Episode 27 - Ketika Coklat Galau


 Materi belajar Coklat dan Ivl sudah selesai. Keduanya kini duduk-duduk di atas motor sambil bersiap-siap untuk pulang. Senyum Bu Riny menyapa Coklat dan Ival. Mereka berdua terkejut ketika melihat Bu Riny ada di hadapan mereka.

 “Hy Ival, Hy Coklat.”

 “Hy juga Ibuuu,” kompak Coklat dan Ival.

 “Ibu cuma mau kasih ini, jangan lupa datang ya,” ucap Bu Riny sambil memberi undangan pernikahannya.

 “Ini apa, Bu?” tanya Coklat dengan wajah sedih ya.

 “Ini .…” jawab Bu Riny dengan terbata-bata.

 “Bu, ini apa? Tolong jelaskan!” 

 “Coklat ini itu .…” Bu Riny tak sanggup untuk menjelaskan.

 Melihat Coklat yang terlanjur emosinya, Ival yang berdiri di sampingnya lalu mengusap-usap pundak Coklat. Ival mencoba menenangkan perasaan Coklat yang mungkin tidak menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.

 “Ibu .…”

 “Coklat, maafkan ibu ya. Ibu sulit untuk mengungkapkan kebenaran ini, tapi …”

 “Sudahlah, Bu, saya hanya menanyakan ini. Ternyata ibu enggak tahu ini apa, ini itu undangan! Ibu itu harus banyak belajar lagi mengenal nama-nama benda,” kata Coklat sambil memegangi undangan dari Bu Riny.

 “Arrrgggghhht! Dasar! Ibu juga tahu kalau nama benda ini undangan!”

 Bletak!

 Bu Riny pun meninggalkan Coklat dan Ival sambil tersenyum, sementara Coklat meringis menahan benjolan di kepalanya akibat dijitak barusan. Sukurin! Coklat dan Ival merasa terkejut melihat Bu Riny pulang bersama seorang cowok sedang menaiki ninja.

 “Itu cowoknya Bu Riny?” tanya Ival.

 “Mungkin.”

 “Hebat ya dia ngajak Bu Riny naik ninja.”

 “Iya, tapi gua kasihan sama ninjanya.”

 Selidik punya selidik, memang betul Bu Riny bersama cowok yang digandengnya kini sedang menaiki ninja, hal itu dapat dibuktikan dengan merintihnya ninja yang mereka naiki itu.

 “Ih, woy berat woy, masa gue gendong dua orang sih!” seru orang yang pakai topeng ninja.

 “Sudah jangan protes, namanya juga naik ninja,” kata cowok deket Bu Riny.

 Sementara Coklat dan Ival cuma bisa garuk-garuk kepala melihat kejadian aneh di depan matanya. 

 “Ternyata ninja masa kini itu bisa ngomong ya,” ujar Coklat.

 “Iya, selain itu juga bisa buat jaga rumah dari kemalingan.”

 “Betul, selain itu juga bisa menumpas kejahatan.”

 Dapatkan segera di toko-toko terdekat di kota Anda, ninja dengan berbagai multifungsi dan sangat besar manfaatnya bagi Anda. Selain bisa dijadikan kendaraan, mereka juga bisa dijadikan penjaga rumah atau pembasmi kejahatan. Cukup telepon ke nomor 021-9876543210, buruan telepon! Senin harga naik!

 “Buruan beli kami, dan Anda akan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda, ciaaaaa.” Ninja lagi bawa pedang sambil beriklan.

 Maaf para pembaca di mana pun Anda berada, ya itulah selingan enggak jelas dari cerita Coklat dan kawan-kawan, dan sekarang kita kembali ke dalam cerita yang sesungguhnya.

 Seusai Bu Riny pulang sama seorang cowok, kini Coklat dan Ival juga berniat pulang. Tapi tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada seorang mahasiswi sedang mengintip dari balik tembok yang masih belum bisa digambarkan, yang jelas mahasiswi itu cantik namun pemalu.

