Episode 212 - Murid Paling Populer


“Dub! Dub! Dub!”

Di dalam sebuah ruang dimensi, sembilan manik-manik hitam seukuran buah semangka menghantam bertubi-tubi sebentuk tempurung kura-kura. Tempurung kura-kura tersebut tidak hanya kokoh, namun sedikit lentur. Oleh karena itu, hantaman demi hantaman nan datang bertubi dari manik-manik raksasa, hanya terdengar sembab seolah diredam oleh busa basah. Uniknya lagi, tempurung kura-kura tersebut seungguhnya merupakan formasi segel yang memiliki wujud. 

Lintang Tenggara, yang memiliki demikian banyak nama lain -- Titisan Ganesha, Petaka Perguruan, Bupati Selatan Pulau Lima Dendam di Partai Iblis, serta kemudian Balaputera Lintara -- membelalakkan mata. Bukan, bukan karena lawannya dapat bertahan dengan apik dari hantaman Senjata Pusaka Aksamala Ganesha. Melainkan, ia terpana karena menyadari akan adanya kesamaan susunan formasi segel berwujud kura-kura tersebut dengan… 

“Segel Benteng Bening…?” Lintang Tenggara bergumam. Walau hanya mengamati sebentar, ia mengingat betul formasi segel yang mengelilingi Pulau Dua Pongah di dalam wilayah Kepulauan Jembalang. 

Lawannya, Balaputera Khandra, mengibaskan tangan. Satu lagi formasi Segel Syailendra, yang berwujud burung elang, mengudara. Burung pemangsa itu lalu menukik deras! 

Lintang Tenggara mengirim perintah kepada Aksamala Ganesha untuk menghentikan gerakan elang. Sembilan manik-manik hitam melesat dengan tujuan menghantamkan diri. Akan tetapi, sang elang demikian lincahnya dalam berkelit. Setiap satu manik-manik dihindari dengan piawai. 

“Crash!” 

Pakaian di bagian bahu Lintang Tenggara dikoyak cakar nan tajam! Untungnya, lelaki dewasa muda itu mampu merunduk di saat yang tepat. Meski merupakan formasi segel, elang tersebut lebih mematikan dari elang biasa. 

“Balaputera Khandra! Ini pakaian baru!”

“Ups…”

“Keparat! Kemampuan formasi segel setinggi ini kau peroleh dari ayahandaku! Kau adalah anak didik Balaputera Ragrawira!”

“Kakak Sepupu Balaputera Lintara, dikau terlalu berlebihan. Ayahanda Bungsu Ragrawira hanyalah menurunkan secuil dari keterampilan yang beliau miliki…”

“Bangsat! Balaputera Khandra!” Lintang Tenggara demikian berang. “Ajari aku sekarang juga!” 

Setetes keringat mengalir dari pelipis Balaputera Khandra. Bagaimana mungkin pertarungan tetiba berubah menjadi kegiatan belajar-mengajar? Ada-ada saja perangai kakak sepupunya itu.

Daya Tarik Bumi, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan! 

Seketika itu juga Guru Muda Khandra merasakan sekujur tubuhnya digenggam oleh jemari setengah ilusi. Ia pun ditarik paksa ke bawah! Sontak lelaki dewasa muda itu bertekuk lutut. Kemampuan unsur kesaktian daya tarik bumi milik Lintang Tenggara dengan mudahnya menembus pertahanan tempurung kura-kura. Sepertinya, Segel Syailendra berwujud tempurung kura-kura itu hanya efektif meredam serangan fisik, bukan unsur kesaktian. 

Meskipun demikian, wajah Balaputera Khandra masih tenang adanya. Dengan sedikit gerakan jemari, formasi segel berwujud seekor marmut imut, melompat cepat ke atas pundak. Segel Syailendra yang berwujud binatang pengerat tersebut lalu menggerogoti wujud unsur kesaktian daya tarik bumi yang dirapal lawan. 

