Episode 18 - Tujuh Belas

Bisikan Iblis (1)


Di keraton Mega Mendung di Rajamandala, tampak sedang ada keramaian. Rombongan keluarga Keraton Pasir Wangi sebuah negeri kecil yang terletak di pantai selatan Pasundan telah tiba di Keraton Mega Mendung. Prabu Kertapati pun meyambut kehadiran Prabu Karmasura dan Pangeran Munding Sura yang henak melamar Mega Sari. 

Alangkah kecewanya hati Mega Sari mendapati ayahnya telah menerima pinangan dari Raja Pasir Wangi tanpa persetujuannya. Setelah tiba di keraton ia hanya bisa menangis dan menangis meratapi nasibnya yang dijadikan alat oleh ayahnya untuk memperoleh sekutu guna menghadapi perang dengan Padjadjaran ataupun Banten.

Di Balairiung keraton, Prabu Kertapati menerima kedatangan tamu agungnya itu, mereka asik bercengkrama. Mega Sari beberapa kali mendapati Pangeran Munding Sura yang usianya telah cukup lanjut itu memandangi dirinya dengan tatapan penuh nafsu, bagaimana ia tidak bernafsu melihat kemolekan tubuh Mega Sari yang sintal dibungkus oleh kulit putih mulus bersih itu? Mega Sari hanya bisa menundukan kepalanya menahan kedongkolan hatinya, sebagai seorang putri keraton memang ia dilarang untuk bersikap kurang ajar atau tidak sopan pada tamu-tamunya. 

Sebenarnya kebencian Mega Sari pada Pangeran Munding Sura dan Prabu Karmasura sangat beralasan, kedua ayah dan anak itu dikenal mata keranjang dan memiliki banyak selir. Pangeran Munding Sura sendiri pun telah memiliki banyak selir walau ia belum memutuskan untuk memiliki permaisuri atau istri yang sah (selir tidak dianggap sebagai istri raja atau pangeran yang sah), ia hanya tahu bersenang-senang dengan selir-selirnya, begitupun ayahnya sama saja.

Awalnya Pasir Wangi adalah bawahan Padjadjaran yang setia, tapi setelah Prabu Suriawisesa meninggal dan Padjadjaran mengalami kemunduran, mereka melepaskan diri dari Padjadjaran. Disaat-saat mereka menikmati kemerdekaannya tersebut, tersiarlah kabar bahwa Prabu Kertapati dari Mega Mendung memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita, penasaranlah hati Munding Sura, maka ia meminta ayahnya untuk melamarkan dirinya pada Prabu Kertapati. 

Gayung pun bersambut, Prabu Kertapati yang sedang mencari sekutu dan berencana menyerbu kerajaan Bojanegara di kaki gunung Pangranggo menerima pinangan itu dengan syarat Pasir Wangi harus menjadi sekutu abadi Mega Mendung dan memberikan 100% dukungan militer!

Malam harinya Mega Sari menangis tersedu-sedu, ia menangisi nasibnya pada ibunya dan Emak Inah, “Kenapa hamba harus mengalami nasib sedemikian rupa Ibu? Kenapa?! Padahal hamba mempunyai orang lain yang hamba cintai!” rintihnya dengan perih.

“Sabarlah anakku, ini memang sudah kodrat kita sebagai kaum wanita, sudah pandum bagi seorang putri seperti dirimu,” ucap Dewi Nawang Kasih membesarkan hati putri semata wayangnya.

“Tapi calon yang hamba cintai itu adalah seorang Pangeran dari Parakan Muncang Ibu! Walaupun negerinya sudah hancur beberapa belas tahun silam!” sergah Mega Sari.

“Anakku, memang secara garis keturunan pria itu juga berhak untuk meminangmu, tapi kamu tahu kan bagaimana keadaan negeri kita? Ramamu sangat membutuhkan sekutu untuk mempertahankan negeri ini!” jawab Ibunya.

