Episode 22 - Tabib dari Tionggoan (1)



Holiang langsung merasakan khasiat racun itu, kepalanya langsung pusing dan tubuhnya lemas. “Kepalat pengecut!” makinya. 

Baru saja ia menutup mulutnya, dua tendangan dan dua pukulan yang dilayangkan Opang dan Oding mendarat di tubuh dan kepalanya, ia pun jatuh tersungkur. Kudapawana sang pemimpin pun tertawa terbahak-bahak, “Itulah akibat berani sok jago pada kami si Empat Setan Hitam dari Muara Angke yang malang melintang dari pelabuhan Sunda Kelapa! Hahaha…”

“Kalian siksa si Babah itu sampai mati! Aku ingin menikmati tubuh istri Pak Haji ini!” perintah Kudapwanan sambil menciumi tubuh istri Pak Haji dengan penuh nafsu, sementara Opang, Gandil, dan Oding mengeroyok Holiang yang sudah lemas itu.

Disaat genting seperti itu, tiba-tiba satu kendi minuman melayang dan pecah dikepala si gembrot Gandil, Opang dan Oding pun terkejut lalu menoleh ke pintu masuk kedai. Seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, berambut gondrong rapih, berkulit langsat, bermata bulat tajam, serta berpakaian serba biru tua dengan sebuah ikat kepala bermotif batik di keningnya menatap mereka dengan tajam, kemudian berkata dengan angkernya, “Hentikanlah perbuatan hina kalian! Kelakuan kalian lebih rendah daripada binatang!” Pemuda itu lalu melirik pada Kudapawana, “Lepaskan gadis itu!”

“Bangsat! Anjing anak ingusan gembel! Mengemislah di tempat lain! Kau tak melihat aku sedang mengacungkan golok di leher perempuan ini!” bentak Kudapwana yang memang goloknya masih menodongkan goloknya di leher si istri Pak Haji.

Pemuda itu menoleh kesampingnya, dengan suatu gerakan cepat yang tak terlihat mata, gelas yang ada diatas meja disampingnya itu dilempar ke tangan Kudapawana, Pranggg! Gelas dari tanah liat itu pecah, Kudapawana keluarkan seruan tertahan menahan sakit di tangan kanannya yang terkena lemparan gelas tersebut, golok di tangan Kudapawana tiba-tiba menghilang dan entah bagaimana golok itu sudah beranda di tangan si pemuda dan berbalik menodongnya! 

“Sudah kuperingatkan untuk melepaskan perempuan itu!” ucap si pemuda dengan suara bergetar tanda ia menahan amarahnya yang sudah diubun-ubun, ujung golok itu menekan leher Kudapawana hingga menetskan darah! 

Ketiga kawannya dengan gerakan yang sangat halus namun cepat segera melemparkan paku-paku hitamnya ke arah pemuda itu, pemuda itu menyabetkan golok di tangannya sekali! Tranggg!!! Kedua belas paku itu patah dua berjauhan ke bawah, para penyerang gelap itu pun terkejut melihat hal tersebut!

Ketiga brewok itu terkejut bukan main, tapi mereka segera menindih keterkejutannya dan langsung menggertak, “Hei pemuda sebutkan kau punya nama dan gelarmu! Agar kau tak mati penasaran tanpa sempat menyebutkan namamu!”

Si pemuda menotol leher KUdapawana dengan pelan, kontan tubuh Kudapawana jadi kaku tak bisa bergerak, ternyata si pemuda menotoknya! Dengan tenang ia menoleh pada ketiga begundal itu. “Namaku Jaya Laksana, dan aku tidak punya gelar ataupun julukan apapun!” jawab Jaya Lelana yang berganti nama menjadi Jaya Laksana dengan tenang namun angker.

“Bagus! Kalau begitu sampaikan salam kami pada malaikat penjaga pintu neraka!” ketiga brewok itu langsung menyerang Jaya dengan paku-paku beracunnya, Tubuh Jaya melesat menghindari paku-paku itu, lalu masing-masing satu tendangan darinya mampir dengan mesra di wajah ketiga begundal brewok ini! Ketiga brewok itu pun jatuh tersungkur!

