Episode 23 - Sebelum sebuah kebetulan



Pada tengah malam, Danny terbangun dari tidur pulasnya, karena tiba-tiba saja dia merasa ingin ke toilet. Segera dia bangun dari kasurnya dan berjalan cepat ke toilet. Setelah selesai, dia menuju ke kamarnya agar bisa tidur lagi.

Namun, meskipun tidak jelas, tapi Danny masih bisa mendengar suara papan keybord yang sedang di ketik. Kemudian dia pergi menuju ke tempat suara itu berasal, yaitu ruang tamu. Sesampainya di sana, Danny melihat ibunya yang duduk di sofa sedang melihat layar laptop dengan serius sambil mengetik papan keyborad di hadapannya.

‘Lagi lagi ibu begadang.’ Pikir Danny.

Kemudian Danny berjalan mendekati ibunya, “Kerjaannya belum beres Bu?”

“Eh? Danny, sedikit lagi bakalan beres kok, kamu tidur lagi aja.” Ucap ibunya sambil menaikan kedua ujung bibirnya. Itu adalah sebuah senyum yang menghangatkan hati Danny.

“Iya, Ibu juga jangan tidur terlalu malam, gak baik buat kesehatan.” Danny berkata dengan khawatir.

“Hehe, sebentar lagi selesai kok.” Jawab ibu Danny.

“Selamat malam Bu.”

“Selamat malam juga Danny.”

Danny berjalan menuju dapur, dia mengisi air ke teko dan memasaknya. Setelah dirasa sudah cukup hangat, dia menyeduhkan teh ke dalam gelas. Lalu ia kembali ke ruang tamu dan menaruh teh hangat tersebut di samping laptop ibunya.

“Minum tehnya Bu, biar badan ibu tetap hangat.”

“Hehe, makasih Danny.” 

Kemudian Danny segera pergi ke kamarnya untuk melanjutkan tidur pulasnya yang sempat tertunda.

Keesokan harinya, Danny terbangun oleh bunyi alaram di ponselnnya. Setelah itu ia segera bangkit dari kasurnya dan melakukan sedikit peregangan tubuh. Setelah melakukannya sekitar sepuluh menit, dia keluar dari kamarnya untuk mandi.

Selesai mandi dan memakai seragam, dia pergi ke meja makan. Setibanya di sana, ia melihat ibunya yang sedang duduk sambil membaca majalah. 

“Selamat pagi Buk.”

“Pagi juga Danny,” Ibu Danny meletakan majalah yang sedang ia baca, “Ayo kita sarapan.”

Dan begitulah, mereka memang selalu sarapan bersama.

Selesai makan, Danny segera pamit pada ibunya dan pergi ke rumah Rito yang tepat di samping rumahnya. Di sana, Rito sedang duduk di depan rumahnya sambil memainkan ponselnya.

“Ayo berangkat.”

“Oke.”

Danny dan Rito selalu pergi ke sekolah berdua, selalu begitu sejak mereka masih TK. Di perjalanan Rito menceritakan tentang dia yang telah putus dengan pacarnya. Karena dia sudah tidak tahan selalu dibanding-bandingkan dengan mantan pacarnya. 

Danny tidak tahu harus berkata apa, jadi dia hanya menepuk punggung Rito dan berkata, “Kau tahu, bintang bukan hanya satu.”

“Yah, benar.” Ucap Rito dengan lirih.

Danny sangat tahu tentang perjuangan Rito untuk menjadikan Rani sebagai pacarnya. Jadi, ketika dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya, itu pasti sangat sakit. Emosi sesaatnya lah yang membuat dia memutuskan Rani, dan saat ini, dia menyesalinya.

“Untuk latihan nanti sore, boleh aku ajak teman sekelaku?” tanya Danny untuk mencairkan suasana.

“Tentu saja, tapi apa dia mampu mengikuti latihan kita?”

“Mungkin?” jawab Danny dengan ragu.

Sampai di sekolah, Danny dan Rito menuju kelas masing-masing. Setelah Danny memasuki kelasnya, dia langsung berjalan ke tempat duduk paling pojok, menghampiri Raku yang sedang duduk sambil membaca buku.

“Hei, bagaimana bukunya?” ucap Danny.

Raku menoleh, “Oh, Danny, lumayan bagus, tapi aku tidak terlalu paham isinya.”

“Haha, santai saja, nanti kau pasti akan terbiasa.”

“Benar.” Raku mengangguk.

“Hei, kau mau ikut latihanku?”

“Oh, latihan rutinmu dengan Rizki anak kelas sebelah itu?”

