Episode 26 - Dingin


Maaf, karena authornya sibuk dengan urusan kuliah, baru bisa nulis lagi. 


****


Sudah berapa jam beralu, Neil tidak tahu dan tidak bisa mengingatnya. Melihat dari kondisi di mana ia tidur selama ini yang merupakan ruangan tertutup, yang namanya pergantian waktu tidak bisa dirasakan. Alasan utamanya adalah karena Neil baru saja membuka matanya beberapa detik lalu.

Sangat sepi. Perasaan yang sama ketika Neil baru bangun tidur di rumahnya sendiri. Hanya saja, jauh sedikit lebih dingin. Lilin yang ada di atas meja mati meninggalkan jejaknya yang sudah membeku. Setidaknya, sudah sekitar enam jam lebih semenjak terakhir kali Rem meninggalkannya sendirian. 

Neil ingat, ia meminta tolong pada Rem untuk memanggil Noxa, tapi karena terlalu lama menunggu, Neil berakhir ketiduran di ranjang yang seharusnya tidak mungkin digunakan sebagai tempat tidur. Setelah mengecek tubuhnya sebentar, ia menyingkirkan selimut dan duduk di pinggir ranjang. Menarik napas panjang sebelum bergerak, ia memperhatikan pintu yang jaraknya sekitar empat meter jauh.

Untuk menghilangkan rasa gugup, Neil bernapas. Syal merah yang sudah menjadi bagian dari dirinya, ia ambil dari atas ranjang. Seperti biasa, Neil melilitnya di sekitar leher beberapa kali sampai ia merasa nyaman.

Kepala Neil tidak pusing, kedua kaki bisa dirasakan, punggungnya tidak sesakit seperti sebelumnya. Memperkuat otot pada kaki, ia berdiri. 

“Huh…?” Neil sedikit kaget. 

Ia memutar-mutar pergelangan tangan. Mengambil beberapa langkah ke depan dengan mudahnya. Luka bakarnya tertutupi oleh perban putih. Celana panjang yang dikenakan terasa tipis dan ringan. Selain itu, ia tidak mengenakan apa pun. Kondisi tubuhnya jauh lebih baik dari perkiraannya. Ini pertama kalinya Neil terluka cukup parah, jadi ia sendiri tidak tahu kalau tubuhnya bisa pulih secepat ini. 

Neil mengelus bagian di tempat rasa sakitnya bisa dirasakan saat ia terluka. Sedikit terlintas di pikiran untuk membuka seluruh perban agar ia bisa melihat kondisi tubuhnya sendiri, tapi mengingat kondisinya, Neil memutuskan untuk tidak melakukannya. Sebagian dari dirinya berterimakasih karena bisa pulih secepat ini, tapi sebagian lainnya membuat ia sendiri jadi ketakutan. Tidak aneh jika seseorang ketakutan karena kemampuannya melewati batasan Manusia.

Neil memperhatikan sekitar. Karena ruangannya tidak besar, bahkan tanpa penerangan pun ia masih mengamati seluruh ruangan dengan cukup detail. Seseorang hanya meninggalkan makanan di atas meja, di samping lilin yang sudah membeku secara acak. Sebuah sup, roti, apel yang sudah dipotong, dan satu botol air. 

Neil memakan satu potong apel yang sudah disediakan, kemudian menggunakan selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Neil keluar dari ruangan yang gelap itu. 

Lorong yang saat ini dilaluinya sama gelapnya dengan ruangan yang sebelumnya. Beberapa kali Neil melihat ruangan tanpa pintu yang tidak bisa digunakan. Ini menjelaskan kenapa tidak ada lampu sama sekali, karena sejak awal tempat itu tidak pernah digunakan. Karena hal ini juga Neil percaya bahwa dirinya sedang berada di bawah tanah. 

Neil menaiki tangga. Cahaya yang terlihat, menariknya keluar dari. Suasana sudah malam. Entah jam berapa, tapi Neil tidur jauh lebih lama dari yang ia bayangkan. Mungkin Navi benar. Dirinya sangat kelelahan. Berbagai macam cahaya bisa dilihat. Semuanya kecil, tapi dalam jumlah yang banyak. Seperti bintang di langit. Kondisi ini sedikit membuat Neil lebih segar.

Neil melirik ke belakang. Bagian atas bangunan yang menjadi tempat tinggal Neil sudah hancur. Ia tidak tahu bangunan apa itu dan setelah mengetahui kalau tempat itu memiliki banyak ruangan di dalam tanah, Neil memutuskan untuk tidak terlalu banyak bertanya-tanya. 

Banyak mata yang tertuju ke arah Neil selagi ia berjalan. Entah karena ia hanya menggunakan selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya, atau karena ia baru saja bangun setelah tertidur cukup lama. Bukan masalah malu, agar selimutnya tidak jatuh, Neil harus memeganginya yang membuatnya sedikit tidak nyaman. 

