Episode 30 - Penyerapan Energi Tingkat Keempat



Kedatanganku dan Genta telah membuat mereka menghentikan seluruh kegiatan mereka secara serentak dan segera mengalihkannya ke arah kami. Awalnya mereka tampak biasa saja ketika melihat yang datang adalah Genta, namun beberapa tampak memfokuskan pandangannya padaku.

“Siapa dia bang?” Salah satu dari mereka segera menanyakan perihal diriku pada Genta.

“Ini Riki, anggota baru Kelompok Daun Biru. Baru bergabung sore ini, dia masuk dalam kelompok saya.”

Aku dapat melihat beberapa orang dari mereka tampak mengerenyitkan keningnya demi mendengar penjelasan Genta. “Kenapa kita merekrut anggota disaat seperti ini?” gumam salah satu dari mereka. 

“Salam kenal, saya Riki.” Aku berinisiatif memperkenalkan diriku pada orang-orang yang ada di ruangan ini. Kemudian Genta segera mengajakku berkeliling ruangan tersebut dan berkenalan satu persatu dengan para anggota Kelompok Daun Biru yang ada diruangan itu. Kuperhatikan, lebih dari setengah anggota Kelompok Daun Biru yang hadir di ruangan ini masih berusia dua puluhan hingga tiga puluhan tahun. Dalam perkenalan itu, aku kembali bertemu dengan Arie sekaligus berkenalan dengan satu lagi anggota kelompok kecil dibawah bang Genta, Yanti.

“Gen, sini sebentar.” Begitu aku selesai berkenalan satu persatu, seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahunan yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai seorang mentor bernama Dani langsung memanggil Genta. 

“Rik, sebentar ya, kamu gabung sama Arie dan Yanti dulu.” Bang Genta segera memintaku bergabung dengan Arie dan Yanti sebelum memenuhi panggilan Dani. Mereka berdua tampak menjauh dari kami dan saling berbisik-bisik. 

“Rik, sebelah sini.”

Begitu Genta meninggalkanku, Arie segera memanggilku untuk bergabung dengan mereka. Akupun segera mendekati Arie yang tengah berkumpul bersama Yanti dan dua orang lainnya. 

“Lu udah tau berita tentang Shinta, Rik?” Arie segera bertanya padaku begitu aku bergabung dengan mereka. 

“Tau,” jawabku singkat.

“Ck, ini gara-gara Shinta bertindak sendiri. Dari dulu dia selalu seperti itu, gegabah…” Arie menarik nafas panjang dengan ekspreasi menahan kesal. 

“Bukannya dia sedang menjalankan misi membuntuti anggota Perserikatan Tiga Racun?” Jujur saja aku agak sedikit bingung dengan sikap Arie, karena setahuku Shinta hanya menjalankan misi yang diberikan kepadanya. Setidaknya itu yang informasi yang kudapat dari Shinta pada waktu itu. 

Arie menggelengkan kepalanya, “Dia bertindak sendiri, seperti waktu dia menyerangmu di kompetisi tiga perguruan. Lagipula, kalaupun kelompok kita mau membuntuti Perserikatan Tiga Racun, mana mungkin mereka memerintahkan Shinta yang hanya memiliki kesaktian tahap penyerapan energi tingkat ketiga. Sekarang, kita yang kena getahnya.”

“Jangan gitu Rie,” Yanti berbisik pelan sambil menepuk pelan bahu Arie. “Biar bagaimanapun, sekarang kondisi Shinta sedang terluka parah. Ngga baik ngomongin keburukan orang lain dibelakangnya.”

Aku mengalihkan pandanganku pada Yanti, perempuan teman satu kelompok denganku ini kelihatannya berusia lebih tua dari Arie. Mungkin sekitar sembilan belas atau dua puluh tahunan. Rambutnya yang berwarna hitam dibiarkan tergerai hingga melewati bahu. Aku sedikit penasaran jurus apa yang dia gunakan dan seperti apa gaya bertarungnya, rambut yang dibiarkan tergerai panjang jelas akan menyebabkan banyak masalah baginya di tengah pertarungan. Tapi secara keseluruhan, dia terlihat dewasa dan anggun. 

“Gue juga kaget tadi sore tiba-tiba dihubungi mas Arman dan memerintahkan segera ke markas, siapa sangka kita terlibat konflik dengan Perserikatan Tiga Racun.” Laki-laki yang ikut berkumpul bersama kami mendesah pelan, seingatku dia bernama Yoga.

