Episode 20 - Bisikan Iblis (3)



Dharmadipa menatap tajam pada Mega Sari dan si nenek bertampang menakutkan seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan matanya. “Kakang Dharmadipa, sarungkan Kerismu dan silakan duduk!” ucap Mega Sari sambil tersenyum manis. 

“Benarkah ini kamu Mega Sari?” tanya Dharmadipa yang masih tak mempercayai matanya.

Mega Sari tertawa kecil “Tentu saja ini aku Kakang, apakah ada yang lain dengan diriku calon suamiku?”

Kini Dharmadipa melotot, sorot matanya semakin tajam menatap Mega Sari dan si nenek bergantian “Aku ingin bertanya sesuatu padamu Mega Sari, dan jawablah dengan jujur!” tegasnya, Mega Sari mengangguk sambil tersenyum menggoda “Tentu Kakang, apakah yang ingin kau tanyakan?”.

Jari telunjuk Dharmadipa menunjuk si nenek serta berhala dan perlatan perdukunan yang ada di sana. “Mega Sari siapakah dia? Dan apakah arti semua ini? Apakah engkau yang mengirim teluh pada Prabu Karmasura?”

Tanpa ragu-ragu Mega Sari menjawab jujur, “Ini adalah guruku Nyai Lakbok Kakang, Benar Kakang, aku dan guruku yang meneluh Prabu Karmasura!” 

Marahlah Dharmadipa mendapati jawaban tersebut, “Edan! Edan! Kenapa kau melakukan perbuatan sesat seperti ini Mega Sari? APakah kau lupa pada ajaran guru kita di padepokan?”

Perkataan itu membuat si nenek marah tapi Mega Sari segera menahannya. Kemudian sekonyong-konyong, air mata sang Putri ini langsung keluar dari kedua matanya “Kakang Dharmadipa, aku melakukan ini semua demi mencapai tujuan kita, kalau aku tidak menyingkirkan Prabu karmasura kita tidak akan pernah bisa bersatu.!” rengeknya sambil menangis.

“Iya aku tahu itu, tapi kenapa kamu melakukannya dengan cara sesat seperti ini?!” bentak Dharmadipa.

Saat itu mata si Nenek berkilat-kilat menatap Keris pusaka yang ada di pinggang Dharmadipa, dia lalu merapal suatu mantera ajian untuk menahan sejenak khasiat dari Keris pusaka itu, setelah berhasil ia memberi isyarat pada Mega Sari untuk mengeluarkan aji peletnya untuk menenangkan dan menundukan Dharmadipa. Seketika itu juga Dharmadipa merasa bagaikan sedang berjalan diatas awang-awang, kepalanya kosong, yang ada di hati dan pikirannya hanyalah Mega Sari.

“Kakang Dharmadipa…” ucap Mega Sari sambil merangkul bahu Dharmadipa yang jiwanya sudah mulai dikuasai oleh Mega Sari. “Apakah Kakang tega kalau aku harus selamanya bersanding dengan Pangeran Mundingsura? Kakang aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan agar kita bisa bersatu kelak!”

Dharmadipa terdiam, seluruh tubuhnya terasa lemas. “Kakang Dharmadipa, apakah Kakang tega menggagalkan rencana kita? Padahal kita sudah saling dijodohkan sebelum kita lahir, semua yang aku lakukan ini untuk mencari jalan agar kita bisa bersatu Kakang, agar kita bisa menikmati nikmatnya kehidupan yang sebenarnya! Agar Kakang dapat bertahta di singgasana Mega Mendung dengan segala kebesarannya! Bayangkanlah kalau Kakang berhasil menjadi prabu Mega Mendung lalu berhasil menundukan Padjadjaran, Banten, dan Cirebon! Seluruh tanah Pasundan ini akan bersujud di bawah kaki Kakang! Sekarang apakah Kakang tidak mau untuk bersanding denganku menjadi Raja dan Ratu Mega Mendung?”

Dharmadipa mendesah, wajahnya berganti menjadi penuh senyuman. “Aku akan menyesal seumur hidupku kalau aku menolak tawaran itu Mega Sari!”, Dharmadipa lalu mendekap Mega Sari.

