Episode 40 - The Garbage Vs The Honorable


"Hahaha! Sesuai datanya! Dia kuat, tapi tolol! Tolol sekali!" kata Nicholas dalam hati, dengan senyum lebar-lebar. "Dia mungkin masih kesulitan menyadari, kalau sebenarnya, ada tiga lapis barrier yang melindungku, dengan mempersempit luas barriernya dan hanya fokus melindungi sisi depanku saja. Dengan cara ini, barrier akan jadi lebih efektif dari sebelumnya meski menggunakan jumlah aura yang sama. Ini teknik yang cuma bisa dilakukan orang jenius sepertiku."

"Hosh... hosh..." nafas Lio tersengal-sengal dan tubuhnya berkeringat sekali. Ia kini berdiri dengan topangan Barrier Nicholas sebagai pijakannya. Sementara Nicholas, berlindung di bawah Barrier itu dengan posisi tidur. "Aku tak bisa terus-terusan memakai Fire Burst Impact pada hari yang sama. Jujur saja, maksimal penggunaan yang wajar buatku sekarang, hanya bisa dilakukan dua kali. Dan tadi, adalah Fire Burst Impact yang kedua. Lebih dari itu, sihir ini akan memaksa penggunaan Aura yang berlebihan dan pasti ada efek sampingnya." pikir Lio.

Selagi serangannya saling beradu. Tanpa Lio sadari, kobaran api di kedua tangannya yang menjulang tinggi tadi. Perlahan memendek dan kobarannya tak secepat sebelumnya. Lio tak menyadari hal ini, mengingat dirinya terlalu fokus pada cara menang melawan Nicholas. Sementara Nicholas yang teliti, dibuat tersenyum. Mengetahui lawannya sudah kehabisan tenaga.

"Sampah, memang tetaplah sampah!" Nicholas terus memandang Lio, tersenyum dengan banyak kata-kata cacian di kepalanya. "Bisa melukai aku yang berbakat ini, hanya sebuah kebetulan semata. Aku pikir jika dipancing emosinya, ia akan bertindak gegabah. Namun yang terjadi, dia malah habis-habisan menggunakan Aura-nya. Ya... sebuah bentuk lain dari kebodohan."

"Hosh... hosh..." Lio menghela nafas sambil memandang ke bawah menatap senyum sombong Nicholas yang berlindung di bawah barriernya. Di posisi itu, ia berharap ada keajaiban datang, untuk memberi jawaban agar mampu mengalahkan Nicholas.

Setelah beberapa detik Lio meneruskan serangan apinya melebihi batas Aura dan daya tahan tubuhnya. "Hahh... bodohnya aku. Berpikir bisa menang melawanmu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Lio melompat mundur dan kembali ke Arena.

"Huh? Apa ini? Dia merencanakan sesuatu?" pikir Nicholas dengan penuh curiga. Sambil perlahan men-cancel sihirnya perlahan-perlahan.

Lio berpijak kembali di atas arena, tapi saat menyentuh lantai batu arena. Ia tak bisa menjaga keseimbangan dan dengan mudahnya terjatuh. Lio berbaring menarik nafas. Seluruh tubuhnya berkeringat dan urat-urat ototnya timbul dari kulitnya. “Hah... hah... hah...” lalu kata Lio. “Hei! Mau sampai kapan disitu?" ejek Lio, "Sini! Pertandingannya di arena ini, bukan di kolam itu. Hah... Hah..." katanya selagi berbaring di lantai.

Nicholas secara hati-hati, mencoba kembali ke Arena perlahan-perlahan. Dengan keadaan siap, kapanpun Lio berniat menyerangnya lagi.

"Haha! Lihat wajahnya," tunjuk Lio sambil kepalanya sedikit menoleh ke sisi bawahnya. "Tak sedetikpun terlewat, tanpa fokus melihat gerak-gerikku. Sekalipun aku sudah tumbang begini. Hah... Hah... sudahlah... tenang saja."

Nicholas tak membalas sepatah katapun, tapi pikirannya terus curiga. "Jangan terpancing dengan kata-katanya, dia mungkin merencanakan sesuatu, dengan otaknya yang tak seberapa itu?"

Setelah beberapa saat kemudian, Nicholas kembali berdiri menapaki Arena. Sekalipun ia masih terus curiga, celingak-celinguk ke kiri dan kanan. Memastikan tak ada jebakan atau kemungkinan apapun yang merugikannya. Ia juga terus mengamati sambil mengelus-elus pipinya yang bengkak akibat tinju Lio sebelumnya.

"Kau ini curigaan banget sih!" kata Lio dengan jengkel. "Tidak... tidak... aku tak merencanakan sesuatu kok. Pikiran-ku terlalu dangkal untuk memikirkan hal-hal rumit seperti itu."