“Benar, bagaimana? Apakah kau tertarik?”

“Oke, kebetulan aku tidak ada kerjaan di rumah.”

“Baguslah, aku tunggu siang nanti di rumahku.”

**

Di sebuah villa mewah, pada pagi hari yang cerah.

Nino duduk di sebuah sofa, di hadapannya duduk seorang pria yang dengan sopan memandang Nino. Dia membawa catatan dan sebuah foto yang diletakannya dengan hati-hati di atas meja. Dia adalah anak buah kepercayaan Nino yang telah diberi tugas untuk menyelidiki Raku, namanya Roy.

“Bos, dari hasil penyelidikan kami, ternyata bocah bernama Raku itu sangat mengerikan.” Ucap Roy tanpa bisa menyembunyikan rasa takutnya.

“Lalu apa? Kau pikir aku akan takut?” teriak Nino dengan arogan.

“Tidak , bukan begitu Bos.” Ucap Roy dengan gugup.

“Lalu, apa maksudmu?” tanya Nino sambil menyipitkan matanya.

“Begini Bos, di kota ini ada tiga geng besar termasuk geng serigala hitam kita, dan kita juga masih belum bisa menghancurkan dua geng lainnya. Jadi, tidak bijak jika kita menambah musuh lagi.”

“Jadi, maksudmu si bocah brengsek itu memiliki kekuatan besar di belakangnya?”

“Benar Bos.” Jawab Roy sambil menganggukan kepalanya.

“Hmmm ... memangnya apa saja kekuatan yang ada di belakangnya itu?” 

“Begini Bos, dari hasil penyelidikan, aku berhasil mendapat info bahwa ternyata dia adalah anak dari yakuza.”

“Apa?” teriak Nino sambil berdiri dari sofa yang dia duduki. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Fakta bahwa Raku ternyata anak dari yakuza benar-benar mengejutkan bagi Nino. Tapi sesaat kemudian dia berhasil menenangkan diri dan kembali duduk.

“Dan bukan hanya itu saja Bos.”

“Ada lagi?”

“Benar, dia juga memiliki tiga orang pacar yang masing-masing tidak bisa diremehkan. Yang pertama adalah putri dari seorang geng, tapi aku tidak tahu geng apa. Yang kedua adalah anak dari seorang polisi dan yang terakhir adalah anak dari seorang penjual kue.”

Terdiam sejenak, kemudian Nino mengembuskan nafas, “Jadi begitu, selain yang terakhir, dia memang memiliki pendukung yang sangat mengerikan.”

“Kau salah Bos, justru yang terakhir yang harus kita waspadai.”

“Kenapa? Padahalkan dia hanya anak dari seorang penjual kue.” Nino tidak bisa tidak bingung dengan apa yang Roy katakan. 

“Begini Bos, menurut info yang aku dapatkan, dia pernah meracuni pelanggannya dengan kue yang dia buat. Dan kau tahu sendiri bos, musuh yang terlihat seperti yakuza, polisi, dan geng tidak lebih menyeramkan dari musuh yang tidak terlihat, yang mungkin saja dapat menusuk kita dari belakang.”

“Kau benar, dia benar-benar iblis.”

“Jadi, tolong pikirkan lagi Bos.”

Nino berdiri lalu memandang Roy dengan senyum yang mengerikan, “Keputusanku sudah bulat. Siang ini kita akan membalas apa yang telah dia lakukan padaku.”

“Tapi, Bos...”

“Seperti yang kau katakan sebelumnya, musuh yang tak terlihat memang lebih menyeramkan, jadi kita hanya harus menutupi identidas kita.”

“Jadi?”

“Cepat siapkan pasukan dan mobil,” Nino berjalan pergi, sesaat kemudian dia menoleh ke arah Roy, “Juga siapkan sebuah topeng.”

“Ah? Benar, jika kita menggunakan topeng, mereka tidak akan tahu bahwa kita yang melakukannya, Bos memang hebat.”

“Haha, tentu saja, cepat laksanakan!”

“Ba-baik Bos.”

**

Di sebuah rumah tua, Sony sedang duduk di sofa sambil menghitung pendapatan hasil pencopetan yang ia lakukan sebelumnya. Meskipun dia agak enggan untuk melakukan kejahatan yang sangat rendahan ini, tapi tidak ada pilihan lain, mengatasi perutnya yang lapar adalah prioritas utama.

Total ada sekitar delapan dompet yang ia dan teman-temannya dapatkan. Mereka menghitungnya lalu membaginya sama rata. 

