Episode 57 - You're Fired!



"Nicholas!" sahut Nathan. "Kakak tahu kamu ada disitu dan melihat ini semua. Kamu benar-benar tak pandai bersembunyi. Kemarilah, biar aku ajarkan cara melakukannya dengan benar."

Nicholas langsung dibuat merinding ketakutan. Ia tahu ia sudah ketahuan dan akan ada konsekuensi besar kalau ia tidak menunjukkan diri. Nicholas keluar dan menunjukkan dirinya. Ia terlihat inferior sekali di rumahnya sendiri.

Nathan berjalan cepat mendekati Nicholas. Dan disetiap langkahnya membuat jantung Nicholas berdegup kencang. 

Pukk!

Nathan menepuk pundak Nicholas dan melewatinya dengan terburu-buru sambil berkata, "Sini, ikuti aku. Aku ajarkan caranya langsung lewat misi ini." 

Nicholas berjalan mengikutinya dan langkahnya harus cepat agar tidak ditinggal kakaknya. "Kau mengajakku dalam Quest-mu?"

"Ya... kau lihat dan perhatikan saja." katanya dengan terburu-buru. "Ketuanya tercatat sebagai kelas S dan memiliki ratusan anak buah yang kuat-kuat. Mereka penjahat pelarian dari Fel."

"Fel? Negara barat yang sangat panas itu?"

***

Nicholas dan Nathan berjalan menuju bawah tanah rumah mereka, semakin ke bawah, semakin gelap tempatnya, akan tetapi juga semakin luas tempatnya. Disana terdapat tavern khusus milik keluarga obsidus. Tempat para prajurit pribadi keluarga obsidus dilatih dan tinggal disana. Jumlah mereka sekitar 40 sampai 50 orang. 

Mereka sebagian besar adalah mantan kriminal yang dihapus nilai buronannya yang dulunya adalah target buron keluarga ini. Setelah kalah, beberapa dari mereka, dengan keinginan sendiri memilih mengabdi pada keluarga Obsidus dan ditanggung hidupnya disini. Syarat pertamanya adalah mereka bisa menggunakan Aura, atau punya kemampuan yang sama kuatnya dengan pengguna Aura. 

BRAAKK !!

Nathan masuk dengan menggebrak pintunya keras-keras. Ruangan ini gelap dan hanya diterangi lewat obor api yang di pasang di dinding. Tempat luas ini tak lebih dari pemandangan bawah tanah dengan tembok-tembok batu yang memiliki banyak meja, kursi serta tempat tidur dan tempat latihan. Di tengah-tengah tempat ini ada Bartender, koki dan beberapa Waiter wanita. Jika tidak ada panggilan, mereka biasanya hanya menunggu disini saling melakukan duel maupun hanya bermalas-malasan saja. 

"Aku perlu dua puluh orang dari kalian ikut dalam misi ini! Lawannya ada ratusan. Kalian akan terhibur dalam misi ini. Dan ketuanya biar aku sendiri yang urus."

"Hee? Kau juga ikut Nicholas?" kata wanita kurus dengan codet dan pedang di punggungnya.

"Nathan kau mengajak Nicholas? Dia belum siap!" kata orang kekar yang melakukan push-up dengan satu tangan dan terbalik.

"Brengsek diam kau!" balas Nicholas ketus.

"Biar kusisain beberapa teri untuk kau hadapi Nicholas wuahahahhaa!" kata orang gemuk dengan kapak besar di sampingnya yang sedang menyantap daging besar.

"Dan kubiarkan teri-teri itu menusuk kalian dari belakang."

"Woahahahaha!" semuanya malah tertawa mendengar ancaman Nicholas.

Nicholas mengepal tangannya dan mengertakan giginya.

 "Ya, dia juga ikut." kata Nathan di tengah gemuruh tawa mereka. "Aku harap kau tidak mati Nicholas." 

Tanpa menunggu lama dua puluh orang yang diminta langsung maju mendekati Nicholas dan Nathan dan berbari rapih di depan mereka. Mereka memilih maju berdasarkan inisiatif sendiri dan jika sudah dua puluh orang terpenuhi, mereka tidak memaksa yang sudah maju untuk mundur. Mereka sudah dilatih seperti itu.

