Episode 208 - Ma Ha Ja Ya Na Ta Na Ga Ra



Seluruh rakyat masih bersimpuh sujud, para bangsawan membungkukkan tubuh. Seorang anak remaja di Kadatuan Kesembilan menatap jauh ke sosok di atas panggung. Wajahnya terkesima kala mendengar nama yang baru saja dikumandangkan. 

Di depan kursi singasana yang terbuat dari formasi segel, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa menyapu pandang. Tatapan matanya terhenti, di kala mendapati seorang anak remaja nan terpana. 

Bintang Tenggara tetiba merasa tekanan berat mendera tubuhnya. Jantung berdetak keras, cairan darah seolah menggelegak, dan keringat bercucuran. Dengan segala daya upaya dirinya memaksa kedua lutut untuk tak bertekuk dengan sendirinya. Tatapan mata sang penguasa dan dirinya hanya bertemu selama beberapa saat, akan tetapi bagi si anak remaja dalam beberapa saat tersebut waktu seperti terhenti. Selama hidupnya, baru kali ini Bintang Tenggara merasakan hawa yang demikian mendominasi dari seorang ahli. 

Wara menyentak keras lengan bajunya. Bintang Tenggara, yang masih takjub karena mendengar nama Balaputera dan bertatapan mata, sontak tersadar dan membungkukkan tubuh. 

Bukan, batin Bintang Tenggara di kala merunduk. Lelaki setengah baya yang merupakan sang penguasa negeri ini bukanlah Ayahanda Balaputera. Walau samar, dirinya masih mengingat perawakan sang ayah. Mungkin hanya kebetulan saja bernama serupa. 

“Bangkitlah!” 

Suara menggelegar menggetarkan segenap hadirin. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa telah duduk perkasa di singasana yang terbuat dari jalinan formasi segel, dan ia mempersilakan kepada segenap hadirin untuk bangkit. 

Sesuai arahan junjungan mereka, rakyat di tribun luar berdiri dari posisi bersujud dan kembali menempati bangku. Para bangsawan dari sembilan Kadatuan pun telah duduk di tribun kehormatan mereka masing-masing. 

Di atas panggung megah, duduk di singasana formasi segel, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang mengibaskan lengan. Seketika itu juga, sembilan formasi segel dengan berbagai simbol berpendar di dekat kursi singasana. Ukurannya sebesar piring, dan setengah transparan mirip dengan Segel Penempatan milik Bintang Tenggara. Akan tetapi, kesembilan formasi segel tersebut berkali-kali lebih rumit susunannya. 

Kesembilan formasi segel kemudian bergerak teratur dalam kecepatan sedang mengelilingi singasana. Kejadian ini menambah kesan agung dari sang penguasa. Seluruh hadirin mengamati dengan seksama, dan menanti dengan sabarnya. 

Dengan sekedar jentikan jemari, sang penguasa negeri membuat salah satu formasi segel melesat ke arah si pembawa acara. 

Formasi segel tersebut kemudian disambut si pembawa acara dengan membuka kedua telapak tangan. Ia mulai mengamati formasi segel tersebut seolah sedang membaca dengan tekun dan teliti. 

“Dari Kadatuan Kesatu,” ujar pembawa acara lantang. Rupanya, memanglah benar ia sedang membaca formasi segel yang berpendar di hadapannya. 

“Balaputera Vikrama!” seru si pembawa acara membahana.

Sambutan khalayak terdengar riuh rendah di kala seorang remaja lelaki bangkit dari bangkunya di antara anggota keluarga Kadatuan Kesatu. Sepertinya remaja tersebut sudah sangat dikenal dan menjadi idola ramai. Bagaimana tidak, wajahnya tampan, pakaian yang ia kenakan tertata rapi dan mewah. Sebilah pedang ditenteng pada tangan kiri. Pembawaannya demikian tenang dan aura yang tepancar dari dirinya demikian perkasa.

