Episode 56 - North Azuria War



"Adududuh... maaf-maaf!" kata pria berkacamata bulat itu dengan tergesa-gesa, mengambil kembali buku-buku yang berserakan di tanah. "Aku sedang buru-buru."

"Tidak, tidak, tidak apa-apa." balas Alzen yang tak keberatan sama sekali. "Tenang saja, tak usah dipikirkan. Sini biarku bantu."

"Ti-tidak usah, tidak usah," Pria berambut putih itu menolak dengan sopan. "Aku bisa sendiri kok. Tak perlu repot-repot." Ia segera mengambil bukunya cepat-cepat, memeluknya erat-erat dan selang berapa meter. Ia menabrak orang lain di dekatnya lagi.

Alzen mendengarnya dari jauh, ia meminta maaf lagi, pada orang berikutnya yang ia tabrak. 

"Tuh orang... gak bisa lihat jalan apa?" kata Alzen dengan menyipitkan mata.


"Chandra! Aku pulang!" kata Alzen dengan sukacita.

Sambil membuka pintu kamarnya. Disana ia mendapati, Chandra sedang duduk diatas kasur dengan kepala tertunduk dan wajah berlinang air mata yang sudah kering di pipinya. "Loh!? Chan? Kok sedih gitu? Ada apa?" Alzen berjalan menghampirinya/

"Baca nih." Chandra memberikan selembar kertas putih lusuh ke Alzen dengan mengayunkan tangannya.

"Kenapa sih?" Alzen bertanya-tanya. Ia segera mengambil dan membaca surat itu.

Isinya...

"Halo, anakku tercinta. Bagaimana sekolahmu disana? Semoga belajarmu menyenangkan ya. Kalau kamu sudah lulus nanti, cepat-cepat kembali dan jadilah Healer yang hebat untuk negara kecil yang tengah di landa perang ini, dan tolong orang-orang yang menderita disini. Ayah, ibu, kakak dan adikmu akan terus berjuang disini sampai kamu kembali. Ibu pastikan kita semua akan terus hidup sampai  hari dimana kamu lulus dan pulang nanti.

Aku tidak ingin buat kamu bersedih, bukan itu niat ibu menulis surat ini. Tapi aku ingin kamu juga mengetahui yang sebenarnya terjadi disini, saat ibu menulis surat ini. Maaf, karena ibu harus membahasi kertas yang langka ini dengan linangan air mata ibu. Tapi ibu ingin kamu tahu.

Perang semakin menjadi-jadi di tanah air kita ini nak. Tanah yang dulu hijau subur, sekarang dinamai orang-orang dengan sebutan Wasteland of Nusa. Dan lagi pamanmu sudah pergi meninggalkan kita lebih dulu. Ia ditembak mati oleh tentara dari Southern Alliance sewaktu pergi Scavenging di tengah malam. Kami semua tak menyangka, para tentara dari kedua kubu, menjadikan tempat itu sebagai lapangan pertarungan mereka untuk serangan dadakan terhadap kubu lawan. Paman berakhir dikepung dan meninggal sebagai pahlawan buat kita. Ia sempat kembali, tapi tak ada yang mampu menyembuhkannya, ia meninggal dengan tersenyum.

Lalu, teman mainmu dulu, sewaktu negri ini masih hijau dan subur, sewaktu matahari terbenam, ia bersiap mengintai keadaan sekitar seperti biasa. Tapi waktu itu, Ia gagal karena sedikit kelalaian dan tertangkap Northern Alliance saat hari mulai gelap. Kabar para pengungsi disini, ia di gantung di kemah tentara mereka, karena dicurigai sebagai mata-mata kubu lawan. Padahal dia anak yang baik, tapi kenapa nasibnya begitu sengsara.

Adikmu juga sedang jatuh sakit, kalau saja kamu sudah jadi Healer yang hebat. Sakit penyakit di rumah bobrok ini, setidaknya bisa diatasi karena ada kamu. Kamu tahu kan? Dokter atau Healer langka sekali di sini. Hampir-hampir tidak ada. Orang-orang yang pandai bertarungpun, jadi melemah karena kurangnya gizi di tempat ini. Kita makan apa saja yang tersedia, bahkan tikus sekalipun kita mau tak mau harus memakannya.

Kakakmu juga berusaha sebaik-baiknya supaya ia tidak tertangkap sewaktu melakukan Scavenging di malam hari. Kami terus berupaya sebisa mungkin. Kami akan terus menunggumu disini. Aku janji, kami semua akan terus hidup sampai saat dimana kamu pulang nanti. Rajin-rajinlah belajar ya nak. Kami semua sayang dan percaya padamu. Kami menantikanmu disini."

