Episode 31 - Tak Ada Salahnya Curhat ke Sahabat Kamu


 Sebagai seorang lelaki, Coklat dengan suka rela mengantarkan Een tepat sampai ke rumahnya dengan menggunakan motor. Melihat kejadian itu pamannya Een marah-marah ke si Coklat.

 “Eh tong, lo antar ponakan gue sih boleh, tapi motornya enggak main masuk ke dalam rumah juga kali!” tegas paman Een sambil melihat motor Coklat yang diparkirkan di dalam rumah.

 “Ya namanya juga antar sampe rumah kalau antarnya sampai depan rumah baru motornya enggak pakai masuk, Om.”

 “Iya deh apa kata lo aja.”

 “Ya sudah, Coklat pulang dulu ya, Om”

 “Ya sudah hati-hati lo di jalan.”

 “Iya, Om.” Coklat pun salim sama pamannya Een. Pamannya Een cium tangan sama Coklat pas Coklat mau pulang. Woy kebalik! Dasar anak durhaka! 

 “Coklat, kamu pulangnya ke rumah ya,” pesan Een.

 “Iya kok, En, aku pulangnya ke rumah.”

 “Iya tapi kamu harus pulang ke rumah kamu jangan pulang ke rumah orang lain.”

 “Lah?”

 Een begitu khawatir dengan Coklat, soalnya kadang-kadang Coklat itu serin mengaku jika melihat rumah mewah disangka rumah dia. Pernah kejadian seperti gini, pas Coklat pulang kuliah beberapa waktu lalu. Dia itu pulang sendirian. Dia melihat ada rumah mewah bercat hijau di depannya, langsung saja Coklat mengetuk-ngetuk pintu rumah itu hingga ada seorang bapak-bapak yang membukakan pintunya.

 “Eh ada babeh, makasih ya dah dibuka pintunya,” ucap Coklat langsung masuk lalu duduk di sofa.

 Nah si bapak yang kumisan itu bingung, kok ada bocah yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya, sudah gitu sok akrab lagi manggil babeh. Si bapak itu menemui Coklat yang lagi enak-enakan duduk santai di sofa.

 “Eh kamu siapa, Nak?”

 “Lha aku ini anaknya babeh, masa lupa?”

 “Hah, masa sih?”

 “Wah si babeh lupa pasti gara-gara enggak ingat nih.”

 Si bapak itu bingung dan langsung duduk di samping Coklat.

 “Emang benar saya ini bapak kamu?”

 “Ya enggak lah, saya ini orang yang lagi nyasar.”

 “Terus kenapa kamu masuk ke rumah saya?”

 “Nah kenapa tuh? Saya juga bingung, kenapa bisa masuk ke sini?”

 Karena sama-sama bingung, akhirnya mereka berdua pun bengong. Mereka bengong kira-kira ada kali selama dua jam. Si bapak pun sadar kalau dia cuma diusili sama bocah. Dia lalu berdiri di hadapan Coklat.

 “Heh! Ini bukan rumah kamu, seenaknya main masuk aja, pergi kamu!” tegas sang bapak-bapak itu sambil nunjuk ke luar.

 “Yah kenapa bapak enggak bilang kalau ini bukan rumah saya! Seharusnya bapak yang pergi karena sudah membohongi saya! Pergi sana!”

 “Lah ini kan bukan rumah kamu, kenapa kamu yang mengusir saya?”

 “Ya terserah saya, ini bukan rumah saya juga!” ucap Coklat bangga.

 “Ihhhh pergi! Dasar cah gemblung!”

 “Jadi saya yang pergi? Bapak tega, saya diusir uh uh uh, ya sudah enggak apa-apa.”

 “Jangan! Ya sudah biar saya yang pergi.”

 “Silahkan, Pak.”

 Si bapak dengan raut wajah bersedih akhirnya meninggalkan rumah. Sampai di depan pintu, tik tak tik tuk tik tak tik tuk bunyi di atas kepalanya.

 “Kok malah saya yang pergi, seharusnya kan dia?”

 Si bapak menoleh ke belakang.

 “Hey! Kamu yang pergi, kenapa saya?”

 “Ya sudah kita pergi saja berdua, gimana? Adil kan?”

 “Setuju!”

 ***

 Di hari Minggu siang ini, Coklat sama Ival lagi duduk di gubuk. Tau kan gubuk? Pasti yang lahiran tahun 10an sampai 90an tau yang namanya gubuk. Gubuk itu adalah tempat kayak pos ronda tapi terbuat dari bilik bambu yang biasanya dijadikan tempat main karambol atau catur ssama bapak-bapak.