“Kurang ajar! Masih bau kencur mau pamer!” geram Gandil. Mereka pun langsung bangkit berdiri lalu menghunus golok mereka masing-masing. Tangan kanan memegang golok, tangan kiri melemparkan paku-paku beracun, hingga serangan-serangan tersebut sangat mematikan bagi Jaya, tetapi Jaya meladeninya dengan mudah saja, sabetan-sabetan golok maupun paku-paku hitam itu selalu lewat dari tubuhnya, malah hingga pada suatu kesempatan, Jaya mengirimkan pukulan jarak jauhnya, tiga desir angin deras mengandung tenaga dalam tinggi menghantam tubuh mereka bertiga, dan kontan tubuh mereka tidak dapat bergerak! Ternyata itu adalah serangan tiga totokan jarak jauh sekaligus yang sangat lihai dari Jaya!

Setelah ketiga begundal itu tak dapat menggerakan tubuhnya, Jaya menatap mereka bertiga dengan tajam. “Kalian boleh memilih, aku lepaskan totokan kalian semua, lalu kalian minggat dari desa ini atau aku biarkan tubuh kalian tidak bisa bergerak hingga para penduduk yang marah akan mencincang kalian ramai-ramai!”

Kini ketiga orang brewok bertampang sangar itu nampak ketakutan semuanya “Maafkan kami tuan pendekar, lepaskan kami! Urusan kami hanya dengan Gundala, tuan pendekar kenal dia?”

Jaya Laksana menjawab sambil mendengus, “Tidak! Aku tidak kenal Gundala! Aku bukan penduduk desa ini, dan apabila penduduk desa ini tidak ada yang tahu kalian jangan memaksa mereka menjawab dengan kekerasan!”

Jaya lalu mengayunkan tangannya, empat larik angin deras menghantam mereka berempat hingga terpental keluar dari kedai, mereka pun dapat kembali bergerak, tapi mereka mengalami luka dalam yang cukup parah akibat pukulan jarak jauh Jaya yang membuka totokan mereka barusan. “Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran!” gertak Jaya, keempat orang itu pun pergi meninggalkan kedai yang masih hujan deras.

Seperginya keempat begundal brewok itu, Jaya langsung menghampiri Holiang “Ncek tidak apa-apa?”

Holiang pun menggeliat bangun. ”Owe tidak apa-apa, tadi owe sudah menotok jalan dalah dan minum owat penangkal lacun ini, tapi sepeltinya keadaan Pak Haji lewih gawat!”

Jaya dan Holiang pun menghampiri Pak Haji yang terluka parah akibat paku-paku hitam beracun itu, Holiang segera menotok beberapa bagian tubuh Pak Haji sementara istrinya yang masih muda hanya bisa menangis sesegukan. “Haiya lukanya cukup dalam, paku itu memang welacun, halus segela didolong kelual dali tuwuhnya!” ucap Holiang.

“Tuan Pendekal boleh owe minta tolong?” tanya Holiang.

“Tentu saja, apa yang bisa saya lakukan?” jawab Jaya.

“Tolong dudukan tubuh Pak Haji, lalu tolong alilkan tenaga dalam ke punggung Pak Haji untuk mendolong lacun jahat keluar dali tubuhnya, tenaga dalam owe sudah telkulas gala-gala lacun sialan tadi!” jelas Holiang. Jaya pun melakukan apa yang diminta Holiang, beberapa saat kemudian Pak Haji pun batuk-batuk darah lalu muntah darah, semua darah yang keluar nampak menghitam.

Holiang menarik nafas lega setelah melihat racun paku hitam itu telah berhasil didorong keluar oleh Jaya. “Syukullah lacunnya sudah kelual, tapi welum semuanya sebab kalau dikelualkan semuanya Pak Haji wisa kehilangan semua dalahnya… Tapi Teteh tidak usah khawatil, ini owe kasih obat dewa lamuan dali negeli tiongkok haaa, owat yang ini ditaburkan diatas lukanya, yang pil ini diminum sehali tiga kali, Pak Haji pasti sembuh lah!” terang Holiang pada istri Pak Haji. 

Wanita itu lalu mengambil sekantong uang dari saku Pak Haji dan hendak membayar Holiang, tapi si Ncek tua itu menolaknya, “Halah, tidak usah wayal, Pak Haji telluka gala-gala owe, jadi yang owe lakukan hanya untuk menewus kesalahan owe!”