Oleh Allina Wang, ibumu.

"Me-mengerikan..." komentar Alzen dengan perasaan merinding. "Su-surat apa ini?"

"Masih ada lagi di belakangnya." balas Chandra dengan murung.

Alzen membalik surat itu dan mendapati nama-nama korban dan cara matinya. Beserta para Survivor yang masih hidup dan para Survivor baru, yang namanya masih asing buat Lio. 7 orang mati termasuk paman dan teman mainnya tadi, 13 dari 20 Survivor masih hidup. Ditambah 4 Survivor baru, 3 orang dewasa dan 1 anak-anak.

"I-ini sebenarnya apa?" tanya Alzen sambil membolak-balikkan selembar kertas lusuh itu.

"Waktu hari pertama disini, aku belum sempat cerita ya..." kata Chandra yang masih murung dengan air mata yang tak bisa ia bendung.

"Yang waktu itu ya," kata Alzen. "Pembicaraan kita terpotong dan kau tak pernah membahasnya lagi."

"Saat Azuria telah menjadi damai..." kata Lio menjelaskan. "North Azuria malah memulai perang." katanya dengan gemetar. "Disana terjadi perang antar dua kubu, Selatan dan Utara. Southern Alliance dan Northern Alliance. Merah dan Biru, tapi pada dasarnya, mereka semua sama saja bagi kami yang jadi korban perang mereka."

"..." Alzen diam mendengarkan.

Sambung Lio, setelah berhenti sejenak. "Dan sialnya... lokasi kampung halamanku ada di tengah-tengahnya. Tempat yang dulu hijau subur, damai dan harmonis. Dijadikan medan perang yang hanya membawa kehancuran. Hingga dalam 1 tahun saja, kampung halamanku telah berubah menjadi tempat yang disebut Wasteland of Nusa. Tanah hijau itu, kini telah menjadi tandus, kering, yang hanya menyisakan puing-puing dan rumah hangus nan bobrok yang bisa roboh kapan saja. Kami mau tak mau harus tinggal di tempat seperti itu. Bersembunyi di bawah tanah yang ditutupi puing-puing untuk menghindari kontak dengan para tentara yang berpatroli."

"L-Lio..."

"Namun dibanding penderitaan mereka, aku malah enak-enak berada di negara yang damai dan indah. Meski dengan membawa misi berat yang ditaruh dipundakku. Tanpa aku punya pilihan untuk menolaknya, semata-mata karena hanya karena aku yang dikaruniai kemampuan sihir ini." kata Chandra sambil menatap kedua telapak tangannya.

"Maaf Chan, aku tidak tahu." Alzen iba padanya.

"Tidak, tidak. Kau tidak perlu minta maaf." Chandra beranjak naik dan menepuk pundak Alzen untuk bicara empat mata. "Aku ceritakan ini padamu karena kau sahabatku yang paling dekat di sini. Aku ingin kau tahu tanpa memandangku dengan rasa kasihan. Aku tak ingin itu."

"C-Chandra..."

"Mungkin ini memang sudah takdirku, dengan api dan air. Aku bukan hanya bisa menyembuhkan. Tapi juga bisa melindungi mereka yang tak berdaya di perang itu.Memang aku bukanlah yang terpintar atau yang terbaik. Tapi akulah yang terpilih oleh permainan sang takdir." kata Chandra dengan tatapan serius. "Surat ini memang membawa duka, namun kata-kata ibuku inilah yang akan terus mengingatkanku. Tentang mengapa aku ada disini. Belajar sihir disini. Aku kesini bukan untuk senang-senang, atau sekedar belajar semata. Aku kesini untuk jadi Healer nantinya. Healer untuk orang-orang di kampung halamanku dan aku tetap bisa bertahan hidup di situasi perang. Karena aku punya elemen api yang akan melindungiku dan orang-orang yang penting bagiku."

Alzen tak tahu harus bilang apa, ia mendapati Chandra kini berubah menjadi sangat serius.

Tanpa Alzen siap, Chandra langsung mengambil surat itu dan membakarnya langsung dengan sihir apinya saat itu juga.

"Hee!? Kok dibakar!!?"

"Aku tak perlu kertas ini untuk mengingat pesan ibu, semua sudah ada disini." tunjuk Chandra ke kepalanya. "Karena dalam perang, tidak semuanya adalah seorang tentara."

