Episode 30 - Saat Kamu Kondangan, Jangan Lupa Kasih Amplop


 Masih pada hari dan di kampus yang sama. Saat istirahat di kantin, Coklat tak sengaja melihat Een duduk sendirian. Melihat hal itu membuat Coklat ingin minta maaf atas kejadian kemarin karena sudah membohongi Een. Coklat belum sempat minta maaf di dalam kelas, karena dia lupa. Di hadapan Een, ya Een yang di hadapan Coklat dan Coklat di depan Een, mereka berdua sama-sama berhadapan. Di hadapan Een, Coklat pun mulai curhat tentang hatinya yang sejak pertama kali bertemu dengan Een sudah berbunga-bunga.

 “En, abang minta maaf kemarin sudah berbohong perihal nomor hape.”

 “Enggak apa-apa kok, Bang.”

 “En, coba lihat mata abang.”

 “Kenapa, Bang Coklat?”

 “Ada beleknya enggak? Soalnya abang malu kalau ngomong sama cewek terus masih ada belek di mata.”

 Gubrak! Semua orang yang duduk di kantin pada jatuh.

 “Ih si abang malu-maluin aja.”

 “Tenang, abang pakai baju sama celana, jadi abang enggak malu.”

 Ah si Coklat ayam ini masih sempat-sempatnya bercanda di depan cewek.

 “Jujur lho, En, aku sejak pertama kali melihat kamu, kegalauanku perlahan-lahan sirna, kamu bisa membuatku ceria kembali, ibaratnya seperti hujan reda yang dilukiskan oleh sebuah pelangi, ya kamulah pelanginya.”

 “Oh so sweet,” ucap Een berkaca-kaca.

 “Pelangi itu bisa membuatku berwarna kembali, rasanya itu hujan deras atau pun badai kencang tak berarti bagiku, dan sinar mentari mulai terbit dari tempat peristirahatannya, dia membawa harapan bagi dunia ini, sinarnya mampu membuat daun-daun yang layu bermekar kembali.”

 “Kamu ngomong apaan sih?”

 “Hah?”

 “Abang Coklat, tadi tahu arti puisi yang barusan?” tanya Een.

 “Enggak, abang cuma merangkai kata-kata aja. Hahaha.”

 Sepertinya Coklat sedang senang mengobrol berdua dengan Een. Perlahan-lahan Coklat mulai kepo, dia ingin tahu tentang Een. Mulai dari hal yang enggak penting sampai hal yang penting banget.

 “Oh iya, En, kamu lulus sekolah kapan?”

 “Tahun kemarin. Aku kebetulan dari ponpes.”

 “Wah kalau begitu jarang banget ya kamu ketemu sama orang tua kamu.”

 “Iya …,” ucap Een, kemudian wajahnya tertunduk.

 “Oh iya, kamu itu asli mana sih?”

 “Aku dari Porwekerto.”

 Perlahan-lahan Een mulai menceritakan tentang siapa sebenarnya dirinya itu. Ternyata dia itu bukan Power Rangers merah jambu atau Power Ranger kuning, dia juga bukan Catwomen, atau pun Wonderwomen apalagi Spiderwomern. Dia itu adalah manusia biasa yang merantau ke kota untuk mencari pekerjaan.

 “Oh jauh juga ya.”

 Iya lah jauh, kata siapa dekat. 

 “Aku kesini tuh niatnya mau cari kerja.”

 “Terus dapat enggak?”

 “Alhamdulillah dapat, makanya aku kerja sambil kuliah juga di sini. Aku disini tinggal sama pamanku, dia juga yang masukin aku kerja di pabriknya.”

 “Oh begitu ya?”

 “Iya, kenapa? Kamu kerja enggak?”

 Sebenarnya Coklat malu untuk menjawabnya, karena dia belum pernah merasakan yang namanya kerja itu seperti apa. Karena dirasa malu, Coklat pun mengalihkan pembicaraannya.

 “Neng Een, hmmm malam minggu depan ada acara enggak?”

 “Kenapa emangnya?”

 “Abang mau ajak kamu jalan, kamu mau kan?”

 “Hmmm ya sudah, aku mau kok jalan sama abang,” senyum neng Een.

 Yes, akhirnya setelah sekian lama akhirnya gue bisa ngerasain apa itu malam Minggu, ujar dalam hati Coklat.

 ***

 Setelah sekian lama menanti akhirnya dia bisa malam mingguan sama cewek. Saking senangnya bisa malam mingguan sama cewek, Coklat mengadakan sukuran di rumahnya ketika malam minggu tiba. Karena ada sukuran di rumahnya, Coklat enggak bisa pergi apel ke rumah cewek, yaah kasihan amat.

