Episode 206 - Bodoh dan Ceroboh


“Ck!” 

Seorang lelaki dewasa muda sedang duduk di balik sebuah meja nan besar. Di belakangnya, lemari buku nan megah menjadi latar belakang yang menegaskan aura nan terpelajar. Tadinya, ia sedang asyik membaca. Akan tetapi, sebuah pesan yang tiba melalui sebuah lencana berlambangkan berkas cahaya membuat dirinya mengerutkan dahi, serta mendecakkan lidah. 

“Anjana…” 

“Ada apakah gerangan, Kakak Lintang…?” Seorang pemuda mendorong pintu dan melangkah masuk. 

“Dalam waktu dekat ini, diriku terpaksa menempuh perjalanan jauh… Dikau uruslah segala sesuatu di sini…” 

“Kemanakah gerangan? Atas kepentingan apa?”

Lintang Tenggara menghela napas panjang. “Diriku baru saja mendapat kabar berita… Mungkin sudah tiba waktunya diri ini berbakti kepada kedua orang tua. Sebagai anak yang tiada diinginkan, terkadang diriku sungguh merasa pilu…” Nada suara Lintang Tenggara setengah mencibir.

“Apakah maksud Kakak Lintang?”

“Adik kandungku, kau tahu… yang bodoh dan ceroboh itu... Saat ini ia berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah pula.”

Anjana masih tiada memahami maksud dari kata-kata Lintang Tenggara. Meski, ia mengerti siapa yang dimaksud sebagai ‘bodoh dan ceroboh’. Siapa lagi bila bukan Bintang Tenggara…

Lintang Tenggara kembali menghela napas panjang. Sepertinya berat sekali beban yang ia pikul. Perjalanan ke Negeri Dua Samudera selalu merepotkan, dan kini ia harus melangkah menuju tanah dimana sejumlah kenangan terpatri di dalam benaknya. 

“Dimanakah Bintang Tenggara berada…?” Anjana penasaran. 

“Apa gunanya Ibunda Mayang membawanya untuk mengasingkan diri selama bertahun-tahun, bila pada akhirnya si bodoh dan ceroboh itu malah pergi bertandang ke sana…?” gumam Lintang Tenggara. 

“Kakak Lintang, bukankah kita yang memancing Bintang Tenggara meninggalkan Pulau Paus…?” Anjana tersenyum lebar. Ia mengingat pertama kali bertemu dengan bocah yang sedang berdiri di sebelah seorang Kepada Dusun. Sungguh polos, tiada mengetahui tentang dunia persilatan dan kesaktian. 

“Oh…?” Raut wajah Lintang Tenggara menunjukkan reaksi seolah ia baru mengingat akan satu hal tersebut. Memang benar bahwa dirinyalah yang menyusun muslihat agar Bintang Tenggara dapat meninggalkan Pulau Paus. Upaya tersebut dilakukan demi tujuan menyandera, kemudian memancing kehadiran sang Ayahanda. 

“Maksudmu, semua ini berawal kesalahanku…?”

“Diriku tiada dapat memahami maksud dari kata-kata Kakak Lintang…”


===


“Dalam waktu satu purnama, Kemaharajaan Cahaya Gemilang akan menggelar sebuah hajatan akbar,” ujar Ibunda Samara. Wajahnya memerah segar, menampilkan kecantikan tak terperi seorang perempuan dewasa. Penampilan ini jauh berbeda dari wajah pucat dan lemah saat Bintang Tenggara pertama kali bertemu muka. 

“Hajatan akbar…?” Anak remaja itu menduga-duga.

“Hajatan akbar tersebut akan melibatkan Wara.” 

Bintang Tenggara menantikan penjelasan yang lebih lengkap. 

“Dikau pasti sudah mengetahui bahwa hati anak itu lemah dan rasa percaya dirinya rendah. Kemungkinan karena ia kehilangan sosok ayah…”

Bintang Tenggara mulai memahami maksud dari kata-kata Ibunda Samara. Dirinya pun sangat mendamba kehadiran sang ayah. Perbedaannya, Bintang Tenggara sedikit banyak mengetahui bahwa sang ayah masih hidup, sedangkan Wara tiada akan pernah mengenal sosok ayahandanya. 

“Sejak kehadiran dirimu, kepribadian Wara mulai tumbuh. Ia pun mulai berani mengutarakan pendapat. Oleh karena itu, permohonan dariku sebagai seorang ibu, adalah agar dikau tinggal di Kadatuan Kesembilan sampai satu purnama lagi.”

Wajah Ibunda Samara demikian teduh, senyumannya dapat meluruhkan batu karang nan keras sekali pun. 

“Meski demikian, diriku menyadari bahwa dikau memiliki kepentingan lain. Sudah terlampau besar bantuan yang dikau berikan kepada Kadatuan Kesembilan. Tak hanya mengobati diriku, namun juga membantu agar Kadatuan Kesembilan kembali mandiri.”

