Episode 219 - Lebih Rentan



Suasana di dalam ruang dimensi tiada terpengaruh oleh iklim musim kemarau di luar. Tiada mentari dan awan, namun ruang dimensi cukup cerah sekaligus teduh. Bintang Tenggara menoleh ke belakang. 100 tirai formasi segel yang telah ia tembus sebelumnya sudah memperbaiki diri dan kembali seperti sedia kala. Begitu pula dengan tirai-tirai di depan yang telah ditembus oleh Balaputera Ardhana di hadapan. Malahan, sepertinya syarat dan ketentuan tirai-tirai formasi segel di tempat ini adalah bahwa setelah ditembus, maka hanya dapat dilalui oleh seorang ahli saja. Dengan kata lain, Bintang Tenggara tiada dapat berbuat curang dengan memanfaatkan celah yang telah dibuka oleh Balaputera Ardhana. 

Akan tetapi, meski samar, terdapat semacam pola tertentu dari cara Balaputera Ardhana menembus formasi segel. 

Bintang Tenggara memejamkan mata. Akibat Tinju Super Sakti, Gerakan Kedua: Harimau yang ia lepaskan sebelumnya, tenaga dalam di mustika penampungan Kasta Perunggu Tingkat 10 masih bersisa sekira 60%. Dengan kata lain, wadah penampungan tenaga dalam cukup besar dan saat ini baginya melepaskan Tinju Super Sakti dengan lima rentetan pukulan bukanlah sesuatu yang terlalu banyak memakan tenaga dalam. Bentuk Pertama akan memakan 10% tenaga dalam, sedangkan bentuk kedua 20% sahaja. Namun demikian, di dalam ruang dimensi yang kering dari tenaga alam, tindakan tersebut cukup dapat disebut sebagai pemborosan.

Bintang Tenggara menarik napas dalam-dalam. Ia meneguhkan hati. “Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti…,” gumamnya pelan. 

Seketika itu juga, kekuatan tenaga dan kecepatan gerak berlipat ganda. Ia pun segera merangsek maju, mengoyak paksa lapisan demi lapisan formasi segel di hadapan. Sebagai catatan, meski Tinju Super Sakti dan Pencak Laksamana Laut sama-sama merupakan jurus persilatan, pembakaran tenaga dalam keduanya memiliki sifat yang berbeda. Jurus Tinju Super Sakti merupakan pelepasan tenaga dalam yang bersifat ledakan dalam sekali waktu, sedangkan jurus Pencak Laksamana Laut adalah pembakaran tenaga dalam secara berkesinambungan. Dengan kata lain, semakin lama waktu dimana jurus Pencak Laksamana Laut dikerahkan, maka semakin banyak pula tenaga dalam yang terkuras dari dalam mustika. 

30 detik waktu yang dibutuhkan untuk menembus sepuluh lapisan formasi segel. Bintang Tenggara berhenti. Ia menebar jalinan mata hati ke mustika tenaga dalam di ulu hati. Memeriksa. Selama lebih kurang 30 detik waktu tersebut, 10% lagi tenaga dalam yang berkurang. Jadi, saat ini, tenaga dalam yang ia miliki hanya bersisa setengah sahaja. 

“Apa yang kau lakukan…?” Cibir Super Guru Komodo Nagaradja. 

“Super Guru…” 

Bintang Tenggara menyadari bahwa ia melakukan sebuah kesalahan. Segera ia mengeluarkan Tempuling Raja Naga dan kembali mengerahkan jurus Pencak Laksamana Laut. Seharusnya sejak tadi ia mengeluarkan senjata pusaka tersebut bersamaan dengan mengerahkan jurus yang melipatgandakan tenaga dan kecepatan. Sepantasnya, lebih dari sepuluh lapisan formasi segel yang dapat ditembus! 

Sepuluh lapisan formasi segel kembali terkoyak dalam waktu 30 detik berkat kombinasi jurus dan senjata. Bintang Tenggara menyadari bahwa nama dirinya pastikah sudah terukir di permukaan Tugu Ampera Barat pada urutan ke-80. Ia pun memanfaatkan waktu untuk berehat. Tenaga dalam kini bersisa 40%, sementara lapisan formasi segel di hadapan pastilah lebih sulit diterobos. 

