Episode 14 - Tiga Belas

Awal Dendam Kesumat


Disuatu gubug yang sederhana diatas puncak Gunung Tangkuban Perahu, nampak seorang tua yang sudah berusia lanjut mengenakan sorban, pakaian, serta jubbah serba putih sedang duduk tafakur mengheningkan cipta. Matanya terpejam, dia duduk dalam sikap bersemedi dengan mematikan seluruh panca indranya dengan khusyuknya. 

Tiba-tiba ruangan di sana diselimuti oleh kabut yang tak tembus pandang, selarik sinar putih dari atas langit melesat turun masuk kedalam gubug tersebut kehadapan si kakek yang sedang bersemedi itu, perlahan sinar putih itu berubah menjadi sesosok kakek berwujud baying-bayang yang sangat lanjut usianya berjanggut panjang lebat berawrna putih, mengenakan pakaian serba putih pula. 

“Supit Pramana, anakku bangunlah!” ucap si Kakek berwujud bayang-bayang itu.

Kakek berpakaian putih-putih itupun bangun dari semedinya dan membuka kedua matanya, dia langsung menjura hormat pada Kakek berpakaian putih dihadapannya, “Hamba Eyang Guru Sutalaksana”.

Si Kakek berpakaian serba putih berwujud bayang-bayang itu ternyata adalah Kyai Sutalaksana, sesepuh di bumi Pasundan. Dia juga adalah seorang ahli silat baik ilmu kanuragan maupun ilmu kebathinan, konon dia adalah salah satu keturunan dari mendiang Prabu Wastukencana, “Supit Pramana anakku, kekuatan tapamu telah sampai ke belahan bumi hargadumilah, tapamu kuterima”.

“Terimakasih Eyang, Eyang guru tentu telah mengetahui keadaan di bumi Pasundan sekarang ini, suatu angkara murka telah merajalela, pertumpahan darah telah disulut oleh seorang raja muda yang sakti mandraguna dari Mega Mendung bernama Kertapati. Keangkara murkaan Prabu itu telah banyak menyengsarakan rakyat di Bumi Pasundan dan membuat perdamaian semakin menjauh”.

"Anakku Supit Pramana, ucapanmu menyatakan betapa hati sanubarimu menunjukkan bakti yang sangat tinggi terhadap kemaslahatan manusia di alam fana ini, aku paham bagaimana bahayanya Prabu dari Negeri Mega Mendung itu, apalagi ia telah mengadakan perjanjian Wasiat Iblis dengan Arwah Terkutuk dari dasar kawah Gunung Patuha melalui perantara si Topeng Setan! Maka kedatanganku kemari adalah berhubungan dengan permasalahan itu, Bagi dirimu, ada satu tugas yang sebenarnya sudah tersurat di alam gaib sejak tujuh belas tahun yang lalu..."

Dalam kejutnya mendengar ucapan Gurunya, Kyai Supit Pramana kembali rundukkan tubuh dan kepala. "Eyang Guru, saya mohon diberikan petunjuk atas tugas yang menjadi kewajiban saya itu".

“Tiga hari ke muka pada saat matahari hendak terbenam dari ufuk barat, kau harus menolong seorang pemuda yang terluka parah di dasar jurang lembah Tangkuban Perahu ini. Pemuda itulah yang kelak akan mampu menumpas kelaliman Prabu Kertapati. Kau harus menggemblengnya dengan berbagai ilmu yang kau miliki! Tanamkanlah perilaku budi pekerti yang baik padanya hingga ia akan menjadi seorang pendekar yang yang tahu budi pekerti, serta anggaplah ia sebagai anak kandungmu sendiri!”

Kyai Supit Pramana terdiam sejenak karena ia belum mengerti dengan apa yang dikatakan Kyai Sutalaksana padanya, maka ia bertanya lagi “Mohon maaf Eyang Guru, saya belum mengerti dengan tugas saya itu, siapakah pemuda itu?”

“Pemuda itu adalah anak dari Prabu Kertapati sendiri, dia telah membuang anaknya sendiri karena ia tidak tega untuk membunuh anaknya sendiri sebagaimana yang diminta oleh Arwah Terkutuk didasar kawah Gunung Patuha. Demi keamanan anaknya, ia telah menitipkannya pada Kyai Pamenang di Padepokan Sirna Raga di bukit Tagok Apu agar ia dapat mengawasi pertumbuhan putra sulungnya dari jauh. Dialah yang kelak akan memadamkan angkara murka ayahnya dan dialah satu-satunya orang yang terpilih untuk menghadapi Si Topeng Setan yang menjadi sumber angkara murka diantara keturunan Prabu Siliwangi!”

