Episode 33 - Tak Perlulah Kau Membicarakan Orang Lain



 Kedekatan Coklat dan Een beberapa hari belakangan ini menimbulkan spekulasi yang menyatakan bahwa kedua orang ini memiliki suatu hubungan spesial. Tak jarang kedekatan mereka berdua itu menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. Ini salah satunya ketika Fia dan Yuni lagi duduk di dalam kelas membicarakan mereka berdua.

 “Yun, kamu tahu enggak?” tanya Fia.

 “Enggak tahu.”

 “Ya sudah kalau kamu enggak tahu.”

 “Hah? Sudah gitu doang. Kirain kamu mau kasih tahu.”

 Ternyata yah di kampus itu orang-orangnya enggak jauh beda sama si Coklat. Apa yang dibicarakan itu buat orang kesal saja.

 “Ini loh, Yun. Kamu tahu kan si Coklat?”

 “Enggak tahu, siapa sih dia?”

 Rupanya si Coklat itu enggak terlalu terkenal ya di kampus, buktinya si Yuni saja enggak kenal sama dia. Mungkin kalau si Coklat tahu ada anak yang enggak kenal sama dia, dia bakalan sedih. 

 “Apa?! Yuni enggak kenal sama gue? Mungkin kalau dia sudah tahu siapa gue, pasti dia bakal klepek-klepek sama kegantengan gue.”

 Terserah kamu saja, Klat lah, mau ngomong apa. Kita kembali ke dalam suasana pembicaraan antara Fia dan Yuni di dalam kelas. Mendengar Yuni yang enggak kenal sama si Coklat, akhirnya Fia pun memberitahu siapa sosok Coklat itu.

 “Ituloh, Yun, dia itu anak kampus matematik yang kalau ke kampus cuma pakai sandal doang. Yang gayanya sebakul itu.”

 “Oh dia, ya ya aku kenal. Emang kenapa ya sama dia?”

 “Dia itu sekarang lagi pedekate sama mbak Een. Asal ke kampus tuh mereka sering banget berdua.”

 “Wah, kayaknya mereka pacaran tuh.”

 “Iya tuh.”

 Namanya juga calon ibu-ibu suak banget bicarakan hal yang belum pasti. Ketika asyik-asyik membicarakan tentang Coklat dan Een, tiba-tiba datanglah sosok besar, tinggi, gemuk. Sosok itu tak lain tak bukan adalah Mubin. Mubin itu adalah pria yang tak pantang menyerah untuk mendapatkan hati seorang wanita, apalagi Fia.

 “Hy, Fia, aku boleh duduk.”

 Melihat sosok Mubin, Fia pun langsung cemberut.

 Yah dia lagi dia lagi, ucap dalam hati Fia.

 “Cie cie, Fiaaaa.” ejek Yuni.

 “Ih, apaan sih, Yun?!”

 “Aku boleh duduk enggak?” tanya Mubin.

 “Duduk noh di lapangan sana!”

 Mendengar jawaban dari Fia, Mubin pun langsung menurutinya. Dia beranjak keluar kelas menuju lapangan dan duduk begitu saja. Planga plongo sendirian di lapangan. Sementara Fia dan Yuni sebentar-sebentar melihat Mubin.

 “Eh busyeh, tuh orang benaran duduk di lapangan?” kata Yuni yang berdecak kagum.

 “Iya ya, Yun.”

 Selain ada Yuni dan Fia yang penasaran sama hubungan Coklat dan Een. Ternyata, si trio senior mereka yaitu Okta, Nia dan Tiara juga penasaran dengan mereka berdua. Di kelas yang berbeda, mereka bertiga pada kepo, ingin tahu sejauh mana hubungan Coklat dan Een.

 “Eh lo berdua taukan si Coklat? Dia itu sekarang lagi dekat sama cewek,” kata Tiara.

 “Ya wajarlah, Tir, si Coklat kan cowok. Kalau dia dekat sama cowok lagi, itu patut dipertanyakan, Tir,” ucap Nia.

 Wah wah wah, ternyata jawaban si Nia pintar juga ya. Enggak heran kalau dia itu salah satu cewek pintar di kampus ini.

