Episode 34 - Sesuatu Untuknya



 Apa kalian masih ingat dengan wanita yang menabrak Coklat di kampus? Jika kalian tak ingat coba baca lagi ceritanya dari awal. Asal kalian tahu, cewek itu adalah Ica. Ica itu adalah teman pertama Een ketika dia menginjakkan kakinya di kota perantauan ini. Alkisah dahulu diceritakan… ya intinya mereka berdua berteman.

 Mari sejenak kita sejenak renungi kesalahan apa yang telah kita perbuat di dunia ini, semoga dosa-dosa kita diampuni … amiiin. Maaf salah, seharusnya mari kita sejenak flashback ketika Coklat saat itu dikejar-kejar oleh cewek yang menabraknya. Sebelum kejadian itu terjadi sebenarnya begini ceritanya.

 Ica dan Een yang sama-sama mahasiswa baru sedang berjalan menuju luar kampus. Namun semua itu berubah ketika Ica ada masalah dengan pencernaannya, lebih tepat lagi Ica ingin buang air. Mereka yang tadinya berjalan, terpaksa harus berpisah di pertengahan jalan.

 “Aduh,” ucap Ica merintih.

 “Kamu kenapa, Ca?” tanya Een.

 “Perutku!” ucap Ica masih merintih.

 “Kenapa perutmu?”

 “Aku pengin buang air dulu ya?”

 “I … i … iya …,” ucap Een terbata-bata.

 Sungguh waktu itu ada perasaan sedih dikala mereka harus berpisah. Air mata tak tertahankan di kedua wajah cantik cewek itu.

 “Ica, hati-hati ya kamu kesananya ….” 

 “I … i … iya …”

 Tak sanggup menahan kesedihan untuk saling berpisah, mereka berdua akhirnya berpelukan satu sama lain. Kurang lebih hampir 2 jam mereka berpelukan, wah itu mah keburu keluar di tempat.

 Singkat cerita, mereka pun berpisah. Een melanjutkan perjalanannya menuju luar kampus, namun itu langkah dia terhenti sejenak. Een melihat tepat di hadapannya ada dua sosok orang yang tak dikenal. Kedua orang itu memakai jubah hitam dengan corak awan merah. Satu dari mereka membawa pedang samehada dan satu lagi memiliki mata seperti sharingan. Een terlihat panik dengan keadaannya sekarang ini, dia tak tahu apa yang harus dia perbuat.

 “Apa kau yakin jika dia itu seorang jinchurici?” tanya orang yang membawa pedang samehada.

 “Aku yakin, aku mampu merasakan chakra darinya,” jawab seorang yang memiliki sharingan.

 “Mau apa kalian?” tanya Een.

 “Hahahahaha.” orang yang membawa pedang samehada lalu tertawa seperti itu.

 “Biarkan aku yang akan melawan orang ini dengan genjutsu milikku,”

 “Ya baiklah kalau itu permintaanmu,”

 Mungkin dari kalian ada yang bertanya, apa itu sharingan? Apa itu samehada? Apa itu genjutsu? Dan apa pula nih cerita bisa ngawur lagi saja? 

 Kembali ke jalan cerita yang benar. Pada waktu Een berjalan itu tak sengaja dia melihat Ica mengejar-ngejar seorang sosok pria, ya pria itu adalah Coklat. Ada perasaan lain ketika Een melihat sosok pria itu. Pria yang membuat dia bertanya-tanya, siapakah pria yang sudah membuat Ica seakan tergila-gila sama cowok sampai dikejar-kejar kayak gitu? Asal kalian tahu, selama Een mengenal Ica, Ica itu hampir enggak pernah mengejar-ngejar seorang cowok.

 Waktu terus berlalu hingga membawa kesempatan Een untuk bertanya kepada Ica perihal cowok yang sempat dikejar-kejarnya itu. Bertempat di kantin kampus, Een duduk bersama dengan Ica. Dia mulai menanyakan tentang cowok itu kepada Ica.

 “Ica, kemarin itu siapa sih yang kamu kejar-kejar?” tanya Een.

 “Huh, dia itu cowok yang ngerebut buku aku, Mbak En.”

 “Ngerebut buku kamu apa hati kamuuuu?” tanya Een sambil menggoda.

 “Ih, Mbak Een, apaan sih, ya enggak lah. Mana mungkin cewek secantik aku tergoda sama dia.”

 “Tapi dia itu lumayan ganteng yah?” 

 “Cie cie, Mbak Een, kesemsem.”

 “Ih apaan sih.”

 “Itu mukanya merah delima, cieeee.”

