Episode 43 - Payback Time


“Setelah ini, kau akan benar-benar hancur.” kata Nicholas dengan tatapan serius.

“Ohogg! Ohogg!” meski kesakitan dan belum sembuh total, Alzen kembali berdiri dengan susah payah. Dan menyelimuti tangannya kembali dengan sihir api.

“Masih mencoba bangkit rupanya.”

Tak membiarkan Nicholas mendekat, Alzen langsung menyerang.

“Great Fireball !!”

Syushhh... DUARRR !!

Serangan Alzen tertangkis sepenuhnya oleh Black Barrier Nicholas dan efeknya membuat asap berupa uap panas menyelimuti pandangan Nicholas. 

"Asap!? Dasar brengsek!" kesal Nicholas dengan mengkertakan giginya.

“Aku harus cepat, dia cuma bertahan dan bertahan saja.” Ppikir Alzen yang segera bergegas berlari ke arah kanan dengan suara kaki seminimal mungkin.

“Dia hilang!?” Nicholas langsung menoleh ke sisi kirinya. “Disana, arah asapnya bergerak. Dia akan menyerang dari belakang.”

Memanfaatkan titik buta lawan. Alzen berlari cepat menuju tempat dimana Nicholas berdiri.

Meski tak bisa melihat karena tetutupi asap, suara langkah kaki Alzen terdengar jelas dan semakin lama terdengar makin keras. 

"Dia kemari, dia akan melancarkan sihir jarak dekat padaku." kata Nicholas sambil menerka-nerka apa yang akan dilakukan Alzen.

Selang beberapa saat saja, Alzen sudah berhadap-hadapan dengan Nicholas secara langsung. Bukan dari sisi belakang, namun dari sisi depan. Menghadapi langsung lapisan dinding terkuat yang dimiliki Nicholas yang sedari tadi, terus menjadi cara Nicholas untuk melindungi diri.

Setelahnya, Alzen langsung menepuk dinding Black Barrier itu dengan telapak tangannya. Ia tempelkan kedua tangannya di permukaan dinding itu, lalu...

"Explosion !!" 

Teriak Alzen dengan keras hingga urat kepalanya keluar.

DUARRRR !!

PRANGGG !!

Black Barrier milik Nicholas hancur berkeping-keping sekali lagi, seperti kaca pecah.

Penonton yang melihat itu, langsung bereaksi lebih keras untuk mendukung Alzen.

"WOOO !! ... Alzen !! Alzen !! Alzen !!"

Alzen bergerak indah sambil di hiasi serpihan-serpihan kaca yang melewati dirinya secara slow motion.

"Brengsek... wajahnya itu," geram Nicholas yang melihat ekspresi Alzen begitu percaya diri, yang hanya berjarak, tepat selangkah di depannya. Melalui aksi yang benar-benar memojokkan dirinya.

Di jarak sedekat itu, Alzen tidak serta merta melakukan serangan langsung tanpa perhitungan yang jelas. Karena pikirnya, kemungkinan serangan yang dilancarkan Alzen untuk di tangkis barrier yang baru sangatlah tinggi.

"Black Barrier !!"

Nicholas dengan cepat meng-cast dinding pertahanan yang baru. Jujur saja, ia goyah dan kesulitan menemukan tindakan lain.

"Sesuai dugaanku..." kata Alzen dengan wajah senang, karena prediksinya, tepat sasaran. Di waktu yang sangat sempit dan menuntut berpikir cepat, Alzen langsung menempelkan kedua telapak tangannya ke lantai, lalu...

"Fire Pillar !!"

Tak lama setelah Alzen meng-cast sihirnya. Lantai tempat Nicholas berpijak, seketika berubah menjadi oranye dan terasa sangat panas.

"Brengsek !! Kau menyerang dari bawah." Nicholas langsung reflek melompat mundur ke belakang. Karena terlalu tegesa-gesa. Ia tersandung dan berakhir jatuh hingga duduk di lantai.

Dan...

WUSSHHHH !!

Sebuah semburan api mencuat tinggi sampai ke atas. Tingginya kira-kira mencapai 4x tinggi orang dewasa. Dan jika Nicholas tak menghindar tadi, ia bisa saja sudah ditelan api itu hidup-hidup.

"Cih! Benar-benar! Anak ini..." Nicholas kesal karena dirinya dipojokkan. Wajahnya menampakkan ekspresi penuh kebencian pada Alzen yang sedari tadi, terus tersenyum senang, menampilkan kepercayaan diri yang begitu kuat. Sekalipun mengalami beban rasa sakit di tubuhnya yang terus- menerus ia tahan.

