Episode 21 - Jaya Laksana



Pada suatu subuh menjelang matahari terbit, di sebuah gubug yang merupakan satu-satunya bangunan yang terdapat di Gunung Tangkuban Perahu, Jaka Lelana duduk menghadap gurunya. Kyai Supit Pramana yang sedari tadi bertafakur membuka matanya, aura angker yang biasanya nampak dari si Kakek tua ini kini berubah, rasanya sejuk sekali bagi Jaka, tapi ia tidak tahu apa artinya. “Jaka kau ingat sudah berapa lama berada di Tangkuban Perahu ini?” tanyanya.

Jaka terdiam sebentar seolah sedang menghitung, “Kalau tidak salah saya sudah berada disini selama 36 purnama, hari ini tepat tiga tahun semenjak guru membawa saya yang terluka parah dari dasar jurang Tangkuban Perahu ini.” jawab Jaka.

Kyai Supit Pramana mengelus-elus janggut panjangnya yang berwarna putih, dia lalu menatap kearah timur. “Matahari itu masih tetap matahari yang dulu juga, masih sama dengan matahari tiga tahun yang silam. Puncak Gunung Tangkuban Perahu ini juga masih seperti dulu juga. Hanya umur kita yang bertambah, yang tua tambah tua! Hanya dunia luar yang banyak berubahnya!"

Kemudian terdengar kembali suara sang kakek, "Tiga tahun, waktu yang cukup untukmu tinggal bersamaku. Belajar ilmu Fiqih dan agama, belajar ilmu silat, belajar ilmu kebathinan, belajar segala kesaktian. Tapi kau jangan lupa! Harus ingat! Ilmu dan segala kesaktian apa yang telah aku berikan padamu semuanya adalah masih sangat terlalu kecil, terlalu sedikit, sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kekuasaan Gusti Allah. Kau mengerti, Jaka?"

Jaka mengangguk, “Iya Guru…”.

Sang Kyai mengelus-elus janggutnya, matanya menyipit memperhatikan muridnya itu. “Jaka aku telah menurunkan semua ilmuku padamu, dengan seluruh ilmu yang kau miliki dariku ditambah yang telah kau miliki sebelumnya dari Kyai Pamenang dan Nyai Mantili, bekalmu telah cukup untuk melanglang di jagat ciptaan Gusti allah ini, untuk menolong sesama manusia, untuk kebaikan, untuk kebenaran berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist, untuk berdakwah sekaligus menegakan Amr Ma’ruf Nahi Munkar. Kalau kau nyeleweng, kau akan dapat balasan sendiri di kemudian hari! Kau musti ingat bahwa bukan kau saja yang sakti di dunia ini. Kau musti sadar bahwa diluar langit ada langit lagi, begitu seterusnya sampai tidak ada yang melebihi kekuasaan Gusti Allah, selain itu kau juga harus menjauhkan diri dari segala sifat yang tidak baik! Kau jangan sekali-kali bersifat sombong, congkak dan tekebur! Kau ingat itu, Jaka?"

Jaka mengangguk lagi, “Ingat Guru…”

“Manusia ingat dengan pikirannya, sama otaknya! Tapi aku tak mau kalau kau cuma sekedar mengingat saja karena setiap ada ingat musti ada lupa. Dan manusia manapun selagi bernama manusia, suatu ketika tetap akan membawa sifat lupa itu. Lupa dan kelupaan. Yang penting ialah kau musti menanamkan sedalam-dalamnya ke dalam hatimu, ke dalam sanubarimu, ke dalam aliran kau punya darah, ke dalam detakan jantung, ke dalam hembusan nafas! Sesuatu itu, jika ditanamkan dalam-dalam laksana sebatang pohon jadinya, tak satu tanganpun yang sanggup mencabutnya dari bumi karena dari hari ke hari akar yang membuat pohon itu tegak semakin kokoh dan jauh masuk ke dalam tanah!" lanjut Kyai Supit.