Bintang Tenggara mendegar dalam diam. 

“Jadi, bilamana dikau menolak, diriku pun dapat memaklumi.” 

“Ibunda Samara, janganlah khawatir. Diriku bersedia tinggal selama satu purnama untuk menemani Wara.” 

Bagaimana mungkin Bintang Tenggara menolak permohonan yang demikian tulus, datang dari seorang ibu demi anaknya. 


“Wara, apakah itu Segel Syailendra…?” Bintang Tenggara telah cukup lama memendam pertanyaan ini. Betapa ia penasaran sejak menyaksikan formasi segel yang dapat mengambil wujud binatang. Gadis berhidung mancung pernah menyusun formasi segel berwujud seekor burung murai, sedangkan Wara menghasilkan seekor ikan belida. 

“Segel Syailendra merupakan segel khas yang hanya dapat disusun oleh ahli yang memiliki darah Wangsa Syailendra. Ia mirip dengan unsur kesaktian yang dapat mengambil wujud, dalam artian sama-sama membutuhkan keserasian serta latihan dalam waktu yang panjang. Biasanya, wujud yang diambil adalah binatang-binatang kecil.”

“Oh…?” Bintang Tenggara terlihat sedikit kecewa. Bagaimana mungkin dirinya yang tiada berdarah biru dapat menyusun formasi segel nan khas tersebut. 

“Bintang juga pernah membuat formasi segel nan unik, bukan?” aju Wara, tak hendak mengecilkan hati temannya. 

“Segel Penempatan dan Segel Petir…,” jawab Bintang Tenggara ringan. Di saat yang sama, ia menyusun dan menunjukkan kedua segel sederhana itu.

Cukup jauh dari mereka, seorang lelaki dewasa bertubuh tambun tergeletak mabuk di atas dipan. Tetiba ia membelalakkan mata, lalu menoleh cepat ke arah Bintang Tenggara. 

Kedua anak remaja lalu terlibat dalam latih tarung ringan. Bintang Tenggara segera menyadari bahwa Wara penuh dengan keraguan di kala bertarung. Saat seharusnya mengelak ke kiri, tetiba ia berubah pikiran untuk menghindar ke kanan. Walhasil, Bintang Tenggara segera dapat menyarangkan serangan susulan dengan mudahnya. 

Wara sama sekali tiada pernah menyerang dengan sepenuh hati. Ia berpikir, dan seringkali pemikirannya datang terlambat. Sungguh bertolak belakang dengan Panglima Segantang di kala bertarung, yang mengikuti alur pertarungan seperti aliran air di sungai nan jernih. Naluri bertarung Wara sangatlah tumpul.

“Wara, janganlah terlalu dipikirkan. Lemaskan tubuh, lepaskan pikiran. Biarkan panca indera merasakan keadaan. Tebar indera keenam demi meningkatkan kepekaan diri.” 

“Bruk!” 

Wara jatuh terjungkal. Mendengar nasehat Bintang Tenggara tadi, ia malah diam termenung. Padahal, diketahui bahwa ia sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 1, dan lawan latih tarungnya hanyalah melepas pukulan biasa-biasa saja. 

“Hei! Bukankah aku sudah menyuruhmu meninggalkan Kadatuan Kesembilan…!?” Suara setengah mabuk datang menyergah dari seorang lelaki dewasa. 

“Ayahanda Sulung…” Wara menyela. “Ibunda yang meminta agar Bintang menetap selama satu purnama lagi.” 

“Samara…?” Kepala keluarga itu kemudian melengos pergi. Sepertinya, ia hendak mempertanyakan maksud dan tujuan adik perempuanya.

Bintang Tenggara dan Wara melanjutkan latih tarung. 

“Prang!” 

Tetiba terdengar suara nan nyaring, mirip gerabah pecah. Datangnya dari kediaman Ibunda Samara. Kedua remaja bergegas. Sebelum tiba, mereka menyaksikan sang kepala keluarga melangkah garang meninggalkan kediaman. Di dalam, Ibunda Samara bersandar di kursi. Wajahnya tak terlihat karena menatap ke arah yang berlawanan. Di lantai, sebuah kendi tuak pecah berhamburan. 

Dugaan Bintang Tenggara adalah telah terjadi perselisihan di antara kakak-adik itu. Kemungkinan besar mereka mempermasalahkan keberadaan dirinya di Kadatuan Kesembilan. Sejak hari itu, Bintang Tenggara dan Wara tiada sekalipun mendapati keberadaan sang Datu di dalam wilayah istana Kadatuan Kesembilan. 


