Episode 213 - Trah



Matahari sebentar lagi bersembunyi di ufuk barat. Sinarnya temaram, dan tak lama lagi akan meredup. Di atas langit beberapa ekor burung terbang melayang hendak kembali ke peraduan. Tatapan mata mereka memantau sekilas pemandangan di bawah, dan naluri binatang mengisyaratkan agar mereka tiada mendekati. 

Di bawah, pada sebuah bentangan terbuka, sebuah pertarungan nan sengit seolah baru saja rampung. Bila dikatakan sengit, sepertinya lebih cocok untuk mengacu kepada pihak yang kalah, karena pihak yang menang terlihat santai-santai sahaja. 

Seorang remaja lelaki mendarat, lalu jatuh terjerembab duduk. Ia hendak segera bangkit, akan tetapi tubuhnya enggan mematuhi. Lemah tiada berdaya, napas menderu, sekujur tubuh perih terasa. Sekali lagi ia berupaya bangkit berdiri, namun sia-sia belaka. Segenap tenaga yang tersisa hanya dapat dimanfaatkan untuk menopang tubuh dan mengambil posisi duduk.

Di dahan sebuah pohon nan besar, tak jauh dari remaja lelaki tersebut, sebentuk bokong menyembul di antara jalinan dedaunan. Rupanya seorang gadis belia sedang dalam posisi tersangkut di sela dedahan. Rambutnya tergerai panjang berwarna putih, yang bertolak belakang dengan pakaian kulit ketat mengkilap dan serba hitam. 

Beberapa langkah dari pohon besar, di atas sebongkah batu, seorang lagi gadis belia meringkuk. Wajahnya tiada terlihat, namun bibirnya merah merona. Tangan kanannya seolah berupaya menggapai sebentuk alat musik berdawai yang tergeletak di bawah batu. Sepertinya, sebelum jatuh pingsan, gadis belia tersebut berjuang mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. 

Masih di seputaran remaja lelaki yang kini sedang duduk mengatur napas, sebuah kawah sedalam hampir satu meter menyembunyikan seorang lagi gadis belia. Tubuhnya yang bongsor dengan otot-ototnya keras, terlentang tiada berdaya. Entah kekuatan seperti apa yang mampu membenamkan tubuh gadis tersebut ke dalam tanah. Yang jelas, sebagaimana kedua gadis lain, ia pun telah kehilangan kesadaran. 

Apakah gerangan yang menginjak-injak kelompok ini…? Siapa…? Kum Kecho, Melati Dara, Dahlia Tembang, dan Seruni Bahadur sungguh tiada berkutik. Padahal, secara bersama-sama keempat ahli yang berada pada Kasta Perak ini, dapat membungkam ahli Kasta Emas tingkat rendah dengan cukup mudah. 

“Siapakah gerangan Puan Ahli…?” rintih Kum kecho, mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk sekedar bersuara. 

Wajah remaja lelaki itu terlihat kusut. Bukan, bukan karena meraka kalah dengan demikian mudahnya. Akan tetapi, karena mereka dikalahkan oleh seorang gadis kecil yang sedang memanggul permadani! 

“Apakah tujuan Puan Ahli menyerang kami…?”

“Kurang seru! Kalian tak bisa diajak bermain-main!” tanggap gadis mungil itu. Raut wajahnya terlihat sebal. Segera ia membentangkan permadani yang tadinya dipanggul, lalu melesat tinggi ke udara. 

Kedua mata Kum Kecho melotot, ketika menyaksikan motif matahari bersudut delapan yang menghias permukaan permadani terbang. Ia mengenal betul motif tersebut sebagai lambang kerajaan di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Banyak kenangan pahit dan manis segera merasuk ke dalam benarknya. 

“Mentari Wilwatikta…” gumam Kum Kecho di kala gadis itu melesat tinggi ke udara. 

Hari pun beranjak malam. 


Kum Kecho tersentak bangun. Ia yang telah bersumpah untuk tak mengenyam tidur sampai berhasil menuntut balas, akhirnya menyerah. Tubuhnya terlalu lemah, tenaga dalam nyaris terkuras habis. Segera ia menyapu pandang, mengamati ketiga gadis belia yang masih tergeletak mengelilingi dirinya. Syukurlah mereka masih bernapas.

Matahari pagi menerpa sosok seorang gadis kecil berusia tujuh atau delapan tahun dari sisi samping. Sejenak, berkas matahari yang mengintip dari balik siluet tubuh mungil, sungguh menyilaukan. Perawakannya terlihat seperti anak-anak biasa, sama sekali tiada memberi kesan mengancam. Ia pun masih memanggul gulungan permadani terbang. 