"Hehe... ternyata dia mengerti ya. Caranya menghindari serangan ini." Kepercayaan diri Alzen tidak menjadi surut karena belum ada serangan yang mengenai Nicholas secara langsung. Malahan, kepercayaan dirinya terus meningkat, karena ia berhasil memojokkan lawan yang seolah tak mungkin dikalahkan sampai sejauh itu. Serangan yang satu, disambung oleh serangan lainnya. Tak memberikan peluang kepada musuh untuk membalas.

"Kalau begitu, selanjutnya!" ucap Alzen dengan nafas tersengal-sengal, Alzen mengumpulkan sejumlah bola api secepat dan sebanyak yang ia bisa. Dan di kumpulkan di sisi depan dirinya.

"Brengsek, hina sekali rasanya bisa dipojokkan oleh orang seperti dia." kesal Nicholas sambil perlahan mencoba bangkit berdiri secepat yang ia bisa.

Alzen terus berkonsentrasi mengumpulkan api di depannya. Namun melihat Nicholas sudah hampir kembali berdiri. Alzen memutuskan untuk cukup, setelah 5 detik mengumpulkan api. Meski sebenarnya, perlu 10 detik lagi untuk dihempaskan dalam tenaga penuh.

Alzen langsung memutar dirinya, diikuti oleh api yang ia kumpulkan hingga membentuk bara api melingkar di sekelilingi Alzen, dan...

"Flame Whip !!"

Gerakkan memutarnya itu ia maksudkan untuk memberikan semburan api horizontal ke depan. Yang mengenai Nicholas di waktu yang berbeda, sisi kanan akan sampai lebih dulu dibanding sisi kiri. Haluan apinya, seperti hantaman cambuk.

Nicholas yang tinggal sedikit lagi kembali berdiri, harus segera mengambil tindakan untuk melindungi diri.

"Elemental Eater !!"

Nicholas kini melindungi dirinya dengan gas hitam yang di tempatkan di sisi kirinya. Melindunginya seperti sebuah barikade. Dan seketika, sihir apapun yang menyentuh gas hitam itu. Pada saat itu juga, sihir itu akan terserap ke dalam.

Tanpa menunggu lama, Nicholas langsung melepas sihir yang ia serap itu hingga kini berbalik kembali untuk menyerang Alzen.

"REPEL !!"

"Celaka!? Sihir apiku..." Alzen tak siap dengan serangan balik ini. Ia langsung membuat kobaran api besar di depannya untuk berlindung. Dan tiba-tiba, Krek!

"Sial! Tanganku!?" Tak bisa fokus secara penuh untuk meng-cast sihirnya. Alzen malah berbalik terhempas oleh sihirnya sendiri. "UAGHHHH !!"

Alzen berguling ke belakang dan berhenti di ujung arena. Kakinya sudah melewati lingkar batas arena. Jika ia terdorong sedikit lagi saja, saat itu juga, Alzen bisa saja langsung jatuh ke kolam dan kalah.

Melihat itu, penonton yang mendukung Nicholas langsung mulai bersuara.

"Nicholas... !! Nicholas... !! Nicholas !!"

Berbeda dengan pendukung Alzen yang mayoritas bersuara anak muda usia 20 tahun kebawah. Suara pendukung Nicholas dominan bersuara berat seperti bass dan suara orang dewasa. Suasana orang-orang jahatnya begitu terasa.

Nicholas berhasil bangkit kembali, ia menepuk-nepuk bajunya yang kotor dan menatap Alzen di sisi sebrang arena dengan perasaan benci. "Anak ini... terpaksa kuakui, kemampuannya tidak main-main. Tapi tetap... bukan tandinganku!"

Nicholas berjalan dengan perasaan kesal, ke tempat Alzen tersungkur. Dari ekspresinya, terpancar jelas sekali bahwa Nicholas merencanakan balas dendam yang jauh lebih buruk dari apa yang ia terima sebelumnya.

"Sial! Kenapa di pertandingan sepenting ini, tubuhku... malah tidak dalam kondisi prima." kesal Alzen dalam ketidakberdayaannya. Ia bertarung dalam rasa nyeri yang menjangkiti hampir di seluruh tubuhnya. Lebih-lebih, ketika tubuhnya digerakkan dan semakin lama pertandingan ini berjalan, semakin sakit yang ia rasakan dari waktu ke waktu.

Drap! ... Drap! ... Drap!

Bunyi langkah kaki Nicholas yang semakin lama semakin dekat, menuntut Alzen untuk mengambil keputusan segera. Namun apapun strateginya, tubuh Alzen sendiri juga telah menjadi musuh baginya.

"Dasar anak kampung yang kurang hajar, kau pikir bisa memojokkanku tadi dikarenakan karena kau ini kuat? No! Kau tidak sekuat itu!" ucap Nicholas sambil terus berjalan ke tempat Alzen, langkah kakinya, makin lama makin cepat. "Kau hanya beruntung, tak lebih. Sampai kapanpun, aku akan tetap lebih kuat darimu dan kau tak akan bisa menang melawanku."