“Benar Kakang, dekaplah saya, saya merindukan dekapan Kakang yang selalu hadir di setiap mimpiku!” desah Mega Sari. Melihat Mega Sari yang sudah dapat mengendalikan Dharmadipa, si Nenek yang tak lain adalah Nyai Lakbok segera pergi meninggalkan tempat itu bagaikan asap.

“Tapi bagaimanakah kau bisa berada disini? Mundingsura pasti melarangmu keluar dari kamarmu?” tanya Dharmadipa penasaran.

“Kakang tenang saja, aku telah membalikan matanya, yang berada di kamarku adalah seorang dayang istana yang aku buat seolah-olah itu adalah aku, jadi selama ini yang melayani nafsu pria bejat itu adalah dayangku, sementara aku masih tetap suci Kakang!” jawab Mega Sari yang membuat hati Dharmadipa sangat kegirangan, kini ia benar-benar terjerat oleh jarring cintanya Mega Sari, ia bagaikan kerbau yang dicocoki hidungnya oleh Mega Sari, ia hanya bisa menuruti kemauan Mega Sari tanpa bisa menolaknya meskipun sebenarnya itu bertentangan dengan hati nuraninya, tapi ia tak berdaya!

Saat itu terdengar kokokan ayam jantan, matahari mulai menampakan cahayanya di ufuk timur. “Kakang Dharmadipa, sekarang saatnya kau kembali ke keraton, aku pun hendak kembali ke keraton,” ucap Mega Sari.

Dharmadipa mengangguk “Kamu betul Mega Sari, baiklah aku pergi dulu, kamu juga cepatlah pulang ke keraton.” balas Dharmadipa yang langsung meninggalkan tempat itu. 

Seperginya Dharmadipa, tiba-tiba Nyai Lakbok kembali berada di tempat itu. “Dia sudah pulang?” Tanya si nenek.

“Sudah Guru,” jawab Mega Sari, 

“Apakah tidak apa-apa kau melepasnya begitu saja Mega Sari?” tanya si nenek lagi.

Mega Sari tertawa kecil “Guru tidak usah khawatir, dia boleh perkasa, tapi dihadapan Mega Sari dia tidak lebih dari anak manis yang penurut!”

Nyai Lakbok manggut-manggut. “Ya… Dia memang punya kelebihan yang mengerikan, tanda rajah cakra bisma di keningnya itu… Dan sifat serta auranya hampir sama dengan ayahmu Prabu Kertapati!”


***


Pagi harinya, Dharmadipa kembali ke keraton Mega Mendung dengan langkah gontai, di kesatriaan Pangeran Mundingsura menghampirinya. “Bagaimana Adi Tumenggung? Apakah kau menemukan orang yang mengirim teluh itu?”

Dharmadipa mendesah sambil menundukan kepalanya “Maafkan saya Raden, rupanya ilmu saya cuma seujung kuku dari orang itu. Di perjalanan Keris saya seperti kehilangan tuahnya, lalu saya jadi seperti orang linglung yang berjalan kian kemari berputar-putar disekitar hutan diluar Kutaraja, untung kesadaran saya kembali saat matahari terbit dan bisa pulang… Maaf saya sudah mengecewakan Raden.”

Pangeran Mundingsura menghela nafas berat dengan wajah yang penuh dengan raut kekecewaan. “Ya sudah tidak apa-apa… Nampaknya orang yang meneluh ayahanda Prabu bukan tukang teluh sembarangan, seorang tukang teluh pasti akan berpikir ribuan kali untuk meneluh seorang raja, apalagi di keraton Mega Mendung ini banyak orang sakti, dan hebatnya ilmu teluh itu, tidak ada seorang dukun atau tabib yang yang sanggup mengobati ayahanda Prabu!” 

Dharmadipa hanya menundukan kepalanya, rasa keadilan yang ditanamkan oleh guru sekaligus ayah angkatnya dengan rasa cintanya pada Mega Sari yang meneluh Prabu Karmasura bergulat hebat didalam hatinya.

Tengah malam harinya, kejadian yang sama terulang lagi, terdengar lolongan anjing srigala yang saling bersahutan dengan kaokan Gagak hitam dan suara burung hantu yang menegangkan bulu roma bagi siapa saja yang mendengarnya, kuda-kuda serta hewan-hewan lain di keraton nampak gelisah dan saling meringkik, hawaa menjadi sangat panas dengan udara yang terasa pengap, bau bangkai santar tercium kemana-mana.