Kyai Supit Pramana mengangguk-nganggukan kepalanya “Baiklah, Hamba mengerti tugas hamba Eyang Guru, hamba akan melaksanakannya sebaik mungkin.”

“Ucapan sudah kau dengar, petunjuk sudah kau dapat. Sekarang laksanakan tugasmu.”

Kyai Supit Pramana kembali rundukkan tubuh dan kepala "Guru, saya siap melaksanakan tugas.”

"Semoga Yang Maha Kuasa melindungi dan memberi pertolongan padamu" perlahan tubuh Kyai Sutalaksana mengabur, kabut tak tembus pandang itupun semakin menipis, hingga akhirnya secara ajaib, tubuh Kyai Sutalaksana hilang dari pandangan Kyai Supit Pramana disertai dengan lenyapnya kabut putih.


***


Dharmadipa terus memacu kudanya menuruni bukit Tagok Apu, hatinya telah bulat untuk mencari Mega Sari ke Gunung patuha meskipun beberapa minggu yang lalu ia gagal menuju ke puncak gunung yang diselubungi kabut misteri itu. Kudanya terus dipacu hingga sang mentari pun berpulang ke ufuk barat, untunglah saat hari maulai gelap ia menemukan satu desa, ia pun memasuki desa itu.

Setelah memasuki desa itu ia celingukan melihat kesekelilingnya, desa itu nampak sangat sepi, lampu-lampu rumah banyak yang gelap, hanya beberapa saja yang dinyalakan, jalan utama di desa itupun sangat gelap tanpa diterangi satu obor pun. Dharmadipa merasakan firasat yang buruk, setelah berpikir sejenak ia memutuskan untuk melihat kesekeliling desa, baru saja kudanya berjalan perlahan beberapa langkah, telinga tajam pemuda itu menangkap suara dari sudut desa, ia pun segera memacu kudanya kesana.

Sesampainya di sana pemuda itu sangat terkejut melihat seorang pria paruh baya yang terluka parah, tangannya kutung sebelah, pria itu merintih-rintih dan mengerang kesakitan, Dharmadipa pun segera turun dari kudanya dan menghampiri pria itu “Bapak kenapa? Siapakah yang melakukan ini pada Bapak?” tanyanya.

Pria paruh baya menggenggam tangan Dharmadipa dan menatapnya dengan penuh ketakutan “Tolong… Ki Dulur tolong…”

Dharmadipa segera menotok luka di pangkal lengan pria tua yang dikutungi itu untuk menghentikan pendarahannya, ia lalu menatap orang itu dengan penuh rasa iba sebab seluruh tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka bekas siksaan yang sangat berat “Saya pasti akan menolong Bapak, tapi siapa yang melakukan ini pada Bapak?”

“Macan Seta!!! Gerombolan Macan Seta akan segera ke desa ini… Tolonglah anak istriku… Akkkhhhh…” usai berkata demikian, pria paruh baya itu menghembuskan nafas terakhirnya karena terlalu banyak kehilangan darah.

Dharmadipa menggeram penuh amarah “Jahanam! Macan Seta akan aku bakar tubuhmu hidup-hidup!” geramnya, tanda rajah cakra bisma di keningnya memerah jelas.

Saat itulah tiba-tiba berdatangan seluruh penduduk desa ke tempat itu, Dharmadipa menoleh dan memelototi mereka semua “Kalian baru datang?! Apa saja yang kalian lakukan?! Kalian tidak menolong Bapak warga kalian ini?!” semprotnya.

Seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian paling bagus diantara mereka maju menghampiri Dharmadipa “Ki Dulur, perkenalkan saya Bayana, saya Demang di Desa Gondangsari ini, kami tidak bisa menolongnya, dia dijadikan contoh oleh Gerombolan Perampok Macan Seta kepada seluruh rakyat desa ini, barang siapa yang tidak bersedia memberikan hartanya dan berani melawannya akan menjadi seperti dia, maka kalau kami menolongnya kami pasti akan mengalami nasib seperti dia”.

Dharmadipa melotot pada Ki Demang Bayana “Bedebah! pengecut sekali kalian! Jadi kalian lebih memilih untuk menyerahkan harta benda kalian tanpa melawan?”

