Episode 15 - Empat Belas

Duel Dua Saudara


Dilain pihak Jaka terus mengamuk merobohkan belasan perampok, tiga orang dari mereka jadi kecut melihat kehebatan pemuda ini, mereka langsung mengambil langkah seribu, tapi Jaka yang hatinya sedang geram akibat kekejaman mereka langsung melompat mengejarnya, dengan tendangan beruntun dalam jurus “Tendangan Kuda Sembrani”, tiga orang itu langsung roboh dengan tulang dada hancur!

Setelah merobohkan seluruh sisa perampok, Jaka lalu menonton pertarungan antara Dharmadipa dengan Macan Seta yang berlangsung sangat seru, penduduk desa pun menonton dengan harap-harap cemas. Dharmadipa dan Macan Seta nampak seimbang, jurus mereka yang mirip membuat sulit untuk memperkirakan siapa yang akan dapat merobohkan lawannya duluan. 

Beberapa jurus kemudian Dharmadipa mulai terlihat lebih unggul, apalagi ketika si Macan Seta mengetahui kalau seluruh kawan-kawannya sudah berhasil dilumpuhkan, mulai melelehlah nyalinya! Pada satu kesempatan, ia melihat kesempatan untuk melarikan diri, ia pun melemparkan beberapa butir senjata rahasia pada Dharmadipa lalu membalikan badannya.

Tapi tentu saja Dharmadipa tidak mau melepaskannya, dia melompat menghindar kemudian langsung menerjang mengirimkan enam tendangan beruntun dalam jurus “Tendangan Kuda Sembrani!”! Tubuh kepala perampok itu pun mental terkena tendangan itu lalu jatuh terguling-guling dan muntah darah! hampir seluruh tulang rusuknya patah akibat tendangan murid Kyai Pamenang yang sangat dahsyat tersebut!

Melihat Macan Seta sudah lumpuh, Dharmadipa segera menerjang hendak membunuhnya, tapi segera ditahan oleh Jaka “Kakang tahan! Kita serahkan saja pada para penduduk desa ini!”

Dharmadipa pun mendengus kesal, tangannya langsung melepas topeng Macan Seta dengan kasar, kini nampaklah wajah asli Macan Seta “Ternyata wajahmu buruk seburuk perbuatanmu!” ejek Dharmadipa saat melihat wajah asli dari kepala perampok yang teramat bengis ini.

Jaka lalu menoleh dan menatap kepada seluruh warga desa “Saudara-saudara hukuman apa yang pantas untuk perampok ini?” tanyanya.

“Bunuh! Bunuh perampok itu! Penggal kepalanya! Seret keliling desa bangkainya!” teriak para penduduk desa.

“Tunggu! Bukankah kejahatannya bukan hanya dilakukan pada suadara-sudara semua? Kenapa tidak kita serahkan ia pada pemerintah Mega Mendung?” Tanya Jaka.

Ki Demang menyunggingkan senyum sinis “Pemerintah? Ki Dulur, justru gerombolan perampok ini muncul di lereng gunung Masigit ini akibat pemerintah Mega Mendung juga! Pajak yang terlampau tinggi mencekik rakyat membuat mereka merampok! Karena dia sudah membuat banyak orang menderita, maka ia juga harus siap menerima penderitaan ratusan kali lipat yang lebih pedih!” yang diamini oleh seluruh warga desa, si Macan Seta hanya menggil ketakutan, celana basah karena mengompol saking ketakutannya.

Jaka Menghela nafasnya “Ki Demang dia sudah menyerah, itu artinmya dia sudah siap untuk diadili, tapi bukan dengan cara kita seperti ini! Saya bisa mengerti perasaan Ki Demang dan seluruh warga desa ini, saya juga muak dengan orang macam ini, tetapi kalau kita tidak suka dengan tindakannya, kenapa kita harus berbuat seperti dia? Hentikan Ki Demang, dia harus diadili, bagaimanapun dia harus diadili dengan hukum yang berlaku diatas tanah Mega Mendung ini” ucap pemuda itu dengan lembut.