“Huuaaa…“ Gadis cilik itu menguap lebar. Lebar sekali ia menganga.

Kum Kecho menatap tajam. Jika tatapan mata dapat mengiris-iris, maka gadis tersebut pastilah sudah bermandikan darah. Setajam itu adalah tatapan mata seorang ahli yang kalah menyedihkan di dalam pertarungan.

“Siapakah gerangan kalian…?” Gadis kecil itu berujar ringan, lalu tersenyum manis menampilkan sepasang gigi kelinci. 

Imut sekali. Akan tetapi, tiada yang imut bagi remaja remaja lelaki yang baru saja bangkit duduk. Apalagi, baru petang semalam gadis kecil yang sama menghajar dirinya bersama ketiga budak tanpa alasan! Bahkan, ketiga gadis belia masih belum sadarkan diri. 

“Dari manakah puan ahli mendapatkan permadani terbang itu!?” 

“Permadani ini…?” Gadis kecil itu mengerutkan kening. Terlihat bahwa ia sedang berupaya setengah mati mengingat-ingat. Akan tetapi, upayanya seperti tiada membuahkan hasil.

“Permainan apakah ini!?” hardik Kum Kecho merasa dikerjai. 

“Permainan…?” Gadis kecil berubah bersemangat. “Ayo, kita bermain!” 

“Jangan berpura-pura! Mengapa semalam engkau menyerang kami!?” Kum Kecho sudah tiada peduli lagi. Walau masih lemah, harga dirinya menolak direndahkan oleh siapa pun itu!

“Menyerang…?” Gadis kecil mungil itu terlihat kebingungan. “Dikau terlalu lemah untuk bermain serang-serangan….” 


Siang hari ketiga, awan tebal-tebal mengiringi langkah Melati Dara, Dahlia Tembang, dan Seruni Bahadur yang telah siuman. Meski, tubuh ketiganya masih teramat lemah. Bersama sang Tuan Guru, mereka memaksakan diri melangkah gontai membelah hamparan padang rumput nan luas. 

Jauh tinggi di udara, sebuah permadani melayang perlahan dan mengikuti keempat ahli tersebut. Di sisi atasnya, seorang gadis cilik terlihat sangat penasaran. 

“Tuan Guru… siapakah gerangan ahli nan digdaya itu…?” Dahlia Tembang tak hendak menduga-duga. 

“Ia mengalahkan kita, namun tiada menghabisi… sengaja hendak menginjak-injak harga diri…” Seruni Bahadur terlihat geram. 

“Mungkinkah ia adalah penggemar gelap Tuan Guru!?” Melati Dara melontar pandangan penuh kebencian jauh tinggi ke atas. Tak rela ia mendapat saingan. “Kurang ajar!” 

Kum Kecho tiada menimpali, ia pun meneruskan langkah dalam diam. Di hari pertama mereka bertemu, gadis cilik tersebut menyerang tanpa basa-basi. Di hari kedua, ia seolah lupa akan apa yang telah terjadi pada sehari sebelumnya. Bahkan, perangainya seolah baru pertama kali bertemu saja. 

Apakah perilaku seperti ini disengaja? Ataukah memang sesuatu terjadi pada ingatannya?

“Srek!” 

Gadis kecil mungil tetiba mendarat di depan rombongan Kum Kecho yang masih melangkah tertatih. Keempatnya bersiaga. Bila pertarungan kembali tersulut, maka mereka yakin dan percaya hanya akan ditindas dengan semena-semena. Bahkan, Kum Kecho pun tak dapat menemukan cara untuk menggungguli gadis cilik tersebut. Jurang pemisah di antara kemampuan mereka terlalu lebar dan dalam!

“Mengapa kau mengikuti kami!?” hardik Melati Dara. 

“Tak tahu…,” tanggap gadis mungil itu dengan polosnya. 

“Diriku tiada gentar!” sergah Seruni Bahadur. Ia pun memasang kuda-kuda. 

“Hm…?” Si gadis mungil terlihat penasaran.  

“Puan Ahli, apakah sebelum ini pernah ada permusuhan di antara kita?” Dahlia Tembang selalu dapat berpikir lebih jernih. 

“Sepertinya tidak…” 

“Lalu, mengapakah engkau menyerang, dan kini mengikuti kami…?” gerutu Kum Kecho.

“Entahlah…” 

“Keparat!” maki Kum Kecho. Ia yang biasanya tenang, sudah mulai kehilangan kesabaran. 

“Eh… mengapakah kata-katamu demikian kasar…?” Si gadis cilik terlihat sangat terkejut.  