Dharmadipa yang sedari tadi gelisah tidak bisa tidur, bangun dari atas tempat tidurnya, ia meraih Keris pusakanya lalu keluar dari kamarnya, dia mendongkak melihat keatas langit. Kawanan burung gagak hitam berterbangan diatas keraton Mega Mendung dengan saling berkoakan, dan yang paling mengerikan adalah sebuah bola api yang sangat terang nampak berputar-putar diatas langit keraton, hatinya kembali mendua, “Oh guru apa yang harus aku lakukan?!” tanyanya dalam hati pada diri sendiri, sekilas wajah guru sekaligus ayah angkatnya dan ibu angkatnya berkelebat di pelupuk matanya.

“Guru… Ayah… Ibu…” rintihnya, dia lalu duduk bertafakur memusatkan pikirannya. “Mega Sari! Jangan kau teruskan perbuatan sesatmu itu! Ingat pesan guru kita! Tinggalkan perbuatan sesatmu itu!” ucapnya dengan telepati pada Mega Sari, “Mengapa sampai hati kau mau melakukan perbuatan sesat yang keji dan terkutuk ini?!” lanjutnya.

Tiba-tiba udara di hadapan Dharmadipa bergetar, lalu dari kegelapan malam munculah Mega Sari yang hanya merupakan bayangan dan tidak dapat dilihat oleh orang lain kecuali Dharmadipa. Bayangan gadis cantik ini berjalan lenggak-lenggok menghampiri Dharmadipa sambil tersenyum manis menggoda, “Minggir Kakang, tolong jangan halangi usahaku!” pintanya. “Apakah Kakang sudah tidak menginginkanku sebagai pendampingmu? Padahal kita sudah menjadi sepasang suami-istri sebelum kita lahir, Kakang ingat sewaktu kita sering bertemu di alam mimpi? Kakang ingat sewaktu aku membawa Kakang bertemu di alam halus? Apakah Kakang tidak mau mereguk segala kenikmatan dan kepuasan ketika nanti kita bersatu memerintah Mega Mendung dan seluruh tanah Pasundan?!”

Dharmadipa membuka kedua matanya dan menatap Mega Sari dengan tajam. “Aku hanya tidak mau berkomplot dengan orang dari aliran sesat sepertimu!” tegasnya.

Mega Sari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak, “Kakang menyebut saya penganut aliran sesat? Lalu menurut Kakang aliran yang seperti apakah yang termasuk aliran lurus? Aliran Islam seperti yang diajarkan oleh Guru Kita Kyai Pamenang dan Nyai Mantili? Bukankah tentara Islam yang telah membunuh ayah dan Ibu Kakang? Yang telah menghancurkan negeri Kakang?!” Dharmadipa mulai terpengaruh oleh ucapan Mega Sari, bara api dendam di dadanya berkobar kembali, dendam inilah yang membuatnya selalu terpuruk dan kini sedang dimanfaatkan oleh Mega Sari dengan rayuan mautnya!

Mega Sari menyeringai melihat ucapannya mulai termakan oleh Dharmadipa, bayangan itu lalu merangkul Dharmadipa, dengan suara manja ia berkata, “Ini semua tidak bisa kuhindari kekasihku, karena kematian Prabu Karmasura adalah jembatan untuk mencapai jalan menuju kebersamaan kita! Pelan kita sedang mencapai puncak kebahagiaan… 

Kakang Dharmadipa, Kakang adalah calon raja, calon pemimpin Mega Mendung! Kakang harus faham bahwa politik untuk mencapai tujuan harus menghalalkan segala cara! Tidak peduli seberapa kotornya darah yang melumuri tubuh kita, tidak peduli seberapa banyaknya bangkai manusia yang harus kita injak! Seluruh prajurit serta rakyat yang mati di medan perang adalah tumbal untuk sebuah kekuasaan! Ribuan rakyat yang lapar atau yang sengaja dilaparkan juga adalah tumbal kekuasaan, tidak peduli pria-wanita, tua-muda, dewasa atau anak-anak bahkan bayi sekalipun! Ini selalu berlaku disetiap zaman, dari zaman manusia mulai mengenal kekuasaan sampai zaman yang tidak kita tahu, sampai alam semesta ini kiamat! Dan yang saya inginkan, kita berdualah yang berada di puncak kekuasaan itu! Maka sudah tugasku sebagai seorang istri untuk meluruskan jalan yang akan kita tempuh menuju kekuasaan itu Kakang!”

