Episode 52 - Memorize the Kris


?Di Cosmo Plains, Lio bersandar di bawah pohon. Ia duduk lemas dengan tangannya bersandar di atas dengkulnya sambil terus mencoba menenangkan dirinya yang sedang gemetar takut. 

Di sampingnya. Berdiri Nicholas, melihatnya dengan rasa penasaran.

"Kabar itu. Baru aku ketahui, ketika aku baru menemukan tempat tinggalnya." Lio bercerita tentang ingatannya soal Mia. "Dan ternyata selama ini... Mia, dia tinggal di sebuah rumah gubuk tengah sawah yang tak jauh dari tempat aku dan dia bermain dulu. Dia tak pernah cerita dan selalu menghindar dari topik ini. Dan ketika aku sampai disana. Aku ingat, tak ada seorangpun disana. Tak seorangpun."

"Jadi begitu rupanya..." kata Nicholas seusai mendengarkan cerita tentang Mia dari Lio dan tentang apa yang dilihatnya dari efek Dreamcatcher. Mendengar itu, Nicholas tersenyum dan terlihat tertarik dengan apa yang dilihat Lio. "Ceritakan lebih jauh lagi..." Nicholas jongkok di hadapan Lio. "Apa yang kau lihat?"

"Ohog! Ohog! Sebentar-sebentar. Entah bagaimana aku mengetahuinya. Aku tak ingat detailnya. Aku hanya tahu dan percaya bahwa teman lamaku... Mia. Ia meninggal karena jatuh sakit, entah sakit apapun itu. Dan setelahnya... di penglihatan itu... yang aku temui adalah..." ucapnya dengan rasa takut. "Aku tak bisa percaya ini... seseorang ada disana," kata Lio dengan tangan gemetar sambil menahan air mata. "Seseorang membunuhnya... seseorang membunuh Mia!" ucapnya dengan keras dan tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata.

"Coba gambarkan sekali lagi," kata Nicholas. "Seperti apa wujud orangnya?"

"Aku tidak bisa lihat jelas juga," kata Lio dengan menggelengkan kepala. "Samar, wujudnya samar, seperti gambar kabur. Yang pasti dia seorang pria berpakaian hitam. Dan di tangannya, di tangannya... Ada pisau dari logam hitam yang melekuk-lekuk, pisau itu diselimuti gas hitam dan darah Mia yang membekas di pisaunya. Dari gambar kabur itu, hanya itu yang bisa kudeskripsikan. Wajahnya? Atau bahkan namanya. Aku tak tahu..."

"Dia pengguna Kris," sambung Nicholas. "Jelas orang itu adalah pengguna Dark Magic."

"Tapi... semuanya masih begitu membingungkan!" teriak Lio sambil mengacak-ngacak rambutnya. "Aku tak pernah ingat kejadian ini, aku tak pernah bertemu dengan orang itu dan tak pernah tahu tentangnya. Bagaimana bisa dia tiba-tiba muncul di ingatan-"

Nicholas memotong. "Sebelumnya, kau bilang, kau melihat dia mengulurkan tangannya ke kepalamu kan?"

"Ya... dia melakukannya." kata Lio dengan kepala tertunduk.

"Sudah jelas," Nicholas menyimpulkan. "Ingatanmu dimanipulasi olehnya."

"Dimanipulasi?" tanya Lio yang tak menduga akan kemungkinan itu. "Bagaimana mungkin..." Lio setengah tak percaya.

"Bukan hal mustahil untuk seorang ahli pengguna Dark Magic seperti halnya si pembunuh itu," kata Nicholas. "Aku juga bisa melakukannya. Hanya saja dilarang. Kecuali untuk cuci otak musuh dan kriminal. Namun bedanya, efeknya tak selama orang itu. Kau bahkan dimanipulasi bertahun-tahun dan efeknya masih tetap ada. Si pembunuh itu pasti bukan orang sembarangan, sihirnya di tanam pada dirimu dan efeknya berlangsung sangat lama."

"Darimana kamu tahu semua itu?"

"Belajarlah! Dasar sampah!" bentak Nicholas. 

Namun Lio terlalu lelah dan penasaran untuk tersinggung pada Nicholas. Ya ia tersinggung namun ia menahannya dan fokus pada hal yang lebih penting. Orang menyebalkan di depannya ini adalah satu-satunya yang bisa memberi jawaban jelas padanya.

"Aku juga seorang ahli dark magic. Ingat! Aku ini seorang keluarga Obsidus." Nicholas menghampiri Lio dan memandangnya dari dekat dalam posisi jongkok di hadapan Lio yang bersandar di pohon. "Begini ya, sampah! Dengarkan aku baik-baik. Aku akan jelaskan sedetil mungkin tentang kebenarannya. Tentang pendapatku terhadap penglihatanmu barusan."

