Episode 50 - Three Years, Living with Fia


Lalu setahun berlalu,

Kala itu Lio sedang melakukan rutinitasnya bekerja di kebun bunga. Sehari-hari ia melakukan hal yang sama. Bangun, bekerja, makan, kerja lagi, tidur di kamar yang seperti barak tentara bersama dengan karyawan-karyawan lain disana. 

Kemudian mengulanginya lagi di hari berikutnya. Meskipun begitu, dia tetap menikmatinya, karena Fia terus mengajak ngobrol dengannya. Membuat hari-harinya yang monoton menjadi terasa berbeda. Karena setiap mereka bertemu, Fia yang berada di usia pertumbuhan-pun tidak disadari perubahannya.

Lalu suatu hari, Lio yang sudah jarang menggunakan sihir apinya. Iseng meninju ke depan untuk sekadar peregangan. Namun tak sengaja sihirnya terlepas, hingga ia secara tak sengaja. Menembakan bola api ke depan dan membakar sepetak kecil bunga hingga menjalar sampai sehektar tanah milik ayah Fia. Kerugiannya betul-betul besar. 

Ia langsung berlari ke rumah danme meminta maaf betul pada Ayah Fia atas kejadian ini.

"Maaf-maaf tuan, aku kelepasan, maaf... maaf. Aku sungguh tak bermaksud, tapi..." 

Ayah Fia seketika murka dan menghukum Lio, dan Lio-pun mau tak mau menerimanya dengan terbuka. Ketakutan terbesarnya adalah ia dipecat dan merasa tak ada lagi pekerjaan dengan bayaran sebesar disini.

Saat Fia kembali dan dijelaskan situasinya. Fia memohon pada ayahnya.

"Ayah tolong hentikan. Tolong jangan pecat Lio, dia temanku. Bahkan sudah seperti..." Fia diam sejenak seperti ada satu kata yang tak bisa ia sebutkan. "Jadi aku mohon ayah. Tolong jangan usir Lio dari sini." 

Ayah Fia seketika luluh. Dan dengan mudahnya berubah pikiran dan memberi pengampunan pada Lio. Amarahnya bisa diredam begitu cepat. meski memberi kerugian yang sangat besar.

"Begitu ya... karena Fia yang minta, kamu aku maafkan. Tapi setelahnya, jangan lagi minta maaf, tapi jadilah lebih baik." katanya dengan kesal lalu pergi.

Karena bagi Ayah Fia, yang selama setahun terakhir memperhatikan aktifitas anaknya dengan Lio. Lio sudah bukan lagi sekadar karyawan, melainkan seperti kakak angkat bagi Fia. Dengan kata lain, Lio secara tak langsung dianggap sebagai anaknya juga.

Hal ini dilihat oleh karyawan-karyawan Ayah Fia yang lainnya. Karena bersedia mengampuni kesalahan sefatal itu. Seketika kecemburuan di hati mereka tumbuh.

***

Dua tahun berlalu. Dan tahun ini, adalah tahun 1900. Yang adalah tahun penting dalam sejarah Azuria. Tahun dimana kekuasaan absolut di pusat benua Azuria jatuh dalam waktu sehari. Kejadian itu dikenang dengan nama Fall of Dalemantia. 

Meski Princebridge tidak berada di benua Azuria. Tapi beritanya menyebar sampai ke seluruh pulau ini, melalui koran.

Saat itu, di tahun ini. Ada pesaing yang cemburu dan memiliki niat jahat pada keluarga Fia. Dengan pengamatan dan pertimbangan setahun belakangan. Akhirnya dia memutuskan memanggil dan mengontrak sekelompok bajak laut untuk merusak lahan bunga milik mereka hingga menculik Fia, yang saat ini sudah menginjak remaja.

Informasi ini di dapat dari orang dalam yang adalah anak buah Ayah Fia sendiri. Yang cenderung tidak suka dengan kehadiran Lio dan atasannya yang dianggapnya tidak adil.

***

Pada malam harinya...

"Lio! Lio! Gawat!" kata Ayah Fia dengan panik dan wajah berlinang air mata. "Fia diculik!!"

Lio yang baru pulang dari kota, segera menjatuhkan barang-barang bawaannya. "Siapa yang menculiknya?!"

