Episode 215 - Sumur


?Bilamana wujud Segel Syailendra para Balaputera lain berukuran binatang-binatang sebagaimana aslinya, ketiga milik Bintang Tenggara berukuran mini. Ayam, paus dan komodo tersebut terlihat imut dan lucu. Kemungkinan karena membuat tiga sekaligus, sehingga setiap satunya ‘tidak sempurna’. 

Selain itu, terlepas dari kenyataan atas ukuran mereka, Bintang Tenggara sama sekali belum mengetahui manfaat dari setiap satu formasi segel. Ya, sudahlah. Nanti dipelajari sambil jalan saja. 

Keesokan paginya, setelah melesat tinggi dengan teleportasi jarak jauh dari Kedukan Bukit, kedua anak remaja tiada kembali di Kadatuan Kesembilan. Ayahanda Sulung Rudra mengantarkan Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara menuju Kadatuan Kesatu. 

Di wilayah barat Ibukota Minangga Tamwan, mereka tiba di sebuah gapura nan luas dan besar, yang tak kalah dengan milik Perguruan Maha Patih di Kota Ahli. Sebuah papan nama besar nan megah memuat tulisan ‘Perguruan Svarnadwipa’. Beberapa murid yang mengenakan pakaian resmi datang menjemput. Mereka menyapa dan menjura kepada sang Datu Besar Kadatuan Kesembilan, lalu bergegas mempersilakan masuk. 

Sungguh berbeda dengan di kala mendaftar ke Perguruan Gunung Agung. Ingatan Bintang Tenggara kembali ke hari dimana ia tiba di Monumen Genta. Saat itu dirinya harus melalui ujian masuk, yang mana akibat sedikit kesalahpahaman mempertemukan dengan Canting Emas, Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah. Bagaimanakah kabar mereka…? Apakah Perguruan Gunung Agung tiada mempertanyakan tentang dirinya yang belum kunjung kembali…? Mungkinkah Guru Muda Khandra menyampaikan atau melakukan sesuatu yang membuat Perguruan Gunung Agung tiada khawatir…?

Hak istimewa sebagai murid undangan membawa Balaputera Gara dan Balaputera Prameswara melenggang masuk ke perguruan terbesar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Perguruan Svarnadwipa berbeda dengan kebanyakan perguruan di Negeri Dua Samudera,” ucap Ayahanda Sulung Rudra memecah lamunan Bintang Tenggara. 

Lelaki dewasa itu lalu menyampaikan, bahwasanya Perguruan Svarnadwipa menekankan pada penelitian dan pengembangan formasi segel. Tentu hal ini dilakukan karena garis keturunan Wangsa Syailendra, para bangsawan Balaputera, memiliki kelebihan akan keterampilan khusus tersebut. 

Dengan kata lain, perguruan ini memang secara khusus menjalankan mandat untuk menopang kekuatan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sebagaimana diketahui, pertumbuhan keahlian banyak dikembangkan melalui penelitian-penelitian yang dijalankan oleh perguruan. Pengetahuan dan teknologi baru tiada pernah berhenti, ia berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Ayahanda Sulung Rudra tetiba menghentikan langkah tepat di hadapan sebuah tugu. Raut wajahnya berubah, sulit diungkapkan. Meski demikian, Bintang Tenggara merasakan seberkas kepiluan dari sorot mata lelaki dewasa itu. Pada permukaan utama tugu, jalinan kata-kata terukir besar dan penuh makna.

              ‘Ilmu Alat Pengabdian’

Sepertinya, tiga kata tersebut merupakan moto dari Perguruan Svarnadwipa dan sekaligus yang menggugah hati Ayahanda Sulung Rudra. 

Menyimak kata-katanya sebelum ini, tentang perbedaan di Perguruan Svarnadwipa, rupanya Ayahanda Sulung Rudra memang sengaja memberi pengantar sebelum sampai ke tugu yang memuat moto perguruan. Raut wajahnya berubah lagi, kini menyiratkan betapa besar kesetiaan para bangsawan dari sembilan kadatuan terhadap Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Paling tidak, kesetian dan pengabdian dari Kadatuan Kesembilan tiada perlu diragukan. Ingat, 109 anggota keluarga Kadatuan Kesembilan berjuang sampai menghembuskan napas terakhir. 

