Episode 28 - Cewek Cantik Pun Bisa Galak


 Entah apa yang ada di pikiran Coklat saat masuk kelasnya dengan si cewek itu, yang jelas mukanya sudah sumringah lagi, tidak seperti tadi. Mimpi apa dia semalam kok bisa-bisanya ada cewek cantik yang mau jalan ke kelas barang, dan ini adalah pertama kali ada seorang cewek yang rela jalan bareng ke kelas sama dia, dari jaman dia SD sampai SMA enggak pernah ada cewek yang mau jalan bareng sama dia.

 Usut punya usut, ternyata cewek yang masih belum diketahui namanya ini suka sama cowok pecicilan macam dia, alasannya sih dia lebih senang cowok humoris ketimbang cowok yang romantis. 

 Arul dan Ival seolah enggak percaya ketika Coklat masuk ke dalam kelas bareng sama cewek cantik. 

 “Rul, itu beneran si Coklat jalan sama cewek?” 

 “Hmmm, iya kayaknya beneran.”

 “Hmmm, gue kok enggak percaya ya? Selama gue kenal sama dia, dia itu paling anti didekatin sama cewek.”

 “Waw, sombong amat tuh bocah enggak mau didekatin sama cewek.”

 “Bukan dia yang sombong, tapi ceweknya yang pada enggak mau.”

 “Wek!”

 “Pasti dia melet tuh cewek.”

 “Hmmm gitu ya, jadi kalau kita melet sama cewek bakal dapat cewek.”

 “Iya bisa dibilang kayak gitu.”

 Melet sama cewek, Arul teringat sama kata-kata Ival barusan. Nah dalam bayangan Arul, Arul praktekin di kampus. Setiap ada cewek yang lewat dia meletin lidahnya ke cewek.

 “Hy, Neng.” 

 “Haduh, cowok kenapa nih? Kok melet-melet ke gue, iiih,” ucap cewek 1 yang lewat kemudian langsung kabur.

 “Huft gagal.”

 Percobaan pertama Arul gagal, lanjut kepercobaan ke dua.

 “Hy, Neng,” sapa Arul sambil melet.

 “Mas, kalau mau gila jangan di kampus, kasihan kan para cewek pada ilfeel,” kata cewek 2.

 Usai gagal meletin cewek di dalam khayalannya, Arul kembali ke dunia nyata.

 “Hah, ucapanlo enggak benar, setiap kali gue meletin lidah ke cewek, ceweknya ilfeel kalau lihat gue.”

 “Lo meletnya pakai lidah, maksud gue tuh meletnya pakai jampi-jampi.”

 “Dimana-mana, melet itu ya melet itu pakai lidah.”

 “Iya deh, apa kata lo aja.”

 ***

 Seusai masuk dalam kelas Coklat pun duduk di samping Ival dan Arul. Rasa penasaran begitu kental terasa di kepala kedua temannya itu, tanpa ragu mereka pun bertanya pada Coklat, kenapa tumben-tumbenan Coklat dapat cewek?

 “Tumben lo jalan ke kelas sama cewek?” tanya Arul.

 “Hmmm kaget lo ya? Ya itulah kelebihan gue, bisa gandengan sama cewek.”

 “Wah jangan-jangan lo pakai jampi-jampi lagi buat pelet tuh cewek,” kata Arul.

 “Wah lo berprasangka buruk aja sama gue. Kenapa gue pas masuk kelas gandengan sama cewek? Itu karena gue ganteng, Rul.”

 Seketika para mahasiswa di dalam kelas ini pun muntah-muntah setelah mendengar pengakuan Coklat barusan.

 “Owweeee!”

 Sepertinya Coklat udah bisa move on dari perasaannya terhadap Bu Riny. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, perasaan Coklat pun berbunga-bunga, ciyeee, baru kali ini melihat tokoh utamanya jatuh cinta.

 “Sob, kalian tahu enggak, kalau cewek tadi tuh cewek yang naksir sama gue,” kata Coklat.

 “Enggak percayaaaa,” kompak Arul dan Ival.

 “Kok enggak percaya?”

 “Soalnya lo kan enggak pernah laku,” kata Ival.

 “Tega lo, Val. Gue kasih bukti nih, gue bisa dapat nomor handphone tuh cewek.”

 “Buktikan coba.”

 Coklat mulai beranjak dari tempat duduknya, dia melangkahkan kaki ke tempat duduk cewek itu yang tepat berada di sebelah tempat duduk miliknya. Tak memerlukan waktu seribu tahun lamanya, Coklat kini sudah berdiri di samping cewek itu.

 “Ehmmm.” Coklat mendeham.

 Cewek itu menoleh ke arah Coklat. Sontak saja hal itu membuat cewek itu terkejut.

