Episode 209 - Lintara


“Demikian adalah syarat dan ketentuan formasi segel dalam membuka lorong dimensi ruang.” 

Seorang lelaki dewasa muda menutup uraian yang baru saja disampaikan panjang lebar. Dari gaya bertutur, ia rupanya sedang memberikan kuliah kepada sejumlah murid. Pembawaannya demikian tenang, mencerminkan pengetahuan luas tentang seluk-beluk formasi segel, termasuk manfaat dan kegunaannya. 

“Apakah ada pertanyaan?” Ia menanti tanggapan dari murid-murid. Belasan jumlah, dan belia usia mereka. 

“Yang Terhormat Guru Muda…” Seorang murid berujar sambil mengangkat tangan. “Diriku pernah mendengar bahwa Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan tanah kelahiran keterampilan khusus sebagai perapal segel. Apakah hal ini benar adanya?” 

Sang Guru Muda tak dapat menahan senyum di kala mendengar pertanyaan yang demikian polos. “Banyak ahli yang beranggapan demikian, bahwa keterampilan khusus perapal segel berasal dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Walau, menurut hematku, pandangan yang sedemikian mengemuka karena keturunan para bangsawan di sana telah mendalami seluk-beluk formasi segel sejak lama.”

“Apakah benar terdapat jenis formasi segel yang hanya dapat dirapal oleh para bangsawan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, wahai Yang Terhormat Guru Muda?” Murid lain menimpali. 

“Betul. Formasi segel yang dapat mengambil wujud. Hal ini mirip adanya dengan unsur kesaktian yang dapat mengambil wujud. Bahwasanya diperlukan harkat keserasian yang sangat tinggi dan waktu yang lama dalam berlatih. Formasi segel tersebut dikenal sebagai Segel Syailendra.” 

“Segel Syailendra…?” Sejumlah murid demikian penasaran. Di saat yang sama, beberapa murid lain mengangkat tangan hendak memenuhi rasa penasaran mereka. 

“Murid-muridku sekalian, topik perkuliahan kita hari ini adalah seputar lorong dimensi ruang. Perihal Kemaharajaan Cahaya Gemilang serta Segel Syailendra, akan dibahas di dalam mata kuliah Sejarah Formasi Segel dan mata kuliah Segel Khusus. Oleh karena itu, simpanlah dahulu pertanyaan kalian.” 

Sejumlah murid terlihat tak puas. Akan tetapi, tiada dapat mereka memaksakan kehendak. 

Lelaki dewasa muda tersebut menyibak senyum. Ia lalu mengibaskan lengan, dimana sederet prasasti batu mengemuka di hadapan setiap murid. Bagian praktek dalam perkuliahan kali ini akan dimulai. 

“Saat ini kita berada di dalam dimensi ruang berlatih milik Perguruan Gunung Agung. Berdasarkan penjelasan yang telah diriku sampaikan tadi, coba masing-masing dari kalian membuka lorong dimensi ruang dengan memanfaatkan batu-batu prasasti itu. Tujuannya adalah kembali ke Perguruan Gunung Agung.”

Sejumlah murid terlihat kebingungan. Mereka baru saja memperoleh uraian teori, bagaimana mungkin dapat mempraktekkan pengetahuan yang baru di dapat secepat itu. 

“Prasasti batu ini telah dipersiapkan khusus agar dapat membuka gerbang dimensi ruang dengan mudah.” Sang Guru Muda meyakinkan. 

Sejumlah murid, meski masih ragu, segera mendatangi prasasti batu masing-masing. Mereka lalu merapal. Ada yang dapat membuka lorong dimensi ruang seketika itu juga, ada yang perlu mengulang sampai beberapa kali, ada pula yang harus dibimbing oleh sang Guru Muda. Pada akhirnya, belasan murid membuka lorong dimensi ruang dan kembali ke Perguruan Gunung Agung. 

Perkuliahan hari ini berakhir sudah. Si Guru Muda terlihat puas. Ia pun hendak menyusul keluar dari ruang dimensi berlatih tersebut. Akan tetapi, belum sempat ia merapal formasi segel, sebuah lorong dimensi ruang berpendar di dekat dirinya. Di kala terbuka penuh, sesosok tubuh pun melangkah keluar. 

“Yo… Khandra….” Seorang lelaki dewasa muda menyapa sambil mengibaskan telapak tangan, sesaat keluar dari lorong dimensi ruang. “Lama tiada bersua.” 

