Episode 16 - Enam Belas


Pada malam keberangkatan kapal, Ken Banawa telah memerintahkan petugas sandi untuk mengambil tempat yang sekirannya dapat mengawasi kapal-kapal yang mempunyai tanda-tanda mencurigakan. Saat bintang besar di langit malam itu mulai bergeser ke barat, Ken Banawa telah menerima laporan bahwa ada sejumlah kapal yang bergerak memasuki sungai kecil di sekitar perbukitan Gunungsari. Secara terus menerus Ken Banawa mendapatkan laporan yang sama termasuk jumlah kapal yang memasuki lingkungan perbukitan.

Ken Banawa pun telah menempatkan beberapa orang untuk melakukan pengintaian di lingkungan perbukitan Gunungsari. Pada pagi harinya sudah tersiar kabar bahwa pasukan Ki Sentot telah berkemah di lereng-lereng bukit kecil di sebelah selatan padukuhan Karangan. 

Sejumlah halang rintang yang terbuat dari bambu dan dahan berduri mulai dipasang di garis depan berhadapan dengan perkemahan pasukan Ki Sentot. Sebagian prajurit Majapahit dibantu oleh anak-anak muda dari dua kademangan mulai mengungsikan wanita dan anak-anak. Jerit tangis kesedihan karena perpisahan pun terdengar menyayat hati. Sebagian besar dari anak-anak harus berpisah dengan kakak, ayah atau kakeknya. Wajah-wajah cemas mulai memenuhi setiap jengkal tanah Sumur Welut. Hiruk pikuk orang dengan berbagai macam urusan pun memecah angkasa. Dan sebagian mereka pun tahu bahwa hari depan mereka akan ditentukan dari apa yang mereka lakukan saat ini. Saat musuh sudah berhadapan dengan mereka.

“Beristirahatlah, Bondan. Tenagamu akan dibutuhkan malam nanti. Sementara ini biarkan Gumilang melakukan pekerjaannya dengan bantuan bala prajuritnya,” kata Ken Banawa.

“Sangatlah sulit untuk berdiam diri melihat keadaan orang-orang ini, paman,” jawab Bondan sambil menebar pandangan di sekelilingnya. Orang-orang berlarian dengan urusan masing-masing. Namun Bondan tetap harus mengabaikan rasa gelisahnya ketika membayangkan kecemasan yang menghampiri setiap wajah pengungsi yang dilihatnya. Dia harus membulatkan tekad bahwa malam nanti harus melakukan sesuatu yang dapat membantu memberikan rasa aman pada rakyat Sumur Welut.

Maka Bondan pun bergeser menuju tempat dia biasa beristirahat siang hari di dekat rumpun bambu yang bersebelahan dengan sebuah parit.

Demikianlah setiap orang di Sumur Welut dilanda kesibukan yang diiringi dengan rasa cemas, sebagian orang dipenuhi dengan rasa marah kepada Ki Sentot. Karena mereka tidak tahu mengapa Ki Sentot justru mengarahkan pasukannya ke Sumur Welut dan mereka juga tidak tahu dengan alasan apa perang ini terjadi.

Sebaliknya pada siang hari itu tidak terlihat kesibukan yang berarti di perkemahan pasukan Ki Sentot. Beberapa senapati hanya mengingatkan kewaspadaan dan perintah untuk menunggu keputusan lanjutan dari Ki Sentot.

Seperti tidak mau kalah dengan bintang di langit, pelita-pelita kecil berupa api unggun mulai menerangi padang rumput di perbukitan Gunungsari.

Di sebuah kemah yang besar, Ki Sentot mengadakan pertemuan dengan sejumlah senapati. Hadir pula Ki Cendhala Geni dan Ubandhana di dalam kemah tersebut. Nampaknya mereka sedang merundingkan siasat yang akan digelar esok hari. 

“Malam ini Senapati Pragola akan membawa maju pasukannya sejauh lemparan anak panah. Begitu juga Gajah Praba serta Ubandhana masing-masing akan membawa pasukan untuk bergerak maju sejauh lemparan panah. Di belakang kalian ada Mpu Tandri dengan pasukan gajah. Jan-gan memulai serangan sebelum Mpu Tandri berada di barisan terdepan. Aku akan berada sebagai penghubung diantara kal-ian. Setiap tekanan akan aku ganti dengan tenaga baru. Kita tebarkan dulu ketakutan dan kengerian karena aku harap Su-mur Welut akan menyerah melihat kekuatan di depan mata mereka esok pagi,” Ki Sentot menunjuk sebuah gambar di atas batu datar berwarna putih.