"Sekelompok bajak laut yang beberapa hari lalu berlabuh di pulau ini. Aku melihat mereka kabur kesana!" tunjuk Ayah Fia ke sebuah arah.

"Aku segera kesana!" tanpa pikir panjang, Lio langsung bergegas pergi

"Lio! Jangan gegabah, mereka itu... Lio! Lio!!" sahut Ayah Fia namun tak dipedulikan Lio yang sudah beranjak pergi. "Agh! Kalau begitu, tunggu aku... hei! Hei! HEI LIO !!"

Setelah ditelusuri, Fia diculik dan disekap di pantai di ujung pulau tempat markas para bandit itu berada. Tempat kapal mereka berlabuh. Di saat yang sama, pesaing yang mengontrak bajak laut itu memberikan sekantung uang sebagai bayaran kepada para bajak laut itu, bersama dengan anak buah yang mengkhianati Ayah Fia.

"Ini bayaranmu, hitung saja." kata seorang pria dengan jas putih berambut pirang gelap bergelombang. "Semuanya 25.000 Rez. Tak kurang, tak lebih." kata orang yang mengontrak mereka. "Soal anak itu. Terserah mau kau apakan dia! Nasibnya ada di tangan kalian. Setelah ini, enyahlah! Anggap saja kita tak pernah bertemu. Bye!"

Lio dengan segala jerih payah datang kemari untuk menolong Fia secepat mungkin. Meski ia harus menyusuri hutan tropis dan menghajar satu persatu bajak laut yang bersembunyi dalam gelap malam. Namun Lio berhasil dengan sihir apinya dan berhasil tiba kemari.

"FIA !!" sahut Lio setelah sampai di pantai dengan pakaian yang terkoyak, luka sayat dan darah yang mengalir keluar dari luka sayatnya. 

"Iooooo..." Fia yang terikat dan disekap mulutnya berusaha membalas dengan mulut yang terpaksa menggigit tambang.

"Hah... hah... lepaskan Fia! Penjahat-penjahat sialan!" Lio memperhatikan orang-orang yang ada di depannya. Yang mau tak mau harus ia kalahkan satu persatu. Tapi ia sungguh tak habis pikir, seorang teman kerjanya ada di sana bersama sang Kapten dan pesaing Ayah Fia. "KAU PENGKHIANAT !!"

"Cih, pengganggu. Urus dia, atau bunuh dia!" tunjuk pria berjas putih itu.

"Berapa Rez kau mau bayar kami lagi?" balas Kapten Bajak Laut itu dengan senyum jahat.

"Ini termasuk dalam kontrak bodoh!" bentaknya. "Cepat urus dia!"

Lalu sang Kapten dibuat kesal dan mencekik orang yang mengontraknya. "Kalau kau mau menghemat uangmu, jangan pernah sekali-sekali memanggil prajurit bayaran seperti kami. Jelas kami dibayar untuk menculik gadis ini, bukan untuk membunuh pacarnya yang sedang marah."

Ia adalah pria besar yang tingginya hampir dua meter, berkulit sawo matang berambut merah tomat. Mengenakan jubah dan topi seorang kapten bajak laut. Dan juga kaos bergaris-garis hitam putih. Nama orang ini, Franco.

"Ba-baik. Ak-aku ba-bayar k-kau se-sekali lagi." katanya dengan leher tercekik.

BRUGGH !!

Franco melepaskan cekikannya dan menjatuhkan pengontraknya ke bawah.

Lio membuka telapak tangannya lebar-lebar dan mengobarkan api yang berkibar-kibar di tangannya.

"Hoo... pengguna Aura juga rupanya." balas Franco dengan menggampangkan. "Bikin susah saja."

Franco juga melalukan hal yang sama dengan Lio, ia melebarkan tangannya, membuka telapak tangan. Lalu seketika air laut bergerak ke depan telapak tangannya, menggumpal dan berubah menjadi suatu bentuk senjata, sebelum bentuknya selesai. Ia menubrukkan kedua tangannya bersamaan kemudian tercipta suatu senjata berbentuk Great Axe yang terbuat dari air namun ajaibnya. Air itu padat tanpa perlu membeku.

"Apa!? Kemampuan apa itu?"