Lio menelan ludah sejenak karena gugup. "Ya akan kudengar baik-baik..."

"Pertama, soal cerita bodoh tentang teman perempuanmu itu. Dia sebetulnya tak pernah punya penyakit parah yang sampai membunuhnya. Kalau memang dia sakit, tak mungkin dia terus bermain denganmu tanpa sekalipun memberi tanda-tanda bahwa dia sakit. Itu kejanggalan pertama."

"Kau benar..." tanggap Lio dengan kepala menunduk.

"Kedua, dia dibunuh! dan setelah kau melihat dia dibunuh, ingatanmu dimanipulasi. Sehingga yang kau percaya sampai saat ini adalah, temanmu hilang tiba-tiba dan begitu kau tahu... ia meninggal karena sakit, titik! Itu yang kau ketahui kan?" 

"Ya..."

"Tapi tunggu dulu, kenyataan sebenarnya mungkin tidak begitu."

"..." Lio diam mendengarkan dengan jantung berdebar-debar.

"Dan yang ketiga... ini penjelasanku, mungkin aku tak tahu pastinya, namun kalau boleh aku berasumsi. Sebenarnya kau masih terus bersama-sama dengannya sampai 3 tahun ke depan. Sesuai yang cerita masa lalumu yang membosankan itu. Dia tak pernah meninggalkanmu dan bisa saja, kau mungkin masih terus mengajaknya bermain, setiap harinya. Sampai hari ia dibunuh dan ingatanmu dimanipulasi. Kau dibuat seolah-seolah percaya bahwa Mia meninggal karena sakit. Si pembunuh itu pasti benar-benar jenius."

"Tapi, darimana kamu menyimpulkan itu?"

"Kau tak bisa mengingat dengan jelas! Itu kuncinya." jawab Nicholas. "Yang kau ingat dan percaya adalah bahwa ia sakit, lalu hilang tiba-tiba dan begitu tahu. Dia meninggal 3 tahun setelahnya. Itu salah satu kelemahan sihirnya. Memori palsu yang ditanam tidak pernah benar-benar sesuai dengan realita sesungguhnya."

"Jadi kau mau bilang, yang aku tahu dan yakini itu adalah... memori palsu?"

"Hah! Bisa benar juga kau, sampah! Ya, kau di tanam sebuah memori palsu!" kata Nicholas. "Makanya, kamu tidak pernah tahu, temanmu sakit apa? Dimana kau melihat ia mati berbaring karena sakit? Dan juga, bagaimana kau bisa menemukannya? Dan bagaimana seseorang dengan penyakit parah, bermain denganmu setiap harinya? Coba jelaskan padaku!"

"Aku tak tahu..."

"Semuanya terlalu janggal kan? Kau hanya tahu dan percaya bahwa dia sakit, hilang, lalu mati. Dimana dan kenapa kau bisa tahu ia meninggal? Tak bisa kau ingat kan?"

Lio mengangguk dua kali dengan perasaan murung. "Ya... aku tak bisa mengingatnya."

"Tentu saja! Karena yang sebenarnya terjadi adalah yang kau lihat dari efek sihir Dream Catcher... ingatan terburuk dari yang terburuk, yang tak bisa dimanipulasi sihir apapun untuk melupakannya, akan dibangkitkan lagi dari dirimu yang paling dalam. Untuk menyiksa orang yang terkena ini secara mental. Dan itulah kebenarannya! Kau datang ke rumah temanmu, lalu seseorang sudah ada disana, temanmu dibunuh dan setelah itu kau lari dan dibuat percaya bahwa ia meninggal karena sakit. Harus kuakui, pembunuhnya pasti seseorang jenius sekali!"

Kemudian Nicholas berdiri dan berjalan menjauh sedikit. "Hah! Sudah berapa kali ku memuji si pembunuh itu. Sayang kau tak ada petunjuk identitas dirinya ya? Orang seperti dia kalau tidak bergerak sendiri, pasti sudah di rekrut Guild Criminal kelas kakap."

"..." Lio merenungkannya sejenak sebelum bertanya dengan tatapan serius. "Jadi apa kau tahu siapa pembunuh Mia itu? Atau paling tidak, membantuku mencarinya"

"Hah!" bantah Nicholas. "Mana aku tahu! Kau ingin balas dendam, silahkan saja." Nicholas tidak peduli akan pilihan yang akan dibuat Lio. "Kau bakal mati atau tidak, bukan urusanku. Lagian kita baru saling kenal selama 3 bulan ini. Dan kau datang dari luar benua. Urus saja urusanmu sendiri. Jangan ganggu aku yang terhormat ini."

"Aku akan mencarinya dan membalas atas apa yang ia lakukan terhadap Mia."

"Hah! Lupakan saja niatmu. Aku yakin, dia terlalu kuat bagimu."