"Tidak... ini bisa jadi tipuan, aku sangat berpengalaman." pikir Nicholas. "Sejak kecil, ayah telah melatihku dengan rasa curiga dan waspada pada setiap musuh, selemah apapun kelihatannya, dan bila perlu... pada rekan sendiri. Trik murahan sepertimu tak akan berfungsi pada calon penerus keluarga Obsidus sepertiku."

Meski sakit rasanya, Lio mencoba berdiri kembali. Tak bisa ia lakukan seperti biasanya, gerakkannya lambat sekali. "Oke, kau sudah disini dan aku juga disini." Lio memasang kuda-kuda beladirinya dengan lambat sekali. "Kita mulai dari awal lagi!"

ZYUUU !!

Lio seketika menghilang, menyisakan gerak kobaran api yang mengarah ke sisi kirinya.

"Ke kanan!?” Nicholas langsung menoleh, tapi ia tak mendapati Lio saat itu juga. “Celaka!? Dimana dia!?" lalu dengan reflek, Nico meng-cast Black Barrier yang membungkus seluruh sisinya.

Lio yang mau menyerang, dari sisi kiri Nicholas dibuat berhenti dan malah mentertawai Nicholas. "Hahahaha! Sudah kuduga, pasti kau meng-cast barrier itu lagi. Hah... pengecut sekali."

"Si Sampah ini!" Nicholas dibuat panas dalam hatinya. Tampak luar, ia dibuat jengkel sambil menggertak gigi-nya. "Mencoba bermain provokasi rupanya?"

"Aku tak tahu, apa cara ini bisa bekerja pada orang sepertinya atau tidak?" pikir Lio sambil mengingat-ingat pengalaman bertarung di kampung halamannya dulu. “Cara yang anak-anak itu gunakan padaku... dulu... dulu sekali.”

***

Di sebuah sawah luas yang penuh air keruh, ditanami padi berhektar-hektar luasnya. Disana anak-anak bermain berbagai macam permainan tradisional. Sekelompok anak perempuan bermain lompat tali, yang lainnya bermain engklek, sedang anak laki-laki dominan bermain benteng dengan pohon di jalanan sawah sebagai tiang markasnya.

Tapi terkadang, perkelahian antar anak-anak laki-laki yang paling sering terjadi dan mengundang lebih banyak perhatian. Diantara banyak anak kecil yang bermain berbagai macam permainan yang berbeda-beda. Disana ada 4 orang anak laki-laki, 3 orang anak yang lebih besar, mengerubuti 1 orang anak yang lebih kecil. 

Anak itu adalah Lio, sewaktu berumur 8 tahun. Lio saat itu terlihat seperti anak tak punya. Bajunya putih lusuh rambutnya hitam acak-acakan dan ia ditakuti anak-anak di sekitar situ.

"Ahh... cemen kamu Lio!" sindir seorang anak gendut berpakaian kaos putih polos seperti anak kampung.

Lalu sahut kedua teman si gendut ini.

"Iya, cemen kamu!"

"Jangan pakai sihir dong, curang!"

Lio membalas mereka, sambil mencoba menahan tangis. "Ta-tapi... Aku kan memang bisa si..."

"Bisa apa? Hah?! Sihir?!" sinidirnya.

"Bisa sihir? Sombong banget sih kamu!"

"Mentang-mentang bisa sihir api, kamu jadi berlagak kuat? Hah?"

"Bu-bukan begitu." jawab Lio ragu-ragu. Merasa dirinya disalah pahami.

"Coba sini, berantem sama kita, tapi jangan pakai sihir."

"Ahh... gak mungkin bisa dia, tanpa sihir dia lemah."

"Lio pengecut, Lio cemen!"

"Oke! aku berani, ayo!" tantang Lio yang mencoba untuk kuat, tapi sebenarnya kakinya gemetar dan perasaannya ragu-ragu.

"Hehehe..." 3 orang anak besar itu langsung tersenyum jahat padanya.

Lalu...

BAGHH !! BUGGHH !! BAGGHH !! BUGGGGHH !!

Dalam sekejap Lio tersungkur di tanah, dalam keadaan benjol dan bonyok-bonyok.

“Ka-kalian... cu-curang...” kata Lio dalam kondisi babak belur.

Klotak! Klotak!

Si anak gendut itu melempar sebatang kayunya ke tanah.

"Haha... sudah-sudah, dia cuma anak bodoh." katanya sambil menepuk-nepuk tangannya.

"Kapan-kapan kita gini-in lagi saja, tanpa sihir, dia cuma bocah biasa."

"Lemah banget ternyata."