Ki Demang dan seluruh warga terdiam mendengarnya, sekonyong-konyong Dharmadipa menghampiri Ki Demang dengan marahnya “Sekarang sudah terbukti bukan kalau aku ini bukan penipu?! Sekarang sudah kupenuhi janjiku untuk membantu kalian meringkus perampok ini! Kembalikan Keris Pusakaku!”

Ki Demang menyerahkan Keris pada Dharmadipa dengan perasaan sangat malu dan serba salah “Maafkan kami Den, kami… Ya harap maklumlah, keadaan kami sedang serba kalut begini”.

Dharmadipa meotot menatap semua warga desa “Sudah aku bilang, aku ini murid Kyai Pamenang dari Padepokan Sirna Raga! Aku ini hendak menolong kalian, tapi kalian malah meracuni aku dan menjebloskan aku kedalam penjara!”

Ki Demang dan seluruh warga desa tertunduk malu, Dharmadipa lalu memelototi Macan Seta dengan tatapan penuh dendam, rajah cakra bisma didahinya memerah seolah menyala-nyala! Jaka terkejut melihat tatapan Dharmadipa yang penuh dendam dan nampak mengerikan pada si kepala perampok itu, tiba-tiba Dharmadipa mengangkat tangan kanannya keatas, tangannya memancarkan cahaya merah yang sangat panas bagaikan bara api, dan dengan sangat cepat Dharmadipa mendorongkan tangan kanannya pada si Macan Seta! Satu Lidah Api disertai gelombang pusaran angin panas menyambar Macan Seta! Blaarrr! Tubuh Macan Seta terlempar jauh kebelakang langsung hangus terbakar!

“Mengapa Kakang membunuhnya?! Bukankah ia sudah menyerah?! Kakang sama kejamnya dengan Macan Seta!” sentak Jaka yang terkejut melihat Tubuh Macan Seta hancur terbakar terkena pukulan Sirna Raga Dharmadipa. 

“Ini hukum alam! Karma! Dan mereka tidak lebih baik dari macan betulan! Mereka manusia berhati binatang! Yang harus dihukum secara binatang!” solot Dharmadipa dengan mata melotot berapi-api.

“Kakang! Kita harus menghukum mereka dengan hukum manusia! Serahkan mereka pada Prabu Mega Mendung untuk diadili!” balas Jaka dengan suara tinggi.

“Huh masa bodoh!” cibir Dharmadipa yang langsung melangkah meninggalkan mereka, ia langsung naik keatas kudanya, “Kakang Dharmadipa tunggu!” panggil Jaka, tapi Dharmadipa terus memacu kudanya, Jaka pun langsung melompat naik keatas kudanya dan mengejar Dharmadipa.


***


Matahari sudah mulai menunjukan dirinya di ufuk timur, cahaya emasnya mulai menerangi jagat ciptaan Sang Maha Pencipta ini. Dharmadipa terus memacu kudanya hingga menjelang tengah hari sampailah ia disuatu tempat di lembah Gunung Tangkuban Perahu setelah menempuh tiga hari perjalanan, jauh dibelakangnya Jaka yang terus mengejar Dharmadipa selama tiga hari perjalanan terus memacu kudanya berusaha menyusul Dharmadipa.

“Kakang Dharmadipa! Tunggu!” teriak Jaka yang disertai tenaga dalam, sehingga suaranya bergema diseluruh lembah Gunung Tangkuban Perahu tersebut, tapi Dharmadipa tidak mempedulikannya dan terus berlalu.

“Kakang Dharmadipa tunggu! Aku membawa surat dari guru untuk Kakang!” teriak Jaka lagi yang suaranya bergema diseluruh lembah itu.

“Dasar kepala batu!” maki Dharmadipa yang terus memacu kudanya. Suara panggilan Jaka untuk Dharmadipa terus menggema di lembah itu, Dharmadipa jadi merasa ragu juga “Jangan-jangan guru sakit?” pikirnya yang mulai memperlambat lari kudanya.

“Kakang Dharmadipa aku akan terus mencarimu, sampai surat ini ada di tanganmu!” teriak Jaka sambil mengeluarkan sepucuk surat dari balik bajunya.