"Baik, kalian semua ikut denganku." Kata Nathan pada dua puluh orang yang berbaris rapih itu. "Kenakan jubah hoodie hitam dan topeng kalian, jangan ada identitas pada diri kalian. Dan segera ikut aku keatas."

***

Di pusat kota Vheins saat siang hari, Sinus dan Velizar berjalan-jalan tanpa punya tujuan.

"Puahhh sudah hari terakhir liburan." kata Sinus sambil meregangkan tangannya ke atas.

"..." Velizar dengan wajah datar berjalan di samping Sinus.

"Duh... kenapa kalau libur, hari-hari terasa cepat sekali berlalu sih." Sinus menepuk-nepuk perutnya. "Aku merasa agak gendutan, kemarin makan begitu banyak makan-makanan mantap!"

"Mantap?" Velizar mempertanyakannya. "Aku rasa biasa saja." katanya tanpa menoleh sedikitpun.

"Biasa gimana? Yang kemarin tuh makanan mahal semua! Si Nicholas bisa habis seratus dua ratus ribu Rez kemarin tuh. Dan kamu bilang itu biasa saja."

"Ya, memang biasa saja." kata Velizar datar selagi terus berjalan dengan memeluk pedang katananya. 

"Kau punya masalah dengan lidah atau kepalamu sih?"

"Entahlah," Velizar mengangkat bahu. "Aku merasa baik-baik saja."

"Geez! Kau ini..." Sinus dibuat kesal oleh sikap cuek Velizar. "Hah... Kalau sudah puas begini, aku jadi punya tenaga ekstra untuk bully Hael lagi. Tapi dimana dia sembunyi ya? Sudah berapa hari gak kelihatan, dicari-caripun tak ada."

"Ohh... kau mulai kangen dengannya?" tanya Velizar dengan nada datar.

"Ya... aku benar-benar kangen." Kata Sinus dengan mengepal tangan dan menubruk-nubruknya pada tangan yang satunya. "Kangen untuk meninjunya, memukulnya, menindasnya."

"Hah... sudah berapa kali kubilang, menindas yang lemah itu tidak menarik."

"Bisa-bisanya bilang begitu. Memang ada hal yang membuatmu tertarik?"

"Ya... yang menarik memang tidak banyak." Velizar menghela nafas. "Semua yang ada di sekelilingku, terasa membosankan."

"Aish!" Sinus jengkel. "Padahal sewaktu kita masih kecil, kamu tidak begitu..."

"Hei kalian! Sinus... Velizar... tunggu-tunggu!" sahut seseorang yang terburu-buru yang datang dari belakang.

"Huh?" Sinus berbalik arah karena mendengar seseorang memanggil mereka dari belakang.

"Siapa sih?" kata Velizar.

"Hosh... hosh... akhirnya ketemu juga. Disini kalian rupanya."

"Ohh... pegawai sekolah rupanya. Ada perlu apa?" tanya Sinus santai dengan bersandar pada telapak tangannya.

"Kalian dipanggil pak kepala sekolah untuk suatu urusan. Kalian diminta harus datang segera. Paling lambat jam 12 nanti. Kalian sudah harus menemui pak kepala sekolah di ruangannya. Jadi tolong sempatkan diri untuk kesana ya."

"Haduh... lagi libur begini. Disuruh ke sekolah lagi." Sinus mengeluh.

"Urusan apa?" tanya Velizar datar.

"Entahlah, pak kepala sekolah tidak bilang. Aku dipesan supaya kalian datang saja. Sudah ya... dadah."

"Be-begitu doang?" Sinus heran. "Urusan apa sih?"

"..." Velizar diam saja dengan wajah datar.

***

Mereka datang ke ruang Vlaudenxius segera, disana sudah ada Volric yang duduk dengan kepala tertunduk. Dan dua kursi di sebelah kirinya, sudah disiapkan untuk mereka berdua.

"Loh... ada pak guru Volric juga?" kata Sinus sambil menunjuknya santai.