“Satu lagi tanamkanlah dalam hatimu bahwa tidak ada satu mahlukpun yang sempurna, tidak ada manusia yang sempurna, bahkan seorang nabi pun pernah melakukan suatu kesalahan… Begitu juga aku, aku pun tak luput dari berbuat kesalahan!” 

Kyai Supit lalu menghela nafas, matanya menerawang jauh seolah menembus kejadian beberapa puluh tahun silam. “Jaka, dulu sebelum aku memutuskan untuk menyepi di Puncak Gunung Tangkuban Perahu ini aku pernah mempunyai satu pesantren atau padepokan di daerah pantai Subang… Saat itu aku telah menikah dan dikaruniai seorang putri, malangnya istriku meninggal setelah melahirkan putriku itu, maka putriku lah satu-satunya orang yang mendapatkan seluruh curahan kasih sayangku… Seiring berjalannya waktu, perkembangan Islam semakin pesat di Pasundan ini, murid-muridku pun semakin banyak, padepokanku pun semakin besar…”

“Disaat padepokanku semakin besar aku pun mulai merasa jumawa, sifat sombong mulai tumbuh di hatiku hingga pada suatu waktu Gusti Allah membuka mataku dengan cara yang tidak terduga, tiba-tiba putriku satu-satunya itu hamil diluar nikah oleh seorang santri kesayanganku yang ilmu agama dan kesaktian kanuragannya paling unggul di antara semua murid-muridku…

Kabar itu langsung tersebar ke seantero Pasundan, nama padepokanku menjadi jelek sebab tercemar oleh kelakuan muridku dan putriku sendiri, meskipun aku sudah menikahkan mereka. Perlahan banyak murid-muridku yang mengundurkan diri dari padepokan. Aku selaku orang tua yang bertekad menyebarkan syiar islam merasa telah gagal untuk berdakwah, aku telah melakukan kesalahan besar berupa satu kelalaian, aku terlalu memanjakan putriku dan terlalu memikirkan bagaimana cara memperbesar padepokanku hingga akhirnya aib ini terjadi… Sadar akan kesalahanku aku memutuskan untuk menyepi ke Gunung Tangkuban Perahu ini dan memperdalam seluruh ilmu hingga tiba saatnya aku mewariskannya pada seseorang…”

Kyai Supit lalu menatap Jaka dengan tatapan penuh kasih sayang “Alhamdulillah Allah mempertemukan kita, hingga aku merasa yakin dan merasa berkewajiban untuk menurunkan seluruh ilmuku padamu Jaka… Nah sekarang seluruh Ilmuku sudah aku turunkan padamu, Hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di sini, Jaka!”

Jaka terkejut mendengarnya “Guru… Apakah guru hendak mengusir murid?” Tanya Jaka, ia menjadi teringat kejadian tiga tahun silam ketika Kyai Pamenang menyuruhnya pergi dari padepokan Sirna Raga, kini kejadian seperti itu terulang lagi padanya.

Kyai Supit Pramana menyeringai, si kakek yang kesaktiannya sempat menggegerkan dunia persilatan puluhan tahun yang siam ini menatap Jaka dengan tatapan yang sangat lembut, bagaikan tatapan seorang ayah kepada anaknya. “Kau terkejut Jaka? Seyogyanya kau tidak perlu terkejut. Di dunia ini selalu ada waktu bertemu selalu ada waktu perpisahan. Waktu datang dan waktu pergi! Aku telah selesai dengan kewajibanku memberikan segala macam ilmu kepada kau dan kau sudah selesai dengan kewajiban kau yaitu menuntut dan mempelajari ilmu itu dari-ku.... Jaka ingatlah hal ini, hal seperti inilah yang mengingatkanmu untuk dapat bersikap Ikhlas, Ikhlas menerima suatu perpisahan yang pasti akan terjadi!"

Jaka terdiam tertegun, matanya hanya menatap lantai dengan kosong. “Jaka sebelum aku memberimu suatu tugas setelah turun gunung, apakah engkau masih punya ganjalan yang ingin kau ceritakan padaku?” Tanya Kyai Supit yang mata bathinnya sangat awas itu.

“Benar guru… Sejujurnya selama tiga tahun ini ada dua hal yang terus menghantui pikiran saya,” jawab Jaka.