"Nah nak, kau belum pernah lihat yang seperti ini kan?" selagi terus bicara, Franco berancang-ancang lalu melesat ke depan dan 

BRUSSHHH !!

Lio kalah dengan seketika. Terlebih karena sihir milik Lio sudah jarang sekali ia gunakan dua tahun belakangan ini, yang otomatis membuat dirinya kurang begitu mahir dalam memanfaatkan kekuatannya. Lio kalah oleh Franco, ketua kelompok bajak laut ini.

Lio tersungkur jatuh, berlumuran darah di atas pasir pantai. 

"Hahahaha !!" Lio Ditertawai para bandit-bandit yang berkemah disini dengan tenda dan api unggun menyala-nyala di gelapnya malam pesisir pantai.

"Yea! Kapten tidak terkalahkan!"

"Hidup Kapten Franco!"

"Penggal dia!"

"Ya! Penggal dia Kapten!"

"IOOOO!!" teriak Fia dengan berlinang air mata meski masih terikat dan disekap, ia berusaha melepaskan diri.

"Ohhh... ohhh... ohh... anak ini ternyata lebih lemah dari yang aku kira." Franco menarik rambut Lio yang tersungkur tak berdaya dan melihat ekspresi Lio yang tak bisa apa-apa. "Asal kau tahu nak, aku memang tak berasal dari sini dan juga aku tak akan lama-lama disini. Tapi aku dikenal dengan nama Franco si pemenggal di poster buronku yang bernilai puluhan juta Rez. Dan tanpa ragu, aku juga akan memenggalmu tanpa ragu." 

"He... hen... HENTIKAN !!" teriak Fia sekuat yang ia bisa.

Dan di belakang mereka, di laut yang tak jauh dari sana. Airnya bergerak cepat dan gelombangnya membesar dalam seketika.

"Huh!? Apa yang terjadi? Ja, jangan-jangan. Aura Gadis itu, bangkit!?"

Namun di saat-saat seperti inilah, Kemampuan Aura Fia dibangkitkan untuk pertama kalinya. Dengan hasrat menolong Lio yang sekarat, Fia tanpa sadar menggerakkan air di pantai itu dan menyapu bersih semua bajak laut itu dengan ombak besar yang didatangkan oleh sihirnya. Mulai dari kemah dan seluruh awak bajak laut itu, terhempas oleh ombak besar tersebut.

Memanfaatkan momen itu, Ayah Fia muncul dan langsung menarik mereka pergi lalu melarikan diri secepat mungkin.

***

Beberapa saat kemudian, semuanya terombang-ambing oleh gelombang yang digerakkan Fia. Kemah-kemah hancur dan mereka semua basah kuyup sekalipun tak ada korban jiwa.

"Si, sialan! Hei! Hei dengar aku! Kenapa?! Kenapa kau tak kejar mereka." kata si pengontrak dengan membentaknya. "Ini! Ini semua Rez yang akan kubayarkan padamu. Jadi cepat kejar mereka, habisi mereka sekarang juga!"

Meski ombak itu tak membunuh para bajak laut itu, tapi niat untuk mengejar Lio dan Fia yang sudah melarikan diri telah hilang, 

"Usaha untuk menangkap mereka tak sebanding dengan imbalannya. Aku tak mau anak buahku ada yang meninggal sia-sia disini. Jadi..." Franco memetikkan jari, menginstruksikan sesuatu kepada anak buahnya. Lalu salah satu anak buahnya membawahkan pedang saber padanya. 

"Hee? Ka-kau? Mau apa?"

"Menurut hitung-hitungan, akan lebih mudah kalau..."

CRUSSSSSTTTT !!

Leher si pengontrak itu ditebas dan kepalanya terjatuh di atas pasir pantai itu seperti sesuatu yang biasa saja bagi mereka. 

"...kau saja yang mati."

"HIIII !!" anak buah Ayah Fia yang berkhianat itu ketakutan dan langsung pergi. Namun... 

DOOORR !!

Kakinya di tembak oleh salah satu anak buah Franco dengan inisiatif. Namun ia tetap bergerak menjauh dengan berjalan dengan seretan tangannya lalu menghilang di semak-semak.