Balaputera Khandra melepaskan diri dari belenggu daya tarik bumi dengan cara yang tiada lazim. Ia pun kembali berdiri tegak. Sedikit menantang, ia punya lagak.

Wajah Lintang Tenggara kusut. Baru kali ini ia berhadapan dengan lawan yang seolah dipersiapkan untuk meredam segala kemampuan yang ia miliki. Meski demikian, benaknya tetap dapat berpikir jernih. Bilamana Balaputera Khandra adalah benar merupakan anak didik dari ayahanda, bukankah ada kemungkinan dia mengetahui sedikit banyak tentang Segel Mustika?

Belum diketahui atas alasan apa Lintang Tenggara hendak membawa Balaputera Khandra kembali ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Akan tetapi, kini justru sebuah alasan baru mengemuka untuk menyekap tokoh tersebut. Di kala hampir menyerah memikirkan Segel Mustika, bahkan hampir terjatuh ke jurang keputusasaan, sebuah peluang yang tiada terduga membuka diri. 

Lintang Tenggara tiada dapat menahan senyuman yang menyungging di sudut bibir. Selama ini, sang ayahanda seolah selalu berada selangkah di depan. Segala daya upaya yang dikerahkan, dengan gampangnya dimentahkan. Ternyata, oh ternyata… kini diketahui bahwa ia memiliki kaki tangan. Meskipun demikian, Lintang Tenggara menyadari masih terdapat sekian banyak misteri yang menyelubungi lelaki yang gemar berpetualang itu. 

Di lain sisi, menyaksikan gelagat lawan, Balaputera Khandra mundur selangkah. Sesungguhnya ia menyadari betapa tokoh di hadapannya itu belum bertarung serius. Terlepas dari caci-maki yang dilontarkan, belum dirasa hawa membunuh yang menyertai serangan-serangan tadi. Jalan pemikiran Lintang Tenggara sulit ditebak. Selain itu, dirinya menyadari pula bahwa si kakak sepupu itu pun dapat merapal… Segel Syailendra!

Lintang Tenggara mengambil selangkah maju. 

Dugaan Balaputera Khandra sang Guru Muda adalah benar adanya, sejauh ini lawannya itu hanya melancarkan serangan-serangan ringan guna menakar kemampuan. Sepantasnya, kini dia telah menemukan beberapa titik kelemahan, pun sudah rampung menyusun taktik bertarung yang paling sangkul dan mangkus demi meringkus. 

Kendatipun demikian, belum sempat Lintang Tenggara bertindak, ia tetiba menyadari beberapa lorong dimensi yang segera akan berpendar. 

“Kau… Kau benar-benar memanggil ahli-ahli dari Perguruan Gunung Agung!” hardik Lintang Tenggara. 

“Sebaiknya Kakak Sepupu segera meninggalkan tempat ini...” Guru Muda Khandra menyibak senyum. 

“Balaputera Khandra! Pengecut! Sungguh aku malu sedarah denganmu.” 

Caci maki Lintang Tenggara hanya ditanggapi dengan senyuman di sudut bibir. Balaputera Khandra malah terlihat sedikit tersipu malu. 

Di saat yang sama, Lintang Tenggara tentu telah menyadari bahwa dirinya menempuh risiko teramat besar dengan masuk ke dalam dimensi ruang berlatih milik Perguruan Gunung Agung. Kejahatan yang dituduhkan terhadap dirinya sungguh tiada termaafkan. Meskipun demikian, ia rela menempuh bahaya karena menyadari adalah Balaputera Khandra yang sedang bersiasat. Apakah tujuan saudara sepupu yang sempat menghilang itu…? Atas kehendak siapa…? 

Kini, Lintang Tenggara sudah mulai dapat mengurai beberapa misteri. Ayahanda Balaputera Ragrawira kemungkinan berada di balik semua tindakan Balaputera Khandra. Akan tetapi, atas alasan apa…? Bukankah ayahanda dan ibunda sepakat untuk tiada melibatkan anak-anak mereka di Kemaharajaan Cahaya Gemilang? 

