Episode 55 - Obsidus Family



"Dark Force !!"

Syuuuusshhhh !!

"Uggh.... UAGGGHHH !!"

DUARRR !!

Krag terpental oleh tekanan sihir itu. Hingga membentur tembok.

"Huh?! Dasar penyunsup." kata Koblenz dengan sangat yakin.

"Kau kesini cuma karena makanannya saja kan? Kau tak benar-benar bersumpah setia pada Nicholas kan?" ancam Koblenz.

"Ti-tidak kok... a-aku sungguh-sungguh." kata Krag yang tak berdaya, memohon ampun.

"Pergi dari sini! Kau tak berhak berada disini!" kata Koblenz.

"Apa-apaan ini?!" kesal Eris yang berada disampingnya. "Kau mengajak kami berkelahi?"

"Ohh iya, satu lagi. Wanita sialan, yang rela menjual harga dirinya demi sebuah makanan." kata Koblenz.

"Apa kau bilang?!" balas Eris kesal.

"Hei! Hei! Kalau mau ribut, bukan disini tempatnya!" sahut Luxis.

"Diam Kau! Aku akan beri kedua anak Ignis ini pelajaran!" balas Koblenz

"Si sialan itu!" Nicholas melihat itu dari jauh, dan sudah membuatnya geram. Ia segera berjalan menghampiri mereka.

Puk!

Pundak kiri Nicholas seketika ditepuk Velizar, katanya. "Biar aku saja yang urus."kemudian Velizar berlari pada mereka yang memulai perkelahian itu.

Eris meng-cast sebuah sihir api untuk membalas temannya. "Kalau kau benar-benar ingin berkelahi. Akan kuladeni!" katanya dengan kobaran bola api mengelilingi kedua tangannya.

"Hoo... sombong sekali, perempuan yang satu ini!" balas Koblenz, mengentengkan

"Fire..."

"Dark..."

Syushhhh !!

Seketika, kedua sihir mereka lenyap untuk beberapa detik, seusai Velizar mengayunkan pedangnya di tengah-tengah mereka.

"...!!? Sihirku?" Eris terheran-heran.

"Hi-hilang!!?" Koblenz pun sama terkejutnya.

Velizar menendang anak Umbra itu hingga terbaring jatuh dan menancapkan katananya, 1 cm di samping pipi kirinya.

CREEERRBB !!

"Hah... kalau kau segitu inginnya berkelahi." ancam Velizar. "Ayo keluar, kuladeni kau sampai mati."

"Grrr..." Koblenz berbalik dan duduk kembali. "Cih!"  

"Hah... membosankan." Velizar kembali berdiri dan menyarungkan katananya kembali.

"Te-terima kasih banyak." kata Eris.

"Iya, iya..." balasnya datar. "Aku lakukan ini untuk Nicholas, kalau kau tertolong juga. Yasudah... dan kau," tatap Velizar ke anak Umbra itu. "Yang di kelas selalu mencontek. Tidur melulu, lemah dan selalu membuat susah kami. Sebaiknya jauh-jauh dari Nicholas dan aku. Paham?" katanya lagi dengan datar.

"Iya! Iya! Iya! Aku paham... aku paham." Koblenz menyanggupi tapi tidak mengindahkan.

"Bagus..." ucapnya datar sambil berjalan kembali ke mejanya.

Eris berbalik dan menghampiri Krag yang bersandar di tembok dengan luka-luka. "Krag? Kau tidak apa-apa?"

"Eris, ayo kita pulang. Anak-anak Umbra memang penuh orang-orang keparat." kata Krag dengan kesal.

***

Malam hari... Di rumah menara Franquille.

"Alzen, kau belum mau tidur?" tanya Kildamash dari lantai 2 rumahnya, kamar tidur mereka.

"Sebentar lagi ayah!" Sahut Alzen dari lantai 1, yang tengah sibuk seharian membaca kembali buku-buku lamanya, sejak siang tadi. "Gara-gara buku ini, Countering Dark Arts. Halaman 164, bagian 8 tentang Illussion Magic. Aku banyak terbantu sewaktu melawan Nicholas kemarin itu. Aku sudah baca buku ini berapa kali ya? Sampai bisa hafal begitu."

"Hah... di rumah ini, ada banyak sekali buku sihir yang bagus-bagus. Tapi pasti gak boleh dibawa deh, soalnya ini koleksi ayah semua." gumam Alzen sambil menaruh kembali buku itu.

