Kau…?” 

“Hai…” sapa gadis belia nan ayu dengan nada datar dan sekenanya, bahkan tiada ia menghentikan langkah. 

“Kemanakah mata Kakak memandang!?” rengek Lampir Marapi manja. “Ini adalah sahabat kami… Embun Kahyangan.” 

Lintang Tenggara tentu mengenali Embun Kahyangan dari Padepokan Kabut. Sudah beberapa kali mereka berpapasan jalan. Terlepas dari itu, segera ia melontar pandang ke arah Sangara Santang. ‘Dasar kau rubah…’ kemungkinan adalah demikian yang disampaikan dari tatapan matanya yang mencibir. ‘Enak sekali hidupmu di dalam perguruan, dikelilingi gadis-gadis belia pula.’

Sangara Santang hanya menjawab dengan senyuman tipis. Seolah menyatakan, ‘suruh siapa menjadi Petaka Perguruan…?’


“Apakah yang membawa Kakak ke Sanggar Sarana Sakti…?” Sangara Santang membuka pembicaraan di dalam Balai Utama. 

“Apakah Kakak sengaja datang karena hendak bersua dengan diriku…?” sela Lampir Marapi bersemangat, ia duduk tepat di sebelah Lintang Tenggara. 

Betapa gadis nan anggun itu sangat riang akan kehadiran Lintang Tenggara. Keduanya adalah sama-sama penghuni Kepulauan Jembalang di Partai Iblis, sehingga hubungan mereka ibarat teman dari sekampung halaman. Selain itu, gadis tersebut pernah diselamatkan oleh Lintang Tenggara dan yang lain di dalam Alas Roban, diantarkan langsung ke Pulau Dua Pongah, dan kemudian dikembalikan ke Sanggar Sarana Sakti. Tak heran bila ia merasa sangat dekat dengan Lintang Tenggara. Sebagai tambahan, keduanya pernah menginap di dalam kamar yang sama, meski tidak seranjang. 

“Lampir… izinkanlah Kakak Lintara menjawab…,” tegur Citra Pitaloka. 

Lintang Tenggara tersenyum tenang. Aura terpelajar kembali mencuat dari dirinya. “Diriku sedang dalam perjalanan, dan kebetulan saja melintas…”

“Hendak ke manakah gerangan…?” Sangara Santang menyipitkan mata. 

“Rubah… ehm… maksudku Maha Guru Kesatu Sangara Santang, diriku sedang ada keperluan di suatu tempat.”

 “Oh… keperluan apakah dan di tempat manakah gerangan?” selidik Sangara Santang. “Mungkin kami dapat membantu…?”

Intinya, sampai batasan tertentu, hubungan antara Sangara Santang dan Lintang Tenggara cukup baik. Akur. Akan tetapi, bagi sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, sekaligus Anggota Pasukan Telik Sandi, jika keberadaan Lintang Tenggara di wilayah Negeri Dua Samudera untuk menjalankan misi dari Partai Iblis, maka sepantasnya ia berubah menjadi waspada. 

“Janganlah khawatir wahai Maha Guru Kesatu… diriku sedang mengurus keperluan pribadi…” Lintang Tenggara membaca arah pemikiran Sangara Santang. Di saat yang sama, tatap matanya memberi isyarat yang hanya dapat ditangkap oleh lawan bicaranya itu. 

“Murid-muridku, kumohon tinggalkan kami sejenak.” Raut wajah Sangara Santang berubah serius. 

“Tidak mau!” Lampir Marapi beringsut mendekat ke Lintang Tenggara. 

“Lampir, pagi-pagi tadi diriku melihat sepasang sepatu keluaran terbaru di salah satu gerai di pasar.” Citra Pitaloka memang cukup peka, ia menangkap perubahan wajah sang Maha Guru Kesatu Sangara Santang. 

“Hm…?” Lampir Marapi terlihat berupaya mengambil keputusan nan teramat sulit. “Kakak Lintang, diriku akan pergi sejenak. Janganlah dikau meninggalkan Sanggar Sarana Sakti sebelum diriku kembali.”

“Apakah keperluan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?” cecar Sangara Santang segera sesudah kedua gadis belia menginggalkan Balai Utama Sanggar Sarana Sakti. 

Lintang Tenggara mulai merasa tak nyaman. Entah dari mana tebakan Sangara Santang sampai sedemikian jitu… Walau, masih dapat ia samarkan perasaan kesal dengan sebuah senyuman. Sedikit menyesal mungkin ia yang memutuskan untuk singgah ke kandang si rubah ini. 

“Memang benar bahwa diriku akan singgah sejenak di Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” Lintang Tenggara tak hendak berdusta. Berdusta pasti akan menyulut kecurigaan yang tiada perlu. 

“Lantas, apakah tujuan sebenarnya Kakak hari ini datang bertandang…?”