"Bicara apa si Nicholas ini? Nada bicara dan kata-katanya terasa sombong sekali." pikir Alzen yang tak ambil pusing dengan kalimat merendahkan dari mulut Nicholas. Alzen hanya terasa mendengar nada kesombongan tanpa dasar semata.

"Kuperingatkan sekali lagi, aku... tak pernah meremehkan lawan." ucap Nicholas yang sudah berdiri, selangkah di depan Alzen yang masih tersungkur. Ia segera membuka buku Grimoire-nya. "Jadi..."

"Shadow Tail !!"

Dari buku sihir Nicholas, keluar sembilan tentakel hitam dengan ujung lancip. Menggeliat kesana-kemari elastis seperti tentakel gurita.

"Sihir itu!? Sihir yang hampir membunuh Lio!?" Alzen terintimidasi oleh penampakan tentakel itu. Namun tak membuat pikirannya buyar. Alzen masih terus memikirkan cara untuk lepas dari segala keterpojokkan ini.

"Biar kulihat... seberapa tahan kau dengan siksaan yang diberikan Shadow Tail." tatap Nicholas dengan wajah bengis dan mata yang seolah merah menyala di pandangan Alzen.

"Shadow Tail – Nine Tentacle Smash !!"

Setelah Nicholas meng-cast sihir tadi, sebuah perintah langsung diberikan pada Shadow Tail untuk bergerak. Dan geliatnya menjadi lebih agresif, dengan fokus untuk bolak-balik mencabuki Alzen dengan sembilan tentakel secara bergantian.

"Gawat!!? Aku tak bisa menghindarinya." Alzen hanya bisa menatap tak berdaya, melihat hantaman pertama dari salah satu tentakel itu, mendekat padanya dengan sangat cepat. "UAGHHH !! UAGHHH !! UAGGHHHHH !!!"

"HAHAHAHA!!" Tawa Nicholas dengan kejinya, melihat Alzen disiksa. "Dari dulu... aturan dunia ini tetaplah sama. Orang bodoh jangan lawan orang pintar. Orang pintar jangan lawan orang jenius. Yang jenius, juga jangan melawan orang yang berbakat dan sekalipun berbakat jangan lawan orang yang sudah berbakat sekaligus rajin sepertiku. Dan juga satu lagi yang tak pernah berubah. Orang miskin jangan lawan orang kaya, dan orang kaya jangan..."

"BERISIK !!"

CRESSSHHHHSSSTT !!

"Haaahhh!?" Nicholas terkejut, tiba-tiba Alzen sudah berdiri di depannya dengan tangan yang sudah mencengkram wajahnya. "Bagaimana bisa!?"

"Kau pasti belum mendengar semuanya kan? Semua yang kau sebut itu... Akan kalah di hadadapan orang yang... Beruntung, sepertiku !!"

Kemudian Alzen meng-cast sihir langsung dari tangan yang ia gunakan untuk mencengkram wajah Nicholas.

"EXPLOSION !!"

BUSSSHHHTT !!

"UAGHHHHH !!!" teriak Nicholas begitu keras. Seolah bom kecil, meledak langsung di depan mukanya. "PANAS !! PANAS !!"

Wajah Nicholas berasap, entah wajahnya hancur atau tidak. Tapi kacamatanya sudah tergeletak jatuh di lantai dengan frame yang patah dan kaca yang sudah retak.

“Hosh... hosh... untung saja dia terlalu banyak bicara. Di saat seperti waktu beberapa detik saja sudah sangat berguna untuk memulihkan sedikit tenaga.” pikir Alzen dengan wajah lelah, badan membungkuk dan pakaian yang sudah kotor sekali

"Tidak !! Aku tak ingin ada luka permanen di wajahku. Tidak! Aku... aku... aku terpaksa harus...”  

“DARK HEALING !!" 

Tangan Nicholas diselumuti cairan kental berwarna ungu gelap, dengan gelembung-gelembung di dalamnya. Wujudnya mirip gel rambut. Kemudian ia tempelkan ke wajahnya, lalu rintihnya..." HUWAAAAA !! SAKIT !! SAKIT !!"

"Haa? Dia kenapa sih? Dia melakukan apa sih?" Alzen yang baru pertama kali melihat sihir semacam itu, hanya bisa melihatnya heran. Alzen tak lanjut menyerang karena rasa kasihan pada lawannya. Ia cenderung tenggelam dalam ketidaktahuan.

Selang beberapa detik kemudian, asap di wajah Nicholas sedikit demi sedikit menghilang. Dan ia kembali seperti semula, dengan tak ada luka bakar sama sekali di wajahnya. Tapi kini, Nicholas tak mengenakan kacamata dan rambutnya, jadi turun, menutup sedikit mata kanannya. Dengan pakaian yang separuh terbakar, membuat pundak dan separuh perut serta dada Nicholas terlihat. Ia kembali menatap Alzen setelah pulih, tapi kini ekspresinya terlihat lebih tenang dan kosong. Tidak tersulut rasa amarah maupun kesal.