 “Kapan ya ada cowok ganteng terus pintar yang ngejar-ngejar gua, Tir? Aduh gue pengin banget dikejar-kejar sama cowok kayak gitu,” keluh Okta

 “Gue heran tuh anak punya kelebihan apa? Pas momba saja dia yang bikin suasana rese, eh sekarang malah ada cewek yang dekat sama dia. Jangan-jangan dipelet tuh ceweknya?” kata Tiara.

 “Jangan suudzon kayak gitu, Tir, enggak baik. Siapa tahu dibalik itu dia emang punya kelebihan,” kata Nia.

 “Kapan ya ada cowok ganteng terus pintar yang mau melet gue, Tir?” kata Okta.

 Aduh kasian banget si Okta ngeluh mulu, kesannya kayak enggak laku saja di kampus, padahal dia sering banget dikejar-kejar sama cowok-cowok kampus.

 “Kelebihan itu anak cuma satu, Nia,” kata Tiara.

 “Apa, Tir?”

 “Kelebihan dia yaitu bikin orang kesal!” 

 “Kapan ya cowok-cowok pada nyadar sama kelebihan yang gue miliki dan menjadikan gue sebagai calon ibu yang solehah, Tir?” keluh Okta.

 “Dari tadi lo bela si Coklat mulu, Nia. Apa jangan-jangan lo suka ya sama dia?” tanya Tiara.

 “Enggak lah!”

 “Kapan ya lo berdua dengerin gue wooooy!” teriak Okta.

 “Nia, lo lihat Okta enggak? Kok enggak kelihatan ya?” tanya Tiara.

 “Enggak, Tir.”

 “Arrrrrrgggghhhtt?” geram Okta.

 Merasa dicuekin, Okta pun murka. Dia langsung marah dan meledakan isi kelas dengan jurusnya. Doooooaaaarrr! Seluruh mahasiswa yang berada dalam kelas itu pun pada gosong.

 Selain mereka bertiga masih ada lagi anak-anak yang membicarakan si Coklat. Dia adalah dua sahabat Sweety dan juga Wakamiya. Tepatnya mereka berdua membicarakan si Coklat di kantin kampus sambil menikmati makan siang. 

 “Aku heran nih, Sweety. Anak-anak kampus kok pada suka banget ya ngomongin si Coklat? Ih ih susah banget dah,” tanya Wakamiya yang lagi berusaha menyendok bakso di dalam mangkok depan mejanya.

 “Mereka itu cuma kurang kerjaan doang, pakai acara ngomongin si Coklat lah. Apa pentingnya si Coklat sih?”

 “Emang kalau ngomongin si Coklat dapet gaji ya?”

 “Maksudnya?”

 “Tadi kata kamu, katanya kurang kerjaan ngomongin si Coklat. Pastinya kan ngomongin si Coklat itu nambah kerjaan mereka, mereka digaji enggak ya?”

 “Meneketehe.”

 “Wah kalau ngomongin dia itu dapat gaji, aku mau.”

 “Plis deh, Miya, enggak usah ngomongin Coklat segala.”

 “Iya-iya. Aduh susah banget sih baksonya!”

 Nampaknya Wakamiya masih kesulitan untuk menyendok baksonya dari mangkok, saudara-saudara. Oh rupanya Wakamiya tambah kesal terus-terusan gagal menyendok baksonya itu. Apakah yang akan terjadi?!

 “Ihhhh susah banget deh nyendok baksonya!”

 “Sini aku bantuin deh.”

 Sebagai teman, Sweety pun membantu Wakamiya menyendok baksonya itu. Berkali-kali usaha mereka gagal, karena baksonya yang terlalu bulat dan licin sehingga membuat bakso itu mudah terpleset ketika sudah berada di atas sendok.

 “Ini lama-lama aku banting nih baksonya!”

 “Sabar, Miya.”

 “Tidaaaaaak!” teriak Wakamiya yang sudah saking kesalnya dengan bakso. 

 Teriakan Wakamiya itu mampu mengguncang isi kamus dan sekitarnya. Hal itu terbukti ketika Pak Wakid yang sudah selesai menumpukkan buku-buku di atas meja, kemudian buku-bukunya itu jatuh kembali. Gubrak! Begitu bunyinya.

 “Waduh, ada gempa!” kata Pak Wakid seolah terkejut.

 Wah lebay.