Bintang Tenggara melangkah seorang diri di jalanan sibuk Ibukota Minangga Tamwan. Sewajarnya, ia merasa bertanggung jawab atas menghilangnya Yang Dipertuan Besar Datu. Ibunda Samara tiada menjawab pertanyaan ke mana sosok kepala keluarga itu pergi. Walhasil, setelah bertanya kiri dan kanan, anak remaja itu mengunjungi sejumlah tempat minum-minum. Bilamana bertemu muka, dirinya hendak meluruskan kesalahpahaman, dan meminta maaf jikalau memang terpaksa. Akan tetapi. tiada terlihat batang hidung si pemabuk itu. 

Tetiba Bintang Tenggara berbelok ke arah sebuah gang sepi. Ia kemudian mengeluarkan sebuah lencana. 

“Wahai Anggota Pasukan Telik Sandi di wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang, apakah ada yang sudi menjawab beberapa pertanyaan?” Bintang Tenggara mengirim pesan menggunakan jalinan mata hati. 

“Apakah gerangan yang hendak dikau ketahui, wahai saudaraku…?” Tetiba sesosok tubuh muncul di belakang si bocah dusun. 

Terkejut, Bintang Tenggara mundur setengah langkah. Sosok yang hadir ini adalah lelaki dewasa muda yang diketahui diam-diam bertemu muka dengan Maha Tabib Banyu Alam tempo hari. Lelaki dewasa muda itu menunjukkan lencana yang sama dengan milik Bintang Tenggara. 

“Namaku adalah Lahat Komering, anggota Pasukan Telik Sandi di wilayah Kemarahajaan Cahaya Gemilang.”

“Bintang Tenggara.” Anak remaja tersebut memberikan nama lengkap. Sejauh ini, ia sengaja hanya memberikan nama depan saja agar tak menarik perhatian karena namanya cukup dikenal di Kota Ahli dan Pulau Dewa. Akan tetapi, sebagai sesama anggota Pasukan Telik Sandi, tiada perlu menyimpan rahasia. 

“Jadi, dikau adalah anak dusun yang menetap di Kadatuan Kesembilan?” Lahat Komering menyibak senyum. “Sepertinya Maha Tabib Banyu Alam memanglah tiada berguna…?”

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Ia menjawab dua pertanyaan dalam satu anggukan. 

“Diriku telah banyak mendengar tentangmu, baik itu dari Sangara Santang, Lombok Cakranegara, maupun Panggalih Rantau.” 

“Apakah Kakak Lahat mengetahui ke mana perginya Yang Dipertuan Besar Rudra, Datu dari Kadatuan Kesembilan?” Bintang Tenggara langsung masuk ke dalam pokok permasalahan. 

“Menurut hematku, beberapa hari lalu beliau terlihat melangkah ke perbukitan candi dan masuk ke dalam candi kesembilan.” 

“Mungkinkah beliau meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang?” 

“Kemungkinan besar.” 

Wajah Bintang Tenggara berubah kusut. Mungkinkah kehadiran dirinya malah menyebabkan perpecahan di dalam keluarga bangsawan Kadatuan Kesembilan? Akan tetapi, bila dipikir-pikir lagi, mungkin keadaan di Kadatuan Kesembilan akan menjadi lebih baik tanpa sosok pemabuk itu. 

“Mengapakah Kemaharajaan Cahaya Gemilang mengasingkan diri ke dalam ruang dimensi khusus?” Bintang Tenggara memanfaatkan kesempatan untuk memuaskan rasa ingin tahu.

“Bagi sebagian besar ahli di Negeri Dua Samudera, Kemaharajaan Cahaya Gemilang dinilai sebagai pengecut. Di saat genting Perang Jagat, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang malah memutuskan untuk membawa seluruh rakyatnya mengungsi ke dalam ruang dimensi ini. Akibatnya, Laksamana Hang Tuah terpaksa berjuang tanpa dukungan yang memadai dalam mempertahankan Pulau Barisan Barat.”

“Oh…?” Bintang Tenggara terlihat sedikit terkejut. 

“Tentunya, tiada siapa yang berani menyuarakan Kemaharajaan Cahaya Gemilang sebagai pengecut. Sebagai kesatuan Wangsa Syailendra, Kemaharajaan ini sangatlah besar dan kuat adanya.”

“Bagaimana dengan hubungan antara Kadatuan…?”

Lelaki dewasa muda menyibak senyum kecut. “Rumit. Terdapat perang dingin di antara para Kadatuan karena sebagian dari mereka mengincar tahta.”

Lelaki dewasa muda itu melanjutkan, bahwasanya Kadatuan Kesatu bersifat netral. Mereka menekankan pada pertumbuhan keahlian. Perguruan terbesar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, yaitu Perguruan Svarnadwipa, berada di bawah kendali mereka. 