“Tapi Ibu tahu sendiri bagaimana kelakuan Pangeran durjana itu! Ia senang sekali merusak kehormatan perempuan! Ia hanya tahu bersenang-senang dengan perempuan! Apakah ibu mau kelak negeri ini dipimpin oleh raja seperti dia?!” tangis Mega Sari malah semakin hebat mendengar ucapan ibunya itu. 

Akhirnya karena tidak tega dan apa yang dikatakan Mega Sari memang benar “Kamu benar anakku… Tapi dengan menikahinya kamu tidak harus meladeninya bukan?”

Mega Sari termenung menatap senyum simpul ibunya yang penuh arti, tangannya mengepal keras-keras. “Ya… Ya! Aku tidak akan membiarkan pria durjana itu menyentuhku! Akan kusingkirkan dia dan ayahnya yang sama-sama bejat itu dari hadapanku, dari dunia ini untuk selamanya!” tekadnya.

“Tapi berhati-hatilah anakku, mereka berdua bukan orang sembarangan!” peringat Dewi Nawang Kasih.

“Ibu Tenanglah! Aku akan meminta bantuan Eyang Guru Nyai Lakbok dan Kakang Dharmadipa untuk menyingkirkan mereka!” tekadnya.


***


Keesokan pagi harinya, kaki Dharmadipa telah sampai menyentuhkan kakinya di Kutaraja Rajamandala Ibu Kota Mega Mendung. Sesaat ia celingukan menatap keramaian di Ibukota Mega Mendung ini, ternyata tidak seramai yang ia bayangkan, sehingga membuat pemuda ini kebingungan. “Apakah yang dikatakan oleh Guru dan Ki Demang Bayana benar kalau pajak di Mega Mendung ini terlalu tinggi dan pemerintah hanya mengejar kemajuan militernya hingga perdagangannya menjadi lesu? Heran, aku kira ibukota Negara lebih ramai dari ini.” gumamnya.

Saat itu tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya dari belakang, pemuda ini langsung menoleh sambil bersiap-siap kalau ternyata yang menepuk punggungnya dari belakang itu seorang copet, tapi ternyata yang menepuknya adalah seorang pria paruh baya berperawakan tinggi kerempeng. Dharmadipa segera mengenali pria itu yang tak lain adalah Ki Silah, sais sekaligus pengawal pribadi kepercayaan Mega Sari, ia dapat mengenali orang tua itu dengan baik walaupun wajahnya ditutupi oleh topi caping lebarnya. “Abah?” sapa Dharmadipa.

Ki Silah segera memberikan isyarat pada Dharmadipa untuk tidak berbicara keras-keras. “Ssttthhh… Jangan keras-keras Den, Gusti putri meminta anda agar jangan langsung ke keraton!” ucapnya setengah berbisik.

“Lho kenapa? Bukankah Gusti Putri memintaku untuk langsung ke keraton dan melamar jadi prajurit di sana?” tanya Dharmadipa dengan keheranan. 

“Itu betul, tapi tadi pagi Gusti berkata lain dan memintaku untuk mencegat Aden disini.” Ki Silah lalu mengeluarkan segulung surat kecil dari balik bajunya. “Ini surat dari Gusti putri, harap Aden jangan membacanya di kutaraja ini, bacalah di luar Kutaraja!”

Dharmadipa menerima surat itu dengan seribu tanya di benaknya, ia masih ingin mendapat keterangan dari Ki Silah, tapi orang tua berbadan tinggi kurus itu langsung pergi meninggalkannya dengan tergesa-gesa, Dharmadipa segera memasukan surat itu kebalik bajunya.”Hmm…Melihat dari tingkah polah Ki Silah yang tergesa-gesa dan sangat berhati-hati itu nampaknya surat ini sangat penting”.

Dharmadipa lalu menatap lurus ke jalan didepannya, didepan pasar itu sudah masuk ke alun-alun Kutaraja Rajamandala, di depan alun-alun itulah Keraton Mega Mendung yang megah berdiri. Ia berpikir sejenak, ia sudah sampai kesini tapi Mega Sari malah memintanya untuk membaca suratnya di luar Kutaraja, setelah berpikir beberapa saat ia pun menuruti Mega Sari, kakinya meninggalkan Kutaraja.