"Di-diam kamu..." jawabnya dengan nada tegas namun ketakutan, ia ingin membentak Sinus sebagai instruktur tapi terlalu takut melakukannya di depan Vlaudenxius.

"Kalian berdua silahkan duduk." Vlaudenxius mempersilahkan.

Sinus duduk dengan santainya, seolah yang di depan ini adalah teman seangkatannya. "A-ada perlu apa sih pak? Baru kali ini aku datang kemari, te-tempatnya bagus ya." tanya Sinus sambil melihat-lihat sekelilingnya, ruangan besar penuh dengan rak-rak buku dan globe besar dengan dua cincin logam mengelilingi globe itu yang berada di belakang kursi besar Vlaudenxius.

"Tak perlu basa-basi lagi," Vlaudenxius menatap serius. "Pertanyaan pertama. Kemana Hael pergi?"

"Hael? Kita kesini untuk bahas anak itu?"

"CEPAT JAWAB !!" bentak Vlaudenxius.

"I-i-i-i-iya pak?!" Sinus terkejut. "A-aku tidak tahu pak, dari kemarin aku cari-cari juga tidak ada."

"Dan kamu?" Tatap Vlaudenxius ke Velizar.

Velizar geleng-geleng kepala. "Begitupun aku." katanya dengan tenang.

"Pertanyaan kedua," Vlaudenxius berkata dengan tegas. "Apa kalian benar-benar pernah atau lebih tepatnya sering membully Hael?"

"Ti-tidak benar pak, kami teman kok... I-iya... te-"

"Sering pak!" potong Velizar dengan nada tinggi, tapi raut wajahnya tak berubah. "Tapi hanya Sinus saja, aku tak ikut-ikutan."

"VELIZARRR !!" amarah Sinus meledak-ledak dalam hatinya. Tapi tak sedikitpun ia perlihatkan karena takut dengan Vlaudenxius. Ia ingin sekali memukul kepala dan wajahnya, tapi yang ia lakukan hanya menendang kakinya secara tersembunyi.

"Bagus, lebih baik jujur dari awal. Aku hargai itu." kata Vlaudenxius. "Pertanyaan ketiga, apa guru kalian, Volric. Sering membully Hael juga?"

"Se-sering pak! Sering banget." Velizar membongkarnya. "Dari mempermalukannya di kelas. Menguncinya di ruang kosong sampai..."

Di sisi kiri dan kanan Velizar, terasa ancaman jahat dari Sinus dan Volric. Meskipun begitu, ia tetap bisa tenang tak berekspresi.

"Cukup!" kata Vladenxius.

Volric tertunduk lemas hingga badannya membungkuk dan kepalanya ditutupi kedua tangannya seperti anak yang takut dipukul. "Ma-matilah aku. Matilah karirku. Tamatlah riwayatku."

"Apapun yang kalian katakan, aku langsung tahu kebenarannya melalui buku kecil ini." Vlaudenxius memperlihatkan buku hitam kecil yang adalah diari Hael sendiri. "Catatan di buku ini telah menceritakkan semuanya." 

"Bu-buku?" Sinus bertanya-tanya. "Boleh kulihat pak?"

Vladenxius memberikannya dengan memutar tangannya tanpa menggerakkan lengan.

Dan segera setelah di tangan Sinus, ia langsung membuka dan membacanya. Disana tertulis semua kejadian bully yang ia alami, bagaimana di bullynya, kapan kejadiannya dan apa efeknya pada Hael pada hari kejadian itu terjadi.

Sinus yang membaca itupun, seketika merasa lemas. Karena dalam 2 halaman pertama di bagian tahun ketiganya saja. Nama Sinus, sudah berkali-kali muncul di buku itu.

"Pa-pa-pa-pak... dimana bapak dapat buku ini?" tanya Sinus dengan gemetar.

"Sewaktu turnamen selesai, seorang staff kebersihan menemukan buku ini di ruang rawatnya Alzen. Lalu dia membawanya kemari dan memberikannya padaku. Aku sudah baca habis isinya. Aku benar-benar luput, bahwa ada pelajar yang begitu menderita disini."