“Bangsat!” Kum Kecho merasa dipermainkan. Menyerang tanpa alasan, adalah jauh lebih tidak sopan. Wajah remaja lelaki yang pada dasarnya pucat pasi itu, kini sudah berubah memerah padam. 

“Keberitahu, ya…” Gadis kecil itu maju selangkah, bertolak pinggang, lalu berlagak menggurui. 

Kum Kecho dan gadis-gadis di sebelahnya menatap penuh benci. 

“Wahai Elang Wuruk, sebagai keturunan Wangsa Syailendra dari trah Sanjaya, dan merupakan satu-satunya yang tersisa, sungguh tutur katamu kurang sopan!” (1)


====


Sebuah struktur kayu berdiri tegak menjulang. Meski warnanya berkesan sudah lama dimakan usia, tiang-tiangnya masih besar dan kekar. Di sela sepasang tiang nan terpisah jarak, anak-anak tangga dari batu alam tersusun mendaki ke atas. Puncaknya tiada kelihatan, karena tertutup kabut nan pekat.

Seorang gadis belia melangkah gontai. Dari cara berjalannya itu, seolah ia tiada memiliki semangat sama sekali. Sorot kedua mata nan sayu dan kosong, ibarat tak ada masa depan yang layak dinanti. Akan tetapi, barang siapa yang menyaksikan kehadirannya, bahkan segenap ahli baca, niscaya pastilah akan berubah sangat bersemangat. 

Gadis belia itu berbelok di saat anak-anak tangga bercabang memisahkan diri. Ia meneruskan langkah, masih terus mendaki. Pada akhirnya, ia tiba di tepian sebuah telaga. Tanpa peduli akan keadaan sekeliling, si gadis membuka jubah berwarna ungu gelap, lalu melepas lilitan kemben tipis yang bernuansa ungu terang. Sepasang payudara bulat sontak menyembul sempurna, sedikit berguncang, tatkala ia melangkahkan kaki menuruni beberapa anak tangga ke dalam telaga. Pinggul lebar nan menggairahkan, meriakkan air sejuk ke semerata penjuru. 

“Apakah yang dikau lakukan di Padepokan...?” sapa seorang perempuan dewasa dari balik kabut nan bergumpal tebal. Sedari awal, ia memang sudah duduk bersemedi di tepi telaga nan dingin itu. Perempuan tersebut mempertahankan pesona muda, meski dari pembawaannya terbias kesan yang sudah lanjut usia. 

“Eh…? Maha Guru Kesatu…?” Embun Kahyangan yang baru saja berendam, membelalakkan mata, seolah melihat hantu. “Bukankah dikau… telah menutup usia…?”

“Muridku... usia diri ini tak akan bertahan lama lagi... Akan tetapi, bukan berarti diriku sudah layak mati.” (2)

“Oh…” Embun Kahyangan baru menyadari. Di saat yang sama, ia berenang meliuk perlahan ke tepian, mendekati perempuan dewasa itu.

“Katakan, bagaimana mungkin dikau dapat merangsek ke Kasta Perak Tingkat 5 dalam waktu yang demikian singkat…?" Maha Guru Kesatu, sekaligus Pendiri Padepokan Kabut, berujar penasaran.

“Diriku bersua dengan Mama Tirta…”

“Hah!” Sang Maha Guru Kesatu spontan bangkit dari semedinya. Bukan main terkejutnya perempuan itu. “Di mana!?” 

“Di dalam suatu tempat yang dikenal sebagai Lintasan Saujana Jiwa.”

“Oh… Alam bawah sadar…” Sang Maha Guru segera kembali duduk bersila. Sia-sia saja usianya terbuang akibat keterkejutan tadi. Tentu ia mengetahui bahwa bukan tak mungkin kakak seperguruannya itu meninggalkan sedikit kesadaran di dalam Lintasan Saujana Jiwa. Berkas kesadaran memang diketahui dapat ditinggalkan di tempat tersebut. 

Embun Kahyangan membasuh diri perlahan. Betapa beruntungnya air di dalam telaga itu, di kala memperoleh kesempatan bermain-main pada permukaan kulit lembut dan lekuk tubuh nan aduhai.  

“Pesan apa yang beliau tinggalkan untuk dirimu…?”

“Bahwa diri ini harus menemukan ‘makna’ dari hidup…” 

“Makna?” Sang Maha Guru menduga-duga dalam benak. 