 Di gubuk bambu, Coklat pacaran sama Ival, ya enggak lah! Emang Ival cowok apaan, mau-maunya sama Coklat. 

 Di gubuk bamboo ini, Coklat curhat tentang perasaannya ke Een sama Ival.

 “Lo tahu enggak semalam pas gua antar si Een sehabis pulang kondangan?” 

 “Enggak tahu, emang kenapa perasaannya?”

 “Perasaannya itu malam kok gelap ya?”

 “Aih!”

 Bocah masih sempat-sempatnya bercanda pas curhat.

 “Lagian gue tanya, lo malah tanya balik.”

 “Yah gue kan enggak tahu perasaanlo.”

 “Oh iya, lo kan bukan pesulap yang bisa baca perasaan orang lain.”

 Nah sekarang mulai dah serius curhatnya.

 “Gue ngebet banget sama dia, apa gue harus tembak dia cepat-cepat biar dia enggak digebet orang.”

 “Jangan! Lo itu harus pedekate sama dia, percuma lo langsung tembak dia cepat-cepat, nanti dia mati!”

 “Aih.”

 “Hal yang pertama yang harus lo lakukan adalah jangan pernah jauh dari dia, lo dekatin dia setiap waktu.”

 “Oh berarti gue harus dekat sama dia dimana pun dia berada, termasuk saat dia ada di toilet?”

 “Kalau yang itu enggak usah, nanti lo bisa digaplok sama dia, kayak cerita berikut ini.”

Ival mulai menceritakan jikalau deket sama cewek jangan selalu dekat, nanti bisa kayak gini lho. Suatu hari di kantin kantor, terdapat dua sejoli yang baru merasakan indahnya jatuh cinta.

“Beb, kok perut aku mulas ya?” ucap cewek sambil memegangi kepalanya, loh kok kepala, kan mulas seharusnya perut, eh iya lupa. 

“Kamu sih makannya kebanyakan,” kata cowok yang tampangnya pas-pasan. Tampang pas-pasan saja laku, masa yang ganteng enggak, enggak malu apa sama kucing. Meong-meong.

“Dikit kok, Beb, cuma lima piring,” ujar si cewek. What?! Lima piring dibilang sedikit?

“Ya sudah kamu ke toilet sana.”

“Iya, Beb. Ya sudah aku ke toilet dulu ya.”

“Aku ikut ya?”

“Enggak usah.”

“Aku khawatir sama kamu, aku enggak bisa jauh-jauh dari kamu, aku pengin selalu ada di deket kamu. Ya pliiis.”

“Enggaaaak! Nanti kamu ngintip lagi.”

 “Ya enggak apa-apa kalau enggak ketahuan sama kamu.”

 “Kita putus!” 

Huft, itu gara-gara yang katanya selalu dekat. Ya iyalah kalau dekatnya kayak begitu mah, bakalan digaplok sama cewek terus putus deh. Kembali ke gubuk bersama Ival dan Coklat. Ival melanjutkan sarannya.

“Nah setelah lo dekat sama dia, pasti lo tahu barang-barang kesukaannya, nah lo beli barang-barang kesukaan dia.”

“Lah emang dia dagang ya?”

“Hah, dagang?”

“Tadi kata lo, beli barang-barang kesukaan dia, berarti dia dagang, Val.”

“Arrrhgghh! Maksud gue, lo beli barang buat dia, barang yang dia suka.”

“Ngomong dong.”

“Tapi gue saranin jangan beli barang yang mahal, gue tau lo kere. Hahaha.”

“Gue bukan kere, tapi kanan!”

“Nah saat lo beli barang buat dia, lo jangan langsung kasih begitu aja, lo bikin surprise buat dia.”

Iya cewek itu senang dibelikan barang kesukaannya apalagi kalau pakai acara surprise segala, wah bisa tambah kesemsem tuh. Terkadang surprise itu bisa buat pasangan kita putusin kita lho. Saat kamu sudah capek-capek siapkan semua buat si dia. Sudah sewa tempat makan, sudah dandan rapih. Nah kayak gini, kamu mengajak dia makan di tempat makan, anggap saja misalnya di restoran. Kamu sudah berbicara ke sana kemari, dan saatnya kamu menunjukkan kejutan buat dia.

“Yank, aku ada kejutan lho buat kamu,” kata si cowok yang bersiap memberikan sebuah kejutan ke ceweknya.