 Kepopuleran Coklat akhir-akhir ini membuat salah satu mahasiswa yang bernama Idik iri hati. Ya karena selama dia kuliah di kampus ini, enggak ada berita dari dia yang seheboh berita coklat saat ini. Keiriannya itu membuat dia kesal ketika menghampiri anak-anak kampus sedang membicarakn si Coklat.

 “Eh tahu enggak, si Coklat itu bla bla bla gitu deh,” kata anak-anak yang lagi membicarakan Coklat.

 “Iya, hebat dia ya,” ucap anak-anak yang masih membicarakan Coklat di dekat Idik.

 Haduh plis deh. Kenapa sih orang pada ngomongin si Coklat-Coklat itu. Kali-kali ngomongin gua kenapa, pinta Idik dalam hatinya, padahal baru kemarin gue nge-upload foto Lamborghini gue, eh enggak ada yang komen satupun. Boro-boro buat komen, yang ngomongin juga enggak ada. Sebel sebel, lanjut Idik dalam hati.

 Idik terus berjalan menuju kelasnya. Ketika sampai di dalam kelasnya itu, anak-anak masih membicarakan tentang Coklat. Keadaan itu membuat dia gusar dan meninggalkan kelas begitu saja. Dia berjalan menuju toilet kampus. Di dalam toilet itu, dia menangis sedih. Wajahnya dia hadapkan pada sebuah dinding toilet, air matanya mulai menetes membasahi pipi. 

 “Uh uh uh uh … sedih deh kalau orang-orang mulai melupakan gue, tidaaaaak!” teriak Idik dalam toilet.

 Bukan hanya mahasiswa sekampus Coklat yang lagi pada suka membicarak dia, bahkan seorang Cristiano Ronaldo pun sempat melontarkan sebuah pernyataan kepada awak media perihal kedekatan Coklat dengan cewek tersebut. Hal itu dia lontarkan ketika sesi wawancara seusai pertandingan Real Madrid melawan Liverpool di final Liga Champions kemarin. 

 “Saya tak menyangka kenapa itu bisa terjadi? Kebanyakan orang adalah meragukan dirinya namun saya percaya itulah kelebihan seorang Coklat. Saya dan dia berteman akrab, kami sering bermain game bersama ketika saya mempunyai waktu luang. Bahkan kedatangan saya ke Indonesia itu sebenarnya hanyalah untuk menemui kawan lama saya tersebut,” ucap Ronaldo sambil tersenyum

 Begitulah ungkapan CR7 jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Mungkin Anda sekalian tidak akan pernah mempercayainya, tapi percayalah itu sungguh benar-benar mustahil dan bohong.

 ***

 Di sebuah semak-semak dekat kampus. Ada seseorang yang tadi kerjanya menyelinap melihat keadaan kampus. Dia nampaknya seperti orang jahat yang mau berbuat jahat di kampus ini.

 “Huh, orang-orang pada ngegosipin gue mulu, cape deh.”

 Rupanya itu si Coklat yang berusaha sembunyi-sembunyi masuk kampus.

 “Padahal gue kan masih temenan sama dia. Eh ada saja orang-orang tukang gosip yang sudah menyebar berita enggak benar itu,” kata Coklat sambil melihat keadaan kampus yang ramai, “kalau gue keluar dari sini anak-anak pada tanya ke gue nantinya, gawat ini! Disatu sisi, gue pengin banget belajar di kelas. Serba salah deh jadinya,” lanjut Coklat yang masih mengintip keadaan sekitar.

 Coklat harus mengambil sebuah keputusan. Tetap berada di semak-semak atau harus ke kelas dengan resiko akan dikerubungin orang-orang nantinya. Ini sebuah pilihan yang sulit bagi dia.

 “Kalau saja di semak-semak ini ada ceweknya, enggak apa-apa deh enggak keluar juga.”

 Eh busyeh bocah, jangan di contoh itu.

 Dari balik semak-semak itu pulalah, Coklat melihat sosok Een yang sedang berjalan di lapangan menuju kampusnya. Ada hasrat Coklat untuk menemui Een dan jalan bareng samanya, tapi Coklat masih takut jika pas dia jalan sama Een terus tiba-tiba ada wartawan yang datang menemui dia, dan langsung mewawancarai tentang hubungan dia dengan Een selama ini.