Keduanya terlihat hampir sepantaran.

Guru Muda Khandra mundur selangkah. Ia tiada menduga akan kedatangan tokoh tersebut. Dirinya berupaya menahan keterkejutan dan tetap berupaya tampil tenang. Walau, raut wajahnya tiada dapat berbohong. Seberkas kecemasan terpancar dari sorot kedua matanya.

“Kakak Sepupu…” 

“Sudah berapa lama dikau berada di Perguruan Gunung Agung…?” sela lelaki dewasa muda yang baru datang itu. “Bagaimana mungkin keberadaan dikau bisa luput dari pantauanku…?”

Guru Muda Khandra tersenyum kecut. “Belum terlalu lama,” ucapnya cepat. 

“Menurut hasil penelusuranku, adalah dikau yang mengirimkan si bodoh dan ceroboh menuju Kemaharajaan Cahaya Gemilang… Bukankah demikian…?” Ia berujar tanpa basa-basi, langsung menohok ke ulu hati. 

“Si bodoh dan ceroboh…?” ulang Guru Muda Khandra. Walau, segera ia dapat menyimpulkan siapa sesungguhnya tokoh yang dimaksud. 

“Jangan berpura-pura dungu…” 

“Kadatuan Kesembilan semakin terpuruk. Gelaran akbar segera berlangsung. Diriku terpaksa…”

“Terpaksa apa…?” Wajah lelaki dewasa muda itu berubah serius. “Terpaksa menyusahkan diriku ini…?” 

“Kakak Sepupu… Semua yang kulakukan semata demi martabat dan kelangsungan keluarga besar kita.”

“Aaaarrgghh…,” lawan bicaranya setengah meraung. “Jangan mengumbar alasan itu di hadapanku!” 

“Kakak Sepupu… Kita berada di dalam dimensi ruang milik Perguruan Gunung Agung. Sebagai Petaka Perguruan, sangatlah besar risiko kedatanganmu ini.” Guru Muda Khandra berujar datar. 

“Apakah dikau mengancam diriku, wahai…?” Sebelah alisnya meninggi. 

“Diriku tiada berani…” 

Terlepas dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, Guru Muda Khandra malah mengeluarkan sebuah lencana berwarna perak. Lencana tersebut berbentuk persegi lima, berukuran selebar kepalan tangan bayi. Pada permukaannya, terdapat ukiran sebuah gapura. Di balik gapura terukir pula sebuah gunung, yang disertai dengan ornamen-ornamen lain yang juga menghiasi lencana, seperti kipas dan teratai. Lencana Perak Perguruan Gunung Agung!

“Sudah!” bentak lawan bicaranya. “Balaputera Khandra, kau ikut denganku saat ini juga. Kita akan segera berangkat menuju Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” 

“Tidak!” tegas Guru Muda Khandra. “Masih ada beberapa hal yang perlu diriku tuntaskan!” 

“Aku memaksa…” Di saat yang sama, aura tenaga dalam Kasta Perak menyibak kental di dalam dimensi ruang berlatih. Manik-manik tasbih berwarna hitam Aksamala Ganesha membesar seukuran buah semangka, dan melayang mengitari empunya, menunggu perintah. 

“Kakak Sepupu, Balaputera Lintara, diriku tiada hendak bertarung…” 

Kendatipun berujar demikian, Guru Muda Khandra memasang kuda-kuda. Lagi-lagi, perkataan yang keluar dari mulutnya bertentangan dengan tindakan. Di saat yang sama, empat buah formasi segel nan rumit, masing-masing berukuran sebesar roda pedati, berpendar di balik tubuhnya. Perlahan, keempat formasi segel tersebut mengambil wujud seekor kura-kura, seekor elang, seekor keledai, dan seekor marmut.   

“Segel Syailendra!”


===


Bintang Tenggara terpana. Sang penguasa Kemaharajaan Cahaya Gemilang baru saja menyebut namanya secara lengkap, dengan penekanan pada kata ‘Gara’ di belakang. Oh… bahkan sebelum itu, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa menambahkan kata ‘Balaputera’ sebagai nama depan!

Seluruh pandangan tertuju kepada anak remaja tersebut. Bintang Tenggara menatap ke bangku deretan depan, berharap akan memperoleh sekedar petunjuk. Balaputera Rudra dan Balaputera Samara masih duduk tenang di bangku mereka. Berbeda dengan seluruh khalayak yang menatap dirinya, kedua tokoh tersebut bahkan tiada menoleh ke belakang. 