Ia bergegas naik ke lantai 2 untuk segera tidur di kasur lamanya. Ruangan ini bercahayakan cairan potion dalam botol kaca yang mengeluarkan pijaran cahaya, layaknya sebuah lampu. Namun ditaruh di samping meja. Bukan di gantung di langit-langit rumah. Dan cahayanya juga tak seterang lampu melainkan lebih seperti cahaya kunang-kunang.

Mereka berdua saling bicara dalam posisi berbaring di ranjang mereka masing-masing.

"Haduh... rindunya, meski di Vheins itu tempatnya sangat nyaman. Tapi tak ada yang lebih enak dari rumah sendiri."

"Alzen," kata Kildamash di ranjang satunya.

"Ya ayah?"

"Aku senang kamu berada di rumah ini, meski cuma 1 hari saja."

"Aku juga ayah... semua kangenku, lepas semua disini. Hanya saja, kurang Aldridge saja disini."

"Kemarin, Aldridge juga menginap disini," kata Kildamash. "Ia mengatakan hal yang persis sekali dengan yang kau katakan barusan. Coba dia lebih lama disini. Kalian berdua pasti sudah bertemu kembali."

"Ohh ya? Haha... aku ingin bertemu Aldridge, seperti dia ingin bertemu denganku."

"Aku hanya bisa berharap, kalian bertumbuh terus. Dan ketika kalian bertemu. Kalian berdua sudah jadi orang hebat."

"Terima kasih ayah!" balas Alzen dengan tersenyum senang. "Ayah, aku bilang, aku menang juara 2 turnamen kan?"

"Yap, kau ceritakan itu tadi siang."

"Aku menang 500.000 Rez. Mau aku bagi separuhnya? Rasanya terlalu banyak buatku."

"Hmphh." Kildamash tersenyum senang. "Tidak usah, aku sudah merasa cukup kok. Buat kamu saja semuanya. Kamu telah berjuang keras kan?"

"Iya, tapi benar tidak mau yah?"

Angguk Kildamash dari ranjangnya.

"Oke... selamat tidur ayah!" Alzen langsung berbalik dan memakai selimutnya.

"Selamat tidur."

***

Lewat jam 12 malam, Acara perayaan kemenangan Nicholas, telah usai.

Satu persatu anak-anak yang merayakan kemenangan Nicholas beranjak keluar sambil mengucapkan kalimat memuja-muji pada Nicholas. 

"Terima kasih Nicholas!"

"Terima kasih telah mengundang kami!"

"Kapan-kapan traktiran lagi woy!"

"Hidup Nicholas!"

Meski begitu Nicholas sama sekali tak menanggapinya. Ia seperti kepikiran hal yang lain.

Setelah semuanya pergi dan kembali ke dormnya masing-masing, Nicholas masih berada di sana. Sambil sibuk membaca selembar surat yang datang padanya. 

"Tuan Nicholas, kami yang akan mengantarkanmu pulang." Kata seorang berpakaian pelayan yang baru saja datang di tengah malam begini. 

Nicholas dijemput anak buah keluarga Obsidus untuk mengantarnya malam itu juga. Nicholas kini duduk diatas kereta kuda, yang terbuat dari kayu ber-cat hitam dan motif dari ukiran logam-logam berwarna emas. 

Selagi di dalam sana, Cincin Nicholas mengeluarkan cahaya. Lalu ia menempelkan jarinya ke krital itu dan memberikan sedikit Aura. Kemudian cincin itu mengeluarkan suara, ia berkomunikasi dengan ayahnya melalui benda yang bernama Crystal Communicator itu, di jarinya.

"Bagaimana sekolahmu?" tanya ayahnya melalui cincin itu.

"Aku lelah ayah, aku bicarakan besok saja, di rumah." Kemudian Nicholas menutupnya, dengan tidak menyuplai Aura ke cincin itu.

Kemduain selama berjam-jam, ia duduk di dalam sana, melakukan perjalanan menuju ibukota Letshera. Nicholas tidak tidur, ia hanya memandang ke luar dengan kepalanya bersandar di tangan kanannya, di luar, hanya ada jalan dan hutan-hutan dalam gelap yang diterangi sinar bulan. Tapi tidak bicara sedikitpun. Dengan pikiran yang sibuk,

"Dasar anak sialan itu, merusak suasana saja. Jika ada kesempatan, aku akan menyiksanya nanti." geram Nicholas dalam hatinya, mengingat kejadian yang barusan terjadi. "Tapi karenanya... jarang-jarang aku melihat Velizar mencabut pedangnya. Aku sendiripun tidak begitu tahu, apa kemampuan Velizar. Ia hampir tak pernah menunjukkannya."

"Gimana sekolahmu?" tanya seorang pelayan keluarga Obsidus yang duduk disampingnya.