 “Gawat nih, kalau misalkan gue kesana terus tiba-tiba ada wartawan dateag gimana?” pikir Coklat.

 ***

 Coklat membayangkan jika dirinya nanti diwawancarai oleh wartawan tentang hubungannya itu. Dalam angan-angannya dia berlari menuju Een, namun belum sempat melihat wajah Een, tiba-tiba ribuan wartawan datang dan langsung menanyakan kebenaran hubungannya itu.

 “Coklat, jadi gimana hubungan kamu sama dia?” tanya seorang wartawan sambil menodongkan mik ke mulut Coklat.

 “Apa kamu benar pacaran sama dia?” tanya seorang wartawan lain yang menodongkan handphone ke mulut Coklat.

 “Aduh aduh, sabar ya,” kata Coklat yang mulai gugup.

 “Jadi itu benar, Coklat? Cepat serahkan uangmu!” kata seseorang sambil menodongkan pisau ke tubuh Coklat.

 Eh itu ngapain ada penodong segala?! Merasa tak nyaman dengan orang-orang yang udah ganggu privasinya. Coklat pun langsung menjawab…

 “Aku tuh sama dia hanya berteman saja,” ucap santai Coklat.

 Kebenaran pun telah terungkap. Coklat menyatakan bahwa dia hanyalah berteman saja dengan Een. Sontak berita itu mengejutkan para fans-fans Coklat yang di seluruh dunia. Mereka lega melihat kenyataan bahwa Coklat masih single.

 “Yes, ternyata si Coklat masih single! Ini kesempatan aku buat dapatkan cinta dia,” ucap seseorang cewek cantik yang tak mau disebutkan namanya itu.

 “Horeee! Horeeee! Coklat masih single,” lanjut cewek itu.

 “Akhirnya aku bisa tidur nyenyak malam ini,” kata fansnya.

 Ya itulah ketakutan yang berlebihan dari seorang Coklat, yang enggak perlu dikarang-karang. Akhirnya mau enggka mau, Coklat pun keluar dari semak-semak. Dia berlari mendekati Een dan menghampirinya. Dengan senyuman khasnya, dia pun menyapa Een.

 Tak dia sangka bak gayung yang tak bersambut, Een malah berlari meninggalkan Coklat yang barusan menyapanya. Moment Een berlari meninggalkan Coklat begitu saja, membuat Coklat bersedih. Suara angin pun menyapa Coklat dengan desirannya, begitu pula dengan daun-daun yang mulai berguguran. Terbesit dalam hati Coklat, ini pasti ada hubungannya dengan gosip-gosip yang kini sedang santer beredar di kalangan kampus.

 Tanpa Coklat ketahui, Een pergi meninggalkan Coklat hanya untuk ke toilet kampus. Di dalam ruang toilet kampus yang sempit itu, Een menitikan air matanya sambil memegangi sebuah handphone miliknya sendiri. Ada perasaan yang dia miliki untuk Coklat namun belum bisa dia sampaikan.

 ***

 Beberapa hari belakangan ini, anak-anak kampus yang biasanya suka membicarakan mereka berdua perlahan-lahan mulai surut, bosan kali ya membahas si Coklat mulu. Tapi masih ada saja satu dua orang yang membahas mereka, walau enggak seheboh beberapa hari yang lalu. Padahalkan Coklat bukan siapa-siapa.

 Beberapa hari ini pula, Coklat kembali dilanda kegalauan. Hasrat dia ingin lebih kenal dengan Een tak terpenuhi. Itu karena Een selalu menjauhinya. Seakan-akan Een itu ingin melupakan semua tentang Coklat.

 Ada dikalanya Een sedang menikmati hidangan di kantin sendiri. Dan secara kebetulan Coklat yang bersama Ival melihatnya dari kejauhan.

 “Tuh si Een, Klat” kata Ival sambil menunjuk Een.

 “Sorry nih, gue kesana dulu ya,” ucap Coklat pamit kepada dua temannya itu.

 “Ya sudah, hati-hati kepleset kulit pisang,” kata Ival.

 Disaat Coklat berniat mendekati Een di tempat duduknya. Een langsung beranjak begitu saja tanpa sepatah kata pun yang terucap untuk Coklat. Sontak raut wajah Coklat yang tadinya ceria, berubah menjadi sedih.