Dharmadipa yang berada di tempat yang tinggi dengan matanya yang tajam menatap surat yang ada di tangan Jaka “Kau akan celaka kalau kau bohong Jaka Lelana!” ancam Dharmadipa sambil menunjuk Jaka dengan suara yang disertai tenaga dalam hingga suaranya pun bergema di lembah itu. 

Jaka melihat ke arah datangnya suara Dharmadipa, dia lalu memacu kudanya keatas ketempat Dharmadipa, tapi Dharmadipa segera menghardiknya “Berhenti! Tunjukan dulu surat itu!”

Jaka pun melompat turun dari kudanya lalu membuka gulungan surat itu. Dharmadipa pun melompat turun dari kudanya menuju ke tempat Jaka berdiri. Sesampainya Dharmadipa memelototi Jaka lalu merebut surat itu dengan kasar, ia kemudian membaca surat itu dengan seluruh tubuh bergetar yang isinya :

“Dharmadipa anakku, apa yang kukhawatirkan tentang dirimu akhirnya terjadi juga, tapi sudahlah aku tidak ingin dikatakan sebagai orang tua yang suka mengekang anak. Selama ini aku seolah-olah membatasi kebebasanmu, tapi itu karena aku sangat menyayangimu, aku tidak ingin kau mendapat bencana, aku ingin kau tetap selamat anakku.

Dharmadipa satu hal yang perlu aku jelaskan padamu, aku memang tidak menurunkan semua ilmuku padamu, tapi aku juga tidak menurunkan semua ilmuku pada Jaka Lelana ataupun muridku yang lainnya, aku hanya menurunkan Aji Pukulan Sirna Raga padamu dan Handaka juga Kadir, aku tidak menurunkannya pada Jaka, maka sebagai gantinya aku menurunkan jurus Menggoncang Langit Menjungkir Awan pada Jaka, malah di antara seluruh muridku hanya engkau yang aku wariskan jurus Harimau Gunung. Akan tetapi berkat ulahmu mencelakai Jaka dengan Pukulan Sirna Raga, maka sebagai permohonan maaf padanya, aku terpaksa menurunkan Aji Pukulan Sirna Raga juga pada Jaka.

Dharmadipa, hatimu sedang gelap, kau terombang-ambing oleh perasaanmu, karena kamu sedang kasmaran pada seorang wanita yang sebenarnya kamu belum begitu mengenalnya, Dharmadipa, aku akan bicara tentang perjodohan manusia untuk pertimbanganmu, ada dua macam perjodohan, pertama adalah perjodohan kayu dan bumi, kayu lambang lelaki dan bumi lambang wanita, perjodohan ini adalah sebaik-baiknya perjodohan antar anak manusia, keduanya memiliki watak dingin, keduanya tidak mempunyai perangai merusak, dan keduanya dapat saling mengisi, jika sepasang manusia menjalani perjodohan ini, maka hidup mereka akan tenang tentram dan bahagia untuk selama-lamanya. 

Yang kedua adalah perjodohan air dan api, air lambang lelaki, api lambang wanita, dalam perjodohan seperti ini kehidupan mereka tidak akan bahagia, mereka akan selalu dilanda kemelut, sebab keduanya memiliki watak yang bertentangan, air akan menguap dihisap panasnya api, sementara api akan padam disiram air, sungguh malang nasib dua orang manusia yang terpaksa menjalani perjodohan macam ini, rumah tangga yang tadinya mereka dambakan menjadi surga ternyata hanya neraka dunia yang menyiksa bathin dan perasaan sepanjang hidup, itulah sebabnya mengapa sebabnya orang tua menganggap sangat penting melihat watak calon menantunya.

Dharmadipa anakku, meskipun Mega Sari yang sangat kau dambakan menjadi istrimu itu adalah salah seorang muridku dan murid Ibumu, tapi aku tidak terlalu tahu seperti apa watak wanita itu yang sebenarnya sebab ia selalu bersembunyi dalam keramahan sikapnya, kelembutan pekertinya, serta manisnya ucapannya, itu semua tidak bisa aku jadikan tolak ukur karena sifat-sifat demikian adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang keturunan keraton sehingga tidak mencerminkan sifat mereka yang sebenarnya. 

