Episode 217 - Arak



“Cih!” seorang lelaki berperawakan dewasa muda terlihat sangat kesal. “Licin sekali si Khandra itu!” 

Keberadaan dirinya tentu sudah diketahui oleh para tetua di Perguruan Gunung Agung. Dengan mengemban status sebagai Petaka Perguruan, maka akan sulit bagi dirinya bergerak bebas di Pulau Dewa. Dengan berat hati, terpaksa ia segera angkat kaki dari wilayah Perguruan Gunung Agung serta Pulau Dewa.

Setelah melangkah keluar dari gerbang dimensi berlatih milik Perguruan Gunung Agung, Lintang Tenggara sempat menyembunyikan diri sejenak dengan menggunakan formasi segel ciptaannya. Menanti. Akan tetapi, selang beberapa waktu berlalu namun tak ada seorang ahli pun yang menyusul keluar dari gerbang dimensi yang baru saja ia gunakan. Lintang Tenggara sangatlah pintar, sehingga tak perlu waktu lama bagi dirinya untuk menyimpulkan bahwa Balaputera Khandra telah melakukan sesuatu terhadap prasasti batu yang dirinya gunakan itu. 

“Ia tak menginginkan diriku tertangkap, di saat yang sama ia tetap ingin menjaga bahwa diriku tidak berada di dekatnya…,” gumam Lintang Tenggara terhadap tindakan Balaputera Khandra, sepupunya sendiri. 

Pemikiran Lintang Tenggara berkelebat deras ibarat menyusun strategi dalam permainan catur. Ia membayangkan sejumlah kemungkinan-kemungkinan atas langkah-langkah Balaputera Khandra, menyingkirkan ketidakmungkinan, lalu mengembangkan kemungkinan yang ada semakin jauh lagi. Meski merasa bahwa kecerdasannya tertantang, pada akhirnya satu hal yang sangat mutlak menjadi batu sandungan. Kemungkinan besar, Ayahanda Balaputera Ragrawira bersiasat di balik gerak-gerik Balaputera Khandra. 

Sejumlah pertanyaan lalu mencuat di dalam benak Lintang Tenggara. Ada apakah gerangan di Perguruan Gunung Agung sampai Balaputera Khandra memilih tinggal dan mengusir diriku…? Tentu bukan sekadar hendak mengarahkan Bintang Tenggara agar bertandang ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Tidak. Tindakan tersebut kemungkinan besar hanyalah sebuah tujuan jangka pendek. Bahkan, bisa jadi hanya sebagai pengalihan perhatian atas sesuatu yang lebih besar. Bukan Perguruan Gunung Agung, melainkan Pulau Dewa, simpul Lintang Tenggara, meski ia belum mengetahui perihal apa. 

“Ayahanda… Sampai bilakah diriku akan tertinggal…?” Lintang Tenggara mengulum senyum. 

Sebuah lencana berlambangkan berkas cahaya tetiba bergetar ringan. Segera ia mengeluarkan lencana tersebut dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Menebar mata hati, Lintang Tenggara pun mendapati sebuah pesan. 

“Muridku, kembalilah ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Waktu yang telah kita nanti akan segera tiba.” 

“Guru…” Lintang Tenggara membatin. 

Lelaki dewasa muda itu memang sejak awal bertujuan kembali ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang ketika pertama kali mendapat pesan bahwa si bodoh dan ceroboh telah tiba di sana. Akan tetapi, ia memutuskan untuk sekalian membawa penyebab kedatangan Bintang Tenggara di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Siapa nyana, Balaputera Khandra tak mudah ditaklukkan, tentu karena diajari langsung oleh ayahanda. Setiap kemampuan yang Balaputera Khandra miliki seolah memang dibangun untuk mengimbangi kemampuan dirinya. 

