Episode 31 - Negosiasi


Sudah dua hari ini aku menginap di markas Kelompok Daun Biru, selama itu pula aku lebih banyak bermeditasi dan menstabilkan tenaga dalamku setelah naik ke tahap penyerapan energi tingkat keempat. Aku masih ingat ketika Arie dan yang lain bangun keesokan harinya setelah aku berhasil menembus tahap penyerapan energi tingkat keempat, mereka sampai ternganga tidak percaya melihatku naik tingkat hanya dalam satu malam. Meskipun pil pengumpul energi dapat membantu peningkatan tahapan tenaga dalam seseorang, namun dapat mencapai kenaikan tingkat hanya dengan menelan satu pil belum pernah mereka lihat sebelumnya. 

Tapi sebenarnya tahapan tenaga dalamku memang sudah berada di puncak penyerapan energi tingkat ketiga, jadi sangat wajar jika aku bisa naik ke tingkat keempat dengan bantuan energi dari pil pengumpul energi. Meski demikian, mereka masih juga mengungkapkan ketidakpercayaan mereka. Begitu juga ketika aku bertemu dengan bang Genta, dia juga tampak tertegun melihatku telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat keempat. 

Sayangnya, pil pengumpul energi hanya dibagikan sebulan sekali. Jika saja aku bisa menelan lebih banyak pil pengumpul energi lagi, mungkin aku dapat mencapai puncak penyerapan energi tingkat keempat dengan lebih cepat. Mungkin jika nanti ada waktu, aku akan berusaha mendapatkan pil pengumpul energi dengan cara lain. 

Saat itu sudah hampir tengah hari saat aku selesai bermeditasi, akhirnya aku beranjak keluar dari kamar. Sebelumnya dua orang teman sekamarku dan Arie sudah keluar dari kamar terlebih dahulu. Jujur saja, hanya berdiam diri di dalam rumah super besar yang sekaligus merangkap sebagai markas Kelompok Daun Biru, nyaris tanpa melakukan kegiatan apapun terasa membosankan. Tapi aku tidak bisa banyak mengeluh, mengingat aku sendiri yang menjadi penyebab 

“Rik, udah latihannya? Baru mau gue samperin.” 

Begitu aku keluar dari kamar, Arie yang kebetulan sedang berjalan menuju kamar langsung menyapaku.

“Udah Rie. Eh, ngomong-ngomong udah ada kabar terbaru?” 

Tanpa basa-basi, aku segera menanyakan kabar terbaru pada Arie. Arie hanya menggelengkan kepalanya, “Barusan gue juga udah nanya ke bang Genta, masih belum ada apa-apa.”

Kami berdua segera beranjak menuju ruang tengah dimana sebagian besar anggota Kelompok Daun Biru berkumpul. Sesampainya disana, tampak beberapa orang anggota kelompok sedang menikmati makan siang sambil berbincang-bincang. Aku dan Arie segera bergabung bersama mereka dan ikut menikmati makan siang dan diskusi bersama-sama. Tampaknya mereka telah menerimaku sebagai anggota baru Kelompok Daun Biru dan tak ragu lagi melibatkanku dalam diskusi-diskusi mereka termasuk mengenai perseteruan dengan Perserikatan Tiga Racun.

Selama dua hari ini, tidak banyak informasi yang kudapatkan terkait dengan Perserikatan Tiga Racun yang sampai ke telingaku. Hanya sedikit desas-desus yang beredar dari sesama anggota Kelompok Daun Biru. Dari desas-desus itu, aku tahu kalau Perserikatan Tiga Racun masih belum melakukan tindakan ekstrim demi membalas kematian empat anggota mereka. 

Aku juga melihat penjagaan di markas Kelompok Daun Biru menjadi jauh lebih ketat dibanding saat aku pertama kali kemari. Selain para anggota kelompok, ada juga beberapa orang bertampang serius yang ikut berjaga di markas. Setelah bertanya pada beberapa anggota kelompok, aku diberi tahu kalau mereka adalah murid-murid Perguruan Kelelawar Merah yang ditugaskan ikut membantu penjagaan di markas. Selain itu, aku juga sempat melihat beberapa anggota kelompok meninggalkan markas, sepertinya mereka mendapat penugasan dari ketua Yanuar. 

Entah apa yang sedang diupayakan oleh para petinggi Kelompok Daun Biru dan Perserikatan Tiga Racun. Tapi yang pasti aku ingin agar masalah dengan Perserikatan Tiga Racun ini bisa segera selesai dan aku bisa segera pulang. Maksudku, sudah dua hari aku tidak pulang ke rumah, dan orang tuaku pasti sudah mulai kelabakan menanyakan kondisiku. Apalagi dalam percakapan telepon terakhir, ibuku tampaknya sudah marah besar karena aku masih belum juga pulang. Disamping itu, kurang dari seminggu lagi liburan sekolahku selesai.

Setelah selesai makan siang di ruang tengah, aku langsung pegi dari ruang tengah mengikuti Arie menuju halaman belakang rumah untuk berdiskusi tentang dunia persilatan dan pengolahan tenaga dalam bersama dengan beberapa orang anggota lainnya. 