“Esok tidak ada penyerbuan. Kita hanya membunyikan terompet dan tetabuhan serta lenguh gajah. Perintahkan pasukan kalian untuk bersorak sorai,” kata Ki Sentot kemudian,” Kita akan menghangatkan suasana. Peperangan ini akan mematangkan kita dan akan menjadi pesan kita untuk lawan.”

Kemudian secara rinci, Ki Sentot memberikan pesan terakhir dan para senapati yang memimpin kelompok pun telah memahami apa yang harus mereka lakukan.

“Sekarang kalian boleh kembali ke satuan masing-masing. Kita akan segera mulai.”

Saat yang mendebarkan sedang terjadi di pasukan Ki Sentot, perintah untuk bergerak telah dijatuhkan namun bukan untuk menyerang.  

Ki Jayanti segera memerintahkan seseorang untuk memukul gong. Tak lama kemudian suara gong berbunyi bersahut-sahutan dan membunyikan suatu irama tertentu yang menggetarkan hati dan memacu semangat untuk lebih berkobar. Bunyi gong itulah yang menjadi tanda bagi Pragola, Mpu Tandri dan lainnya untuk bergerak maju sebatas panah panah api yang telah dilepaskan dan tertancap di padang rumput. Beberapa panah api meluncur seolah menjadi pembatas gerak pasukan Ki Sentot.

Para pengawas di pedukuhan Karangan melihat sejumlah panah api itu dengan hati berdebar-debar. Sesuatu akan segera terjadi, cepat atau lambat. 

 “Lihat, mereka bergerak kemari.”

“Ya ya. Aku laporkan pergerakan itu dan awasilah mereka,” kata seseorang yang bertubuh sedikit kurus dan menjinjing golok bersarung kulit.

Ki Bekel Karangan pun segera berlari menuju gardu pengawas. Terlihat olehnya bayangan hitam seperti gunung yang berjalan. Nyala api yang mulai meredup seakan-akan menjadikan bayangan itu semakin besar dan akan menerkam dirinya. 

“Katakan ini pada Ki Benawa di padukuhan induk, cepat!” perintah Ki Bekel kepada orang yang kurus.

Melompatlah dia ke punggung kuda dan bergegas memacu kudanya ke pendapa padukuhan induk. 

Beberapa lama kemudian, Ken Banawa yang ditemani Bondan serta Gumilang telah berkuda menuju gardu pengawas di tepi luar padukuhan Karangan. Pengalamannya berperang telah banyak membantu orang-orang di sekitarnya. Ketegangan yang dia rasakan dalam hatinya tidak dikeluarkan dengan kata-kata. Justru sebaliknya, wajahnya begitu tenang mengawasi bayangan yang sangat besar sedang bergerak mendekati padukuhan Karangan.

“Sampaikan ke setiap senapati untuk menempati kedudukan yang telah direncanakan. Jika mereka menyerang saat ini, kita akan menjepit mereka. Siapkan senjata kalian,“ perintah Ken Banawa. 

Semua orang yang mendengar perintah itu menganggukkan kepala lantas bergegas mempersiapkan diri untuk perintah selanjutnya. 

“Lihatlah senapati. Ada beberapa obor yang menuju kemari. Tampaknya beberapa penunggang kuda sedang keluar dari perkemahan dan barisan pasukan mereka,” kata seorang pengawas.

Ken Banawa yang telah membelokkan arah kudanya pun segera menghampiri pengawas tadi.

“Bondan, Gumilang, Ra Caksana kemarilah! Mari temani aku menyambut mereka. Berikan obormu!” perintah Ken Banawa kepada Bondan dan yang lainnya. Segera mereka berempat keluar dari padukuhan Karangan dan menyongsong kedatangan para penunggang kuda dari pihak seberang.

“Selamat malam, tuan senapati,” kata seseorang dari pihak Ki Sentot dan tampaknya orang ini adalah pemimpin dari para penunggang kuda yang keluar dari perkemahan.

“Selamat malam, ki sanak. Gerangan apa yang menjadi sebab tuan-tuan keluar dari perkemahan?” tanya Ken Banawa dengan tegas.

“Kami menyampaikan pesan dari pemimpin kami, Ki Sentot Tohjaya untuk Ki Demang Sumur Welut dan rakyatnya,” kata pemimpin tadi.