Ia kemudian menggerakkan jemari tangan kanan, dimana sebuah formasi segel merangkai, kemudian berubah wujud menjadi sebilah pedang berukuran besar. Remaja lelaki tampan, kemudian melompat ringan ke atas formasi segel yang baru saja dirapal itu, lalu melesat ibarat berselancar di atas pedang ke arah panggung utama. 

Di saat yang sama, sebuah panggung berukuran lebih kecil dan pendek mengemuka di bawah panggung utama. Ia pun mendarat di sana. 

Suara dukungan berubah menjadi pekik histeris gadis-gadis belia di tribun luar. Sepertinya, sudah sedari tadi mereka menanti kemunculan remaja tersebut. 

“Balaputera Indravarma! Balaputera Vikatama!” Lanjut pembawa acara. 

Di saat yang sama, masih dari Kadatuan Kesatu, dua lagi remaja lelaki melompat dan berselancar di atas formasi segel. Kali ini formasi segel mereka berwujud sebilah tombak dan parang besar. Tak perlu waktu lama bagi keduanya untuk tiba di sebelah remaja lelaki sebelumnya.  

“Hei Wara!” Bintang Tenggara menarik paksa bahu temannya itu. “Mengapakah mereka bertiga bernama Balaputera!?”

Wara, yang ikut terpesona saat menyaksikan para perwakilan dari Kadatuan Kesatu, tersadar dari lamunannya. “Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa adalah kakek kakek buyut kami. Seluruh keturunan bangsawan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang bernama depan Balaputera.” 

“Dikau juga!?” Bintang Tenggara melotot. 

“Iya.” Wara terlihat tak nyaman.

Formasi segel yang tadi dibaca dan berpendar hadapan pembawa acara, meredup lalu sirna. Tak lama, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang kembali menjentikkan jemari. Formasi segel kedua pun melesat cepat ke arah pembawa acara.

“Dari Kadatuan Kedua!” kumandang si pembawa acara.

“Balaputera Kundaha, Balaputera Kataha, Balaputera Durmaha, Balaputera Jalasaha, Balaputera Ugraha, Balaputera Dirgaha!”

Enam remaja, empat lelaki dan dua perempuan, bangkit hampir bersamaan dari kubu Kadatuan Kedua. Mereka kemudian berkumpul dan serempak mengibaskan tangan. Sebuah formasi segel berpendar melingkar di bawah kaki mereka, lalu membuka lorong dimensi ruang. Serta merta keenam remaja terperosok jatuh dan menghilang. 

Di saat yang sama, di atas panggung kecil kedua di dekat panggung utama, sebuah formasi segel lain telah berpendar dan membuka lorong dimensi ruang. Tetiba, keenam remaja terlihat turun dari gerbang dimensi tersebut, dan mereka pun mendarat ringan. Tak ada sedikit pun bercak perubahan pada raut wajah setiap satu dari mereka. Dingin.

Suara hadirin kembali membahana. Tak dapat dipungkiri bahwa atraksi para bangsawan muda ini merupakan bagian dari menu pembuka yang telah dinanti-nanti lama. 

Wara terlihat ciut. Persiapan Kadatuan Kedua telah sangat matang, dimana mereka berhak mengirimkan demikian banyak bangsawan muda untuk bersaing mewarisi tahta. Di saat yang sama, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang kembali menjentikkan jemari. Formasi segel ketiga melesat cepat. 

“Kadatuan Ketiga! Balaputera Arja, Balaputera Senja, Balaputera Prabaja!”

Kali ini, tiga remaja lelaki membuat formasi segel yang berwujud lumba-lumba, paus dan hiu. Diketahui bahwa Kadatuan Ketiga menguasai sektor maritim di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Dengan gagah dan perkasa, masing-masih dari mereka berdiri di atas formasi segel yang berwujud binatang laut dan tiba di panggung kecil ketiga. 

“Kadatuan Keempat! Balaputera Udayaditya, Balaputera Atikaya, Balaputera Bimaya, Balaputera Citaseraya!”