 “Kejutan apa?”

 “Kejutan itu adalah sesuatu yang akan kita berikan kepada seseorang tapi orang itu tidak tau sebelumnya, itu yank yang namanya kejutan.”

 “Iyaaa, aku juga tahu itu kejutan, tapi kejutannya berupa apa?”

 “Yang namanya kejutan ya berupa rahasia.”

 Seketika hening beberapa saat.

 “Ya sudah kamu tutup mata sebentar ya, aku mau kasih kejutan buat kamu.”

 Terus si cewek pun menurut apa kata si cowok. Dia menutupi matanya. Dalam hati cewek sudah dag dig dug menyambut kejutan yang akan diberikan oleh cowoknya.

 “Sudah, Yank, sekarang buka mata kamu.”

 Tik tak tik tuk tik tak tik tuk, si cewek bengong ketika membuka matanya.

 “Eee … krik krik krik … kejutannya mana, Yank?”

 “Lihat tangan aku.”

 Si cewek pun melihat tangan si cowok, ternyata di tangan si cowok enggak ada apa-apa.

 “Taraaaa … tangan aku kosong kan, ya itu kejutannya,” senyum si cowok.

 “Aku juga punya kejutan juga lho buat kamu,” senyum si cewek.

 “Apa kejutannya?” mata si cowok berkaca-kaca.

 “Kita putus!” cewek langsung pergi gitu aja.

 “Tidaaaaaaaaak!”

 Dua buah saran sudah Ival berikan, niatnya sih dia mau kasih 100 saran, tapi enggak jadi. Kenapa enggak jadi? Lah kalau sarannya ada seratus biji nanti isinya saran semua dong, terus cerita si Coklatnya enggak ditampilkan, jadi ganti cerita namanya. 

 Makanya saran dari Ival cukup tiga saja, jadi masih kurang satu lagi. Apa nih kira-kira saran dari Ival yang terakhir. Mari kita sambut saja Ivaaaal, prok prok prok.

 “Ok, saran gue yang terakhir setelah lo sudah dekat sama dia dan beli barang-barang buat dia, pasti dia kan jadi senang tuh.”

 “Iya gue tahu dia pasti senang, habis itu?”

 “Nah pas dia senang, lo bikin dia sedih.”

 “Habis itu gue bisa jadian?”

“Ya enggak lah, hubungan lo pasti berantakan karena sudah buat dia sedih.”

“Kacruuuttt!”

 “Ok gue serius sekarang, tips gue yang ketiga. Nah lo cari yang tepat buat tembak dia, misalkan pas dia lagi tidur malam-malam, lo ke rumahnya, pasti dah.”

“Diterima sama dia?”

“Ya digebukin bisa sama warga, dikiranya lo tuh maling. Hahaha.”

“Kucluk!”

“Ya enggal pas dia tidur malam-malam, lo kalau mau tembak dia itu pas suasana romantis, ya kalau lebih tepatnya lagi lo duduk berdua saling berhadapan atau kalau lo mau diterima lo itu harus nekat.”

“Oh misalkan pas tembak cewek kita itu harus telanjang bulat di depannya supaya diterima gitu?”

“Itu mah gila namanya.”

 Enggak terasa waktu sudah mulai sore, sore itu pertanda malam akan segera datang, nah kalau pagi itu pertanda siang akan segera tiba, ya iyalah. Coklat dan Ival meninggalkan gubuk ini. 

 Malam harinya, Coklat latihan nembak cewek di kamar. Supaya mentalnya terjaga pas tembak cewek, dia latihan sambil melihat kaca. Dengan ekspresi wajah yang amat serius dia mulai berbicara.

 “En, kamu tahu enggak?” 

 “Enggak tahu?” Coklat jawab sendiri.

 “Yah kamu kok enggak tahu, padahal aku mau minta contekan lho. Yah kok ngomong gitu sih gue, serius-serius. Ok lagi, aku tuh sebenarnya su… su…” ujar Coklat dengan ucapan gugupnya.

 “Hah kamu itu susu?” Coklat lagi-lagi jawab sendiri.

 “Bukan, aku tuh kopi. Huft, susah banget ya. Oke, ulang lagi.”

 “Aku sayang sama kamu, kamu mau enggak jadi pacar aku?”

 “Aku mau,” Coklat jawab sendiri.

 Coklat pun bergembira, dia diterima oleh dirinya sendiri, lalu meluk-meluk cermin gitu deh. Yah kambuh lagi.