“Kira-kira langkah apa yang akan diambil oleh Kelompok Daun Biru?” Yanti memandangi kami bergantian satu per satu.

“Mungkin Kelompok Daun Biru akan mencoba bernegosiasi dengan Perserikatan Tiga Racun,” jawabku kemudian. 

“Bernegosiasi?”

“Tapi melakukan negosiasi dengan Perserikatan Tiga Racun sepertinya masuk akal. Lagipula, pihak kita yang menderita kerugian. Mereka melukai Shinta sedangkan kita hanya menguntit mereka,” ujar Arie sambil menganggukkan kepalanya.

Aku segera mengalihkan pandanganku pada Arie, Perserikatan Tiga Racun melukai Shinta sedangkan Kelompok Daun Biru hanya menguntit saja? Apa dia belum tahu kalau empat orang anggota Perserikatan Tiga Racun terbunuh?

“Emang cerita yang beredar kayak gimana Rie?” Aku menjadi semakin penasaran cerita yang beredar di dalam kalangan Kelompok Daun Biru terkait dengan peristiwa ini. 

“Shinta menguntit Perserikatan Tiga Racun di wilayah kita, terus dia ketahuan dan terlibat pertarungan dengan mereka kan? Katanya Shinta terluka cukup parah, untungnya dia berhasil diselamatkan bang Arman yang datang ke lokasi kejadian.” Arie menjawab pertanyaanku.

“Terus, Perserikatan Tiga Racunnya?”

Arie mengangkat bahunya, “Nggak di kasih tau, mungkin mereka mundur setelah bang Arman datang.”

Aku sedikit ternganga mendengar penjelasan Arie. Tampaknya Kelompok Daun Biru tidak menceritakan secara detil kejadian dengan Perserikatan Tiga Racun. Mungkin karena tidak ingin membuat para anggota kelompok semakin panik. Atau mungkin juga untuk melindungiku? Entahlah. Aku merasa lebih baik diam saja, ketua Yanuar dan bang Arman pasti punya alasan kuat menyembunyikan kejadian yang sebenarnya dari para anggota kelompok. 

“Apapun langkah yang akan dilakukan oleh Kelompok Daun Biru, kurasa kita akan segera mengetahuinya. Buat apa lagi bang Arman mengumpulkan kita semua disini,” ucap Yanti kemudian.

Selama kami menunggu dan berbincang-bincang, datang dua orang lagi anggota Kelompok Daun Biru. Mereka segera bergabung dengan kelompok lain dan berbincang-bincang satu sama lain. Aku sempat melihat mereka melirik dan menunjuk-nunjuk ke arahku, mungkin sedang memberitahukan kalau ada anggota yang baru saja bergabung malam ini. 

Tak berapa lama kemudian, Arman, ketua Yanuar, tetua Seto, dan om Yosep masuk ke dalam ruangan tersebut. Semua kebisingan dalam ruangan tersebut serentak berhenti dengan kedatangan mereka. Semua mata langsung mengarah pada mereka berempat 

“Aku rasa kalian semua sudah tahu situasi apa yang sedang kita hadapi saat ini. Kita telah memprovokasi Perserikatan Tiga Racun. Sekarang kami sedang berusaha menghubungi mereka untuk bernegosiasi. Sementara itu, kami berharap seluruh anggota dapat berhati-hati dan tidak bertindak gegabah.” 

Yanuar memandangi kami satu persatu seakan ingin memastikan bahwa kami mematuhi peringatannya. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya, “Untuk sekarang, sebaiknya kalian bermalam di markas, jangan keluar jika tidak ada urusan yang benar-benar penting. Aku telah mengatur agar kalian semua bisa bermalam disini.”

“Bagaimana dengan Danang, Sista, dan Andi? Mereka belum datang kemari?” tanya salah seorang anggota Kelompok Daun Biru. 

“Mereka baik-baik saja, tapi mereka tidak bisa datang kemari saat ini.” Kali ini Arman yang menjawab pertanyaan tersebut. 