“Katakanlah apa itu, Jaka!”

“Soal yang pertama adalah persoalan Kakak seperguruan sekaligus sahabat saya, Kakang Dharmadia, yang kedua… Emh… Guru pasti sudah tahu…” jawab Jaka dengan suara tersendat.

Kyai Supit manggut-manggut sambil tersenyum kecil “Yang pertama, menurut ceritamu padaku, jauh didalam sanubari Kakakmu itu api dendam terus menyala-nyala pada pihak-pihak yang tak bertanggung jawab yang mengatas namakan Islam, karena itu ia tidak pernah Ikhlas untuk belajar Islam. Dendam itu pulalah yang membuatnya selalu bersikap aneh, rasa keadilan dan dan rasa ingin menangnya sendiri selalu bergulat didalam hatinya hingga membuat ia melakukan hal-hal yang akan ia sesali kemudian… Kita hanya bisa berdoa kalau Gusti Allah mau memberinya hidayah…”

“Tapi kalau benar penyebab dendam di hati Kakang Dharmadipa itu adalah sebab negerinya hancur oleh pasukan Islam… Mengapa pasukan Islam dari Demak, Cirebon, serta Banten melakukan itu? Bukankah Islam adalah agama yang damai Guru?” Tanya Jaka.

“Benar Islam adalah agama yang damai, tapi semua hal tentu ada sebabnya. Prabu Wangsadipa dari Parakan Muncang melarang Islam masuk ke daerah kekuasaannya sebab menurutnya Islam dapat merusak tatanan hidup masyarakat Pasundan yang sudah terjalin turun-temurun dari nenek moyang. Akan tapi rakyat Parakan Muncang telah banyak yang memeluk Islam sebab Islam adalah agama yang tidak membeda-bedakan status sosial dan agama yang mengajarkan untuk mengasihi rakyat kecil… 

Maka murkalah Prabu Wangsadipa mengetahui para ulama telah menyebarkan Islam tanpa seizinnya di wilayahnya serta banyak rakyatnya yang telah masuk Islam. Banyak rakyat Parakan Muncang yang menjadi korban kekejaman Prabu Wangsadipa yang menolak Islam masuk ke wilayahnya tersebut, kebanyakan mereka disiksa sampai mati lalu mayatnya digantung di alun-alun! Melihat perlakuan Prabu Wangsadipa yang sangat kejam terhadap umat Islam, Sunan Gunung Jati memerintahkan menantunya Fatahillah untuk memimpin pasukan Cirebon yang dibantu oleh Demak, dan Banten menyerbu Parakan Muncang. 

Beberapa ulama ada yang setuju ada yang tidak dengan penyerbuan ini, yang tidak setuju di antaranya adalah Kyai Pamenang gurumu itu, beliau bersedia untuk menjadi juru damai kedua belah pihak, tapi sayangnya hal itu terlambat sebab pasukan Islam keburu dapat menerobos masuk ke Keraton Parakan Muncang…” terang Kyai Supit.

Kyai Supit lalu menghela nafas, persoalan kedua yang Jaka tanyakan adalah tak lain soal Mega Sari, tentu saja Kyai tahu kalau Mega Sari adalah putri dari Prabu Kertapati sedangkan Jaka Lelana menurut wangsit yang ia terima dari gurunya adalah anak dari Prabu Kertapati, artinya Jaka adalah Kakak kandung dari Mega Sari, tentu saja Jaka tidak boleh menikah dengan adiknya sendiri, tapi Kyai Supit merasa enggan menceritakan yang sebenarnya pada Jaka berhubung tugas yang akan ia berikan pada Jaka ialah untuk menghentikan sepak terjang Prabu Kertapati, maka ia menjawab, “Persoalan gadis yang bernama Mega Sari itu Jaka? Jaka aku tidak dapat berkata apa-apa dan lain lagi selain kau harus melupakan dia… Buang dia jauh-jauh dari hatimu Jaka!”