***

Pagi hari di Obsidus Mansion. Nicholas sedang duduk diatas sofa merah hitam seperti dekorasi rumah vampir. Ia duduk membaca buku tebal, sangat tebal, bercover hitam dari kayu yang keras dengan pahatan tengkorak. Di buku itu tertulis semua ilmu hitam tingkat tinggi. Judul buku itu, Obsidus Dark Art's

Drapp! Drapp! Drapp!

Nicholas mendengar bunyi langkah kaki, dan fokusnya teralih oleh suara itu.

"Ohh? Kau sudah pulang? Sejak kapan?" tanya seorang pria tinggi berambut hitam yang disisir rapih ke samping. Dengan paras wajahnya yang sangat tampan bagai seorang pangeran. Dia adalah Nathan Obsidus, putra pertama Nero. Kakak laki-laki Nicholas. Ia memakai jubah hitam merah seperti Nero, ayahnya. Jika saja jubahnya dibuka, maka perut sixpacknya akan terpampang jelas. Dengan langkah yang terburu-buru. Ia masih bergegas melakukan sesuatu, selagi menyapa adiknya yang sudah tiga bulan lamanya tidak di rumah.

"Hmm?" Nicholas menutup bukunya dan melihat sosok tinggi dan gagah kakaknya dengan tatapan malas menanggapinya. "Dia di halaman belakang, ada banyak tamu disana." jawabnya dengan ketus.

"Begitu ya," dengan segera Nathan mengabaikan adiknya. "Maaf ya... aku buru-buru sekali. Ayah! Ayah! Aku perlu 20 orang Black Mage yang kuat untuk memback-up ku di dungeon, targetku bersembunyi di dalam sana." sahutnya sambil terus berjalan. "Ayah! Ayah! Kau dengar aku?!"

"Cih..." kesal Nicholas sambil mengkertakkan gigi. "Sikap sok sibuknya itu yang paling kubenci." ucapnya dengan suara pelan.

Nicholas kembali membuka bukunya, tapi selang berapa lama. Ia kembali teralihkan dan penasaran dengan apa yang sedang dilakukan kakaknya. Perlahan ia berjalan mengintip dan melihat aktifitas mereka dari balik jendela, seperti seorang anak kecil yang penasaran pada urusan orang dewasa.

***

Di halaman belakang, Ayahnya sedang duduk di atas meja bundar melayani para sepasang suami istri tua yang terlihat berasal dari keluarga kaya raya.

"Duh! Ayah... kau tidak dengar suaraku ya?" kata Nathan dengan langkah tergesa-gesa menghampiri ayahnya. "

"Nah ini dia putra pertamaku, Nathan Obsidus namanya. Dia sangat berbakat. Paling berbakat!"

"Apa dia kosong?" tanya kakek tua kaya raya itu. Ia terlihat sangat tua, kulit-kulit wajahnya sudah kendor dan turun. Kepala dan badannya bulat dengan banyak bintik hitam akibat usia, kakek tua ini hanya memiliki beberapa helai rambut putih yang tersisa, tubuhnya bungkuk dengan ditopang tongkat hitam. Ia mengenakan jas bergaris-garis. 

Di samping kakek tua itu, ada istrinya yang terlihat sudah stroke dan hanya bisa duduk di kursi roda tanpa bisa apa-apa. Yang di dorong oleh pembantu wanita untuk menggerakkan kursi rodanya.

"Mana posternya? Siapa targetnya dan berapa harganya?" tanya Nathan tanpa basa-basi.

"Hah!?" kakek tua itu tidak menyangka dengan kelancangan Nathan yang tanpa basa-basi itu. "Perkenalkan diriku dulu, aku adalah-"

"Sudah tak perlu basa-basi, aku hanya perlu tahu siapa orang yang akan kubunuh dan nilainya. Itu saja!"

"Uhhumm.... baiklah," Kakek tua itu menyerahkan selembar poster buronan pada Nathan. "Targetnya adalah pesaing guild dagang kita, lokasinya ada di distrik selatan kota Letshera, dan nilai yang akan kubayar ke kalian adalah dua puluh juta rez untuk menghabisi ketuanya saja."

"Baik, dia punya catatan kriminal apa? Kami Keluarga Obsidus tidak membunuh orang baik."

"Menurut mata-mata kami, di permukaan mereka penjual alat-alat sihir normal dalam jumlah besar. Tapi setelah di mata-matai, mereka melakukan transaksi gelap dengan Arcales Empire sebagai penyuplai senjata sihir dengan teknologi Enchanting yang mereka miliki secara diam-diam."  