Ki Demang melirik sejenak pada seluruh rakyatnya lalu menatap Dharmadipa dari ujung kepala ke ujung kaki “Ki Dulur pasti bukan orang dari daerah sini, siapa yang tidak tahu gerombolan perampok Macan Seta yang sangat ganas dan kejam itu? Seluruh desa di kaki gunung Masigit ini yang berani melawannya akan rata dengan tanah! Apalagi pemimpinnya, Si Macan Seta yang terkenal sakti digdaya!”

Mata Dharmadipa mendelik mendengarnya “Kalau kalian begitu pengecut untuk melawannya, biar aku saja yang melabrak gerombolan perampok itu! Kalian diam saja di rumah sembunyi dibawah ketiak istri kalian! Dan biar aku yang menguburkan Bapak tua ini saat ini juga!” makinya dengan jumawa.

Ki Demang melirik lagi pada warganya seolah meminta pendapat mereka, beberapa orang menganggukan kepalanya, wajah Ki Demang pun berubah menjadi ramah pada Dharmadipa “Benarkah Ki Dulur bersedia menolong kami untuk menumpas gerombolan perampok Macan Seta?”

“Iya aku akan menumpas mereka semuanya!” tegas pemuda conkak ini, wajah Ki Demang berubah menjadi berseri-seri ekspresi wajah seluruh warga yang di sana pun berubah menjadi ramah.

“Kalau begitu kami ucapkan terimakasih, sekarang bagaimana kalau Ki Dulur menginap saja dulu di rumah saya?” ajak Ki Demang.

“Terima kasih, tapi bagaimana dengan jenazah Bapak ini?” jawab Dharmadipa sambil menunjuk jenazah tersebut. 

“Kami akan menguburkannya esok pagi, sekarang mari Ki Dulur beristirahat dulu di rumah saya.”

Beberapa orang menggotong jenazah pria paruh baya yang malang itu, Dharmadipa lalu ikut bersama KI Demang Bayana ke kademangan, sesampainya Dharmadipa langsung dijamu oleh Ki Demang, “Maaf siapa nama Ki Dulur?” Tanya Ki Demang Bayana.

“Dharmadipa, saya dari bukit Tagok Apu.”

Ki Demang mengangguk-nganggukan kepalanya “Hmm… Dari Bukit Tagok Apu?”

Dharmadipa mengangguk. “Benar Ki Demang”.

Saat itu datanglah para pembantu Ki Demang yang menyediakan beraneka makanan dan minuman “Silakan Ki Dulur, ini sealakadarnya saja, maafkan kalau hidangan ini kurang berkenan di hati Ki Dulur” ucap Ki Demang.

Dharmadipa pun menerima hidangan itu “Ah tidak apa-apa Ki Demang, justru hidangan ini sangat berlebih untuk saya”.

“Sebenarnya hendak kemanakah tujuan Ki Dulur ini? Barangkali kami bisa bantu” Tanya Ki Demang sambil menyantap hidangannya.

“Saya hendak menuju ke Gunung Patuha” jawab Dharmadipa dengan polosnya.

“Ke Gunung Patuha?!” Ki Demang nampak sangat kaget mendengarnya.

“Kenapa nampaknya Ki Demang sangat kaget?” Tanya Dharmadipa.

“Ah, tidak apa-apa hanya saja menurut cerita gunung itu sangat angker dan menyimpan sejuta misteri” sahut Ki Demang.

“Iya benar, saya tidak heran dengan keterkejutan Ki Demang, namun saya ingin menyingkap tabir misteri di sana” jawab Dharmadipa yang saat itu tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan rasa kantuk yang hebat menghampirinya.

“Ah anda sangat berani Ki Dulur, semangat anak muda” sahut Ki Demang sambil menyunggingkan senyum aneh.

Kepala Dharmadipa terasa semakin pusing dan rasa kantuk yang datang semakin hebat, pemuda ini lalu menampar-nampar kepalanya “Ah kepalaku, kenapa sangat pusing… Ahhh…” tubuh pemuda itupun ambruk dari tempat duduknya tanpa sadarkan diri.

Setelah melihat tamunya pingsan Ki Demang berdiri dari duduknya sambil tertawa sinis “Pemuda kemarin sore yang congkak! Mana bisa kami mempercayakan nasib kami pada pemuda bau kencur begini untuk menghadapi gerombolan Macan Seta yang ganas?!”