“Rik.”

Tiba-tiba bang Genta memanggilku dan mengisyaratkanku agar mengikutinya.

“Saya duluan ya,” ujarku berpamitan pada kawan-kawan diskusiku. 

Aku segera mengikuti bang Genta masuk ke dalam rumah dengan penuh tanda tanya dalam hati. Bang Genta membawaku ke lantai dua dan masuk ke dalam salah satu ruangan. Ternyata di dalam ruangan tersebut telah ada ketua Yanuar, Arman, tetua Seto, dan om Yosep. Selain mereka berempat, ada juga empat orang anggota kelompok lagi. 

“Rik, silakan duduk. Genta, kamu boleh pergi,” ujar ketua 

Setelah melihatku dan bang Genta memasuki ruangan, ketua Yanuar segera mempersilahkanku duduk. Sedangkan bang Genta, tanpa mengatakan apapun segera mengangguk dan beranjak keluar dari ruangan tersebut. 

Setelah Genta keluar dari ruangan, ketua Yanuar memandangi kami satu per satu, kemudian sambil tersenyum tipis dia mulai bicara.

“Baiklah, semuanya karena semua sudah datang, aku tidak akan membuat kalian terlalu lama bertanya-tanya kenapa dikumpulkan kemari. Besok, kita akan bernegosiasi dengan Perserikatan Tiga Racun. Aku sendiri dan om Yosep yang akan bernegosiasi langsung dengan mereka. Selain kami berdua, kalian berlima juga akan ikut dengan kami.”

Lima orang yang dimaksud ketua Yanuar tentulah aku dan keempat anggota Kelompok Daun Biru lainnya yang ada di ruangan tersebut. Kuperhatikan, orang-orang yang akan ikut dalam negosiasi tersebut memiliki tingkat kesaktian yang rata-rata lebih tinggi dariku. Hanya satu orang saja yang tingkatan tenaga dalamnya setara denganku pada penyerapan energi tingkat keempat. Sedangkan dua orang yang memiliki tingkatan tenaga dalam tahap penyerapan energi tingkat ke delapan dan tingkat ke sepuluh adalah mentor seperti bang Genta. 

“Perserikatan Tiga Racun bersedia bernegosiasi dengan kita?” 

Salah satu mentor yang ada dalam ruangan tersebut tampak sedikit terkejut dengan perkataan ketua Yanuar. Ketua Yanuar mengaggukkan kepalanya perlahan, kemudian berkata lagi.

“Kehilangan empat anggota bukan kerugian yang terlalu besar bagi Perserikatan Tiga Racun. Lagipula, saat ini mereka tengah berseteru dengan beberapa kelompok dunia persilatan lainnya. Karena itu mereka bersedia bernegosiasi dengan kita.”

Mentor yang tadi bertanya mengangguk-nganggukkan kepalanya mengisyaratkan dirinya memahami penjelasan Yanuar barusan.

“Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat. Meskipun tujuan kita bernegosiasi, tapi tetap ada kemungkinan mereka akan menyerang kita. Karena itu kalian berlima yang akan ikut dalam negosiasi kami kumpulkan disini untuk membicarakan langkah-langkah yang akan kita ambil jika negosiasi gagal,” lanjut bang Arman dari belakang ketua Yanuar. 

Setelah itu, ketua Yanuar dan Arman segera menjelaskan teknis negosiasi besok serta skenario jika negosiasi tidak berjalan lancar. Sedangkan mengenai konten negosiasinya sendiri kami sama sekali tidak diberikan informasi apapun. Selama diskusi tersebut, aku hanya diam saja dan sesekali mengangguk paham mengenai rencana negosiasi besok. Dalam hati, sebenarnya aku bertanya-tanya kenapa ketua Yanuar memilihku ikut dalam negosiasi ini. Namun aku tidak langsung menanyakannya pada saat itu juga. 

Setelah selesai mendapat arahan dari ketua Yanuar dan Arman, kami berlima dipersilahkan pergi dari ruangant tersebut dan diminta mempersiapkan diri untuk besok. Kami juga diminta tidak membicarakan mengenai rencana negosiasi besok pada kawan-kawan sesama anggota kelompok. Namun aku tidak segera pergi dan menunggu hingga empat orang lainnya meninggalkan ruangan.

“Ada apa Rik?” 

Ketua Yanuar mengerutkan dahinya melihatku tidak langsung pergi dari ruangan tersebut.

“Kenapa saya diajak ikut negosiasi?” tanyaku tanpa banyak basa-basi.

Ketua Yanuar tampaknya sudah menduga apa yang hendak aku tanyakan. Dia sama sekali tidak tampak terkejut. 

“Kita perlu tahu, apa orang-orang Perserikatan Tiga Racun tahu pelaku pembunuh empat anggota mereka atau tidak.”

“Bagaimana jika mereka tahu saya pelakunya? Kalian akan langsung menyerahkan saya?”

Para petinggi Kelompok Daun Biru tampak saling pandang.