 Disaat bersamaan, tiba-tiba datanglah Coklat dan Ival di kantin tersebut. Pada waktu itu, Coklat belum kenal sama Ee. Melihat kedatangan Coklat, membuat Een terus memperhatikannya dari kejauhan. 

 Di depan kedai kopi, Coklat dan Ival memesan kopi.

 “Mas, kopinya ya …,” pinta Coklat.

 Lima menit kemudian, sang penjual membawakan segelas kopi hangat kepada Coklat.

 “Ini, Mas, kopinya.” 

 “Apa ini?” tanya Coklat.

 “Kopinya, Mas.”

 “Lah saya itu pesan kopi, bukan air kopi kayak gini. Makanya kalau orang ngomong didengar, Mas,” ujar Coklat.

 “Iya, maaf.”

 Si penjual kopi pun merasa berdosa karena telah mengecewakan pelanggannya. Akhirnya dia pun pensiun dari tukang kopi dan memulai hidup baru menjadi seorang artis dengan membintangi sinetron yang berjudul “Tukang Kopi Pensiun”. Beranjak dari kedai kopi, Coklat dan Ival berjalan menuju tukang bakso. Disitu Coklat hendak memesan bakso.

 “Mas, baksonya …,” ujar Coklat.

 Dengan sigap tukang bakso itu langsung meninggalkan Coklat dan membuatkan semangkok bakso untuknya.

 Lima menit kemudian.

 “Ini baksonya,” kata tukang bakso membawakan semangkok bakso.

 “Lah siapa yang pesan bakso?” tanya Coklat.

 “Ya, Mas lah.”

 “Makanya, Mas kalau orang ngomong jangan langsung ditinggal gitu aja. Saya itu cuma mau nanya, Mas, baksonya dijual enggak?”

 “Iya, maaf.”

 Ada senyuman terhias dari wajah Een ketika melihat tingkah Coklat di kantin saat itu. Senyuman yang melahirkan sebuah perasaan di dalam hatinya. Semenjak itulah Een memendam rasa kagum sama Coklat, aneh kan.

 ***

 Sore hari di pinggiran sebuah danau, Coklat sedang jongkok merenung. Wajahnya tampak sedih, mungkin itulah perasaannya ketika orang yang dia sayang harus pergi meninggalkannya. Kesedihannya itu membuat jiwanya tak tenang, berulang kali dia pindah dari pinggir danau satu ke pinggir danau yang lain.

 “Ah leganya,” ujar Coklat sambil mengusap perutnya, “kalau buang air di sini kan enak, enggak usah bayar kayak di toilet umum,” lanjutnya.

 Maaf pemirsa rupanya dia sedang buang air barusan. Ih jorok enggak cebok

 “Ya cebok lah!” tegas Coklat.

 Dalam perjalanan pulangnya dari danau menuju rumah, tiba-tiba Coklat mendapatkan Ilham, tapi Ilhamnya enggak mau. Maksudnya tuh mendapatkan sebuah inspirasi.

 “Ahaaa,” senyum Coklat.

 Kira-kira apa ya inspirasi yang menempel di kepala Coklat?

 ***

 Malam harinya, Coklat mengajak Ival ke suatu mall. Cieee cieee jadian nih yeee. Tumben dia main ke mall malam-malam? Ada apa ini? Biasanya juga dia itu kalau malam mainnya ke kuburan sambil bawa sesaji.

 “Nih dari tadi penulisnya sok tahu, gue yang boker di pinggir danau dibilang galau terus gue yang lagi jalan ke mall bareng Ival dibilang jadian sama dia,” ucap Coklat geleng-geleng kepala.

 “Sudah cuekin aja, Klat, lagian juga bentar lagi nih cerita selesai,” kata Ival.

 “Jangan, Val, itu bahaya, katanya kalau nih novel laku mau ada terusannya. Mudah-mudahan aja laku,” ucap Coklat.

 “Mudah-mudahan gue masih diajak jadi tokohnya ya,” harap Ival.

 “Lo mah enggak diajak, Val.”

 “Diajak lah, lo tuh yang enggak diajak!”

 “Lo!”

 “Lo!”

 “Enggak bisa, pokoknya lo!”

 “Lo lah!”

 Ujung-ujungnya mereka pun berkelahi di dalam mall. Coklat memberikan sebuah pukulan ke Ival, namun Ival mampu menangkisnya. Tak mau kalah dari Coklat, kini Ival memberikan sebuah tendangan maut untuk Coklat, lagi-lagi Coklat mampu menahan tendangan maut itu. Pertarungan pun semakin seru ketika Coklat mengeluarkan rasengan dan Ival mengeluarkan chidori. Pertarungan keduanya mengingatkan kita akan sosok Naruto dan Sasuke.

