Episode 17 - Enam Belas

Kyai Supit Pramana


Didalam sebuah rumah gubug di puncak gunung Tangkuban Perahu, seorang pemuda berambut gondrong yang mempunyai tanda luka diatas alis sebelah kanannya nampak tak sadarkan diri sedang direndam didalam sebuah gentong raksasa berisi air mendidih yang mengeluarkan bau aneh, hingga tak ubahnya pemuda itu nampak sedang direbus didalam sebuah gentong raksasa. Pemuda itu yang tak lain adalah Jaka mulai menggeliat merasakan kesakitan diseluruh bagian tubuhnya, perlahan matanya mulai membuka.

Perlahan kesadarannya mulai pulih, pandangan matanya mulai jelas, ia mendapati sedang berada didalam gentong raksasa, direndam semacam air panas yang mengeluarkan bau aneh hingga layaknya ia sedang direbus! “Ah air ini panas sekali, membuat seluruh tubuhku makin sakit! Ahhh… Apakah ini di Neraka? Apakah aku sedang disiksa di neraka?” rintihnya.

Jaka kemudian merintih menahan sakit disekujur tubuhnya, dan ternyata kedua tangannya terikat pada bagian telinga gentong raksasa itu, “Ah aku ingat, aku jatuh ke jurang setelah adu tanding dengan Kakang Dharmadipa, setelah itu pandanganku menjadi gelap semua aku tak ingat apa-apa lagi, tapi sekarang dimana aku?”

Tiba-tiba terdengarlah suara tawa seorang pria lanjut usia, suara tawa itu terdengar pelan saja dan halus, tapi seolah menggetarkan tempat itu, membuat jantung Jaka pun berdegup kencang, “Apakah ia seorang malaikat yang bertugas menyiksaku?” tanya Jaka.

“Hehehe… Aku bukan seorang malaikat, aku manusia biasa, dan tempat ini masih berada diatas muka bumi, di alam fisik manusia,” jawab orang tua yang tiba-tiba muncul dihadapan Jaka tanpa Jaka sadari kehadirannya. Orang tua itu bertubuh tinggi kurus, rambutnya yang panjang serta kumis janggutnya telah memutih, ia memakai sorban dan jubbah biru tua serta berpakaian dan bercelana putih, wajah orang tua itu nampak klimis.

Orang tua itu tersenyum pada Jaka, tapi senyumnya terlihat sangat menakutkan bagi Jaka, baru kali ini ia merasa gentar melihat wajah seorang tua seperti orang tua yang ada dihadapannya itu, pancaran wajahnya sangat berbeda dengan Kyai Pamenang yang menyejukan hati itu, pancaran wajah orang tua ini sangat angker! Namun begitu Jaka memberanikan diri bertanya, “Kalau begitu mengapa engkau menyiksaku sedemikian rupa orang tua? Apa salahku padamu?”

Si Orang Tua itu menyeringai, “Hahaha… Sungguh pemuda tak berbudi, kau langsung menuduhku yang macam-macam!”

Jaka heran dengan ucapan orang tua itu, “Kalau kau tidak menyiksaku, kenapa kau merebusku begini? Seluruh tubuhku sakit terasa oleh air aneh ini! Apalagi kau juga mengikat tangan dan kakiku!”

Orang tua itu mencelupkan tangannya ke air mendidih yang merendam seluruh tubuh Jaka dari leher ke bawah, “Ini adalah air belerang yang aku ambil dari curug Jodo tempat Sangkuriang bertemu dengan Dayang Sumbi, sumber mata air panas itu mengandung belerang di bawah puncak gunung ini yang sangat berkhasiat untuk menyembuhkan luka luar, aku mencampurnya dengan ramuan obat-obatan untuk mengobati luka luar dalammu, uap dari air belerang campur ramuan ini juga dapat mengobati luka dalammu, itulah mengapa aku merendam seluruh tubuhmu dalam gentong ini, aku sengaja mengikat kaki dan tanganmu agar kau tidak banyak gerak supaya obat ini bisa lebih cepat merasuk kedalam tubuhmu!” jelas si orang tua.

“Ini adalah ramuan obat? Jadi kau sedang mengobatiku bukan menyiksaku?” Tanya Jaka.

“Benar, aku menemukanmu tiga hari yang lalu didasar jurang Tangkuban Perahu ini dengan sekujur tubuh penuh luka, maka aku rendam kamu dalam air belerang ramuan obat ini!” jawab orang tua itu.

“Astagfirullah… Maafkan aku orang tua, aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan, aku juga mengucapkan terimakasih sudah menolongku,” sesal Jaka.