Ki Demang menepuk-nepukan tangannya, datanglah dua orang pengawal Kademangan “Ikat dia dan taruh di penjara! Aku tidak ingin seluruh warga desa ini celaka oleh ulahnya yang takabur dan sok berani!” perintah Ki Demang, dua pengawal itupun segera mengikat Dharmadipa dan menjebloskannya kedalam penjara Kademangan.


  ***


Beberapa jam kemudian saat tengah malam, Dharmadipa yang tergeletak didalam sel kurungan penjara perlahan membuka matanya, samar-samar dilihatnya belasan orang mengelilinginya, setelah pandangannya jelas, nampaklah Ki Demang Bayana beserta beberapa tokoh serta warga desa Gondangsari berdiri sambil menatap tajam padanya. Meskipun kepalanya masih pusing tapi ia dapat merasakan kalau seluruh tubuhnya dililit oleh tali tambang yang kokoh dan Keris Pusakanya yang biasanya terselip di punggungnya telah hilang, maka amarah pemuda brangasan ini segera mengemuka “Kenapa saya diikat?! Ki Demang?!”

“Terpaksa kami lakukan, untuk menjaga keamanan desa Gondangsari! Kami tidak mungkin menyerahkan nasib kami pada pemuda kemarin sore seperti Ki Dulur! Kami tidak ingin membahayakan nyawa kami! Jadi untuk sementara Ki Dulur kami tahan sampai gerombolan perampok Macan Seta pergi dari Desa ini!” tegas Ki Demang.

Dharmadipa melotot mendengar ucapan Ki Demang itu. “Jadi kalian meragukan kemampuanku untuk menolong kalian?!”

Ki Demang mengangguk “Iya, mana mungkin pemuda kemarin sore sepertimu bisa mengalahkan Macan Seta?! Gerombolan perampok itu sangat ganas, mereka membunuh semua warga desa kecuali kaum wanita yang masih muda untuk mereka perkosa, mereka membakar rumah-rumah penduduk dan meratakannya dengan tanah!”

“Lalu, apakah kalian akan diam saja tidak melawan?!” tanya Dharmadipa.

“Bagaimana kami mau melawan para perampok beringas yang mempunyai ilmu yang tinggi itu?” sahut Ki Demang.

“Maka dari itu biarkan aku membantu kalian dan membalaskan korban-korban perampok ganas itu! Aku Dharmadipa murid Kyai Pamenang dari padepokan Sirna Raga, kalian boleh mempercayai aku!” bentak Dharmadipa. 

Tapi Ki Demang malah tertawa sinis. “Saya dan para warga disini sangat mengenal Kyai Pamenang dan watak murid-muridnya, murid-murid Padepokan Sirna Raga sangat sopan, tidak brangasan dan takabur seperti Kau! Malahan kami mulai mencurigai kalau Ki Dulur adalah seorang penipu yang mengincar harta kami!”

Bukan main geramnya Dharmadipa mendengar pelecehan Ki Demang pada dirinya, “Masih untung hanya kecubung wulung yang aku bubuhkan pada minumanmu, tega-teganya penipu seperti dirimu hendak menguras harta kami yang sedikit ini yang sedang terancam oleh Macan Seta!” sambung Ki Demang. 

“Kalau begitu setidaknya tolong kembalikan Keris saya, itu pusaka keluarga saya!” pinta Dharmadipa.

Ki Demang mengeluarkan Keris itu dari balik pakaiannya. “Ini bukan Keris biasa, ini pasti Keris Pusaka kerajaan, kau pasti mendapatkan ini dari hasil menipu!”

Belum Dharmadipa membuka mulutnya, saat itu datanglah seorang pemuda tergopoh-gopoh mendatangi Ki Demang “Ki Demang, gerombolan Macan Seta sudah datang! Mereka menunggu di alun-alun desa dan menagih janji kita!”

Ki Demang jadi panik mendengarnya, keluarlah satu perintah darinya “Baiklah, kalian semua taruh seluruh harta benda kalian di alun-alun, tenanglah jangan sampai kalian melawan sedikitpun!” setelah itu Ki Demang beserta yang lainnya pun keluar meninggalkan Dharmadipa, Dharmadipa bangun dan mengintip dari jendela penjara itu.

Hanya dalam waktu singkat seluruh harta benda dan hasil bumi warga desa Gondangsari telah terkumpul di alun-alun desa di hadapan gerombolan perampok yang semuanya memakai cadar hitam. Seorang perampok menggunakan topeng macan, berpakaian hitam-hitam berjubah kulit Macan yang nampaknya pemimpin mereka, menghampiri seluruh harta benda itu “Hanya inikah harta kalian?”