Di saat yang sama, ingatan Lintang Tenggara berkelabat pada beberapa ratus tahun lalu. Kala itu, di dalam pelarian, ia diarahkan oleh Maha Guru Keenam Sumantorono, untuk bersembunyi dan melanjutkan penelitian di dalam Partai Iblis. Akan tetapi, tak perlu waktu lama bagi dirinya merasakan kejemuan. Ia mulai menelusuri segala petunjuk tentang Ayahanda Balaputera, lalu mengaitkan dengan Wangsa Syailendra dari trah Balaputera yang menguasai Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Periksa setiap jengkal Pulau Dewa!” tetiba terdengar suara memberi perintah. “Ia pastinya belum pergi terlalu jauh!” 

Lintang Tenggara tersadar dari lamunan. Regu pencarian akhirnya tiba. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera melangkah masuk ke dalam lorong dimensi ruang milik Partai Iblis. Lorong dimensi ruang kali ini membawa Lintang Tenggara kembali ke Pulau Lima Dendam. Akan tetapi, ia tiada kembali menuju kediamannya, melainkan segera melompat ke dalam lorong dimensi ruang yang lain lagi. 

Hari beranjak malam ketika Lintang Tenggara tiba di wilayah Kota Ahli. Langkah kaki lalu membawa dirinya menelusuri jalan berbelok-belok dan membelah kota. Keadaan di sekeliling lengang, sehingga leluasa sekali ia bergerak. Pada akhirnya, lelaki dewasa muda itu tiba di hadapan salah satu perguruan kecil. Papan nama terpajang tinggi, namun huruf-huruf yang sepantasnya menandakan nama perguruan terlihat kabur tak terawat. Semakin tiada dapat terbaca karena pencahayaan malam sangatlah temaram. 

“Apakah kau mendengar kisah Maha Guru Sanata dari Perguruan Duta Guntur dan Empu Wacana dari Perguruan Panji Manunggal?” Terdengar suara terkekeh dari balik pintu gerbang perguruan itu, yang disusul dengan suara menenggak minuman.

“Hahaha… Siapakah kiranya di Kota Ahli yang tiada mendengar kabar akan kebodohan yang ditambah dengan kebodohan…?” 

“Hahaha….” Gelak tawa kemudian terdengar sambung menyambung. 

“Brak!” Tetiba gerbang perguruan kecil itu didobrak dari sisi luar. 

“Siapa…!?” 

Gelak tawa berubah menjadi sikap waspada!

“Permisi… Apakah benar tempat ini merupakan Perguruan Air Damai…?” Seorang lelaki dewasa muda dengan aura terpelajar bertanya santun, sungguh bertolak belakang dengan tindakannya yang baru saja mendobrak paksa gerbang perguruan tersebut. 

“Siapakah engkau!?” 

“Lancang!”  

“Cari mati!” 

Enam orang ahli sontak bangkit dan bersiaga, beberapa terlihat sedikit sempoyongan. Meja bundar yang mereka kelilingi bergetar karena terdorong dari berbagai arah secara bersamaan. Di atas meja, tak kurang dari lima kendi berserakan, bahkan ada yang sudah tergeletak miring. Aroma ketal arak menyibak pekat di udara. Kemungkinan besar keenam ahli ini sedang menikmati arak sambil membicarakan dan menertawakan apa pun yang terlintas di dalam benak kabur mereka. 

Keenam ahli tersebut kesemuanya berada pada Kasta Perak. Dua yang terkuat pun, yaitu yang tadi asyik menggunjingkan dan menertawai kebodohan Maha Guru Sanata dari Perguruan Duta Guntur dan Empu Wacana dari Perguruan Panji Manunggal, hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 7. Maklumlah, ini hanya perguruan kecil di pinggiran Kota Ahli, sehingga guru terkuat pun tergolong lemah bila dibandingkan dengan murid perguruan besar sekelas Perguruan Maha Patih. 