Setelah beberapa kali tanya jawab dan berdiskusi mengenai berbagai kemungkinan yang terjadi terkait perseteruan dengan Perserikatan Tiga Racun, akhirnya kami dipersilahkan beristirahat. Bang Genta kembali mendekatiku dan menunjukkan kamar tempatku bermalam. Ternyata aku ditempatkan sekamar dengan Arie dan dua orang anak muda dari grup lain. Namun tidak semua anggota Kelompok Daun Biru pergi beristirahat, sebagian ditugaskan berjaga-jaga di sekitar markas. 

Mungkin karena sudah terlalu lelah baik fisik maupun mental, kami tidak bicara terlalu banyak di dalam kamar. Hanya dalam sekejap saja, suara dengkuran halus sudah terdengar di dalam kamarku. Tapi aku sendiri masih belum bisa tidur karena dua alasan, pertama karena hingga saat ini aku belum menghubungi keluargaku dan mengabarkan kalau aku belum bisa pulang, aku benar-benar bingung harus menggunakan alasan apa. Yang kedua karena pil pengumpul energi, setelah mendapat penjelasan dari bang Genta terkait dengan pil ini, aku penasaran ingin segera menggunakannya. 

Setelah berdiskusi sebentar dengan Arie, aku memutuskan menghubungi keluargaku dulu dan memberitahukan pada mereka aku menginap mendadak di rumah teman karena keasyikan main hingga larut malam. Meskipun awalnya ibuku tetap menyuruhku pulang, namun akhirnya dia menyerah dan mempersilahkanku menginap setelah aku bersikeras tidak mau pulang sambil menyinggung-nyinggung peristiwa penculikan diriku yang terjadi pada larut malam. 

Setelah itu, aku segera membersihkan diri dan naik ke tempat tidur. Bukan untuk tidur tapi untuk bermeditasi menenangkan fisik dan mentalku. Menurut Arie, pil pengumpul energi akan memberikan efek yang lebih baik jika di telan pada saat kondisi mental dan fisik optimal. Mungkin karena mengetahui aku sedang mempersiapkan diri menelan pil pengumpul energi, Arie dan kawan satu kamarku yang lain sama sekali tidak menggangguku, bahkan aku tidak mendengar sedikitpun suara di dalam kamar ini. 

Aku segera memejamkan mataku dan menarik nafas panjang, lalu fokus mengosongkan pikiranku. Entah berapa lama aku bermeditasi, tapi saat aku membuka kembali mataku, kulihat semua kawan sekamarku sudah terlelap. Aku segera melirik pil pengumpul energi yang sejak sebelum meditasi tadi kuletakkan di depanku. Tanpa ragu-ragu, aku segera memasukkan pil tersebut ke dalam mulutku. Rasa pedas langsung menjalar begitu pil pengumpul energi masuk menyentuh lidahku. Hampir saja aku memuntahkan kembali pil itu karena saking pedasnya jika saja Arie tidak mengingatkanku saat berdiskusi tadi. 

Sambil menahan pedas dimulutku, aku segera menenggak segelas air yang sudah kusiapkan dan menelan pil tersebut. 

Boom!

Ledakan energi langsung memenuhi perutku dan menjalar ke seluruh tubuh. Aku segera mensirkulasikan tenaga dalam di tubuhku guna menyerap aliran energi yang keluar dari pil tersebut. Bersamaan dengan itu, aku merasakan jalur pembuluh energi keempatku mulai terbuka. Begitu menyadari hal tersebut, aku langsung mengarahkan semua luapan energi tersebut untuk mendobrak jalur pembuluh energi keempat. 

Ternyata mengarahkan aliran energi besar dari pil tersebut bukan hal yang mudah, butir-butir keringat sampai bercucuran dari keningku. Namun semua usahaku itu sama sekali tidak sia-sia, setelah dua jam tanpa henti menyerap dan mengarahkan energi, akhirnya jalur keempat pembuluh energiku terbuka penuh.  

Akhirnya setelah berhasil menyerap seluruh energi yang berasal dari pil pengumpul energi, aku membuka kembali kedua mataku. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku dan melihat Arie serta yang lain masih terlelap. Kemudian kualihkan pandangan pada kedua tanganku, meskipun tanpa memperagakan jurus apapun, aku tahu kekuatan dan kelincahanku meningkat tajam dibandingkan saat masih berada pada tahap penyerapan energi tingkat ketiga. Ternyata efek pil pengumpul energi sangat luar biasa, hanya satu kali telan saja aku langsung berhasil mencapai tahap penyerapan energi tingkat keempat.