Ki Demang menghampiri dan menjawab “Benar tuan, hanya inilah harta benda kami”.

Si pemimpin perampok yang tak lain bernama Macan Seta mendengus “Miskin amat kalian! Kalau begitu kumpulkan juga seluruh ternak kalian kemari cepat!”

Ki Demang segera memohon “Ampun tuan, kalau seluruh ternak kami diambil juga kami tidak akan bisa bekerja dan menyambung hidup!”

Deshhh! Baru saja Ki Demang menutup mulutnya, satu tendangan bersarang di perutnya hingga lelaki paruh baya itu terjengkang dan muntah darah “Aku tidak peduli dengan nasib desa ini! Sekarang kita ambil seluruh ternak dan wanita muda yang ada disini, lalu bakar dan ratakan dengan tanah desa ini!” perintah Macan Seta pada puluhan anak buahnya, mereka pun langsung bergerak melaksanakan perintah pemimpinnya, api mulai berkobar menjilati rumah-rumah di desa kecil itu!

Dharmadipa yang melihat semuanya menjadi sangat geram! Di matanya tergambar peristiwa beberapa belas tahun silam, saat itu ia sedang dipeluk oleh ibunya, sedangkan ayahnya nampak sedang bersiap-siap, seluruh keraton Parakan Muncang sudah dikepung oleh pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten. Pasukan yang berjumlah sangat besar dengan persenjataan lengkap itu mulai merangsek memasuki keraton. api mulai menjalar kemana-mana membakar keraton Parakan Muncang. Prabu Wangsadipa beserta anak isrinya terpaksa bersembunyi di kamar Keprabuan karena seluruh keraton sudah terkepung.

Tiba-tiba… Bruk! Bruk! Bruk! Pintu kamar raja itu didobrak dari luar, Prabu Wangsadipa segera memeluk istri dan anaknya, “Kalian bersembunyilah di bawah tempat tidur! Begitu aku berhasil menghalau mereka, larilah tinggalkan keraton ini!” pesannya pada istri dan anaknya, Ratu Sekar Ningsih dan Dharmadipa pun bersembunyi kebawah tempat tidur, berbarengan dengan itu, pintu kamar itu jebol didobrak belasan prajurit Islam, api pun mulai menjalari kamar itu. 

“Panas! Panas!” jerit Dharmadipa yang masih bocah ketika melihat api mulai membakar kamarnya dan ia merasakan hawa panas yang luar biasa dari si jago merah itu, Ratu Sekar Ningsih segera memeluk Dharmadipa di kolong tempat tidur itu.

Prabu Wangsadipa segera menghunus Keris Kyai Gajah Putih pusakanya, dengan segala kesaktiannya ia menerjang para prajurit Islam itu, namun jumlah prajurit itu seolah tidak berkurang sebab kawan-kawannya terus berdatangan hingga membuat Prabu Wangsadipa kelabakan, hingga akhirnya ia rubuh dengan tubuh penuh luka, sukmanya terbang meninggalkan dunia ini!

Ratu Sekar Ningsih yang melihat terbunuhnya suaminya itu menjerit histeris, ia langsung keluar dari kolong tempat tidurnya untuk memeluk jenasah suaminya, namun salah seorang prajurit yang panik terkejut melihat sesosok tubuh yang tiba-tiba keluar dari kolong tempat tidur, dengan sigap ia menusukan tombaknya, zlebbb! Tombak itu menancap tepat di perut Ratu Sekar Ningsing sampai tembus ke punggungnya, dengan seluruh sisa tenaganya, Ratu Sekar Ningsing merangkak dan memeluk jasad suaminya, kemudian berakhirlah hidup perempuan cantik berwajah khas Sunda tersebut.

Kini giliran Dharmadipa yang menjerit histeris, ia melompat keluar dari kolong tempat tidur, dengan nekat ia meraih Keris Kyai Gajah Putih milik ayahnya, dengan berurai air mata, ia mengacungkan Keris Itu ke arah para Prajurit itu, tanda rajah cakra bisma di keningnya memerah bagaikan menyala, matanya berkilat-kilat melotot menyala bagaikan bara api yang membakar daun-daun kering! 