Tak terlalu jauh di hadapan, Balaputera Ardhana telah menembus formasi segel ke-70. Remaja tersebut pun berehat. Ia menoleh ke belakang dan terlihat sangat takjub. Bagaimana mungkin ahli Kasta Perunggu Tingkat 9 dapat menjaga jarak sehingga hanya terpaut 10 lapisan formasi segel? Akan tetapi, melihat Bintang Tenggara berhenti, ia cukup percaya diri. Paling banyak, lawan hanya akan menembus sepuluh formasi segel lagi, batinnya mengusir kegelisahan di hati. 

Balaputera Ardhana kemudian menyunggingkan senyum. “Ia benar-benar mengandalkan kekuatan raga,” gumamnya pelan. Kemudian remaja tersebut menebar mata hati ke tirai formasi segel di hadapan. 

Sekira 60 detik kemudian, keduanya kembali bergerak hampir secara bersamaan. Bintang Tenggara mengoyak paksa lima formasi segel dalam satu menit, membuang 20% lagi tenaga dalam, dan kini sudah tiba di urutan ke-70, sedangkan Balaputera Ardhana berada di urutan ke-65. 

Jarak yang terpaut di antara kedua ahli semakin pendek. Posisi terbaik yang diraih Balaputera Ardhana sebelum ini adalah pada urutan ke-59. Secara teori, enam lapisan formasi segel lagi dapat dipastikan bisa ia tembus. Akan tetapi, entah mengapa, hatinya mulai goyah melihat lawan yang sepertinya masih akan dapat menembus lebih banyak formasi segel lagi! 

Bintang Tenggara berdiri tenang di urutan ke-70. Sama sekali tiada terlihat gugup. Kendati pun demikian, ia menyadari betul bahwa sisa tenaga dalam di mustika penyimpanan hanyalah 10%, dan paling banyak ia hanya dapat menembus lima lapisan formasi segel lagi. Di dalam hati, ia yakin dan percaya bahwa dengan sisa tenaga dalam saat ini, tiada mungkin dapat mengungguli Balaputera Ardhana, kecuali…


“Luar biasa!” sergah Balaputera Vikatama di hadapan Tugu Ampera Barat. Tiada pernah terbayang dalam benaknya bahwa seorang ahli Kasta Perunggu Tingkat 9 akan mencapai prestasi yang demikian gemilang. Balaputera Gara kini berada pada urutan ke-65 dan Balaputera Ardhana berada pada urutan ke-60. “Apakah ia sudah menemukan rahasia di balik tirai formasi segel…?”

Balaputera Ugraha terdiam. Sejak Balaputera Gara mencapai urutan ke-70, ia telah berhenti menyusun analisa. Pencapaian terakhir dirinya sendiri adalah urutan ke-65 dan kini telah digeser ke urutan 66. Ia tiada peduli pada urutan ini, karena Tugu Ampera Barat hanya membuktikan memampuan raga dan jurus persilatan. Masih banyak faktor lain yang menentukan kemampuan sebenarnya seorang ahli, sebut saja unsur dan jurus kesaktian serta dalam kontek Wangsa Syailendra dari trah Balaputera, yaitu kemampuan khusus merapal segel. Akan tetapi, walau telah menemukan rahasia di balik tirai formasi segel, sungguh pencapaian Balaputera Gara menantang logika berpikir!

Balaputera Prameswara tetap saja terlihat gugup. Semakin gugup, malah. Setengah dari kegugupannya disebabkan oleh dua gadis belia di sisi kanan. Balaputera Citaseraya, atau yang biasa dikenal dengan Raya si perisak yang buah dadanya lembut, terlihat berdiri hadap-hadapan dengan Balaputera Sevita. Karena perhatian terpusat pada urutan nama Balaputera Ardhana dan Balaputera Gara pada permukaan Tugu Ampera Barat, tiada yang mengamati tingkah polah kedua gadis belia tersebut. 

Sebagaimana diketahui, terdapat banyak murid-murid yang berkerumun di depan Tugu Ampera Barat, sehingga keadaan saat ini sempit berdesakan. Oleh karena itu, dua pasang buah dada milik kedua gadis belia menempel ketat! Kedua gadis sama tingginya, dan sepintas ukuran kedua pasang payudara yang menempel adalah sepadan adanya. Apalagi, keduanya menggunakan kemben dari kain songket, sehingga sisi atas payudara yang berukuran sedang dapat terlihat tanpa perlu bersusah payah mencuri-curi pandang. 