“Nilai memiliki banyak makna. Salah satu pengertian yang lazim digunakan untuk menjelaskan nilai, adalah ia sebagai kumpulan sikap perasaan atau pun anggapan terhadap sesuatu hal. Apakah sesuatu ini dirasa atau dianggap sebagai baik atau buruk, benar atau salah, patut atau tak patut, mulia atau hina, penting atau tak penting…” tetiba Ayahanda Sulung Rudra berujar. 

Balaputera Gara mencermati, Balaputera Prameswara kurang mengerti. 

“Nilai dalam diri perorangan mengarahkan kepada pertimbangan dan perilaku dalam mengambil keputusan,” sambungnya. 

Balaputera Gara mengangguk, Balaputera Prameswara tertunduk. 

“Katakan, apakah kalian memahami apa itu nilai kepahlawanan?” Ayahanda Sulung Rudra masih memandangi huruf-huruf yang terukir pada tugu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, tentang nilai kepahlawanan, seolah lebih ditujukan kepada diri sendiri. 

Balaputera Gara dan Balaputera Prameswara hanya mendengarkan dalam diam. 

“Nilai kepahlawanan merupakan kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Ia dilandasi oleh keberanian dan kecintaan kepada tanah air.” 

“Lalu mengapa saat Negeri Dua Samudera dalam keadaan terjepit kalian malah melarikan diri ke dalam ruang dimensi ini…?” cibir Komodo Nagaradja. Tentunya ia menggunakan jalinan mata hati yang hanya dapat didengar oleh Bintang Tenggara dan Ginseng Perkasa. 

Sesungguhnya Bintang Tenggara juga hendak mengklarifikasi akan tindakan Kemaharajaan Cahaya Gemilang ini. Akan tetapi, Ayahanda Sulung Rudra sudah pernah mengatakan bahwa para kadatuan tiada mengetahui alasan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang. Para bangsawan hanya menaati perintah sang penguasa… Alasan ini kurang memadai di dalam benak bagi Bintang Tenggara. 109 anggota keluarga tiada mungkin mati sia-sia bilamana tak memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari itu. Kemungkinan yang mengetahui alasan sebenarnya dari Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang adalah para Datu Besar sebelumnya, yaitu para Balaputera generasi kelima.

Hari masih terbilang pagi, ketika ketiga ahli memasuki gerbang megah. Mereka tiba di sebuah halaman persegi nan luas. Luas sekali. Sepintas Bintang Tenggara mengingat akan alun-alun yang juga berbentuk persegi di Kota Ahli, yang mana di tengahnya berdiri tegar sepasang pohon beringin kembar dan besar. 

Lapangan luas di dalam Perguruan Svarnadwipa ini dibagi menjadi beberapa lapisan. Hal ini jelas terlihat dari formasi segel berbentuk limas raksasa. Sekedar mengingatkan pada pelajaran sekolah dasar, limas merupakan sebuah bangun ruang yang dibatasi oleh alas berbentuk segi tertentu dan sisi-sisi tegak berbentuk segitiga. Jalinan formasi segel yang Bintang Tenggara saksikan memiliki alas persegi, ditandai dengan empat buah bangunan batu pada setiap sudut. 

Di sekitar bangunan batu, atau mungkin lebih layak disebut sebagai bangunan candi kecil, terdapat prajurit jaga yang bersiaga. Samar, di dalam setiap satu candi, duduk seorang ahli yang berada pada kasta keahlian yang tiada dapat dicerna. Kemungkinan besar ahli yang berada pada Kasta Emas, batin Bintang Tenggara. Mereka duduk dalam tapa. 