Mendengar penjelasan tentang politik kekuasaan yang disampaikan dengan suara manja nan lembut bagaikan buluh perindu dari mulut Mega Sari itu merobohkan dinding keimanan Dharmadipa yang selama ini telah goyah diterpa badai api dendam didalam jiwanya. Rasa keadilan yang ditanamkan oleh gurunya menguap entah ke mana, maka berkatalah pemuda ini dengan suara lemas, “Aku selalu tidak bisa menolak keinginanmu Mega Sari!”.

Mega Sari pun tertawa bengis dengan penuh kemenangan, namun kelihatannya dan kedengarannya sangat indah bagi Dharmadipa, bagaikan taburan mutiara yang berjatuhan ke atas lantai pualam, bayangan perempuan yang sangat cantik itu bangun dari duduknya sambil tertawa-tawa lalu menghilang ditelan kegelapan entah ke mana! 

Didalam sebuah gubug reyot yang tersembunyi di hutan luar Kutaraja Rajamandala, Mega Sari bangun dari semedinya. “Sudah kau urus pemuda pilihan hatinya itu?” tanya NYai Lakbok.

“Sudah guru, saya memanfaatkan gelora api dendam di hatinya untuk meruntuhkan keyakinannya!” jawab Mega Sari.

Nyai Lakbok tertawa mengkikik menyeramkan “Bagus muridku! Kau teruslah manfaatkan dendam di hatinya untuk mengendalikan pemuda itu! Sekarang lanjutkanlah, baca lagi manteranya!” perintah Nyai Lakbok, mereka berduapun meneruskan ritual ilmu santet Ngareh Jiwanya dihadapan berhala yang ada di dalam gubug itu.

Sementara itu di kesatriaan keraton Mega Mendung, Dharmadipa kembali mendongkakan kepalanya ketas langit, di langit bola api yang tadi sempat menghilang kini muncul lagi, bola api itu berputar-putar lalu melesat kearah kamar tamu kehormatan yang ditempati oleh Prabu Karmasura, bola api itu meledak diatas gentengnya dan langsung terdengarlah suara jeritan pria tua yang tak lain adalah Prabu Karmasura!

Menyaksikan semua itu, Dharmadipa jatuh berlutut dengan lemas, air matanya menetes, “Maafkan aku Guru… Ayah dan Ibu benar, sekarang saya telah terjerat dalam cengkraman suatu kekuatan maha dahsyat yang saya sendiri tak tahu itu apa dan saya tak mampu melepaskannya! Oh Guru…mengapa aku selalu menjadi orang yang kalah?” ratapnya.

Di dalam kamar tamu kehormatan, Prabu Karmasura beserta istrinya melihat sesosok mahluk ghaib tinggi besar berwarna hijau, bertaring, bertanduk, berwajah sangat buruk dengan bola mata melotot hampir keluar yang menyala-nyala terbakar api. Mahluk itu tertawa terbahak-bahak menggetarkan seluruh kamar tersebut. Saking takutnya Prabu Karmasura dan istrinya tidak dapat bergerak dari atas tempat tidurnya.

Suara tawa mahluk ghaib itu tiba-tiba berubah menjadi suara tawa mengkikik nenek-nenek. Mahluk hijau itu pun berubah wujud menjadi seorang nenek-nenek tinggi bertubuh bungkuk, berpakaian serba hitam, matanya belo berwarna merah, mulutnya pun merah oleh sirih yang ia kunyah. “Siapa kamu?! Mengapa kau lakukan ini pada kami?!” bentak Prabu Karmasura yang hanya bisa bersuara tanpa bisa menggerakan tubuhnya.

