Episode 27 - Pertarungan Lima Menit


“Kebenaran dan kesalahan hanyalah apa yang manusia putuskan. Tidak semua kebenaran adalah kebenaran, dan tidak semua kesalahan adalah kesalahan. Apa yang terpenting bukan itu, tapi apa yang terjadi setelahnya. Tidak ada yang peduli jika seorang akan merasa bahagia meskipun yang dia lakukan adalah kesalahan, karena kebenaran kadang bisa mengkhianati dan menikammu dari belakang!” ucap Sony sambil mengepalkan tinjunya.

Sony memandang Danny dan lainnya dengan tajam. Telapak tangannya mengepal dengan keras dan kemudian dia berlari menuju arah Danny diikuti oleh Rudi dan yang lainnya.

Sangat cepat, Sonny memangkas jarak antara dia dan Danny, lalu dengan segera dia menghantamkan pukulan pada wajah Danny. Refleks, Danny mengangkat tangan kanannya, untuk melindungi wajahnya, lalu melangkah ke samping. Tinju itu tidak mengenai wajah Danny tapi mengantam tangan kanannya.

Danny mengangkat kaki kanannya lalu mencambukannya ke pinggan Sony. Ini adalah gerakan yang tanpa sadar dia lakukan setelah banyak berlatih bertarung dengan Rito. Tapi serangan itu dengan mudah Sony tangkis menggunakan sikunya.

Kemudian Rudi datang dari arah belakang Sony dan melemparkan tinjuan ke arah Danny. Namun, dari arah samping Danny muncul seseorang yang dengan sigap menghalaunya, itu adalah Rito. Tidak berhenti sampai di situ, setelah menangkis serangan Rudi, Rito maju selangkah ke depan dan menghujamkan tinju tepat ke ulu hati Rudi dan membuatnya terjatuh sambil mengerang kesakitan.

Lalu datang dua orang dari dua arah yang berbeda mencoba untuk menyerang Rito dengan tinju. Tanpa sebuah perintah, Danny melangkah ke depan dan menangkis serangan dari arah kanan, sedangkan Rito menahan orang di sebelah kiri. Setelah itu Danny mencambukan kakinya ke arah lutut orang tersebut, dan setelah dia hampir terjatuh, Danny menggunakan sikunya untuk menghantam wahahnya. Di sisi lain, Rito juga melakukan persis yang seperti Danny lakukan.

Ketika Danny melirik, dia melihat sebuah tinju tepat di depan wajahnya, itu adalah Sony, Danny terkena tinju itu. Setelah dia terlempar ke belakang, dia merasakan ada cairan kental mengalir dari ujung bibirnya. 

Sony berlari menuju Danny dan dengan cepat menendang ke arah perutnya. Danny dengan sigap memposisikan kedua tangannya ke depan perutnya, untuk menahan serangan tersebut. Ketika serangan itu mengenainya, Danny merasa kedua tangannya mati rasa. Dia juga menggunakan momentum dari tendangan itu untuk berguling ke belakang dan segera berdiri.

Setelah dia berdiri, dari arah depan, Rudi yang sebelumnya telah terjatuh kini telah bangkit lagi dan mengarahkan tinjunya ke perut Danny. Tidak sempat menghindar, perut Danny dihantam dengan kepalan tangan Rudi dan membuatnya mundur beberapa langkah.

Sambil memegang perutnya, Danny menatap Rudi dan Sony yang berdiri berdampingan sambil menatapnya dengan tajam. Dia melirik ke arah lain dan menemukan ternyata Rito telah di kelilingi oleh lima orang, dengan dua orang yang berdiri sedikit terpincang.

Di belakang mereka, Raku yang duduk sambil menatap pertarungan yang terjadi tanpa bisa melakukan apapun. Dia tidak pernah menduga kejadian seperti ini akan terjadi, dan karena dia tidak memiliki kemampuan bertarung, dia hanya bisa menatap dengar gemetar.

Raku mengepalkan tangannya, dia ingin membantu, tapi dia tidak mampu untuk bergerak. Meskipun dia sudah sering menyaksikan adegan pertarungan dalam anime yang biasa dia tonton di rumah, tapi dia tetap tidak terbiasa dengan situasinya, karena ini adalah pertarungan yang sesungguhnya, sesuatu yang tidak pernah dia saksikan sebelumnya.

Perasaan takut yang menyelimutinya membuat dia membenci dirinya sendiri. 

“Dan, aku bisa mengatasi di sini, bagaimana denganmu?” 