 “Sasuvaaaaal!” teriak Coklat dengan rasengan di tangannya.

 “Naruklaaaaat!”teriak Ival dengan chidori di tangannya.

 Sangat disayangkan ketika kekuatan itu akan saling beradu tiba-tiba saja berhenti dikala ada salah seorang penonton bule memberi aplaus kepada mereka.

 “Amazing-amazing!” kata penonton itu sambil tepuk tangan, prok prok prok.

 Sontak saja, Ival dan Coklat terkejut ketika melihat orang itu mendekati mereka. Siapakah sosok orang itu? Ternyata orang itu adalah Gareth Evans. Wah! Bohong.

 “Luar biasa, pertarungan Anda itu sangat luar biasa. Saya ingin mengajak Anda untuk bermain di film saya, apa setuju?”

 “Film apa, Mister?” tanya Coklat.

 “The Raid 3, bagaimana?”

 “Setujuuu!” teriak Ival dan Coklat.

 Coklat dan Ival akhirnya bermain di film The Raid 3, dengan keberadaan itu pula maka lanjutan untuk novel ini pun gagal diteruskan. Penonton pun kecewa, mereka sedih gara-gara idola mereka sudah berpaling dari novel ini. Akhirnya ceritanya menggantung, mereka berdua enggan bermain di sini lagi. Haduh cerita apa lagi ini!

 Tujuan sebenarnya Coklat ke mall adalah untuk membelikan sesuatu kepada Een, karena kurang dari 24 jam lagi, Een akan meninggalkan Coklat di sini. Setidaknya ada kesan baik yang Coklat berikan untuk Een. Namun tak mudah bagi Coklat untuk membelikan barang yang dia incar itu, selalu saja ada godaan ketika dia dan Ival. Misalkan ketika mereka berdua jalan di pinggir konter handphone, si mbak-mbak tukang handphone tak pernah berhenti untuk menawarkan handphone kepada mereka.

 “Kakah, boleh lihat dulu nih handphone-nya, bagusloh,” kata penjual 1.

 “Ayo, Kakah, dilihat dulu nih handphone-nya,” kata penjual 2.

 Merasa terus digoda seperti itu, Coklat dan Ival pun sejenak berhenti di konter handphone yang penjaganya cewek cantik. Cewek cantik itu memiliki wajah anggun bak Raisa, rambutnya lurus dan suaranya nan imut bikin siapa aja yang dengar suaranya jadi kedengaran di telinga.

 “Iya boleh kakah, dilihat-lihat dulu handphone-nya.”

 “Hmmmm … handphone yang ini deh, Neng,” ucap Coklat sambil menunjuk salah satu handphone.

 Si penjaga konter lalu mengambil handphone yang ditunjuk Coklat barusan.

 “Ini, Kakah, handphonenya, ini bagusloh kameranya 100 megapixel,” kata mbak-mbak penjaga konter.

 Coklat agak ragu, dia pun bertanya pada Ival.

 “Gimana, Val?”

 “Coba yang itu, Klat,” ucap Ival sambil menunjukkan handphone lain.

 “Coba yang itu deh, Mbak,” kata Coklat.

 Si penjaga konter lalu mengambil lagi handphone yang ditunjuk Coklat barusan. Kejadian itu terus berulang-ulang sampai semua handphone dikeluarkan oleh si mbak-mbak penjaganya. Tampang si Coklat malah tambah bingung sekarang, kebingungannya itu membuat mbak-mbak penjaga konternya juga bingung.

 “Gimana kakah mau beli yang mana?”

 “Lah tadi katanya suruh lihat-lihat doang sama neng, gimana sih?”

 “Emang gitu ya?”

 “Iya, kalau enggak percaya lihat lagi dah tulisan di atas.”

 “Oh maaf atuh, saya enggak sengaja.”

 “Enggak apa-apa, Neng, saya maafin.”

 Untung saja si mbak-mbak cantik penjaga konter orangnya baik ya, sabar pula. Coba misalkan kalau mbak-mbaknya engga sabar, mungkin kejadiannya kayak gini.

 “Gimana, Kakah, mau beli yang mana?”

 “Lah tadi katanya suruh lihat-lihat doang, gimana sih, Neng?”

 “Hmmm, enak lo yah, gue udah keluarin semua nih cape-cape, lo bilang enggak beli!”

 “Ampun … ampun … tobat … tobat .…” Coklat dan Ival minta ampun.

 “Enggak ada kata ampuuuun!”