“Siapakah ki sanak yang berkenan menemui kami di malam gelap?” tanya Ken Banawa tanpa merasa perlu menanggapi ucapan orang tadi.

“Aku adalah Ki Jayanti. Mendekatlah, anak muda. Supaya terang apimu dapat melihat muka orang tua yang mungkin besok akan bertemu denganmu di padang ini,” kata Ki Jayanti kepada Bondan.

Bondan pun mendekat dengan kesiagaan tinggi. Sebuah kapak terlihat dalam keremangan api dari obor.

“Engkaukah itu Ki Cendhala Geni?” desis Bondan dengan suara bergetar menahan amarah. Bondan ternyata masih belum melupakan kepala Ranggawesi yang diinjak dengan angkuh oleh Ki Cendhala Geni.

“Benar, anak muda. Setelah Ranggawesi, besok pagi adalah giliran kepalamu yang menggelinding di padang ini, anak muda,” kata Ki Cendhala Geni dengan geram.

“Tahan Bondan!” Ken Banawa segera memerintahkan Bondan untuk menahan diri ketika melihat tangan Bondan bergerak pelan menarik keris. Bondan pun surut dan berlalu sambil menatap tajam Ki Cendhala Geni. Gumilang melihat tatap mata Bondan seperti sebuah nyala api yang sanggup membakar apapun yang terlihat olehnya. 

Kemudian Ken Banawa mengatakan,” baiklah Ki Jayanti. Silahkan utarakan isi pesan Ki Sentot kepada Ki Demang Sumur Welut. Aku akan sampaikan secepat mungkin.”

“Katakan kepada Ki Demang untuk menyerah. Kami akan memperlakukan rakyat Sumur Welut sebagaimana biasanya. Dan untuk para prajurit Majapahit dan pengawal Sumur Welut diwajibkan untuk menyerah dan tunduk pada perintah kami,” kata Ki Jayanti kemudian,” demikianlah pesan Ki Sentot kepada Ki Demang Sumur Welut.”

“Kecuali seorang anak muda yang bernama Bondan. Maka dia wajib menyerahkan kepalanya kepada Ki Cendhala Geni,” kata Ki Cendhala Geni diiringi derai tawa yang membahana.

Belum selesai Ki Cendhala Geni mengatupkan bibirnya, sekelebat bayangan sangat cepat menerjang Ki Cendhala Geni. Tubuh Ki Cendhala Geni lekas melenting jungkir balik di udara dan sekejap kemudian terdengar dentang senjata beradu dan mengeluarkan percik api. Dengan penuh amarah, Bondan menyerang Ki Cendhala Geni hingga memaksa Ki Cendhala Geni memutar kapak menyambut serangan Bondan.

“Hentikan, Bondan!” Ken Banawa berkata sambil menerobos ke tengah pertarungan. Demikian pula Ki Jayanti segera melakukan hal yang sama dengan Ken Banawa.

“Orang tua dungu!” bentak Ki Jayanti kepada Ki Cendhala Geni, selanjutnya,”engkau akan menggagalkan rencana Ki Sentot dengan ucapanmu yang bodoh.”

“Persetan dengan orang itu,” Ki Cendhala Geni bersungut-sungut menaiki kudanya kembali.

Sesaat setelah keduanya menghentikan pertarungan, Gumilang mengajak Bondan menjauhi tempat pertarungan.

“Marilah, kita pergi dari sini. Besok mungkin tenaga kita akan lebih banyak dibutuhkan daripada mengurus satu orang saja,” kata Gumilang sambil mengajak Bondan kembali ke gardu pengawas.

“Baiklah, Ki Jayanti. Dan sampaikan jawaban Ki Demang kepada Ki Sentot Tohjaya,” kata Ken Banawa sebelum menaiki kuda,” katakan padanya, Sumur Welut tidak akan menyerahkan siapapun dan apapun kepada kalian. Sumur Welut akan membakar dirinya bersama dengan lereng-lereng bukit sejauh mata memandang.”

“Dengan demikian, tuan senapati. Kita akan bertemu di padang rumput ini. Selamat malam,” sambil melambaikan tangan Ki Jayanti memutar kudanya dan diikuti pengiringnya kembali menuju perkemahan. 

“Selamat malam, kiai,” balas Ken Banawa dengan rasa hormat pada orang yang mungkin saja besok pagi akan menjadi pembunuh dirinya. Demikianlah Ken Banawa diikuti Ra Caksana kembali ke gardu pengawas dan bersama Bondan serta Gumilang, mereka berempat kembali ke pendapa padukuhan induk Sumur Welut.