Bila Perguruan Maha Patih adalah perguruan besar, kemudian Perguruan Panji Manunggal dan Perguruan Duta Guntur merupakan perguruan menengah, maka Perguruan Air Damai ini adalah perguruan imut. Saking kecilnya, keenam ahli ini adalah para tetua perguruan, dan perguruan ini tiada memiliki asrama untuk menampung murid-murid. Yang mereka miliki hanya sebuah gedung berukuran sedang di belakang sana, dan murid-murid terpaksa pulang-pergi dari rumah masing-masing ke perguruan setiap hari. 

“Diriku tak hendak berbasa-basi… Segera serahkan arak Lapen Tujuh Malam yang kalian miliki!” Raut wajah Lintang Tenggara beranjak serius. 

Lapen, atau ‘langsung pening’, merupakan minuman keras oplosan khas Kota Ahli. Bahan dasar pembuatannya tiada diketahui pasti dan dampak memabukkan yang ditimbulkan pun tiada dapat ditebak. Lapen banyak diproduksi secara luas. 

Sekira dua ratus tahun lalu, muncul lapen yang sangatlah kuat, yang tidak hanya memabukkan, namun juga memakan korban jiwa. Ratusan ahli meregang nyawa, sebagian karena ingin mencoba menenggak sensasi minuman keras terbaru, sebagiannya lagi karena ingin menguji daya tahan diri, sedangkan beberapa karena ikut-ikutan saja. 

Sejak kejadian itu, Keraton Ayodya Karta sebagai penguasa Kota Ahli, mengharamkan produksi lapen. Secara khusus, barang siapa yang memproduksi dan meyimpan lapen, khususnya Lapen Tujuh Malam, maka akan menerima hukuman yang berat. Para Pamong Praja dari Keraton pun sering melakukan razia atas kepemilikan minuman keras yang lebih layak disebut sebagai racun itu.

“Apa katamu!?” 

“Apakah dikau pamong dari Keraton Ayodya Karta…?”

“Mana mungkin kami berani menyimpan Lapen Tujuh Malam…”

“Penelusuranku tiada mungkin salah. Serahkan Lapen Tujuh Malam yang kalian sembunyikan, dan kalian akan berkesempatan menyaksikan mentari terbit pada esok pagi.” 

Keenam ahli saling pandang. Di hadapan mereka hanyalah seorang ahli yang baru berada pada Kasta Perak Tingkat 1, namun sungguh berani berkata-kata lancang, bahkan berulah mengancam. 

Lintang Tenggara lalu telihat melirik ke kiri dan kanan. Dengan santai, ia lalu menebar mata hati sejauh mungkin, memastikan tak ada ahli lain di sekitar mereka. Lelaki dewasa muda dengan aura terpelajar itu lalu melempar sebuah kotak persegi seukuran dua kepalan tangan, yang jatuh tergeletak di permukaan ubin. 

“Segel Kamar Kosong,” ujar Lintang Tenggara. Jemarinya terlihat lincah menentukan lokasi formasi segel. Seketika itu juga, pantauan panca indera dan tebaran mata hati ke dalam wilayah dimana mereka berada dibatasi oleh dinding formasi segel yang tak kasat mata. 

Di saat yang sama, keenam ahli memasang kuda-kuda! Dari gaya berpakaian, lawan semata wayang itu dipastikan bukanlah anggota Pamong Praja Keraton. Lalu, di dalam setiap tindakan penggerebekan, diketahui bahwa Pamong Praja akan datang bersama pasukan. Pun mereka akan menunjukkan surat perintah. Meski terbuai dampak minuman keras, keenam ahli ini masih cukup waras. Di mata mereka, gelagat lelaki dewasa muda di hadapan, lebih mirip dengan seorang pemeras ketimbang seorang aparat penegak hukum. 

Ahli pertama, yang berada pada Kasta Perak Tingkat 1, merangsek menyerang! Ia merasa lawan sepantaran, sehingga cukup yakin dapat mengimbangi. Pengaruh minuman keras ikut memberikan andil dalam meningkatkan keberanian di hati. 