Diluar benteng Kutaraja, Dharmadipa mencari tempat yang sepi, setelah memastikan tempat itu benar-benar aman dan sepi, ia pun membuka gulungan surat kecil itu, isinya ternyata singkat saja.

“Kakang Dharmadipa yang aku cintai, aku bersedia untuk menikah dengan Kakang, akan tetapi sesuai dengan apa yang aku katakan saat pertemuan terakhir kita, aku mempunyai satu syarat yang harus engkau penuhi, syarat itu akan aku sampaikan malam ini padamu, temui aku di sebuah gubug reyot di hutan luar kota raja, ciri-cirinya gubug itu berada di bawah pohon waru doyong yang sudah amat tua, tunggu aku di sana, tepat tengah malam aku akan mengatakan persyaratan itu. Dari calon istrimu –Mega Sari-“. 

Setelah membaca surat tersebut, seluruh tubuh Dharmadipa bergetar, jantungnya berdegup kencang. “Mega Sari… Ia sudah mengakui kalau aku adalah calon suaminya!” ucapnya dalam hati, ia pun berjalan meninggalkan tempat itu sambil bertanya-tanya apa kira-kira syarat yang akan diajukan oleh Mega Sari.


***


Sebenarnya sejak 3 hari yang lalu Mega Sari sudah menjalani masa dipingit sebagai calon pengantin wanita selama 7 hari, tapi malam itu dia nekat keluar dari keraton untuk dapat menemui Dharmadipa di tempat yang telah ditentukan, lagipula ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini dan telah bertekad untuk menghabisi nyawa calon suaminya bersama calon ayah mertuanya itu.

Mega Sari memanggil seorang dayang istana yang perawakannya sama dengannya. Ia lalu menotok bagian belakang kepala dayang itu hingga kehilangan kesadarannya dan memakaikan pakaiannya pada dayang tersebut kemudian dayang itu dibaringkan diatas kasurnya dan seluruh tubuh hingga kepalanya diselimuti oleh selimutnya. Ia sendiri memakai pakaian pria rakyat biasa berwarna hitam-hitam dan menutupi wajahnya dengan sebuah cadar yang hitam pula.

Ia mengendap-ngendap keluar dari kamarnya, diluar kamar ia membaca ajian sirep hingga semua penjaga kaputren tertidur pulas, dengan diantar oleh Ki Silah, tubuhnya melesat melompati dinding istana yang tinggi, kemudian langsung menggunakan ilmu lari cepatnya yang ia pelajari dari padepokan Sirna Raga menuju ke tempat tujuannya diamana Dharmadipa sudah menunggu.

Di sebuah gubug reyot di hutan luar kota raja, Dharmadipa sedang melamun sambil menghangatkan dirinya pada api unggun yang dibuatnya, berkali-kali ia menguap dan menggigil menahan dinginnya malam. Ketika matanya mulai diserang kantuk, telinga pemuda beralis tebal yang tajam ini mendengar suara derap lari dua orang yang sangat cepat tapi juga ringan yang sesekali melompat-lompat keatas pohon. 

Dharmadipa segera bersiap-siap ketika dilihatnya seorang berpakaian serba hitam yang wajahnya ditutupi cadar hitam, tapi ia mengenali sosok pria tua berpakaian kelabu bercelana komprang hitam yang mengenakan topi caping lebar itu yang tak lain adalah Ki Silah.

“Abah Silah? Siapa ini? Mana Mega Sari?” Tanya Dharmadipa sambil menatap orang berpakaian hitam-hitam itu dengan penuh selidik.

Orang berpakaian hitam-hitam itu segera membuka cadarnya “Ini aku Mega Sari Kakang Dharmadipa.”