Neil melirik ke kiri dan kanan. Beberapa dari mereka, memiliki wajah yang asing. Penduduk asli? Hampir tubuh mereka semua tinggi dengan badan yang bisa dibilang kekar. Bersama dengan anggota tim Monochrome dan Harpy Eagle, mereka semua sedang melakukan sesuatu. Neil yang tidak mau ambil pusing, segera mempercepat langkah, menjauhi semua pandangan yang ada.

Neil tidak melihat Navi atau pun Reina di mana pun. Termasuk Rem dan juga anggota Noxa. Ia mengambil jalan acak. Satu-satunya panutan yang ia ikuti adalah cahaya yang ada. Semakin banyak cahaya, semakin banyak orang. Bahkan dengan suasana malam yang dingin. 

Banyak gedung hancur di sekelilingnya. Jika dibandingkan dengan Jakarta, tempat ini jauh lebih parah. Neil sempat membaca laporan tentang Outsiders dengan codename belphegor yang beberapa tahun lalu menghancurkan tempat ini. Namun, menilai dengan matanya sendiri selalu menimbulkan kesan yang berbeda. Meski keadaan Jakarta sudah membaik, yang namanya seratus persen kembali seperti semua tidaklah mungkin. Selain itu, delapan tahun untuk membuatnya seperti sekarang, bukanlah waktu yang sebentar.

Neil berjalan menjauh dari cahaya, bersembunyi di balik salah satu gedung. Ia bersandar, menghirup berkali-kali. Walaupun tubuhnya sudah pulih, tidak dengan staminanya. Mungkin karena ia kekurangan makan. Masih dalam posisi bersandar, ia merendahkan posisi tubuh sampai duduk di lantai.

“Haah… mungkin keluar sendirian bukan pilihan yang bagus.” Setiap kali Neil berbicara, udara hangat keluar dari mulut. 

Akhir juli, meski ini di luar negeri, tidak seharusnya kondisi malam bisa sampai sedingin ini. Neil memejamkan kedua mata.

“Neil… kau tidak apa-apa?” 

Saat Neil membuka mata dan melirik, Rem sudah ada di dekatnya. 

“Rem, bukankah seharusnya sekarang musim panas? Kenapa bisa sedingin ini?” tanya Neil asal. 

Rem mendekat, menawarkan tangan sebagai bantuan. “Meski kau bilang begitu, aku sendiri pun tidak tahu. Aku tidak sepintar itu.” 

Neil meraih tangan Rem untuk bisa kembali berdiri. Neil berbicara pada Rem, tapi pandangannya terarah pada langit penuh bintang, “Kenapa salju tidak turun, meski sudah sedingin ini?” Neil menggenggam erat syal yang sebagian besar sudah terbakar. Baunya sudah berubah dari yang biasa, karena itu Neil jadi sedikit ketakutan. 

“Neil…?” Rem yang memperhatikan, tidak yakin harus berkata apa. Di ekspresi Neil, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Rem tidak pernah bisa membaca pikiran Neil, tapi… ini berbeda. Ini pertama kalinya ia melihat Neil bertindak seperti ini. Seandanya ada Navi, gadis yang selalu dianggapnya bodoh itu pasti tahu harus bagaimana karena mereka berdua adalah sahabat sejak kecil.

“Ini sedikit mengingatkanku saat aku kecil. Bukankah saat itu juga turun salju?”

Setelah Outsiders yang menghancurkan kota Jakarta, saat itu juga salju turun dari langit. Itu adalah kejadian delapan tahun lalu, jadi mungkin juga ingatannya bisa salah. Sama seperti yang akan dikatakan oleh Rem berikutnya, jika Neil harus menebaknya.

“Salju tidak pernah turun di Jakarta, Neil.” 

Rasanya sedikit aneh melihat Neil jadi sedikit emosional. Tidak seperti dirinya. Atau mungkin, itu hanya karena mereka berdua hampir tidak pernah bertemu. Satu-satunya yang paling tahu tentang Neil, pada akhirnya hanya Navi seorang.

“Hmm… kalau begitu, mungkin aku memang salah.” Neil menurunkan pandangan. “Ngomong-ngomong Rem, kenapa kau bisa tahu aku ada di sini?”

“Seseorang melihatmu berkeliaran dan segera memberitahuku. Kesampingkan masalah itu. Kita pergi dari sini. Aku akan mencarikanmu pakaian dan makanan hangat.”

Rem yang berniat memandu perjalanan, dihentikkan oleh tangan Neil. 

“Kenapa?” Tanya Rem bingung. 

“Aku ingat meminta tolong padamu untuk memanggilkan Noxa.” 

“Soal itu? Maaf, Noxa tidak ingin bertemu denganmu siang ini. Saat aku ingin memberitahumu, kau sedang tertidur. Navi memberi pesan padaku untuk tidak membangunkanmu, jadi… ya, begitulah.”