 Tak hanya di kantin, Coklat mengalami kejanggalan itu ketika mereka berdua hendak masuk ke dalam kelas. Disaat itu pagi yang cerah. Biasanya ada senyum di wajah Een ketika mendapat sapaan dari Coklat, kini senyuman itu seolah menghilang dari lautan wajahnya.

 “Hy, En,” sapa coklat.

 Dan Een masuk kelas begitu saja dengan muka juteknya.

 Dengan sikap Een yang seperti itu membuat Coklat berpikir bahwa gosip dia selama ini adalah penyebabnya. Hari ini, ya tepat hari ini. Coklat akan memarahi siapa saja orang yang berani membicarakan tentang dirinya dan tentang Een.

 “Siapa saja nih orang yang berani ngomongin gue, bakal gue omelin! Seenaknya saja mereka berbicara tentang privasi orang yang enggak tahu kebenarannya,” ucap Coklat.

 Pagi ini Coklat dengan sendirinya mulai berkeliling kelas di dalam kampus, dia ingin memastikan bahwa tak ada orang yang masih membicarakan dia. Dia memulai dari kelasnya dulu, kemudian ke kelas sebelah, kemudian ke kelas sebelahnya lagi, terus ke kelas yang ada di lantai dua, kemudian capek dia bolak-balik keliling kelas. Akhirnya karena kecapean dia beristirahat sambil duduk di anak tangga.

 “Haduh, capek juga ya pagi-pagi sudah keliling kelas. Tapi kok anak-anak enggak lagi ngomongin gue ya? Apa mungkin mereka sudah taubat? Syukurlah kalau begitu. Emang enggak baik tuh gosipin orang lain,” senyum Coklat.

 Secara kebetulan ketika Coklat lagi istirahat sebentar, tiba-tiba dia melihat Een yang berjalan turun menyusuri anak tangga. Sontak, Coklat langsung berdiri di hadapan Een. Wajah Een tertekuk lesu sambil menunduk melihat lantai keramik anak tangga ini. Merasa diabaikan selama ini, inilah momen yang pas bagi Coklat untuk tahu semua alasan kenapa Een menjauhinya selama ini. Ok, buat para penonton diharapkan tenang, karena ini moment romantis yang jarang ada di sini.

 “Kamu kenapa sih selama ini jauhin aku? Kalau misalnya aku punya salah, aku minta maaf,” kata Coklat sambil melihat wajah Een.

 “Aku …,” ucap lemah suara Een.

 “Iya kamu kenapa? Apa mungkin kamu enggak nyaman ya tiap hari dengar anak-anak ngomongin tentang kita, tentang hubungan kita?”

 Een lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

 “Terus?” tanya Coklat.

 Air mata mulai menetes mengalir di sela-sela hiasan wajah Een. Bibirnya tergigit pertanda kesedihan dalam hati Een tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Coklat pun merasa bingung dengan apa yang terjadi pada Een.

 “Kamu kenapa?” tanya Coklat sekali lagi yang lalu memegang pundak Een dengan kedua tangannya.

 “Aku … aku tak bisa lama lagi terus dekat dengan kamu …,” ucap Een dengan suara lemah.

 Coklat lalu terdiam mendengar jawaban Een. Perlahan-lahan Een mulai menceritakan kenapa dia tak bisa lama lagi bersama Coklat.

 Suatu malam ketika Een sedang belajar mengerjakan tugas kampus di dalam kamarnya. Tuuut tuuuut tuuuut, terdengarlah bunyi handphone dia yang menandakan ada sebuah panggilan untuknya. Een pun melihat langsung siapa yang menghubunginya malam itu, dia melihat nama ayahnya. Tak pikir panjang Een langsung menjawab panggilan itu.

 “Assalamualaikum, Pak.”

 “Waalaikum salam, En.”

 “Ada apa ya bapak malam-malam telepon Een?”

 “Enggak ada apa-apa sih En, cuma iseng doang, hahahah.”  

 “Hahahahaha.” Een ikutan ketawa.

 “Ini ada permintaan dari ibumu .…”

 “Ibu?” ucap Een dengan nada sedikit terkejut. 

 Dalam hati Een berharap tak akan terjadi apa-apa dengan ibunya sendiri.