Nampak jelas kekecewaan dari raut wajah Jaka. “Tapi tenang saja Jaka, Gusti Allah selalu mempunyai rencana yang lebih baik untuk umatNYA, kau akan bertemu dengan jodohmu yang lebih baik daripada Mega Sari… Ingatlah Jaka kita ini orang Islam, Gusti Allah tidak pernah membeda-bedakan umatNYa termasuk dalam urusan perjodohan, menurut Al-Quran kau boleh menikahi seorang perempuan muslim atau ahli kitab, tak terkecuali berasal dari manapun dia, termasuk apabila dia berasal dari Wetan atau tanah Jawa yang dulunya termasuk wilayah Majapahit… Tapi satu pesanku Jaka, apabila engkau menemui seorang gadis yang bersikap ganjil dan mempunyai tanda hitam di bawah mata kanannya maka ia adalah perempuan yang baik yang akan membawa kebahagiaan untukmu Jaka.” jelas Kyai Supit. 

Jaka mengangguk, ia setuju dengan petuah dari gurunya itu meskipun tetap ada rasa sakit di hatinya. “Murid mengerti Guru.”

Kyai Supit melanjutkan lagi, “Baiklah, sekarang aku punya tugas untuk kau emban setelah turun dari gunung ini… Jaka kau tentu telah mengetahui bahwa selama belasan tahun ini perang seolah tak henti-hentinya terjadi di tanah Pasundan ini setelah Prabu Sri Baduga Maharaja yang menjadi lambang perdamaian dan pemersatu di Pasundan ini mangkat… Suatu angkara murka telah merajalela, pertumpahan darah telah disulut oleh seorang raja yang sakti mandraguna dari Mega Mendung bernama Kertapati. Keangkara murkaan Prabu itu telah banyak menyengsarakan rakyat di Bumi Pasundan dan membuat perdamaian semakin menjauh!”

Jaka kembali mengingat cerita dari Kyai Pamenang di padepokan dulu, kini ia mendengar cerita yang sama dari mulut Kyai Supit. “Jaka Mega Mendung adalah tanah airmu, maka sudah menjadi kewajibanmu untuk menghentikan keangkara murkaan Prabu Kertapati dan mengembalikan kedamaian di bumi Mega Mendung ini, sebab seluruh rakyat di Mega Mendung ini sendiri telah banyak menderita oleh pemerintahan Prabu Kertapati yang bertangan besi itu!” jelas Kyai Supit.

“Tapi apakah murid sanggup mengemban tugas ini? Mengingat murid hanya rakyat jelata biasa.” Tanya Jaka ragu apalagi ketika diingatnya kalau Mega Sari adalah tuan putri dari Mega Mendung.

“Yakinklah tidak ada yang tidak mungkin jika Gusti Allah meridhai Jaka, Dan pahamilah Jaka, aku memberimu tugas ini untuk menghindari peperangan besar yang dapat menelan banyak sekali korban jiwa. Saat ini hubungan Mega Mendung dengan Banten yang kian besar semakin meruncing, kau harus dapat mencegah peperangan ini dengan segala cara!”

“Baiklah Guru, murid akan berusaha, dengan doa Guru Insyaallah murid akan sanggup menyelesaikan tugas ini,” jawab Jaka.

Kyai Supit mengangguk-ngangguk sembari tersenyum kecil “Jaka ingatlah ini baik-baik bahwa peperangan yang selama ini terjadi di Bumi Pasundan bukan disebabkan oleh kedatangan Islam, melainkan oleh politik perebutan kekuasaan! Masing-masing keturunan Prabu Sri Baduga Maharja ingin menjadi penerus beliau, masing-masing ingin mengembalikan kejayaan Padjadjaran pada masa lalu dan menguasai seluruh tanah Pasundan ini… Siapa yang tidak ingin menjadi penguasa tanah Pasundan yang tanahnya subur, gemah ripah repeh loh jinawi? Camkan hal itu baik-baik Jaka!”

Kembali Jaka mengiyakan ucapan gurunya itu. “Tapi sebelum kau pergi ada satu hal lagi yang ingin kukatakan Jaka, cobalah kau buka ikat kepalamu itu!” 

