Episode 214 - Tiga


Bintang Tenggara tetiba merasa caping telinganya memerah panas. Ada apakah gerangan? Mungkinkah ada seseorang yang sedang menggunjingkan dirinya…?

Terlepas dari itu, tak terasa, hampir satu purnama sudah waktu berlalu. Saban pagi, Bintang Tenggara dan Wara mendaki Kedukan Bukit. Kemudian, teleportasi jarak jauh membawa seorang lelaki dewasa dan dua remaja tersebut melesat tinggi ke angkasa. Nun jauh di atas sana, keduanya kembali menyaksikan puing-puing batu besar dan kecil yang melayang berserakan. 

Sesekali mereka melompat dari satu bongkah ke puing berikutnya. Balaputera Prameswara terlihat girang sekali bermain lompat-melompat. Seolah ia hendak menunjukkan kelincahan, yang sesungguhnya tiada seberapa pantas. Terlepas dari usianya yang sekira dua tahun lebih tua dari Bintang Tenggara, perangainya memanglah lebih kekanak-kanakan. Mungkin karena ia tumbuh terlalu dimanja oleh Ibunda Tengah Samara. Maklumlah, perempuan dewasa itu sudah kehilangan seorang anak yang tiada diketahui dimana rimbanya. 

Di lain sisi, Bintang Tenggara sangatlah berhati-hati. Waspada malah. Setiap kali melompat ke puing atau bongkahan tanah yang melayang, ia mengamati dengan seksama, bahkan menebar mata hati. Sungguh pengalaman yang unik. Apakah yang akan terjadi bilamana terjatuh dari tempat ini…?

“Janganlah khawatir…,” ujar Ayahanda Sulung Rudra seolah dapat menebak jalan pikiran. “Terdapat lapisan segel yang membatasi wilayah ini dengan Ibukota Minangga Tamwan di bawah sana. Bilamana terjatuh, maka kalian akan dilontarkan oleh formasi segel tersebut kembali ke atas.” 

“Hm…?”

“Tentu menderita sedikit cedera akibat hentakan segel nan digdaya...” Ayahanda Sulung Rudra menutup dengan senyuman. 

“Super Guru… Kakek Gin… tempat apakah ini sesungguhnya?” Bintang Tenggara mencari jawaban. 

“Hm…“ Ginseng Perkasa hendak memberi jawaban. “Sebuah perang…” 

“Kau tanyakan saja kepada kakak sulung ayahmu itu!” sela Komodo Nagaradja. Entah apa yang membuat suasana hatinya tiada nyaman…

Walhasil, Bintang Tenggara kembali melompat ke beberapa puing. Sejak beberapa pekan terakhir, dirinya menemukan kegemaran baru di dalam wilayah asing ini. Adapun, ukiran-ukiran halus hasil tangan-tangan terampil pada puing-puing mengisahkan akan rangkaian ceritera. Sungguh menarik di hati. Cukup lama waktu yang dihabiskan dalam mencermati setiap puing yang disinggahi. 

Secara umum, selama satu purnama terakhir, Bintang Tenggara telah menjelajahi sekira sepersepuluh bagian dari tempat tersebut. 

“Duar!” 

Bukan. Ledakan kali ini bukanlah sambaran halilintar dan kilat berwarna merah yang bersabung di atas langit tinggi. Dari waktu ke waktu, halilintar aneh itu memanglah masih menggelegar dan menyibak hawa membunuh yang demikian kental. Akan tetapi, kali ini ledakan disebabkan oleh sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang, yang mendarat keras di atas bongkahan batu besar yang melayang tak jauh di hadapan Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara. 

“Dia… dari Kadatuan Kedelapan...” Wara tak dapat menyembunyikan kekaguman di hati ketika menyaksikan formasi Segel Syailendra yang melayang dan meliuk-liuk garang mengelilingi tubuh tokoh yang baru muncul di hadapan mereka. Formasi segel yang seolah benar-benar hidup adanya. 

“Apakah yang ia lakukan di tempat ini…?” bisik Bintang Tenggara. Ia menebak bahwa formasi Segel Syailendra tersebut kemungkinan terus-menerus dirapal tanpa henti. Bukankah hal tersebut berarti memecah konsentrasi…?

“Salam hormat, wahai Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan!” Suaranya berat ketika menyapa lelaki dewasa yang berdiri di belakang kedua remaja. 

“Balaputera Naga…,” tanggap Ayahanda Sulung Rudra. “Apakah dikau menemukan sesuatu hari ini?” 

Balaputera Naga menggelengkan kepala. 