"Biar kutangkap dan bunuh dia kapten." kata si penembak itu dan langsung bergegas mengejar sambil menarik pedangnya.

"Hentikan... dia tidak ada nilainya. kita ini bukan penjahat amatir atau anjing yang setia. Kami ini bajak laut."

Hari berikutnya, mereka dikabarkan berlayar kembali, diatas kapal bajak lautnya yang besar dan kokoh itu. Dan tak pernah sekalipun bertemu dengan Lio maupun Fia lagi.

***

Setahun berikutnya, di awal tahun 1901. Tahun saat ini. Lio berusia 18 tahun dan Fia berusia 15 tahun, dan Fia, bukan seorang anak kecil lagi.

"Aku telah memikirkan ini masak-masak." kata ayah Fia, yang bicara di ruang tamunya bertiga, dengan Fia dan Lio. "Setelah kuamati sambil mengingat kejadian setahun lalu... Lio," tunjuknya ke Lio. "Kau bisa sihir dan putriku Fia," tunjuknya ke Fia. "Pada akhirnya juga bisa sihir."

"La-lalu?" tanya Lio.

"Sejak hari itu, aku mulai berpikir... untuk mengirim kalian ke sekolah sihir ternama yaitu Vheins Magic University. Tapi sekolah itu bukan disini, melainkan ada di benua sebrang barat kepulauan kita. Namanya Benua Azuria."

"Benua Azuria? Dimana itu?" tanya Lio. "Sebuah tempat yang jauh kah?"

"Tempatnya sangat-sangat jauh dari sini. Kalian harus menyebrangi samudra yang luas untuk tiba disana. Apa kau bersedia pergi ke tempat itu?"

"Tapi tabunganku belum cukup untuk beli tiket dan biaya hid..."

"Hahaha! Yang seperti itu, tak usah kau pikirkan. Tiket dan biaya sekolahmu biar aku yang bayar."

"Be-benarkah!" wajah Lio jadi berbinar-binar. "Aku mau kalau begitu." sambil mengingat mimpinya dulu untuk keluar dari negara ini.

"Kalau kau Fia? Kau tertarik belajar sihir?"

"Ya!" Fia mengangguk. "Kalau kak Lio mau, aku juga mau!"

"Fia, Tak usah pakai kak lagi deh. Kamu kan sudah tumbuh remaja. Panggil aku Lio saja. Lagian aku juga kakakmu kan."

"Oke... Kak... Uhmm... Oke Lio, hihi..." ucapnya tersenyum dengan cantiknya.

Wajah Lio tersipu malu dan merah melihat senyuman Fia.

"Oke, mulai hari ini, kalian siap-siap." kata Ayah Fia sambil beranjak naik. "Maaf aku menunda keputusan ini sampai setahun lamanya, karena berita di koran mengabarkan negara adidaya bernama Dalemantia Empire baru saja jatuh dan perang panjang disana baru saja berakhir. Aku menunggu situasi disana membaik dulu supaya kalian tidak kenapa-napa begitu tiba disana. Setahun terakhir ini aku telusuri beritanya, aku rasa situasi disana mulai membaik dan rasanya sudah tepat untuk kalian bisa bersekolah disana tahun ini. Ya berdoa saja, semoga perang tidak tercetus lagi di sana."

Lio garuk-garuk kepala, "Ahh maaf, aku tidak mengerti. Benua Azuria seperti apa? Dan Dalemantia Empire itu negara apa? Seperti negara kitakah?"

"Woo! Tidak sama sekali. Benua Azuria itu adalah tempat yang besar!" Ayah Fia menceritakan dengan gaya mendongeng. "Disana ada 6 negara besar berdiri dan 1 diantaranya adalah negara yang jahat, Dalemantia Empire namanya. Dan perang disana baru saja berakhir setahun lalu, di hari jatuhnya negara jahat itu. Yang dunia kenal sebagai peristiwa, Fall of Dalemantia. Bisa kau pahami maksudku?"

"Ya, lumayan." katanya sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya ia tak mendapati gambaran apapun tentangnya.

***

Keesokan harinya Lio dan Fia berangkat menaiki kapal besar menuju Benua Azuria. Mengarungi samudra luas, untuk satu bulan perjalanan lamanya.

***