Tidak hanya sampai di situ… Yang lebih mencengangkan adalah sesuatu yang berada tepat di tengah lapangan, dan sepertinya dilindungi oleh tiga lapis formasi segel berbentuk limas empat segi tadi. Sebuah lubang, atau mungkin lebih cocok bila disebut sebagai sumur, terlihat kelam. Di atasnya, sekira satu meter, melayang sebongkah batu nan besar. Batu tersebut ditambat oleh empat jalinan rantai besar berukuran satu pelukan tangan orang dewasa. Rantai-rantai berfungsi sebagai jangkar dan terhubung ke setiap candi kecil. Hal ini terlihat mirip dengan Ibukota Rajyakarta yang melayang di langit tinggi dan ditambat ke bumi.

Bintang Tenggara segera menyadari bongkahan batu besar berwarna hitam kusam tersebut. Pastilah berasal dan diambil dari wilayah di atas ibukota Minangga Tamwan, dimana terdapat batuan dan puing nan melayang. Apakah maksud dari tindakan tersebut? Apakah isi di dalam sumur itu…?

Lagi-lagi sang anak dusun kembali terpana. Ia berada di dalam ruang dimensi yang teramat luas seolah dunia tersendiri, yang dikenal sebagai Ibukota Minangga Tamwan. Ia dibawa melesat tinggi dengan teleportasi jarak jauh untuk menemukan wilayah puing-puing melayang tinggi di atas ibukota. Ia menyaksikan halilintar merah dan hawa mebunuh yang demikian kental. Kini, di dalam wilayah Perguruan Svarnadwipa, satu lagi keanehan mengemuka. Bilamana ketakjuban Bintang Tenggara dapat ditukarkan dengan pundi-pundi emas, maka anak remaja tersebut kemungkinan besar sudah kaya raya. 

Wara menarik lengan pakaian Bintang Tenggara. Ketiganya lalu mengitari sisi luar lapangan nan luas, untuk memasuki gerbang dalam Perguruan Svarnadwipa di seberang sana. 

“Ayahanda Sulung, apakah gerangan yang disegel di dalam sumur itu…?” 

Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan menoleh ke arah tengah lapangan, serta sumur dengan bongkahan batu yang ditambat sekaligus melayang di atasnya. “Diriku tiada mengetahui apakah sesungguhnya yang berdiam di dalam sumur tersebut. Tempat itu disegel oleh Kadatuan Kesatu tak lama setelah kita pindah dan menempati dimensi ruang ini ratusan tahun lalu.”

“Sesungguhnya ruang dimensi Ibukota Minangga Tamwan bukanlah ‘dimensi ruang’,” ujar Bintang Tenggara pelan. “Ibukota Minangga Tamwan berada di dalam dunia paralel.” 

Bintang Tenggara sudah sejak beberapa waktu lalu memperkirakan akan kemungkinan ini. Ia pernah memasuki dimensi ruang milik Perguruan Gunung Agung, dimensi ruang dan waktu Dewi Anjani, dimensi ruang Pulau Dua Pongah, dimensi ruang salah satu markas Pasukan Penyembuh Jenderal Ginseng Perkasa, dan terakhir dimensi Ruang Pulau Tiga Bengis… Kesemuanya memiliki semacam batasan-batasan wilayah yang dapat dirasa. Sebaliknya, sama sekali tiada batas yang terasa di dalam Ibukota Minangga Tamwan, sehingga terlalu luas untuk disebut sebagai dimensi ruang. Andai saja Aji Pamungkas saat ini berada di dekatnya, maka mata siluman temannya itu pastilah dapat mengkonfirmasi kesimpulan ini. 

Sebagai tambahan, kenyataan ini jugalah yang menjadi alasan utama mengapa diperlukan Rimba Candi dengan sembilan candinya yang masing-masing dikepalai oleh seorang Juru Kunci, agar dapat masuk ke dalam dunia paralel Ibukota Minangga Tamwan. Rimba Candi bukan sekedar dibangun untuk memindahkan rakyat dalam jumlah banyak, atau sekedar gerbang pemeriksaan sebagaimana fungsinya saat ini. Sekali lagi, Ibukota Minangga Tamwan berada di dalam sebuah dunia paralel!

“Hm…?” Ayahanda Sulung Rudra menghentikan langkah. Ia menatap dalam ke arah Bintang Tenggara. “Dari manakah dikau mempelajari tentang dunia paralel…?” 