 “Jadi namanya Coklat toh,” kata mahasiswi tersebut.

 Kalau dilihat dari cara mahasiswi itu kemungkinan dia adalah seorang ninja mata-mata dari desa lain, hmmmm patut dicurigakan. Apa dia ditugaskan untuk membunuh Coklat? Atau dia ditugaskan untuk menghancurkan desa tempat tinggal Coklat? Apa setelah itu akan terjadi peperangan antar desa? Dan Coklat akan bertarung dengan ninja mata-mata itu dan lalu kemudian menang, setelah menang Coklat akan menjadi seorang hokage? Hmmm, bisa jadi, bisa jadi ngawur nih cerita kalau ceritanya kayak gitu,

 ***

 Malam hari sudah tiba. Ketika malam hari datang, Coklat seperti bingung. Dia tak ceria seperti hari-hari sebelumnya. Di depan sebuah rumah, Coklat hanya termenung sambil melihat sebuah undangan dari Bu Riny yang masih dipegangnya. Ada suara hati yang mengatakan dia harus melupakan Bu Riny dalam hidupnya.

 “Mungkin ada baiknya gue harus melupakan Bu Riny.”

 Coklat teringat dimana dia pertama kali bertemu Bu Riny di dalam kelasnya waktu masih sekolah. Senyum Bu Riny yang pertama dia dapat sampai saat ini masih dia simpan. Disaat Coklat masih merasakan kegalauannya, tiba-tiba muncul bapaknya yang datang entah darimana lalu tiba-tiba saja duduk di samping Coklat.

 “Lo kenapa diam aja dari tadi?” sapa bokap Coklat.

 “Anu.”

 “Lo jangan kebanyakan diam, tahu sendiri lo kalau diam tiba-tiba penuh tuh tempat duduk lo.”

 “Eh busyet itu kan babeh kalau diam-diam enggak lama kemudian lalat pada ngumpul tuh.”

 “Hmmm ngeles aja lo, eh itu undangan siapa?”

 Tiba-tiba aja bapaknya Coklat ngeliat undangan yang ada di tangan Coklat, kenapa dia bisa melihat? Ya karena dia punya mata, nah mikir. Coklat pun tak panjang lebar langsung saja menjawab.

 “Ini undangan dari Bu Riny beh, dia mau merit sama orang lain.”

 Mendengar kabar buruk itu, bapaknya Coklat langsung tertunduk seolah tak percaya dengan kenyataan. Suara yang terlontar dari mulutnya pun terdengar pelan.

 “Jadi, dia mau merit sama orang lain, padahal babeh itu ngebet banget sama dia, tapi … ah sudahlah.”

 Bokap Coklat lalu berdiri dan memasuki rumah ini. Coklat yang melihat bapaknya yang merasa sakit hati pun langsung memanggilnya.

 “Beh! Mau kemana?”

 “Babeh mau ke dalam dulu,” jawab bokapnya Coklat dengan suara lemah.

 “Tunggu, jangan ke dalam!”

 Coklat merasa bersalah, dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Sama seperti bapaknya dia juga merasa kehilangan sosok Bu Riny yang dia kagumi sejak masa SMA dulu. Melihat kenyataan ini, rasanya Coklat ingin menangis saja. Coklat masih melamun di depan rumah. Tak berselang lama, beberapa piring plastik terbang dari dalam rumah yang kemudian disusul keluarnya bapak Coklat dari dalam. Coklat yang melihat kejadian ini makin bingung.

 “Ampuuun! Ampuuuun!” teriak bapaknya Coklat.

 “Keluar lo dari rumah gue!” teriak seorang wanita dari dalam rumah.

 “Beh, ada apaan?” tanya Coklat.

 “Haduh gue lupa, ini kan bukan rumah kita, ini kan rumah tetangga!”

 “Babeh sih tadi enggak dengar ucapan Coklat!”

 “Pergi lo dari rumah gueeeee!”