 “Ibumu kangen sama kamu. Dia ingin kamu selalu ada di sini, sudah lama kamu jauh dari dia, semenjak lulus SD itu.”

 “Tapi, Pak …,” ucap pelan Een.

 Di dalam hati Een pun merasakan rasa rindu terhadap ibunya sendiri. Bagaimana tidak? Sejak lulus SD hingga sekarang, tak sekali pun Een bertemu dengan ibunya. Dan perasaan rindu itu semakin dalam ketika ibunya meminta Een untuk pulang.

 “Iya, Een ngerti.”

 Een pun lalu menyudahi panggilan itu. Rasa rindu dengan jarak jauh membuat dia harus mengorbankan perasaan sukanya terhadap seseorang yang bernama Coklat. Di malam itu pula, Een langsung menyempatkan diri untuk berbaring di atas kasur, meluapkan kesedihannya.

 Seusai mendengar cerita singkat dari Een, Coklat sedikit mengerti. 

 “… jadi aku akan kembali ke kampung halamanku.”

 “Itu permintaan ibu kamu, kenapa kamu enggak turuti aja? Guruku pernah berkata bahagiakanlah kedua orangtuamu sebelum kamu membahagiakan oranglain,” ucap Coklat sambil tersenyum.

 “Makasih, aku pikir kamu bakal melarang itu ke aku. Aku pikir kita bakal terus bisa bersama dan ketemu di kampus ini, tapi nyatanya engga.”

 “Kamu, kapan mau berangkat?”

 “Besok jam lima pagi, aku harus sudah sampai di terminal.”

 Coklat terdiam, memikirkan perasaannya yang tak bisa dia ungkapkan ke Een. Dia menundukkan kepalanya. Suara hati berdengung mencoba menguatkan perasaan Coklat. Suara itu mengatakan “Jika memang dia yang terbaik, suatu saat pasti akan kembali menemuimu, percayalah, Nak.”

 Tik tak tik tuk, lalu terbesit dalam hati seorang Coklat untuk mengajak Een ke kantin kampus. Untuk apa? Makan lah! Sudah tahu ke kantin masih ada yang tanya saja. Coklat tak ingin membuang kesempatan pertemuan terakhirnya dengan Een. Coklat tahu, dia tak bisa memberikan yang terbaik setidaknya dia memberikan sebuah sedikit kisah yang menyenangkan untuk Een.

 “En, ke kantin yuk?”

 “Buat apa?”

 Ternyata Een juga enggak tahu gunanya kantin kampus buat apa, haduh.

 “Makan lah!”

 “Oh.”

 Mereka kini sudah duduk disalah satu bangku di kantin. Suasana romantis terasa ketika hanya mereka berdua di kantin itu, wah yang dagang pada kemana ya? Yang dagang tetap ada, maksudnya itu enggak ada anak-anak lain yang mengganggu mereka berdua. Setibanya duduk, Coklat pun langsung memesan bubur ayam. Taukah Anda? Saya sebenarnya heran kenapa salah satu makanan ini disebut bubur ayam, padahalkan 80% isinya bubur nasi, sementara ayamnya hanya sekitar 5%. Kenapa ya? Kok malah membahas bubur ayam sih? Kembali ke Coklat. Ini kesempatan Coklat untuk beromantis-romantis ria bersama Een. Sebuah kata perlahan akan diucapkan Coklat.

 “En, aku itu sebenarnya .…”

 Namun tampak dari kejauhan Ival, Arul, Fahmi, Mubin, Yuni, Sweety, Wakamiya, Fia, Nia, Okta dan juga Tiara sedang mengawasi mereka. Pada hitungan ke tiga. Satu… dua… tiga… mereka semua muncul dihadapan Coklat dan Een, dan langsung menghujani keduanya dengan sebuah pertanyaan tentang bagaimana status hubungan mereka.

 “Cieee cieee yang berduaan!” teriak Ival sama Arul

 “Coklat, apa benar kamu pacaran sama Een?!” tanya Yuni.

 “Benar kan kamu pacaran sama Een?!” tanya Fia.

 Dan suasana romantis pun gagal. Ketika anak-anak yang lain melontarkan pertanyaan tentang status hubungan Coklat, hanya Idik yang melontarkan pertanyaan beda pada dirinya sendiri.

 “Kapan anak-anak pada ngomongin gue ya?”