"Hmm... tidak menarik." Kata Nathan dengan gampangnya.

"Apa!? Apa maksudmu tidak menarik?"

"Dua puluh juta juga terlalu kecil. Job amatir. Maaf, simpan saja di list. Biar orang lain atau anak buahku yang kerjakan. Aku masih ada pekerjaan penting." Nathan menolaknya mentah-mentah. "Ayah... berikan aku 20 orang terbaikmu. Targetnya sudah ditemukan. Ia bersembunyi di dalam dungeon. Aku harus segera kembali kesana. Sebelum ia berpindah lokasi lagi."

"Baik," mendengar itu, Nero langsung berdiri. "Akan ayah urus, segera." "Maaf, pembicaraan kita selesai. Letakkan saja targetnya dan bayar di muka. Jika kami kosong akan kami tangani segera."

"Apa uangnya kurang?" balas kakek tua itu. "Apa aku harus menambahkan nilai hadiahnya? Baik, aku lipat gandakan menjadi empat puluh juta rez. Tapi aku mau orang ini dihabisi sekarang juga!"

"Hei pak!" bentak Nathan segera di depan wajah kakek tua kaya raya itu. "Jangan terlalu ngelunjak ya!!" bentak Nathan di depan wajah kakek tua itu. Ini bukan soal uang. Tapi..."

Nero menahannya dan dari gerakannya seolah bicara biar ayah tangani.

"Kalian sebaiknya cepat keluar... kalau tak ingin nyawa kalian berakhir di tempat ini."

"Kurang hajar!" bentak pak tua itu. "Aku ini bos besar dari Guild..."

Nathan mencekik pak tua itu. "Kau tak benar-benar mengenal keluarga kami rupanya. Bagiku tak ada peringatan pertama atau terakhir." Kemudian Nathan meledakkan kepalanya di tempat dengan sihir hitamnya. Seolah ada bom yang meledak dari dalam kepala si pak tua itu.

BLARRRR !!

"HYAAAAAA !!!?" Pembantu kakek tua itu menjerit ketakutan dan langsung tersungkur di tanah dan dengan gemetar mencari jalan kabur.

"Berisik!" Nicholas mengeluarkan pedang hitam tak berwujud lewat sihirnya, kemampuan manipulasi aura tipe Weapon menggunakan sihir dan kemudian menghunuskannya untuk membunuh nenek-nenek tua tak berdaya itu lebih dulu. "Mengganggu saja."

"Tu-tuan, nyonya... salah mereka sampai harus kau bunuh di rumahmu?!" tanyanya dengan gemetar ketakutan.

Nero geleng-geleng kepala. "Kau terlalu berlebihan nak. Biar bagaimanapun, mereka klien kita."

"Diam disana, jika ada tersisa satu yang tak dibunuh, maka yang berhasil lari dan hidup itu akan kembali dengan membawa dendam. Membuang-buang waktu saja." Nathan mengarahkan tangannya ke depan dan mengeluarkan sihir hitam, menyedot nyawa pembantu yang tak berdaya itu tanpa belas kasihan sedikitpun. Dan mati tanpa luka sama sekali, dibuat seperti manusia tanpa jiwa.

Nicholas yang mengintip kejadian itu, mengkertakan giginya dan kesal sekali pada sikap Nathan barusan. "Dasar manusia biadab."

Nathan merapikan kembali rambutnya serta membersihkan cipratan darah yang mengotori bajunya. "Target orang itu, biar aku tangani nanti. Sudah yah... aku pergi merekrut anak buah ayah dulu."

"Hah..." Nicholas menghela nafas, dengan wajah pucat ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan bersandar lemas di balik tembok. "Kakakku benar-benar psikopat. Dia bisa kapan saja membunuhku kalau ia mau." Nicholas terbaring lemas di sofa, menutup matanya dengan tangannya. "Meski dari luar ia terlihat sangat sempurna. Tapi kalau kenal dia yang sebenarnya, dia adalah orang yang menjijikan. Jika saja aku lebih kuat darinya, aku akan menyingkirkan orang gila itu dari rumah ini."

"Nicholas!" sahut Nathan. "Kakak tahu kamu ada disitu dan melihat ini semua. Kamu benar-benar tak pandai bersembunyi. Kemarilah, biar aku ajarkan cara melakukannya dengan benar."

Nicholas langsung dibuat merinding ketakutan. 

***