Meskipun di kelilingi oleh lima orang, Rito tetap tenang dan waspada. Dia juga percaya diri dengan kemampuaannya, dan menurutnya, dia mampu untuk mengatasi semua orang yang mengelilinginya.

“Tenang saja, urus saja yang ada di sana!”

Meskipun tidak terdengar percaya diri, Danny tetap berkata seperti itu.

Setelah mendengar jawaban dari Danny, Rito menatap tajam ke sekelilingnya, aura di sekitarnya terasa berbeda, dan dia tidak lagi terlihat seperti dia yang biasanya.

“Haha, kau sombong sekali bocah!”

“Kami akan mengajarimu bagaimana pertarungan yang sebenarnya!”

Salah seorang yang mengelilingi Rito maju dan menghujamkan pukulan ke arah Rito. Namun, dengan tenang Rito mengambil satu langkah ke samping dan berhasil menghindar. Dengan cepat Rito menarik tangan orang itu lalu melemparkannya ke samping, di mana ada orang lain yang sedang berlari menujunya. Kepala mereka bertabrakan dan membuat mereka terjatuh bersama.

Melirik ke arah lainnya lagi, Rito melihat salah seorang yang berlari dengan sedikit terpincang menuju arahnya. Rito mengambil inisiatif untuk menuju ke orang tersebut lalu mengarahkan tinjunya pada wajah orang tersebut. Dengan sigap, pria itu menangkis tinju tersebut dengan sisi tangannya.

Tapi ternyata setelah serangan itu, serangan lainnya datang. Sebuah kaki terlihat menuju ke lututnya. Tidak sempat menghindar, lutut pria itu terhantam dengan keras dan membuat dia hampir terjatuh. Kemudian sekali lagi, sebuah tinju datang tepat ke arah wajahnya dan akhirnya menghantam keras hingga membuat dia terjatuh ke belakang.

Tapi, saat itu tiba-tiba datang serangan dari arah belakang Rito. Sebuah pukulan keras menghantam punggungnya dan membuat dia terjungkal ke depan. Tapi, dia dengan sigap segera berdiri lalu berputar dan dengan cepat melemparkan tinju ke arah orang yang sedang mencoba untuk meninjunya juga.

Kedua kepalan bertemu, akan tetapi karena perbedaan kekuatan, Rito terpukul mundur satu langkah. Dia menyeimbangkan posisi berdirinya lalu melemparkan tendangan ke arah pinggang pria di depannya dengan sekuat tenaga.

Suara teriakan keras bergema. Pria itu terlempar ke samping sambil mengerang kesakitan. Tidak lama kemudian, salah seorang pria yang berjalan sedikit terpincang datang dan menyerang Rito dengan tinjunya. 

Tanpa menoleh, Rito memutar tubuhnya untuk menghindari serangan tersebut, lalu dengan cepat mencambukan kakinya ke arah lututnya. Gerakan pria itu sangat lambat bagi Rito, jadi dia bisa memprediksinya dengan tepat.

Setelah terkena tendangan di lututnya, pria itu terlihat goyah dan saat itu pula datang pukulan keras menghujam wajahnya. Dia terlempar ke belakang dan mengerang kesakitan. 

Lima dari mereka berhasil Rito kalahkan sendiri. Dan semua itu, tidak membutuhkan waktu lebih dari lima menit.

Kembali ke lima menit sebelumnya. 

Berhadapan dengan dua orang dewasa di depannya membuat Danny sedikit cemas. Untuk urusan bertarung, dia tidak sebaik Rito. Jadi, dia hanya bisa menguatkan kepalan tangannya dan mempercayai bahwa dia bisa, meskipun mungkin dia tidak bisa.

“Haha, sepertinya kau sedang terdesak.”

Datang suara dari dalam pikiran Danny, itu adalah Goh yang telah ada dalam tubuhnya sejak lama, yang biasa dia panggil Dan.

“Yah, seperti itulah, lagipula ini sangat tidak adil, mereka berdua dan aku sendiri.” Gumam Danny dengan putus asa.

“Haha, kau tidak sendiri!”

“Ah ... kau mau membantuku?”

Seperti mengingat sesuatu, Danny menganggukan kepalanya dan tersenyum kecil.

“Serahkan yang sebelah kiri padaku!” Ucap Danny. 

Tapi itu bukan Danny. Namun, Dan yang telah mengambil alih tubuh bagian kirinya. Saat ini, pandangan yang keluar dari mata kirinya tidak seperti sebelumnya lagi, tapi seperti sebuah danau yang tenang, akan tetapi ternyata sangat dalam dan dapat membuatmu merasa tenggelam hanya dengan menatapnya.

“Baiklah!” Ucap Danny dengan pelan.