“Dari seorang teman…,” tanggap Bintang Tenggara cepat. 

Ayahanda Sulung Rudra mengulum senyum. “Untuk sementara ini, tahan dulu pemikiran tersebut. Adalah lebih baik bagi dikau untuk memusatkan perhatian pada latihan yang akan dijalani jelang Hajatan Akbar Pewaris Tahta.” 

“Diriku tiada tertarik mewarisi tahta kemaharajaan…” ujar Bintang Tenggara santai. 

“Hush!” sergah Wara. Kepalanya celingak-celinguk ke kiri dan kanan, memastikan bahwa tiada yang akan mendengarkan mereka. “Sebagai generasi ketujuh, adalah takdir kita mengikuti Hajatan Akbar Pewaris Tahta dan menjalankan titah Yang Mulia Sri Paduka,” bisiknya pelan. Nada suaranya terdengar sangat cemas, khawatir bahwa ada pihak-pihak yang mungkin mendengar kata-kata sepupunya itu.

Bagi Bintang Tenggara, petualangan yang ia jalani sudah memiliki tujuan nan sangat jelas, yaitu mengobati tubuh Super Guru Komodo Nagaradja dan mengembalikan mustika tenaga dalam yang utuh ke dalam tubuh nan sekarat. Tahap awal pengobatan, menurut Ginseng Perkasa, adalah menetralisir unsur kesaktian racun, setelah itu barulah meracik ramuan sesuai gejala yang diderita tubuh. Untuk tahap kedua ini, Bintang Tengggara berpikir dapat dicapai dengan menyiapkan tubuh bagi sang Maha Maha Tabib Surgawi. 

Demikian, Bintang Tenggara tiada menyandang agenda muluk untuk mengincar tahta, apalagi menjadi calon penguasa. Walau, ia menyadari bahwa untuk mencapai tujuan, diperlukan tingkat keahlian yang tinggi. Jikalau gelaran akbar memberi kesempatan mengasah kemampuan, maka ia tentu akan dengan senang hati ikut serta. Sekedar ikut serta, tentunya.

“Selamat datang, wahai Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kesembilan!” sambut seorang lelaki dewasa. 

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kesatu, Pimpinan Perguruan Svarnadwipa. Sesuai janji, diriku pagi ini mengantarkan dua kemenakan untuk mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa.”

Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara serempak menjura. 

“Terima kasih, wahai sahabatku,” jawab sang Pimpinan Perguruan. Ia lalu mengibaskan tangan dengan ringan. Mengemuka dua buah lencana, yang pada permukaannya terdapat formasi segel berwujud bunga melati dengan sumber cahaya di tengahnya, lambang Perguruan Svarnadwipa. Balaputera Prameswara serta Balaputera Gara masing-masing menerima satu lencana. 

Ayahanda Sulung Rudra lalu melangkah bersama sang Pimpinan Perguruan ke balai utama. Seorang Guru Muda telah ditugaskan untuk membawa kedua remaja, murid baru Perguruan Svarnadwipa, untuk mengikuti perkuliahan. 

“Brak!” 

Tetiba bongkahan batu yang melayang di atas sumur bergetar keras. Ia kemudian terangkat berkali-kali. Jalinan rantai yang menambatnya mengencang dan mengendur. Para ahli yang berdiam di dalam candi kecil di keempat penjuru segera terjaga. Serempak, mereka merapal formasi segel yang mengalir pada empat jalinan rantai besar-besar. 

Di saat itu terjadi, Bintang Tenggara sepintas menyaksikan telapak tangan nan besar menghantam dari sisi bawah. Ia pun merasakan aura nan mencekam yang menyibak dan berupaya merangsek keluar dari dalam sumur nan kelam! 

“Janganlah khawatir…,” sang Guru Muda yang menjadi pemandu berujar. “Apa pun makhluk buas yang berada di dalam sana, tiada akan dapat keluar dari formasi segel nan ditopang oleh para Maha Guru.  