"A-aku... lemah?" ucap Lio dengan suara kecil.

"Sudah ahh... gak minat lagi aku sama anak cewek biru itu."

"Hihi... mukulin Lio, lebih mantap rasanya."

"Makanya gak usah sok pahlawan kamu!" katanya sambil meludahi Lio yang jatuh di pipi Lio.

Kemudian tiga orang anak yang lebih besar itu, pergi meninggalkan Lio dalam keadaan bonyok-bonyok. Tak lama kemudian, seseorang menghampiri Lio.

"Te-terima kasih sudah menolongku." terdengar suara wanita seumurannya, di telinga Lio.

"B-bukan masalah, hihihi..." jawab Lio tersenyum dalam keadaan wajah memar-memarnya.

"Makasih ya, gara-gara kamu, aku jadi tidak digangguin mereka. Tapi kamu... jadi babak belur begini. Ma-maaf ya..." katanya dengan merasa berasalah.

"Yang penting kamu tidak kenapa-napa kan?" Lio tersenyum padanya dalam posisi tersungkur.

"Padahal sudah babak belur begitu, kenapa masih mikirin orang lain sih" Wanita itu jongkok dan menunjukkan wajahnya pada Lio, sambil mengulurkan tangan. "Ohh iya... siapa namamu tadi? Lio ya... mereka memanggilmu begitu."

Lio mendapati sesosok wanita imut, yang beberapa tahun lebih muda darinya. Meski tak terlalu signifikan bedanya, karena mereka berdua memang sama-sama masih anak kecil. Rambut anak itu biru muda, panjang dan diikat ke belakang dengan pita merah di tengah-tengahnya. Memakai pakaian seperti anak desa.

"Iya, aku Lio. Kamu?"

"Kenalin, aku..."

***

Kembali ke Arena.

"Cih!" Lio menggeleng-gelengkan kepalanya, fokusnya pada pertandingan jadi buyar karenanya. "Kenapa aku jadi teringat kejadian waktu itu?"

"Dia terlihat seperti memikirkan sesuatu?" tatap Nicholas curiga. "Tapi, memangnya apa yang bisa dipikirkan orang yang tak punya pikiran seperti dia? Atau mungkin ini saatnya."

Nicholas mengulurkan tangannya ke depan.

"Curse !!"

Lio dikekang sihir kegelapan dari Nicholas. "Hee? Apa ini!?" fokusnya yang hilang membuatnya jadi lengah.

"Dream..."

"...!!?" Baru mau menyelesaikan Cast-nya, Nicholas langsung merasakan intimidasi. Pupil matanya mengecil, dan matanya terbuka lebar-lebar seperti orang kaget. "Sial, aku hampir lupa. Si tua bangka itu, menonton pertandingan ini juga.” pikir Nicholas.

Nicholas kehilangan fokus, ia membatalkan sihir Dream Catcher, tapi sekaligus juga membatalkan efek dari Curse yang tanpa ia sadari sudah di non-aktifkan. Nicholas memegangi dahinya dengan bayang-bayang Vlaudenxius akan menghukumnya nanti. Setelah tahu bahwa pertobatannya tidak berjalan dengan semestinya.

‘Tidak-tidak, sekalipun dia tak menonton. Aku masih dibuat ketakutan olehnya.” Nicholas berhenti sejenak dan mukanya kesal. “Dasar kakek-kakek sialan!" ucapnya dalam hati.

Lio menyadari ini segera, mengetahui musuhnya sedang goyah. Lio dengan mudahnya lepas dari sihir Nihcholas dan langsung sigap memanfaatkan ketiadaan barrier yang melindungi Nicholas dan bersiap menghajarnya.

"Terima ini! Brengsek!"

Nicholas yang masih kebingungan, menerima serangan dari bawah wajahnya. Dagunya ditinju Lio keras-keras, dengan sedikit kobaran api di tangannya. Belum selesai sampai disitu, Lio meninjunya lagi dan lagi, mulai dari kepalanya hingga perutnya dan bagian tubuh lainnya. Nicholas berhasil di serangan beruntun olehnya.

"Cough! Ugh! Hentikan! Ugh! Hentikan! Dasar Sam... UGGGHH !!" Terakhir, Nicholas ditinju tepat di hidungnya hingga pecah kacamatanya.

"Hosh... hosh..." Lio menghela nafas dengan kepalan tangan yang mengeluarkan uap panas, "Puas sekali rasanya, bisa meninju orang kaya nan congkak sepertimu!"

"Ohogg... ohogg... ohogg... brengsek!" Nicholas mengusap wajahnya yang kesakitan, lalu nampak darah menempel di telapak tangannya, seusai mengusap-usap wajahnya, bagi Nicholas, baru pertama kali ia di lukai hingga sejauh ini untuk lawan yang sepantaran dirinya. "Si Sampah, berhasil melukaiku hingga begini?!"