 “Ya ampun, gagal lagi deh gue malam mingguan sama cewek, ngenes deh,” kata Coklat, lalu tepuk jidad.

 ***

 Malem Minggu ini pas dengan pesta pernikahannya Bu Riny dengan pengantin suaminya. Di kediaman Bu Riny sudah ramai oleh sama tamu-tamu yang datang. Kok banyak tamu? Ya kan pada kondangan, tahu kan kondangan? Kondangan itu dimana kamu datang bareng gebetan atau teman-teman kamu terus salaman sama pengantin, duduk di kursi yang sudah disediakan, makan minum di situ, enggak berapa lama kamu memberi amplop yang sudah ditulis nama kamu ke pangantin, kamu pergi pamit dan keesokan harinya si pengantin buka amplop yang bertuliskan nama kamu, pas dibuka amplopnya kosong.

 “Njir, si anu kondangan cuma kasih amplop kosong doang, nyesel gue sudah undang dia.”

 Yang kondangan pun berdalih.

 “Kata teman gue kalau kondangan itu yang penting kasih amplopnya, teman gue enggak bilang kalau amplopnya diisi sama duit.”

 ***

 Di malam Minggu ini, Coklat mengajak Een kondangan ke rumah Bu Riny. Coklat mengajak Een ini sehabis sukuran di rumahnya tadi. Enggak cuma Coklat sama Een, di acara pernikahan ini juga terdapat seluruh mantan anak IPA tujuh, ya disitu ada Ival, Fauzi, Sweety, Tiar dan anak-anak yang lainnya juga. Seluruh anak IPA tujuh kumpul dalam satu meja, jadi sekalian reunian. Melihat Coklat yang dampingan sama cewek, anak-anak IPA tujuh pada terheran-heran.

 Karena rasa heran itu satu persatu anak-anak IPA tujuh pada bertanya ke Coklat. Kenapa? Apa? Bagaimana? Siapa? Kapan? Dimana? Itulah enam buah kata tanya. Dimulai dari Tiar, Tiar adalah sosok pertama yang akan mengintrogasi si Coklat. Di berjalan mendekati Coklat dan setelah itu duduk di dekat Coklat.

 “Wah laku juga, Klat, bisa gandengan sama cewek?” tanya Tiar terus duduk.

 “Iyalah, gue kan ganteng enggak kayak lo.”

 “Sial,” ucap Tiar, lalu tertunduk dan pergi begitu saja. Hah sudah gitu doang? Ya ampun kurang kerjaan banget dah.

 Tiar begitu frustasi karena enggak seganteng Coklat, dia masih tertunduk meski sudah kembali ke tempat duduk awalnya.

 “Apa iya gue engga seganteng Coklat yang sekarang sudah punya gebetan dan sementara gue belum? Oh my god! Kalau itu benar terjadi, gue akan jadi jomblo selamanya… selamanya… selamaaanyaaaaa….”

 Jomblo… jomblo… jomblo… jomblo… jomblo… jomblo… hidup jomblo!

 Setelah Tiar, kini giliran Fauzi si eks ketua kelas IPA tujuh yang nanya ke Coklat. Dengan berwibawanya dia mulai bertanya.

 “Ehm… ehm… ini cewek lo?”

 “Yoi.”

 “Hah?” Fauzi terkejut bukan main, “ya sudah gitu doang.”

 Eh busyet, tanyanya cuma gitu doang dih.

 Pas Fauzi sampai di tempat duduknya semula, wajahnya juga tertunduk sama kayak si Tiar. Dia cuma memendam perasaannya yang ingin merasakan punya cewek.

 “Walaupun gue dikagumin sama cewek-cewek di sekolah bahkan sampai sekarang juga, tapi gue enggak pernah merasakan yang namanya pacaran, kenapa enggak pernah pacaran? Karena gue belum pernah punya pacar. Gue takut kalau punya pacar terus ribut dan ujung-ujungnya putus, abis itu musuhan terus enggak mau saling kenal.”

 Ya namanya juga pacaran, wajar lah kalau ada yang namanya putus. Yang enggak wajar itu kalau orang jomblo terus putus, lha bagaimana bisa kayak begitu pacaran juga enggak. Ya namanya juga enggak wajar.

 Sekarang Sweety yang penasaran, dia mau bertanya ke si Coklat yang bisa-bisanya menggandeng cewek.