“Aku? Hikhikhik… Aku Nyai Lakbok dari Gunung Patuha, aku memang hanya memperlihatkan diriku pada korbanku yang sudah hendak mampus! Hikhikhik…” tawa si Nenek.

“Apa salah kami padamu?! Kami bahkan tidak pernah mengenalmu!” sergah Prabu karmasura.

“Salahmu adalah merusak kehidupan muridku! Kau membuat muridku menderita!” tegas Nyai Lakbok.

“Benar! Gara-gara kau melamarkan anakmu untukku, hidupku jadi menderita!” ucap Mega Sari yang tiba-tiba muncul di sana.

“Mega Sari?! Apa maksudmu? Bukankah dengan pernikahanmu dengan Mundingsura, Mega Mendung akan semakin kuat dan akan menggantikan posisi Padjadjaran sebagai penguasa tanah Pasundan ini?!” Tanya Prabu Karamsura yang terkejut melihat Mega Sari.

“Dasar tua Bangka bodoh! Bagaimana bisa kau ukur kebahagianku dengan persekutuan antara negera ini?! Semua orang di tanah pasundan ini tahu bahwa anakmu si Mundingsura itu mewarisi sifatmu yang mata keranjang, setiap hari bisanya hanya bersenang-senang dengan merusak kehormatan perempuan! Mana sudi aku menikah dengan anakmu yang bejat itu?! Dan satu lagi, mana mungkin Rama Prabu rela kursi tahtanya diduduki pria seperti anakmu itu?!” semprot Mega Sari.

Kejut Prabu Karmasura dan istrinya bukan seolah-olah mendengar itu “Apa?! Jadi maksudmu perkawinan ini hanya akal-akalan untuk menguasai Pasir Wangi?!”

Mega Sari tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan “Hahaha… Jadi otak tololmu itu baru mengetahuinya? Sudah, waktumu dan istrimu di dunia ini sudah habis! Guruku akan menghabisi nyawa kalian berdua!”

Nyai Lakbok menyeringai, dari kedua tangannya keluarlah dua ular kobra belang hitam-putih jadi-jadian! Kedua ular ghaib itu melesat masuk kedalam mulut Prabu Karmasura dan Dewi Wahyusih! Mereka berdua terbatuk-batuk mengeluarkan darah hingga akhirnya perut mereka meledak setelah kedua ular kobra jadi-jadian itu keluar dari dalam perutnya! Setelah kedua ular itu kembali pada Nyai Lakbok, kedua guru dan murid itu pun lenyap bagaikan asap ditiup angin!

Pagi harinya seluruh istana Mega Mendung gempar dengan meninggalnya Prabu Karmasura dan istrinya Dewi Nawang Kasih, untunglah karena telah banyak dukun yang mengatakan bahwa mereka berdua tewas akibat ilmu teluh yang sangat hebat maka tidak ada sedikitpun kecurigaan kepada pihak keluarga Prabu Kertapati, Jenazah Prabu Karmasura serta istrinya dibawa ke Pasir Wangi untuk kemudian di prabukan di sana sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut.

Sepuluh hari berlalu setelah kematian Prabu Karmasura, Prabu Kertapati meminta Mega Sari agar terus merayu dan membesarkan hati Pangeran Mundingsura agar dapat secepatnya membantu Mega Mendung menyerang Negeri Bojanegara sesuai dengan perjanjian awal persekutuan mereka yang disampaikan berbarengan dengan pinangan Pangeran Mundingsura untuk Mega Sari. Mega Sari pun melaksanakannya dengan baik, ternyata Mega Sari benar-benar seorang permpuan yang selain cerdas juga pandai merayu dan mengambil hati orang, hingga Pangeran Mundingsura pun luluh, masa berkabungnya berakhir dengan cepat, gairah untuk berperang pun tumbuh subur berkat rayuan maut Mega Sari, meskipun tanpa ia sadari, setiap malam ia meniduri seorang dayang istana yang perawakannya mirip Mega Sari, bukan istrinya yang cantik jelita itu, berkat ilmu pembalik mata dari gadis sakti ini.

Persiapan perang pun digelar besar-besaran, hampir seluruh kekuatan pasukan Pasir Wangi yang berjumlah 1500 orang dikerahkan, mereka bergabung dengan kekuatan Mega Mendung dan mesanggrah di Mega Mendung, siap untuk segera berangkat berperang ke Bojanegara!