Bintang Tenggara mencari-cari jawaban. Kejanggalan sempat terbersit di dalam benaknya ketika mengetahui bahwa kata ‘Balaputera’ merupakan semacam nama marga para bangsawan Wangsa Syailendra ini. Ia pun sempat mengaitkan dengan nama sang ayahanda. Akan tetapi, segera ia menepis pemikiran tersebut, karena beranggapan hanyalah kebetulan saja. 

Namun kini, dirinya menjadi pusat perhatian. Siapakah Dharanindra? Siapakah Ragrawira? Cucu? Anak? Demikian banyak pertanyaan menyeruak di dalam benak Bintang Tenggara. 

“Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang,” tetiba suara berat terdengar datang dari arah Kadatuan Kedua. “Sepanjang pengetahuan hamba, Balaputera Ragrawira yang telah lama meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang, hanya memiliki seorang anak bernama Balaputera Lintara.” 

Balaputera Lintara…? Batin Bintang Tenggara. Siapa lagi itu…?

“Hahaha…,” tawa membahana datang dari Kadatuan Kedelapan. “Aturan dari manakah yang menyebutkan bahwa bilamana pasangan suami-istri memiliki keturunan, maka wajib mereka melapor kepada engkau…?” cibiran terdengar dari seorang Datu. 

Suasana tetiba memanas. Datu dari Kadatuan Kedua dan Datu dari Kadatuan Kedelapan saling pandang. Sepertinya, hubungan tak akur antara kedua Kadatuan ini memanglah sudah lama tertanam. Bila dicermati lagi, yang satu bergelut dalam dunia politik dan mengincar tahta, sementara satunya lagi hidup bebas tanpa beban apa pun. Secara prinsip, memang kedua keluarga bangsawan ini sangatlah bertolak belakang. 

“Duar!” 

Sebuah ledakan tenaga dalam mengemuka di Kadatuan Kedua. Sang Datu menghentakkan tenaga dalam. Aura Kasta Emas Tingkat 8 bergelora dari sekujur tubuhnya. 

Sebagai catatan, ahli perkasa di perguruan-perguruan besar di Negeri Dua Samudera, paling tinggi diketahui berada pada Kasta Emas Tingkat 7, yang mana jumlah mereka sangatlah terbatas. Bila sang Datu dari Kadatuan Kedua ini berada pada Kasta Emas Tingkat 8, maka bukankah ia dapat dengan mudahnya menginjak-injak banyak ahli di luar sana…?

“Jaga kata-katamu…,” ancam Datu dari Kadatuan Kedua sambil mengacungkan jari ke arah Kadatuan Kedelapan.” 

“Huahaha…” 

Datu dari Kadatuan Kedelapan melontar kepala ke atas di saat tertawa semakin lebar. Ancaman ditanggapi dengan gelak tawa lepas. Ia kemudian melayang perlahan, aura tenaga dalam yang terpancar dari tubuhnya bertambah… dan terus bertambah. Pada akhirnya, ia pun berada pada Kasta Emas Tingkat 8!

Di atas panggung megah di tengah gelanggang, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang bahkan tiada mengindahkan perseteruan yang saat ini sedang berlangsung. Kedua matanya masih terpusat kepada Bintang Tenggara. 

“Kemenakanku… putra dari adik bungsuku,” bisik Ayahanda Sulung Rudra. “Penuhilah titah Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang.” 

Ibunda Samara kemudian menoleh. Senyumannya demikian teduh. “Kami mohon…” 

Anak remaja itu semakin terpana. Mungkinkah sedari awal kakak beradik ini telah menyadari jati dirinya…? Walaupun demikian, tubuhnya seolah tiada dapat menolak. Perlahan, ia bangkit berdiri. 

“Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang…” Datu dari Kadatuan Ketujuh berdiri lalu membungkukkan tubuh. “Bilamana anak itu adalah benar putra dari Balaputera Ragrawira, yang telah lama menghilang dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, tentu dirinya berhak ikut serta di dalam Gelaran Akbar Pewaris Tahta…” 

Bintang Tenggara mendapati Ayahanda Rudra menoleh pelan ke samping, ke arah Kadatuan Ketujuh. Sebuah tatapan penuh curiga terpampang dari raut wajahnya. 