 “Hah! Aku nanyain Coklat kenapa dapat cewek? Eh enggak binggo, enggak penting banget buat aku, terserah dia, dia mau gandeng cewek gandeng cowok itu bukan urusan aku!” ujar Sweety menolak.

 Kembali ke suasana kondangan, biasanya kalau kondangan itu kan makan pasti dapat piring, ya iya lah kalau enggak ada piringnya bagaimana mau makan, masa nasinya ditumpahkan ke tangan. Tapi ini tidak berlaku buat anak eks IPA tujuh, seluruh anak eks IPA tujuh pada enggak boleh makan, kenapa engga boleh makan, nah kalau mereka semua makan jadi kayak gini. Waktu itu Coklat sama Ival sedang menyendok nasi.

 “Mba, kalau makan di sini dapat piring ya?” tanya Ival.

 “Iya,” senyum si mbak-mbak yang berdiri di belakang hidangan.

 “Hah, jadi kalau makan dapat piring.”

 “Iyaaa.”

 Coklat langsung menengok ke arah teman-temannya dan berteriak.

 “Woy teman-teman, kalau makan di sini kita dapat piring, jadi piringnya boleh dibawa pulang, cepat!”

 Kedebug-kedebug, anak-anak IPA tujuh berdesak-desakkan mengambil makanan di sini habis itu mengambil piring, dan piringnya dibawa pulang alhasil yang punya hajat cuma bisa geleng-geleng kepala.

 ***

 Seluruh anak eks IPA tujuh pun berniat pulang, ya sebelum pulang mereka berfoto-foto ria bersama Bu Riny di depan pelaminan. Wajah anak-anak begitu juga Bu Riny tampak ceria ketika kamera dihadapkan pada mereka. 

 “Oke semua, hitungan ketiga saya akan foto kalian ya.”

 “Iyaaa.”

 Wajah-wajah yang sok imut dan lucu tampak menghiasi layar kamera.

 “Oke, satu… dua… tiga… chiiiiis.”

 Bertepatan dengan hitungan ketiga dengan jahatnya Coklat, Ival dan Tiar yang berdiri di belakang Ucup langsung saja mendorongnya, alhasil Ucup pun kelihatan terjatuh saat difoto.

 Seusai sesi foto, anak-anak pun bersalam-salaman dengan Bu Riny. Kini wajah mereka tampak terharu bahagia sambil mendoakan Bu Riny supaya langgeng. Di barisan terdepan dimulai dengan Fauzi.

 “Ibu, semoga langgeng ya pernikahannya,” ucap Fauzi sambil memberi amplop.

 “Iya, Fauzi, amiin, terima kasih ya.”

 Di belakang Fauzi ada Ival, Ival lalu menancap gasnya dan berhasil menyalip Fauzi daaaan apa yang terjadi, ternyata Ival masuk finish terlebih dahulu. Eh dikira lagi balap motor apa? Dengan muka cengengesannya, Ival salaman sama Bu Riny.

 “Bu, semoga langgeng ya, semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah,” ucap Ival Sambil memberi amplop ke Bu Riny.

 “Amiiin. Makasih ya, Ival, sudah datang.”

 Selanjutnya ada Sweety yang sekarang mau salaman sama Bu Riny.

 “Ibu, semoga berkah ya keluarganya menjadikan ibu sebagai istri yang solehah,” ucap Sweety sambil memberi amplop juga.

 “Amiiin.”

 Nah sekarang si Coklat yang berdampingan sama Een, ciyeeee bawa gandengan dia.

 “Ibu, doakan Coklat ya supaya cepat-cepat menyusul ibu ke pelaminan, calon sudah ada nih,” kata Coklat yang minta didoakan sudah begitu belum memberi amplop ke Bu Riny.

 “Iya, Coklat.”

 “Semoga langgeng ya, Bu” ujar Een. 

 “Iya sama-sama, semoga saja kamu betah sama dia.”

Coklat pun lewat begitu saja, saat bersamaan alat pendeteksi keamplopan Bu Riny bergetar. Itu menandakan kalau Coklat belum memberi amplop ke Bu Riny. Hadeh-hadeh masalah amplop saja enggak pernah lupa.

 “Coklat…,” ucap manis Bu Riny.

 “Iya, Bu.…” Coklat menoleh ke Bu Riny.

 “Amplopnya mana?”

 “Oh iya lupa,” kata Coklat, sementara dalam hatinya, gue kira Bu Riny bakalan lupa sama amplop eh ternyata dia ingat juga toh huh.