Kali ini, dua remaja lelaki dan dua remaja perempuan. Mereka merapal formasi segel secara bersama-sama. Tak lama, sebuah kereta nan tersusun indah dari formasi segel, berpendar. Kereta tersebut memiliki dua pasang roda, namun tiada bertutup dan tiada pula berkuda. Keempat remaja lelaki dan perempuan menaiki anak tangga dengan perlahan. Kemudian, perlahan pula kereta tersebut mengantarkan mereka ke panggung keempat. 

Wara terlihat semakin gugup. Gadis terakhir dari Kadatuan Keempat adalah yang ia kenal sebagai Raya, dan tak lain adalah yang selama ini senang merisak dirinya.

“Kadatuan Kelima! Balaputera Vana, Balaputera Swarna, Balaputera Karna, Balaputera Prana.”

Lagi-lagi dua pasang muda-mudi. Kali ini, para remaja perwakilan dari Kadatuan Kelima membangun sebuah jembatan dari formasi segel. Sungguh jembatan itu demikian megah tanpa cela. Lalu, mereka melangkah ringan mencapai panggung kelima.  

Sampai di titik ini, Bintang Tenggara mengingat akan kata-kata Sangara Santang kala di Kota Ahli. Ketika ditanyakan apakah mengetahui di mana keberadaan Ayahanda Balaputera, lelaki dewasa muda itu mengatakan bahwa ia banyak mengenal tokoh bernama Balaputera. Rupanya, Sangara Santang tiada berdusta. (1)

“Kadatuan Keenam! Balaputera Shinta, Balaputera Sevita, Balaputera Naranta, Balaputera Kacita, Balaputera Windata, Balaputera Rinta!”

Enam gadis belia dari Kadatuan Keenam, mengenakan kemben dari kain songket yang dipadu-padankan dengan selendang lembut. Roman wajah dan lekuk tubuh mereka mengundang decak kagum dari para hadirin di seantero tribun luar. Bahkan, tak sedikit ahli dari tribun kehormatan yang ikut tersirap.

Gadis-gadis belia nan cantik jelita tersebut lalu melentikkan jemari. Serempak, formasi segel yang berwujud sayap mengemukan di punggung nan mulus, ramping, dan dihiasi rambut-rambut halus. Perlahan-lahan mereka mengudara… Sungguh seperti pemandangan yang banyak dilukiskan dalam kisah-kisah legenda, di kala para dewi turun dari kahyangan di atas sana. 

Keenam gadis belia pun melayang-layang genit ke arah panggung kecil keenam. Namun, yang paling menyita perhatian, adalah gadis belia yang melayang paling tengah. Kecantikannya tiada terperi dan pembawaannya demikian gemulai.  

“Eh?” Bintang Tenggara memang telah pulih dari keterkejutannya akan nama Balaputera. Akan tetapi, sedari tadi ada yang mengganjal di benak. Kembali ia menarik lengan Wara. “Mengapa suku kata terakhir dalam nama mereka-mereka itu senada?”

Wara yang sedang terlena, merasa tergangggu. “Ma Ha Ja Ya Na Ta Na Ga Ra, adalah urutan suku kata terakhir dari nama setiap bangsawan di kesembilan Kadatuan,” jawab Wara, yang mulai merasa sedikit risih karena berkali-kali ditarik. 

“Maha jaya nata nagara...?” gumam Bintang Tengara. “Ada dua ‘na’?” ajunya polos. 

“Jumlah suku kata pada nama-nama anggota Kadatuan Kelima hanya ada dua. Sedangkan nama pada anggota Kadatuan Ketujuh terdiri dari tiga suku kata.”

“Kadatuan Ketujuh! Balaputera Ardhana, Balaputera Maryana, Balaputera Bisana, Balaputera Kirana!”

Bintang Tenggara akhirnya mengerti. Pantas saja suku kata terakhir pada nama anggota keluarga Kadatuan Kesembilan pun senada. Rudra, Samara, Wara… 

“Hm… Wara…? Apakah dikau pernah mendengar akan nama… Khandra?”