Jaka membuka ikat kepalanya dan memberikan ikat kepala bermotif batik itu pada gurunya, gurunya membaca sebuah nama yang tertulis dengan jahitan benang di ikat itu. “Jaka, mulai sekarang gantilah namamu dari Jaka Lelana menjadi Jaya Laksana sesuai dengan yang tertulis di ikat ini!”

Jaka melongo keheranan mendengar ucapan gurunya tersebut, “Mengapa murid harus mengganti nama murid dengan nama itu Guru?”

Kyai Supit hanya tersenyum simpul penuh makna “Karena nama ini akan menuntunmu pada suatu kenyataan tentang asal-usulmu… Kau tentu sangat penasaran dengan asal-usulmu bukan?”

“Benarkah itu guru?” tanya Jaka yang terkejut.

“Insyaallah benar, kau akan temukan jalannya sendiri nanti menuju kenyataan tersebut, namun saat itu kau harus benar-benar siap…,” jawab Kyai Supit.

Kyai Supit lalu mencabut satu cincin batu dari jari manisnya “Jaka untuk menambah bekalmu bawalah cincin pusaka ini, namanya Cincin Kalimasada, Insyallah cincin ini dapat menambah kekuatanmu, ia dapat mengusir ilmu kebal maupun ilmu hitam lainnya dari musuh-musuhmu yang menyulitkanmu dan membantumu saat keadaanmu kepepet atau sangat terdesak, juga membantumu dalam menghadapi musuh-musuh dari alam lain. Akan tetapi pahamilah bahwa segala sesuatunya tetap atas dasar kehendak Gusti Allah, cincin ini hanya alat bantu, dirimu hanya lantaran!”

Jaka pun menerima cincin batu biru yang menyemburkan cahaya berwarna biru terang menggidikkan tersebut kemudian memasangnya di jari manis. Setelah itu, mereka pun shalat subuh bersama untuk yang terakhir kalinya, setelah selesai Jaka langsung pamit untuk turun dari Gunung Tangkuban Perahu menuju ke Rajamandala.


***


Siang itu hujan turun dengan deras sekali mengguyur desa Cibodas yang terdapat di Kaki Gunung Tangkuban Perahu, para penduduk memilih untuk tidak meninggalkan rumah mereka masing-masing, atau kedai-kedai menjadi pilihan yang pas bagi penduduk yang terlanjur meninggalkan rumah.

Seorang pria paruh baya berpakaian ala negeri Tiongkok nampak berlari-lari menuju ke suatu kedai dengan dipayungi daun pisang yang lebar, mata pria paruh baya ini sipit, kulitnya kuning langsat nampak lebih putih dari penduduk pribumi, rambutnya yang telah memutih bercampur yang masih hitam sehingga nampak berwarna kelabu panjang dikucir dikepang kebelakang, kumisnya tipis bagaikan kumis ikan lele. Dengan terengah-engah ia masuk ke kedai itu lalu duduk di pojok kedai itu.

Seorang gadis muda anak pemilik kedai menghampiri dan bertanya ia hendak memesan apa. “Owe minta singkong lewus, pisang bakal, dan kopi hitam siesie.” jawab si Ncek dengan cadel sambil cengengesan.

Baru saja si Ncek itu menutup mulutnya, empat orang pria berpakaian hitam-hitam berambut jabrik dengan brewok acak-acakan masuk ke kedai itu, anehnya wajah mereka berempat seolah sama seperti empat saudara kembar, hanya perwakan mereka saja yang berbeda.

“Hei tua Bangka! Lekas bawakan empat guci tuak terbaik kemari!” perintah salah satu pria brewok itu yang badannya paling tinggi tapi bertubuh kurus dengan kasarnya pada si pemilik kedai, si orang tua pemilik kedai itu segera menghampiri mereka dengan ketakutan. “Apes benar hari ini dapat tamu macam mereka!” keluhnya dalam hati.

“Maaf tuan, bersabarlah sebentar. Silakan duduk dulu,” ucapnya.