Pada suatu pagi, Dharmadipa sedang memerika keadaan kuda-kuda di istal keraton yang akan dipakai untuk penyerbuan ke Negeri Bojanegara, pada saat itu datanglah Pangeran Mundingsura bersama Mega Sari melihat-lihat ke istal kuda, mengetahui ada Dharmadipa di sana Mega Sari sengaja berlagak semakin mesra dengan Mundingsura, hingga hati Dharmadipa panasnya bukan main!

“Adi Tumenggung, sedang mengecek keadaan kuda-kuda kita?” Tanya Mundingsura.

“Benar, Raden. Saya tidak ingin ada kuda-kuda yang sakit ketika kita pergi ke Bojanegara.” jawab Dharmadipa sambil menahan kecemburuannya.

“Benar kuda-kuda kita harus sehat, tapi terutama para prajurit kita dan kamu Kakang Pangeran, kamu harus pergi dan pulang dalam keadaan sehat dan selamat ya!” ucap Mega Sari dengan manjanya sambil merangkul Mundingsura yang membuat Dharmadipa semakin panas.

“Astaga istriku ini, kamu tidak malu pada Adi Tumenggung? Aku pasti akan pulang dengan selamat, demi kamu istriku!” tanya Mundingsura tapi dengan nada bercanda yang membuat gaya Mega Sari semakin centil.

Saat itu terdengarlah suara didalam kepala Dharmadipa “Kakang janganlah marah kepadaku, tapi marahlah pada pria ini! Pada laki-laki yang telah merebut tempatmu disisiku! Bukankah kau yang seharusnya berada di sampingku dan menjadi Pangeran Mega Mendung? Maka dari itu Kakang lakukanlah rencana kita! Bunuhlah laki-laki durjana yang telah merebut tempatmu disisiku ini Kakang!” bisik suara itu.

Setelah Mega Sari dan Mundingsura pergi, Dharmadipa langsung mengambil kudanya lalu memacunya hingga kedalam hutan diluar Kutaraja Mega Mendung, di sana ia bersilat dan bersilat seorang diri menghamburkan amarahnya yang ia pendam selama sepuluh hari terakhir ini ketika dilihatnya Mega Sari semakin mesra dengan Pangeran Mundingsura, hingga pada puncak kemarahannya ia meneluarkan Pukulan Sirna Raga, satu pohon jati besar berusia puluhan tahun menjadi sasaran kemarahnnya hingga hancur berantakan!

Setelah itu ia pun terbaring dengan tubuh bermandikan peluh, ia menagis sejadi-jadinya bagaikan seorang anak kecil, “Guru… Aku benar-benar sangat menderita! Aku seperti buih yang terombang-ambing dibawa ombak! Aku menyesal tidak mendengar nasihatmu! Sekarang aku sudah terperosok semakin dalam kedalam lubang lumpur nista! Aku tiada sanggup mengangkat tubuhku dari lubang lumpur yang hina ini! Sekarang aku tidak bisa hidup tanpa Mega Sari! Guru mengapa aku selalu menjadi orang yang kalah? Guru huhuhu… Guru… Ayah Ibu… Maafkan aku…”

Hari telah rembang petang ketika Dharmadipa baru mampu mengangkat tubuhnya kembali, ia pun memacu kudanya kembali ke keraton Mega Mendung. Saat ia masuk kedalam kamarnya, alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Mega Sari telah berada di sana berbaring diatas tempat tidurnya, wanita ini tersenyum manis menyambut kedatangan Dharmadipa seolah menyambut kedatangan suaminya sendiri. “Kakang baru pulang? Darimana saja?” tanyanya dengan manja.

“Aku baru pulang berlatih untuk persiapan besok Mega Sari!” jawabnya ketus.

“Kenapa engkau begitu ketus padaku kekasihku?” tanya Mega Sari.

“Karena kau tiba-tiba masuk kedalam kamarku! Bagaimana kalau ada yang melihatnya atau ada yang mendengar pembicaraan kita?!” sergah Dharmadipa.