Si orang tua tertawa mengkehkeh, “Jangan salah sangka anak muda, menolong sesama adalah kewajiban semua manusia jadi aku tidak butuh terimakasihmu, aku juga sudah memaafkanmu, hanya saja lain kali kau jangan pernah lagi menuduh orang sembarangan, curiga boleh untuk waspada tapi hati-hatilah dengan mulutmu, jangan sampai kau menuduh orang sembarangan karena dapat menimbulkan fitnah! Camkan itu baik-baik anak muda!”

“Baik orang tua, aku akan mengingatnya baik-baik” angguk Jaka.

Jaka lalu memperhatikan orang tua dihadapannya itu, dia mengingat-ngingat rasa-rasanya ia pernah melihat orang tua itu mengunjungi Kyai Pamenang, “Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu orang tua, aku pernah melihatmu berkunjung ke Padepokan Sirna Raga di Tagok Apu! Orang tua, namaku Jaka Lelana, aku murid Kyai Pamenang dari padepokan Sirna Raga, kau pernah menonton pertandinganku melawan Kakang Dharmadipa bukan?”

Si orang tua menyeringai kecil “Akhirnya kau ingat anak muda, aku adalah sahabat gurumu, dan aku berkunjung saat seluruh murid-murid di padepokan itu bertanding unjuk kebolehan yang diadakan oleh Kyai Pamenang.”

Jaka menangguk-ngangguk “Ya… mohon maaf aku terlambat mengingatmu eyang, kalau tidak salah nama Eyang adalah Kyai Supit Pramana bukan?” si Orang Tua yang bernama Kyai Supit Pramana itu menangguk perlahan sambil tersenyum.

Ingatan Jaka pun melayang pada peristiwa beberapa tahun silam, saat ia dan Dharmadipa masih kecil, ketika itu Kyai Pamenang mengadakan semacam pertandingan silat antara murid-muridnya, ia juga mengundang beberapa tokoh dan para sahabatnya, beberapa tokoh silat golongan putih dan para ulama terkemuka dari Pasundan dan Jawa (Wilayah Kesultanan Demak) datang sebagai tamu undangan, termasuk Kyai Supit Pramana, Kyai yang dulunya punya pesantren besar di wiliayah Subang yang entah mengapa ia tinggalkan, kemudian ia menyepi di Gunung Tangkuban Perahu.

Saat itu ada seorang anak yang menyita perhatian Kyai Supit Pramana, anak kecil itu begitu sopan dan pandai merendah, bahkan kalau tidak dipaksa oleh gurunya untuk naik ke panggung pertandingan, ia tidak mau bertanding. Anak itu adalah Jaka Lelana. Saat itu gurunya memilihkan Dharmadipa sebagai lawan tandingnya, mereka pun bertanding dengan serunya. Saat itu Jaka lebih unggul dalam ilmu meringankan tubuh sehingga gerakannya lebih cepat, ia memilih untuk lebih banyak menghindar, sementara Dharmadipa lebih unggul dalam hal tenaga dalam dan tenaga luar kian bernafsu menyerang Jaka. Pada suatu kesempatan Dharmadipa berhasil mengirimkan serangan beruntun yang membuat Jaka terlempar jatuh dari panggung pertandingan.

Sambil memegang dadanya yang sesak Jaka bangkit dari jatuhnya, ia lalu mengelap darah yang mengucur dari sela-sela bibirnya, sementara Dharmadipa merayakan kemenangannya dengan jumawa dan penuh rasa bangga diatas panggung. Jaka keluar meninggalkan tempat itu. Jaka lalu merenung di bawah sebuah pohon yang rindang, saat itulah tiba-tiba ada seorang tua menghampirinya, “Kau kecewa karena kekalahanmu?” tanyanya.

Jaka terkejut melihat tiba-tiba ada seorang tua berada dihadapannya, ia sama sekali tidak melihat, mendengar, atau merasakan kehadirannya, “Benar saya kecewa, tapi saya lebih kecewa lagi karena harus bertanding dengan Kakang Dharmadipa.”

Orang tua itu bertanya lagi, “Namamu Jaka Lelana bukan? Kenapa? Bukankah pertandingan itu bagus untuk mengukur seberapa jauh ilmu kita.”

Jaka menghela nafasnya, “Benar, tapi menurut apa yang saya pahami tentang ilmu bela diri, kita malah harus menghindari sebuah pertarungan, akan tetapi kalau sudah bertarung kita harus menang! Dan saya kalah, sebab saya sudah tahu tidak akan bisa menang dari Kakang Dharmadipa.”

“Kenapa kau sudah yakin tidak akan menang dari saudaramu itu?” Tanya Kyai Supit Pramana.

“Sebab tenaga luar dan dalamnya jauh lebih unggul daripada saya,” jawab Jaka.