Benak Lintang Tenggara berkelebat cepat, dan ia segera dapat menyimpulkan satu hal nan pasti. Apa pun itu, ada sesuatu yang akan terjadi, dan sesuatu itu kemungkinan lebih besar dari gelaran mencari pewaris tahta bagi Kemaharajaan Cahaya gemilang. 

Rasa ingin tahu sang Titisan Ganesha semakin tergelitik. 

“Sepenuhnya diri ini menyadari bahwa bukanlah lawan yang sebanding untuk menghadapi Kakak Sepupu.” Guru Muda Khandra memecah lamunan lawan

Lintang Tenggara membalas dengan senyuman. “Tiada lari gunung dikejar. Kita akan bersua lagi dalam waktu dekat ini, dan… bersedia atau tidak, kau akan menjadi salah satu kepingan petunjuk dalam menuntaskan bayang misteri yang menyelubungi Negeri Dua Samudera.”

Demikian, Lintang Tenggara pun melompat ke salah satu prasati batu yang sebelumnya dipergunakan oleh murid-murid untuk keluar dari dimensi ruang berlatih. Dengan lambaian tangan, sebuah lorong dimensi segera membuka di atas salah satu prasasti. Tanpa menoleh lagi, lelaki berpenampilan dewasa muda itu pun melompat masuk. 

“Duar!” 

Segel Syailendra keempat milik Guru Muda Khandra, yang berwujud seekor keledai, tetiba menendang sebuah prasati batu dengan dua kaki belakangnya. Tak ayal, prasasti batu yang baru saja dipergunakan oleh Lintang Tenggara untuk keluar dari ruang dimensi, hancur berhamburan. 

“Guru Muda Khandra…,” seorang lelaki dewasa dengan parut panjang di wajahnya melompat keluar dari gerbang dimensi, disusul oleh beberapa Maha Guru lain. 

“Yang Terhormat Maha Guru Keempat…”

“Apakah gerangan yang terjadi…?”

“Lintang Tenggara mendatangi ruang dimensi berlatih ini,” jawab Guru Muda Khandra cepat. 

“Kau yakin…?” Seorang Maha Guru lain siaga. 

Guru Muda Khandra mengangguk. “Kemungkinan ia datang dengan niat menculik diriku.”

“Anak itu tiada berubah!” hardik Maha Guru Keempat berang. 

“Prasasti batu mana yang ia gunakan untuk keluar dari tempat ini!?” ujar salah seorang Maha Guru yang mendapati keberadaan prasasti batu berjajar rapi. Ia hendak segera mengejar. 

“Entah bagaimana, Lintang Tenggara meledakkan prasasti batu yang telah ia pergunakan,” jawab Guru Muda Khandra sambil menunjuk ke arah puing-puing batu yang berserakan. Sungguh wajahnya terlihat polos. 

“Benarkah…?” 

Maha Guru Keempat memicingkan mata. Sebagai mantan guru dari Lintang Tenggara, ia sepenuhnya menyadari bahwa tak sembarang ahli yang dapat melepaskan diri dari cengkeraman tokoh tersebut. Siapakah sebenarnya Guru Muda Khandra ini…? Mengapa Lintang Tenggara hendak menculik dirinya? Latar belakangnya samar. 


===


“Menurut hematku,” seorang lelaki dewasa berujar. “Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang dengan sengaja menunda Gelaran Akbar Pewaris Tahta. Beliau hendak memberikan kesempatan kepada dikau, Balaputera Gara…” 

“Mengapakah demikian…?”

“Diriku tiada mengetahui pasti. Kemungkinan sebagai imbalan atas jasa-jasa kakekmu, Balaputera Dharanindra, yang mengorbankan jiwa dan raga melindungi segenap rakyat. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang dapat melakukan apa saja tanpa merasa perlu memberi penjelasan.”

