Episode 53 - Home Nostalgia



"Hi Alzen." sapa Gunin di balik pintu kamarnya.

"Gu-Gunin!?"

"Alzen, bisa kita bicara sebentar?" tanya Gunin. 

"Bi-bisa... masuk saja. Ahh... aku harus bilang apa ya..." Alzen berpikir dengan gugup. "Ahh iya, si-silahkan masuk."

"Tidak usah-tidak usah..." Gunin menolaknya dengan mengoyang-goyangkan telapak tangannya. "Tidak perlu repot-repot, aku cuma mau bicara sedikit saja kok."

"Ohh ya... tentang apa?"

"Sebetulnya sejak kamu melawan Leena waktu itu, aku sudah mau bicarakan ini kepadamu. Tapi baru sekarang aku punya kesempatan. Kemarin pagi kamu tidak di kamar sih."

"Ahh iya aku ada urusan sedikit kemarin." Alzen garuk-garuk kepala sambil mengingat, kemarin ia pergi ke rumah Leena.

"Begini. Kamu bisa tiga elemen kan?"

"Ya... aku bisa tiga elemen." balas Alzen dari balik pintu. "Elemennya yaitu..."

Potong Gunin. "Air, Api, Petir. Benar kan?"

Angguk Alzen. "Aaa... ya kamu sudah tahu ya."

"Dan yang buat aku tertarik padamu, meski kamu bisa elemen sebanyak itu. Kemampuanmu terhadap sihir air, sungguh bukan main kuatnya. Bagaimana kamu bisa mahir di ketiga elemen yang berbeda-beda itu."

"Soal itu... Aa... aku harus jawab apa ya..." Alzen berpikir. "Hmm sebentar-sebentar. Mungkin karena..."

"Iya-iya!" Gunin sudah tak sabar mendengar jawabannya.

"Buku... semuanya tertulis di buku. Aku cuma melakukan apa yang ditulis disitu."

"Buku!!?" Gunin tak menduga jawaban Alzen. "Be-begitu saja? Tidak ada hal lain begitu?"

"Ya! Di rumah menara ayahku, separuhnya adalah rak buku. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan disana. Selain membaca dan kadang-kadang mencobanya sendiri. Karena isinya tak cuman penjelasan dan teori. Melainkan lebih ke instruksi. Aku hanya melakukan apa yang ditulis di buku itu."

"Wow! Kau betul-betul melebihi ekspektasiku."

"Tidak-tidak, aku juga masih belajar kok. Lagipula sihir airmu juga... aku lihat hebat sekali." 

"Memang!" jawab Gunin dengan yakin dengan tangan di dada dan ekspresi sedikit menyombong.

"Me-memang?" balas Alzen seolah salah dengar.

"Untuk sihir air, aku tak akan kalah! Meski begitu, aku kalah sama temanmu, Lio di awal-awal turnamen." tunjuk Gunin ke dalam kamar Alzen. "Memalukan memang. Tak banyak yang bisa kulakukan di turnamen."

"Lio memang hebat sih."

"Tapi di akhir-akhir turnamen... sewaktu kau melawan Leena. Benar-benar apa-apaan sihir airmu itu. Kau bahkan bisa membuat gelombang Tsunami. Kau benar-benar gila! Setelah itu di Final melawan Nicholas. Kulihat kau pertama kali menggunakan tiga elemen dan tingkat kemahiranmu hampir setara semua. Itu yang jarang sekali aku temui. Kau betul-betul hebat sekali."

"Ahh... tolong jangan terlalu berlebihan." balas Alzen canggung. "Aku tak sehebat itu kok."  

"Setelah kelas dimulai, kau akan ke kelas apa? Liquidum ya... Plis..."

"Hah? Maksudnya? Memangnya bisa pindah?"

"Kau lupa? Setelah 3 bulan belajar di kelas pilihan kita. Para pelajar di Vheins ini nantinya boleh memilih kelas lain untuk belajar lebih lanjut tentang elemen lain. Kalau aku sih cuma bisa belajar dan tahu saja tentang kelebihan dan kelemahan elemen lain, jika aku pindah kelas. Tapi kamu... Betul-betul bisa mempelajarinya. Luar biasa kan?!"

"Ahh iya-iya, kalau tidak salah Guru pernah bilang begitu di awal-awal masuk kelas."

"Jadi... Liquidum ya!" bujuk Gunin dengan sedikit memaksa.