Dharmadipa tertegun melihat wajah Mega Sari yang ayu itu, matanya yang bulat tajam indah, hidungnya yang bangir, bibirnya yang ranum, rambutnya yang hitam panjang lurus, serta kulitnya yang putih seolah memancarkan cahaya di antara gelapnya malam dan cahaya remang dari api unggun. Dharmadipa menelan ludahnya, imannya goyah. Ia memang sudah lama memendam asmara dan dendam kesumat rindu pada gadis itu, tapi surat yang ia baca tadi siang membuatnya semakin tergila-gila pada gadis itu, ingin benar ia memeluk Mega Sari!

Mega Sari tertawa kecil manis tapi penuh godaan melihat Dharmadipa yang melotot memandanginya dengan kerongkongan turun naik. “Kakang Dharmadipa apa kabar? Sudah 14 hari sejak pertemuan kita yang terakhir ketika Kakang menolongku dari kawanan begal di lembah akhirat di kaki gunung tangkuban perahu.” ucapnya dengan suara manja. 

Dharmadipa seolah baru tersadarkan diri mendengar ucapan Mega Sari yang terdengar manja namun sangat menggoda itu “Eh maafkan aku Gusti Putri kalau aku tidak sopan” ucapnya sambil menjura hormat.

“Lho kenapa Kakang memberiku hormat dan memanggilku Gusti Putri segala? Bukankah Kakang selalu memanggilku dengan namaku? Lagipula kita akan menjadi sepasang suami istri bukan?” ucap Mega Sari yang semakin membuat perasaan Dharmadipa tidak menentu. 

“Maka dari itu bukankah pertemuan ini adalah untuk kau mengatakan satu syarat yang harus aku lakukan agar bisa menikah denganmu bukan?” tanya putera angkat Kyai Pamenang tersebut.

Mega Sari mengangguk tapi kemudian raut wajahnya berubah menjadi sangat sedih yang membuat Dharmadipa merasa tidak enak. “Kakang benar, tapi ada satu pertanyaan untukmu sebelum aku mengatakan satu syarat itu.”

Perasaan Dharmadipa semakin tidak enak mendengarnya, tapi sebab ia telah sangat terbius ingin sekali memiliki Mega Sari maka ia pun membuka mulutnya. “Pertanyaan apakah itu Mega Sari?”

Mata Mega Sari berubah kuyu, dengan sayu ia menatap Dharmadipa. “Benarkah Kakang mau menerimaku apa adanya meskipun aku sudah bukan seorang gadis lagi melainkan seorang janda?” 

Bagaikan disengat halilintar, bukan olah-olah kejutnya Dharmadipa mendengar pertanyaan itu “Apa?! Apa maksudmu Mega Sari?!”

“Jawab dulu pertanyaanku Kakang, sebab ini berkaitan dengan syarat yang akan Kakang lakukan untukku demi bisa menikahiku, kalau kakang tidak bersedia maka sebaiknya kita sudahi pertemuan ini dan sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi!” sergah Mega Sari dengan suara bergetar menahan tangis, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya yang putih mulus halus itu.

Dharmadipa terdiam berpikir sejenak sambil menatap Mega Sari, tanpa pikir panjang ia menjawab dengan tegas. “Baiklah, aku bersedia meskipun engkau telah menjadi seorang janda Mega Sari!”

Mega Sari tersenyum lebar mendengarnya, wajahnya kembali ceria. “Bagus! Kakang dalam empat hari kedepan aku akan menikah dengan Pangeran Munding Sura dari Pasir Wangi!”

Sontak saja Dharmadipa bagaikan tersambar petir di tengah hari bolong, ia langsung dibakar api cemburu, dadanya sesak, matanya melotot, tanda rajah cakra bisma di keningnya menyala, hatinya terasa tercabik-cabik. Mega Sari tersenyum senang melihat Dharmadipa yang langsung dibakar api cemburu itu. “Tapi Kakang tenang saja, aku tidak akan membiarkan pangeran durjana itu menyentuhku sampai Kakang bisa melakukan syarat yang aku minta!”

“Syarat apakah yang engkau minta Mega Sari?” tanya Dharmadipa dengan dada sesak.

Mega Sari tersenyum sinis. “Kakang harus mampu membunuh Pangeran Munding Sura!”