Neil terdiam. Kemudian, kembali terpikirkan tujuan utamanya. “Di mana Noxa? Aku ingin bertemu dengannya.”

“Noxa sedang bersama White. Setelah mengganti pakaianmu, aku akan membawamu ke tempat mereka.”

“Bagaimana dengan Navi dan Reina?” 

“Mereka juga ada di sana.” Rem menghela. “Kau tahu Neil, semakin banyak bertanya, semakin aku khawatir padamu. Walaupun kondisi sudah jauh lebih baik, bukan berarti kau bisa berkeliaran dengan bebas, apalagi sendirian.”

“Maksudmu, Outsiders sedang berkeliaran?”

Jika dipikir lagi, orang-orang yang beberapa menit lalu Neil perhatikan, ada yang memasang sumber penerangan. Ada juga yang berjaga dengan persenjataan lengkap. Penyerangan Outsiders tidak pernah ada hubungannya dengan waktu siang atau malam, tapi karena mereka semua ada di daerah terbuka, kemungkinan apa pun bisa terjadi.

“Ya begitulah,” jawab Rem malas. “Kita pergi dari sini.”

Neil berjalan perlahan mendekati Rem. Gerakan Neil membuat Rem sedikit sedikit bingung, tapi ia tidak memberontak. Senjata tangan yang ada di sabuk Rem, berpindah ke tangan Neil. Meski bisa melihat gerakan Neil, Rem masih tidak bisa menyadarinya.

“Siapa?” teriak Neil.

Neil berbalik, sambil mengacungkan senjatanya yang terarah ke sisi tergelap sebuah bangunan. Beberapa saat, sebuah bayangan terlihat. Pendek. Seorang anak laki-laki. Mungkin umurnya sekitar dua belas tahun. 

“Dia hanya bocah Neil.” Rem memelankan suara, kecewa. “Aku tidak yakin dia bisa mengerti bahasa kita.”

Kenapa bisa ada bocah sendirian di tempat gelap seperti itu? Neil bertanya-tanya masih mengacungkan senjatanya. Anak laki-laki itu mengangkat kedua tangan dengan kepala yang menghadap ke bawah. Ekspresinya tidak terlihat jelas karena kegelapan yang menyelimuti.

“Kita ting—“ Mata Rem terbuka lebar ketika Neil menarik pelatuk, “Tu—tunggu, Neil!”

“Uwaa…!!”

Suara keras bisa didengar, begitu juga dengan teriakan. Anak laki-laki itu terjatuh ke belakang karena kaget. 

“Eeh?” Rem terkaget. “Ugh…” Rem sedikit berkeringat.

Anak laki-laki itu membuka mata. Ia melihat ke belakang. Ada sesosok makhluk aneh di belakangnya. Darahnya berwarna hijau dengan mata merah bercahaya.

“Haah?!” Masih dalam keadaan duduk, ia segera menjauh.

“Dengan jarak sedekat ini dan waktu yang cukup banyak, bahkan aku pun bisa menembak dengan akurat.” Neil merendahkan bahu. Ia menghela dan menurunkan senjata. “Kau tidak menyadarinya, Rem?” tanyanya datar.

Yang baru saja dibunuhnya adalah Outsiders Rank C. Nightwalker. Bentuk tubuh seperti lalat, jumlah kaki delapan, dengan mata enam mata merah sampai ke punggung. Meski memiliki sayap, makhluk itu tidak bisa terbang. Punya kemampuan kamuflase, tapi tidak sehebat itu. Sedikit cahaya matahari akan merusak semuanya, karena itu Nightwalker hanya aktif pada malam hari. Satu lagi Outsiders yang gagal atau baru mencapai tahap perkembangan dalam evolusinya.

Nightwalker (Active)?Rank : C?Attack : B?Speed : B?Defense : C?Ability : Kamuflase

“Aku bisa melihat peluru, bukan berarti aku bisa melihat dalam kegelapan,” jawab Rem. Ia melihat anak laki-laki yang duduk bersandar pada tembok masih dengan wajah ketakutannya. “Bagaimana dengan bocah ini?”

Neil menghampiri Rem. Ia mengembalikkan senjata kepada pemiliknya. “Biarkan saja,” jawab Neil tanpa berbalik, melewati Rem begitu saja.”Coba lakukan sesuatu dengan matamu itu, Rem!”

Rem terdiam. Ia membiarkan Neil pergi duluan.

Suara yang barusan cukup keras untuk menarik perhatian seharusnya. Tidak lama lagi, aka nada orang yang datang untuk mengeceknya. Tidak jadi masalah jika Rem membiarkan anak laki-laki itu sendirian. Ini juga tidak menjadi urusannya. Selain itu, kejadian yang barusan seharusnya sudah cukup sebagai peringatan agar tidak berada di tempat itu jauh lebih lama lagi.

Rem segera pergi menyusul Neil.