"Ahh... Entahlah," jawab Alzen gugup. "Aku belum memutuskan."

"Yahhh..." Gunin sedikit kecewa. "Baiklah, tapi kalau nanti kau belajar di Liquidum, cari aku ya... biar aku ajari kamu sihir air yang belum kamu ketahui. Oke?"

"Beneran!?" Alzen terkejut mendengar tawaran itu.

"Ya! Beneran!"

"Oke... Aku pertimbangkan ini... terima kasih banyak Gunin!" jawab Alzen dengan antusias.

"Baiklah... kutunggu nanti di kelas. Oke?!"

Angguk Alzen. "Ya!"

Gunin beranjak pergi dan Alzen kembali menutup kamarnya. Dengan bersandar di balik pintu, ia tersenyum senang sekali.

"Wahh... Mimpi apa aku ini. Pagi-pagi sudah ditawari seseorang untuk diajari sesuatu." ucap Alzen dengan perasaan sukacita. "Tapi, aku belum memutuskan. Apa aku akan tetap di Ignis atau ke kelas lain ya? Aku senang dengan guruku sekarang, tapi aku juga penasaran dengan elemen lain." kata Alzen sambil memercikan ketiga elemennya di telapak tangannya.

Alzen yang tertunduk melihat telapak tangannya, mengalihkan pandangannya kembali ke depan dan melihat jam sejenak. "Sudah jam 7!? Wah... aku harus berkemas sekarang."

Ia menutup buku yang sedang di bacanya di meja. Bergegas untuk mandi dan mengenakan jubah penyihir Vheins. Lalu ia segera mengemas barang-barang di dalam tas kemudian pergi keluar kamar. Ia sempat kembali untuk pamit dengan Chandra. Tetapi Chandra masih tertidur pulas. Ia tak tega membangunkannya.

***

Beberapa saat kemudian, 

Alzen berjalan ke gerbang untuk keluar kota Vheins. Dengan sihir teleportasi pada sebuah device, Alzen sejenak berpindah tempat dari gerbang itu menuju Vheins Field. Melewati jurang terjal yang mengelilingi pulau Vheins, dalam sekejap mata.

"Aku akan pulang ke rumah." ucapnya dengan tersenyum sambil menatap langit biru dari luar kota Vheins yang notabene adalah padang rumput dan hutan lebat. Alzen membawa ransel dan mengenakan pakaian seragam Vheins selama di luar sini. "Ayah... Aldridge... sudah 3 bulan aku tak bertemu kalian. Kangen sekali rasanya."

Alzen berjalan menuju kota terdekat dan menaiki kereta kuda dari kota terdekat itu, melakukan perjalanan menuju rumah menara di ujung barat Republic of Greenhill.

Selama perjalanan di kereta kuda, banyak yang mengenal Alzen sebagai juara dua turnamen tahun ini. Berita itu disiarkan melalui koran yang disebar di seluruh negara Azuria. Dan pemberitaan paling kuat jelas ada di Greenhill itu sendiri. 

Mereka berkomentar sesuai apa yang mereka rasakan sewaktu menonton di turnamen itu. Kekesalannya terhadap sikap sombong Nicholas dan menyayangkan kekalahan Alzen meski bedanya sangat tipis. Semua yang menyapa Alzen dalam sekejap membahas kejadian di pertandingan final dua hari lalu. 

Alzen sendiri tak menduganya, dirinya yang dulu seperti bukan siapa-siapa. Dan hanya mengurung diri dari dunia luar. Kini di kenali oleh banyak orang baru yang tidak ia kenal. Canggung rasanya, begitu pikir Alzen. 

Namun kepopulerannya semata-mata karena turnamen tahunan yang diselenggarakan Vheins, begitu populer oleh orang-orang Greenhill, hingga banyak yang datang dari luar benua Azuria sekalipun tak sedikit yang mengenalinya. 

Untungnya pada jaman ini belum kamera belum di miliki semua orang melalui smartphone. Bahkan kemampuan telepon hanya dimiliki penyihir elit Greenhill. Jika semua orang memiliki kameranya, maka Alzen akan dimintai foto oleh setiap orang yang melihatnya.

***

Sesampainya Alzen di bukit tempat rumahnya berada.

"Ayah... Aldridge, aku... Pulang." ucapnya dengan rasa rindu. Sambil berjalan menaiki bukit itu.