“Akan tetapi…,” sambung Datu dari Kadatuan Ketujuh itu, “bukankah prasyarat keikutsertaan dalam Gelaran Akbar Pewaris Tahta adalah generasi ketujuh yang berusia di bawah 20 tahun dan setara dengan… Kasta Perak?”

Nada suara dan kata-kata yang disampaikan Datu Kadatuan Ketujuh terdengar ringan. Akan tetapi, sangat jelas bahwa ia menekankan pada prasyarat ‘Kasta Perak’. Dilihat dari sudut pandang mana pun, Balaputera Gara alias Bintang Tenggara, hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Tiada siapa yang mengetahui dirinya sebagai seseorang dengan Jalan Keahlian Laksamana, dan kini berada pada Kasta Perunggu Tingkat 10. 

Datu Kadatuan Kedua yang tadinya dipenuhi amarah, menyunggingkan senyum. Sebaliknya, Datu Kadatuan Kedelapan terlihat seolah mencari kata-kata.

Di lain sisi, karena Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang masih diam memandangi, Bintang Tenggara mengambil selangkah maju. 

“Bocah!” seru Datu dari Kadatuan Ketujuh. Tenaga dalam Kasta Emas Tingkat 7 mengemuka.

Bintang Tenggara merasakan tekanan yang sangat berat terhadap tubuhnya, dan menjalar ke mustika di ulu hati. Karena sudah berpengalaman dihentak tenaga dalam oleh sejumlah ahli, anak remaja itu menyadari bahwa Datu dari Kadatuan Ketujuh itu merupakan ahli Kasta Emas. Menurut Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, Kasta Emas sangat berbeda dengan Kasta Perak dalam hal usia. Ahli Kasta Perak yang menerobos ke Kasta Emas Tingkat 1 akan dapat hidup sampai berusia 500 tahun. Setelah itu, setiap kenaikan satu tingkat, maka seorang ahli akan memperoleh tambahan usia sebanyak 50 tahun. Dengan kata lain, ahli Kasta Emas 9 dapat hidup sampai usia 900 tahun, sebelum akhirnya menutup usia, atau naik mencapai Kasta Bumi. 

Di bawah tekanan ahli yang demikian digdaya, ahli rendahan biasanya terpaku kaku dan tiada dapat mengerahkan tenaga dalam dari mustika. Akan tetapi, tetiba anak remaja itu merasakan sesuatu yang tak lazim di ulu hati. Akar Bahar Laksamana bergerak mengencang melilit mustika di ulu hati, dan pergerakan tersebut memperbolehkan Bintang Tenggara mengalirkan tenaga dalam untuk sekedar bertahan dari tekanan nan maha dahsyat!

Ayahanda Rudra bangkit berdiri. Kedua tangannya terlihat merapal formasi segel ke arah ulu hatinya sendiri. Kemudian, ia melakukan gerakan menyentak, seolah sedang melepaskan sesuatu. Seketika itu pula, aura tenaga dalam menyibak kental. Kasta Emas Tingkat 8!

Di kala pergolakan antar Kadatuan berlangsung secara terbuka, seluruh khalayak di tribun luar hanya terpana. Sunyi dan senyap. Bagi rakyat jelata seperti mereka, menyaksikan para Datu unjuk gigi merupakan pemandangan yang teramat sangat langka. 

“Datu Kedatuan Ketujuh, jangan lancang terhadap kemenakanku!” Ayahanda Sulung Rudra membentak demikian perkasa. Mungkinkah selama ini ia menyegel mustika di ulu hatinya sendiri agar terkesan lemah…?

Datu Kedatuan Ketujuh mundur selangkah. Tiada pernah di dalam mimpi buruknya sekalipun, mendapati akan tiba pada hari dimana ia tertekan oleh Kadatuan Kesembilan. Raut wajahnya memerah berang.

Di saat yang sama, tekanan yang mendera tubuh Bintang Tenggara lenyap. Anak remaja itu melanjutkan langkah. Ia melewati Balaputra Samara yang masih duduk tenang dan Balaputera Rudra yang berdiri perkasa. Kedua tokoh tersebut membalas tatapan dengan anggukan.

“Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang.” Datu Kadatuan Keempat bangkit berdiri lalu membungkukkan tubuh. “Mohon ampun beribu ampun… Akan tetapi, keikutsertaan anak itu hanya akan menimbulkan perpecahan di dalam kemaharajaan. Sebagaimana diketahui, ia tiada layak ambil bagian di dalam Gelaran Akbar Pewaris Tahta… Ia tiada setara Kasta Perak.”