“Hah!?” Wara hampir melompat dari tempat duduknya. “Khandra adalah nama kakak kandungku! Apakah dikau pernah bertemu dengan dirinya!? Dimanakah ia kini berada!?”

“Hmph!” Bintang Tenggara merasa dikerjai. Sebagaimana diketahui, adalah Guru Muda Khandra yang awalnya menugaskan untuk berkunjung ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Muslihat apakah ini? Tunggu saja… Bila nanti kembali ke Pulau Dewa, diriku akan menuntut balas! Bintang Tenggara demikian geram.  

“Kadatuan Kedelapan!” Pembawa acara melanjutkan dengan suara membahana. Sebagai tanggapan, sambutan khalayak di tribun luar tetiba bergelora. Sepertinya, ada yang sudah lama mereka nanti-nantikan.

“Balaputera Saratungga!” 

Seorang gadis belia bertubuh bongsor melompat ke panggung kedelapan. Sungguh unik! Gadis tersebut hanya mengenakan pakaian dalam yang terbuat dari kulit harimau. Meskipun demikian, kulit tubuh yang seharusnya terpapar pandangan mata, malah dipenuhi dengan formasi segel yang seolah berperan sebagai baju zirah setengah transparan. Sungguh mengundang hasrat. 

“Balaputera Naga!” 

Seorang remaja lelaki, mengenakan cawat hitam yang terbuat dari kulit buaya, melompat tinggi, tinggi sekali. Wahai sekalian ahli baca, janganlah terlalu memperhatikan cawat nan kecil yang dikenakan remaja lelaki itu, karena yang lebih menakjubkan adalah formasi segel yang berwujud seekor naga. Ukurannya sebesar ular sawah yang bergerak meliuk-liuk mengitari tubuhnya. Sungguh garang dan buas adanya!  

“Duar!” Balaputera Naga mendarat keras. Para remaja dari Kadatuan lain terpaksa memasang formasi segel untuk melindungi diri mereka dari serpihan ubin yang terlontar ke semerata penjuru. 

Ketibaan Balaputera Naga yang demikian cetar, membuat sejumlah khalayak di tribun semakin menggila! Tua dan muda, berteriak lantang menyuarakan kekaguman dan dukungan mereka. Sepertinya, remaja kali ini merupakan salah satu tokoh utama dalam hajatan akbar. Bersama dengan remaja dari Kadatuan Kesatu, ia merupakan unggulan sebagai calon pewaris tahta! 

Di atas panggung singasana, hanya tersisa satu formasi segel yang berputar-putar. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang kembali menjentikkan jemari dan melesatkan formasi segel terakhir itu ke arah si pembawa acara. Di saat yang sama, tubuh Wara tergolek lemas di kursi, seolah ia kehilangan tulang belakang. Wajah tirusnya memutih. Tatapan matanya kosong. Ini bukanlah lagi petanda seseorang yang gugup, melainkan seseorang yang sebentar lagi akan menghembuskan napas terakhir!

Bintang Tenggara turut prihatin. Di kala Kadatuan lain mengirimkan lebih dari satu anggota, Wara hanyalah seorang diri. Ia pun mengguncang-guncangkan tubuh temannya itu, berupaya menyadarkan. Ayahanda Sulung Rudra dan Ibunda Samara di bangku kerhormatan paling depan menahan diri dari mendatangi wakil mereka. 

“Kadatuan Kesembilan…” Pembawa acara berujar sekenanya. “Balaputera Prameswara!” 

Wara, yang ditopang Bintang Tenggara, bangkit berdiri. 

Apa hendak dikata, hajatan akbar ini haruslah dilalui. Remaja itu memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu melompat maju!

“Sreeeet!” 