"Tanya besok saja, aku sudah capek." jawabnya kesal.

"Baiklah."

***

Jam 3 malam, Nicholas membuka pintu gerbang rumah mewah keluarganya. Gerbangnya terbuat dari jeruji besi yang seolah berbahan dari tulang makluk hidup. Sekilas, rumah itu bagaikan sebuah mansion besar yang didiami vampir. Dengan kebunnya yang tumbuh pohon kering tanpa daun berwarna putih, tanah tandus dan kuburan-kuburan berjejer di halaman rumahnya.

Setelah berjalan lurus, Nicholas membuka pintu depan mansionnya yang besar, terbuat dari batu obsidian utuh. Dan ketika terbuka. Ayahnya sudah menunggunya, di tengah-tengah rumahnya. Dengan posisi berdiri menghadap ke arah sebaliknya.

"Ohh... Nicholas, bagaimana sekolahmu?" kata ayahnya yang dari belakang terlihat mengenakan jubah besar berwarna hitam merah, seperti seorang Vampire Lord.

"Sangat baik, aku juara 1 turnamen ini, seperti kak Nathan dan kak Nouva."

Ayahnya berbalik dan menepuk Nicholas, "Ayah sangat bangga padamu."

***

Di Obsidus Mansion, jam 3 malam.

"Aku dengar kau menang, tetapi juga hampir kalah. Apa benar begitu?" tanya ayah Nicholas, Nero Obsidus. Seorang kepala keluarga Demon Hunter paling terkenal dan paling diakui. Bukan hanya untuk Greenhill maupun Benua Azuria. Melainkan mereka juga diakui di mata dunia untuk memburu kegelapan dengan kegelapan.

Nero memiliki rambut putih ubanan yang disisir kebelakang. Rambutnya juga panjang, sampai melebihi pundak bagian belakangnya. Meski rambut sudah beruban, masih ada sisa-sisa rambut hitam yang berbaur dengan rambut ubannya, warnanya seakan mirip pola zebra. Di depan wajahnya, turun sehelai tebal rambut hingga melebihi mata merahnya.

Meski ia berpenampilan seperti seorang vampir, dengan jubah hitam-merah panjang, dengan kerah belakang yang melebihi ujung kepalanya sendiri dan jas hitam berdasi. Namun kulitnya tidak pucat, ia masih seorang manusia hidup dan tidak memiliki gigi taring layaknya vampir sungguhan.

"Lebih bagus kan? Hampir kalah, namun tetap menang, daripada hampir menang, tapi ternyata kalah." tanya Nicholas sambil berjalan melepas pakaiannya dan duduk di sofa hitam, lalu sambungnya. "Ayah dengar dari siapa?" katanya dengan menyandarkan kedua lengannya ke ujung atas sofa. "Si tua itu kah?"

"Ya, Vlau cerita semuanya. Seusai turnamen, ia langsung mengabariku." kata Nero. "Menceritakan yang terjadi dengan bersukacita atas kemenanganmu."

"Sudah pastilah, aku yang menang." jawab Nicholas sambil duduk di sofa dan meneguk minuman dalam piala emas. "Puahh... Mereka itu lemah-lemah. Keluarga kitalah yang terkuat. Ayah juga pasti sudah paham akan hal itu."

"Lemah-lemah, tapi nyatanya kau hampir kalah? Ada yang mampu mengunggulimu. Siapa yang bisa mengimbangimu di turnamen itu?" tanya Nero Obsidus.

"Tidak ada yang sulit, semuanya bisa kuatasi dengan mudah."

"Termasuk Leanford? Si elemen cahaya itu?"

"Ya," kata Nicholas sambil mengangkat bahu. "Mungkin cuma dia seorang yang menarik. Bukan karena dia kuat, semata hanya karena ia memiliki counter-element yang kita miliki. Aturan yang mengikat, elemen cahaya akan tiga kali lebih kuat melawan elemen kegelapan. Tapi nyatanya... Dia sudah kalah duluan. Gadis itu lemah sekaligus bodoh."

"Siapa yang mengalahkannya? Anak tiga elemen itukah? Yang melawanmu di Final?"

"...!!?" Nicholas terhenti sebentar. "Cih... Jadi pak tua itu cerita semuanya ya?" tanyanya sambil mengkertakan gigi.

"Ya, dia cerita semuanya. Alzen Franquille namanya kan? Vlau menceritakan dari awal sampai akhir. Sejak awal turnamen hingga final." kata Nero. "Namun, siapa anak tiga elemen itu? Siapa dia sebenarnya?"