“Tentu saja tidak, tapi kita akan menyesuaikan strategi negosiasi berdasarkan apakah mereka tahu pembunuh sebenarnya atau tidak.”

Aku mengangkat kepalaku sedikit, jujur saja jawaban tersebut sama sekali tidak memuaskanku. Aku tahu mereka merencanakan sesuatu, tapi tidak banyak yang bisa kulakukan dengan kekuatanku sekarang. Akupun hanya bisa pergi dari ruangan tersebut dengan muka membeku.

Malam harinya, ketua Yanuar tetap menginformasikan pada para anggota Kelompok Daun Biru mengenai rencana negosiasi besok walaupun dia tidak memberitahukan siapa saja yang akan berangkat besok dan konten negosiasinya. Ketua Yanuar hanya meminta kami tetap menjaga kewaspadaan. 


***


Keesokan harinya, kami berlima beserta ketua Yanuar dan om Yosep pergi dari markas pagi-pagi sekali menggunakan dua mobil menuju lokasi negosiasi. Sedangkan bang Arman dan tetua Seto tetap berjaga di markas. 

Tak terlalu lama kemudian, kami sampai di lokasi negosiasi. Sebuah restoran terbuka yang berada di dalam taman hiburan, lokasi yang sangat menarik bagiku. Entah siapa yang memilih lokasi ini, tampaknya dia mempertimbangkan kemungkinan negosiasi tidak berjalan lancar. Setidaknya Perserikatan Tiga Racun tidak akan menyerang kami secara membabi buta di tempat seramai ini. Itulah perkiraanku saat melihat tempat negosiasi ini, tapi dugaanku itu terbukti salah besar beberapa saat kemudian. Karena aku melupakan satu benda dalam dunia persilatan, Pusaka Pemisah Alam.

Tak lama setelah kami duduk terpisah-pisah di meja restoran, tiba-tiba saja langit berubah redup dan suhu udara menjadi lebih dingin. Meski begitu, para anggota Kelompok Daun Biru sama sekali tidak bergerak dari kursinya masing-masing. Sepertinya mereka telah mengantisipasi soal Pusaka Pemisah Alam. Aku sendiri juga tak beranjak dari tempat dudukku meskipun sempat terkejut oleh perubahan yang disebabkan pusaka tersebut. 

Bersamaan dengan meredupnya langit, tiba-tiba saja berdatangan orang-orang yang mengenakan jas resmi menuju restoran. Hanya sekali lihat saja aku langsung tahu mereka orang-orang dari Perserikatan Tiga Racun. Tanpa banyak kata-kata, mereka juga langsung duduk secara terpisah-pisah di meja restoran. Sedangkan dua orang lelaki paruh baya di antara mereka duduk di meja yang sama dengan ketua Yanuar dan om Yosep. 

Aku sempat melihat orang-orang Perserikatan Tiga Racun itu memandangi kami satu persatu, dan jelas-jelas pandangan mereka sempat terhenti cukup lama ketika melihatku. Hal itu telah membuat jantungku berdegup sedikit lebih cepat, apa mungkin mereka sudah mengetahui kalau aku yang membunuhi anggota mereka?

“Yanuar... Apa kabar? Kudengar Kelompok Daun Biru sedang mengalami masa-masa sulit?” Orang dari Perserikatan Tiga Racun memulai negosiasi dengan sebuah provokasi. 

“Lodan, tak perlu banyak basa-basi, katakan apa yang kalian inginkan?” tanya Yanuar dengan muka dingin. 

Lelaki paruh baya yang dipanggil Lodan tidak langsung menjawab pertanyaan Yanuar. Tapi hanya tersenyum tipis sambil menatap Yanuar. 

“Yang aku inginkan? Kalian harus memberikan penjelasan pada kami. Dan tentu saja, kompensasi atas kerugian yang kalian timbulkan.” 

Yanuar langsung mengerenyitkan keningnya, “Penjelasan? Penjelasan macam apa yang kalian inginkan? Bukannya kalian sendiri yang masuk dan melakukan operasi di wilayah kami tanpa ijin? Bahkan kalian mencoba menyerang anggota kami duluan. Bahkan kalian meminta kompensasi pada kami?”

“Apa maksudmu? Apa Kelompok Daun Biru mencoba lari dari tanggung jawab? Kalian yang membunuhi anggota kami, apa kalian pikir Perserikatan Tiga Racun hanya sekumpulan anak bocah yang bisa kalian bully seenaknya?” Wajah Lodan tampak kelam membesi. 

Aku bisa melihat ketua Yanuar mengepalkan telapak tangan kanannya setelah mendengar kata-kata Lodan. Aku memahami kenapa ketua Yanuar tampak begitu kesal, apa maksud perkataan Perserikatan Tiga Racun dengan mengandaikan mereka sebagai sekumpulan anak yang begitu mudah di bully? Bukankah sudah jelas mereka yang saat ini sedang membully kami?

Setelah menarik nafas panjang, akhirnya ketua Yanuar menjawab Lodan, “Lalu... Apa kompensasi yang kalian inginkan?”