Kedua belah tangan Wara bergerak tak menentu seolah mencoba mengapai sesuatu di udara kosong. Ia hampir saja jatuh terpeleset ke bawah panggung utama! Di kala mendarat, ia menginjak serpihan ubin yang berserakan akibat hentakan kaki Balaputera Naga di panggung sebelah. Untung saja remaja itu masih dapat menjaga keseimbangan. Meski demikian, gelagatnya itu mengundang cibiran dari beberapa remaja dari Kadatuan lain, serta gelak tawa dari sejumlah khalayak di tribun luar. 

Sungguh, sebuah anti klimaks. Di kala perwakilan dari delapan Kadatuan sebelum ini mengemuka, kesemuanya menampilkan atraksi yang menggelora. Remaja-remaja tersebut menunjukkan kualitas mereka sebagai calon yang layak menjadi pewaris tahta. Akan tetapi, kini, dari Kadatuan Kesembilan, hanya seorang remaja nan lemah. Bagi sebagian, adalah tiada layak bagi remaja itu berada di atas panggung yang setara dengan para perwakilan dari delapan Kadatuan lain. 

Bersamaan dengan itu, si pembawa acara malah terlihat kebingungan. Formasi segel terkait Kadatuan Kesembilan belum menghilang. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah mencari-cari sesuatu nan tiada. Sejumlah Kadatuan dan khalayak mulai menyadari gelagat yang tak lazim. 

“Kadatuan Kesembilan…” Ia membaca pelan. “Balaputera Gara!”

Walau tak terlalu lantang, segenap hadirin di dalam gelanggang mendengar panggilan tersebut. Seluruh perhatian langsung terpusat ke Kadatuan Kesembilan. Apakah telinga mereka tak salah mendengar…? Siapakah yang dimaksud dengan Balaputera Gara…? Diketahui bahwa hanya ada seorang remaja payah yang akan mewakili Kadatuan nan lemah.  

Waktu berlalu, tokoh yang dipanggil tiada mengemuka. Di depan sana, Balaputera Prameswara terlihat bingung dan ikut mencari-cari. Khalayak pun mulai berbisik-bisik, sebagaimana para ahli baca, menduga-duga akan kemungkinan yang ada. 

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang, Balaputera Dewa, bangkit dari kursi singasana. Kemudian, ia menggerakkan jemari, dan formasi segel di hadapan pembawa acara melesat kembali. 

Seluruh khalayak terdiam, dan kini perhatian terpusat kepada sang penguasa di panggung utama. Di dalam benak, mereka bertanya-tanya. Meskipun demikian, sabar mereka menanti ketika sang penguasa negeri mengamati dengan seksama formasi segel yang telah tiba di hadapannya. Lelaki berperawakan setengah baya itu kemudian menatap dalam ke arah Kadatuan Kesembilan…

“Cucu dari Balaputera Dharanindra!” 

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang, Balaputera Dewa berkumandang. Setiap penjuru Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang dapat mendengar dengan sangat amat jelas.

Sejumlah hadirin terkesima. Para Datu dari Kadatuan Kesatu sampai dengan Kadatuan Kedelapan sontak bangkit berdiri di kala mendengar nama tersebut diutarakan. Ada yang memasang wajah tegang, ada yang cemas, ada yang tersenyum, ada pula yang menanti dengan penuh harap. 

“Anak dari Balaputera Ragrawira!” 

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang melanjutkan. Suaranya semakin keras mengumandang.

Seluruh Datu dari delapan Kadatuan lain mengudara. Mereka tak dapat menahan diri, karena hendak memastikan secara langsung. Tatapan mata setiap satu dari mereka tertuju pada Kadatuan Kesembilan, kemudian beralih kepada tribun khalayak luar. Mereka sedang mencari-cari. 

Pada akhirnya, mereka menatap tajam ke arah seorang anak remaja yang duduk di bangku barisan ketiga di Kadatuan Kesembilan. Wajah anak remaja tersebut polos tiada berdosa, namun ia mengenakan pakaian kebesaran, layaknya seorang putra bangsawan.

“Bangkitlah!” panggil Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang. “Wahai Balaputera… Bintang Teng-GARA!”



 Catatan:

 (1) Episode 97.