“Semprul! Perut kami tidak bisa menunggu tau?! Sediakan juga nasi dan ayam bakar serta semua makanan yang paling istimewa disini cepat!” perintah si tinggi kurus itu.

Keadaan kedai yang tadinya ramai dan hangat itu kini menjadi sepi, semua pengunjung di sana nampak ketakutan melihat keempat orang tak dikenal bertampang bengis itu, semuanya mejadi diam, kecuali si Ncek cadel yang nampak cuek menikmati makanannya di meja pojok.

Si tinggi krempeng itu melirik pada seorang berpakaian layaknya Pak Haji yang sedang duduk bersama istrinya yang masih muda, pria ini mnyengir lalu menghampiri Pak Haji dan istrinya yang masih muda itu, “Aduh bohaynya” goda si krempeng sambil mencolak-colek pipi istrinya Pak Haji.

Si Pak Haji berwajah kearab-araban yang sudah berusia lanjut itu tidak berani melakukan apa-apa, “Eh Pak Haji beruntung bener ente punya bini montok kaya gini! Ini bini yang keberape Pak?” Tanya sisi brewok ini sambil tertawa terbahak-bahak.

Karuan saja si brewok ini langsung nyosor hendak mencium bibir istrinya si Pak Haji, si Pak Haji segera mendorong tubuh si brewok yang krempeng itu “Kurang ajar bener dah! Lu mau ngelawan Pak Haji?!” bentak si krempeng.

Saat itu seorang brewok berperawakan sedang yang nampaknya pemimpin mereka membuka suaranya sambil merokok daun kawung “Hentikan Opang! Jangan bikin masalah, kite masih punye urusan lain!” perintahnya dengan logat Sunda Kelapa yang kental.

Nampaknya perintah pemimpinnya ini sangat berpengaruh bagi si Opang, dia pun melepaskan istri Pak Haji, “Jangan ada yang berani keluar meninggalkan kedai ini atau nyawa kalian melayang!” perintah si brewok yang paling gendut pada seluruh tamu di kedai tersebut.

Sementara itu dari sebelah utara desa Cibodas, nampak seorang pemuda berpakaian serba biru tua yang basah kuyub berjalan memasuki desa Cibodas, Daun Pisang lebar yang ia pakai tak mampu memayungi dirinya dari hujan yang sangat lebat itu hingga ia basah kuyub. “Sebaiknya aku cari kedai untuk berteduh dan mengisi perut.” ucap pemuda itu pada dirinya sendiri.

Didalam kedai, si pemimpin keempat brewok itu membuka mulutnya lagi pada si Bapak pemilik Kedai “Bapak, tolong cepatlah sediakan makanannya kami sudah lapar!”

Si Pak Kedai menjawab dengan ketakutan “Sebentar lagi Den, maklum sedang hujan begini, memasak ayam bakar perlu waktu, maafkan…” 

Si Krempeng bernama Opang yang cepat naik darah itu langsung mencengkran kerah baju si Bapak Kedai “Hey lo budeg ya?! Cepat siapkan makanan kami!” bentaknya.

Saat itu putri si pemilik kedai segera melerai mereka, “Tuan maafkanlah kami, lepaskan ayah saya, sebentar lagi makanan tuan-tuan akan segera siap!”

Si Opang menoleh pada putri pemilik kedai, matanya langsung melotot melihat kemolekan gadis ini “Weiyyy cantik juga gadis-gadis kampung ini! Ayo daripada lu masak, lu seneng-seneng aja sini sama kite-kite!”

mendapati gelagat yang tidak baik itu, si Bapak Kedai segera memohon-mohon pada Opang “Tuan tolonglah, putri saya masih kecil, masih bau kencur, tolong lepaskan dia!” Si Opang melepaskan gadis itu, tapi dia langsung menempeleng si Bapak Kedai hingga ia jatuh tersungkur dan mulutnya robek berdarah!