"Aku serius! Mungkin tidak sekarang, tidak juga tahun ini. Atau dua tahun maupun tiga tahun lagi. Aku tak peduli. Aku akan mencari orang itu pelan-pelan dan kupastikan aku sudah menjadi sangat kuat ketika waktunya tiba."

"Oke... oke... kalau kau memang berniat balas dendam. Dengarkan baik-baik. Kuncinya ada di kris itu. Ingat wujudnya baik-baik, sekalipun samar. Dan aku juga tidak tahu kalau orang itu masih hidup atau tidak, jika dia masih berkeliaran di suatu tempat di dunia ini. Kau pasti akan mengenalinya dengan melihat senjatanya. Hafalkan bentuknya dan ingat itu sampai kau menemukannya."

"Memangnya dia tidak akan berganti senjata?"

"Tidak, tidak... Kris itu senjata yang spesial untuk penggunanya. Sampai mati, orang itu akan terus menggunakannya. Dibuat sekali untuk dipakai secara khusus pada tuannya seorang. Senjata Kris itu spesial. Kris yang menjadi simbol pengguna dark magic tingkat tinggi."

"Dan bagaimana kalau dia sudah mati?"

"Bagus! Tugasmu selesai tanpa perlu bersusah-susah lagi. Tapi tidak... kemungkinannya kecil. Aku yakin, dia pasti masih hidup di suatu tempat di dunia ini. Lagipula kejadian itu terjadi sekitar 6 tahun lalu kan?"

"Ya, hari itu terjadi di tahun 1895, sewaktu aku masih 12 tahun."

"Dan kalau kau mampu menemukannya, kau harus yakin... sampah seperti dirimu sudah jadi sangat kuat untuk mampu menghadapinya. Karena besar kemungkinannya, dia bisa sekuat ayahku atau bahkan lebih dari itu. Ketika waktunya telah tiba, pastikan kau sudah benar-benar sangat kuat. Kecuali kau mau bernasib sama dengan temanmu."

"Terima kasih Nicholas." tepuk Lio pada pundak Nicholas sambil perlahan bangkit berdiri. "Aku jadi lega sekarang. Aku berhutang budi padamu. Aku janji, aku akan terus bertambah kuat dan jika waktunya tiba, orang itu pasti. Akan mendapatkan balasannya."

"Huh! Kalau tindakanmu sesuai ucapanmu. Mungkin aku harus mulai belajar berhenti memanggilmu sampah."

"Tak masalah, aku sudah terbiasa di olok-olok sejak kecil." Lio berjalan melewati Nicholas dan beranjak pergi dari bawah pohon itu. "Dan aku juga sudah terbiasa denganmu."

"Brengsek! Terbiasa denganku apanya?! Hei, kau mau kemana?" tanya Nicholas, melihat Lio berjalan ke arah yang berlawanan menuju sekolah. "Vheins ada di sebelah sana." tunjuknya.

"Aku akan kembali nanti, kau duluan saja." balasnya sambil mengangkat tangan dengan Nicholas yang melihatnya dari belakang. "Aku mau latihan."

"Huh! Sudah bergaya dia..." gumam Nicholas. "Hei! Kalau kau mau berlatih ada dungeon di sebelah sana." Tunjuk Nicholas ke arah barat. "Semoga kau tidak mati ya... ahh tapi aku juga tidak peduli, tak ada pengaruhnya buatku."

"Oke!" balas lio sambil menunjukkan punggung tangannya dan mengacungkan jempol sambil terus berjalan. "Terima kasih Nicholas."

***

Lio berjalan ke pinggir hutan sepi, memastikan tak seorangpun melihatnya. Kemudian disana ia menangis keras-keras sambil menatap ke langit sambil meneriakkan nama Mia.

katanya... "MIA !! MAAFKAN AKU !! MAAFKAN AKU KARENA AKU... LEMAH !!"

Burung-burung yang menyaksikannya-pun, segera terbang menjauh mendengar teriakkan Lio yang keras sekali. 

Tak lama kemudian, ia tersungkur seperti posisi sujud. Lio terus berduka hingga tubuhnya lelah dan berbaring lemas di atas rerumputan dengan pohon di sekelilingnya dengan wajahnya yang sangat basah oleh air mata dan hingusnya.

***

Hari berikutnya, hari kedua liburan setelah turnamen. Pagi hari,

Tok! Tok! Tok!

Kamar Alzen di ketuk seseorang.

"Aduh Leena ada apa lagi sih?" ucap Alzen sambil membuka pintu, meninggalkan buku yang sedang dibacanya.

"Hi Alzen." sapa Gunin di balik pintu kamarnya.

"Gu-Gunin!?"

"Alzen, bisa kita bicara sebentar?" tanya Gunin. 

***