"Aku harus terus menyerangnya, sebelum ia meng-cast Barrier menyebalkan itu lagi." pikir Lio dan langsung segera meninju secara bertubi-tubi hingga satu persatu bola api dilancarkan ke Nicholas.

"DENGAR YA !!" bentak Nicholas dengan kondisinya yang kurang baik, rambutnya acak-acakan dan kacamatanya miring dengan kacanya yang hancur. "DENGAN BERPIKIR KAU BISA MENANG MELAWANKU SAJA SUDAH PENGHINAAN BUATKU!"

"Elemental Eater !!"

Sebuah gas hitam naik, setelah Nicholas menghempaskan tangan kanannya. Tembakan bola-bola api yang dilancarkan Lio, ketika menyentuh gas hitam itu, langsung terserap ke dalamnya.

"Apa!? Kok bisa!?"

"Kau belum pernah melihat yang seperti ini kan?!" tanya Nicholas dengan kondisi yang kacau. "Dasar manusia rendahan!"

"REPEL !!"

Bola-bola api yang semula dilancarkan Lio, berbalik kembali menyerangnya lewat gas hitam di depan Nicholas itu. Lio yang tak menyadari akan kemungkinan ini, terhempas mundur oleh serangannya sendiri dan tinggal sedikit lagi, ia tercebur, karena dirinya sudah berada di ujung lingkaran Arena.

Tapi Nicholas jelas tidak menunggu.

"Ultimate Dark Force !!"

Sebuah tekanan dengan daya dorong yang kuat, jauh lebih kuat dari Dark Force yang biasanya, menghempas Lio yang tanpa persiapan. Hingga terdorong jatuh dan tercebur di kolam.

"Pada akhirnya... memang aku tak bisa menang ya." pikir Lio dalam kondisinya yang perlahan turun ke dasar kolam. "Meski begitu... aku puas. Sisanya biar aku serahkan pada Alzen.”

Lio yang sudah terlalu lelah dan hilang harapan untuk menang terjatuh perlahan-lahan ke kolam. ”Alzen... lau harus menang melawannya ya."

BYUUURRR !!

"Seseorang telah diceburkan ke kolam!" sahut komentator. “Sudah diputuskan! Nicholas Pemenangnya!”

“Woooo!! 

“Nicholas!”

“Nicholas!”

“Nicholas!”

"Kau pikir sudah cukup sampai disitu, HAH!? Kau yang membuatku sampai terluka begini!" Nicholas berjalan menghampiri tempat Lio tenggelam, ia berjalan dengan penuh amarah. Sambil dengan kasar membuka bukunya dan mengeluarkan sembilan tentakel hitam sekali lagi. 

"Shadow Tail – Nine Tentacle Smash !!"

Tentakel itu menggeliat dan bergerak cepat, mengibas air di kolam dengan cambukannya dan sedikit lagi tentakel-tentakel itu mengenai Lio.

"Tolong... jangan!!" teriak Fia dengan penuh khawatir.

BUZZZSSHHH...

Seketika tentakel itu lenyap menjadi gas hitam dan hilang begitu saja.

“Hah!? Apa? Kenapa!?”

Vlaudenxius tiba-tiba sudah ada di samping Nicholas dan menepuknya. "Sudah cukup. Anakku Nicholas."

“Cih! Kau yang melakukannya ya?!" bentak Nicholas ke Vlaudenxius dengan tidak hormat. "Jawab aku! Kau yang melakukannya?!"

"Pemenangnya sudah diputuskan, kau tak perlu melukai temanmu lebih dari ini." kata Vlaudenxius dengan menatap ke bawah. Ke Nicholas yang lebih pendek darinya.

"Jangan ikut campur!” Nicholas menghempas tangannya untuk mengusir dia. “Kakek tua sialan!” 

“Dark..."

DZZZZINGGG !!

Tanpa Vlaudenxius bergerak sedikitpun, atau mengucapkan sepatah kata mantra. Nicholas langsung dibekukan layaknya manusia di dalam es. Sedang Vlaudenxius sendiri, hanya berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang pinggang.

Seluruh tubuhnya beku, kaku tak bisa bergerak. Vlaudenxius sengaja menyisakan bagian kepala sebagai satu-satunya yang tak ia bekukan. Semuanya ia lakukan tanpa gerakkan apapun dan ia kendalikan dengan sempurna.

Lalu tanyanya dengan tatapan penuh intimidasi. "Kau benar-benar berniat, menantangku? Nicholas Obsidus."

***