"A-a-a-a-Alzen... kok bisa!!?" Sinus terkejut setengah mati, tapi ia pendam sendiri.

"Uhumm..." Vlaudenxius berlagak batuk untuk menyampaikan sesuatu secara tak langsung.

Wajah Volric seketika menjadi biru dan hanya bisa menunduk takut. 

"Volric... dengan bukti ini, kau resmi dipecat!" tegas Vlaudenxius.

"Di-di-di-dipecat pak?" Volric mencoba berkompromi.

"Ya... kecuali kau lebih ingin dipenjara."

"Lebih baik di penjara saja pak... asalkan gajiku masih tetap. Aku masih banyak tagihan, rumahku di Crystal District bahkan belum lunas. Kalau begini, bisa-bisa aku cerai pak..."

"Ohh? Kau pikir kau dipenjara dimana? World Prison."

Mendengar itu Volric dibuat semakin lemas dan pucat. "Ti-ti-ti-tidak mungkin. Penjara itu kan hanya untuk tahanan kelas S pak."

"..." Vlaudenxius hanya memandangnya dengan tatapan mengancam.

"Habis sudah hidupku, karirku, semuanya." Volric bangkit berdiri, berjalan mundur selangkah dan sujud meminta ampun di depan Vladenxius. "Tolong pak, jangan bawa aku ke penjara paling kejam itu."

"Ckckck, sebagai instruktur disini, apa akal sehatmu sudah hilang ya?" balas Vlaudenxius. "Mana mungkin kau dipenjara disana tanpa ada alasan yang kuat. Kau kupecat, penghasilanmu dari Vheins lenyap sudah. Kau di blacklist dari dunia mengajar se-azuria. Setelah itu, terserah dirimu. Kalau kamu hancur dan bergabung pada guild kriminal. Juga tidak masalah bagiku. Intinya, kau dipecat."

"Pak... pak... pak gubernur apa tidak bisa dipikirkan lagi?" Volric menangis keras-keras. "Tolonglah pak Vlau, aku masih punya istri dan anak yang harus kuhidupi, kalau aku di..."

"Silent !!'

Vlaudenxius meng-cast sihir pembungkam. Mulut Volric masih bergerak, namun tak mengeluarkan suara.

"Teganya kau pak Vlau... habis sudah... habis sudah hidupku..." katanya lewat gerak mulut namun tak mengeluarkan suara. 

"Gu-guru..." Sinus iba padanya. "Pak Vlau? Apa bapak tidak bisa beri keringanan pada Guru?"

"..." Velizar tetap cuek seperti biasa. Tatapan mata setengah terbukanya itu tetap menjadi ekspresi Velizar saat ini.

"Apa kalian kalian berdua juga bebas hukuman?" balas Vlaudenxius.

"...!!?" Sinus terkejut dan seketika bungkam.

Dan Velizar tetap saja datar. Detak jantungnya pun tidak berubah, ia benar-benar tenang.

"Velizar, tidak ada hukuman buatmu." kata Vlaudenxius. "Tapi hukumanmu berasal dari temanmu ini."

"Apapun hukumannya aku terima."

"Kau dilarang bergaul, bicara atau bahkan bertemu dengan Sinus lagi."

"Oke..." Velizar beranjak naik. "Akan kulakukan."

"Hei! Kau mau kemana, sini dulu!" kata Sinus dengan gelisah.

"Hukumannya sudah berjalan kan? Pak Vlau?" tanya Velizar.

"Benar sekali." jawab Vlaudenxius dengan menganguk.

"Selamat tinggal Sinus. Kau teman yang baik." Kemudian Velizar beranjak pergi keluar ruangan, meninggalkan Sinus tanpa ada rasa kehilangan sedikitpun.

"Dan terakhir kau! Sinus..." tatap Vlaudenxius dengan wajah mengancam. "Kau dikeluarkan dari sekolah."

Sinus tersungkur lemas, di depan Volric yang sedang bersujud minta ampun. Ia dan Volric, kini bernasib sama.

***