Tapi ingat pesanku ini, coba kau perhatikan, jika dia mempunyai noda hitam berwujud pusaran hitam di bawah pusarnya, jangan kau teruskan niatmu, lakukanlah dengan segala cara untuk meninggalkannya! Ini demi kebahagiaan hidupmu, juga demi kebahagiaan wanita yang kau cintai itu. Nah Dharmadipa anakku selamat jalan, dunia yang akan kamu tapaki penuh dengan hal-hal yang sulit dimengerti, maka selalulah ingat pada Allah, ucapkanlah namanya sebelum kau melakukan segala sesuatu! Kusampaikan nasehat ini hanya untuk kebahagiaan hidupmu, semoga Gusti Allah selalu melimpahkan rahmatnya kepadamu dan pada kita semua, Amin. Dari orang yang setulus-tulusnya mencintaimu, Ayahmu dan Ibumu, Pamenang dan Mantili.”

Selesai membaca surat itu air mata Dharmadipa pun menetes, teringat ia pada semua limpahan kasih sayang ayah dan ibunya, tertunduk lemaslah pemuda berwajah congkak ini “Ayah… Ibu…,” ratapnya.

Jaka menatap Kakaknya dengan tatapan penuh rasa prihatin “Guru sangat sedih sekali ketika menulis surat itu, sejak kepergian Kakang ia menangis, ia tidak makan ia berpuasa, ia jatuh sakit.”

Dharmadipa menoleh pada Jaka “Ada yang selalu berkecamuk dalam hatiku, yang orang lain tidak akan bisa mengerti! Rasanya aku ingin sekali terbang ke padepokan dan menangis di pangkuan guru! Di pangkuan ayahku! Tapi aku tak bisa! Ada satu ketakutan yang tidak aku tahu, yang menyuruhku untuk menyusuri jalan ini!” ucapnya sambil meremas-remas suratnya.

“Mega Sari?!” tebak Jaka dengan suara tinggi.

“Iya!” jawab Dharmadipa mantap.

Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kakang Dharmadipa, sebegitu berharganyakah Mega Sari disbanding dengan ayah ibumu?! Gurumu?!” tanyanya dengan jengkel.

“Iya!” tegas Dharmadipa.

“Gila! Padahal kau belum tentu bisa bersama dengan dia! Ingatlah siapa Mega Sari itu Kakang! Dia putri raja kita! Putri Prabu Mega Mendung! Ingatlah siapa dirimu!”

Emosi Dharmadipa langsung tersulut mendengarnya “Bajingan kamu! Kurobek mulutmu kalau sekali lagi berani menghina harga diriku! Aku seorang Pangeran yang pantas bersanding dengannya! Bukan Rakyat jelata seperti kamu yang asa-usulnya tidak jelas! Oh aku tahu kenapa kau berikeras melarangku menemui Mega Sari dan menyuruhku pulang ke Padepokan, kau cemburu dan iri padaku karena aku lebih berpeluang untuk bersanding dengan Mega Sari! Kau tidak rela melihatku bisa bersama dengan Mega Sari bukan?!”

Jaka pun mulai ikut tersulut emosinya. “Cukup Kakang! Aku sudah bosan dengan segala pikiran ngawur Kakang! Kau boleh merendahkan aku dan menuduhku segala macam! Tapi kenapa seorang perempuan seperti Mega Sari bisa lebih penting dari seorang guru, dari kedua orang tuamu?! Yang merawat Kakang selama ini! Yang telah menolong Kakang dari penderitaan!”

Bara api amarah terlihat jelas dari kedua bola mata Dharmadipa, Rajah Cakra Bisma d dahinya mulai memerah, telunjuk pemuda yang tulang alisnya menonjol dan tulang rahangnya kokoh itu menunjuk lurus pada hidung Jaka “Diam kamu! Itu urusanku!”