"Tidak, dia bukan siapa-siapa. Biar bagaimanapun aku tetap menang melawannya. Itu yang sudah terjadi dan itulah faktanya." Nicholas beranjak naik "Sudah aku lelah, aku mau kembali ke kamarku." katanya yang seolah mencoba menghindari pembicaraan.

"Hei... jangan pergi dulu, ayah masih punya banyak pertanyaan untukmu."

"DIA BUKAN SIAPA-SIAPA !!" bentak Nicholas. "Menurut datanya, dia datang dari ujung barat Greenhill, tinggal di menara diatas bukit yang bahkan tak layak disebut rumah. Dia cuma anak kampung biasa! Tidak lebih!"

"Nicholas !!" Nero membentak balik. "Jangan sombong dulu!"

"..." Nicholas tertunduk tak berdaya.

"Kalau kau di imbangi oleh anak kampung seperti itu! Yang bahkan bisa menang melawan Leanford dengan satu elemen saja. Itu artinya kau... Tidak lebih kuat darinya. Dan itu artinya, belajarmu kurang, usahamu kurang keras."

"Geez... apa-apaan ini!" Nicholas menghempas tangannya dengan nada tidak terima. "Aku pemenangnya! Biar bagaimanapun, aku tetap menang darinya! Itulah faktanya!"

"Ya... kau menang," balas Nero. "Kau menang karena kau anakku. Beda dengan kamu, dia hanyalah anak miskin, tinggal di tempat tak jelas namun bisa hampir mengalahkan kamu. Sedang kamu, kamu punya segalanya. Dari lahir sudah minum susu, makan keju, makan enak sepuasnya, tak perlu mengerjakan pekerjaan lain. Mau belajarpun, aku sediakan semua disini. Tapi kalau kau masih bisa disusul sama anak miskin itu. Yang tak punya semua fasilitas ini. Meski kau menang, kau sebenarnya kalah. Kalau lapangan tandingnya rata, anak itu sebenarnya lebih hebat dari kamu."

"Cih! Ini tidak adil! Sewaktu melawanku! Dia gunakan 3 ele..."

"Jangan banyak alasan!" bentak Nero. "Di luar sana nanti, apa kau mau bilang bahwa ini tidak adil, ketika targetmu yang bisa 5 elemen sekalipun. Hah?! 3 Elemen itu juga adalah target-target kita yang sangat wajar di dunia Bounty Hunter kelas SS keatas."

"..." Nicholas tertunduk kecewa, kemudian ia menghempas tangannya dan berbalik. "Sudahlah ayah... aku mau tidur. Selalu lelah bicara denganmu. Kau tak pernah mau mengerti." kata Nicholas dengan geram.

"Kau harus belajar lebih giat! Kau harus jadi yang terkuat, karena kau anakku! Karena kau adalah Obsidus!"

BRAKKK !!

Nicholas tak menjawab dan segera masuk ke kamarnya dengan menutup pintu keras-keras.

"Cih! Anak itu!"

"Kau terlalu keras padanya." kata ibu Nicholas, Nuara Obsidus. Yang sedari tadi melihat mereka dari lantai 2 rumahnya.

"Nathan, Nouva. Kuperlakukan dengan cara yang sama! Semata karena aku ingin mereka jadi orang berpengaruh di masa depan. Tak terkecuali Nicholas. Dia punya potensi melebihi kakak-kakaknya."

Di kamarnya, Nicholas bersandar balik pintu.

Sambil memandang ke bawah, ia berkata. "Potensi apanya... kak Nathan dan kak Nouva terlalu kuat dibanding diriku." Selagi mengucapkan kekecewaannya itu, ia perlahan turun dan jongkok bersandar di balik pintu dengan rasa sedih tapi juga marah pada dirinya sendiri.

***

Pagi hari, di hari terakhir libur setelah turnamen. Alzen baru saja kembali ke Vheins.

"Puahh! Puas sudah," ucap Alzen setelah berteleportasi ke pintu gerbang Vheins. "Rasa rinduku sudah terpenuhi. Cuma kurang Aldridge saja sih. Dari cerita ayah... Dia sepertinya sudah jadi orang yang berbeda. Aku benar-benar lupa, sebelum Fall of Dalemantia, dia adalah putra salah satu orang terkaya di Dalemantia kan? Seharusnya aku tak heran. Aldridge pasti orang yang rajin belajar dan tidak manja dulunya."

Alzen berjalan kembali ke dormnya, tapi...

BRUGGGH !!

Alzen ditabrak seorang pria tinggi berambut putih acak-acakan dengan kacamata yang membuatnya terlihat nerdy.

"Adududuh... maaf-maaf!" kata pria berkacamata bulat itu dengan tergesa-gesa.

***