Lintang Tenggara menarik napas dengan tenang. Ia berdiri menyerong dan melipat satu tangan ke belakang pinggang. Peringatan telah ia sampaikan, namun tiada digubris. 

Lawan telah mendekat dan baru hendak melepaskan pukulan tangan kosong ke arah Lintang Tenggara, ketika dua bayangan hitam sebesar buah semangka berkelebat cepat. Datangnya dari kedua sisi, kiri dan kanan. 

“Krak!” Adalah bunyi yang ditimbulkan ketika manik-manik raksasa Aksamala Ganesha menghimpit pelipis kepala lawan dari kedua sisi. Darah bersimbur dari lubang mulut, hidung dan telinga. Kedua bola mata melotot, lalu salah satunya terlepas jatuh. Tengkorak kepala retak dan serta merta seonggok tubuh jatuh lemas meregang nyawa. Sungguh pemandangang yang mengenaskan! 

Rembulan malam menggantung tinggi bak sebuah pinggan putih bersih yang tergeletak di atas meja bertaplak bintang-bintang. Tiada awan yang terlihat mengawang. Malam begitu syahdu lagi hening. Formasi Segel Kamar Kosong menyembuyikan teriakan-teriakan pertarungan nan berat sebelah. 

“Ampuni kami…”

“Ampuuuunnn…”

Dua ahli Kasta Perak Tingkat 7, yang gagal dalam upaya mengeroyok lawan tertelungkup tiada berdaya. Sekujur tubuh keduanya dipaksa menempel erat di ubin karena kekuatan unsur kesaktian daya tarik bumi yang demikian digdaya.

“Dimana kalian simpan Lapen Tujuh Malam…?” Lintang Tenggara berujar lirih. Betolak belakang dengan suasana malam, sedari awal suasana hatinya memang dirundung awan gelap. Oleh karena itu, ia sangat tak ingin berbasa-basi dan hendak segera menuntaskan urusan di tempat ini.

“Di dalam…”

“Di sebuah ruangan rahasia di balik lukisan…” 

“Kami akan mengambilkannya untuk Tuan…” 

Lintang Tenggara menarik jurus unsur kesaktian yang ia kerahkan lalu mulai berhitung. Salah seorang lawan segera bangkit tergopoh dan masuk ke dalam bangunan perguruan. Ia melewati kubangan darah ahli lain seperguruan. Seorang lagi menanti diam di tempat sambil bersimpuh. Langkah ini mereka tempuh untuk mengisyaratkan bahwa mereka tiada berbohong dan benar-benar akan mengambilkan Lapen Tujuh Malam yang diminta. 

Cukup lama waktu berselang, setidaknya Lintang Tenggara berhitung sampai angka 360, baru ahli tersebut kembali dengan membawakan sebuah kendi berwarna merah. Aroma arak nan menyengat menyibak kental di udara. Jika tak cukup kuat, menghirup aromanya saja, sudah dapat membuat ahli Kasta Perunggu sempoyongan. Kendi merah tersebut lalu diletakkan di atas meja, dan ahli yang membawanya duduk bersimpuh di samping temannya. 

“Tuan Ahli, silakan Tuan menerima arak Lapen Tujuh Malam ini…”

“Secara turun-temurun, selama ratusan tahun, perguruan kami menyimpan satu kendi arak ini…”

“Kalian berdusta…,” ucap Lintang Tenggara. “Mengapakah demikian…?”

“Ampun beribu ampun, Tuan Ahli. Kami tiada berani berdusta. Di dalam kendi itu tak lain adalah arak Lapen Tujuh Malam yang perguruan kami miliki.” Kedua ahli bersujud secara bersamaan.

“Duak!” Sepasang Aksamala Ganesha jatuh dari atas dan mengheyakkan kepala kedua ahli tersebut ke permukaan ubin. Kejadian ini berlangsung lebih dari sekali. Kedua ahli nan malang tiada dapat berbuat apa. Kubangan darah menyebar dari kepala dengan posisi tubuh bersujud, sehingga terlihat seperti jamur yang baru sedang berkembang.