 “Coklat, kamu kok bisa berdiri?” 

 Tanpa basa basi lagi, Coklat langsung bertindak melakukan serangan menusuk ke hati Eni. Berharap kali ini cewek yang jadi incerannya klepek-klepek. Dikira ayam kali klepek-klepek?

 “Kamu lihat handphone aku enggak? Soalnya hape aku enggak ada, aku sudah mencarinya keliling dunia tapi enggak ketemu. Barangkali kamu lihat.”

 “Emang handphonenya kamu taruh dimana?”

 “Ya kalau aku tahu mah, aku enggak bakal tanya kamu kali?”

 “Lalu apa yang aku harus lakukan?”

 “Coba dah kamu telepon ke nomor aku, siapa tahu ada di sekitar sini.”

 Cewek itu langsung menuruti permintaan Coklat, dia langsung mengambil handphone dari saku celananya. Disaat cewek itu sudah menggenggam handphonenya, tiba-tiba terdengar suara bisikan dari dalam hatinya.

 En, jangan kamu telepon Coklat, itu modus dia, ujar seorang yang bernama Ica dari dalam hatinya berbisik kepada cewek itu. Kebetulan Ica duduk di belakang cewek itu.

 Wah hebat ya mereka bisa telepati, nah kalau begitu kenapa juga mereka beli handphone?

 Tapi handphone dia ilang loh, Ica. Kita enggak boleh berburuk sangka sama orang lain.

 Itu modus dia, En, aku cuma kasih tahu aja.

 Aku cuma mau nolongin orang, biar yang di atas yang membalasnya.

 Ya sudah, En, aku bilangin doang.

 Sambungan telepati mereka berdua pun terputus.

 Cewek pun mulai mengetik nomor yang diucapkan Coklat dengan jari-jemarinya sendiri, ya iyalah masa jari-jemari boleh pinjam. Setelah nomor Coklat sudah tertulis lengkap di handphone milik cewek itu, cewek itu kemudian menghapusnya, lah buat apa diketik doang? Yang benar itu, cewek itu langsung menelepon Coklat, sayang berkali-kali ditelepon tidak ada jawaban dari sang pemiliknya. Cewek itu kebingungan, begitu pula dengan Coklat.

 “Kok, kamu enggak angkat telepon dari aku, Klat?”

 “Lah, handphone aku kan hilang, masa aku angkat, ketahuan dong kalau aku cuma pengin minta nomor kamu. Aduh, keceplosan.”

 “Hah, apa kamu bilang? Kamu mau minta nomor aku doang?!”

 “Iya, hehehe.”

 Bag bug bag bug bag bug! Plak! Dezzzing! 

 Setelah kejadian itu, Coklat keluar dari kelas dengan muka babak belur.

 “Aduh, gila tuh cewek makan apa kali sampai gue bonyok kayak gini, aduh aduh.” Coklat mengeram kesakitan.

 ***

 Sepanjang perjalanan pulang dari kampus, Coklat menjadi pusat perhatian bagi para pejalan kaki maupun pemakai kendaraan bermotor. Bukan tanpa sebab jika dia menjadi pusat perhatian. Mukanya yang bonyok gara-gara diamuk oleh cewek itu membuat hidung, mata, bibir, telinga dan pipinya lepas. Sambil diboncengi sahabat kampusnya, Ival, Coklat mulai curhat.

 “Val, kira-kira bengkel mana ya yang bisa pasang muka gue seperti semula?” tanya Coklat sambil menenteng plastik yang berisi bagian mukanya yang lepas.

 “Enggak ada?”

 “Terus bagaimana dong nasib gue? Lah masa seumur hidup, muka gue rata kayak begini?”

 “Lah enggak tahu, itu kan DL?”

 “Oh, begitu lo ya sama sahabat sendiriii!”

 Lima menit kemudian, telinga, mata, hidung dan mulut Ival berhamburan di tengah jalan. Untung saja keadaan di jalan raya tidak begitu sepi sehingga membuat Ival tidak mudah untuk memungut bagian wajahnya yang lepas.

 “Ini gara-gara lo, Klat, muka gue jadi rata begini,” ujar mulut Ival yang tergeletak di tengah-tengah jalan.

 “Ini kan DL,” sahut mulut Coklat yang masih ada di dalam kantung plastik.

 Satu persatu Ival memungut bagian wajahnya yang berhamburan, mulai dari telinga, mata dan hidung. Sayangnya, belum sempat mengambil mulutnya tiba-tiba lewat sebuah mobil truk yang dengan sengaja melindas mulut Ival. 

 “Tidaaaak, mulutkuuuu!” teriak Ival dari hatinya, sayang teriakan itu tidak mampu didengar oleh sopir truk.

