Episode 25 - Roy dan imajinasinya yang luar biasa


Kembali ke beberapa jam sebelumnya. Seorang pria memakai jas berwarna hitam, kacamata hitam, dan dengan dasi putih menggantung di kerah bajunya. Dengan pandangan setajam elang pria itu memperhatikan seorang siswa laki-laki berjalan pulang dari sekolah.

Sampai di rumahnya, siswa laki-laki itu langsung masuk menutup pintu. Di luar, pria berjas hitam itu berdiri dan dengan waspada sembari memperhatikan rumah itu. 

Pria berjas itu adalah Roy, anggota dari geng serigala hitam sekaligus anak buah kepercayaan Nino. Ini adalah kesekian kalinya dia mengikuti siswa laki-laki itu, yang tak lain adalah Rangga Kuncoro, alias Raku.

Dari hasil penyelidikannya dengan bertanya pada siswa di sekolahnya, Roy mendapatkan informasi bahwa ternyata Raku adalah anak dari ketua yakuza, dan memiliki tiga pacar yang masing-masing mempunyai latar belakang yang tidak bisa dianggap remeh.

setelah mengetahui semua itu, Roy merasa takut dan ngeri pada Raku. Bahkan saat dia mengikuti Raku hari ini, Roy selalu waspada dengan orang-orang di sekitar, karena mungkin saja dia memiliki pengawal yang ayahnya tugaskan untuk melindunginya dalam bayang-bayang.

Kembali ke beberapa hari yang lalu, Roy juga sempat menyelinap ke dalam rumah Raku untuk mencari informasi lebih lanjut tentang Raku. Setelah mencari ke seluruh tempat di rumah Raku, Roy tidak menemukan petunjuk apapun, seakan Raku hanya seorang anak biasa saja, bahkan di kartu keluarga milik Raku sama persis seperti orang pada umumnya.

Tapi Roy tidak percaya dengan semua itu, dia beranggapan jangan-jangan yakuza sudah masuk dan menyelinap dalam pemerintahan dan memalsukan semua informasi tentang Raku, sehingga Raku dapat hidup normal seperti anak biasanya. Setelah sampai pada kesimpulan itu, Roy tidak bisa tidak merasa takut dan semakin ngeri pada latar belakang Raku.

Jika Raku tahu apa yang dipikirkan oleh Roy, dia pasti tidak tahu harus tertawa atau menangis. Karena semua itu tidak benar, Roy benar-benar ... berpikir terlalu banyak.

Beberapa saat setelah Raku masuk ke rumah, dia segera pergi dengan memakai baju olahraga dan membawa sebuah kertas di tangannya. Sedangkan itu Roy tetap di belakang dan terus mengawasinya. 

Roy melihat Raku dengan tampilan bingung sambil melihat kertas di tangannya, dia merasa penasaran dengan apa yang ada di kertas itu, tapi tentu saja dia tidak berani untuk mendekati Raku.

Di sisi lain, Raku merasa sangat tidak berdaya dengan denah yang Danny gambar di kertas, itu sangat tidak jelas. Karena itu Raku mencoba untuk bertanya ke orang yang dia temui di jalan, dan kebetulan dia melihat seorang murid dari sekolahannya juga.

“Hei, maaf, kamu tahu gak-“

Raku belum selesai bertanya pada murid itu, tapi murid itu langsung ketakutan dan berlari sekuat tenaga untuk pergi dan menjauhi Raku. Melihat reaksi ini, Raku tidak terkejut sama sekali dan hanya bisa tersenyum kecut sambil mendesah panjang. 

Sedangkan itu, Roy yang mengawasi Raku dari jauh tidak bisa tidak terkejut setelah melihat kejadian ini. Bahkan reputasi yang sangat menakutkan dari Raku sudah sampai ke orang-orang di kota dan bukan hanya di sekolahnya saja. Ini membuat bulu kuduk Roy berdiri dan dengan itu dia meningkatkan kewaspadaannya agar tidak terdeteksi oleh Raku dan orang yang mengawalnya dalam bayang-bayang.

Setelah setengah jam berjalan tak tentu arah, akhirnya Raku berhasil sampai di rumah Danny. Setelah sampai di sana, Raku, Danny, dan Rito segera melakukan pemanasann sebelum memulai latihannya.