“Tentu saja!” sela Balaputera Prameswara. Dengan keberadaan Bintang Tenggara sebagai anggota keluarga yang akan bersama-sama berjuang di dalam Gelaran Akbar Pewaris Tahta, remaja tersebut tampil lebih percaya diri. Atau dengan kata lain, percaya diri bahwa Bintang Tenggara akan selalu berada di samping dirinya. 

“Kita akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berlatih,” lanjut Ayahanda Sulung Rudra. “Dikau telah memiliki pemahaman dasar terkait formasi segel. Akan tetapi, formasi segel Kemaharajaan Cahaya Gemilang adalah berbeda.” 

Kurang tepat, batin Bintang Tenggara. Secara formal, dirinya baru berniat mendalami seluk-beluk formasi segel kepada Guru Muda Khandra. Walau rencana tersebut perlu dipikirkan kembali, karena Guru Muda Khandra kemungkinan besar adalah Balaputera Khandra, kakak kandung Balaputera Prameswara, anak pertama dari Balaputera Samara. Bagaimana tokoh yang memiliki ibunda yang demikian ramah, dan adik yang demikian rapuh… dapat bersiasat demikian radikal!?

“Yang Mulia Dipertuan Datu Besar…” Seorang pelayan berlari tergopoh mendatangi mereka yang berkumpul di halaman dalam Kadatuan Kesembilan. “Mohon maaf, akan tetapi, Yang Mulia Datu Besar dan Yang Mulia Datu Tua dari Kadatuan Kesatu datang berkunjung. 

Ayahanda Sulung Rudra, diikuti Wara dan Bintang Tenggara, segera tiba di balai utama Kadatuan Kesembilan. Sesuai kata-kata pelayan tadi, seorang lelaki setengah baya dan seorang lelaki dewasa telah menanti. 

“Yang Terhormat Datu Besar dan Yang Mulia Datu Tua dari Kadatuan Kesatu, mengapa tiada memberi kabar akan berkunjung. Sepantasnya kami memberikan sambutan yang lebih terencana.” 

Kedua tamu menjura, layaknya pendekar. Pembawaan mereka demikian berwibawa. 

“Tiada mengapa,” jawab Datu Kadatuan Kesatu. “Kedatangan kami hendak menyampaikan undangan kepada Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara untuk mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa.” 

“Mohon maaf atas kelancangan kami…” Kini sang Datu Tua yang berujar. “Kami sepenuhnya memahami bilamana Yang Terhormat Datu Kadatuan Kesembilan hendak mendidik langsung kedua kemenakannya. Akan tetapi, kami merasa berkewajiban memberi pendidikan yang layak kepada anak-anak nan berbakat ini.” 

Ayahanda Sulung Rudra terdiam sejenak. Ia tiada menduga bahwa Perguruan Svarnadwipa yang dibawahi oleh Kadatuan Kesatu akan datang langsung. Bukan hanya menyampaikan niat tanpa berbasa-basi, sedikit memaksa pula mereka ini. 

“Yang Terhormat Datu Besar dan Yang Terhormat Datu Tua dari Kadatuan Kesatu,” tanggap Ayahanda Sulung Rudra. “Diriku memahami betapa besar perhatian yang diberikan Perguruan Svarnadwipa kepada kedua kemenakan kami, dan kami sangat berterima kasih atas undangan yang disampaikan langsung ini.”

Kedua tamu mendengarkan dengan seksama. 

“Akan tetapi, karena keterbatasan waktu, kami telah sepakat untuk secepat mungkin mewariskan pemahaman yang kami terima dari generasi-generasi terdahulu Kadatuan Kesembilan.” 

Menolak secara halus, dengan alasan yang sulit digugat, batin Bintang Tenggara. Sungguh perkasa.