 Bapak anak sama aja, rumah tetangga dipakai buat curhat habis itu main seenaknya nyelonong ke dalam kayak rumah sendiri, huft.

 ***

 Bahkan dia masih galau pas di kamarnya sendiri, perasaannya seperti hancur lebur berkeping-keping tak tersisa, hanya menyisakan kepingan hati yang sunyi. Di dalam kamarnya yang gelap, Coklat duduk di kasur sambil menundukkan kepalanya, dia terlihat amat terpukul dengan kenyataan yang lebih pahit dari sebuah pare. Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulutnya, dia seperti kehabisan kata-kata. Coklat masih diam sambil duduk di atas kasur.

 “Zzzzzz ... zzzz ….”

 Itu buktinya kalau Coklat telah habis kata-kata. Tak berapa lama, raganya pun terjatuh ke atas kasur, ya mungkin dia sudah tak sanggup lagi menahan perasaannya. Saat raganya tergeletak di kasur, matanya pun turut terpejam. Si penulis pun jadi ikut sedih dengan keadaan dia.

 “Zzzzz ... zzzz ….”

 Sebentar-sebentar! Itu sih bukannya lagi galau, yah ampun Coklatnya tidur. Saya sudah serius-serius bikin suasana sedih, eh tokohnya malah tidur.

 ***

 Sang pagi sudah kembali menyapa para umat manusia di mana pun berada. Sang pagi juga yang telah menenggelamkan sang malam, aduh ngomong apaan sih? Kita kembali ke dalam suasana kampus. Ini adalah suasana para mahasiswa sebelum masuk menerima materi masing-masing. Dari ratusan mahasiswa yang ada di kampus, ada banyak kisah yang akan diceritakan mulai dari seorang Mubin yang gemar godain cewek sampai Coklat yang lagi galau.

 Bertempat di kantin kampus, ya di kantin kampus ini sudah dapat dipastikan ada banyak orang yang jualan makanan, nah terus ada kisah dari mahasiswa di kantin? Ya enggak ada. Lah terus apa hubungannya sama kantin? Ya hubungannya cuma mengingatkan doang kalau di kantin itu ada yang jualan makanan.

 Di dalam kelas, Mubin sengaja mendekati seorang mahasiswi yang bernama Fia. Fia itu cewek cantik dan juga imut. Mubin tanpa permisi langsung duduk di samping Fia sambil mengajaknya salaman.

 “Hy, kenalin aku Mubin, nama kamu siapa?” sapa Mubin sambil nyengir.

 “Nama aku ... nama aku Fia,” balas Fia tersenyum.

 “Oh Fia toh namanya, kalau aku ngajakin kamu merit, kamu mau enggak?”

 Plak! 

 Mubin cuma mengusap-usap pipi kirinya.

 “Kok ditampar sih?”

 “Merat merit merat merit, enak aja baru kenal sudah ngajak merit! Merit sana sama kambing!”

 “Emang bisa merit sama kambing?”

 “Ya bisa lah!”

 Keesokan harinya setelah mendengar saran dari Fia, Mubin langsung merit sama kambing. Semua teman kampusnya pun datang memberi ucapan selamat sama dia, termasuk Fia. Fia yang saat ini sudah sampai di acara pernikahan Mubin cuma bisa garuk-garuk kepalanya.

 “Haduh nih orang, kok betulan sih merit sama kambing?” tanya Fia sambil tepuk jidad.

 Beralih ke Idik, Idik yang merupakan mahasiswa pintar paling rajin baca-baca buku pelajaran. Sebelum mata perkuliahan dimulai, Idik selalu sempatkan waktu untuk membaca. Melihat gelagat-gelagat orang pintar seperti Idik, Ival dan Arul yang duduk di belakangnya mencoba untuk mengikutinya. 

 “Val, liat tuh orang pintar hobinya baca mulu,” kata Arul.

 “Iya, Rul, kita ikutin dia yuk, kita juga harus rajin baca.”

