Episode 29 - Markas Kelompok Daun Biru



“Itupun jika mereka bersedia bernegosiasi,” Seorang lelaki tua masuk ke ruang tamu dan langsung duduk disebelah Yanuar. Ini pertama kalinya aku melihat orang tua tersebut, dia tidak muncul saat kompetisi tiga perguruan maupun saat Yanuar memintaku bergabung dengan Kelompok Daun Biru.

“Tapi tak ada salahnya kita mencoba.”

“Aku akan mencoba menghubungi Perserikatan Tiga Racun untuk mengatur pertemuan dengan mereka… Arman, informasikan pada seluruh anggota agar berhati-hati, jangan bepergian dulu sebelum masalah dengan Perserikatan Tiga Racun benar-benar tuntas.” Setelah sempat terdiam sebentar, Yanuar segera memberikan instruksi pada Arman.

“Baik!” Arman segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang tamu. 

“Rik, perkenalkan, ini tetua Seto, tetua Kelompok Daun Biru,” Segera setelah Arman meninggalkan ruang tamu, Yanuar memperkenalkanku dengan lelaki tua yang duduk disebelah Yanuar. Orang yang dimaksud Yanuar hanya menganggukkan kepalanya padaku. 

“Salam kenal,” ucapku sambil menganggukkan kepala. 

“Jadi, bagaimana Rik? Apakah kamu sudah memutuskan bergabung dengan Kelompok Dauh Biru?” tanya Yanuar begitu aku dan tetua Seto selesai berkenalan.

“Ya, saya sudah memutuskannya. Saya mau bergabung dengan Kelompok Daun Biru,” jawabku mantap. Setelah melihat bagaimana Kelompok Daun Biru sama sekali tidak menyalahkanku atas pembunuhan empat anggota Perserikatan Tiga Racun, aku merasa tidak ada alasan lagi bagiku menolak bergabung dengan mereka. Lagipula, aku juga memerlukan backing dalam dunia persilatan. Meskipun menurut penuturan Arman, Kelompok Daun Biru tidak terlalu kuat.

Yanuar tersenyum mendengar jawabanku, begitu juga tetua Seto yang duduk di sebelahnya. 

“Jarang ada seorang pendekar tahap penyerapan energi tingkat tiga berusia tujuh belas tahun. Apalagi berhasil membunuh dua orang pendekar tahap penyerapan energi tingkat empat dan dua pendekar tahap penyerapan energi tingkat tiga sekaligus. Merupakan sebuah keberuntungan besar bagi Kelompok Daun Biru jika seorang berbakat sepertimu bergabung dengan kami,” ujar tetua Seto padaku.

Aku hanya tersenyum kecut mendengar pujian tetua Seto tanpa mengucapkan apa-apa, kupikir pujiannya hanya sekedar basa-basi yang tak perlu ditanggapi. Jadi aku tak merasa tinggi hati atau berusaha merendah.

“Baiklah kalau begitu, sementara kita berusaha menyelesaikan masalah dengan Perserikatan Tiga Racun, kau akan tinggal disini dulu. Oh iya, kamu sudah makan Rik?” 

“Eh… belum,” ujarku spontan. Aku baru ingat kalau sejak siang tadi aku belum makan sama sekali. Tiba-tiba saja perutku yang tadi terasa baik-baik saja terasa sangat lapar.

“Kalau begitu, sebaiknya kau makan dulu. Nano!” Yanuar berteriak cukup keras memanggil seseorang.

Tak berapa lama setelah Yanuar memanggil nama Nano, seorang laki-laki gempal berjalan sedikit tergopoh-gopoh menuju ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, dia segera menganggukkan kepalanya sedikit padaku lalu segera menghadap Yanuar.

“No, ini Riki, dia anggota baru Kelompok Daun Biru. Tolong kamu antarkan dia ke ruang makan,” perintah Yanuar pada lelaki gempal itu. “Rik, nanti akan ada orang yang mengurus soal bergabungnya kamu dengan Kelompok Daun Biru. ”

“Mari, mas Riki” Nano si lelaki gempal segera memintaku dengan sopan agar mengikutinya.