Ayahanda Sulung Rudra pernah mengatakan bahwa dari waktu ke waktu, ada saja benda-benda pusaka yang kebetulan muncul di tempat ini. Meski tiada diketahui pasti asal usulnya, benda-benda pusaka tersebut adalah sangat bermanfaat, langka, dan bernilai jual tinggi. Jenis dan manfaatnya pun beragam, mulai dari senjata dengan unsur kesaktian tertentu, perisai kokoh, sampai bebatuan sakti dan anggota tubuh binatang siluman. Oleh karena itu, tak sedikit ahli dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang yang mencari peruntungan dengan menjelajahi bebatuan dan puing-puing nan melayang. 

Oleh karena itu pula, tak heran bila seorang ahli dari Kadatuan Kedelapan, yang di antaranya berisi penjelajah harta karun, bermain-main di tempat ini. Mungkinkah Balaputera Naga sedang menjelajahi puing-puing?

“Yang Terhormat Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan…,” Balaputera Naga berujar, “Perkenankanlah diriku berlatih tarung menghadapi… Balaputera Gara.”

Tatapan matanya tajam. Gerak tubuhnya tiada mengungkapkan keangkuhan, namun siapa pun dapat merasakan betapa tinggi rasa percaya dirinya. 

“Hm…?” Bahkan Ayahanda Sulung Rudra tiada menyangka akan datangnya permintaan seperti ini. Diketahui, bahwa Balaputera Naga berada pada Kasta Perak Tingkat 3, sedangkan Bintang Tenggara berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Secara umum, diperkirakan bahwa Bintang Tenggara memiliki kemampuan setara ahli Kasta Perak, bahkan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang secara tak langsung mengakui akan hal ini. 

Akan tetapi, bagi ahli Kasta Perak menantang ahli Kasta Perunggu, bukanlah sesuatu yang lazim di dalam dunia persilatan dan kesaktian. Hal ini semakin menjadi aneh lagi karena kasta dan tingkat keahlian adalah setara dengan martabat seorang bangsawan di dalam kemaharajaan yang menjunjung tinggi kekuatan tempur. Dengan menantang Bintang Tenggara, bukankah berarti Balaputera Naga merendahkan dirinya sendiri…?

Jika menilik dari raut wajahnya, dapat diperkirakan bahwa Balaputera Naga ini tiada peduli dengan pandangan orang terhadap dirinya. Sepanjang ia berkesempatan bertarung dengan lawan tangguh, maka hatinya pasti akan sangat senang. 

Bintang Tenggara alias Balaputera Gara, di lain sisi, hanya diam mengamati situasi. Seorang lagi remaja dengan tabiat yang suka berlatih tarung, ia mengutuk dalam hati. Setelah terlepas dari ajakan berlatih tarung setiap hari oleh Panglima Segantang, kini makhluk sejenis datang mendekat. Keluar dari sarang harimau, masuk ke sarang buaya!

Selain itu, di kala mengamati Balaputera Naga, ada beberapa pertanyaan yang mencuat di dalam benak Bintang Tenggara. Pertama, orang tua mana yang menamai anak mereka ‘Naga’? Nama ini terlalu berat. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir kembali, mungkin demikianlah perangai anggota keluarga Kadatuan Kedelapan yang diketahui memiliki prinsip hidup yang sangat berbeda dengan kadatuan-kadatuan lain. 

Pertanyaan kedua, mengapa anak remaja lelaki itu hanya mengenakan cawat hitam bersisik nan kecil sekali ukurannya!? Sepertinya tiada nyaman. Bila masih perlu melakukan perbandingan, bahkan Panglima Segantang dapat digolongkan berpakaian santun. Meski gemar bertelanjang dada, sahabat Bintang Tenggara itu biasa mengenakan celana silat atau sesekali celana prajurit. Oleh karena itu, sulit sekali rasanya bila berhadapan dengan Balaputera Naga, karena seorang ahli perlu berkonsentrasi agar tak terpancing pada cawat itu, khususnya bagi ahli lelaki. 

“Sesungguhnya, diriku memang hendak menakar kekuatan tempur Balaputera Gara,” sahut Ayahanda Sulung Rudra.

Bintang Tenggara melirik ke arah lelaki dewasa itu. Wajahnya mencerminkan reaksi tak senang. 

“Akan tetapi,” lanjut sang Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan, “kali ini bukanlah saat yang tepat.”


Ritual melesat tinggi ke angkasa berlangsung setiap hari selama satu purnama terakhir. Sekembalinya ke Kadatuan Kesembilan, Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara berlatih di bawah bimbingan Balaputera Rudra, atau Ayahanda Sulung, atau Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan.

“Cermatilah…” Ayahanda Rudra membuka telapak tangannya. Sebuah formasi segel berpendar. Sungguh rumit simbol-simbol itu, yang bergerak lalu merangkai cepat. 

“Segel Syailendra: Beruang Madu!” 