Sang Datu dari Kadatuan Kesatu hendak bersuara. Akan tetapi, terlihat ia mengurungkan niat. Tak hendak Kadatuan yang dikenal netral, malah memperburuk perseteruan yang sedang berlangsung.

“Wahai Yang Terhormat Datu dari Kadatuan Keempat,” tetiba suara seorang perempuan datang dari Kadatuan Kesembilan. “Sebagaimana yang diutarakan oleh Yang Terhormat Datu Kadatuan Ketujuh, bahwasanya prasyarat keikutsertaan dalam Gelaran Akbar Pewaris Tahta adalah… berdarah wangsa Syailendra, berada pada generasi ketujuh, berusia di bawah 20 tahun, dan setara dengan Kasta Perak.”

Suara perempuan itu demikian jernih, namun di saat yang sama mengandung ketegasan. 

“Cermatilah dengan seksama,” Balaputra Samara melanjutkan. “Prasyarat menyebutkan ‘setara dengan Kasta Perak’ bukanlah berarti harus ‘berada pada Kasta Perak’.”

Datu dari Kadatuan Keempat melotot. 

“Benar!” tetiba sahutan terdengar dari kubu Kadatuan Keenam. Sang Datu berdiri tersipu. “Adinda Samara… ehem… maksudku… Yang Dipertuan Tengah dari Kadatuan Kesembilan benar. Semua dari kita tentu mengetahui bahwa ada saja ahli yang tampil menantang nalar. Dari waktu ke waktu, akan lahir ahli Kasta Perunggu yang memiliki kemampuan tempur setara dengan ahli Kasta Perak.” 

“Omong kosong!” Datu Kadatuan Kedua semakin berang. 

“Hahaha…,” gelak Datu Kadatuan Kedelapan, sampai perutnya berguncang-guncang. “Senangnya engkau menjilat ludah sendiri. Bukankah sewaktu muda dahulu engkau sangat membanggakan kemampuan mengalahkan lawan yang berada pada Kasta Perak Tingkat 1… meski masih berada Pada Kasta Perunggu Tingkat 9…?” 

“Cih! Jangan kau samakan aku dengan sembarang bocah!”

“Balaputera Gara… adalah keturunan dari pahlawan besar Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Apakah kalian melupakan sosok Balaputera Dharanindra? Apakah kalian melupakan pengobanan jiwa dan raga agar kita dapat tiba dan menetap sampai hari ini di dalam dimensi ruang ini? Siapa di antara kalian yang meragukan kemampuan cucunya?”

Akhirnya, seorang kakek tua dari Kadatuan Kesatu yang angkat suara. Ia adalah sang Datu Tua. Mendengar kata-kata sang kakek, Datu dari Kadatuan Kedua, Keempat dan Ketujuh menggeretakkan gigi. Datu Kadatuan Kedelapan kembali tertawa lebar. Datu Kadatuan Kesatu, Ketiga dan Kelima duduk tiada bergeming. Datu Kadatuan Keenam semakin tersipu malu, apalagi tadi Ibunda Samara melontar senyum ke arahnya. Datu Kadatuan Kesembilan kembali duduk di bangku kehormatan. 

Di sudut jauh, Bintang Tenggara pun melanjutkan langkah. Ia seolah sedang meniti anak tangga, lalu berjalan di udara. Pada kenyataanya, Segel Penempatan berpendar di bawah telapak kaki pada setiap satu langkah. Anak remaja itu tiada lagi perlu melakukan gerakan melontar. Kemampuan merapal segel ini baru ia peroleh setelah bertukar pikiran dengan Wara setiap usai berlatih. 

Di kala Bintang Tenggara seolah melangkah di udara, gemuruh sambutan khalayak di tribun luar bergema. Tak satu pun dari mereka yang menyangsikan kemampuan cucu seorang pahlawan besar. Bisik-bisik tentang kemungkinan anak remaja tersebut berasal dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa mulai merebak. Atau dengan kata lain, di antara khalayak ramai, ada yang menyadari bahwa ia adalah remaja yang sama dengan yang menggemparkan Kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli beberapa waktu lalu. 

Sesampainya di panggung kecil yang disediakan bagi perwakilan Kadatuan Kesembilan, Balaputera Prameswara melompat dan memeluk tubuh Bintang Tenggara, alias Balaputera Gara. Air mata saudara sepupu itu pun jatuh berlinang tiada terbendung.