Dharmadipa mendelik mendengar syarat tersebut, “Membunuhnya?”

Mega Sari tersenyum manis sambil mengangguk. “Kakang tenang saja, aku telah memikirkan satu strategi yang mulus agar Kakang dapat membunuhnya tanpa ketahuan siapapun dan malah Rama Prabu akan merestuimu untuk menikahi aku!”

Dharmadipa diam hanya menatap Mega Sari, Mega Sari pun menyeringai lalu berjalan memutari tubuh Dharmadipa. “Saat hari pernikahan, aku akan membuat keributan besar di Rajamadala, aku akan menyuruh Abah Silah untuk membuat Liman Wadag gajah tunggangan Rama Prabu mengamuk dan mengacak-acak kutarja.

Gajah itu cukup sakti dan sangat tangguh sehingga tak sembarang orang bisa menundukannya, nah Kakang tundukanlah gajah itu, maka aku yakin Rama Prabu akan sangat berterima kasih pada Kakang dan akan mengangkat Kakang menjadi jabatan yang tinggi, apalagi kalau aku ceritakan bahwa Kakang adalah saudara seperguranku dari Padepokan Sirna Raga dan sebagai putra mendiang Prabu Wangsadipa dari Parakan Muncang, dan aku yakin Kakang juga akan diikut sertakan Rama Prabu ke dalam jajaran pasukan yang akan menyerbu negeri Bojanegara.

Nah pada saat pasukan kita berhasil menyerbu masuk ke keraton Bojanegara, Kakang bunuhlah Prabu Bojakerti dari Bojanegara dan Pangeran Munding Sura sekaligus. Ketika Rama Prabu menawarkan hadiah untuk Kakang, mintalah untuk menikahiku, Rama Prabu pasti akan menyetujuinya!” jelas Mega Sari tentang rencananya yang kian dalam menancapkan pengaruhnya pada Dharmadipa.

Dharmadipa mengelus-elus dagunya sambil berpikir. “Hmm… Rencanamu sungguh matang Mega Sari, tapi bagaimanakah dengan kau sendiri Mega Sari? Bukankah kau ingin menjaga kesucianmu walaupun telah menikah dengan Pangeran Munding Sura?” tanyanya dengan suaraagak tercekat.

Mega Sari tertawa kecil manis sekali, tapi sungguh nampak keculasannya pada tawa gadis ini. “Hahaha… Kakang tenang saja, Kakang sebagai seorang pria pasti tahu saat-saat seorang pria dilarang untuk menyetubuhi istrinya sendiri, saat seorang istri tidak bisa melayani suaminya!”

Dharmadipa mengangguk-ngangguk “Baiklah kalau begitu Mega Sari, aku sanggupi persyaratan darimu dan rencanamu ini, apapun akan aku lakukan agar aku dapat bersatu denganmu!” tegas Dharmadipa, bukan main girangnya Mega Sari mendengar kesanggupan Dharmadipa, ia pun mengumbar senyum manis dan tawanya yang bagaikan buluh perindu itu yang membuat Dharmadipa semakin bernafsu untuk memenuhi persyaratanya.


***


Empat hari kemudian, hari ini adalah hari yang diBojanegarai baik untuk melangsungkan pernikahan bagi putri dari Mega Mendung Mega Sari dan Pangeran Munding Sura yang usianya sudah 42 tahun yang baru kali ini menikahi permaisurinya karena selama ini dia hanya mengawini selir-selir untuk ia nikmati tubuhnya saja, singkatnya ia terlambat menikah karena terlalu banyak bersenang-senang dengan para wanita yang ia jadikan selir-selirnya, inilah yang membuat Mega Sari muak dan tidak bersedia dinikahi olehnya!

Di saat keraton dan seluruh Kutaraja Rajamandala sedang rama-ramainya oleh pesta pernikahan putri Raja mereka, sesosok tubuh tinggi kurus mengenakan pakaian serba hitam dan wajahnya ditutupi cadar hitam mengendap-endap ke arah kandang hewan tunggangan Prabu Kertapati, gerakannya sangat halus nyaris tak bersuara. 