Seekor beruang berwarna biru tua dan berukuran tubuh besar mengemuka. Ia bukanlah nyata, melainkan formasi segel yang berwujud. Beruang tersebut bergerak sesuai kehendak empunya.

“Segel Syailendra: Ikan Belida!” 

Wara pun selesai merapal. Seekor ikan kemudian berenang-renang di udara. Ia bermain-main lincah. Remaja perapalnya kemudian berlari-lari kecil dikejar ikan tersebut. Balaputera Prameswara terkekeh, ia melompat mengelak, keasyikan sendiri.

Bintang Tenggara terlihat kesulitan. Sudah lebih dari tiga pekan sejak ia berupaya merapal segel nan khas ini. Namun, belum ada petanda yang akan berujung kepada keberhasilan.

“Ayahanda Sulung…” Wara berjingkat riang usai bermain-main. “Sepupu Gara masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Bukankah tiada mungkin bagi dirinya menyusun formasi Segel Syailendra…?”

“Ayahandanya dapat menyusun formasi Segel Syailendra walau masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 6.”

Bintang Tenggara tetiba merasakan beban nan berat di pundak. Terima kasih wahai Ayahanda Sulung Rudra, gerutunya dalam hati. Bukannya menyemangati, Balaputera Rudra malah membanding-bandingkan. Memberi contoh yang kurang pas. Anak remaja itu malah terlihat sedikit kecewa pada diri sendiri. 

“Bayangkan binatang yang dikau senangi…,” nasehat Wara. 

Bintang Tenggara membayangkan Harimau Bara. Tentu tidak, pikirnya. Nanti pastilah sulit diatur. Siamang Semenanjung? Terlalu besar dan rumit dengan bulu-bulu lebat. Trengginas si Trenggiling Pusaran Kilat dari Alas Roban… batin Bintang Tenggara. Betapa ia merindukan binatang siluman nan pemalu itu. Bagaimanakah keadaannya saat ini? Cikartawana berjanji akan menjaganya. Akan tetapi, sepertinya agak sulit karena Trengginas terlalu pemalu.  

Bintang Tenggara mulai merapal formasi segel. Ia tiada lagi mengalirkan sedikit tenaga dalam ke ujung jemari tangan, dan memandu dengan mata hati. Bukanlah demikian teknik merapal segel ala Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Yang diajarkan oleh Ayahanda Rudra adalah ‘melukis’ formasi segel langsung dengan menggunakan jalinan mata hati. Gerakan tangan berfungsi sebagai pemandu agar formasi segel dapat terangkai sempurna atau memindahkan posisi segel ke arah sesuai kehendak. 

Cukup sulit membayangkan wujud binatang sambil menebar mata hati. Ibarat di kala sedang berpikir, lalu terdapat gangguan-gangguan suara nan menyita perhatian. Tunggu! Bukankah dirinya sudah terbiasa berpikir di tengah gempuran suara-suara menggangggu? Bukankah sejak kehadiran kesadaran Super Guru Komodo Nagaradja, kemampuan dirinya dalam berkonsentrasi terasah setiap hari…? 

“Swush…” 

Bintang Tenggara membuka kedua telapak tangan di depan ulu hati, lalu ia memejamkan mata. Jalinan mata hati menebar ringan dan formasi segel merangkai perlahan. Aura kehijauan kemudian berpendar dari telapak tangannya, kemungkinan warna ini dipengaruhi oleh kehadiran Akar Bahar Laksamana. 

Formasi segel mulai terlihat membangun wujud… Ukurannya lebih kurang sebesar satu kepalan tangan. Lalu membentuk kepala nan berparuh, sayap, sepasang kaki dengan cakar dan taji, bulu ekor... 

“Segel Syailendra…” Bintang Tenggara bergumam pelan…  “Ayam!”

Seekor binatang siluman Ayam Jengger Merah berukuran mini. Ayam yang satu ini memanglah meninggalkan kesan mendalam di hati sanubari Bintang Tenggara. Ia adalah sahabat yang menemani selama terkurung di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani. Ia meregang nyawa karena Bintang Tenggara tiada mampu melindunginya. 

Ayahanda Sulung Rudra yang sedari tadi diam mengamati, tetiba tersentak. Bukanlah formasi segel yang berwujud ayam itu yang membuat dirinya terkejut, melainkan sebuah formasi segel lain yang tetiba mengemuka! 

Bagi mereka yang memiliki darah Wangsa Syailendra dari trah Balaputera, kemampuan merapal segel adalah ciri khas yang merupakan bawaan sejak lahir. Wangsa Syailendra dari trah-trah lain memiliki kemampuan khas yang berbeda pula, namun urusan trah ini adalah penjelasan yang diperuntukkan pada kesempatan lain. Yang jelas, bagi seorang Balaputera muda yang baru saja naik ke Kasta Perak, biasanya dapat mewujudkan satu Segel Syailendra. Seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan keahlian, nantinya ia akan dapat merapal beberapa Segel Syailendra lagi dengan wujud yang lain. 