Ki Sentot lantas bangkit dan kembali ke kemahnya setelah mendengarkan laporan Ki Jayanti beserta para utusan yang dikirimnya menemui pihak Sumur Welut. Jawaban dari ki demang telah menutup usahanya untuk dapat menduduki Sumur Welut tanpa ada korban. Kemudian Ki Sentot memerintahkan penjaga kemahnya untuk mengundang para senapati untuk datang ke kemahnya. Mereka akan berbicara untuk siasat perang yang bakal dijalankan. Usai pertemuan itu, tatap mata Ki Sentot Tohjaya menerawang jauh menembus batasan alam semesta.

Dalam hati Ki Sentot sebenarnya tidak ingin lagi ada penderitaan yang berulang karena peperangan. Akan tetapi Ki Sentot merasa bahwa dirinya sedang mengemban tugas untuk menyingkap rahasia dari sebuah misteri. Sri Jayanegara yang begitu lemah dalam mengambil kebijakan seringkali justru menempatkan bawahan dan rakyatnya dalam keadaan yang sulit dimengerti. Banyak kemunduran yang dialami oleh rakyat Majapahit semenjak tahta diserahkan kepada Sri Jayanegara. Agaknya Ki Sentot melandaskan penyerbuan ini untuk mengakhiri pemerintahan Sri Jayanegara dan memulai kehidupan baru yang sesuai dengan rencananya.

Bagi Ki Sentot, waktu adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk memperbaiki suatu keadaan, namun perbaikan itu tidak akan pernah ada ketika seorang raja bersandar pada pohon kebutaan. Dan perbaikan itu juga tidak akan pernah ada ketika cara atau bahasa yang digunakan adalah bahasa yang tidak nyata.

“Ini seperti meniupkan angin di dalam riak sungai,” gumam Ki Sentot dalam hati,”dan bagaimanapun juga perang ini harus ditempuh demi sebuah harapan dan kejayaan di masa mendatang.” 

Dalam sebuah kemah yang terletak agak jauh dari kemah Ki Sentot, Ki Cendhala Geni berbincang perlahan dengan beberapa senapati.

“Aku tahu diantara kalian mempunyai tujuan yang berbeda dengan Ki Sentot. Aku minta kalian dapat menahan diri. Pasti akan datang saatnya untuk membalaskan dendam Jayakatwang,” bisik Ki Cendhala Geni perlahan,” kemenangan ini sudah terlihat di depan mata. Selangkah lagi kita pasti meraihnya. Pada saat Ki Sentot mulai mengarahkan senjatanya ke istana, maka pada saat itulah tugas kalian untuk memburu Jayanegara dapat dimulai.”

Ketika segala persiapan dilakukan oleh kedua pihak yang akan segera terlibat dalam sebuah pertempuran, di Kahuripan, Dyah Gitarja sedang duduk berhadapan dengan Gajah Mada.

“Kakang, mengapa paman Nambi tidak memberi perintah pada kita untuk mengirim bantuan ke Sumur Welut?” bertanya Bhre Kahuripan.

“Aku tidak tahu alasan Ki Patih Nambi mengenai persoalan itu. Akan tetapi aku kira lebih baik jika kita mengirimkan prajurit langsung ke Sumur Welut,” Gajah Mada menjalin jemarinya menjawab Bhre Kahuripan.

“Jika seperti yang kakang rencanakan, apa paman Ken Banawa tidak merasa dilangkahi?”

“Ia akan baik-baik saja jika aku dapat segera menemuinya besok pagi. Sementara Ra Pawagal berada di sini membantu Sri Batara.”

“Lalu?”

“Aku akan berangkat bersama dua orang prajurit yang akan menjadi penghubung di antara kita. Jika paman Banawa menerima bantuan yang kita tawarkan, seorang prajurit akan segera meneruskan pesan itu ke prajurit yang akan kutinggalkan di jalur yang nantinya aku putuskan.” Ia berhenti sejenak. Sementara Gajah Mada sendiri berada di tengah kecemasan tentang pasukan Ki Nagapati yang berada di sebelah utara kotaraja dan telah siap memutus kotaraja dari segala arah.

Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya,”aku akan berbicara dengan Ra Pawagal setelah kita selesai bicara. Aku akan memintanya untuk mempersiapkan setengah pasukan berkuda.”