Saat ia sudah dekat di area kandang tersebut ia melihat beberapa prajurit yang berjaga-jaga di sana, ia lalu duduk mengheningkan cipa bertafakur, mulutnya berkomat-kamit, sekonyong-konyong munculah kabut tipis berwarna putih menghampiri seluruh area kandang tersebut, para prajurit yang berada di sana langsung merasa sangat ngantuk, mereka pun jatuh tertidur kemudian! Itulah kehebatan Aji Sirep yang dikeluarkan si manusia bercadar hitam ini.

Setelah memastikan semua penjaga di sana tertidur, ia pun mendekati kandang gajah Liman Wadag, gajah jantan tunggangan Prabu Kertapati yang sangat tangguh dan konon seluruh tubuhnya tidak mempan oleh senjata tajam! Orang itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya, ternyata itu adalah gumpalan lumpur beserta cacing dan ulat yang sebelumnya telah dimantrai oleh Mega Sari. Gumpalan lumpur itu dimasukan kedalam hidung gajah raksasa itu, seketika itu juga Liman Wadag langsung mengamuk dan menjadi gila!

Hewan raksasa itu menghancurkan kandangnya lalu berlari keluar dan mengamuk sejadi-jadinya mengobrak-abrik keraton serta Kutaraja Rajamandala di hari pernikahan putri raja mereka! Korban-korban segera berjatuhan baik para prajurit maupun rakyat yang sedang menonton acara pernikahan Gusti Putri mereka, kacau balaulah pesta pernikahan Pangeran Munding Sura dan Mega Sari yang seharusnya bahagia itu!

Gajah itu berlari keluar dari area keraton dan mengobrak-abrik apa saja yang ada di hadapannya. Prabu Kertapati pun segera memerintahkan para prajuritnya untuk menangkap atau bila perlu membunuh gajah tumpangannya yang tiba-tiba menjadi gila itu. Puluhan prajurit beserta ponggawa mengepung Liman Wadag di alun-alun Rajamandala, tapi percuma saja, bagaimana pun mereka mengeluarkan seluruh kesaktian yang mereka miliki tidak ada yang mampu membendung amukan gajah sakti itu, jangankan meringkusnya, senjata-senjata ataupun ajian-ajian sakti mereka tidak ada yang bisa melukai atau bahkan menggores kulit Liman Wadag! Tubuh mereka semua terpental berpelantingan terlempar ke udara bagaikan daun-daun kering yang tertiup angin! Banyak di antara mereka yang tidak berkutik lagi!

Bukan main geramnya Pangeran Munding Sura melihat pesta pernikahannya menjadi kacau balau akibat amukan Gajah tunggangan ayah mertuanya yang tiba-tiba menjadi gila itu! Dia hendak turun dari pelaminannya untuk meringkus gajah itu, awalnya Prabu Kertapati dan Prabu Karmasura mencegahnya, namun ketika mendapati Ki Patih Balangnipa yang telah berusia lanjut itu juga tidak sanggup meringkus Liman Wadag, Prabu Kertapati pun mengizinkan anak menantunya untuk meringkus gajah tersebut.

Pangeran Munding Sura segera menerjang Liman Wadag dengan segala kesaktiannya, akan tetapi Keris pusaka dan segala ajian yang ia miliki seolah tidak ada artinya dihadapan hewan raksasa yang sedang mengamuk ini! Tubuhnya terpental diseruduk Liman Wadag, untunglah ia segera ditolong oleh Ki Patih Balangnipa yang sama-sama tidak dapat menundukan gajah tersebut.

Melihat amukan Liman Wadag yang semakin menggila dan kesaktian hewan itu yang jauh lebih hebat dari biasanya, Prabu Kertapati segera melihat dengan mata bathinnya, ia melihat ada sesosok mahluk ghaib yang menunggangi dan mengendalikan gajah tersebut. Merasa tidak ada seorang pun di sana yang akan sanggup untuk menundukan gajah itu, ia sendiri yang akan turun tangan!