 Lalu tanpa disangka-sangka, si mbak-mbak itu merubah kedua tangannya menjadi sebuah senjata berapi. Tanpa pikir panjang, si mbak-mbak langsung menembakkan senjatanya ke arah mereka berdua. Desing desing! Door door! Kedebug kedebug! Tuing tuing! Apa-apaan lagi nih?!

 Setelah dari konter yang kerjanya cuma isengin si mbak-mbak tadi, Coklat dan Ival bergegas menuju sebuah toko, toko bangunan. Lah buat apa toko bangunan? Ya buat menjual barang-barang bangunan, seperti semen, pasir, split, batu bata, batu koral, sama batu bacan. Yang tepat itu, mereka berdua sekarang ada di depan toko yang menjual busana muslim wanita. Sesampainya di situ, Ival merasa ada yang aneh sama kelakuan Coklat. Oh mungkin, Ival merasa aneh kalo Coklat mampir ke toko busana muslim wanita, secara Coklat kan laki-laki.

 “Hmmmm aneh gue, Klat, lo datang ke sini,” kata Ival.

 “Aneh kenapa?” tanya Coklat.

 “Aneh aja orang kayak lo itu punya duit sampai berani-beraninya ke toko kayak gini terus beliin sesuatu buat dia.”

 “Sial!”

 Oh ternyata salah pemirsa, yang benar itu Ival merasa aneh Coklat punya duit. Wah berarti selama ini, Coklat itu kere pemirsa.

  Mereka berdua pun masuk ke dalam toko itu namun sangat disayangkan ketika mereka masuk tidak ada sambutan meriah seperti lempar bunga, sepatu sama batu. Mereka hanya disapa oleh cewek penjaga toko ini, seperti inilah sapaannya.

 “Selamat datang, Kakah, iya dipilih-pilih dulu bajunya sama kerudungnya,” sapa penjaga toko berjenis kelamin cewek yang memakai kerudung merah jambu.

 “Maaf, Mbak,” ujar Coklat.

 “Iya kenapa, Kakah?”

 “Ini kerudungnya enggak ada yang buat cowok ya?”

 “Mbak, maaf, jangan diladenin orang kayak dia mah,” ujar Ival.

 Si mbak-mbak itu hanya tersenyum mendengar ocehan mereka berdua. 

 “Mbak, kalau pakai kerudung sebenarnya bikin malu enggak sih?” tanya Coklat.

 “Engga kok, justru kalau kita pakai kerudung itu terlihat anggun.”

 “Saya kemarin pakai kerudung malah keliatan jijik, Mbak.”

 “Situ kan laki-laki!”

 “Mbak, jangan didengerin omongan orang itu,” kata Ival.

 Setelah ngocah-ngoceh yang enggak penting, Coklat pun mulai memilah-milah hadiah apa yang pas buat Een. Awalnya dia tergoda oleh baju muslim berwarna biru muda, namun godaannya itu menghilang setelah dia melihat harganya yang fantastis. Coklat tergoda lagi akan kerudung warna biru muda, namun godaannya itu hilang lagi ketika dia melihat kerudung warna putih, eh hilang lagi godaannya, terus tergoda lagi sama kerudung warna merah jambu, eh hilang lagi, terus tergoda lagi sama kerudung warna orens muda, terus hilang lagi. Coklat pun bingung sama banyaknya pilihan busana muslimah di toko ini, dikarenakan bingung, akhirnya dia enggak jadi beli apa-apa.

 Coklat melangkahkan kakinya dari toko busana muslimah itu tanpa menenteng belanjaan satu kantong pun. Pada jarak lima langkah, Coklat teringat akan sosok Een, dia memutuskan kembali ke toko tersebut. Sampainya di toko tersebut, dia bingung sama banyaknya pilihan, akhirnya memutuskan buat enggak beli apa-apa. Coklat melangkahkan kakinya dari toko busana muslimah itu tanpa menenteng belanjaan satu kantong pun. Pada jarak lima langkah, Coklat teringat akan sosok Een, dia memutuskan kembali ke toko tersebut. Sampainya di toko tersebut, dia bingung sama banyaknya pilihan, akhirnya memutuskan buat enggak beli apa-apa. Coklat melangkahkan kakinya dari toko busana muslimah itu tanpa menenteng belanjaan satu kantong pun. Pada jarak lima langkah, Coklat teringat akan sosok Een, dia memutuskan kembali ke toko tersebut. Sampainya di toko tersebut, dia bingung sama banyaknya pilihan, akhirnya memutuskan buat enggak beli apa-apa. Capek ya baca tulisan yang sama sampai 3 kali? Hahaha. Di akhir kisahnya dalam perjalanan ke mall, Coklat membeli satu busana muslim dari toko tersebut. Entah itu baju, rok atau pun kerudung, semua masih menjadi rahasia.