Saat itulah masuklah seorang lelaki tua mengenakan pakaian dan sorban serba putih melerai mereka, orang itu tak lain adalah Kyai Pamenang yang hendak menjadi juru damai antara pasukan Islam dengan Prabu Wangsadipa, tetapi ia terlambat, Prabu Wangsadipa serta istrinya sudah tewas terbunuh, air mata orang itu meleleh tatkala melihat Dharmadipa yang mengacungkan Keris pada para prajurit itu dengan tatapan yang penuh dendam, dengan tenang ia pun menenangkan Dharmadipa, lalu dengan penuh asih ia merawat Dharmadipa dan mengangkatnya menjadi anak.

Rentetan peristiwa itu tergambar kembali di pelupuk mata Dharmadipa, amarahnya memuncak, dadanya sangat sesak, matanya berkilat-kilat, tanda rajah cakra bisa di dahinya menyala-nyala, seluruh energinya meluap-luap! Dengan tenaga dalamnya yang meluap-luap, ia berusaha membuka tali itu, dengan hawa panas yang keluar dari kedua tangannya, tali tambang yang melilitnya terbakar! Setelah bebas dari ikatannya, ia mendobrak tembok penjara itu hingga hancur berantakan oleh Ajian Liman Sewu!

Sementara itu di alun-alun desa, gerombolan perampok itu mengamuk membantai seluruh warga Desa, para warga desa pun terpaksa melawan mereka dengan putus asa, akan tetapi menghadapi gerombolan perampok yang rata-rata mempunyai ilmu yang cukup tinggi itu membuat perlawanan mereka hampir sia-sia, terutama untuk menghadapi pemimpin perampok itu si Macan Seta yang bersenjatakan kuku-kuku besi di ujung sepuluh jarinya, sehingga kepala rampok ini bagaikan seorang el maut yang membantai seluruh warga desa Gondangsari!

Di gerbang batas desa, seorang pemuda berbadan tinggi tegap, berambut gondrong, berpakaian ringakas berwarna biru, mengenakan ikat kepala batik, terkejut dengan apa yang terjadi desa itu “Edan! Tengah malam begini ada begalan pati di desa ini!” umpatnya. 

Pemuda yang tak lain adalah Jaka Lelana tersebut segera memacu kudanya memasuki desa Gondangsari. Betapa terkejutnya ia melihat pertumpahan darah didalam desa itu, perang yang tidak seimbang terjadi di desa itu, hatinya serasa terkoyak-koyak melihat pembantaian tak berprikemanusiaan itu, dimana-mana terdengar jeritan yang menyayat hatinya, maka ia segera melompat dari kudanya dan langsung melabrak gerombolan perampok itu.

Sesaat kemudian, dari dalam kademangan meluncurlah sesosok tubuh ke udara, begitu kakinya menginjak bumi, ia langsung mengamuk melabrak gerombolan perampok itu, saat sedang mengamuk melabrak kawanan perampok itulah ia melihat Dharmadipa yang juga sedang mengamuk melabrak para perampok tersebut “Kakang Dharmadipa!” panggil Jaka yang langsung menghampiri Dharmadipa.

“Tahan dulu apa yang hendak kau ucapkan Jaka, sekarang mari kita bantai dulu perampok-perampok laknat ini!” tegas Dharmadipa.

Jaka pun mengangguk, mereka berdua pun terus menggasak gerombolan perampok itu dengan tangan kosongnya, tubuh-tubuh perampok yang menjadi korban amukan mereka berterbangan lalu terjatuh dan muntah darah! Banyak dari mereka yang tidak berkutik lagi, nyawanya terbang ke akhirat oleh tangan maut Dharmadipa dan Jaka Lelana!

Bukan main marahnya Macan Setamelihat anak buahnya dibantai demikian rupa oleh dua orang pemuda tak dikenal, pemimpin perampok yang sakti mandraguna ini pun melompat menerjang Dharmadipa, Dharmadipa yang hatinya memang sedang membara ini segera meladeni Macan Seta!

Sungguh di luar dugaan Macan Seta, ternyata pemuda yang ia hadapi bukan pemuda sembarangan! Meskipun ia bersenjatakan sepuluh kuku besi di seluruh jari tangannya, ia kelabakan juga meladeni pemuda yang hatinya sedang dibakar dendam itu, maka ia pun segera menguras seluruh jurus silat Macannya, sementara Dharmadipa meladeninya dengan jurus “Silat Harimau Gunung”, jurus yang ia dapatkan dari Kyai Pamenang yang tidak diturunkan pada Jaka.