Enam ahli meregang nyawa. Enam ahli dibantai tiada berdaya. 

Lintang Tenggara menghela napas panjang. “Mengapa sulit sekali bagi orang-orang ini memaklumi perintah sederhana…? Sudah kukatakan agar menyerahkan Lapen Tujuh Malam yang disembunyikan, dan raih kesempatan menyaksikan mentari terbit pada esok pagi.”

Lelaki dewasa muda itu bergumam sambil melangkah masuk ke dalam Balai Utama Perguruan Air Damai. Ia mulai berhitung. Langkah kakinya berjingkat menghindari kubangan darah. Di dalam, ia mendapati sebuah lukisan yang bergeser dari posisinya. Ia hanya berdiri mengabaikan saja, namun masih tetap menghitung. Lintang Tenggara lebih tertarik pada bercak darah yang ditinggalkan oleh alas kaki ahli yang sebelumnya mengambilkan satu kendi arak Lapen Tujuh Malam. Ia menelusuri semakin ke dalam. Dalam benak ia berpikir akan kebohongan ahli-ahli rendahan tadi. 

Setelah menyaksikan empat teman meregang nyawa dan berada dalam ancaman jiwa, mereka akhirnya bersedia mengungkapkan kepemilikan akan arak Lapen Tujuh Malam. Meskipun demikian, mereka tiada memberi tahu lokasi penyimpanan, melainkan menawarkan diri dan bergegas mengambilkan barang yang diminta ke dalam Balai Utama. Inilah petunjuk akan kebohongan yang ditangkap oleh Lintang Tenggara. Mereka tak hendak Lintang Tenggara mengambil langsung arak Lapen Tujuh Malam dari tempat penyimpanan. Mereka menyembunyikan sesuatu. 

Langkah Lintang Tenggara berhenti di hadapan sebuah pilar penyangga pada salah satu sudut bangunan. Akan tetapi, bercak tapak darah masih berlanjut samar sampai ke dalam. Lelaki dewasa muda itu berhenti karena hitungan sudah mencapai angka 250, atau lebih dari setengah dari total 360 hitungan. Sisa hitungan yang ada hanya cukup untuk kembali keluar menggunakan langkah normal. 

Pilar penyangga itu tersebut terbuat dari susunan batu bata merah sehingga terlihat sangat kokoh sekali. Aksamala Ganesha segera beraksi kembali. Setelah tiga-empat kali hantaman bertubi, pilar tersebut hancur dengan mudahnya, kemudian menampilkan sebuah lubang penyembunyian dan menyibak aroma arak nan kental. Satu lagi kendi berwarna merah yang berisi arak Lapen Tujuh Malam!

Menenteng sebuah kendi, Lintang Tenggara melangkah keluar. Ia lalu mengambil kendi di atas meja dan menyimpan kedua kendi arak Lapen Tujuh Malam ke dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Tak lupa, ia pun memungut kotak kecil yang berfungsi sebagai media untuk merapal formasi Segel Kamar Kosong. 

Sebelum beranjak pergi, ia mengamati keadaan sekali lagi. Sungguh ironis, pikirnya dalam hati. Keenam ahli ini meregang nyawa untuk melindungi arak yang dapat mencabut nyawa. 

“Hm… Kemanakah langkah kaki akan membawa diri ini sebelum tiba di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?” gumam Lintang Tenggara dingin. “Tak ada salahnya mampir sejenak di… Sanggar Sarana Sakti.”



Cuap-cuap:

Diperlukan waktu empat hari empat malam untuk menyelesaikan episode ini. Dikarenakan terlalu lama berlibur menulis, kelugasan menuangkan isi pikiran menurun drastis. Di lain waktu, sudi kiranya para ahli baca sekalian mengingatkan agar tidak berlibur terlalu lama. Entahlah episode Rabu akan hadir sesuai jadwal atau tidak…