Holiang lalu bangkit, seakan baru tersadar dengan keadaan kedai yang berantakan ini ketika ia melihat si Bapak pemilik kedai dan putrinya menangis meratapi nasib apes mereka hari ini, Holiang lalu mengambil sekantong uang dari balik bajunya. “Bapak pemilik kedai, maaf owe sudah bikin kedai ini welantakan, ini telimalah walau tidak sebelapa untuk mempelbaiki kelusakan kedai ini.” Si Bapak kedai itu menerima uang pemberian dari Holiang itu lalu berterima kasih pada si Ncek tua ini.

Jaya menarik nafas lega melihat semua sudah selesai, dia lalu melihat keluar, hujan sudah reda, maka ia pun pamit permisi, tapi segera ditahan oleh Holiang. “Tuan Pendekal tunggu!”

Jaya menoleh, “Ada apa Ncek?”.

Holiang lalu mengajak Jaya jalan berbarengan “Haiya jangan tinggalin owe dulu, owe mau beltelima kasih kalena tuan sudah menolong owe, kalau tidak ada tuan tidak tahu nasib owe bagaimana.” 

Jaya tersenyum lalu merendah “Ah Ncek bisa saja, sama-sama Ncek, bukankah sesama manusia kita mesti saling menolong.”

“Tuan jika anda belkenan saya ingin minta tolong satu hal lagi.” ucap Holiang.

“Kalau saya sanggup, Insyaallah saya akan berkenan menolong Ncek.” jawab Jaya.

“Owe wenal-wenal khawatil sama nasibnya Julagan Kalta setelah empat begundal tadi masuk ke desa ini, Julagan Kalta adalah saudagal telholmat yang mullah hati yang senang menolong lakyat-lakyat yang membutuhkan!” 

Jaya agak heran dengan ucapan si Ncek, “Juragan Karta? Bukankah yang dicari keempat begundal tadi bernama Gundala?”

Holiang menepuk-nepuk keningnya sendiri. “Haiya owe lupa! Julagan Kalta itu dulunya belnama Gundala, owe khawatil meleka belempat hendak menculi halta Julagan Kalta!”

Jaya menangguk-ngangguk. “Oh jadi Gundala itu adalah Juragan Karta? Dimanakah rumah beliau?”

Holiang menunjuk ke atas puncak bukit, “Lumahnya Julagan ada di puncak wukit itu… Kita halus menolongnya sebab keempat begundal itu benal-benal jahat! Dua hali yang lalu desa sebelah dioblak-ablik meleka, wanyak kolban tak beldosa!”

Jaya mengangguk-ngangguk, “Ya mereka harus dihentikan” tapi kemudian dia jadi penasaran pada motif si Ncek ini “Oya kenapa Ncek ingin menolong Juragan Karta?”

Holiang tertawa cengengesan. “Julagan Kalta olang baik, musti ditolong, dia yang bayalkan setiap walga desa yang tidak mampu buat bayal obat owe”


Jaya menyeringai, “Oh jadi alasan ncek menolong Juragan Karta karena uang?”

Holiang mengangguk “Itu salah satunya, tapi kau pasti akan mengelti begitu beltemu dengan Julagan Kalta”

Si Ncek juga merasa perlu menjelaskan sesuatu pada Jaya, “Tapi tuan pendekal jangan salah duga juga, owe mau mengobati siapa saja, yang kaya ataupun yang miskin, yang mampu silakan bayal, yang tidak mampu tidak usah bayal, hanya kebetulan Julagan Kalta olang yang sangat baik, beliau dengan senang hati membayalkan obat bagi meleka yang tidak mampu.” jelas Holiang, Jaya pun mengangguk.

Mereka terus berjalan hingga tibalah mereka di tepi sungai yang sedang pasang akibat hujan deras tadi. “Hmm… Sungainya sedang pasang, Ncek bisa menyebrang?” Tanya Jaya.

Holiang tidak langsung menjawab, dia mengeluarkan sebuah kain panjang dari buntelan yang ia bawa, ia lalu mengambil sebongkah batu kali besar, sambil bernyanyi-nyanyi lagu mandarin, dia mengikatkan batu itu dengan kainnya dan melilikan kain itu ke tubuhnya. “Jago-jago Kungfu di Tiongkok tidak memellukan pelahu untuk menyeblang!” ia memutar-mutarkan batu itu di udara dan melemparkannya ke sebrang, tubuh tua si Ncek itu melayang mengikuti batu itu menyebrang ke tepi sungai!