“Sungguh pemikiran yang mulia. Oleh karena itu, kita dapat memulai setelah satu purnama dari sekarang,” saran Datu Kadatuan Kesatu. “Jadi, Yang Terhormat Datu Besar tetap dapat menurunkan warisan keahlian dari generasi terdahulu, baru setelah itu mereka mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa.”

Bagaimana Ayahanda Sulung Rudra berkelit dari serangan balik ini? Bintang Tenggara mengandai-andai dalam hati. 

“Mohon pengertian Yang Terhormat Datu Besar dan Yang Terhormat Datu Tua dari Kadatuan Kesatu…bukannya kami hendak menolak undangan. Balaputera Gara baru saja kembali di Kadatuan Kesembilan. Sesungguhnya, tugas kami bukan saja mewariskan pemahaman terkait persilatan dan kesaktian, namun kami juga berkewajiban menurunkan nilai-nilai budi pekerti keluarga.”

Balai utama Kadatuan Kesembilan hening. Bukannya Ayahanda Sulung Rudra tiada mempercayai Kadatuan Kesatu, sebaliknya ia menaruh setingi-tinggi rasa hormat kepada kedua tokoh yang duduk di hadapannya. 80% lahan pertanian Kadatuan Kesembilan memang ditumbuhi gulma yang mewabah, namun 20% lahan pertanian dapat ditumbuhi dengan baik. Selama ini, sebelum Pakis Kadal Hijau menjadi komoditas, adalah Kadatuan Kesatu yang mewajibkan Perguruan Svarnadwipa untuk membeli hasil tani dari Kadatuan Kesembilan. Dengan harga yang bersaing pula. 

Sebagai tambahan, Ayahanda Sulung Rudra pun mengetahui bahwa Datu Besar Kadatuan Kesatu merupakan sahabat masa kecil Balaputera Ragrawira. Kedatangan mereka ini sebagai upaya melanggengkan hubungan baik yang telah lama dibina. 

“Bila demikian, bagaimana bila satu purnama dari sekarang, Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara mendatangi Perguruan Svarnadwipa setengah hari saja? Mereka dapat mengenyam pendidikan, namun tiada perlu menetap di asrama perguruan. Cara ini ini juga dijalani oleh beberapa putra dan putri keluarga bangsawan lain.” Datu Besar dari Kadatuan Kesatu pantang menyerah.

“Selain itu, dikau juga tentu menyadari bahwa dengan mengirimkan Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara ke Perguruan Svarnadwipa, maka keduanya akan berada di bawah perlindungan kami dari Kadatuan Kesatu,” tambah sang Datu Tua. Raut wajahnya demikian tulus. “Tiada akan Kadatuan lain yang berani bertindak gegabah selama tiga purnama jelang Hajatan Akbar Pewaris Tahta.” 

Ayahanda Sulung Rudra tak dapat berkelit lagi. Awalnya, ia memang akan memingit kedua anak remaja tersebut di dalam Kadatuan Kesembilan atas alasan keamanan. Dirinya yang akan melindungi dengan kedua tangannya sendiri. Akan tetapi, anjuran dari Kadatuan Kesatu sangatlah beralasan. 

“Secara prinsip, diriku menerima undangan ini. Akan tetapi, keputusan akhir akan berpulang kepada mereka.” Ayahanda Sulung Rudra mempersilakan kedua anak remaja memutuskan sendiri. 

Balaputera Prameswara sontak menggelengkan kepala. Sebaliknya, Bintang Tenggara mengangguk cepat.  



Kuis hiburan:

Bila akan memiliki Segel Syailendra yang dapat berwujud, binatang apakah yang cocok bagi Bintang Tenggara…? 

Lima ahli baca pertama dengan jawaban yang tepat akan menerima Episode 214 sehari lebih cepat, yaitu dikirim ke inbox FB pada Minggu pagi. Untuk itu, silakan like FP Pendekar Bayang di https://www.facebook.com/PendekarBayang1