Di tempat lain, Roy memerhatikan Raku dengan waspada dan bingung. Dalam beberapa hari ia mengikuti Raku, baru kali ini Raku melakukan hal seperti ini, karena biasanya setelah sampai di rumah dia tidak akan keluar lagi hingga keesokan harinya.

Tapi, meskipun begitu Roy tidak punya pilihan lain, dia harus terus mengikuti Raku dan mengirim informasi tentang lokasinya pada Nino, karena hari ini adalah hari di mana Nino berencana untuk menyerang Raku setelah selesai dengan persiapan dan pasukannya.

Melihat Raku masih melakukan pemanasan, Roy dengan waspada mencoba untuk memindai ke sekelilingnya, mencoba untuk menemukan pengawal Raku agar memudahkan dia dalam menilai situasi. 

Namun, Roy tidak melihat seorang pun yang tampak mencurigakan. Karena hal ini dia tidak bisa tidak merasa takut dan cemas. Bahkan dengan pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi seorang mata-mata, dia masih tidak bisa menemukan satu pun pengawal Raku yang mungkin saat ini sedang membaur dalam lingkungan dan menjaga Raku. 

Dalam pandangan Roy, semua orang yang masuk dalam pandangannya tampak seperti penduduk biasa. Seakan mereka adalah orang biasa. Jika Raku tahu apa yang ada dalam pikiran Roy, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak karena Roy benar-benar ... terlalu paranoid.

Namun, beberapa saat kemudian pandangan Roy terkunci pada sosok seorang gadis yang sedang memegang kamera di tangannya dan berdiri di balik pohon tak jauh dari posisinya saat ini. Setelah melihatnya dengan saksama, Roy tidak bisa tidak berpikir bahwa gadis itu sangat cantik. Berkali-kali lebih cantik dari semua gadis yang pernah dia temui sebelumnya. Kecantikan gadis itu seperti sebuah oase di tengah padang pasir, yang membuat Roy seakan melihat satu-satunya harapan di tengan badai pasir.

Roy terus menatap gadis itu dengan kagum, tapi kemudian dia ingat dengan misinya dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Raku dan teman-temannya yang masih melakukan pemanasan. Sesaat kemudian Roy tidak bisa menolak keinginannya untuk melihat gadis itu, dan akhirnya dia menolehkan kepalanya untuk melihatnya lagi, tapi ternyata dia sudah tidak di sana.

Dengan cemas Roy mencoba untuk mencari sosok gadis itu yang ternyata sudah berlari pelan mengikuti Raku dan teman-temannya yang juga berlari beriringan. Dengan cepat Roy mencoba untuk mengikuti mereka.

Jas hitam yang Roy pakai sudah basah kuyup oleh keringatnya setelah mengikuti mereka berlari di belakang. Dari pengamatan Roy, gadis cantik itu terus menjaga jarak dengan berlari dan sesekali bersembunyi. Roy merasa bingung dengan apa yang gadis itu lakukan, lalu tiba-tiba saja sebuah pikiran segera berputar dalam kepalanya. 

Apa mungkin gadis itu adalah pengawal yang menjaga Raku? Tidak, bagaimana mungkin pengawalnya adalah seorang gadis? Tidak, tunggu, apa mungkin itu hanya penyamarannya saja, dan ternyata dia membawa pistol yang di sembunyikan di balik pakaiannya?

Tapi, meskipun dia membawa pistol, itu tidak akan cukup, lagipula dia hanya sendirian, jika ada sekelompok orang yang menyerang Raku, dia tidak mungkin bisa melawannya sendiri. Tunggu, bagaimana bila pengawal yang lainnya ada tapi masih bersembunyi dalam kegelapan, dan hanya akan muncul ketika keadaan terdesak. Jika memang begitu, maka mungkin saja akan ada pertumbahan darah saat pertempuran antara anggota geng dan yakuza terjadi.