Jaya kagum melihat cara menyebrang si Ncek itu, “Ilmu meringankan diri orang tua itu sangat sempurna!” gumamnya dalam hati.

“Woi Tuan Pendekal, sekalang gililan Tuan Pendekal menyebrang menggunakan ilmu silat tuan!” teriak Holiang dari sebrang sungai.

Jaya pun melompat ke tengah sungai, kakinya menotol air sungai yang sedang pasang itu bagaikan menotol daratan saja. Dua kali kakinya menotol air sungai sebagai piJayan untuk menyebrang, sampailah ia disebrang sungai, Holiang berdecak kagum melihat cara Jaya menyebrang sungai. “Haiya cala menyeblang Tuan Pendekal benal-benal hebat! Ilmu melingankan dili Tuan sudah sangat sempulna!”

Jaya pun balas memuji Holiang, “Ah ilmu meringankan diri Ncek juga sangat hebat, cara Ncek menyebrang kemari sungguh mengagumkan!” balas Jaya. “Ilmu bela diri Ncek juga hebat, tadi saya sempat melihat ilmu bela diri Ncek, gerakan-gerakannya sangat ringan, nampak tak bertenaga tapi sangat cepat dan sangat bertenaga!” lanjutnya.

“Bela dili di Tiongkok namanya Kungfu. Julus owe tadi namanya Taichi, Julus yang paling dasal dali ilmu kungfu, Taichi memanfaatkan tenaga lawan sehingga semakin besal tenaga lawan, semakin hebat efek Taichi pada tubuhnya!”

Jaya menngangguk-ngangguk, “Memanfaatkan tenaga lawan? Hebat sekali Taichi itu Ncek.” 

Holiang tertawa lebar. “Tapi Ilmu Silat tanah pasundan juga hebat-hebat, banyak yang ajaib dali ilmu silat Pasundan! Tadi owe menyaksikan sendili bagaimana hebatnya ilmu silat Tuan Pendekal yang bisa membekuk keempat begundal itu dengan mudah!”

Jaya jadi merasa tidak enak dengan pujian itu “Ah ilmu Ncek juga luar biasa… Nampaknya semua ilmu bela diri mempunyai keunikannya tersendiri sesuai dengan budaya tempat mereka dilahirkan”

Holiang mengacungkan jempolnya “Owe setuju! Itu tepat sekali Tuan Pendekal!”

Mereka asyik mengobrol tentang ilmu bela diri selama perjalanan ke rumah Juragan Karta, dari obrolan tersebut tahulah Jaya bahwa Holiang adalah seorang Tabib ahli pengobatan dari perguruan Kungfu Wudang di Tiongkok, ia mengembara sampai ke Pasundan untuk mengamalkan ilmu pengobatannya, ia sudah sepuluh tahun mengembara di Bumi Parahyangan ini berkeliling untuk mencari orang yang membutuhkan pengobatannya, hingga akhirnya sampai di Kaki Gunung Tangkuban Perahu dan bertemu dengan Juraga Karta yang memintanya untuk mengobat warga-warga desa yang tidak mampu.

Menjelang Bada Ashar, sampailah mereka di sebuah gedung terpencil yang ada diatas bukit ini, meskipun sudah hampir senja, tapi keadaan gedung itu masih ramai, kereta-kereta yang mengangkut hasil bumi nampak keluar masuk ke gedung itu, beberapa warga desa yang membutuhkan bantuan Sang Juragan pun nampak mengantri untuk mendapatkan bantuan bahan pokok.

Tapi yang menarik perhatian Jaya dan Holiang adalah banyak sekali pengemis yang berdatangan ke gedung itu. Pakaian mereka seragam, semuanya berbaju kumal sobek-sobek, menggunakan topi caping lebar yang sudah rusak, di punggungnya ada gulungan caping bambu, dan semuanya membawa tongkat kayu, gerakan mereka sungguh ganjil. “Minta sedeqahnya Tuan, agar perjalanan tuan di alam Baqa mudah!” ucap mereka semua, beberapa pengawal Juraga Karta segera menindak mereka, tapi rupanya mereka bukan pengemis-pengemis sembarangan, dengan mudah mereka membunuh pengawal-pengawal Juragan Karta! Pertumpahan darah pun langsung terjadi!