Dengan bantuan dari Dan, Danny mampu mengalahkan Rito dibeberapa latihan bertarung mereka. Tapi, Dan tidak selalu mau untuk membantu. Karena menurutnya ini sangat merepotkan.

Sony dan Rudi merasakan perbedaan aura yang keluar dari Danny yang berada di depannya. Mereka menjadi makin waspada, tapi itu tidak mengurangi kepercayaan diri mereka untuk bisa menghabisi Danny.

“Baiklah, kalian berdua, tidak usah membuag-buang waktu lagi, majulah secara bersamaan!”

Itu adalah Dan. Seriangai kecil dari ujung bibir sebelah kirinya menghiasi wajah Danny yang penuh kepercayaan diri.

Sony dan Rudi merasa marah dengan sikap sombongnya. Mereka segera melangkah ke depan dan menutup jarak dengan Danny. 

Sony yang datang dari arah kanan mengarahkan tinjunya ke wajah Danny, sedangkan dari sebelah kiri, datang sebuah sapuan dari kaki kanan Rudi.

“Mundur.” Gumam Dan.

Mengkoordinasikan bagian tubuh masing-masing, Danny dan Dan mundur ke belakang, dan berhasil menghindari tendangan dari Rudi.

“Menunduk dan serang kakinya.” Datang lagi perintah dari Dan.

Dengan sangat cepat, Danny menunduk untuk menghindari pukulan dan segera mencambukan kaki kanannya menuju kaki Sony.  

“Maju.”

Sony kehilangan keseimbangannya, lalu kemudian tiba-tiba sebuah lutut menghantam wajahnya. Dia terlempar jatuh ke belakang dan mengerang kesakitan.

Dari arah kiri, Rudi datang dan mengarahkan tinjunya ke Danny. Dengan sangat sigap, tangan kiri yang dikendalikan oleh Dan menghalangi lintasan pukulannya.

“Pukul.”

Sesaat setelah datang perintah itu, Danny mengarahkan tinju dari tangan kanannya menuju perut Rudi. Pukulan tersebut tepat mengenai ulu hatinya lagi, dan membuat dia terjatuh dan mengerang kesakitan.

Dengan sangat tenang, Dan mampu menganalisa situasi dan memberi intruksi kepada Danny untuk bisa mengalahkan mereka berdua.

“Hebat, luar biasa, kalian sangat keren!” Raku berdiri lalu berteriak dengan semangat.

Danny dan Rito menoleh ke arah sorakan itu berasal dan tersenyum. 

“Bagaimana kalian bisa sangat hebat?” tanya Raku dengan sangat antusias.

“Bagaimana? Tentu saja latihan!” jawab Danny.

“Benarkah?” tanya Raku lagi.

“Tentu saja, kami sudah berlatih bertarung sejak kecil.” Jawab Rito.

“Lalu ... apa yang harus kita lakukan pada mereka?” tanya Danny.

“Biarkan saja, ayo kita pulang saja!” ucap Rito dengan santai.

“Ah oke!” jawab Danny.

Alice berdiri tidak jauh dari tempat pertarungan terjadi, dia menonton dari awal hingga akhir dengan perasaan cemas. Ketika melihat Danny terkena serangan, seketika warna wajahnya pucat dan dia terlihat sangat gelisah, kemudian beberapa saat setelahnya, setelah Danny berhasil mengalahkan dua orang di depannya, dia bernapas lega dan senyum hangat terlukis di wajahnya.

Alice memeluk kameranya dengan erat di dadanya, dia merasakan perasaan hangat dan bahagia di dalam hatinya karena Danny tidak menerima cedera yang serius.

Di sebuah tempat tersembunyi, seorang pria berjas berdiri sambil memperhatikan pertarungan yang terjadi di sungai. Matanya di penuhi rasa jijik ketika melihat Raku yang hanya duduk ketakutan, tapi ketika dia melihat Danny dan Rito, sebuah tampilan kagum tersirat dari pandangannya.

“Itu akan sangat bagus jika mereka berdua mau bergabung.” Gumam pria berjas tersebut.

Sesaat setelahnya, pria berjas itu melihat ke kejauhan, dalam pandangannya dia melihat banyak mobil datang menuju arahnya.

“Akhirnya datang juga.” Pria itu berkata sambil tersenyum kecil.

Di tanah, Sony yang telah menerima serangan telak pada wajahnya merasa sangat pusing, akan tetapi, setelah beberapa saat dia kembali bangkit, dan mata tajamnya kini sedang memandang tiga orang di depannya.

“Aku masih belum kalah!” gumam Sony.