Jaka pun membalas tak kalah sengitnya. “Tidak! Sebab sikap Kakang yang keblinger itulah yang membuat guru menderita! Bagaimana bisa seorang perempuan yang bukan siapa-siapa harus mengalahkan kedua orang tuamu yang telah memeliharamu dengan limpahan kasih sayanng Kakang?!”

“Diam! Jangan buat aku marah! Mega Sari adalah siapa-siapa bagiku! Mega Sari adalah gadis yang telah menguasai hatiku!” bentak Dharmadipa tak kira-kira kerasnya.

“Astagfirullah, Kakang! Kakang adalah seorang manusia yang benar-benar tidak tahu balas budi!” sahut Jaka.

“Diam! Diam!” sergah Dharmadipa.

Nafas Jaka memburu, dadanya terasa sesak menahan amarah pada sikap Kakak seperguruan sekaligus sahabatnya sejak kecil “Baiklah Kakang, rupanya kamu memang tidak pantas menjadi Kakak seperguruan dan sahabatku! Ayo Kakang, jangan kamu pikir hanya kamu laki-laki di jagat ini!”

Dharmadipa mendengus, amarah pemuda pemberang ini sudah sampai ke ubun-ubunnya, tanda di keningnya semakin memerah, matanya melotot seolah mau meloncat keluar, “Bagus! Ini lebih aku sukai!” jawabnya menrima tantangan Jaka sambil melempar suart dari gurunya. Dia segera memasang kuda-kudanya, Jaka pun segera memasang kuda-kudanya.

Dharmadipa segera menyerang dengan jurus “Menjejak Bumi Menggapai Langit”, Jaka meladeninya dengan jurus “Empat Gunung Berbaris Delapan Bukit Melintang”, maka jual beli pukulan di antara kedua saudara seperguruan ini terjadilah, namun kali ini bukan untuk berlatih, melainkan untuk merobohkan satu sama lain! Angin deras berseoran seiring gerakan-gerakan mereka yang dipenuhi oleh tenaga dalam itu. 

Jaka memang lebih unggul dalam kecepatan, tenaga dalamnya pun sudah meningkat sejak terakhir kali mereka bertarung, akan tetapi kali ini tenaga dalam Dharmadipa sungguh luar biasa dahsyatnya, amarahnya telah membuat tenaga dalamnya berlipat ganda, dari setiap gerakannya tibul angin deras yang membuat kulit Jaka lecet, Jaka pun berusaha menghindari terjadinya kontak fisik dengan Dharmadipa sebab tenaga dalamnya kalah oleh Kakangnya itu.

Dharmadipa sangat geram karena semua serangannya tidak ada yang berhasil mengenai Jaka, dengan kalapnya ia mengeluarkan Ajian Liman Sewu, melihat Dharmadipa mengeluarkan ajian yang dahsyat itu, Jaka yang tidak mau meladeni adu tenaga dalam, mengeluarkan jurus andalannya yakni jurus Menggoncang Langit Menjungkir Awan! 

Dengan mengandalkan kecepatannya Jaka menghindari kotak fisik yang dapat mengakibatkan adu tenaga dalam dengan Dharmadipa, dengan telaten ia mencari dan menunggu Dharmadipa membuka celah kelemahannya, hingga akhirnya Dharmadipa yang termakan oleh nafsunya kurang memperhitungkan gerakannya, Jaka pun mendaratkan satu tendangan di perut Dharmadipa yang diikuti satu tendangan ke pelipis Dharmadipa, dan terakhir satu pukulan ke dada Dharmadipa!

Dharmadipa jatuh terjengkang beberapa langkah kebelakang, perutnya terasa mual dan kepalanya pusing, nafasnya sesak, dari mulutnya keluar cairan kental asin! Buru-buru ia mengalirkan tenaga dalamnya pada seluruh bagian tubuh yang terasa nyeri, kemudian ia bangkit, dengan amarah yang meledak “Setan alas! Kau boleh bangga dengan jurus andalan Guru yang diturunkannya padaku! Maka kau boleh minggat ke neraka sekarang juga!”