Setelah berpikir apa yang mungkin akan terjadi, Roy tidak bisa tidak merasa cemas. Dia adalah anggota geng, dan perkelahian antara geng sudah seperti makanan sehari-harinya, tapi sampai saat ini dia belum pernah bertarung dengan yakuza. Jika situasi berubah seperti yang dia pikirkan, maka meskipun pihaknya memenangkan pertempuran, tapi pasti akan menderita banyak korban juga di sisinya. Dan setelah itu, tidak menutup kemungkinan geng besar lainnya akan menyerang.

Dalam skenario terburuk, maka geng serigala hitamnya harus merelakan wilayah kekuasaannya direbut oleh geng lainnya. Yang akan menjadi pukulan telak bagi mereka.

Jika lagi-lagi Raku mengetahui apa yang Roy pikirkan, dia pasti tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa. Kau adalah anggota geng atau penulis novel? Imajinasimu sangat mengagumkan kawan.

Meskipun cemas, Roy terus mengikuti Raku dan yang lainnya, sambil sesekali melirik ke arah Alice. Tiba-tiba saja ketika dia melihat ke arah Alice, Alice juga menoleh ke arahnya. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat lalu segera Alice menolehkan kepalanya lagi.

Sebelumnya Roy hanya bisa melihat Alice dari arah samping, tapi itu sudah bisa memukaunya. Sekarang setelah Roy bisa melihat dari arah depan, dia tidak bisa tidak merasa sedih. Sayang sekali gadis secantik dia menjadi seorang pengawal. 

Menurut pandangan Roy, penampilan Alice sudah cukup untuk membuatnya menjadi model top majalah manapun, atau menjadi seorang aktris terkenal, atau malah menjadi seorang penyanyi yang meskipun suaranya tidak terlalu bagus, tapi tetap bisa mendapatkan banyak penonton dalam konsernya.

Di sisi lain, Alice sebenarnya sudah merasakan kehadiran dari Roy sejak di dekat rumah Raku. Namun, karena tidak terlalu peduli, dia hanya mengabaikannya saja, dan mulai mengambil foto Danny menggunakan kameranya. 

Kemudian Alice mulai mengikuti Danny dan yang lainnya ketika berlari. Tapi, dia masih merasakan ada seseorang yang membuntutinya dari belakang. Ketika Alice melirik dari ujung matanya, dia melihat pria berjas hitam itu masih mengikutinya. Namun, dia tetap mengabaikannya.

Setelah lama berlari, Alice merasa ada yang aneh, karena ternyata pria berjas itu masih mengikutinya. Jadi, dia menolehkan kepalanya dan akhirnya tatapan mereka bertemu.

Dia mengikuti aku?

Alice tidak bisa tidak bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu, untuk memastikan apakah memang begitu, Alice merubah arah berlarinya dan menuju ke daerah pemukiman warga.

Pada waktu yang sama, Roy melihat gadis itu tidak lagi berlari mengikuti Raku dan yang lainnya. Tapi masuk ke dalam daerah pemukiman.

Apa yang dia lakukan? Apa mungkin dia ingin memanggil pengawal lainnya? ini tidak bisa dibiarkan.

Roy berlari mengikuti Alice dengan tergesa-gesa. Berharap untuk bisa menangkapnya sebelum dia bisa bertemu dengan pengawal lainnya, akan tetapi hanya setelah beberapa tikungan dia sudah kehilangan jejak gadis cantik itu.

Sial! Kemana dia? Bagaimana bisa aku kehilangan jejaknya?

Roy merasa sangat cemas dan buru-buru pergi, jika Alice datang dan membawa teman-temannya untuk menyergap, Roy tidak akan bisa melawan sama sekali. Karena meskipun Roy memang anggota geng serigala hitam, dia bukan termasuk petarung, tapi hanya seorang pengumpul informasi. 

Di lain tempat, Alice tersenyum bangga dan percaya diri. Dengan sangat mudah dia bisa mengelabui Roy. Untuk urusan mengikuti orang, bahkan jika Alice mendeklarasikan bahwa dia adalah nomor dua paling hebat, tidak akan ada orang yang berani untuk mengambil posisi satu.

Alice tidak takut kehilangan jejak Danny, karena dia sudah sangat hafal dan tahu kemana tujuannya. Jadi, dengan senyum dan suasana hati yang riang, dia kembali berlari mengejar Danny.