“Hari ini giliran siapa?” Sony bertanya sambil melihat teman-temannya.

“Kemarin aku, jadi hari ini adalah giliran Rudi.” Jawab seseorang.

Sony memutar matanya menuju Rudi yang sedang duduk sambil menghirup aroma uang di tangannya, “Rudi, cepat beli makanan!”

“Oke, kalian pesan apa saja?” tanya Rudi sambil merapikan uang di tangannya lalu memasukannya ke saku celana.

“Aku yang seperti biasa.” 

“Aku juga yang seperti biasa.”

“Sama, aku juga.”

Jawab mereka bertautan.

“Hei, mana mungkin aku tahu apa yang biasa kalian makan? Kalian kira aku ibumu?” teriak Rudi.

“Dasar payah.”

“Benar, dia memang bodoh.”

“Ya ampun, dia memang selalu seperti itu.”

Gumam mereka pelan dengan wajah penuh penghinaan.

“Hei, aku bisa mendengarnya, kalian mau berantem.” Teriak Danny sambil menggulung kerah bajunya.

“Diam!” teriak Sony.

Seketika mereka langsung tenang dan memandang Sony. Merasa jadi pusat perhatian, Sony berdehem lalu meluruskan dadanya, “Masalah tidak akan selesai jika kalian hanya terus berteriak.” 

Mereka semua menganggukan kepala dan berpikir bahwa yang Sony katakan barusan memang benar.

“Lalu, bagaimana?” tanya seseorang.

“Mudah, tinggal sebutkan saja pesanan kalian.”

“Oh, benar,” ucap seseorang, lalu dia menatap ke arah Rudi, “Aku mau ayam bakar dari restoran di dekat jembatan.” Lalu dia menyerahkan uang pada Rudi.

Rudi mengambil uang tersebut, “Baiklah!”

“Kalau begitu aku ingin soto dari restoran di tengah kota yang pernah kita datangi waktu itu, aku benar-benar kecanduan dengan rasa sotonya.” Ucap seorang lagi lalu menyerahkan uang pada Rudi.

“Baiklah,” Rudi mengambil uang tersebut, “Dan, aku tidak peduli dengan apa yang kau rasakan.”

“Sialan.” Umpatnya.

Kemudian Rudi mendapat pesanan untuk membeli makanan lain, seperti sate yang dijual di restoran yang berada di kota bagian selatan, masakan laut dari restoran seafood paling terkenal di pusat kota, dan lainnya. Meskipun begitu, ada satu kesamaan dari semua masakan yang mereka inginkan, yaitu berada di restoran yang berbeda dan lokasinya sangat berjauhan.

“Hmm ... tunggu sebentar, sepertinya ada yang salah,” Rudi sedang berpikir sambil memegang dagunya, lalu akhirnya dia sadar, semua pesanan mereka lokasinya sangat jauh. Dengan emosi yang memuncak, Rudi melempar uang mereka ke lantai, “Kalian pikir aku jasa pesan-antar!”

“Huft ... dia sadar juga, padahal dia bodoh.”

“Tak kusangka si bodoh ini akhirnya jadi sedikit pintar juga.”

“Ya ampun, ini benar-benar keajaiban.”

Mereka bergumam dengan pelan. 

“Hei, aku bisa mendengarnya, kalian ingin berkelahi?” teriak Rudi.

“Ya ampun, kalau begini tidak akan ada habisnya,” Sony berdiri sambil memandang yang lain, “kita pergi ke restoran yang biasa saja.”

Dengan usulan dari Sony, akhirnya mereka pergi ke restoran yang tidak jauh dari rumah tua tempat mereka tinggal. Setelah sampai, mereka memesan makanan dan makan sampai perut mereka puas. Meskipun tampak santai, tapi mereka memiliki sedikit beban di hatinya. Kejadian tempo hari masih teringat jelas dalam pikiran, saat seorang pemuda yang ingin mereka rampok mengeluarkan bola api dan menyerang mereka. Namun, saat mereka terbangun, tidak ada sedikit pun luka yang dapat dilihat.

Jadi, mereka beranggapan bahwa malam itu tidak pernah ada, dan sepakat tidak pernah membicarakannya lagi. Karena rasa takut dari kematian, begitu tajam meneror jiwa mereka.

Setelah selesai makan, mereka segera pulang dengan perut yang sedikit membuncit. Di perjalanan, mereka melewati tepi sungai dan melihat Danny, Raku, dan Rito yang sedang berbaring.

“Itu dia.” Gumam Rudi sambil menyipitkan matanya dan meremas tinjunya.