Tanda rajah Cakra Bisma di kening Dharmadipa bagaikan menyala memerah, dia langsung merapatkan kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam, dia mengumpulkan panas dari perutnya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi keatas sambil mengepal, tulang-tulangnya berteroktokan berbunyi dan giginya bergemelutuk, tangan kanannya mengeluarkan cahaya merah bagaikan bara api membara, hawa disekitarnya menjadi panas, tanda ia akan segera melepaskan pukulan pamungkasnya yang tak lain adalah pukulan “Sirna Raga”.

Melihat Kakangnya mengeluarkan ajian dahsyat itu, mau tak mau Jaka pun mengeluarkan ajian yang sama sebab tak ada jalan lain, satu-satunya cara untuk melindungi dirinya adalah dengan mengeluarkan ajian yang sama meskipun ini untung-untungan juga karena tenaga dalam Jaka masih kalah oleh Dharmadipa.

Dharmadipa mencibir ketika melihat Jaka melakukan hal yang sama dan mengeluarkan ajian yang sama dengan dirinya “Cih! Kau mau pamer kalau guru sudah menurunkan ajian ini padamu juga?! Hahaha… Jangan salahkan aku kalau nasibmu akan sama dengan nasib Macan Seta!”. 

Dengan dibarengi teriakan menggeledek, Dharmadipa mendorongkan tangan kanannya ke muka, Lidah Api dahsyat beserta gelombang pusaran angin panas menyambar ke arah Jaka! Jaka pun mendorongkan tangan kanannya, Lidah Api dahsyat beserta gelombang pusaran angin panas menyambar memapasi pukulan Dharmadipa! 

Blaaarrrrr!!! Ledakan dahsyat terjadi ketika kedua pukulan dahsyat itu beradu di udara, dentumannya menggema ke seantero tempat itu, udara disekitar tempat itu menjadi sangat panas, tanah yang mereka pijak bergetar hebat seolah dilanda lindu! Dharmadipa terjengkang dua tombak kebelakang, dia langsung muntah darah, tangan kanannya sedikit terluka bakar, sedangkan tubuh Jaka terpental jauh hingga ia jatuh ke sebuah jurang!

Dharmadipa segera memadamkan api di lengan baju kanannya, ia buru-buru mengalirkan seluruh tenaga dalamnya untuk menghindari luka dalam yang lebih parah dan mengatur nafasnya. Setelah rasa nyerinya berkurang, barulah ia seolah tersadar pada Jaka. Ia celingukan mencari Jaka, ia langsung berlari ke tepi jurang, di sana dilihatnya Jaka sedang bergelantungan disebuah dahan, bertahan agar tidak jatuh ke jurang!

“Adi Jaka! Maafkan aku! Maafkan! Sekarang ayo raih tanganku!” ucap Dharmadipa dengan penuh penyesalan sambil mengulurkan tangannya, Jaka pun berusaha meraih tangan Dharmadipa tapi tak sampai, Dharmadipa segera mengambil sebatang dahan pohon yang cukup besar dan panjang agar bisa diraih Jaka “Jaka pegang ini! Ayo berusahalah!”

Dengan susah payah Jaka berhasil memegangnya, Dharmadipa segera mengerahkan tenaganya untuk menarik Jaka, namun aneh sekali, tenaga yang tadi meluap-luap ketika ia marah seolah hilang lenyap hingga ia kepayahan untuk menarik Jaka!

Sedang kesusahan seperti itu, tiba-tiba Krakkk! Dahan pohon itu patah! “Aaaaaa!!!” Jaka pun menjerit ketika jatuh kedalam jurang! “Jaka Lelana!!!” jerit Dharmadipa melihat tubuh Jaka yang jatuh kedalam jurang yang gelap! 

“Jaka…,” ratap Dharmadipa dengan penuh penyesalan, air matanya segera mengalir deras, teringatlah ia pada masa-masa yang ia habiskan bersama Jaka “Jaka… Maafkan aku…” rintihnya dengan perih, dengan langkah sempoyongan ia meninggalkan tempat itu.