Dahi Dyah Gitarja berkerut. Kemudian ia bertanya,”setengah? Apakah tidak terlalu besar? Lalu Kahuripan akan menjadi hilang setengah kekuatannya.”

Gajah Mada menggelengkan kepala lalu ia menjawab,”Ki Sentot tidak memperhitungkan kekuatan Kahuripan. Ia telah membawa semua kekuatannya ke perbukitan Gunungsari.” Ia terdiam sejenak, lalu berkata,”bukankah Sri Batara mengkhawatirkan Ki Sentot akan memasuki Kahuripan?”

Bhre Kahuripan menganggukkan kepala.

“Ra Pawagal telah memperhitungkan semua laporan petugas sandi dan orang-orang yang berdiam di pedukuhan Bulak Banteng. Mereka telah melaporkan pada Ra Pawagal bahwa keadaan Bulak Banteng telah lumpuh. Dan sepanjang jalur dari Bulak Banteng ke kota ini sama sekali tidak ada jejak atau pertanda jika ada himpunan pasukan dalam jumlah yang cukup untuk melumpuhkan Kahuripan,” sorot mata Gajah Mada menyiratkan keyakinan yang kuat ketika ia mengatakan itu kepada Bhre Pajang.  

“Baiklah kakang. Jika demikian, segeralah menemui Ra Pawagal dan katakan apa yang kita bicarakan sekarang ini kepadanya,” perintah Bhre Kahuripan.

Gajah Mada membungkuk hormat dan berlalu meninggalkan pemimpinnya dengan langkah lebar. Jarak keraton Kepatihan yang tidak begitu jauh dilaluinya dengan berjalan kaki. Seorang kawannya turut menemani Gajah Mada menemui Ra Pawagal, Patih Kahuripan. Mendung yang kelam membayangi perjalanan pendek kedua prajurit muda menapaki jalan yang masih ramai orang berlalu lalang. Tanah lapang yang dikelilingi bangunan-bangunan besar pusat pemerintahan masih dijejali banyak orang. Kehidupan di Kahuripan agaknya mulai berangsur kembali seperti sedia kala setelah beberapa waktu diberlakukan jam malam oleh Ra Pawagal. Beberapa lama kemudian keduanya telah memasuki regol halaman Kepatihan. Prajurit penjaga segera membuka jalan masuk bagi Gajah Mada dan kawannya.

Ki Patih Pawagal berada di serambi depan Kepatihan dengan pundak berbalut kain menutup luka-luka yang masih belum pulih sepenuhnya. Raut muka penuh wibawa semakin menambah kehormatan yang melekat pada dirinya. Segera ia menjawab salam dan mempersilahkan Gajah Mada dan kawannya duduk di depannya.

“Bagaimana keadaan ayah ibumu, Kebo Pameling?” bertanya Ki Patih Pawagal pada kawan Gajah Mada.

“Keduanya baik dan sehat, Ki Patih,” Kebo Pameling menjawab. Kedua orang tuanya telah lanjut usia dan sebelumnya Kebo Pameling meminta perkenan memindahkan keduanya ke Kahuripan untuk sementara.

Ki Patih Kahuripan, Ra Pawagal, memalingkan muka menatap Gajah Mada. Lalu dengan suara lembut ia berkata,”aku kira kau kemari untuk membawa pasukan ke Sumur Welut.” Gajah Mada tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Lalu bagaimana keadaan Sumur Welut sekarang ini?”

Kemudian Gajah Mada mengatakan apa-apa yang telah ia dengar dari seorang petugas sandi yang dikirimkan oleh Bhre Kahuripan sendiri. Ki Patih Ra Pawagal sesekali mengusap janggutnya dan pandang matanya sering menerawang jauh.

“Sumur Welut masih cukup tangguh untuk bertahan hingga dua tiga hari ke depan,” kata Ra Pawagal memberi penilaian. Sekalipun ia sedikit terkejut dengan adanya pasukan gajah di barisan Ki Sentot Tohjaya.

“Apa yang akan kau katakan tentang rencana kawanmu ini?” Ki Patih menghadap wajah Kebo Pameling yang masih bingung dengan suasana di sekitarnya.

Sedikit tergagap ia menatap Gajah Mada lalu menjawab,”aku tidak tahu apa yang ia rencanakan.”

Ki Patih Ra Pawagal tersenyum lalu berkata,”Katakan Gajah Mada. Segera kita tuntaskan masalah yang timbul di Sumur Welut.” Suara tegas dan dalam terucap dari bibir Ki Patih dengna mata lurus menatap Gajah Mada.