"Be-beneran!?" Alzen terkejut, seketika melihat dampak ledakan langsungnya, tak memberikan bekas luka apapun pada wajah Nicholas. "Jadi... yang tadi itu, Healing Magic?"

"Alzen... Alzen... Aaaall-zen..." ucap Nicholas dengan nada tenang. Sosoknya yang tanpa mengenakan kacamata, dengan rambut turun dan acak-acakan. Membuatnya terlihat seperti orang yang berbeda. "Aku telah salah menilai lawanku. Meski kau terlahir dalam latar belakang orang miskin. Tapi baru sekarang, aku mendapati orang miskin yang sekuat dirimu."

"Kau ini bicara apa sih?" Alzen mengernyitkan dahi. "Daritadi kata-katamu tak jauh-jauh dari kaya-miskin, pintar-bodoh. Status sosial dan bakat melulu. Apa hanya itu caramu memandang orang lain? Apa hanya itu yang kau pedulikan?"

"Huh! Kau tak akan mengerti. Apa yang dipikirkan orang kaya tak akan bisa dimengerti orang miskin sepertimu."

"Haa? Aku benar-benar tak mengerti, apa yang kau bicarakan."

"Kau tak akan mengerti dan tak perlu mengerti dan juga tak perlu mencoba untuk mengerti."

"Kau semakin membuatku bingung, dasar bodoh!"

"Ya... yang kau ketahui..." Kemudian Nicholas mengangkat tangannya hingga sejajar dengan lehernya, lalu tangan kanannya dikepal erat-erat. "Hanya ini kan?"

BUSSSHHHTT !!

Dari Nicholas sebagai pusatnya, hempasan Dark Force yang sangat kuat. Mendorong Alzen mundur secara tiba-tiba.

Alzen segera mengibas tangannya dari bawah ke atas, untuk meng-cast sihir pertahanan.

“Firewall !!”

Kemudian tangan Alzen melebar ke kanan dan kiri.

“Spread !!”

Dan perlindungannya melebar serta menguat.

"UGHH !! Jika begini caranya, aku akan kalah karena terhempas keluar arena." Alzen terus menahan diri dengan dinding api di depannya yang berfungsi mirip seperti barrier, namun tidak dalam bentuk padat, melainkan dalam wujud kobaran api. "Selain sifatnya berubah drastis. Sihirnya juga jadi sangat kuat. Kenapa dia tiba-tiba jadi begitu sih?"

"Hmm... membelokkan haluan Dark Force lagi ya." ucap Nicholas dengan tenang. Setelahnya ia berlari dengan sangat cepat dan tiba-tiba sudah dihadapan Alzen yang masih fokus mengontrol dinding apinya.

"Elemental Eater !!"

Tiba-tiba saja, api milik Alzen lenyap. Diserap oleh benda hitam yang ada muncul dari telapak tangan Nicholas. Setelahnya Nicholas muncul di depan Alzen saling berhadap-hadapan.

"Kuberi tahu sesuatu ya... kau bukan tandinganku." Setelah membisikkan kalimat itu ke telinga Alzen. Nicholas langsung menyambung dengan tinju tangannya yang berselimut gas hitam pekat. Dan...

BUGGGHHH !!

"OHHHOGGG !!?" perut Alzen tertinju telak, pupil matanya mengecil karena terkejut, ia terhempas jauh ke belakang dan memuntahkan darah dari mulutnya. "Lagi-lagi..."

"Belum, belum... ini belum cukup. Aku sama sekali belum puas menyiksamu." kata Nicholas dengan nada tenang.

Nicholas membuka buku Grimoirenya dan meng-cast sihir.

"Shadow Tail – Chain Coil !!"

Dari buku sihir Nicholas, Shadow Tail dimunculkan kembali dan kini diperintah untuk bergerak melilit Alzen mulai dari leher, lengan tangan, perut hingga kaki. Terlilit seperti dililit ular. Alzen yang sudah bisa jatuh ke kolam saat itu juga. Ditarik kembali ke arena untuk dibanting-banting dan disiksa lebih lanjut oleh Nicholas.

BRUGGHHH !!

Bantingan pertama menghantam Alzen ke lantai. Lalu dilayangkan kembali ke atas, kemudian...

BRUGGHHH !!

Alzen dibanting kembali untuk kali kedua. Dan dilayangkan kembali untuk di banting kembali...

BRUGGHHH !!

“Aku... aku sudah tidak kuat lagi. Aku tak bisa menang melawannya. Aku... kalah...”

***