Disana, Kildamash Franquille. Ayah Alzen sedang duduk di atas rumput, memegang ranting kayu dan bermain-main dengan seekor kucing putih.

"Ohh... Alzen!!?" Kildamash terkejut melihat Alzen tiba-tiba muncul di hadapannya. "Kau sudah pulang!?"

"Halo Ayah..." Alzen segera menaruh barang bawaannya di tanah dan segera berlari memeluk ayahnya.

"Aku kangen ayah..."

"Hahaha..." Kildamash tertawa lega, rasa kangennya mulai lepas dari dirinya. "Kau terlihat lebih gagah sekarang. Jubah itu pas sekali untukmu. Pasti banyak yang kau alami selama disana ya?"

"Ya... banyak sekali. Sampai aku bingung harus mulai darimana."

"Hahaha... pelan-pelan saja ceritanya. Dengan senang hati ayah dengar pengalamanmu disana."

Meow!

"Kucing?" kata Alzen. "Ayah piara kucing?"

"Ya... kamu pergi dan Aldridge pergi... sepi rasanya. Selagi berjalan-jalan keluar sini. Ada seekor anak kucing yang entah datang darimana, mengeong terus menerus. Yasudah, aku piara saja."

"Matanya? Kok keren. Sebelah kanannya berwarna biru, sebelah kirinya berwarna kuning." kata Alzen sambil menggendongnya.

"Pas sekali kan? Biru adalah kamu, dan kuning adalah Aldridge. Makanya kucing ini aku beri nama Al. Kucing ini membuatku merasa kalian berdua ada disini."

"Duh ayah... nama anak sendiri dijadikan nama kucing. Hahaha..." Alzen tertawa kemudian ia menggendong dan bermain-main dengan kucing putih itu.

"Justru itu yang membuatku sayang sekali dengan kucing ini." kata Kildamash.

"Wah kangen sekali ya..." kata Alzen sambil menghela nafas. Ia membaringkan kucing itu di pangkuannya sambil mengelus-elusnya selama mendengarkan kata-kata Kildamash. "Ayah, Aldridge mana? Ada di dalam?"

"Hah?" Kildamash heran. "Kamu belum tahu ya?"

"Belum tahu apa?"

"Aldridge sudah pergi dari rumah ini."

"Hah!?" Alzen terkejut. "Sejak kapan!?"

"Kamu tidak memperhatikan yang kukutan tadi ya? Kupikir kamu sudah tahu. Dia pergi di hari yang sama ketika kamu berangkat ke Vheins. Ia kecewa sekali waktu itu karena kembali dengan tangan kosong, sedang kamu berhasil untuk menjadi pelajar di Vheins."

"Hah? Aldridge pergi kemana?"

"Berpetualang katanya. Dia sepertinya tak betah tinggal serumah dengan orang tua sepertiku. Hahaha... wajar sih." kata Kildamash mengingat hari dimana Aldridge pergi. "Namun ketika dia kembali sehari lalu, rasanya sama seperti aku melihatmu barusan. Terkejut sekali, betapa anak muda bisa cepat sekali berubah."

"Ohh ya?!" Alzen antusias sekali mendengarnya. "Aldridge kembali kesini kemarin? Ahh sial! Harusnya aku pulang saja kemarin. Jadi tidak ketemu deh. 

"Tidak apa, kamu bahkan belum tahu kalau Aldridge pergi."

"Lalu seperti apa Aldridge sekarang?"

"Agak sulit menjelaskannya. Berubahlah... berubah. Ia menjadi lebih gagah dan percaya diri seperti kamu saat ini. Ohh iya... dia tak datang kembali kesini seorang diri. Dia bersama gadis cantik berambut pirang panjang, warna rambutnya sama seperti Aldridge."

"Pirang panjang?" Alzen membayangkan sosok Leena di kepalanya.

"Meski mereka berdua menolak dengan malu-malu kalau kubilang pacaran. Tapi aku lihat mereka sangat cocok." kata Kildamash sambil mengingat-ingat kejadian seminggu lalu.

"Siapa namanya?"

"Rynka... kalau gak salah nama lengkapnya. Rynka Mirtel, katanya sih dia anak dari keluarga kaya raya di Griffinia. Tapi kulihat sikap dan penampilannya cukup sederhana. Jarang-jarang kulihat ada anak orang kaya raya yang sederhana dan tidak belagu sama sekali, orangnya baik sekali..."