Karuan saja semua yang ada di kedai itu menjadi panik, kecuali si Ncek yang masih santai menikmati hidangannya. Seseorang mencoba kabur dari kedai dengan caa melompat dari jendela, tapi tiba-tiba… Clebbb! Tiga buah paku hitam menancap di tiang ia pegang untuk melarikan diri “Paku-paku berikutnya akan menembus kedua biji mata kalian yang mencoba kabur dari tempat ini!” ucap si Brewok yang berbadan paling pendek.

Si Brewok pemimpin mereka berdiri dari kursinya, lalu melangkah ke tengah-tengah kedai “Kalian semua dengarlah, kami si empat Setan Hitam dari Muara Angke kemari hendak mencari seseorang yang bernama Gundala! Kami dengar dari desa sebelah kalau dia tinggal di desa Cibodas ini, kalian semua pasti mengenalnya sebab dia adalah seorang saudagar ternama di Mega Mendung ini!”

Semua orang yang ada di sana terdiam mendengar pertanyaan tersebut, si Bapak Kedai yang sudah lanjut usianya menjadi merasa ketempuhan sebab kedai ini adalah miliknya, maka mau tak mau ia menjawab dengan ketakutan, “Maafkan kami Den, Saya dan putri saya belum pernah mendengar nama Gundala itu, daek kabentar gelap sumpahna mah Den!”, keempat brewok itu terdiam dengan menatap tajam pada semua yang ada di kedai ini.

Si Opang lalu melirik pada si Pak Haji. “Pak Haji, lu tidak mungkin akan berbohong bukan?! Lu pasti kenal Gundala?! Ayo jangan bohong biar kaga masuk nerake!”

Si Pak Haji malah balik menatap tajam Opang “Sadarlah sebelum masuk neraka jahanam!” ancamnya.

Tetapi si Opang malah tertawa terbahak-bahak “Masuk Neraka Jahanam?! Ahahaha… Justru kamilah para malaikat el maut yang hendak membawa kalian semua ke neraka jahanam kalau tidak ada yang mengatakan dimana Gundala berada!” Begitu mulut pria brewokan tertutup, tangannya langsung menjambak rambut istri si Pak Haji, dengan beringasnya ia henda menjilat pipi wanita itu!

Si Ncek Tua itu mendengus kesal, sedari tadi ia tidak suka dengan kehadiran keempat begundal yang menamakan diri mereka si Empat Setan Hitam dari Muara Angke itu, kini ia tidak bisa menahan amarahnya lagi ketika Si Opang hendak merusak kehormatan istrinya Pak Haji yang masih belia itu. Ia pun membuka mulut, “Saudala-saudala empat setan dali mauala angke, Gundala manakah yang kalian maksudkan? Sewab Wanyak yang belnama Gundala di Negeli Ini!”.

Keempat orang brewok langsung melirik pada si Ncek, “Orangnya berperwakan sedang, mungkin sekarang sudah beruban dan gendut sebab dia sudah kaya raya!” jawab si pemimpin brewok itu.

Si Ncek Tua itu tertawa mendengar penjelasan dari pemimpin para bewok itu. “Hahaha… Maaf tuan-tuan, cili-cili yang tuan sewutkan itu sangat umum, sangat wanyak olang sewerti itu wukan?” 

Keempat brewok itu mendelik matanya, “Heh Babah tua! Yang jelas dia tinggal di desa ini! Ayo cepat tunjukan dimana tempatnya!”

Si Ncek berdiri dari duduknya dia tertawa-tawa pada empat begundal ini. ”Hahaha… Tuan-tuan ini wemang lucu! Kalau sudah tahu Gundala yang tuan cali itu ada di desa ini mengapa tidak mencali sendili?” 

Si Opang yang berangasan ini tidak dapat lagi menahan amarahnya, tinjunya melayang ke arah si Ncek “Bangsat tengik!” teriaknya.

Si Ncek melayangkan tubuhnya menhindari pukulan itu, gerakannya sangat ringan seperti kapas, meja yang tadi ditempati si Ncek hancur berantakan terkena pukulan si Opang! 

“Tuan-tuan! Sewaiknya Tuan-tuan pelgi dali sini! Dan mencali Gundala sendili tanpa membuat kekacauan disini!” tegas si Ncek.