Kendatipun demikian, Balaputera Prameswara yakin dan percaya bahwa buah dada milik Balaputera Citaseraya sedikit lebih unggul dalam hal ukuran. Meskipun demikian, payudara Balaputera Sevita tiada bisa dianggap enteng. Dilihat dari bentukan kedua pasang payudara menempel ketat, walau sedikit lebih kecil payudara milik Balaputera Sevita terlihat lebih kencang!

Balaputera Prameswara tak dapat membayangkan bilamana pertarungan pecah di antara kedua gadis di tempat yang penuh sesak seperti ini. Yang lebih sulit lagi, Balaputera Prameswara tiada dapat membayangkan bagaimana cara menengahi kedua pasang payudara menempel itu. Pastilah sulit sekali bila terpaksa memisahkan. Ingin rasanya ia menghilang saja dari tempat ini. 


Balaputera Ardhana menggeretakkan gigi. Tak mungkin kalah! Ia kemudian merangsek dengan segenap tenaga yang tersisa dari mustika Kasta Perak Tingkat 2, dan kini berhasil bertengger pada urutan ke-58, atau satu urutan lebih baik dari sebelumnya! Setelah itu, seluruh tenaga dalamnya pun terkuras habis, dan dengan demikian tubuhnya menghilang dari dalam dimensi ruang tersebut. Sepertinya, dimensi ruang Tugu Ampera Barat menyadari bahwa remaja tersebut sudah tiada lagi dapat melanjutkan sehingga dikeluarkan dengan sendirinya.

Mengamati Balaputera Ardhana, Bintang Tenggara akhirnya menangkap satu hal yang berbeda dari cara remaja tersebut menerobos lapisan demi lapisan formasi segel. Sebagaimana diketahui, formasi segel merupakan kumpulan dari simbol-simbol berbagai bentuk dan ukuran, dimana ada yang diam dan ada pula yang bergerak berirama dan/atau acak. Tirai formasi segel berwarna-warni di dalam dimensi ruang ini pun sama, dimana pada setiap tirai ada simbol-simbol tertentu yang ‘berbeda’. Pada bagian-bagian tertentu, simbol-simbol tersebut bersifat sedikit lebih rentan dari simbol-simbol lain. Akan tetapi, menemukan simbol dimaksud di antara sekian banyak simbol yang bergerak merupakan tantangan tersendiri, dan untuk menembusnya tetap memerlukan kekuatan raga yang mumpuni. 

Bintang Tenggara masih berdiri tenang. Sisa 5% tenaga dalam paling banyak hanya dapat melangkah satu, atau maksimal dua langkah lagi. Bila hanya akan mencapai urutan ke-63, maka dirinya dipastikan terpaksa menelan pil pahit kekalahan. 

“Wahai Super Guru nan maha digdaya…,” panggil Bintang Tenggara dengan menebar jalinan mata hati. 

“Ada apakah gerangan, wahai Super Murid…?”

“Sudikah kiranya Super Guru nan maha digdaya meminjamkan sedikit tenaga dalam…?

“Hahaha…,” Super Guru Komodo tergelak riang. Merasa dirinya dibutuhkan, tentu saja ia merasa super senang. 

Bagi Bintang Tenggara, ia pernah menerima pasokan tenaga dalam dari sang Super Guru tatkala Akar Bahar Laksamana yang melilit mustika di ulu hati bertingkah. Secara teknis, tindakan memperoleh tambahan tenaga dalam dari Super Guru Komodo Nagaradja bukanlah berasal dari sumber yang datang dari luar diri, karena asalnya dari dalam tubuh sendiri. Menelan ramuan peningkat tenaga dalam memanglah tiada bisa dilakukan di dalam ruang dimensi ini, akan tetapi mendapat pasokan dari mustika tenaga dalam ‘kedua’ sepantasnya boleh-boleh saja. Demikian hasil penelaahan anak remaja itu.