Aku segera bangkit dan mengikuti Nano, sementara Yanuar dan Seto tetap di ruang tamu dan berdiskusi berdua. Aku sempat mendengar sekilas topik diskusi mereka sebelum meninggalkan ruang tamu, mereka masih membicarakan tentang Perserikatan Tiga Racun. 

“Rumah ini merupakan markas Kelompok Daun Biru, selain itu, disini juga tinggal beberapa anggota Kelompok Daun Biru. Mas Riki nanti juga tinggal disini?” tanya Nano ditengah perjalanan kami menuju ruang makan. 

“Cuma sementara aja, pak. Saya tetap tinggal di rumah saya,” jawabku secukupnya. 

“Oh… saya pikir mas Riki juga akan tinggal disini,” kata Nano cengengesan.

Tak berapa lama kemudian, kami sampai di ruang makan. Ternyata ruang makan yang dimaksud oleh Yanuar menyatu dengan dapur. Di dapur tersebut terdapat meja panjang seperti meja bar, dan tak jauh dari meja panjang tersebut juga terdapat meja kotak yang cukup besar, cukup untuk tempat makan enam orang sekaligus. 

Nano segera mengambilkan piring dari rak dan meletakkannya di atas meja makan, kemudian membuka tudung makanan di tengah meja makan. 

“Silahkan mas Riki,” ujarnya mempersilahkanku makan. 

“Iya, pak.”

Aku segera mengambil makanan yang tersedia di meja makan dan segera melahapnya tanpa malu-malu. Apa boleh buat, perutku memang sudah keroncongan dan lauk di meja makan terlihat sangat lezat. 

“Eh, mas Genta.”

Ketika baru saja dua kali menyuap nasi ke mulut, tiba-tiba saja Nano menyapa seseorang, aku segera mendongakkan kepala melihat siapa yang dia sapa. Ternyata dia adalah salah satu dari dua orang laki-laki yang datang bersama Arman saat menjemputku dan Shinta seusai pertarungan dengan Perserikatan Tiga Racun. Kulihat dia mengangguk sambil tersenyum menjawab sapaan Nano. Kemudian dia mengarahkan pandangannya ke arahku.

“Halo, Rik.” 

“Hai,” jawabku setelah terlebih dahulu minum seteguk air.

“Saya Genta. Saya ditugaskan oleh ketua Yanuar menyambut kedatanganmu di Kelompok Daun Biru. Silahkan lanjutkan dulu makannya, Rik.”

Lelaki itu memperkenalkan dirinya sambil berjalan menuju kulkas, kemudian membuka pintu kulkas. Kepalanya langsung menghilang dibalik pintu kulkas. 

“Oke,” jawabku singkat, kemudian kembali menyuapkan nasi ke mulut. Berhubung dia sama sekali tidak berusaha bersikap formal dihadapanku, maka akupun tak malu-malu meneruskan makanku. 

Kepala lelaki itu kembali muncul dari balik pintu kulkas dengan sebuah apel merah ditangannya, lalu menuju meja makan dan langsung duduk di hadapanku. Tampaknya dia sengaja menungguku makan sambil menikmati apel. 

“Udah makannya? Yuk ikut saya. Nanti biar piringnya diberesin Nano.” 

“Oke, mas,” sahut Nano. 

Benar saja, begitu aku selesai makan dia langsung mengajakku pergi dari dapur. Mendengar Nano tak keberatan membereskan piring bekas makanku, akupun segera berjalan mengikuti Genta. 

“Selamat datang di Kelompok Daun Biru Rik, ketua Yanuar menugaskan saya sebagai mentor kamu,” tutur Genta di tengah jalan.

“Mentor?”

“Sistem organisasi didalam Kelompok Daun Biru terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang dibimbing seorang mentor. Satu kelompok terdiri dari empat orang termasuk mentor. Selain sebagai mentor kamu, saya juga mentor Shinta dan Arie, saya yakin kamu sudah kenal sama mereka. Selain mereka berdua, masih ada satu orang lagi, Yanti.”

“Oh… oke saya mengerti.” 