Mega Sari tertawa “Kakang tenang saja, aku sudah memasang tabir di kamar ini, semua yang ada diluar tidak akan bisa melihat kita apalagi mendengar suara kita!”

Dharmadipa memasukan Keris Pusaka Naga Putihnya kedalam peti disebelah tempat tidurnya, ia lalu duduk di tepi tempat tidurnya. “Kamu mau apa kesini Mega Sari?”

Mega Sari beringsut bangun lalu duduk disebelah Dharmadipa. “Aku datang kesini untuk menyemangatimu Kakang!”

Mata Dharmadipa melotot menatap tajam Mega Sari. “Setelah apa yang kau lakukan tadi pagi?! Sengaja mempertontonkan kemesraanmu dengan Mundingsura padaku?!”

Mega Sari tertawa culas mendengranya “Hahahaha… Kakang-Kakang… Benar itu aku lakukan sengaja untuk memanas-manasimu, menyemangatimu agar kau ingat, besok bukan hanya Prabu Bojakerti dari Bojanegara saja yang harus Kakang bunuh tapi juga Mundingsura!”

Mega Sari lalu tersenyum, tangannya mengangkat dagu Dharmadipa “Kakang aku punya satu hadiah untukmu, aku bisa melipat gandakan tenaga dalammu!”

Dharmadipa diam menatap Mega Sari, Mega Sari lalu mengulum jempol tangan kanannya, lalu jempolnya ditempelkan ke tengah-tengah kening Dharmadipa tepat dimana rajah cakra bisma itu berada, Mega Sari lalu berkomat-kamit membaca mantera, sekonyong-konyong Dharmadipa merasakan ada suatu aliran aneh didalam tubuhnya, tenaga dalamnya tiba-tiba terasa meluap-luap! Tubuhnya jadi serasa lebih enteng dan bertenaga!

“Terimakasih Mega Sari, aku dapat merasakan tenaga dalamku meningkat pesat hingga seolah meluap-luap, tubuhku juga jadi terasa ringan dan lebih bertenaga” ucap Dharmadipa, Mega Sari mengangguk sambil tersenyum manis sekali “Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu, Kakang beristirahatlah” ucapnya, Mega Sari lalu mencium kening Dharmadipa yang karuan saja membuat hati pemuda pemberang ini blingsatan! Tubuh Mega Sari lalu lenyap bagaikan angin lalu.


  ***


Keesokan harinya pada saat mentari baru muncul di ufuk timur, berangkatlah pasukan gabungan Mega Mendung dengan Psirwangi kearah barat menuju ke Negeri Bojanegara di kaki gunung Pangranggo! Begitu besarnya jumlah prajurit gabungan kedua Negara itu, hingga disepanjang jalan yang mereka lalui bagaikan sebuah ular raksasa yang meliuk-liuk melewati lembah-lembah dan perbukitan di sana.

Negeri Bojanegara adalah sebuah negeri kecil di Kaki Gunung Pangranggo, awalnya negeri ini adalah negeri bawahan Padjadjaran, tapi kemudian Padjadjaran mengalami kemunduran setelah Prabu Ragamulya Surya Kencana naik tahta menggangtikan Prabu Suriawisesa. Prabu Bojakerti raja Bojanegara pun memutuskan untuk menerima Islam masuk ke negerinya dan memeluk Islam, ia juga menolak untuk memihak kepada Mega Mendung maupun Banten yang sama-sama mengklaim sebagai Negara kelanjutan Padjadjaran, Prabu Bojakerti memutuskan untuk bersikap tidak memihak sebab ia dan seluruh rakyat Bojanegara tidak suka peperangan, hingga akhirnya kini Prabu Kertapati dari Mega Mendung menyerbunya.

Saat matahari terbenam dan suara adzan berkumandang diseluruh seantero Negeri Bojanegara, seluruh rakyat dan prajurit pun melaksanakan shalat maghrib, hanya beberapa prajurit yang berjaga-jaga disekitar Kutaraja dan Keraton. Saat itulah seluruh kekuatan gabungan Mega Mendung dan Pasirwangi menyerang dari berbagai penjuru di bawah pimpinan Prabu Kertapati dan Pangeran Mundingsura dari empat penjuru mata angin! 

