Episode 210 - Sementara itu…


Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara sedang berlatih bersama jelang Hajatan Akbar Pewaris Tahta Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Datu Besar Kadatuan Kesembilan tetiba tersentak, lalu bangkit berdiri. Ia segera melangkah sempoyongan mengunjungi salah satu bangunan di dalam Kadatuan. 

“Adinda Samara…,” tegur sang Datu. 

“Kakanda Rudra, ada apakah gerangan?” 

“Sudah tiada diragukan lagi, anak itu tak lain adalah Gara, putra kedua dari Bungsu Wira dan Adinda Mayang.” 

Perempuan dewasa yang masih duduk tenang, hanya menyibak senyum. Sungguh teduh. 

“Formasi segel yang ia susun, samar menyibak aura keluarga kita…” 

Ibunda Samara mengangguk ringan.  

“Bagaimana pandanganmu…?” sambung Ayahanda Sulung Rudra. 

“Kemungkinan ada pihak yang sengaja mengarahkan dirinya kembali ke Kadatuan Kesembilan. Diriku tiada mengetahui dimana Khandra kini berada… Akan tetapi, kabar terakhir mengatakan bahwa anak itu menemukan jejak ‘dia’.”

Ayahanda Sulung Rudra meletakkan kendi tuak di atas meja. 

“Mungkinkah ini waktu yang telah lama kita nanti…?” 

“Tapi…” Ayahanda Sulung Rudra terlihat ragu. 

“Kakanda Rudra tiada lagi perlu berpura-pura menjadi pemabuk, dan diriku tiada lagi dengan suka rela menerima racun…”

Ayahanda Sulung Rudra terdiam. Kepalan tangannya menggengam keras, seolah hendak menghantam batu karang nan besar yang selama ini menindih Kadatuan Kesembilan. Ia menatap tajam ke arah kendi tuak di atas meja.

"Prang!" Balaputera Samara menepis kendi tuak dari atas meja, yang kemudian terpental jatuh dan pecah berhamburan di lantai. Raut wajah perempuan dewasa yang biasanya teduh, sempat berubah drastis untuk sesaat.  

Balaputera Rudra mengangguk. “Diriku akan mengunjungi Juru Kunci untuk sementara waktu ini…” Sorot kedua matanya mantap. 

Ketika Balaputera Rudra melangkah keluar dari kediaman Balaputera Samara, Bintang Tenggara dan Wara pun tiba. Kedua remaja hanya dapat menyaksikan kendi dan tuak yang berhamburan di lantai, serta kepergian Ayahanda Sulung Rudra… 


===


Acara pembuka Hajatan Akbar Pewaris Tahta Kemaharajaan Cahaya Gemilang, di kala perdebatan antara Kadatuan sedang berlangsung sengit…

“Hei, Komodo Nagaradja… bagaimana pandangan dikau…?” Ginseng Perkasa berbisik pelan sekali. 

“Hmph…”

“Sejak awal, dikau tentunya telah menyadari bahwa Nak Bintang merupakan keturunan Wangsa Syailendra dari garis Balaputera.” 

“Aku tak hendak berurusan dengan Kemaharajaan pengecut ini…,” dengus Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara itu. 

“Apakah kiranya rencana si tua bangka itu…?” Sang Jenderal Keenam terdengar sangat penasaran. 

“Kita amati saja dulu… Jikalau ia menyimpan muslihat terhadap muridku, maka demi kesetiaanku pada Negeri Dua Samudera, aku bersumpah…

“Dia jauh lebih digdaya dari dikau dan diriku…,” sela Ginseng Perkasa. 

“Aku tiada peduli! Akan kuhapus ia dari muka bumi… bahkan bila harus mengorbankan jiwa kita!”

“Mengapa jiwa KITA!?” Ginseng Perkasa resah. “Mengapa tidak jiwa dikau sahaja…?”

“Aarrghh… tiada perlu meributkan hal yang remeh!” 



Cuap-cuap:

Hanyalah jomblo sejati yang akan menemukan episode ini…