 “Yoi, gue setuju.”

 Syukurlah ada kemajuan dari Ival dan Arul, mungkin karena mereka berdua ingin tampil lebih baik dari Idik makanya ada motivasi buat baca buku. Arul mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, lalu dia memberikan kepada Ival.

 “Tuh,Val, baca gih sampai habis.”

 “Thanks, tapi.”

 “Kenapa?”

 “Kayaknya nih gue sudah pernah baca dah, coba dong buku komik yang terbaru.”

 “Tenang, masih banyak kok komiknya.”

 Dipikir buku pelajaran yang mau dibaca, enggak tahu mah buku komik, huft.

 Sementara Kak Fahmi dengan wajah sumringah bin ceria sedang berlari-lari dikejar oleh Kak Tiara. Wah kayaknya sih mereka berdua lagi falling in love nih, untung saja di dalam kampus enggak ada pohon-pohonan dan untung saja enggak lagi hujan, coba kalau lagi hujan disertai pohon-pohon yang rindang, mereka berdua bakal joged-joged ala sinetron India.

 “Tiaraaa,” sapa Fahmi dengan senyumnya di balik pohon sambil kehujanan.

 “Fahmiii,” sapa Tiara yang lagi lari mau menangkap Fahmi juga sambil kehujanan.

 Keesokan harinya, kedua orang itu langsung demam, pilek dan juga batuk-batuk gara-gara main hujan-hujanan. Kedua orang itu cuma tidur-tiduran sambil selimutan di kamar masing-masing.

 “Haduuuh ... dingiiiin ... haccciiihhh!” ucap Fahmi sambil selimutan.

 “Kapok dah gue main hujan-hujanan, uhuk uhuk.” Tiara juga sama.

 Kak Tiara terus mengejar-ngejar Kak Fahmi sampai di lantai atas, wah romantis banget ya mereka berdua, menikmati masa muda dengan bercinta. Sampai di lorong kampus, Kak Fahmi sudah tak bisa berlari lagi karena di belakangnya ada tembok, hmmm bakal ada adegan pelukan nih.

 “Fahmiiii!”

 “Tiaraaa!”

 “Balikin dompet gue cepetan!”

 “Enggak bisa Tiara, aku mau dikejar sama kamu dan ini satu-satunya cara supaya aku dikejar sama kamu.”

 Dasar maling dompet!

 Sementara kedua teman Tiara, yaitu Okta dan Nia lagi bengong saja di dalam kelas, ya karena mereka berdua bengong jadi enggak perlulah diceritain, masa orang bengong diceritakan juga. Orang-orang juga sudah paham kalau bengong itu cuma diam doang. Terus mana Sweety dan juga Wakamiya? Mereka berdua sama kayak Nia dan Okta.

 Sebenarnya sih masih banyak cerita-cerita anak kampus ini, tapi masa iya harus diceritakan semua? Nah kalau mahasiswanya diceritakan semua terus nanti dosen-dosen pada demo minta diceritakan juga. Kalau demo sih enggak apa-apa, kalau tuh para dosen kompak nuntut si penulis ke ranah hukum gimana? Terus disidang, padahal kuliah saja baru semester dua.

 “Saudara penulis, Anda akan dikenakan hukuman tidak boleh menulis lagi! Sah,” kata Pak Hakim di ruang sidang.

 “Saaaaah!” teriak para dosen.

 Kata sah pun dengan ikhlas diserukan oleh para dosen sebagai saksinya, dan dengan itu akhirnya kedua mempelai telah resmi menjadi sepasang suami istri. Apaan nih? Kok ngaco?

 ***

 Di lorong-lorong gedung kampus, terlihat Coklat lagi berjalan sendirian. Dia menundukkan kepalanya kayak orang lagi galau, wajahnya terlihat tak bersemangat. Dia tak hiraukan suasana di sekitar kampusnya. Hingga dia pun masuk ke kelas begitu saja dan langsung duduk di kursi kosong.