Terlepas dari itu, belum pernah dalam sejarah Kemaharajaan Cahaya Gemilang, seorang ahli menciptakan lebih dari satu wujud formasi segel pada kesempatan pertamanya! Bahkan Balaputera Ragrawira yang disanjung sebagai anak jenius pun, hanya dapat menghasilkan satu Segel Syailendra di saat pertama kali merapal. Ayahanda Sulung Rudra mengamati dengan seksama. 

Bintang Tenggara, di lain sisi, sejak tadi sudah merasakan keanehan pada mustika di ulu hati. Akar Bahar Laksamana kembali mengencang kemudian berdenyut, di saat yang sama ia menyedot tenaga dalam dari mustika Kasta Perunggu Tingkat 10. Bukan main cepatnya proses tersebut berlangsung. Sebagaimana beberapa waktu lalu, bilamana tumbuhan siluman tersebut berkehendak dan dengan rakusnya melahap tenaga dalam, maka Bintang Tenggara tiada berdaya dalam mencegahnya. Pasrah. 

Sama seperti sebelumnya, formasi Segel Syailendra kali ini pun bernuansa kehijauan. Ia adalah hasil dari kegiatan menyerap tenaga dalam yang dikonversikan menjadi formasi segel oleh Akar Bahar Laksamana. Perlahan, formasi segel mulai membangun wujud. Ukurannya sedikit lebih besar, sekira seekor kambing. Akan tetapi, tiada memiliki leher maupun kaki. Mulutnya lebar, tubuhnya gempal, bersirip, berekor… 

“Segel Syailendra… Paus!” 

Wara terkekeh. Betapa lucunya paus mini tersebut di mata remaja itu. Lebih mirip dengan seekor berudu yang terlampau besar, dari pada seekor paus nan kerdil. 

“Hampa…” gumam Bintang Tenggara. Lebih dari setengah tenaga dalam habis sudah dilahap Akar Bahar Laksamana, sang benalu di ulu hati. 

“Super Guru!” Bintang Tenggara berteriak menebar jalinan mata hati. 

“Sepuluh persen!” tanggap Komodo Nagaradja, sambil melonggarkan segel terhadap jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Ia menyadari bahwa hal ini harus dilakukan karena Akar Bahar Laksamana belum menunjukkan gelagat hendak berhenti dari melahap tenaga dalam. 

Tenaga alam merangsek deras dan serta-merta berubah menjadi tenaga dalam mengisi kristal mustika di ulu hati. Akan tetapi, kecepatan melahap tenaga dalam Akar Bahar Laksamana segera mengimbangi derasnya aliran tenaga dalam yang baru mengisi. Bintang Tenggara mulai khawatir… 

Di saat yang sama, detak jantung Ayahanda Sulung Rudra berpacu keras. Tentu bukan karena ia meyadari keberadaan Komodo Nagaradja, Akar Bahar Laksamana, maupun jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Sang Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan, terpana karena tetiba...  berpendar formasi segel ketiga!

“Mustahil!”

Keringat bercucuran di dahi dan pelipis Bintang Tenggara. Ia mulai terlihat panik. Bahkan dengan daya serapan tenaga alam saat ini, benalu di ulu hati mulai menunjukkan gelagat bahwa ia akan mengungguli kecepatan jurus Delapan Penjuru Mata Angin!

“Komodo Nagaradja!” Maha Maha Tabib Surgawi sudah terdengar sangat panik. 

“Hmph!” Komodo Nagaradja terpaksa menempuh cara lain. Tiada guna baginya melonggarkan lagi segel terhadap jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Akar Bahar Laksamana itu tak boleh dimanja, pikirnya. Oleh karena itu, sang Super Guru mulai mengalirkan tenaga dalam dari mustika retak miliknya...

Di kala tindakan tersebut diambil, formasi Segel Syailendra ketiga mulai merangkai wujud. Simbol-simbol berbagai bentuk dan ukuran menyusun perlahan. Ukurannya seperti betis orang dewasa. Memanjang… lalu membentuk kepala, leher, tubuh beserta empat kaki tebal, dan terakhir ekor. 

Ayahanda Sulung Rudra tiada bisa berkata-kata. Reaksi alamiah dari tubuhnya adalah mata melotot, mulut menganga...

“Bah!” Komodo Nagaradja menyeringai. 

“Huaahaha…,” gelak Ginseng Perkasa. 

“Segel Syailendra: Komodo!”