Kyai Supit Pramana tertawa mengkehkeh, “Hehehe… Begitu? Hanya karena merasa kalah tenaga kau merasa telah kalah segala-galanya? Kalau begitu menurutku satu-satunya hal yang pantas membuatmu kecewa adalah dirimu sendiri, anggapan kalau kau tidak bisa menang hingga meremehkan dirimu sendiri padahal kau bisa menang tanpa harus unggul tenaga dalam!”

Jaka terdiam, dia hanya menatap Kyai Supit Pramana dengan tatapan tidak mengerti, “Jaka, apakah kau tidak merasa atau tidak melihatnya bagaimana gerakan saudaramu ketika semua serangannya bisa kau hindari? Serangannya semakin buas penuh nafsu seiring dengan tatapan matanya yang memancarkan nafsu membunuh! Dia menyerangmu bagaikan seekor hewan buas yang mengejar-ngejar mangsanya! Dia ingin merubuhkanmu, bahkan kalau sampai kau terbunuh pun ia tidak akan menyesalinya! Sementara aku lihat kau bertarung hanya dengan setengah hati, kau tidak berniat meladeni saudaramu itu dengan sungguh-sungguh!”

Kyai Supit Pramana lalu menatap mata Jaka, “Akibat kau bertarung dengan setengah hati maka kau tidak bisa memanfaatkan nafsu saudaramu yang membabi buta untuk mengalahkanmu itu, padahal banyak cara untuk meraih kemenangan iitu bukan? Kau tidak harus menang adu tenaga dalam, malah kau cukup membuat dia terpeleset jatuh keluar dari arena,” jelas Kyai Supit Pramana.

“Betul! Astaga, kenapa aku bisa sebodoh itu?!” maki Jaka pada dirinya sendiri dengan penuh penyesalan.

Kyai Supit tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Jaka, “Hahaha… Sudahlah, ingatlah hal itu baik-baik Jaka, bahwa dalam ilmu bela diri meraih kemenangan itu bukan hanya dengan cara merubuhkan atau membunuh lawan saja, masih banyak cara lain, bahkan mengalah pun terkadang adalah suatu kemenangan. Tanamkan dalam hati dan pikiranmu bahwa seseorang yang diliputi oleh segala emosi yang nagetif akan mudah terperosok kedalam jurang kekalahan, jika kau bertarung hanya dengan mengedepankan hawa nafsu seperti benci, dendam atau bahkan rasa takut maka bersiaplah untuk menerima suatu bencana! Dan kau benar akan satu hal, seorang ahli bela diri sebisa mungkin akan menghindari suatu pertarungan, masih banyak cara lain untuk menyelesaikan masalah bukan?”

Jaka menjura hormat pada Kyai Supit Pramana, “Terima kasih atas petunjuk Eyang… Maaf kalau boleh saya tahu siapakah eyang ini?”

Kyai Supit Pramana mengangguk sambil tersenyum “Orang-orang memanggilku Kyai Supit Pramana… Jaka suatu saat nanti mampirlah ke pondokku di Puncak Gunung Tangkuban Perahu, ada yang ingin aku tunjukan padamu.”

Jaka pun mengucapkan terimakasih, Kyai Pramana terus menatap Jaka melalui mata bathinnya, ia benar-benar tertarik pada anak ini, “Anak ini benar-benar bukan anak biasa, dari tengkorak kepalanya saja aku sudah tahu kalau dia Trah Kesuma dan masih keturunan Sri Baduga Maharaja, hmm… Suatu takdir jalan hidup yang dahsyat dan penuh derita sedang menantinya!” (Trah Kesuma = Keturunan orang Sakti).

Semua peristiwa beberapa tahun yang lalu itu melintas jelas di benak mereka berdua “Kyai maafkan aku, aku baru sempat memenuhi undanganmu, malah Kyai yang harus menjemput aku…” seloroh Jaka.

“Takdir dari Gusti Allah siapa yang sanggup menyangkanya Jaka? Sekarang beristiraahatlah dulu, didalam ramuan air belerang itu, tubuhmu masih belum sembuh benar, syukurlah tubuhmu tertahan semak belukar, kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi… Luka dalammu akibat Pukulan Sirna Raga juga cukup parah,” ucap Kyai Supit Pramana.

Jaka heran mengapa Kyai itu bisa tahu dengan luka dalamnya akibat pukulan Sirna Raga. “Darimana Kyai bisa tahu kalau luka dalam saya akibat pukulan Sirna Raga?”

Kyai Supit Pramana menyeringai, “Aku hafal betul karakter dari pukulan inti api itu, sayangnya Kyai Pamenang kurang awas menurunkan pukulan inti api itu pada suadaramu yang mempunyai watak api pula, hingga kerap ia pakai sembarangan saat sedang marah… saudaramu masih tetap sama seperti dulu saat bertading denganmu ya Jaka?”