"Rynka Mirtel? Siapa itu?"

"Entahlah, selebihnya aku juga tidak tahu. Namun yang lebih menarik adalah apa yang dialami Aldridge. Ia bercerita, mulai dari hari pertamanya keluar dari rumah ini, sampai ia kembali. Ia masuk berita di koran Quistra dan Griffinia karena telah mengalahkan guild kriminal besar disana. Ceritanya seperti heroik sekali, sampai-sampai aku merasa seperti cerita karang-karangannya saja. Hahaha... Tapi aku yakin dia bicara yang sesungguhnya. Dia bisa luwes bercerita tanpa henti sewaktu disini."

"Wah... benarkah!?" Alzen antusias mendengarnya. "Haduh... aku tak sabar ingin melihat Aldridge yang sekarang."

"Hahaha... memang sama saja, kalian berdua ini. Dia juga tak sabar melihat dirimu yang sekarang." kata Kildamash. "Dia kesini dengan niat mengajakmu bergabung ke Guildnya... tapi karena kau belum pulang juga. Jadi batal deh..."

"Guild? Apa itu Guild?"

"Lohh... di sekolahmu tidak disinggung sedikitpun soal Guild?"

Alzen menggelengkan kepala.

"Setelah kau lulus nanti, kau juga akan bergabung dalam sebuah Guild untuk bekerja. Guild itu singkatnya adalah tempat orang-orang berkumpul untuk bekerja sama dengan hierarki tertentu. Dan Aldridge bilang, dia sedang membangun Guild-nya sendiri bersama teman-temannya dan sedang mencari orang untuk di rekrut. Jadi dengan kata lain, dia adalah ketua guild-nya"

"Aldridge membuat Guild? Wow!"

"Markasnya besar lagi! Dia mendiami sebuah kastil yang terbengkalai katanya. Kastil rusak dan angker itu yang jadi markas Guildnya, katanya seperti itu."

"Haa!? Kastil!? Besar dong?!"

"Iya, sangat besar katanya. Aldridge mengurusnya dengan uang modal yang ia dapatkan sewaktu mengklaim uang hadiah di Quistra dulu."

"Wah... aku sudah jadi semakin tak sabar ingin bertemu Aldridge."

"Kalian berdua pasti akan saling terkejut, melihat perubahan drastis diri kalian berdua."

Meow! ... Meow! Meow!

"Alzen... Ayo masuk, di luar sangat berangin. Biar kubuatkan sup, meski rasanya kurang begitu enak. Ya kamu tahu lah..."

"Aku mau ayah! Sekalipun rasanya tidak enak. Hehe" Alzen menyindir secara tak langsung.

"Maafkan ayah ya... ayah ini cuma seorang Alchemist, bukan koki."

"Hehe... aku tahu kok ayah."

***

Di Vheins, Dorm Alzen dan Chandra.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi! Ada surat untuk tuan Chandra Wang."

"Hmm?! Nyem... nyem..." Chandra baru terbangun dan pandangannya masih kabur sekali. "Alzen, buka tuh." dalam pandangan yang tidak jelas, Chandra mendapati tempat tidur Alzen sudah kosong dan rapih. "Loh! Alzen!? Ohh iya... dia bilang ingin kembali ke rumahnya semalam. Hoaammm..."

Tok! Tok! Tok!

"Permisi! Ada surat untuk tuan Chandra Wang!"

"Iya... iya... sebentar. Hoaammm..." Chandra merenggangkan tubuhnya dan beranjak naik dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.

Cklek!

"Ada apa sih?"

"Bisa bicara dengan tuan Chandra Wang?"

"Iya saya sendiri."

"Baik, ini surat untuk tuan."

Chandra menerima amplop putih bertuliskan namanya yang berasal dari ibunya.

"Hah? Ibu?"

Tanpa basa-basi, tukang surat itu langsung pergi. Namun Chandra terlihat tak terlalu mempedulikannya, ia terlalu shock mendapat surat ini.

Chandra kembali ke tempat duduk dan buru-buru membuka isi suratnya. Lalu terlihat selembar kertas lusuh, kotor dan terlihat kuning karena sudah tua.

Chandra membaca surat itu, dan seusai membaca. Ia menangis dan berbaring kembali ke tempat tidur, menutupi wajahnya dengan bantal.