 Seketika saja mulut Ival yang terlindas tidak mengalami kerusakan parah, cuma hancur berkeping-keping. Ival hanya bisa berdiri menyaksikan mulutnya yang hancur dengan perasaan sedih. Lalu, hujan turun dengan derasnya. Tamat.

 ***

 Sehabis itu mereka berdua langsung mendatangi bengkel servis muka. Pak Joni, pemilik bengkel servis muka adalah seorang pengalaman dalam hal membetulkan wajah orang, mulai dari membuat wajah orang menjadi lebih ganteng atau cantik dan sebaliknya, membetulkan bagian-bagian muka yang rusak atau membuat wajah orang menjadi abstrak. Semua belum tentu bisa dilakukan Pak Joni.

 Dua buah kantung plastik dijatuhkan oleh Ival dan Coklat di atas rak kaca yang berisi replika wajah manusia. 

 “Bang, betulin muka saya dong,” pinta Coklat.

 “Saya juga. Muka saya diacak-acak sama dia nih, Bang.”

 “Lo juga sih, Val, yang cari gara-gara sama gue. Teman lagi susah bukannya dibantuin!”

 “Percuma gue bantuin lo, Klat, gue juga enggak bisa betulin mukalo!”

 “Tapi seenggaknya lo jangan bikin gue kesal dong!”

 “Lo tuh!”

 “Lo!”

 Pak Joni yang duduk di balik rak kaca mulai kesal dengan kedua anak manusia di depannya, akhirnya dia mengeluarkan rasengan miliknya sendiri. Seketika, Coklat dan Ival pun tewas. Cerita tamat. Sayangnya Ival dan Coklat enggak jadi mati, karena ada seseorang yang enggak diketahui identitasnya diam-diam memutar waktu ke lima menit sebelumnya. Ini adalah waktu lima menit yang lalu.

 Dua buah kantung plastik dijatuhkan oleh Ival dan Coklat di atas rak kaca yang berisi replika wajah manusia. 

 “Bang, betulin muka saya dong,” pinta Coklat.

 “Saya juga. Muka saya diacak-acak sama dia nih, Bang.”

 “Lo juga sih, Val, yang cari gara-gara sama gue. Teman lagi susah bukannya dibantuin!”

 “Percuma gue bantuin lo, Klat, gue juga engga bisa betulin mukalo!”

 “Tapi seenggaknya lo jangan bikin gue kesal dong!”

 “Lo tuh!”

 “Lo!”

 Pak Joni yang duduk di balik rak kaca mulai kesal dengan kedua anak manusia di depannya, akhirnya dia mengeluarkan rasengan miliknya sendiri. Seketika, Coklat dan Ival pun tewas. Cerita tamat. Sayangnya Ival dan Coklat enggak jadi mati lagi, karena ada seseorang yang engga diketahui identitasnya diam-diam memutar waktu ke lima menit sebelumnya. Ini adalah waktu lima menit yang lalu.

 Dua buah kantung plastik dijatuhkan oleh Ival dan Coklat di atas rak kaca yang berisi replika wajah manusia. 

 “Bang, betulin muka saya dong,” pinta Coklat.

 “Saya juga. Muka saya diacak-acak sama dia nih, Bang.”

 Coklat yang pernah mengalami kejadian ini, langsung tutup mulut dan engga mau ribut sama Ival, dia takut mati lagi. Dia takut kalau ceritanya cuma putar-putar disini saja, kasihan yang bacanya. 

 Setelah Coklat meminta seperti itu, Pak Joni pun langsung merespon itikad baik keduanya. Alangkah tidak terkejutnya Pak Joni ketika melihat wajah Coklat dan Ival yang rata.

 “Oh, muka kalian rata pasti yang namanya Coklat dibabat habis sama cewek ya dan yang namanya Ival dibabat habis sama Coklat, betul?”

 “Kok tahu?” tanya serentak Coklat dan Ival.

 “Tahu lah, saya kan baca ceritanya di atas.”

 Pak Joni lantas mengambil kedua plastik yang tergeletak di atas rak kaca. Dia terdiam mematung saat melihat isi plastik itu yang berupa bongkahan telinga, mata, hidung dan pipi.

 “Jadi bagaimana, Bang, bisa betulin muka saya?” tanya Coklat.

 Pak Joni masih mematung.

 “Bang, gimana?” tanya Ival.

 Pak Joni masih mematung juga.

 “Bang, kok diam sih? Kamu marah ya sama aku?” tanya Coklat.

 Seketika saat itu pula, Pak Joni yang mendengar ucapan geli dari Coklat langsung bunuh diri menabrakan diri ke mobil yang lagi lewat.