 “Kenapa sih kenyataan itu begitu pahit, emang sih gue belum pernah nembak dia tapi pasti dia tahu kalau gue udah lama suka sama dia,” kata Coklat mencoret-coret mejanya, “karena sudah lama enggak ketemu sama dia, eh ujug-ujug dia kasih ke undangan ke gue, sakit tau uh uh uh!” lanjut Coklat.

 Seluruh mahasiswa yang ada di dalam kelas ini cuma bengong. Kenapa kok bengong aja? Enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba nongol makhluk yang enggak dikenal langsung main duduk di dalam kelas.

 “Eh, lo siapa?” tanya seorang cowok anak bahasa Inggris yang duduk di belakang Coklat. Hebat ya tuh bahasa Inggris, padahal dia bukan dari sejenis makhluk hidup tapi bisa beranak.

 Coklat baru ngeuh ketika dia lihat-lihat suasana kelas yang di dalamnya enggak ada satu orang pun yang dia kenal.

 “Gue Coklat, emmm ini anak-anak prodi matematika semester satu ya?”

 “Ini kelas prodi Bahasa Inggris, salah kelas lo.”

 “Wah enggak bisa, situ yang salah kelas, lagian kenapa gue masuk kelas ini?!”

 Merasa enggak pernah salah, Coklat pun akhirnya ngotot kayak gitu. Kengototan Coklat itu membuat anak bahasa Inggris yang menanyakan dia menjadi bingung.

 “Lah mana gue tau?”

 “Lo aja enggak tahu apalagi gue yang salah masuk kelas?”

 “Lah aneh banget nih orang.”

 “Wah parah lo, makanya kalau ada orang yang salah masuk kelas jangan suruh masuk.”

 “Lah lo yang masuk sendiri.”

 “Lah kalau gue ngajak-ngajak orang buat salah masuk kelas nanti pada enggak mau masuk.”

 Krik krik krik... si anak bahasa Inggris itu lalu menggaruk-garukkan kepalanya. Coklat kemudian berdiri dari tempat duduknya kemudian dia mengusap-usap pundak orang itu.

 “Haduh, lain kali jangan diulangi lagi ya, enggak baik itu. Kamu ini saya yang salah masuk kelas, kamu yang bingung, saya aja enggak bingung.”

 “Wek!”

 Coklat pun keluar dari kelas anak bahasa Inggris, dia sekarang sudah sampai di depan pintu kelas bahasa Inggris ini. Sebelum melanjutkan perjalanannya ke barat mengambil kitab suci, lho kok ngambil kitab suci? Eh bukan, maksudnya perjalanan ke kelasnya. Coklat menengok kanan kiri dahulu, katanya takut ada mobil atau motor lewat. Lha ini kan di dalam kampus, lagipula juga kenapa tuh mobil sama motor jalan di dalam kampus. Lagipula juga kalau ada mobil atau motor yang bisa jalan, orang yang melihatnya pada kaget.

 “Wah ada mobil bisa jalan!”

 Padahal kan mobil enggak punya kaki ye.

 Ketika langkah kaki Coklat mulai keluar dari dalam kelas, tiba-tiba ada seorang perempuan anak matematika juga yang engga sengaja menabrak dia. Kedebug! Ya itu anggap saja suara orang berbenturan.

 “Aduh,” ucap Coklat terjatuh.

 “Aduh juga,” ucap perempuan itu juga terjatuh.

 Saat mereka berdua sama-sama jatuh, engga ada buku yang ikutan jatuh juga ya, soalnya adegan buku jatuh sudah sering banget nongol di tv. Sepertinya ada cinta pandangan pertama yang dirasakan Coklat setelah melihat perempuan ini. Mereka berdua pun lalu kembali berdiri.

 “Eh kamu, Coklat ya?”

 “Iya kok kamu tahu?”

 “Iya, kita kan satu prodi sudah gitu satu kelas pula.”

 “Oh, betewe nama kamu siapa?”

 “Nama aku ...”