Kadatuan Kedua adalah yang paling banyak mengirimkan anggota keluarganya di dalam kancah politik pemerintahan Kemaharajaan. Jumlah anggota keluarga mereka terbesar, serta sangatlah ambisius. 

Kadatuan Ketiga menguasai sumber daya yang datang dari laut, Kadatuan Keempat dan Kadatuan Kelima menitikberatkan pada pertanian dan perdagangan, Kadatuan Keenam mengembangkan teknologi, dan Kadatuan Ketujuh menguasai pertambangan.

“Kadatuan Kedelapan tiada menghiraukan perselisihan dan sengketa. Mereka hidup di dalam dunia mereka sendiri. Sedangkan Kadatuan dimana dikau saat ini menumpang, Kadatuan Kesembilan, sama sekali tiada diperhitungkan.” 

Terkait gambaran sepintas tentang Kemaharajaan Cahaya Gemilang, Bintang Tenggara justru tertarik dengan penilaian banyak ahli di luar, yang menganggap bahwa mereka sebagai pengecut. 

Setelah bertukar sapa lebih lanjut, Bintang Tenggara berpamitan dan melangkah kembali menuju Kadatuan Kesembilan. 


“Wara, hajatan akbar apakah yang akan berlangsung di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?” aju Bintang Tenggara di tengah waktu istirahat dari latihan.

Wara terlihat gugup. Ia menoleh ke arah Bintang Tenggara, tatapan matanya kosong. Sepertinya, ia tak hendak membahas perihal hajatan akbar dimaksud. 

“Kemaharajaan Cahaya Gemilang didirikan oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang hampir seribu tahun lalu. Sampai saat ini pun, beliau masih berperan sebagai penguasa mutlak.” Akhirya remaja itu membuka ceritera. 

Wara kemudian melanjutkan, tentang Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang yang memiliki sembilan keturunan. Mereka adalah cikal-bakal berdirinya Sembilan Kadatuan Wangsa Syailendra. Anak-anak Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang ini tak lain adalah kakek buyut dari Rudra dan Samara. Dengan kata lain, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang juga merupakan kakek dari kakek buyut Wara. 

Karena usia yang sudah terlalu lanjut, puluhan tahun silam Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang bertitah bahwa penggantinya nanti merupakan keturunan pada generasi ketujuh, atau dengan kata lain pada generasi Wara. Titah tersebut diturunkan agar setiap Kadatuan memiliki waktu untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. 

Wara juga menggarisbawahi, bahwasanya Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan satu dari segelintir kerajaan yang menekankan pada keahlian. Dengan kata lain, yang berhak memimpin kemaharajaan adalah yang terkuat di antara keturunan bangsawan. 

“Tiga pekan dari hari ini, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang akan membuka hajatan akbar untuk menentukan pewaris tahta.”

“Berdasarkan kekuatan…?” aju Bintang Tenggara

“Benar.”

Bintang Tenggara mulai dapat membaca kegundahan hati temannya itu. Jikalau persaingan berlangsung di antara remaja seusia, maka Wara kemungkinan besar berada pada posisi bontot. 

“Ayo, kita berlatih tarung lagi,” ujar Bintang Tenggara. Waktu yang tersedia untuk menyiapkan Wara sudah semakin pendek. 


Bintang Tenggara memulai hari dengan berlari pagi bersama Wara. Jelang siang, ia meramu keperluan Ibunda Samara. Akan tetapi, anak remaja itu tiada lagi membuat penawar racun, karena sudah tak ada lagi racun yang masuk ke dalam tubuh perempuan dewasa itu secara berkala. Ia kini meramukan jamu untuk mengembalikan kesehatan tubuh secepat mungkin.

Di saat yang sama, Wara mengemban tugas di Balai Utama Kadatuan. Ia menerima kunjungan dari para saudagar yang datang hendak membeli tumbuhan siluman Pakis Kadal Hijau. Jumlah yang dijual dibatasi, sesuai perintah Ayahanda Sulung Rudra. Untuk memperoleh persedian yang terbatas itu, para saudagar di dalam jaringan Saudagar Senjata Malin Kumbang bersedia membayar mahal. 

Sebagai catatan, Malin Kumbang sangatlah cerdik. Setelah memperoleh hak cipta, ia mewaralabakan Pil Cakar Bima. Langkah ini memungkinkan dirinya terus meraup keuntungan tanpa perlu banyak bersusah payah. Saat ini, Pil Cakar Bima telah dijual bahkan di luar Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Usai makan siang, Bintang Tenggara dan Wara kembali bersama. Mereka berlatih tarung sampai matahari terbenam. Pengaturan latihan yang berjalan sangat mirip dengan di kala anak remaja itu berlatih bersama Panglima Segantang di Kerajaan Parang Batu. 

Sungguh ironis. Anak remaja yang dulunya menghindar dari berlatih, kini malah menjadi pelatih.