Adalah dirinya yang paling mengetahui bahwa kepribadian Embun Kahyangan sangatlah sederhana. Gadis belia tersebut menjalani hari demi hari tanpa memedulikan orang sekitar atau sedikit pun memusingkan masa depan. Benar-benar seolah tiada motivasi hidup. Kepribadian ini merupakan sesuatu yang sang Maha Guru sempat hendak mengubah, namun akhirnya menyerah.

Meskipun demikian, perlu diakui bahwa kepribadian yang acuh tak acuh itu sangatlah cocok sebagai pembunuh bayangan. Banyak orang yang akan menganggap sebagai kepribadian yang dingin, bahkan berdarah dingin dalam menjagal. Akan tetapi, bagi Embun Kayangan, ungkapan tersebut kuranglah tepat. Ia bukanlah berdarah dingin, melainkan tiada peduli. Atau mungkin, belum menemukan sesuatu, atau seseorang, yang layak memperoleh perhatian. 

Setidaknya, demikian adalah pemikiran yang Maha Guru Kesatu yang membesarkan gadis tersebut sedari orok.

“Terlepas dari itu… bukankah diriku telah menugaskan dikau untuk mencari bantuan dari Balaputera Ragrawira, menemukan Kitab Kahyangan, lalu mempelajari jurus Nawa Kabut Kahyangan…?”

“Demi menemukan jejak Paman Balaputera, diriku telah mengunjungi Puan Mayang Tenggara di Tanah Pasundan. Beliau menugaskan untuk mengambil Lencana Kujang dari Bintang Tenggara… Baru setelah itu, beliau berjanji akan memberitahu lokasi keberadaan Paman Balaputera.”

“Lalu, apakah yang hendak dikau capai dengan kembali ke Padepokan...?” Sang Maha Guru Kesatu di Padepokan Kabut mengulang pertanyaan yang ia ajukan di awal tadi. 

“Bintang Tenggara sedang tak berada di Pulau Dewa. Menurut keterangan yang diriku peroleh dari Perguruan Gunung Agung, ia saat ini sedang berkunjung di Kemaharajaan Cahaya Gemilang dalam upaya menjalankan suatu tugas.” 

“Hm…? Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?”

“Benar. Diriku singgah sejenak di Padepokan karena kebetulan melintas, sekaligus hendak mengunjungi pusara mendiang Maha Guru Kesatu.” Embun Kahyangan masih berendam melepas lelah.

“Diriku belum mati…,” ulang sang Maha Guru lirih. Dalam benak ia membatin, kalau pun dirinya sudah menutup usia, mengapa si Embun Kahyangan ini malah berendam terlebih dahulu…? Bukankah selayaknya dia mengunjungi pusara begitu tiba di Padepokan Kabut…? Sang Maha Guru menghela napas panjang. 

“Diriku akan bertolak menuju Kemaharajaan Cahaya Gemilang esok hari…” 

“Sungguh sebuah kebetulan…,” sahut sang Maha Guru. “Beberapa hari lalu, Padepokan Kabut baru saja menerima permintaan dari salah satu Kadatuan di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Imbalan yang ditawarkan pun demikian bergelimang.” 

Embun Kahyangan mengangguk. Walau, raut wajahnya masih saja datar. 

“Telah muncul seorang ahli pembuat onar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sebelum tokoh itu berbuat terlalu jauh dan membahayakan kerukunan di dalam kemaharajaan tersebut, maka salah seorang Datu Besar merasa perlu mengambil tindakan pencegahan.”

“Penugasan apakah itu, wahai Maha Guru Kesatu…?”

“Karena alasan tertentu, sang Datu Besar tiada dapat mengambil tindakan langsung. Oleh karena itulah, ia meminta akan campur tangan kita.” 

Embun Kahyangan memahami betul apa yang dimaksud dengan ‘campur tangan’, serta apa yang selanjutnya akan disampaikan oleh sang Pendiri Padepokan Kabut itu.

“Sebagai pembunuh bayangan, Embun Kahyangan muridku, dikau kutugaskan untuk membungkam seorang ahli bejat di Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

Embun Kahyangan menanti… sambil bermain-main di air telaga nan sejuk.

“Bergegaslah berangkat. Buruanmu dalam penugasan kali ini bernama… Balaputera Gara!” 



Catatan:

(1) Trah: Sekelompok individu yang saling memiliki hubungan kekerabatan (silsilah) antara satu-sama lain. 

(2) Episode 160. 



Cuap-cuap:

Rupanya tiada yang berhasil menjawab kuis sebelumnya dengan lengkap. Walhasil, pada Minggu pagi esok, akan ada lima ahli baca beruntung yang akan menerima setengah Episode 214 di inbox FB. Anggap saja bonus khusus... 

Haha…