“Kedatangan diriku sesungguhnya adalah untuk meminjam seekor Banaspati…,” sahut Lintang Tenggara. “Menurut hematku, dikau memelihara beberapa ekor bintang siluman tersebut…” 

Di antara sekian ragam jenis binatang siluman, ada banyak yang dapat dipelihara dan dijinakkan oleh seorang ahli dengan keterampilan khusus pawang. Akan tetapi, banyak pula binatang siluman yang tak bisa, dan tak mungkin bisa, dijinakkan karena memiliki sifat yang teramat liar dan/atau haus darah. Bila menjinakkan saja tak memungkinkan, bagaimana pula caranya menyegel ke dalam Kartu Satwa!

Di Pulau Jumawa Selatan, adalah Banaspati salah satu yang teramat sukar dikendalikan. Binatang siluman ini dikenal sebagai hantu api yang bukan alang kepalang buasnya. Ia biasanya menetap di hutan kaki gunung berapi, serta suka berkeliaran dan terbang rendah, juga senang berpindah-pindah. Banaspati memiliki kecenderungan agresif terhadap binatang siluman lain. Bahkan, seringkali Banaspati menyerang dan memangsa manusia, sehingga biasa ditandai sebagai binatang siluman yang patut dihindari karena sangat berbahaya! 

Sebagaimana diketahui, saat Kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli, Mojang Kuning dari Sanggar Sarana Sakti pernah memanfaatkan binatang siluman ini di kala berhadapan dengan Canting Emas. Sangara Santang diketahui senang menangkap Banaspati untuk dimanfaatkan oleh murid-muridnya.

Sang Maha Guru Kesatu di Sanggar Sarana Sakti terlihat berpikir sejenak. “Banaspati yang tersedia, saat ini sedang dipinjamkan kepada sejumlah murid…” 

“Tidak bisakah dikau mengambil kembali untuk sementara waktu? Seekor saja. Diriku akan mengembalikan Banaspati tersebut sesegera mungkin…”

“Murid-murid tersebut sedang berlatih bersama Banaspati masing-masing. Mengambil sementara binatang siluman tersebut berarti menghambat latihan dan pertumbuhan mereka. Sebagai seorang Maha Guru, diriku tiada bisa bertindak sedemikian sembrono… kecuali…”

“Kecuali diriku menyampaikan alasan sebenarnya meminjam Banaspati…? Kupastikan bahwa bukan untuk mencelakai sesiapa pun!” sela Lintang Tenggara. 

“Kecuali… seekor Banaspati yang pernah kujanjikan untuk seseorang…” Sangara Santang tersenyum puas, layaknya baru usai memenangkan pertarungan teramat berat. 

“Cih! Rubah bedebah…” Merasa dipermainkan, Lintang Tenggara naik darah. 

“Diriku pernah menjanjikan seekor Banaspati kepada Bintang Tenggara…” Sangara Santang berujar ragu. (1)

“Serahkan saja Banaspati itu kepadaku!” 

“Tapi… Tapi Banaspati itu diperuntukkan untuk dia. Diriku sudah berjanji… Secara tak langsung sudah menjadi miliknya.”

“Miliknya… milikku… sama saja. Kami kakak-adik. Lagipula, dalam waktu dekat diriku akan bertemu dengannya.”

“Oh…? Benarkah…?”

“Cukup sudah dengan permainanmu, wahai Sangara Santang! Serahkan binatang siluman itu kepadaku! Pada waktunya nanti, aku yang akan memberikan kepadanya!” 

Lintang Tenggara pun memperoleh pinjaman binatang siluman Banaspati yang tersimpan di dalam sebuah gentong. Tanpa berbasa-basi lebih lama, lelaki yang berperawakan dewasa muda itu segera meninggalkan Sanggar Sarana Sakti. 

Kejadian yang baru saja berlangsung ini cukup membuat Sangara Santang merenungi sebuah teka-teki. Beberapa hari sebelumnya, ia sempat memperoleh laporan dari sesama anggota Pasukan Telik Sandi yang berada di Kota Ahli. Laporan tersebut kiranya memuat perihal enam petinggi dari sebuah perguruan kecil bernama Perguruan Air Damai, yang tewas dibantai. Dari perguruan tersebut, diperkirakan beberapa gentong arak terlarang tealh diambil paksa. Laporan tersebut juga memuat ciri-ciri pelakunya, yang adalah sangat seiras dengan lelaki dewasa muda yang datang secara tiba-tiba dan baru saja meminjam seekor binatang siluman. (2)

“Apakah rangkaian kejadian ini sebuah kebetulan semata…? ‘Keperluan’ seperti apakah yang membutuhkan arak Lapen Tujuh Malam dan binatang siluman Banaspati…?” Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, Sangara Santang, bergumam pelan. Sungguh ia dibuat penasaran. 


===


Bintang Tenggara telah kembali di Ibukota Kemaharajaan Cahaya Gemilang, Minangga Tamwan. Usai menyembuhkan, tanpa membuang waktu ia dan Balaputera Citaseraya segera mengantarkan kembali si gadis manis kepada keluarganya di hutan. Kedua remaja disambut oleh kepala suku Anak Dalam. 