Baru saja ia melangkah menuruni tangga keraton untuk meringkus gajah tunggangannya tersebut, tiba-tiba sesosok tubuh melayang dari arah penonton. Seorang pemuda berperawakan tinggi kekar dengan alis tebal, tulang alis menonjol, tulang rahang kokoh, serta berpakaian layaknya rakyat biasa langsung bersujud sembah pada Prabu Kertapati, “Ampuni hamba yang bodoh ini Gusti Prabu, mohon kiranya Gusti Prabu mengizinkan saya untuk menundukan gajah gila itu.”

Prabu Kertapati memperhatikan pemuda yang bersujud di hadapannya itu dengan saksama “Siapa kau?”

“Hamba Dharmadipa murid Kyai Pamenang dari padepokan Sirna Raga Gusti Prabu,” jawab Dharmadipa dengan kepala yang masih menunduk.

Prabu Kertapati mengangguk setuju, “Ah kebetulan ada anak murid Kyai Pamenang disini, baiklah aku izinkan kau untuk meringkus gajah gila itu!”

Dharmadipa menjura hormat sekali lagi, “Daulat gusti prabu, hamba permisi.”

Setelah beringsut mundur tiga langkah, Dharmadipa segera bangun dan melompat kehadapan Liman Wadag yang sedang mengamuk dengan hebat itu, kakinya menendang kepala Liman Wadag dengan jurus “Tendangan Kuda Sembrani”, tidak seperti sebelumnya, Liman Wadag terjajar mudur, dia meraung kesakitan karena ternyata Dharmadipa berhasil melukai gajah sakti itu! Semua yang menonton berdecak kagum melihat Dharmadipa menjadi orang yang berhasil melukai hewan sakti itu.

Melihat jurus tendangan Kuda Sembrani yang ia lancarkan dengan tenaga dalam penuhnnya hanya berhasil melukai sedikit kepala gajah itu, Dharmadipa segera mengeluarkan ajian “Liman Sewu”nya, ketika Liman Wadag berlari untuk menyeruduknya, Dharmadipa menangkap kedua cula gajah itu, lalu terjadilah sebuah pemandangan yang tidak dapat dipercaya, Dharmadipa mengangkat gajah itu lalu melemparnya begitu saja bagaikan ia melemparkan sebuah kursi saja!

Liman Wadag jatuh berguling-guling hingga tubuhnya membentur dan merobohkan tembok alun-alun! Hewan itu terluka parah tapi luka itu malah membuatnya semakin buas bukannya melumpuhkannya! Dharmadipa langsung sigap, merapatkan kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam, dia mengumpulkan panas dari perutnya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi keatas sambil mengepal, tulang-tulangnya berteroktokan berbunyi dan giginya bergemelutuk, tangan kanannya mengeluarkan cahaya merah bagaikan bara api membara, hawa disekitarnya menjadi panas, tanda ia akan segera melepaskan pukulan pamungkasnya yang juga merupakan pukulan pamungkas padepokan ini, yang tak lain adalah pukulan “Sirna Raga”!

Dengan teriakan bagaikan geledeg, Dharmadipa mendorongkan tangan kanannya kedepan, lidah api dahsyat yang diseratai gelombang pusaran angin panas yang dahsyat menderu bagaikan deburan tsunami mengarah ke bagian kepala tepat di antara kedua mata Liman Wadag! 

Bllaaarrr!!! Suara ledakan dahsyat menggelegar, seluruh alun-alun Rajamandala seolah bergetar digoyan lindu! Tubuh LIman Wadag mencelat keatas lalu jatuh ke bumi beberapa tombak kebelakang dengan tubuh terbakar api dan kepala hancur remuk! Hewan itu masih berkelojotan beberapa saat hingga akhirnya tidak berkutik lagi, seiring lidah api yang membakar sekujur tubuhnya! Bau daging yang terbakar hingga gosong santar tercium menusuk dan menyesaki alun-alun Rajamandala!