Tak ayal lagi, korban-korban langsung berjatuhan, para prajurit Mega Mendung dan Pasirwangi langsung membakar masjid-masjid serta tajug-tajug tempat para prajurit dan rakyat Bojanegara melaksanakan shalat Maghrib! Benteng Kutaraja langsung jebol, pasukan Mega Mendung dan Pasirwangi pun bergerak bagaikan banjir bandang ke keraton Bojanegara.

Dharmadipa yang bertugas mengawal Pangeran Mundingsura pun mengamuk dengan hebatnya, sudah tak terhitung korban yang jatuh ditangannya, hingga unit pasukan yang dipimpin Mundingsura dan Dharmadipa menjadi unit pasukan yang pertama menjebol masuk ke keraton Bojanegara! Perang tanding antara Prabu Bojakerti dengan Pangeran Mundingsura pun terjadilah, sementara Dharmadipa menghadapi keroyokan beberapa senopati perang Bojanegara.

Dharmadipa berhasil membunuh semua pengeroyoknya, sementara Pangeran Mundingsura kewalahan dan terdesak menghadapi si jago tua Prabu Bojakerti, Dharmadipa segera menghunus Keris Pusaka Naga Putihnya, dia lalu melompat memapasi gerakan Prabu Bojakerti.

Prabu Bojakerti terkejut melihat Keris pusaka yang dipegang Dharmadipa. “Keris Pusaka Naga Putih!” desisnya, ia lalu menerjang Dharmadipa dengan segenap tenaganya, Dharmadipa pun menembakan pukulan Sirna Raga dari tangan kirinya! Blarrr! Tubuh Prabu Bojakerti mental beberapa tombak kebelakang, tubuhnya hangus, dadanya ambrol, tapi jago tua ini masih bertahan hidup, Dharmadipa segera menerjang dan menusukan Keris Pusakanya tepat ke jantung Prabu Bojakerti! Prabu Bojakerti pun tewas seketika setelah memberikan perlawanan hebat untuk mempertahankan negerinya.

Melihat Prabu Bojakerti sudah tewas, Pangeran Mundingsura berlari menghampiri Dharmadipa sambil menarik nafas lega, “Syukurlah, akhirnya kita bisa menewaskan Prabu Bojakerti, terimakasih Adi Tumenggung, aku berhutang nyawa padamu, aku berjanji kalau aku sudah menjadi prabu nanti, kau akan kuangkat menjadi mahapatih Mega Mendung!”

Dharmadipa menyeringai sambil tersenyum aneh mendengarnya, dia lalu berucap, “Kalau Raden berhutang nyawa padaku sekarang juga akan kuambil hutang itu!”

“Apa maksudmu, Adi Tumenggung?” tanya Mundingsura keheranan.

Dengan gerakan secepat kilat yang tak nampak oleh mata saking cepatnya, Keris Pusaka Naga Putih Dharmadipa membeset atau menggorok leher Pangeran Mundingsura! Pangeran Mundingsura pun tak mampu berbiacara akibat tenggorokannya putus, ia hanya bisa sekarat kelojotan dengan suara mengorok mirip ayam yang disembelih!

Dharmadipa pun segera berlagak seolah panik mendapati kondisi Pangeran Mundingsura, ia pun memanggil para prajurit, tapi terlambat, racun jahat yang sangat berbisa dari Keris Pusaka Naga Putih telah sampai ke jantung Mundingsura, berakhirlah hidup Pangeran dari Pasirwangi ini!

Setelah peperangan berakhir, demi melanjutkan kelangsungan Negara Pasirwangi, Prabu Kertapati pun memberikan maklumat kepada Mega Sari selaku pewaris tahta Pasirwangi yang sah untuk menggabungkan negeri Pasirwangi ke bawah naungan Mega Mendung. Mega Mendung pun berhasil mencaplok Pasirwangi tanpa pertumpahan darah sekaligus menundukan Bojanegara dengan mudah, ini semua berkat ide dari Mega Sari. Dharmadipa pun melamar Mega Sari secara resmi, akhirnya ia dapat menikahi Mega Sari, perempuan yang membuatnya tergila-gila selama ini, akhirnya pernikahan mereka pun dilangsungkan 120 hari setelah hari kematian Pangeran Mundingsura.