Jaka semakin terkejut karena Kyai Supit dapat menebak siapa yang mencelakainya itu, tapi ketika ia hendak bertanya lagi, Kyai Supit melangkah pergi, “Beristirahatlah, setelah sembuh ada yang ingin aku tunjukan padamu” pungkasnya.


***


Dua hari kemudian Jaka sudah sembuh sepenuhnya, bahkan ia merasa tubuhnya lebih bugar dan ringan dari sebelumnya. Kyai Supit memanggilnya ke sebuah danau kawah di Tangkuban Perahu yang bernama Kawah Ratu. Di sana ia menyuruh Jaka untuk duduk tafakur, Jaka dengan segala dayanya menahan panas dari kawah dan bau belerang yang sangat menyengat yang membuat nafasnya sesak dan kepalanya pusing. Rupanya inilah pelatihan dari Kyai SUpit yang pertama untuk Jaka, latihan ini adalah untuk meningkatkan tenaga dalam Jaka dan cara menyebarkan tenaga dalam ke seluruh tubuh secara refleks, lambat laun tenaga dalam Jaka yang terus meingkat itu dapat membuat tubuhnya terbiasa dengan panasnya kawah dan bau belerang beracun itu.

Setelah Jaka berhasil bertahan dapat duduk dengan tenang di tengah kawah ratu itu, Kyai Supit mulai menurunkan ilmunya yang pertama pada Jaka, tapi sebelum ia menurunkan ilmunya pada Jaka ia melihat Jaka sering murung dan melamun sendiri, maka brtanyalah ia “Jaka, aku sering melihatmu melamun, apakah ada yang mengganggu pikiranmu?”

Jaka terkejut mendapati pertanyaan itu, tapi ia menjawabnya dengan jujur, “Iya guru, hamba memang ada yang sedang hamba pikirkan dan sulit untuk hamba lupakan.”

“Apakah itu Jaka?” tanya Kyai Supit.

Jaka terdiam sejenak agak sulit untuk mengatakannya tapi akhirnya langsung terus terang, “Emh… Ada seseorang yang telah menawan hati hamba guru.”

Kyai Supit menatap Jaka penuh selidik, “Siapakah nama orang yang telah menawan hatimu itu?”

Jaka menundukkan kepalanya, wajahnya memerah, ia menjawab dengan suara pelan yang mirip orang yang sedang terceki, “Namanya Mega Sari…”

Seketika itu wajah Kyai Supit langsung berubah, dia lalu mengelus-elus jenggotnya yang panjang berwarna putih, “Jaka Lelana… Dengan sangat menyesal aku harus berkata bahwa kamu harus melupakan gadis itu, bukan karena hanya ia seorang putri dari Prabu Mega Mendung, tapi ada hal yang lainnya… Percayalah ini demi kebahagianmu dan kebahagian wanita itu… Jaka kau akan bertemu dengan yang lainnya yang Insyaallah lebih baik dan akan menjadi jodohmu kelak, dengan orang dan pertemuannya yang tidak kau kira!”

Sebenarnya Jaka sangat kecewa mendengar ucapan Kyai Supit itu, tapi ia juga teringat pada pesan Kyai Pamenang, maka ia lebih legawa untuk menerimanya, “Baik guru hamba mengerti.”

Kembali tatapan tajam Kyai Pamenang bagaikan menusuk Jaka, “Benarkah kau mengikhlaskannya? Jaka ilmuku kebanyakan adalah ilmu kebathinan, aku hanya memiliki sedikit ilmu silat, maka jika bathinmu goyah dan masih dipenuhi nafsu duniawi kau tidak akan berhasil mempelajari satu ilmu pun dariku!”

Jaka mengangguk, “Hamba paham guru, hamba sudah mengikhlaskannya.”

Kyai menangguk, lalu ia duduk bersila di tengah kawah dan menyuruh Jaka mengikutinya, “Jaka Ilmuku yang pertama bernama Ilmu Membuka Mata Sukma, gunanya adalah untuk membuka mata sukmamu agar lebih awas dan dapat melihat sesuatu yang tidak dapat orang lain lihat.”

Jaka pun ikut bersemedi dengan gurunya di tengah danau kawah itu, “Sebut nama Allah sebelum melakukan segala sesuatu, selalulah ingat padanya, perbanyaklah ibadah sunah selain melaksanakan ibadah wajib, perbanyaklah dzikir untuk menyingkirkan bisikan setan, bacalah selalu istighfar setiap kali hawa nafsu menghampirimu, hindarilah melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mengundang hawa nafsu, kurangilah makanan dan minuman yang dapat mengundang hawa panas dalam tubuh sebab hawa panas itu akan menuntun hawa nafsu, laksakanlah segala perintahNYA, jauhilah laranganNYA… Itulah inti dari Ilmu Membuka Mata Sukma!” jelas Kyai Supit Pramana.