Tampaknya sistem organisasi dalam Kelompok Daun Biru mirip dengan Perguruan Gagak Putih yang membagi anggota-anggotanya dalam kelompok-kelompok kecil yang dibimbing oleh seorang mentor. 

“Jumlah anggota Kelompok Daun Biru hanya ada dua puluh empat orang, terdiri dari lima kelompok. Sama kamu jadi dua puluh lima orang.”

“Cuma lima kelompok? Berarti empat orang lagi?”

“Yang empat orang itu ketua Yanuar, tetua Seto, Arman, dan om Yosep.”

“Emang posisi Arman apa?” 

Aku paham posisi Yanuar sebagai ketua dan Seto sebagai tetua tidak masuk dalam kelompok kecil, tapi aku masih belum tau posisi Arman sebagai apa dalam Kelompok Daun Biru. 

“Arman asisten ketua,” jawab Genta singkat.

“Oh… Lalu om Yosep siapa?”

“Om Yosep juga tetua Kelompok Daun Biru, dia nggak suka dipanggil tetua karena menurut dia umurnya masih muda. Makanya anggota kelompok manggil dia om.”

“Oh gitu…” Aku mengangguk-nganggukkan kepalaku mendengar penjelasan Genta. 

“Sekarang kita urus dulu keanggotaanmu, setelah itu kita kenalan sama anggota kelompok yang lain.” ujar Genta lagi. 

“Oke.”

Kami berjalan menuju salah satu ruangan di lantai dua, ruangan tersebut sekilas tampak seperti sebuah perpustakaan karena dipenuhi oleh rak-rak kayu. Tapi yang berada dalam rak tersebut bukan buku, melainkan kotak-kotak kayu persegi panjang. Dan didalam ruangan tersebut tampak seorang laki-laki paruh baya duduk di sofa sambil menonton televisi.

“Malem om, ini Riki, anggota baru Kelompok Daun Biru. Rik, kenalin ini om Yosep.”

“Malem om.” Aku ikut mengucapkan selamat malam ke Om Yosep.

“Oh, ini yang namanya Riki… Selamat datang.” Om Yosep memandangku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke televisi sebelum aku sempat membalas ucapan selamatnya. 

Genta segera menuju rak kayu dan mengambil salah satu kotak dari dalam rak. Kemudian segera meninggalkan ruangan tersebut setelah pamit pada Om Yosep. Akupun berjalan mengikutinya seperti anak bebek yang mengikuti induknya. 

“Ambil, Rik.” Genta menyerahkan kotak kayu padaku. 

“Apa ini bang?” Aku berinisiatif memanggil Genta dengan sebutan bang, mengingat usianya yang lebih tua dariku dan posisinya sebagai mentor. Kurasa panggilan untuk senior di dalam Kelompok Daun Biru juga ‘bang’ sama seperti dalam Perguruan Gagak Putih. 

“Itu tanda keanggotaan Kelompok Daun Biru,” jawab Genta.

Aku segera membuka kotak kayu tersebut, didalamnya terdapat lencana daun berwarna biru dalam lingkaran dengan pinggiran dan tulang daun berwarna emas. Sama seperti lencana yang dikenakan oleh Shinta. Selain lencana, didalam kotak itu juga terdapat sebuah pil berwarna coklat tua. Selain itu ada sebuah buku kecil bersampul biru polos tanpa tulisan apapun. Aku segera mengambil buku tersebut dan membuka halaman demi halamannya secara singkat. Dari yang kubaca, tampaknya buku ini semacam buku panduan bagi anggota Kelompok Daun Biru. 

“Ini pil apa, bang?”

Dari semua benda itu, hanya tinggal pil cokelat saja yang masih belum jelas kegunaannya bagiku. 

“Itu Pil Pengumpul Energi, sangat berguna untuk membantu meningkatkan tahapan tenaga dalam pada tahap penyerapan energi, terutama untuk tingkat kedua, ketiga, dan keempat.”

Aku tertegun cukup lama mendengar penjelasan Genta mengenai pil ini. Kinasih tidak pernah memberitahukan padaku jika proses peningkatan tahap tenaga dalam bisa dibantu dengan pil. 