Si Opang marah bukan main, dia segera menghunus goloknya lalu menerjang si Ncek, Si Ncek menghindar sekaligus mengirimkan satu tendangan ke tengkuk Opang dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata sehingga pria tinggi kurus ini tersungkur!

Si Ncek segera memasang kuda-kuda membuka jurusnya yang nampak aneh bagi keempat Setan Hitam dari Muara Angke tersebut. Gerakannya sangat ringan, nampak pelan tapi sangat cepat dan bertenaga! “Haiya! Owe Holiang tidak takut dengan geltak sambal begundal wacem kalian!”

Ketiga kawan si Opang segera menghunus goloknya masing-masing, mereka berbarengan menyerang Si Ncek Holiang, kembali Holiang meladeni mereka dengan gerakan-gerakan aneh.

Dalam beberapa jurus Holiang mampu membuat ketiga pengeroyoknya terdesak, Opang pun segera turun tangan membantu ketiga kawannya, tapi ini tak banyak berpengaruh, beberapa kali tendangan dan pukulan Holiang yang nampak ringan serta pelan, namun sangat cepat bertenaga itu mampir di tubuh mereka!

Keempat orang itupun melompat mundur, mereka mengeluarkan senjata andalan mereka berupa paku-paku hitam beracun, belasan paku-paku hitam itu berdesing mengincar tubuh Holiang, Holiang dengan gerakan anehnya mampu menghidari semua paku-paku itu, tapi celakanya salah satu pakunya malah mengenai Pak Haji yang menonton di sana!

“Pak Haji!” seru Holiang melihat Pak Haji tersungkur ketika dua buah paku hitam menancap di perutnya, mengamuklah Holiang si pria tua dari Tiongkok itu “Dasal Manusia-manusia Bejat! Kalian Pikil wisa mengambil nyawa olang seenaknya?!” bentaknya sambil mengirimkan satu tendangan dahsyat yang berasarang telak di dada si brewok yang gendut hingga tubuh bundar itu mencelat keluar dari kedai! Ia langsung muntah darah dibuatnya.

“Hentikan!” bentak si pemimpin keempat brewok itu sambil menodongkan goloknya ke leher istri Pak Haji. “Aku Kudapawana pemimpin Empat Setan dari Muara Angke tidak akan bermain-main lagi! Akan kubunuh perempuan ini kalau kau berani bergerak!” ancamnya. 

Holiang mendengus kesal mendapati tindakan pengecut dari Kudapawana itu “Lepaskan pelempuan itu! Lu olang hanya belulusan dengan owe!” bentaknya.

Tiba-tiba telinga si Ncek Tua ini mendengar suara berdesing dari arah belakangnya, ternyata empat paku hitam melesat kearahnya, ia segera melompat berjumpalitan keatas, tapi satu paku tak bisa ia hindari hingga menancap di bahunya! Ternyata si brewok gemuk yang tadi terlempar keluar kedai yang membokong Holiang “Hahaha… Perkenalkan aku si Gandil, paku itu beracun, sebentar lagi kau akan modar!”



Ngobrol-Ngobrol :

Sampurasun, Hallo semua pembaca setia Wasiat Iblis, terimakasih sudah mengikuti kisah Wasiat Iblis dari awal sampai episode ke 21 ini, maaf baru sempat menyapa sekarang :) Salam hangat dan terimakasih banyak untuk sahabat pembaca semua yg sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mengikuti Kisah Wasiat Iblis ini… Waaah terimakasih banyak ya atas sambutan hangatnya, terus terang saja saya tidak menyangka Wasiat Iblis yg masih banyak kekurangannya disana-sini mendapat sambutan yg cukup hangat dari sahabat semua yg sudah mau mampir dan membaca kisah-kisah di ceritera.net ini.

Wening galih nu dipamrih, jembar manah rasa nu diseja, hapunten samudaya kalepatan lahir-bathin, wilujeng Boboran 1439 Hijiriyah. Penulis mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan yg disengaja ataupun yg tidak disengaja, yang membuat para pembaca merasa kurang nyaman. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijiriyah bagi anda yang merayakannya.