Setelah menarik nafas dalam-dalam, Gajah Mada berkata,” Ki Patih, Kebo Pameling adalah seorang senapati yang membawahi seratus prajurit berkuda. Dan aku ingin Ki Patih memberinya tugas untuk membantu Paman Ken Banawa di Sumur Welut. Kemudian kekosongan yang mereka tinggalkan akan segera aku isi dengan sekelompok prajurit dan orang-orang padepokan.”

Ki Patih mengerutkan keningnya, kemudian ia bertanya,”prajurit mana yang kau maksudkan? Dan padepokan mana yang bersedia menjadi benteng pertama Kahuripan?”

“Sekitar tiga puluh prajurit berada dalam tanggung jawabku. Merekalah yang bersembunyi di balik benteng kota ketika Ki Srengganan merebut Kahuripan dalam semalam,” Gajah Mada berhenti sejenak. Lalu ia melanjutkan kata-katanya,”aku telah bertemu dengan pemimpin Padepokan Kumboro Geni beberapa waktu yang lalu.” Terhenyak Ra Pawagal mendengar Padepokan Kumboro Geni disebutkan. Semasa muda, Ra Pawagal adalah salah seorang murid dari padepokan yang disebutkan namanya oleh Gajah Mada.

Dada Ra Pawagal berdesir tajam lalu ia memandang Gajah Mada dan Kebo Pameling bergantian. Sejenak kemudian ia berkata,”aku sungguh tidak mengira kau telah melangkah sejauh itu dan tidak terpikir olehku untuk meminta bantuan mereka.” Lalu ia melanjutkan lagi,”baiklah aku mendengarkan permintaanmu, Gajah Mada. Akan tetapi, bukan Kebo Pameling yang akan memimpin pasukannya ke Sumur Welut. Kau adalah pengganti kedudukan Kebo Pameling, tentu saja kau akan bertanya tentang alasanku ini. Para prajurit Kebo Pameling tidak akan keberatan jika kau pimpin mereka, dan Kebo Pameling sendiri juga tidak akan menerima penolakan dari prajurit yang kau sembunyikan. Akan tetapi, kalian berdua harus mengerti, orang-orang Kahuripan akan lebih tenang jika Kebo Pameling berada di tengah-tengah mereka.”

Ki Patih meneruskan,” aku harap kau jangan salah mengerti, Gajah Mada. Selama ini orang-orang Kahuripan mengenal dirimu sebagai senapati yang tidak mempunyai pasukan yang cukup besar. Aku tidak ingin muncul anggapan jika keselamatan dan keamanan Kahuripan dibebankan pada senapati yang tidak berpengalaman.”

“Aku mengerti, Ki Patih,” kata Gajah Mada tegas.

“Selain itu, ini adalah kesempatan bagimu untuk menunjukkan kecakapan dalam memimpin pasukan. Meskipun kau bukan pasukan yang utama, tetapi bantuanmu pada Sumur Welut tentu akan menjadi pertimbangan khusus bagi saudara-saudaramu,” berkata Ki Patih, ia kemudian bertanya pada Kebo Pameling,” bagaimana menurutmu, Kebo Pameling?”

“Aku mendukung Ki Patih dengan rencana itu. Sudah saatnya bagi Gajah Mada untuk mengeluarkan kekuatan-kekuatan yang selama ini masih bersembunyi dengan baik dalam dirinya,” wajah cerah Kebo Pameling menyertai jawabannya. Ia tampak senang dengan kepercayaan yang diberikan Ki Patih Ra Pawagal pada Gajah Mada. Bahkan ia nyaris saja melompat dari duduknya untuk memberi selamat pada rekannya yang bernalar tajam dan berwawasan sangat jauh itu. Hanya saja kewibawaan Ra Pawagal telah mengekang keinginan Kebo Pameling.

“Demikianlah Gajah Mada. Setelah pertemuan ini, kau harus mengikuti petunjuk dan pesan Kebo Pameling untuk mempersiapkan pasukan berkuda. Dan aku kira memang sebaiknya kalian berdua segera bangkit untuk bersiap.” Ki Patih Ra Pawagal segera mengakhiri pertemuan itu dengan sepata dua patah pesan penting bagi dua lurah prajurit yang masih berusia muda.

Sejenak kemudian Gajah Mada dan Kebo Pameling telah berada di luar halaman kepatihan. Mereka berjalan beriringan menuju barak pasukan berkuda yang dipimpin oleh Kebo Pameling.