Balaputera Ugraha, Balaputera Ardhana serta Balaputera Sevita yang sempat menjadi sandera, pun dipulangkan dalam keadaan baik-baik saja. 

Akan tetapi, setibanya di dalam benteng, Senopati Ogan Lemanta telah menghilang. Bersama dengan beberapa anak buah, ia melarikan diri. Pelanggaran yang ia lakukan dengan menculik anggota suku Anak Dalam merupakan pelanggaran yang tak ringan. Mahkamah Keprajuritan akan menjatuhkan hukuman yang mencakup pemecatan sekaligus pemenjaraan. 

Akan tetapi, bukan itu alasan utama ia melarikan diri. Atas tindakan pelanggaran sebelumnya, ia malah membahayakan jiwa tiga bangsawan muda Wangsa Syailendra yang menjadi sandera. Sebagai abdi negeri, pelanggaran kedua ini adalah yang jauh lebih serius. Hukuman pancung atas dirinya tergolong ringan, karena bisa saja mahkamah menetapkan hukuman yang sama kepada sanak keluarganya. Bayangkan saja, satu keluarga besar bisa dipancung beramai-ramai. Demikianlah betapa besarnya ganjaran hukuman bilamana terkait dengan keselamatan bangsawan Wangsa Syailendra di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Melarikan diri adalah keputusan yang bijak. Meski, jarang yang dapat melarikan diri dalam waktu yang panjang, karena dipastikan akan tertangkap jua. 

“Kalian telah menjalankan tugas dengan baik!” seru Maha Guru Ketiga Citradama. 

Perempuan dewasa itu terlihat demikian bangga. Padahal, secara teknis, penugasan yang ia berikan adalah merapal formasi segel pertahanan, sementara kelima remaja tiada merampungkan formasi segel dimaksud. Yang regu kurang akur itu capai, sesungguhnya adalah membongkar kejahatan Senopati Ogan Lemanta yang terbuai nafsu birahi. 

“Terimalah ini…” Maha Guru Ketiga mengibaskan jemari. Di saat yang sama, angka di balik Lencana Perguruan Svarnadwipa menunjukkan pertambahan nilai. Angka tersebut menandai pertambahan jumlah poin sebagai hadiah atas keberhasilan kepada setiap anggota regu. 

“Imbalan poin yang dikau peroleh sungguh melimpah…,” gerutu Balaputera Prameswara di saat kedua remaja berpapasan arah. 

“Bagaimana dengan tugas kalian…?” Bintang Tenggara berujar sekenanya. “Apakah telah rampung?”

“Regu kami hanya mendapat tugas memperkuat formasi segel pada sebuah benteng kecil di wilayah barat daya. Tiada gejolak berarti di sana…” 

“Lain waktu, mungkin kita dapat bertukar regu…” 

“Oh…” Balaputera Prameswara terlihat gugup. “Jangan… kumohon jangan sampai…” 

“Wara!” tetiba terdengar seruan lantang dari arah belakang. Bintang Tenggara sudah dapat mengenali suara ini. Balaputera Prameswara, sepantasnya, sangat mengenal betul suara yang ia ketahui datang dari seorang gadis belia. 

Kedua remaja memutar tubuh dan mendapati Balaputera Citaseraya melangkah cepat dan garang. Gadis tersebut semakin mendekat.  

“Duar! Duar! Duar!” 

Tetiba terdengar rentetan suara membahana yang menggetar gendang telinga. Bintang Tenggara segera tersadar akan posisi mereka berada kini. Sontak ia melontar pandang ke arah samping, yang mana sebuah lapangan dengan tiga lapis formasi segel berbentuk limas empat segi terpasang. Tepat di tengah lapangan, sebuah sumur dengan sebongkah batu nan besar yang melayang di atasnya, adalah pusat suara menggelegar. Empat jalinan rantai yang menjangkar batu di atas sumur berkali-kali mengendur lalu mengencang deras. Tak ayal, para ahli yang bersiaga di dalam candi kecil di keempat penjuru sumur segera terjaga. Serempak, mereka merapal fmengerahkan segenap kemampuan demi memperkuat jalinan rantai besar-besar. 

Lagi-lagi Bintang Tenggara menangkap keberadaan telapak tangan nan besar menghantam berkali-kali dari sisi dalam sumur. Walau hanya secara sepintas, telapak tangan tersebut menyibak aura nan mencekam, dalam upaya merangsek keluar. Kali ini, hantaman terasa jauh lebih besar dari sebelumnya, bahkan menyebabkan gempa bumi ringan!

Balaputera Citaseraya yang melangkah cepat, kehilangan keseimbangan dikarenakan gempa bumi tersebut… kemudian terhuyung maju. Tepat di hadapannya, reflek Balaputera Prameswara menyambut dengan telapak tangan terbuka, untuk meraup buah dada…


Catatan: 

(1) Episode 97

(2) seiras /se·i·rasn serupa; semacam;