Kedua remaja lalu di arahkan ke sebuah pendopo. Di sana, sang Guru Muda menyampaikan aturan Perguruan Svarnadwipa. Sistem yang diterapkan adalah mirip dengan Perguruan Gunung Agung, bahwa terdapat skema poin yang perlu dikumpulkan untuk mengambil mata ajaran tingkat menengah dan lanjut. Setelah memberikan wejangan serta jadwal dan lokasi perkuliahan yang tersedia, sang Guru Muda meninggalkan kedua remaja.

Walhasil, Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara, melangkah menuju lokasi perkuliahan pertama mereka. ‘Dasar-Dasar Formasi Segel’ adalah nama mata kuliah yang hendak dituju.

Dalam perjalanan, keduanya tetiba mendapati sejumlah murid mengerubungi sebuah tugu batu berukuran kecil, atau mungkin prasasti batu berukuran besar. Mereka bersorak, mereka berteriak. 

“Ayo! Lebih jauh!” 

“Jangan mau kalah!” 

“Vikatama!” 

“Ardhana!” 

Penasaran, kedua remaja mendatangi tugu atau prasasti tersebut. Bintang Tenggara lalu mendapati pada permukaan batu nan rata, tertulis deretan angka yang diikuti nama. Sebagian besar nama dimulai dengan kata Balaputera, yang menandakan bahwa mereka merupakan keturunan dari kesembilan kadatuan. Terdapat seratus baris nama.

Dua nama pada urutan angka 60 dan 61 menarik perhatian. ‘60. Balaputera Vikatama’ dan ‘61. Balaputera Ardhana’. Akan tetapi, tak lama, nama ‘Balaputera Vikatama’ pindah ke urutan ‘59’, menggeser nama sebelumnya ke bawah. Lalu, nama ‘Balaputera Ardhana’ melompat ke urutan ‘58’ menggeser nama ‘Balaputera Vikatama’ turun satu peringkat. Apakah gerangan yang sedang terjadi…?

Sorak-sorai remaja yang mengerubungi tugu semakin menjadi.

“Itu adalah Tugu Ampera,” bisik Wara. “Di dalamnya terdapat semacam halang-rintang yang merupakan sarana berlatih murid-murid perguruan. Bilamana meraih pencapaian tertentu, maka nama murid tersebut akan naik peringkat. Hanya seratus nama yang akan ditampilkan pada permukaan Tugu Ampera.”

“Swush!” 

Tetiba seorang remaja melangkah keluar dari lorong dimensi di depan tugu. Balaputera Prameswara mengenal sosok remaja itu saat pembawa acara pada pembukaan Hajatan Akbar Pewaris Tahta memanggil. Dia adalah Balaputera Ardhana dari Kadatuan Ketujuh.

“Sialan!” Balaputera Ardhana menggerutu, sepertinya ia tiada dapat melanjutkan, dan dipaksa keluar dari dalam dimensi ruang berlatih tersebut. Pada permukaan tugu, namanya bergeser dari urutan 58 ke urutan 59. Sedangkan nama Balaputera Vikatama, naik ke urutan 58, kemudian 57.

Di saat kesal karena pencapaian dirinya dilangkahi, Balaputera Ardhana tak sengaja melihat kehadiran Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara di baris paling belakang penonton. 

“Oh…? Ada tikus yang menyelinap ke dalam Perguruan Svarnadwipa, rupanya…” 

Sontak, remaja-remaja lain yang tadinya khusyuk mencermati perubahan urutan nama di Tugu Ampera, menoleh ke belakang. Sebagian terpana ketika menyaksikan kehadiran kedua remaja dari Kadatuan Kesembilan. 

Balaputera Prameswara beringsut mendekatkan diri ke saudara sepupunya. Berdiri di sebelah, Bintang Tenggara bahkan tiada menyadari komentar yang baru saja dilontarkan ke arah mereka berdua. Kedua matanya menyaksikan nama-nama murid yang berderet rapi dari arah bawah sampai ke atas. Tatapan kedua bola matanya terhenti di deretan teratas ketika menyaksikan nama… 

‘2. Balaputera Khandra’ 

Kemudian… 

‘1. Balaputera Lintara’