“Bilamana Super Murid berkehendak, maka tiada dapat Super Guru ini berkata tidak!” Komodo Nagaradja sangatlah kompetitif, dan berulang kali ia selalu mendorong muridnya itu untuk bertarung atau berlomba dengan siapa saja. Bintang Tenggara memahami betul karakter Super Gurunya itu, dan tak ragu untuk memanfaatkan semangat tersebut sebagai jurus andalan.

“Mengapa…?” gerutu Ginseng Perkasa, “meski tiada memiliki tubuh, mengapa diriku merasa mual mendengar pembicaraan kalian guru dan murid…?”

“Swush!” 

Komodo Nagaradja serta merta mengalirkan tenaga dalam dari mustika retak miliknya. Secara rutin, saban hari, siluman sempurna itu meluangkan waktu untuk menyerap tenaga alam demi mengisi mustika retak tersebut. Karena retak, maka tenaga dalam selalu merembes keluar sedikit demi sedikit. Bila mengalirkan tenaga dalam ke mustika milik Bintang Tenggara dalam jumlah banyak, maka dalam beberapa pekan, bahkan dalam beberapa purnama ke depan, Komodo Nagaradja perlu meluangkan lebih banyak waktu demi mengisi kembali tenaga dalam. Ia bahkan pernah kehilangan kesadaran di kala memberikan tenaga dalam kepada Panglima Segantang.  

Bintang Tenggara merasa seolah air bah merangsek ke dalam mustika di ulu hati. Tenaga dalam terasa seolah lebih kental, lebih kaya akan inti sari tenaga. Tak perlu waktu lama bagi mustika Kasta Perunggu Tingkat 10, untuk kembali terisi penuh!

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti…,” gumam Bintang Tenggara sambil merangsek maju menghunuskan Tempuling Raja Naga. 

Dengan mustika tenaga dalam yang kembali penuh terisi, maka tentu lebih banyak waktu bagi anak remaja tersebut untuk berada dalam kondisi dimana kekuatan dan kecepatan tubuh berlipat ganda. Tambahan lagi, berbekal pengetahuan tentang keberadaan simbol yang sedikit lebih rentan sebagai incaran, kini ia menebar mata hati yang telah terlatih di Perguruan Anantawikramottunggadewa!


“Apakah yang terjadi!? 

“Tidak mungkin!”

“Gila!”

Tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan ketakjuban murid-murid di hadapan Tugu Ampera Barat. Bahkan Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita yang sebelumnya siap bertarung, tak dapat menahan diri untuk memusatkan pada nama Balaputera Gara yang kini berada pada urutan…

‘50’

‘40’

‘30’

Seolah tak hendak berhenti, nama Balaputera Gara terus merangsek naik!

“Mustahil!” sergah Balaputera Ardhana yang telah keluar dari dimensi ruang Tugu Ampera Barat sejak beberapa saat lalu. 

Balaputera Ardhara, Balaputera Vikatama, Balaputera Ugraha, serta Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita, para calon pewaris tahta, tentu sudah mengetahui tentang keberadaan simbol yang lebih rentan di antara setiap jalinan tirai formasi segel. Akan tetapi, mereka juga mengetahui bahwa diperlukan jalinan mata hati yang sangat peka dalam menemukan simbol dimaksud. Lalu, mutlak diperlukan kemampuan raga tingkat tinggi, baik kekuatan maupun kecepatan, untuk menyasar simbol yang terus menerus bergerak di dalam formasi segel. 

‘20’

‘10’

Tiada mereka ketahui, bahwa seorang Bintang Tenggara berhasil mencapai kemampuan mata hati setara Kasta Perak Tingkat 3 di dalam Lintasan Saujana Jiwa!

‘5’

Tiada mereka ketahui, bahwa seorang Bintang Tenggara menguasai Pencak Laksamana Laut, jurus persilatan milik Laksamana Hang Tuah yang dapat melipatgandakan kekuatan tenaga dan kecepatan gerak!

‘4’ 

Kombinasi kemampuan mata hati yang mumpuni dan kemampuan raga yang perkasa, ditambah sedikit berbuat curang dengan memanfaatkan pasokan tenaga dalam dari mustika tenaga dalam kedua… 

‘3. Balaputera Khandra’

‘2. Balaputera Lintara’

‘1. Balaputera Gara’