“Saya baru tahu bang kalo penyerapan energi bisa dibantu dengan pil, bukannya peningkatan tenaga dalam dilakukan dengan menyerap energi dari alam semesta?” 

Genta langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku dengan tatapan tidak percaya. 

“Kamu beneran nggak tau Rik?”

“Hehe.. Iya bang.”

“Emang guru kamu nggak pernah ngasih tau?”

“Nggak.”

Genta memiringkan kepalanya sekejap kemudian memanyunkan mulutnya. Tampaknya dia masih belum bisa percaya kata-kataku barusan. 

“Kamu mencapai tahap penyerapan energi tingkat ketiga cuma dengan menyerap energi alam semesta aja?”

“Iya.”

“Wow… menyerap energi alam semesta di Jakarta?”

“I.. Iya.” Entah kenapa, aku menjadi sedikit ketakutan dengan ekspresi bingung, kaget, sekaligus kagum di wajah Genta. 

“Gimana caranya, Rik?”

“Ya… dengan bersemedi, menyerap energi alam semesta melalui pernafasan dan pori-pori.”

“Serius?!”

“Ya, serius bang.”

Genta seperti kehabisan kata-kata, bahkan dia menggaruk-garuk kepalanya cukup lama. 

“Emang kenapa bang?” Aku mulai merasa ada yang aneh dengan reaksinya, apakah aku telah melakukan kesalahan dalam latihan pengolahan tenaga dalam? Tapi aku mengikuti semua petunjuk Kinasih dengan ketat, apa mungkin Kinasih memberikan petunjuk yang salah padaku?

“Kamu tahu kenapa Kelompok Daun Biru bermarkas di Jakarta?” Alih-alih memberikan jawaban atas pertanyaanku, Genta justru balik menanyakan sesuatu yang jelas-jelas tak kuketahui jawabannya. “Itu karena nggak banyak pendekar dunia persilatan yang mau tinggal di kota ini. Jadi kelompok kecil seperti kita bisa bertahan tanpa banyak persaingan. Kenapa nggak banyak pendekar dunia persilatan disini? Karena dimata para pendekar dunia persilatan, Jakarta itu padang tandus! Banyak polusi sehingga menyebabkan energi alam semesta di tempat ini begitu tipis. Jadi sangat sulit meningkatkan tenaga dalam hanya mengandalkan penyerapan energi alam semesta.”

“Tapi… hampir tiap minggu saya berlatih di Gunung Gede-Pangrango, bang.”

“Tapi berlatih tanpa asupan pil sampai penyerapan energi tingkat ketiga tetap luar biasa,” gumam Genta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala sambil cengengesan, kemudian kami melanjutkan jalan. 

“Sebagai anggota Kelompok Daun Biru, kamu akan menerima pil itu tiap bulan, selain gaji bulanan.”

“Dapet gaji bulanan juga? Berapa?” Mataku langsung melebar demi mendengar penjelasan Genta. Bagi anak SMU sepertiku, gaji bulanan terdengar sangat menggiurkan.

“Yah, rata-rata untuk anggota pemula dapat lima juta per bulan.”

“Wow!”

Tiba-tiba saja di kepalaku terlintas berbagai macam rencana penggunaan uang gaji bulanan yang jumlahnya cukup besar itu, mungkin membeli motor sport. 

“Ngomong-ngomong saya udah resmi jadi anggota Kelompok Daun Biru? nggak ada proses penerimaan anggota?”

“Buat apa? ‘Kan kamu sudah menjalani prosesi penerimaan anggota di Perguruan Gagak Putih.”

“Oh gitu…”

“Ya gitu.”

“Sekarang kita kemana lagi, bang?”

“Kita kenalan sama anggota lain. Kebetulan setelah kamu membantai anggota Perserikatan Tiga Racun, semua anggota dilarang bepergian dan dikumpulkan ke rumah ini. Belum semuanya datang sih, tapi kita bisa kenalan sama yang udah sampe dulu aja.”

Kami berjalan menuju ruang tengah di rumah tersebut yang ukurannya cukup besar, di sana sudah ada enam belas orang yang sudah berkumpul dan saling berbincang satu sama lain.